Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Persalinan merupakan proses yang penting bagi seorang ibu. Secara ilmiah
dalam proses persalinan, ibu bersalin akan mengeluarkan banyak energi dan
mengalami perubahan perubahan baik secara fisiologis dan psikologis sehingga
dukungan pada pada ibu bersalin sangat diperlukan. Persalinan adalah suatu
proses fisiologis yang memungkinkan terjadinya serangkaian perubahan besar
pada calon ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Ini
diidentifikasikan sebagai pembukaan serviks yang progresif, dilatasi atau
keduanya, akibat kontraksi rahim teratur yang terjadi sekurang kurangnya setiap
lima menit dan berlangsung sampai 60 detik (Aprillia, 2010)
Peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan menangani
komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu atau janin. Keputusan yang diambil
untuk menolong, harus dipertimbangkan dengan hati hati. Pertolongan yang
diberikan tidak hanya membawa keuntungan potensial, tetapi juga risiko
potensial. Kasus penanganan yang terbaik dapat berupa observasi yang cermat
(Aprillia, 2010).
Asuhan keperawatan pasca persalinan diperlukan untuk meningkatkan status
kesehatan ibu dan anak. Peran perawat pada perawatan bayi setelah lahir
(menghisap lendir, perawatan tali pusat, menentukan apgar score, memandikan
bayi, menimbang berat badan (BB) mengukur panjang badan (PB), lingkar kepala,
serta lingkar dada bayi) sangat diperlukan (Nursalam, 2008).
Kelahiran sekitar 6 10% adalah kurang bulan, yaitu terjadi sebelum
kehamilan tiga puluh tujuh minggu. Para ibu dengan kelahiran kurang bulan
sebagian besar berisiko mengalami satu atau beberapa faktor risiko berikut ini.
Penting diketahui bahwa banyak wanita dengan faktor risiko ini yang tidak
mengalami persalinan kurang bulan. Persalinan kurang bulan dapat saja terjadi
pada wanita yang tidak mempunyai faktor risiko (Penny Simkin, Janet Whalley, &
Ann Keppler).
Persalinan kurang bulan (premature) dapat terjadi ketika belum memasuki
minggu ke 37 atau tiga minggu sebelum hari perkiraan lahir. Penyebab persalinan
kurang bulan belum jelas. Presdisposisi terjadinya adalah ketuban pecah sebelum

waktunya, infeksi cairan ketuban, riwayat persalinan kurang bulan, pembesaran


uterus yang berlebihan, inkompeten serviks, AKDR in situ, penyakit sistemik ibu,
kelainan uterus atau hasil konsepsi (Sastrawinata, 2004).
Indikasi persalinan kurang bulan salah satunya adalah ketuban pecah dini
(KPD) yaitu pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda mulai persalinan dan
ditunggu satu jam sebelum terjadi In Partu, sebagian besar ketuban pecah dini
terjadi pada kehamilan aterm lebih dari 37 minggu, sedangkan kurang dari 36
minggu tidak terlalu banyak (Manuaba, 2008).
World Health Organization (WHO) pada tahun 2008 menyebutkan Angka
Kematian Ibu di Indonesia 240/100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan
Indonesia, 2010; hal. 181). Sumber Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
menyebutkan pada tahun 2012 AKI di Indonesia sebesar 102/100.000 kelahiran
dan angka kematian bayi sebesar 23/1000 kelahiran hidup (Antara, 2013).
Penyebab AKI adalah perdarahan (28%), eklampsia (12%), abortus (13%), sepsis
(15%), partus lama (18%), dan penyebab lainnya (2%) (Antara, 2013). Data dari
Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum jumlah persalinan normal tahun 2013 sebesar
191 kasus.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik dan termotivasi untuk
menyusun laporan makalah berjudul asuhan keperawatan kepada pasien post
partum di Puskesmas kecamatan pasar minggu. sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan praktek stage maternitas di Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Jakarta.
Visi dan Misi dari puskesmas kecamatan pasar minggu adalah Visi :
Puskesmas menjadi unit pelayanan prima yang professional, terjangkau,
berkesinambungan mandiri dan mengutamakan kepuasan pelanggan. Dan Misi :
Memberdayakan sumber daya manusia dalam menghadapi era globalisasi,
Mengembangkan mutu pelayanan secara optimal baik promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif, Menggalang kerja sama dengan mitra kerja, Menggalang sistem
pemasaran Puskesmas.
Dan puskesmas kecamatan pasar minggu memiliki sejarah yaitu Puskesmas
Kecamatan Pasar Minggu dibangun tahun 1972 di atas tanah pemda DKI Jakarta
terletak di jalan raya Ragunan dengan bangunan 2 lantai, luas tanah 1250 M, luas
bangunan 587 M. Wilayah Kecamatan Pasar Minggu meliputi 14 kelurahan.
Tahun 1986 Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dipecah menjadi 2 yaitu

Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu yang mempunyai 7 kelurahan dengan 1 RB


dan Puskesmas Kecamatan Perwakilan (Jagakarsa) dengan 5 kelurahan yang
terletak di jalan Mohamad Khafi I.
Seiring dengan perkembangan kota pada tahun 1993 didirikan Puskesmas
Kecamatan Pasar Minggu di Jalan Kebagusan Raya di atas tanah Pemda DKI
dengan bangunan 3 lantai, luas tanah 1700 M, luas bangunan 1500 M. Pelayanan
di gedung baru Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu mulai beroperasi bulan
Agustus 1995 secara bertahap. Pada bulan Juni 1996 sudah operasional penuh
hingga saat ini.
I.2 Tujuan
I.2.1 Tujuan umum
Meningkatkan ketrampilan, kemampuan mengetahui, dan menerapkan
asuhan keperawatan pada pasien dengan persalinan spontan indikasi ketuban
pecah dini di ruang bersalin puskesmas kecamatan pasar minggu.
I.2.2 Tujuan khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan persalinan spontan
indikasi ketuban pecah dini di ruang bersalin puskesmas kecamatan pasar
minggu.
b. Mampu merumuskan intepretasi data yang meliputi data fokus (data
subyektif dan obyektif), masalah keperawatan beserta etiologinya pada
pasien dengan persalinan spontan indikasi ketuban pecah dini di ruang
bersalin puskesmas kecamatan pasar minggu.
c. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
persalinan spontan indikasi ketuban pecah dini di ruang bersalin
puskesmas kecamatan pasar minggu.
d. Mampu menyusun rencana tindakan asuhan keperawatan pada pasien
dengan persalinan spontan indikasi ketuban pecah dini di ruang bersalin
puskesmas kecamatan pasar minggu.
e. Mampu melakukan tindakan keperawatan sesuai rencana keperawatan
pada pasien dengan persalinan spontan indikasi ketuban pecah dini di
ruang bersalin puskesmas kecamatan pasar minggu.
f. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada pasien dengan
persalinan spontan indikasi ketuban pecah dini di ruang bersalin
puskesmas kecamatan pasar minggu.
I.3 Manfaat

