Anda di halaman 1dari 3

a.

Pembahasan
Uji sifat fisik granul effervescent meliputi uji waktu larut, kecepatan alir, pH
larutan dan kandungan lembab. Kandungan lembab granul effervescent yang baik
adalah antara 0,4-0,7% (Fausett, et al., 2000). Tingginya kandungan lembab pada
granul effervescent disebabkan oleh keterbatasan pada ruangan tempat
memproduksi granul effervescent yang memiliki kelembaban relatif yang tinggi.
Meskipun telah dilakukan upaya untuk menurunkan kelembaban ruangan, namun
pengendalian kelembaban relatif ruangan hanya dapat mencapai 55 %, padahal
seharusnya kelembaban relatif ruangan untuk pembuatan sediaan effervescent
adalah 25 % (Mohrle, 1989). Keterbatasan inilah yang membuat granul menyerap
lembab dari lingkungan sehingga kandungan lembab dalam granul effervescent
menjadi sangat tinggi yaitu hingga 2,65% sehingga granul effervescent yang
dihasilkan tidak dapat memenuhi persyaratan kualitas kandungan lembab granula
effervescent dan warna yang dihasilkan menjadi lebih gelap. Menurut Guyot
(1987), kecepatan alir granula yang baik minimal 10 gram/detik.
Penetrasi air pada granul effervescent menyebabkan terjadinya reaksi pada
asam dan basa yang kemudian menghasilkan CO2 dan mengakibatkan hancurnya
granul effervescent. Waktu larut merupakan salah satu sifat fisik sediaan
effervescent yang khas, dimana sediaan effervescent yang baik memiliki waktu
larut selama 1-2,5 menit (Wehling and Fred, 2004).
Natrium bikarbonat digunakan untuk mempercepat aliran dari tablet atau
serbuk effervescent. Natrium bikarbonat akan memberikan pengaruh yang lebih
dominan terhadap pH larutan, pH 4-8 kestabilan dari suatu tablet atau serbuk
effervescent yang telah ditambahkan natrium bikarbonat akan semakin stabil.
Hasil praktikum menunjukkan pengaruh ukuran granula dari produk
effervescent yang dibuat oleh praktikan dan yang ada dipasaran terdapat
perbedaan terhadap kelarutan yang dihasilkan. Hal tersebut dapat disebakan oleh,
penggunaan teknologi yang digunakan. Pada semua metode pembuatan tablet,
setelah proses penimbangan komponen-komponen tablet, selalu diikuti dengan
proses pencampuran berupa partikel-partiel padat. Proses ini bertujuan untuk
mendapatkanmassatablet yang homogen. Tujuan ini bisa dicapai apabila sifat fifis
partikel penyusun campuran dan faktor lain yang mempengaruhi proses

pencampurannya adalah sama. Sifat fisik partikel yang mempengaruhi proses


pencampuran adalah ukuran, bentuk, densitas dan kelembaban partikel.
Sedangkan faktor lainnya adalah kadar partikel . Baik proses pencampuran
maupun pentabletan dilakukan pada kelembaban yang rendah (kelembaban
relative atau RH dibawah 30 %).
Pada prinsipnya tablet dapat dibuat melalui cetak langsung atau granulasi,
baik granulasi basah maupun granulasi kering. Untuk menentukan metode
pembuatannya apakah dibuat cetak langsung atau granulasi sangat tergantung
pada dosis dan sifat zat aktifnya. Untuk metode cetak langsung semua komponen
tablet baik zat aktif, bahan pengisi, pengikat, dan penghancur harus mmpunyai
sifat alir dan kompresibilitas yang baik. Pada proses pencetakan untuk zat aktif
dengan dosis kecil hal ini tidak menjadi masalah selama homogenitasnya
diperhatikan. Tetapi untuk zat aktif dengan dosis besar, jika sifat alir dan
kompresibilitasnya tidak baik maka diperlukan bahan tambahan yang efektif
untuk mengatasi sifat alir dan kompresibilitasnya.
Agar tablet atau serbuk dapat hancu atau larutr, maka harus ada cairan
yang mampu menembus masuk ke dalam tablet atau serbuk secara kapiler. Efek
kapiler ini dapat diperbesar dengan adanya bahan penghancur. Selain bahan
penghancur, efek kapiler juga dipengaruhi oleh porositas tablet. Besarnya
porositas menyebabkan cairan yang masuk ke dalam tablet semakin banyak.
Porositas tablet antara lain dipengaruhi oleh distribusi ukuran atau partikel massa
tablet dan tekanan yang diberikan saat proses pencetakan. Cairan yang sudah
masuk dalam tablet akan merusak ikatan antar partikel dan mengakibatkan bahan
penghancur mengembang yang kemudian menyebabkan hancurnya tablet. Tetapi
adanya bahan penghancur yang mengembang ini juga dapat menghasilkan massa
yang kental dan lengket yang akan menghalangi masuknya cairan ke dalam tablet
sehingga dapat memperpanjang waktu hancur.

DAFTAR PUSTAKA
Fausett, H., Junior, C. G., and Dash, A.K., 2000, Evaluation of Quick
Disintegrating

Calcium

Carbonate

Tablets,

Departement

of

Pharmaceutical & Administrative Sciences, School of Pharmacy &


AHP, Creighton University, Ohama, NE, 1 (3) article 20
(http://www. pharmscitech.com/ diakses tanggal 8 Mei 2016).
Guyot, J. C., 1987, Criteres Technology ques de choix des excipient de
compression directe cit Fudholi, A., 1983, Metodologi Formulasi
dan Kompresi Direk, Medika, no. 7, th ke-9, 568- 593.
(http://scholar.google.co.id/scholar?
q=pengaruh+ukuran+granul+dengan+waktu+larut+serbuk+effervesc
ent+pdf&hl=id&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart&sa=X&ved=0ah
UKEwiUxonHu8rMAhVIU44KHb0YC3kQgQMIGDAA / diakses
tanggal 8 Mei 2016).
Mohrle, R.,1989, Effervescent Tablet, in Lieberman. H., Lachman, L., and
Schwart, J. B., Pharmaceutical Dosage forms: Tablet Volume I,
Second Edition, Revised and Expanded, 282-294, 305, Marcel
Dekker

Inc.

,United

States

of

America.

pharmscitech.com/ diakses tanggal 8 Mei 2016).

(http://www.