Anda di halaman 1dari 16

OTONOMI DAERAH

JUDUL: PENGGELAPAN DANA


GUBERNUR SUMATRA UTARA

Kelompok7
Annisa reyon balleti
Avita putri
Septiana tri nugraheni

Otonomi daerah
Otonomi daerah berdasarkan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah adalah
hak, wewenang, dan kewajiban
daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan

Tujuan Otonomi Daerah


Meningkatkan Pelayanan Umum, dengan
otonomi daerah diharapkan pelayanan umum
lembaga pemerintah di masing-masing daerah
dapat ditekankan pelayanan yang maksimal.
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dengan
pelayanan yang memadai. Tingkat kesejahteraan
masyarakat menunjukkan bagaimana daerah
otonom bisa menggunakan hak dan
wewenangnya secara bijak dan tepat sasaran.
Meningkatkan Daya Saing Daerah

Kasus Korupsi Gubernur


Sumatera Utara

Jakarta Gubernur Sumatera Utara


nonaktif, Gatot Pujo Nugroho memecahkan
rekor kasus korupsi. Dalam waktu yang
hampir bersamaan, gatot dijerat dengan 4
kasus sekaligus yang ditangani dua
penegak hukum, KPK dan Kejagung.
KPK menetapkan Gatot Pujo Nugroho
bersama sang istri muda, Evy Susanti
sebagai tersangka pemberi suap kepada
hakim PTUN Medan. Gatot ditetapkan
sebagai tersangka setelah kpk menangkan
3 Hakim PTUN Medan, 1 panitera,
pengacara dan menjemput paksa OC Kaligis
yang tak lain adalah pengacara Gatot.

Saat ini, kasus suap PTUN Meadan


sudan
mulai
disidangkan.
Saat
jalannya
penyidikan,
KPK
menemukan bukti baru, ternyata
selain melalui jalur hakim PTUN
Medan untuk mengamankan kansus
Bansos Sumut yang menjeratnya,
Gatot juga menempuh langkah
politis.
Politis PKS itu mendekati para
petinggi NasDem dengan harapan
bisa melobi Jaksa Agung HM Prasetyo
yang
notabene
adalah
kader

Proses lobi ini digawangi Patrice Rio


Capella
yang
saat
itu
masih
menjabat sebagai Sekjen NasDem.
Sebagai hadiah, Gatot memberikan
Rp.200 juta kepada Rio yang berjanji
menghubungkannya dengan Jaksa
Agung.
Proses suap menyuap ini pun
terungkap dan KPK pada Oktober
2015, menetapkan Rio Capella
sebgai penerima suap. Gatoy dan
Evy
juga
ditetapkan
sebagai

Sementara itu, Kejagung yang mengambil


alih kasus korupsi Bansos Sumut dari Kejati
Sumut mulai panas. Setelah memeriksa
200 saksi, Jampidsus yang baru saja
menjabat, Arminsyah menetapkan Gatit
sebagai tersangka.
Gatot diduga bersama dengan Kepala
Badan Kesbangpol dan Linmas Sumut,
Eddy Sofyan menyalahgunakan wewenang
dengan menentukan langsung pihak
penerima dana hibah. Akibatnya, negara
diduga merugi sebesar Rp. 2,2 miliar.

Dari hasil ekspose tadi, ditetapkan dua


tersangka,
yakni
Gatot
Pujo
Nugroho,
gubernur Sumut nonaktif dan kedua Eddy
Sofyan, kata Arminsyah di kantornya, JL
Sultan Hasanuddin, Jaksel, Senin (2/11)
malam.
Sehari berselang, badai kasus korupsi kembali
menghujam Gatot Pujo Nugroho. Mantan
dosen disebuah Universitas di Medan itu
kembali ditetapkan sebagai tersangka. Kali ini,
KPK menetapkan Gatot sebagai tersangka
pemberi suap terhadap sebagian besar
anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 dan
2014-2019.

Suami Evy Susanti itu disangka telah


memberikan suap agar proses pembahasan
APBD, pengesahan APBD dan LPJ APBD
Sumut sejak 2012-2015 lancar. Nilai suapnya
diduga mencapai Rp. 50 miliar.
Dari hasil gelar perkara disimpulkan telah
ditemukan dua bukti permulaan yang cukup
kemudian ditingkatkan dari penyelidikan ke
penyidikan kasus pemberian hadiah atau janji
kepada anggota DPRD Provinsi Sumut 20092014 dan 2014-2019, kata Plt Pimpinan KPK,
Johan Budi di kantornya, Jl HR Rasuna Said,
Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2015).