I.3.1. Bagi penulis


Penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan
persalinan spontan indikasi ketuban pecah dini, serta mendapat pengalaman yang
nyata dalam melakukan tindakan keperawatan secara komprehensif menggunakan
metode proses asuhan keperawatan dengan menerapkan ilmu yang didapatkan
selama proses pembelajaran/pendidikan.
I.3.2. Instansi Kesehatan
Memberikan gambaran tentang status kesehatan pasien dan meningkatkan
kualitas pelayanan asuhan keperawatan pada pasien di ruang bersalin puskesmas
kecamatan pasar minggu.
I.3.3. Instansi Pendidikan
Menambah pengetahuan

dan

pengalaman

secara

langsung

dalam

memberikan asuhan keperawatan maternitas khususnya pada pasien dengan


persalinan spontan indikasi ketuban pecah dini di rumah sakit/puskesmas.
I.3.4. Pasien
Dapat menambah dan mengembangkan pengetahuan serta wawasan pasien
tentang asuhan keperawatan khususnya perawatan setelah post partum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Tinjauan Teori
II.1.1 Pengertian Postpartum
Postpartum (Masa Nifas) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa Nifas
atau puerp- erium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6
minggu atau 42 hari setelah itu. Puerperium adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil (Sunarsih
dkk, 2011; h. 1).
Masa nifas disebut juga masa postpartum atau purperium, adalah masa
setelah persalinan, masa, perubahan, pemulihan, penyembuhan, dan pengembalian
alat-alat kandungan/reproduksi seperti sebelum hamil yang lamanya 6 minggu
atau 40 hari pasca persalinan (Jannah, 2011; h. 13).

Postpartum atau purpurium dimulai sejak 1 jam setelah lahir plasenta


sampai dengan 6 minggu (42hari) (Prawirohardjo, 2010; h. 356).
II.1.2 Anatomi Dan Fisiologi
Sistem reproduksi wanita terdiri dari organ interna, yang terletak di dalam
rongga pelvis dan ditopang oleh lantai pelvis, dan genetalia eksterna, yang terletak
di perineum. Struktur reproduksi interna dan eksterna berkembang menjadi matur
akibat rangsang hormon estrogen dan progesteron (Bobak, 2005).
a. Stuktur eksterna

1) Vulva
Vulva adalah nama yang diberikan untuk struktur genetalia externa.
Kata ini berarti penutup atau pembungkus yang berbentuk lonjong,
berukuran panjang, mulai klitoris, kanan kiri dibatasi bibir kecil
sampai ke belakang dibatasi perineum.
2) Mons pubis
Mons pubis atau mons veneris adalah jaringan lemak subkutan
berbentuk bulat yang lunak dan padat serta merupakan jaringan ikat
jarang di atas simfisis pubis. Mons pubis mengandung banyak kelenjar
sebasea dan ditumbuhi rambut berwarna hitam, kasar, dan ikal pada
masa pubertas, mons berperan dalam sensualitas dan melindungi
simfisis pubis selama koitus.
3) Labia mayora
Labia mayora adalah dua lipatan kulit panjang melengkung yang
menutupi lemak dan jaringan kulit yang menyatu dengan mons pubis.
Keduanya memanjang dari mons pubis ke arah bawah mengililingi

labia minora, berakhir di perineum pada garis tengah. Labia mayora


melindungi labia minora, meatus urinarius, dan introitus vagina. Pada
wanita yang belum pernah melahirkan anak pervaginam, kedua labia
mayora terletak berdekatan di garis tengah, menutupi stuktur-struktur
di bawahnya. Setelah melahirkan anak dan mengalami cedera pada
vagina atau pada perineum, labia sedikit terpisah dan bahkan introitus
vagina terbuka. Penurunan produksi hormon menyebapkan atrofi labia
mayora. Pada permukaan arah lateral kulit labia tebal, biasanya
memiliki pigmen lebih gelap daripada jaringam sekitarnya dan ditutupi
rambut yang kasar dan semakin menipis ke arah luar perineum.
Permukaan medial labia mayora licin, tebal, dan tidak tumbuhi rambut.
Sensitivitas labia mayora terhadap sentuhan, nyeri, dan suhu tinggi.
Hal ini diakibatkan adanya jaringan saraf yang menyebar luas, yang
juga berfungsi selama rangsangan seksual.

4) Labia minora
Labia minora terletak di antara dua labia mayora, merupakan lipatan
kulit yang panjang, sempit, dan tidak berambut yang , memanjang ke
arah bawah dari bawah klitoris dan dan menyatu dengan fourchett.
Sementara bagian lateral dan anterior labia biasanya mengandung
pigmen, permukaan medial labia minora sama dengan mukosa vagina.
Pembuluh darah yang sangat banyak membuat labia berwarna merah
kemerahan dan memungkankan labia minora membengkak, bila ada
stimulus emosional atau stimulus fisik. Kelenjar-kelenjar di labia
minora juga melumasi vulva. Suplai saraf yang sangat banyak
membuat labia minora sensitif, sehingga meningkatkan fungsi
erotiknya.
5) Klitoris
Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan yang terletak tepat
di bawah arkus pubis. Dalam keadaan tidak terangsang, bagian yang
terlihat adalah sekitar 6x6 mm atau kurang. Ujung badan klitoris

dinamai glans dan lebih sensitif dari pada badannya. Saat wanita secara
seksual terangsang, glans dan badan klitoris membesar. Kelenjar
sebasea klitoris menyekresi smegma, suatu substansi lemak seperti
keju yang memiliki aroma khas dan berfungsi sebagai feromon. Istilah
klitoris berasal dari kata dalam bahasa yunani, yang berarti kunci
karena klitoris dianggap sebagai kunci seksualitas wanita. Jumlah
pembuluh darah dan persarafan yang banyak membuat klitoris sangat
sensitif terhadap suhu, sentuhan dan sensasi tekanan.
6) Vestibulum
Vestibulum ialah suatu daerah yang berbentuk seperti perahu atau
lojong, terletak di antara labia minora, klitoris dan fourchette.
Vestibulum terdiri dari muara uretra, kelenjar parauretra, vagina dan
kelenjar paravagina. Permukaan vestibulum yang tipis dan agak
berlendir mudah teriritasi oleh bahan kimia. Kelenjar vestibulum
mayora adalah gabungan dua kelenjar di dasar labia mayora, masingmasing satu pada setiap sisi orifisium vagina.
7) Fourchette
Fourchette adalah lipatan jaringan transversal yang pipih dan tipis, dan
terletak pada pertemuan ujung bawah labia mayora dan minora di garis
tengah di bawah orifisium vagina. Suatu cekungan dan fosa navikularis
terletak di antara fourchette dan himen
8) Perineum
Perineum adalah daerah muskular yang ditutupi kulit Antara introitus
vagina dan anus. Perineum membentuk dasar badan perineum.
b. Struktur interna

