Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN JIWA
WAHAM

Disusun Oleh :
Tri Puspito Winarti
1510721034

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA
2016

LAPORAN PENDAHULUAN
I. Kasus (Waham)
Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai
dengan fakta dan keyakinan tersebut mungkin aneh (misalnyasaya adalah
nabi yang menciptakan biji mata manusia) atau bias pula tidak aneh (hanya
sangat tidak mungkin, contoh masyarakat di surga selalu menyertai saya
kemanapun saya pergi) dan tetap dipertahankan meskipun telah diperlihatkan
bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya (Purba dkk, 2008).
Menurut (Depkes RI, 2000) Waham adalah suatu keyakinan klien yang
tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah
secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang
sudah kehilangan kontrol (Direja, 2011).
Gangguan isi pikir adalah ketidakmampuan individu memproses
stimulus internal dan eksternal secara akurat. Gangguannya adalah berupa
waham yaitu keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi atau dibuktikan
dengan realitas. Keyakinan individu tersebut tidak sesuai dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budayanya, serta tidak dapat diubah dengan
alasan yang logis. Selain itu keyakinan tersebut diucapkan berulang kali
(Kusumawati, 2010).
Gangguan orientasi realitas adalah ketidakmampuan menilai dan
berespons pada realitas. Klien tidak dapat membedakan lamunan dan
kenyataan sehingga muncul perilaku yang sukar untuk dimengerti dan
menakutkan. Gangguan ini biasanya ditemukan pada pasien skizofrenia dan
psikotik lain. Waham merupakan bagian dari gangguan orientasi realita pada
isi pikir dan pasien skizofrenia menggunakan waham untuk memenuhi
kebutuhan psikologisnya yang tidak terpenuhi oleh kenyataan dalam
hidupnya. Misalnya : harga diri, rasa aman, hukuman yang terkait dengan
perasaan bersalah atau perasaan takut mereka tidak dapat mengoreksi dengan
alasan atau logika (Kusumawati, 2010).

II. Proses Terjadinya Masalah


a. Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya waham yang
dijelaskan oleh Direja, 2011 yaitu :
1) Teori Biologis

Waham dari bagian dari manifestasi psikologi dimana abnormalitas


otak yang menyebabkan respon neurologis yang maladaptif yang baru
mulai dipahami, ini termasuk hal-hal berikut :
a) Penelitian pencitraan otak sudah mulai menunjukkan keterlibatan
otak yang luas dan dalam perkermbangan skizofrenia. Lesi pada
area frontal, temporal dan limbik paling berhubungan dengan
perilaku psikotik.
b) Beberapa kimia otak dikaitkan dengan skizofrenia. Hasil
penelitian sangat menunjukkan hal-hal berikut ini :

Dopamin neurotransmitter yang berlebihan

Ketidakseimbangan antara dopamin dan neurotransmitter lain

Masalah-masalah pada sistem respon dopamin

c) Penelitian pada keluarga yang melibatkan anak kembar dan anak


yang diadopsi telah diupayakan untuk mengidentifikasikan
penyebab genetik pada skizofrenia.
d) Sudah ditemukan bahwa kembar identik yang dibesarkan secara
terpisah mempunyai angka kejadian yang tinggi pada skizofrenia
dari pada pasangan saudara kandung yang tidak identik penelitian
genetik terakhir memfokuskan pada pemotongan gen dalam
keluarga dimana terdapat angka kejadian skizofrenia yang tinggi.
2) Psikologi
Teori psikodinamika untuk terjadinya respon neurobiologik yang
maladaptif belum didukung oleh penelitian. Sayangnya teori psikologik
terdahulu menyalahkan keluarga sebagai penyebab gangguan ini
sehingga menimbulkan kurangnya rasa percaya (keluarga terhadap
tenaga kesehatan jiwa profesional).
3) Sosial budaya

Stress yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan skizofrenia


dan gangguan psikotik tetapi tidak diyakini sebagai penyebab utama
gangguan.Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat
menyebabkan timbulnya waham.
b. Faktor Prespitasi
Faktor prespitasi menurut Direja, 2011 yaitu sebagai berikut :
1) Biologi
Stress biologi yang berhubungan dengan respon neurologik yang
maladaptif termasuk:

Gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses

informasi
Abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi

rangsangan.
2) Stres lingkungan
Stres biologi menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang
berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya
gangguan perilaku.
3) Pemicu gejala
Pemicu merupakan prekursor dan stimulus yang yang sering
menunjukkan episode baru suatu penyakit. Pemicu yang biasa terdapat
pada respon neurobiologik yang maladaptif berhubungan dengan
kesehatan. Lingkungan, sikap dan perilaku individu.
c. Mekanisme Koping
Menurut Direja (2011), Perilaku yang mewakili upaya untuk
melindungi diri sendiri dari pengalaman berhubungan dengan respon
neurobioligi :
1. Regresi berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya
untuk menanggulangi ansietas, hanya mempunyai sedikit energi yang
tertinggal untuk aktivitas hidup sehari-hari
2. Projeksi sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi.
3. Menarik diri

d. Rentang Respon

Adaptif

Maladaptif

Pikiran logis

Persepsi akurat

menyimpang illusi

proses

Emosi konsisten

Waham

Perilaku sosial

Hubungan sosial

Reaksi

kadang

emosional

berlebihan dan kurang

dengan pengalaman

Pikiran

Perilaku

tidak

Menarik diri

pikir:

Halusinasi

Kerusakan

sesuai

Gangguan

emosi

Perilaku tidak
sesuai

Ketidakteratur

an isolasi sosial
Skema 1 Rentang respons neurobiologis Waham (Keliat, 2009)
e. Fase-Fase Waham
1. Lack of Selfesteen
Tidak ada pengakuan lingkungan dan meningkatnya kesenjangan
antara kenyataan dan harapan. Ex : perceraian berumah tangga tidak
diterima oleh lingkungannya.
2. Control Internal Eksternal
Mencoba berfikir rasional, menutupi kekurangan dan tidak sesuai
dengan kenyataan. Ex : seseorang yang mencoba menutupi kekurangan
3. Environment support
Kerusakan control dan tidak berfungsi normal ditandai dengan tidak
merasa bersalah saat berbohong. Ex : seseorang yang mengaku dirinya
adalah guru tari. Adanya beberapa orang yang mempercayai klien
dalam lingkungan, klien merasa didukung, klien menganggap hal yang
dikatakan sebagai kebenaran, kerusakan control diri dan tidak
berfungsi normal (super ego)
4. Fisik Comforting
Klien merasa nyaman dengan kebohongannya
5. Fase Improving

Jika tidak ada konfrontasi dan korelasi maka keyakinan yang salah
akan meningkat.
f. Klasifikasi Jenis dan Sifat Masalah
Waham dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam, menurut
Direja (2011) yaitu :
Jenis Waham
Waham

Pengertian
Keyakinan secara berlebihan

Perilaku klien
Saya ini pejabat di

kebesaran

bahawa dirinya memiliki

kementrian semarang!

kekuatan khusus atau

Saya punya

kelebihan yang berbeda dengan

perusahaan paling besar

orang lain, diucapkan

lho .

berulang-ulang tetapi tidak


Waham agama

Waham curiga

sesuai dengan kenyataan


Keyakinan terhadap suatu

Saya adalah tuhan

agama secara berlebihan,

yang bisa menguasai

diucapkan berulang-ulang

dan mengendalikan

tetapi tidak sesuai dengan

semua makhluk.

kenyataan.
Keyakinan seseorang atau

Saya tahu mereka

sekelompok orang yang mau

mau menghancurkan

merugikan atau mencederai

saya, karena iri dengan

dirinya, diucapkan berulang-

kesuksesan saya.

ulang tetapai tidak sesuai


dengan kenyataan.
Keyakinan seseorang bahwa

Saya menderita

tubuh atau sebagian tubuhnya

kanker. Padahal hasil

terserang penyakit, diucapkan

pemeriksaan lab tidak

berulang-ulang tetapi tidak

ada sel kanker pada

Waham

sesuai dengan kenyataan.