Selain Gatot, KPK juga menetapkan 5


tersangka
penerima
suap.
Adapun
5
tersangka penerima suap Gatot yang sudah
ditetapkan oleh KPK adalah, SB (Salah
Bangun) ketua DPRD periode 2009-2014, CHR
(Chaidir Ritonga) Wakil Ketua DPRD periode
2009-2014, AJS (Ajib Shah) anggota DPRD
periode 2009-2014, kini Ketua DPRD Sumut
dan KH (Kamaludin Harahap) wakil ketua
DPRD
periode 2009-2014, SPA (Sigit
Purnomo Asri) wakil ketua DPRD 2009-20014.
Dengan demikian Gatot kini terjerat 4 kasus
korupsi dalam satu waktu yang bersamaan.

OC Kaligis Dituntut dalam Kasus


Suap

Otto Cornelis Kaligis menghadapi tuntutan pidana


dalam perkara dugaan pemberian suap kepada
hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha
Negara (PTUN) pada Rabu (18/11).
Dalam perkara ini, Kaligis didakwa menyuap 3
hakim PTUN Medan yaitu Tripeni Irianto Putro
selaku ketua majelis hakim sebesar 5 ribu dolar
Singapura dan 15 ribu dolar AS, dua anggota
majelis hakim yaitu Dermawan Ginting dan Amir
Fauzi masing-masing 5 ribu dolar AS serta
Syamsir Yusfan selaku Panitera PTUN Medan
sebesar 2 ribu dolar AS sehingga totalnya 27 ribu
dolar AS dan 5 ribu dolar Singapura.
Namun Kaligis hanya mengakui pemberian uang
senilai 1.000 dolar AS kepada panitera PTUN

Tujuan pemberian uang itu menurut jaksa adalah


untuk mempengaruhi putusan atas permohonan
pengujian kewenangan Kejaksaan Tinggi
Sumatera Utara atas penyelidikan korupsi Dana
Bantuan Sosial (Bansos), Bantuan Daerah
Bawahan (BDB), Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) dan tunggakan Dana Bagi Hasil (DBH) dan
Penyertaan Modal pada sejumlah BUMD pada
Pemerintah Provinsi Sumatra Utara.
Perbuatan OC Kaligis merupakan tindak pidana
korupsi yang diatur dan diancam pidana dalam
pasal 6 ayat 1 huruf a atau pasal 13 UU No 31
sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun
2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64
ayat 1 KUHP dengan ancaman pidana penjara
paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun

Kesimpulan

Otonomi daerah adalah suatu keadaan yang memungkinkan daerah


dapat mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang dimilikinya secara
optimal.
Dimana untuk mewujudkan keadaan tersebut,berlaku proposisi bahwa
pada dasarnya segalapersoalan sepatutnya diserahkan kepada daerah
untuk mengidentifikasikan,merumuskan,dan memecahkannya, kecuali
untuk persoalan-persoalan yang memang tidak mungkin diselesaikan oleh
daerah itu sendiri dalam perspektif keutuhan negara-bangsa.
Adapun dampak negative dari otonomi daerah adalah munculnya
kesempatan bagi oknum-oknum di tingkat daerah untuk melakukan
berbagai pelanggaran, seperti korupsi yang dilakukan oleh gubernur
sumut, pengacara, dan Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Medan
Bisa dilihat bahwa masih banyak permasalahan yang mengiringi
berjalannya otonomi daerah di Indonesia. Permasalahan-permasalahan itu
tentu harus dicari penyelesaiannya agar tujuan awal dari otonomi daerah
dapat tercapai.

Saran
Pemerintahan daerah dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan otonomi daerah, perlu memperhatikan hubungan antarsusunan
pemerintahan dan antarpemerintah daerah, potensi dan keanekaragaman daerah.
Konsep otonomi luas, nyata, dan bertanggungjawab tetap dijadikan acuan dengan
meletakkan pelaksanaan otonomi pada tingkat daerah yang paling dekat dengan
masyarakat.
Keterlibatan masyarakat dalam pengawasan terhadap pemerintah daerah juga perlu
diupayakan. Kesempatan yang seluas-luasnya perlu diberikan kepada masyarakat
untuk berpartisipasi dan mengambil peran. Masyarakat dapat memberikan kritik dan
koreksi membangun atas kebijakan dan tindakan aparat pemerintah yang merugikan
masyarakat dalam pelaksanaan Otonomi Daerah. Karena pada dasarnya Otonomi
Daerah ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu,
masyarakat juga perlu bertindak aktif dan berperan serta dalam rangka
menyukseskan pelaksanaan Otonomi Daerah.
Pihak-pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan Otonomi Daerah sebaiknya
membuang jauh-jauh egonya untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan
kelompoknya dan lebih mengedepankan kepentingan masyarakat. Pihak-pihak
tersebut seharusnya tidak bertindak egois dan melaksanakan fungsi serta
kewajibannya dengan baik.