1) Ovarium
Sebuah ovarium terletak di setiap sisi uterus, di bawah dan di belakang
tuba falopi. Dua lagamen mengikat ovarium pada tempatnya, yakni
bagian mesovarium ligamen lebar uterus, yang memisahkan ovarium
dari sisi dinding pelvis lateral kira-kira setinggi krista iliaka
anterosuperior, dan ligamentum ovaryii proprium, yang mengikat
ovarium ke uterus. Dua fungsi ovarium adalah menyelenggarakan
ovulasi dan memproduksi hormon. Saat lahir, ovarium wanita normal
mengandung banyak ovum primordial. Di antara interval selama masa
usia subur ovarium juga merupakan tempat utama produksi hormon
seks steroid dalam jumlah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan,
perkembangan, dan fungsi wanita normal.
2) Tuba fallopi
Sepasang tuba fallopi melekat pada fundus uterus. Tuba ini memanjang
ke arah lateral, mencapai ujung bebas legamen lebar dan berlekuklekuk mengelilingi setiap ovarium. Panjang tuba ini kira-kira 10 cm
dengan berdiameter 0,6 cm. Tuba fallopi merupakan jalan bagi ovum.

Ovum didorong di sepanjang tuba, sebagian oleh silia, tetapi terutama


oleh gerakan peristaltis lapisan otot. Esterogen dan prostaglandin
mempengaruhi gerakan peristaltis. Aktevites peristaltis tuba fallopi dan
fungsi sekresi lapisan mukosa yang terbesar ialah pada saat ovulasi.
3) Uterus
Uterus adalah organ berdinding tebal, muskular, pipih, cekung yang
tampak mirip buah pir yang terbalik. Uterus normal memiliki bentuk
simetris, nyeri bila di tekan, licin dan teraba padat. Uterus terdiri dari
tiga bagian, fudus yang merupakan tonjolan bulat di bagian atas dan
insersituba fallopi, korpus yang merupakan bagian utama yang
mengelilingi cavum uteri, dan istmus, yakni bagian sedikit konstriksi
yang menghubungkan korpus dengan serviks dan dikenal sebagai
sekmen uterus bagian bawah pada masa hamil. Tiga fungsi uterus
adalah siklus menstruasi dengan peremajaan endometrium, kehamilan
dan persalinan. Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan :
a) Endometrium yang mengandung banyak pembuluh darah ialah
suatu lapisan membran mukosa yang terdiri dari tiga lapisan :
lapisan permukaan padat, lapisan tengah jaringan ikat yang
berongga, dan lapisan dalam padat yang menghubungkan
indometrium dengan miometrium.
b) Miometrum yang tebal tersusun atas lapisan lapisan serabut otot
polos yang membentang ke tiga arah. Serabut longitudinal
membentuk lapisan luar miometrium, paling benyak ditemukan di
daerah fundus, membuat lapisan ini sangat cocok untuk mendorong
bayi pada persalinan.
c) Peritonium perietalis
Suatu membran serosa, melapisi seluruh korpus uteri, kecuali
seperempat permukaan anterior bagian bawah, di mana terdapat
kandung kemih dan serviks. Tes diagnostik dan bedah pada uterus
dapat dilakukan tanpa perlu membuka rongga abdomen karena
peritonium perietalis tidak menutupi seluruh korpus uteri.
d) Vagina
Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan
mampu meregang secara luas. Mukosa vagina berespon dengan

cepat terhadap stimulai esterogen dan progesteron. sel-sel mukosa


tanggal terutama selama siklus menstruasi dan selama masa hamil.
Sel-sel yang di ambil dari mukosa vagina dapat digunakan untuk
mengukur kadar hormone seks steroid. Cairan vagina berasal dari
traktus genetalis atas atau bawah. Cairan sedikit asam. Interaksi
antara

laktobasilus

vagina

dan

glikogen

mempertahankan

keasaman. Apabila pH nik diatas lima, insiden infeksi vagina


meningkat.

Cairan

yang

terus

mengalir

dari

vagina

mempertahankan kebersihan relatif vagina.


II.1.3 Periode Nifas
a. Periode Immediate Postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini
sering terdapat banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri.
Oleh karena itu, bidan dengan teratur harus melakukan pemeriksaan
kontraksi uterus, pengeluaran loche, tekanan darah, dan suhu.
b. Periode Early Postpartum (24 jam-1 minggu)
Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak
ada perdarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup
mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
c. Periose Late Postpartum (1 minggu-5 minggu)
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan
sehari-hari serta konseling KB. (Siti Saleha,2009:4)
II.1.4 Asuhan Masa Nifas
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa
kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan 60% kematian ibu akibat kehamilan
terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam
pertama (Rukiyah dkk, 2011; h. 3).
Tujuan yang diberikannya asuhan pada ibu selama masa nifas antara lain:
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologinya.
b. Mendeteksi masalah, mengobati dan merujuk bila tejadi komplikasipada
ibu maupun bayi.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi,KB, cara dan manfaat. menyusui, imunisasi serta perawatan bayi
sehari-hari.
d. Memberikan pelayanan KB.

(Saleha, 2009; h. 4).


II.1.5 Tahapan Masa Nifas
Nifas dibagi menjadi 3 tahap :
a. Puerperium Dini
Kepulihan dimana ibu tlah diperbolehkan untuk berjalan-jalan, Dalam
agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b. Puerperium Intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
c. Remote Peurperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila
selama hamil atau waktu persalinan memiliki komplikasi. Waktu untuk
sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, tahunan.
II.1.6 Program dan Kebijakan Tehnis
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status
ibu dan BBL, dan untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah
yang terjadi antara lain sebagai berikut :
Kunjungan I
Kunjungan II
Kunjungan III

: Asuhan 6-8 jam setelah melahirkan


: Asuhan 6 hari setelah melahirkan
: Asuhan 2 minggu setelah melahirkan

Kunjungan IV
: Asuhan 6 minggu setelah melahirkan
(Sunarsih dkk, 2011; h. 4-5).
Tabel 2.1 Asuhan Kunjungan Nifas Normal
Kunjungan
I