Keyakinan seseorang bahwa

tubuhnya.
ini saya berada di

nihlistik

dirinya sudah meninggal dunia,

alam kubur ya, semua

diucapkan berulangulang tetapi

yang ada

tidak sesuai dengan kenyataan.

disini adalah roh-roh

Waham somatik

nya

III.
a. Pohon Masalah
Kerusakan komunikasi verbal

Resiko tinggi mencederai diri, orang


lain dan lingkungan

Perubahan isi pikir:


waham

Core problem

Gangguan konsep diri:


harga diri rendah

b. Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji


1) Masalah keperawatan :
a) Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b) Kerusakan komunikasi : verbal
c) Perubahan isi pikir : waham
d) Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
2) Data yang perlu dikaji :
a) Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Data subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal
pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang
mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak
barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri

Data objektif

Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara
menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan
melempar barang-barang.
b) Kerusakan komunikasi : verbal

Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik

Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang
didengar dan kontak mata kurang

c) Perubahan isi pikir : waham

Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.

Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan,
merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat
waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah
klien tegang, mudah tersinggung.

d) Gangguan konsep diri: harga diri rendah

Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri

Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternative tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

IV. Diagnosa Keperawatan


a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b. Kerusakan komunikasi : verbal
c. Perubahan isi pikir : waham
d. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

V. Rencana Tindakan Keperawatan


1. Waham

No
.
1.

Diagnosa
Keperawa
tan
Waham

Perencanaan
Tujuan

Kriteria Evaluasi

Tujuan Umum :
Klien dapat berkomunikasi
dengan baik dan terarah.
TUK 1 :
Kriteria Evaluasi :
Klien
dapat
membina 1. Ekspresi
wajah
hubungan saling percaya.
bersahabat.
2. Ada kontak mata.
3. Mau berjabat tangan.
4. Mau
menjawab
salam.
5. Klien
mau
duduk
berdampingan.
6. Klien
mau
mengutarakan
isi
perasaannya.

Intervensi

Rasional

1.1 Bina hubungan saling


percaya dengan
menggunakan prinsip
komunikasi teraupetik.
- Sapa klien dengan
ramah baik verbal
maupun non verbal
- Perkenalkan diri dengan
sopan
- Tanyakan nama lengkap
dan nama yang disukai
klien.
- Jelaskan tujuan
pertemuan
- Jujur dan menepati janji
Tunjukkan rasa
empati dan menerima

Hubungan saling percaya


menjadi dasar interaksi
selanjutnya
dalam
membina
klien
dalam
berinteraksi dengan baik
dan benar, sehingga klien
mau
mengutarakan
isi
perasaannya.

Meningkatkan
orientasi
klien pada realita dan

TUK 2 :
Klien dapat
mengidentifikasikan
kemampuan yang dimiliki.

Kriteria Evaluasi :
1. Klien dapat
mempertahankan
aktivitas sehari-hari
2. Klien dapat
mengontrol

klien dengan apa


adanya.
1.2 Jangan membantah dan
mendukung waham klien.
- Katakan
perawat
menerima
keyakinan
klien.
- Katakan perawat tidak
mendukung
keyakinan
klien.
1.3 Yakinkan klien dalam
keadaan aman dan
terlindung
- Anda berada ditempat
aman dan terlindung.
- Gunakan
keterbukaan
dan kejujuran, jangan
tinggalkan klien dalam
keadaan sendiri.
1.4 Observasi apakah
wahamnya mengganggu
aktivitas sehari-hari dan
perawatan diri klien.

meningkatkan rasa percaya


klien pada perawat.

2.1 Beri pujian pada


penampilan dan
kemampuan klien yang
realistis
2.2 Diskusikan dengan klien

Reinforcement positif dapat


meningkatkan kemampuan
yang dimiliki oleh klien dan
harga diri klien.

Suasana
lingkungan
persahabatan
yang
mendukung
dalam
komunikasi teraupetik.

Mengetahui
penyebab
waham
curiga
dan
intervensi selanjutnya yang
akan dilakukan oleh klien.

wahamnya.

TUK 3 :
Klien dapat
mengidentifikasi
kebutuhan yang dimiliki.

