Anda di halaman 1dari 19

1.

2.
3.
4.

PENGERTIAN PAJAK
FUNGSI PAJAK
ASAS PAJAK
TEORI PAJAK

Menurut Prof. Dr. Rochmat Sumitro (R. Santoso


Brotodihardjo, 1993)

Pajak adalah iuran dari rakyat kepada kas


negara (peralihan kekayaan dari sektor
partikelir ke sektor pemerintah) berdasarkan
undang-undang (sehingga dapat dipaksakan)
dengan tiada jasa imbal balik (kontra
prestasi) yang secara langsung dapat
ditunjuk/dirasakan, dan hasilnya digunakan
untuk membiayai pengeluaran umum.

1.
2.
3.
4.
5.

Iuran / pungutan
Dipungut berdasarkan Undangundang
Dapat dipaksakan
Tidak menerima kontra prestasi
Untuk membiayai pengeluaran umum
pemerintah

A. Fungsi

Budgetair
B. Fungsi Regulered

Asas Domisili (tempat


tinggal)
Asas Sumber
Asas Kebangsaan

1. Teori Asuransi
2. Teori Kepentingan
3. Teori Kewajiban Pajak Mutlak (Teori
Bakti)
4. Teori Gaya Pikul
5. Teori Gaya Beli
6. Teori Gaya Pembangunan

1.
2.
3.

SISTEM PEMUNGUTAN PAJAK


SYARAT PEMUNGUTAN PAJAK
TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK

Official Assesment System


Self Assesment System
With Holding System

1. Equality and Equity (syarat keadilan)


2. Certainty atau kepastian hukum
(syarat yuridis)
3. Convenience of payment (syarat
kenyamanan)
4. Economics of Collection (syarat
finansiil)
5. Syarat Ekonomis
6. Syarat Sosiologis
7. Sistem Pemungutan harus sederhana

Stelsel Nyata (Riil).


Stelsel Anggapan (Fictive)
Stelsel Campuran

1.
2.
3.
4.
5.

KEDUDUKAN HUKUM PAJAK


TARIF PAJAK
JENIS DAN PENGGOLONGAN PAJAK
PERLAWANAN PAJAK
TIMBUL DAN HAPUSNYA UTANG PAJAK

Hukum

Pajak Material.
Hukum pajak yang mengatur tentang :
a.norma-norma yang menerangkan
keadaan-keadaan,
b.perbuatan-perbuatan dan peristiwaperistiwa hukum yang harus dikenakan
pajak,
c.siapa saja yang harus dikenakan pajak,
besarnya pajak, serta
d.timbul dan hapusnya utang pajak.

Contoh : UU tentang Ketentuan


Umum dan Tata Cara Perpajakan
(KUP)

Hukum

Pajak Formal.
Hukum Pajak yang mengatur tentang :
a. cara2 mengimplementasikan hukum
material menjadi suatu kenyataan.
b. penyelenggaraan mengenai
penetapan suatu utang pajak,
c. pengawasan oleh pemerintah
terhadap penyelenggaraannya,
d. kewajiban para wajib pajak baik
sebelum maupun sesudah
diterimanya surat ketetapan pajak,
e. kewajiban pihak ketiga dan
prosedur dalam pemungutannya.

Contohnya: UU tentang PPh, UU


tentang PPN

1. Tarif Tetap
2. Tarif Proporsional
(Sebanding)
3. Tarif Progresif
(Meningkat)
4. Tarif Degresif
(Menurun)

A. Menurut golongan
1. Pajak Langsung, ex : PPh
2. Pajak Tidak Langsung, ex : PPN, Bea Materei
B. Menurut Sifatnya
1. Pajak Subjektif (bersifat perorangan), ex: PPh
2. Pajak Objektif (bersifat kebendaan) ex: PPN
C. Menurut Lembaga Pemungutnya
1. Pajak Negara (pajak pusat), ex: PPh, PPN, Bea
Materei, cukai
2. Pajak Daerah, ex: Pajak Propinsi : Pajak Kendaraan
Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor.
Pajak Kabupaten/Kota : Pajak atas
reklame, Pajak atas pertunjukan atau
Keramaian.

1. Perlawanan Aktif, berupa :


Penghindaran

diri dari pajak


Pengelakan / penyelundupan / manipulasi
pajak
Melalaikan pajak

2. Perlawanan Pasif, berupa hambatanhambatan yang mempersukar pemungutan


pajak

Ada dua ajaran atau pendapat mengenai saat


timbulnya utang pajak, yaitu :
Ajaran

Materiil.

Utang pajak timbul karena ada UU pajak


dan peristiwa/keadaan/perbuatan, dan tidak
menunggu dari pihak pemerintah.
Ajaran

Formil

Utang pajak timbul karena ada ketetapan


dari pihak pemungut pajak, yaitu
pemerintah/aparatur pajak, sehingga pajak
terutang pada saat diterbitkannya surat
ketetapan pajak.

Sementara itu berakhirnya utang pajak adalah


disebabkan beberapa hal berikut :
a) Pelunasan/pembayaran
b) Kompensasi (pengimbangan)
c) Penghapusan Utang Pajak.
d) Daluarsa atau lewat waktu
e) Pembebasan
f) Penundaan penagihan