Waktu
Asuhan
6-8
jam a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
post
partum

uteri
b. Mendeteksi

dan

merawat

penyebab

lain

pendarahan
c. Memberikan konseling pada ibu mengenai
bagaimana cara pencegahan pendarahan
d. Pemberian ASI awal
e. Melakukan hubungan antara ibu dengan bayi
f.
II

yang baru lahir


Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah

hypothermi
6 hari post a. Memastikan involusi uterus berjalan normal,

partum

uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus


dan tidak ada tanda-tanda perdarahan abnormal
b. Menilai adaanya tanda-tanda demam, infeksi,
perdarahan abnormal
c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan,
cairan dan istirahat
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai
asuhan pada bayi,tali pusat dan merawat bayi

III

sehari-hari
2 minggu a. Memastikan involusi uterus berjalan normal,
post
partum

uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus


dan tidak ada tanda-tanda perdarahan abnormal
b. Menilai adaanya tanda-tanda demam, infeksi,
perdarahan abnormal
c. Memastikan ibu mendapat cukup makan,cairan
dan istirahat
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai
asuhan pada bayi, tali pusat dan merawat bayi

IV

sehari-hari
6 minggu a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit
post
partum

yang ia alami
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini,
imunisasi, senam nifas, dan tanda-tanda bahaya

yang dialami oleh ibu dan bayi.


(Sumber: Sulistyawati, 2012; hal .6)

II.1.7 Perubahan Fisiologi Masa Nifas


a. Perubahan fisiologi masa nifas pada sistem reproduksi

1) Involusi
a) Pengertian
Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana
uterus kembali kekondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60
gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat
kontraksi otot-otot polos uterus (Maryunani, 2009; h. 6).
b) Proses involusi uteri
Pada akhir kala III persalinan, uterus berada digaris tengah, kirakira 2 cm dibawah umbilicus. Pada saat ini besar uterus kira-kira
sama dengan uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu dengan
berat 1000 gram. Peningkatan kadar estrogen dan progesterone
bertanggung jawab untuk pertumbuhan massif uterus selama masa
hamil. Pertumbuhan uterus pada masa prenatal tergantung pada
hyperplasia, penigkatan jumlah sel sel otot dan hipertropi, yaitu
pembesaran sel sel yang sudah ada. Pada masa postpartum
penurunan kadar hormone hormone ini menyebabkan terjadi
autolysis (Maryunani, 2009; h. 6-7).
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut :
i) Autolysis
Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang
terjadi

didalam

otot

uterine.

Enzim

proteolitik

akan

memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur


sehingga 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebar
dari semula selama kehamilan.
ii) Atrofi jaringan
Jaringan yang berprolifersi dengan adanya estrogen dalam
jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi
terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai
pelepasan plasenta.
iii) Efek oksitosin
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera
setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap
penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Hormon

oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan


mengatur

kontraksi

uterus,

mengompresi

hemostatis

(Sulistyawati, 2009; h. 74-75).


2) Kontraksi
Kontraksi uterus terus meningkat secara bermakna setelah bayi keluar,
yang diperkirakan terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume
intrauterin yang sangat besar. Kontraksi uterus yang meningkat setelah
bayi keluar, ini menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta
sehingga jaringan perlekatan antara plasenta dan dinding uterus
menjadi nekrosis dan lepas (Maryunani, 2009; h. 9).
Tabel 2.2 Perubahan Uterus
Diameter
Involusi

Tinggi
Fundus Uteri

Berat

Bekas

Uterus

Melekat

(gr)

Plasenta

Keadaan Serviks

(cm)
Bayi Lahir
Uri Lahir

Setinggi pusat 1000


2 jari dibawah 750

12.5

Lembek

Satu Minggu

pusat
Pertengahan

7,5

Beberapa

500

pusat-simfisis

hari

setelah
postpartum dapat
dilalui 2 jari akhir
minggu

pertama

dapat dimasuki 1
jari
Dua Minggu

Tak

teraba 350

3-4

diatas simfisis
Enam

Bertambah

50-60

Minggu
Delapan

kecil
Sebesar

30

Minggu
normal
Sumber : (Sunarsih dkk, 2011; h. 57).
3) Afterpains

1-2

Dalam minggu pertama sesudah bayi lahir, mungkin ibu mengalami


kram/mulas pada abdomen yang berlangsung sebentar, mirip sekali
dengan kram sewaktu periode menstruasi, keadaan ini disebut
afterpains, yang ditimbulkan karena kontraksi uterus pada waktu
mendorong gumpalan darah dan jaringan yang terkumpul didalam
uterus.
4) Tempat Plasenta
Dengan involusi uterus ini, maka lapisan luar dari decidua yang
mengelilingi tempat atau situs plasenta akan menjadi nekrotik
(layu/mati). Decidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa
cairan, suatu campuran antara darah dan yang dinamakan lochea yang
menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik tadi adalah karena
pertumbuhan endometrium.
5) Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan
mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme berkembang
lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada wanita normal.
Lochea memiliki bau yang amis/anyir dan mempunyai reaksi
basa/alkalis yang membuat organisme berkembang lebih cepat dari
pada kondisi asam yang ada pada wanita normal. Lochea memiliki
bau yang amis/anyir meskipun tidak telalu menyengat dan volumenya
berbeda-beda pada setiap wanita. Lochea mengalami perubahan
karena proses involusi. Pengeluaran lochea dapat dibagi menjadi
lochea rubra, sanguelenta, serosa, alba (Maryunani, 2009; h. 10-11).
Tabel 2.3. Perubahan Lochea
Lochea
Rubra

Sanguel

Waktu
1-3 hari

3-7 hari

enta
Serosa

Warna
Merah

Ciri-ciri
Terdiri dari decidua, vernik caseosa,

kehitaman

rambut lanugo, sisa mekonium dan

Putih

sisa darah
Sisa darah bercampur lendir

bercampur
7-14 hari

merah
Kekuningan

Lebih sedikit darah dan lebih

/kecoklatan

banyak

serum, juga terdiri dari

leukosit
Alba

>14 hari

Putih

dan

plasenta
Mengandung

robekan

laserasi

leokosit,

selaput

lendir serviks dan serabut jaringan


yang mati.
Sumber : (Rukiyah DKK, 2011; h. 59-60).
6) Perubahan Ligamentum
Setelah bayi lahir, ligamen dan diafragma pelvis fasia yang meregang
sewaktu kehamilan dan saat melahirkan, kembali ke sedia kala.
Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan antara lain :
ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak
uterus menjadi retrofleksi, ligamen fasia, jaringan penunjang alat
genetalia menjadi agak kendor. Perubahan yang terjadi antara lain :
a) Perubahan di serviks dan Segmen Bawah Uterus
Setelah kelahiran, miometrium segmen bawah uterus yang sangat
menipis berkontraksi dan bertraksi tetapi tidak sekuat korpus uteri.
Dalam perjalanan beberapa minggu, segmen bawah diubah dari
struktur yang jelas jelas cukup besar untuk memuat kebanyakan
kepala janin cukup bulan menjadi isthmus uteri hampir tidak dapat
dilihat yang terletak diantar korpus diatas dan os iinterna serviks
dibawah. Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek,
kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan
korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi
sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk
cincin
b) Perubahan pada Vulva, Vagina dan Perineum
Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan
serta peregangan, setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini
kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada
minggu ketiga
Vagina pintu keluar pada bagian pertama masa nifas membentuk
lorong berdinding lunak dan luas ukurannya secara perlahan