Kriteria Evaluasi :
1. Kebutuhan
klien
terpenuhi
2. Klien
dapat
melakukan aktivitas
secara terarah.
3. Klien
tidak
menggunakan
/membicarakan
wahamnya.

kemampuan yang dimiliki


pada waktu lalu dan saat
ini.
2.3 Tanyakan apa yang bisa
dilakukan (kaitkan dengan
aktivitas sehari-hari dan
perawatan diri) kemudian
anjurkan untuk melakukan
saat ini.
2.4 Jika klien selalu bicara
tentang wahamnya
dengarkan sampai
kebutuhan waham tidak
ada. Perawat perlu
memperhatikan bahwa klien
sangat penting.
3.1 Observasi kebutuhan klien
sehari-hari
3.2 Diskusikan kebutuhan klien
yang tidak terpenuhi
selama dirumah maupun di
RS.
3.3 Hubungkan kebutuhan yang
tidak terpenuhi dengan
timbulnya waham
3.4 Tingkatkan aktivitas yang
dapat memenuhi kebutuhan
klien dan memerlukan
waktu dan tenaga.
3.5 Atur situasi agar klien tidak

Klien
terdorong
untuk
memilih aktivitas seperti
sebelumnya
tentang
aktivitas
yang
pernah
dimiliki oleh klien.
Dengan
mendengarkan
klien akan merasa lebih
diperhatikan sehingga klien
akan
mengungkapkan
perasaannya.

Observasi
dapat
mengetahui
kebutuhan
klien.
Dengan
mengetahui
kebutuhan
yang
tidak
terpenuhi
maka
dapat
diketahui kebutuhan yang
akan diperlukan.

Dengan
melakukan
aktivitas klien tidak akan
lagi
menggunakan
isi
wahamnya.

mempunyai waktu untuk


menggunakan wahamnya.
TUK 4 :
Klien dapat berhubungan
dengan realitas.

TUK 5 :
Klien mendapat dukungan
keluarga

TUK 6 :
Klien dapat menggunakan
obat dengan benar

Kriteria Evaluasi :
1.
Klien
dapat
berbicara
dengan
realitas.
2.
Klien
mengikuti
Terapi
Aktivitas
Kelompok.

Kriteria Evaluasi :
1.
Keluarga
dapat
membina hubungan
saling
percaya
dengan perawat.
2.
Keluarga
dapat
menyebutkan
pengertian,
tanda
dan tindakan untuk
merawat
klien
dengan waham.
Kriteria Evaluasi:
1.
Klien
dapat
menyebutkan
manfaat,
efek
samping dan dosis
obat.

4.1 Berbicara dengan klien


dalam konteks realitas
(realitas diri, realitas orang
lain, waktu dan tempat).
4.2 Sertakan klien dalam terapi
aktivitas kelompok:
orientasi realitas.
4.3 Berikan pujian tiap kegiatan
positif yang dilakukan oleh
klien.
5.1 Diskusikandengan
keluarga tentang :
- Gejala waham
- Cara merawat
- Lingkungan keluarga
- Follow up dan obat.
5.2 Anjurkan keluarga
melaksanakan dengan
bantuan perawat.
6.1 Diskusikan dengan klien dan
keluarga tentang obat,
dosis, dan efek samping
obat dan akibat
penghentian.
6.2 Diskusikan perasaan klien

Dengan situasi tertentu


klien
akan
dapat
mengontrol wahamnya
Reinforcement
adalah
penting
untuk
meningkatkan
kesadaran
klien akan realitas.

Pujian dapat memotivasi


klien untuk meningkatkan
kegiatan positifnya.
Perhatian
keluarga
dan
pengertian keluarga akan
dapat
membantu
klien
dalam
mengendalikan
wahamnya.

Obat dapat mengontrol


waham yang dialami oleh
klien dan dapat membantu
penyembuhan klien.

2.

3.

4.

Klien
dapat
mendemonstrasikan
penggunaan
obat
dengan benar.
Klien
dapat
memahami
akibat
berhentinya
mengkonsumsi obat
tanpa konsultasi.
Klien
dapat
menyebutkan prinsip
lima benar dalam
penggunaan obat.

setelah minum obat.


6.3 Berikan obat dengan prinsip
lima benar dan observasi
setelah minum obat.

2. Harga Diri Rendah


No
.
1.