lahan mengecil tetapi jarang kembali ke ukuran nulipara (Rukiyah


dkk, 2011; h. 60-62).
Endometrium
Perubahan pada endometrium adalah timbulnya thrombosis,
degenerasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari
pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai permukaan yang
kasar akibat pelepasan desidua, dan selaput janin. Setelah tiga hari
mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada
bekas implantasi plasenta (Saleha, 2009; h. 56).
c) Perubahan di Peritoneum dan Dinding Abdomen
Konsistensi abdomen lembek, peregangan selama kehamilan dapat
memisahkan otot perut diastasis rekti abdomeminis, yang
normalnya adalah kurang dari 20 cm dan lebar 2 cm. Sementara
itu, dilihat pada dinding abdomen, abdomen tampak menonjol
keluar pada hari pertama sesudah melahirkan. Dua mnggu pertama
melahirkan, dinding abdomen relaksasi, kurang lebih 6 minggu
keadaan abdomen kembali seperti sebelum hamil (Rukiyah dkk,
2011; h. 63).
d) Payudara (mamae)
Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis, yaitu
sebagai

berikut:

i) Produksi susu (Sekresi susu atau let down

Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada


payudara dapat dirasakan. Pembuluh darah menjadi bengkak
terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa
sakit. Sel sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai
berfungsi. Ketika bayi menghisap puting, refleks saraf
merangsang lobus posterior pituitari untuk menyekresi
hormone oksitosin. Oksitosin merangsang refleks let down
mengalirkan (Saleha, 2009; h. 58).
ASI mulai ada kira-kira pada hari ke-3 atau ke-4 setelah
kelahiran bayi dan kolostrum berubah menjadi ASI yang matur
kira-kira 15 hari sesudah bayi lahir (Sulistyawati, 2012; h. 12).

Isapan bayi memicu pelepasan ASI dari alveolus mamae


malalui duktus sinus laktiferus. Isapan merangsang produksi
oksitosin oleh kelenjar hipofisi anterior. Oksitosin memasuki
drah dan menyebabkan kontraksi sel-sel khusus yang
mengelilingi alveolus dan duktus laktiferus. Kontraksi ini
mendorong ASI keluar dari alveolus melalui duktus laktiferus
menuju sinus laktiferus dimana ia akan tersimpan. Pada saat
bayi menghisap, ASI dalam sinus tertekan keluar kemulut
bayi. Gerakan ASI dari sinus dinamakan let down atau
pelepasan. Pada akhir let down dapat dipicu tanpa rangsangan
isapan, pelepasan dapat terjadi bila ibu mendengar bayi
menagis atau sekedar memikirkan bayinya. pelepasan
penting sekali bagi pemberian ASI yang baik. Tanpa
pelepasan bayi dapat mengisap terus-menerus, tetapi hanya
memperoleh dari sebagian ASI yang tersedia dan tersimpan.
Bila pelepasan gagal terjadi berulang kali dan payudara
berulang kali tidak dikosongkan pada waktu pelepasan, reflek
ini akan berhenti

berpungsi dan laktasi akan berhenti

(Sunarsih dkk, 2011; h.10-11)


ii) Pengeluaran ASI
ASI sebagai makanan alamiah adalah makanan yang terbaik
yang dapat diberikan oleh seorang ibu pada anaknya yang baru
dilahirkannya. Komposisi berubah sesuai dengan kebutuhan
bayi pada setiap saat,

yaitu kolostrum pada hari pertama

sampai 4-7 hari, dilanjutkan dengan ASI peralihan sampai 3-4


minggu, selanjutnya ASI matur (Prawirohardjo, 2010; h. 376).
iii) ASI Ekslusif
ASI ekslusif (menururt WHO) adalah pemberian ASI saja pada
bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun
makanan lain. ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2
tahun. Pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan dianjurkan oleh
pedoman internasional yang didasarkan pada bukti ilmiah

tentang manfaat ASI baik bagi bayi, ibu, keluarga, maupun


negara.
Menurut penelitian yang dilakukan di Dhaka pada 1.667 bayi
selama 12 bulan mengatakan bahwa ASI ekslusif dapat
menurunkan risiko kematian akibat infeksi saluran nafas akut
dan diare. WHO dan UNICEF

merekomendasikan kepada

para ibu, bila memungkinkan ASI ekslusif diberikan sampai 6


bulan dengan menerapkan hal-hal sebagai berikut.

Insisi menyusui dini selama satu jam setelah kelahiran

bayi.
ASI ekslusif diberikan pada bayi hanya ASI saja tanpa

makanan tambahan atau minuman.


ASI diberikan secara on-demand atau sesuai kebutuhan

bayi, setiap hari setiap malam.


ASI diberikan tidak menggunakan botol, cangkir, maupun
dot.

b. Perubahan Sistem Pencernaan


Biasanya, ibu mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan
karena pada waktu persalinan,alat pencernaan mengalami tekanan yang
menyebabkan kolon menjadi kosong, kurangnya asupan cairan dan
makanan, serta kurangnya aktivitas tubuh. Supaya buang air besar kembali
normal,dapat diatasi dengan diet tinggi serat,peningkatan asupan cairan
saat ambulasi awal. Bila ini tidak berhasil dalm 2-3 hari dapat diberikan
obat laksansia.
c. Perubahan Sistem Perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung,biasanya ibu akan sulit untuk buang
air kecil dalam 24 jam pertama. Kemungkinan penyebab dari keadaan ini
adalah terdapat spasme sfinkter dan edema leher kandung kemih sesudah
bagian ini mengalami kompresi (tekanan) antara kepala janin dan tulang
pubis selama persalinan berlangsung. Kandung kemih dalam masa nifas

menjadi kurang sensitif dan kapasitas bertambah sehingga setiap kali


kencing masih tertinggal urine residual (normal kurang lebih 15cc)
(Sulistyawati, 2012; h. 78).
d. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Adaptasi muskuloskeletal ini mencakup : peningkatan berat badan,
bergesernya pusat akibat pembesaran rahim, relaksasi dan mobilitas.
Namun demikian, pada saat post partum sistem muskuloskeletal akan
berangsur-angsur pulih kembali. Ambulasi dini dilakukan segera setelah
melahirkan, untuk membantu mencegah kompllikasi dan mempercepat
involusi uteri (Rukiyah dkk, 2011; h. 67-68).
e. Perubahan Sistem Endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem
endokrin. Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut, antara
lain:
1) Hormon oksitosin
Disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Hormon oksitosin
berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi
sehinga mencegah pendarahan.
2) Hormon prolaktin
Menurunkan kadar ekstrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar
pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin, hormon ini
berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi
susu.
3) Hormon estrogen dan progesteron
Selama hamil volume darah

normal

meningkat

walaupun

mekanismenya secara penuh belum dimengerti. (Saleha, 2009; h. 60).


f. Perubahan Tanda-tanda Vital
Pada masa nifas, tanda-tanda vital yang harus dikaji antara lain :
1) Suhu badan
24 jam post partum suhu badan akan naik sedikit (37,5 0C-380C).
Sebagai akibat kerja keras saat melahirkan, kehilangan cairan dan
kelelahan, apabila keadaan normal suhu badan akan biasa lagi. Pada
hari ketiga suhu badan akan naik lagi karena ada pembentukan ASI,
buah dada akan menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya

ASI bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada


endometrium, mastitis, dan lain-lain.
2) Nadi
Denyut nadi orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan
biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang
melebihi 100 adalah abnormal dan hal ini mungkin disebabkan oleh
infeksi atau perdarahan post partum yang tertunda.
3) Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan akan rendah
setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi
pada post partum dapat menandakan terjadinya pre-eklamsi post
partum.
4) Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan
denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal pernafasan
juga akan akan mengikutinya kecuali ada gangguan khusus pada
saluran pernafasan (Sunarsih dkk, 2011; h. 60).
g. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar 300-400 CC. Bila
persalinan dengan Sectio Caesaria kehilangan darah bisa dua kali lipat.
Apabila pada persalinan pervaginam haemokonsentrasi akan naik dan pada
Seksio sesarea haemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal
setelah 4-6 minggu. Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang
sangat besar selama masa nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi
daripada normal. Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dengan
demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah
dengan penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini
h. Perubahan Perubahan Hematologi
Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma
serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama post
partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah
lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan

faktor pembekuan darah. Pada ibu masa nifas 72 jam pertama biasanya
akan kehilangan volume plasma daripada sel darah, penurunan plasma
ditambah peningkatan sel darah pada waktu kehamilan diasosikan dengan
peningkatan hematoktir dan haemoglobin pada hari ketiga sampai tujuh
hari setelah persalinan, (Rukiyah dkk, 2011; h. 70-71).

II.1.8 Proses Adaptasi Psikologi Ibu Masa Nifas


Wanita banyak mengalami perubahan emosi pada awal masa nifas
sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Sangat penting bagi bidan
untuk memantau perkembangan penyesuaian psikologis yang normal sehingga ia
dapat menilai apakah seorang ibu memerlukan asuhan khusus dalam masa nifas
ini, suatu variasi atau penyimpangan dari penyesuian yang normal yang umum
terjadi.
Adaptasi psikologi ibu nifas dibagi 3 yaitu :
a. Fase taking in
Fase ini adalah fase ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama
sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu, fokus perhatian ibu
terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering
berulang diceritakannya. Kelelahan membuat ibu cukup istirahat untuk
mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Pada fase ini
perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihannya.
b. Fase taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase taking
hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawab
dalam merawat bayinya. Selain itu perasaannya mudah tersinggung dan
komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan
dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk
menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga
tumbuh rasa percaya diri.
c. Fase leting go
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya
yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah menyesuaikan diri
dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan
bayinya meningkat pada fase ini (Sunarsih dkk, 2011; h. 65-66).

II.1.9 Kebutuhan Dasar Ibu Nifas


a. Kebutuhan Nutrisi dan Cairan
1. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
2. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral,
dan vitamin yang cukup
3. Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum
setiap kali menyusui)
4. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama
40 hari pasca bersalin
5. Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin
b.

A kepada bayinya melalui ASI nya (Saleha, 2009; h. 71).


Ambulasi/Mobilisasi
Ambulasi dapat dilakukan dalam 2 jam setelah bersalin ibu harus sudah
bisa melakukan mobilisasi yang dapat dilakukan secara perlahan-lahan
dan bertahap diawali dengan miring kanan atau kiri terlebih dahulu,
kemudian duduk dan berangsur-angsur untuk berdiri dan jalan.
1. Manfaat mobilisasi Dini (Early mobilization) yaitu:
a) Melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi puerperium
b) Mempercepat involusi alat kandungan
c) Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
d) Meningkatkan
kelancaran
peredaran
darah,
sehingga

mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme


2. Keuntungan ambulasi dini adalah :
a) Ibu merasa lebih sehat dan kuat.
b) Fungsi usus, sirkulasi, paru-paru dan perkemihan lebih baik.
c) Memungkinkan untuk mengajarkan perawatan bayi pada ibu.
d) Mencegah thrombosis pada pembuluh tungkai
e) Sesuai dengan keadaan Indonesia (Sunarsih dkk, 2011; h. 73).
c. Eliminasi BAK/BAB
Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam. Ibu
diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak dilakukan tindakan
berikut ini :
1. Dirangsang dengan mengalirkan air keran di dekat klien
2. Mengompres air hangat diatas simpisis
3. Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK
Biasanya 2-3 hari post partum masih susah BAB maka sebaiknya
diberikan laksan atau paraffin (1-2 hari post partum), atau pada hari
ke-3 diberi laksa supositoria dan minum air hangat. Berikut adalah
cara agar dapat BAB dengan teratur:

a)
b)
c)
d)