Diagnosa
Keperawa
tan
Harga Diri
Rendah

Perencanaan
Tujuan
TUM :
Klien dapat melakukan
hubungan sosial secara

Kriteria Evaluasi

Intervensi

Rasional

bertahap.
TUK 1 :
Kriteria Evaluasi :
Klien
dapat
membina 1. Klien dapat
mengungkapkan
hubungan saling percaya.
perasaanya
2. Ekspresi wajah
bersahabat
3. Ada kontak mata
4. Menunjukkan rasa
senang
5. Mau berjabat tangan
6. Klien
mau
mengutarakan
masalah
yang
dihadapi

TUK 2 :
Klien dapat

Kriteria Evaluasi :
Klien mampu

1.1 Bina hubungan saling


percaya :
a. Sapa klien dengan
ramah, baikverbal
maupun nonverbal
b. Perkenalkan diri dengan
sopan
c. Tanya nama lengkap
klien dan nama panggilan
yang disukai klien
d. Jelaskan tujuan
pertemuan, jujur
danmenepati janji
e. Tunjukkan sikap empati
danmenerima klien apa
adanya
1.2 Beri kesempatan untuk
mengungkapkan
perasaanya tentang
penyakit yang dideritanya
1.3 Sediakan waktu untuk
mendengarkan klien
Katakan pada klien bahwa
ia adalah seorang yang
berharga dan
bertanggungjawab serta
mampu menolong dirinya
sendiri.

Hubungan saling percaya


akan
menimbulkan
kepercayaan klien pada
perawat sehingga akan
memudahkan
dalam
pelaksanaan
tindakan
selanjutnya.

2.1 Diskusikan kemampuan dan


aspek positif yang dimiliki

Pujian akan meningkatkan


harga diri klien.

mengidentifikasi
kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki.

mempertahankan aspek
yang positif.

kllien dan beri pujian /


reinforcement atas
kemampuan
mengungkapkan
perasaannya
2.2 Saat bertemu klien,
hindarkan memberi
penilaian negatif.
2.3 Utamakan memberi pujian
yang realistis.

TUK 3 :
Klien
dapat
menilai
kemampuan yang dapat
digunakan.

Kriteria Evaluasi :
1. Kebutuhan klien
terpenuhi
2. Klien dapat
melakukan aktivitas
terarah.

3.1 Diskusikan kemampuan


klien yang masih dapat
digunakan selama sakit
3.2 Diskusikan juga
kemampuan yang dapat
dilanjutkan penggunaan di
rumah sakit dan di rumah
nanti.

Peningkatan
mendorong
mandiri.

TUK 4 :
Klien dapat menetapkan
dan
merencanakan
kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki.

Kriteria Evaluasi :
1. Klien mampu
beraktivitas sesuai
kemampuan
2. Klien mengikuti
terapi aktivitas
kelompok.

4.1 Rencanakan bersama klien


aktivitas yang dapat
dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
4.2 Tingkatkan kegiatan sesuai
dengan toleransi kondisi
klien
4.3 Beri contoh cara
pelaksanaan kegiatan yang
boleh klien lakukan.

Pelaksanaan
kegiatan
secara mandiri modal awal
untuk meningkatkan harga
diri.

TUK 5 :
Klien dapat

Kriteria Evaluasi :
Klien mampu

5.1 Beri kesempatan klien untuk


mencoba kegiatan yang

Dengan aktivitas klien


akan mengetahui

melakukan

kemampuan
klien untuk

kegiatan sesuai kondisi


sakit dan kemampuannya.

beraktivitas sesuai
kemampuan

TUK 6 :
Klien
dapat
memanfaatkan
sistem
pendukung yang ada

Kriteria Evaluasi :
1. Klien mampu
melakukan apa yang
diajarkan
2. Klien
mampu
memberikan
dukungan

direncanakan
5.2 Beri pujian atas
keberhasilan kllien
5.3 Diskusikan kemungkinan
pelaksanaan di rumah.
6.1 Beri pendidikan kesehatan
pada keluarga tentang cara
merawat klien harga diri
rendah
6.2 Bantu keluarga memberi
dukungan selama klien
dirawat
6.3 6.3 Bantu keluarga
menyiapkan lingkungan di
rumah

kemampuannya

Perhatian keluarga dan


pengertian keluarga akan
dapat
membantu
meningkatkan harga diri
klien

VI. Referensi
Direja, S.A.H 2011, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa, Yogjakarta : Nuha
Medika
Keliat, B. A 2005, Keperawatan Jiwa : Terapi Aktifitas Kelompok, Jakarta :
EGC
Kusumawati & Hartono 2010, Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta :
Salemba Medika
Purba, dkk 2008, Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah
Psikososial dan Gangguan Jiwa, Medan : USU Pres