Diet teratur
Pemberian cairan yang banyak
Ambulasi yang baik
Bila takut buang air besar secara episiotomi, maka diberikan

laksan suposotria
d. Kebersihan Diri/Perineum
1. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
2. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kemaluan dengan
sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah
disekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian
membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan kepada ibu untuk
membersihkan vulva setiap kali buang air besar atau buang air kecil.
3. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut
setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah
dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
4. Sarankan ibu untuk cuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
5. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu
untuk menghindari menyentuh daerah luka.
e. Istirahat
1. Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan
2. Sarankan ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga secara
perlahan-lahan serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur
3. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
a) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
b) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan
c) Menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi
dan dirinya sendiri (Sunarsih dkk, 2011; h. 72-76)
f. Seksual
1. Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah
merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke
dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu
tidak merasa nyeri, aman untuk memulai, melakukan hubungan suami
istri kapan saja ibu siap.
2. Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami
istri sampai masa waktu tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu

setelah persalinan. Keputusan bergantung pada pasangan yang


bersangkutan (Saleha, 2009; h. 74-75).
g. Perawatan Payudara
1. Sebaiknya perawatan payudara telah dimulai sejak wanita hamil
supaya puting lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk
menyusui bayinya
2. Perlu dilakukan perawatan payudara pada ibu nifas
3. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara :
pembalutan payudara sampai tertekan, pemberian obat estrogen
4. Untuk supresi LH seperti tablet Lynoral dan Pardolel (Sunarsih dkk,
2011; h. 29).
h. Proses laktasi atau menyusui
Proses ini timbul setelah plasenta atau ari-ari lepas. Plasenta mengandung
hormon penghambat prolakti (hormon plasenta) yang menhambat
pembentukan asi. Stelah plasenta lepas,hormon plasenta itu tidak
dihasilkan lagi,sehinga terjadi produksi ASI. ASI keluar 2-3 hari setelah
melahirkan (Saleha, 2009; h. 2-3).

i. Keluarga berencana
1. Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun
sebelum ibu hamil kembali.
2. Biasanya ibu post partum tidak menghasilkan telur (ovum) sebelum
mendapatkan haidnya selamaa meneteki, oleh karena itu Amenore
Laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah
terjadinya kehamilan.
3. Sebelum menggunakan metode KB, hal-hal berikut sebaiknya
dijelaskan dahulu pada ibu, meliputi :
a) Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan serta metodenya
b) Kelebihan dan keuntungan
c) Efek samping
d) Kekurangannya
e) Bagaimana memakai metode itu
f) Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pasca
persalinan yang menyusui.
g) Jika pasangan memilih metode KB tertentu, ada baiknya untuk
bertemu dengannya lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah
ada yang ingin ditanyakan oleh ibu atau pasangan dan untuk

melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik (Rukiyah dkk,


2011; h. 80)
II.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah metode sistematis dimana secara langsung
perawat bersama klien secara bersama menentukan perawatan sehingga
membutuhkan asuhan keperawatan.
II.2.1 Pengkajian
a) Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan sejak klien masuk rumah sakit. Selama klien
dirawat secara terus-menerus serta pengkajian dapat dilakukan ulang untuk
menambah dan melengkapi data yang telah ada. Pengumpulan data
meliputi
b) Identitas
Identitas klien yang perlu dikaji adalah identitas klien yang meliputi nama,
umur, agama, suku bangsa, pendidikan terakhir, pekerjaan, status
perkawinan, golongan darah, alamat, diagnosa medis, tanggal masuk
rumah sakit, tinggal pengkajian dan nomor medik. Selain itu perlu juga
dikaji identitas penanggung jawab yang meliputi nama, umur, agama,
pendidikan terakhir, pekerjaan, agama, hubungan dengan klien dan alamat
c) Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan merupakan sumber data subjektif tentang status
kesehatan pasien yang memberikan gambaran tentang masalah kesehatan
aktual maupun potensial dan merupakan penentuan pengkajian fisik yang
berkaitan dengan imformasi tentang keadaan fisiologis, psikologis, budaya
dan psikososial. Ini juga berkaitan dengan status kesehatan pasien dan
faktor-faktor seperti gaya hidup hubungan pola dalam keluarga dan
pengaruh budaya.
d) Keluhan Utama
Umumnya beberapa hari periode post partum pervagina ibu merasakan
nyeri setelah melahirkan, nyeri episiotomi atau laserasi dan pembengkakan
payudara
e) Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan menjabarkan keluhan utama dengan pendekatan
P,Q,R,S,T Paliatif yaitu faktor yang memperberat dan memperingan

masalah, Quality yaitu kualitas nyeri, Regional yaitu daerah yang


dirasakan, Scale yaitu skala nyeri, dan Time yaitu waktu yang dirasakan.
f) Riwayat Kesehatan Dahulu
Fokus pengkajian kesehatan dahulu. Klien adalah lentang faktor
predisposisi ada atau tidaknya masalah kesehatan yang pernah dialami
misalnya demam riwayat alergi seperti obat dan makanan, serta ada
tidaknya penyakit menular pada klien.

g) Riwayat Kesehatan Keluarga


Hal yang perlu dikaji tentang kesehatan keluarga mengenal ada tidaknya
riwayat kelahiran, riwayat alergi, dan penyakit keturunan seperti diabetes
melitus dan hipertensi.
h) Riwayat Genekologi dan Obstetri
Riwayat Ginekologi
1) Riwayat menstruasi
Meliputi menarce, lama haid, siklus haid, sifat darah, ada tidaknya
dismenarche, HpHt dan taksiran partus.
2) Riwayat Perkawinan
3) Meliputi usia klien dan suami saat menikah, perkawinan keberapa bagi
klien dengan suami serta lamanya perkawinan.
4) Riwayat keluarga berencana
5) Meliputi jenis alat kontrasepsi yang pernah digunakan, lama
penggunaan, keluhan selama penggunaan, rencana mempunyai anak
dan jenis kontrasepsi yang akan digunakan setelah bersalin.
Riwayat Obstetri
1) Riwayat kehamilan sekarang
Meliputi keluhan selama hamil, gerakan anak pertama kali dirasakan,
imunisasi yang diperoleh, penambahan berat badan selama hamil,
pemeriksaan yang dilakukan teratur atau tidak serta tempat
pemeriksaan dan hasil pemeriksaan.
2) Riwayat Persalinan
Meliputi partus keberapa, tanggal partus, jam partus, jenis persalinan,
lama persalinan, jumlah pendarahan selama kehamilan, jenis kelamin
bayi, berat badan bayi, panjang badan bayi, dan apgar skor, menit
pertama dan 5 menit pertama. Normalnya apgar score 7-10

II.2.2 Pemeriksaan Fisik Pada Ibu


Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada ibu post partum yaitu pemeriksaan
fisik persistem.
a) Penampilan Umum
Meliputi status kesadaran, keadaan fisik klien.
b) Pemeriksaan fisik persistem terdiri dari :
1) Sistem Pernapasan
Hal yang perlu dikaji pada sistem pernapsan adalah: bentuk hidung
simetris atau tidak, terdapat pernapasan cuping hidung, riwayat alergi,
sekret, bentuk ada, ada tidaknya sekret, jenis pernapasan.
2) Sistem Cardiovaskuler
Yang harus dikaji pada sistem kardiovaskuler adalah: tekanan darah,
nadi konjungtiva, JVP, Capilary Reffil time, bunyi jantung, irama
jantung.
3) Sistem Gastrointestinal
Penurunan tonus otot perut dan mortilitas usus, nafsu makan
meningkat, ibu merasa cepat lapar, biasanya didapatkan hemoroid pada
usus, bising usus normal 8-12x /menit.
4) Sistem Perkemihan
Uretra dan ureatus urinarius oedema
5) Sistem Neurologis
Sakit kepala pada ibu post partum, mungkin disebabkan oleh
perubahan kondisi akibat hipetensi atau stress.
6) Sistem Endokrin
Adanya rangsangan hisap bayi, fundus akan mengeras jika dilakukan
massase ringan, hal ini berkaitan dengan pengeluaran oksitosin
pembengkakan payudara.
7) Sistem Reproduksi
Mencakup bentuk payudara, pembengkakan payudara, pigmentasi
aerola mammae, terjadi pengeluaran kolostrum saat dipalpasi, tinggi
fundus uteri, kontraksi uterus, jenis lokhea pada hari 1-2, lokhea lubra
berwarna merah, keadaan vagina dan vulva.
8) Sistem Muskuloskeletal
Tonus otot perut menurun, dinding abdomen lunak dan kendur.
9) Sistem Integumen
Hiperpigmentasi aerola mammae, linea nigra, kulit lembab.

II.2.3 Data Biologis


Mencakup masalah kesehatan dan keperawatan yang lalu, masalah
kesehatan yang dialami dan masalah pola kebiasaan sehari-hari dan masalah yang
beresiko untuk klien.
a) Pola Nutrisi
Mencakup kebiasaan makan, frekuensi, jumlah dan jenis makanan yang
disukai, pantangan, porsi makan, kebiasaan umum, frekuensi, jumlah,
jenis.
b) Pola Eliminasi
Mencakup kebiasaan BAB, frekuensi, warna, konsistensi, keluhan,
kebiasan BAK, frekuensi, jumlah warna, konsistensi, keluhan.
c) Pola Istirahat dan Tidur
Mencakup tidur malam, waktu dan lama, tidur siang, waktu dan lama.
d) Pola Aktivitas dan latihan
Mencakup kegiatan yang dilakukan dirumah, dan saat dikaji, olahraga,
aktivitas rekreasi, waktu luang.
e) Pola Personal Hygiene
Mencakup frekuensi mandi, gosok gigi, dan mencuci rambut.
II.2.4 Data Psikososial
Mencakup Prilaku, pola emosi, konsep diri, gambaran diri, pola
pemecahan masalah, tingkat pengetahuan dan daya ingat, data sosial yang
meliputi : Status ekonomi, kegiatan rekreasi, bahasa, daya komunikasi, pengaruh
budaya, sumber daya masyarakat, faktor resiko lingkungan, hubungan sosial,
hubungan dengan keluarga dan pekerjaan.
II.2.5 Data Spiritual
Mencakup nilai-nilai dan norma, kegiatan keagamaan, dan moral.
II.2.6 Pemeriksaan Penunjang
Meliputi pemeriksaan laboratorium seperti hemoglobin, golongan darah,
leukosit, hematokrit, dan trombosit.
II.2.7 Pengobatan
Pengobatan yang diberikan pada klien post ektrasi forsep adalah obat
analgetik dan antibiotik.
II.2.8 Pemeriksaan Fisik Pada Bayi
Menggunakan pendekatan head to toe :
a) Penampilan Umum

Meliputi pergerakan, berat badan normalnya 2500 4000 gram,


panjang badan normalnya 44 55 cm, tanda-tanda vital, suhu normal
36 37,5 C, respirasi normal 40 60 x / menit, heat rate 110 160 x/
menit.
b) Kepala
Meliputi bentuk kesimetrisan ukuran lingkar kepala normalnya 23 37
cm, penyebaran rambut merata atau tidak, fontanel anterior dan
posterior yang normalnya teraba hangat.
c) Wajah
Meliputi kesimetrisan, sekitar alis dan dahi terdapat rambut halus,
adanya tanda kemerahan di pipi.
d) Mata
Meliputi kesimetrisan pergerakan bola mata, konjungtiva dan seklera,
kaji reflek mata misalnya reflek mengedip dapat timbul dari beberapa
rangsangan seperti cahaya yang terang, sentuhan nyeri, dan usapan
alis, reflek pupil timbul sebagai akibat respon terhadap cahaya
e) Hidung
Meliputi bentuk, kesimetrisan, adanya tidaknya sekret
f) Telinga
Meliputi kesimetrisan, kebersihan, kesejajaran puncak telinga, ada
tidaknya lubang telinga, ada tidaknya cairan yang keluar, ada reflek
terkejut reflek ini timbul dengan suara keras secara mendadak atau
dengan menepuk sternum.
g) Mulut
Adanya reflek oral atau reflek menyelidiki (mencari) mermupakan
respon terhadap rabaan feri oral, jika pipi bayi kontak dengan mammae
ibu atau bagian lain maka bayi akan mencari puting susu hal ini
memungkinkan bayi menemukan pappila mammae tanpa dibimbing ke
tujuannya, jika mulut bayi disentuh dengan ringan bibir bawah
menurun pada sisi yang sama dan lidah bergerak ke depan ke arah titik
rangsangan, reflek rooting, bayi memutar kearah pipi yang digores,
reflek menghisap, bayi menghisap dengan kuat dalam berespon
terhadap stimulasi, reflek ini menetap selama masa bayi dan mungkin
terjadi selama tidur.
h) Leher
Mengkaji kesimetrisan, kaji reflek tonik neck, bayi melakukan
perubahan posisi kepala diputar ke satu sisi, lengan dan tungkai,

ekstensi ke arah sisi putaran kepala dan fleksi pada sisi yang
berlawanan apakah ada kelenjar getah bening atau tidak.
i) Abdomen
Meliputi bentuk keadaan kulit, keadaan tali pusat.
j) Genetalia
Pada laki-laki normalnya testis turun dan pada perempuan biasanya
labia mayora dan minora serta clitorisnya membengkak, kaji apakah
pengeluaran lendir atau tidak.
k) Ekstremitas
Pada ekstremitas kaji jumlah jari lengkap atau tidak, kaji reflek moro
reflek ini terdiri dari abduksi dan ekstensi lengan, tangan membuka jari
seringkali melengkung reflek ini ditemukan pada bayi prematur, kaji
reflek menggenggam telapak tangan dirangsang jari-jari akan fleksi
dan menggenggam benda, ekstremitas bawah, kaji kesimetrisan jari
lengkap atau tidak, reflek jari kaki mengembang dan ibu jari
dorsoflexi.
II.2.9 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan involusi uterus, nyeri setelah melahirkan.
(Doenges, 2005)
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan laserasi dan proses persalinan.
(Doenges, 2005)
3. Resiko menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan
cara perawatan payudara bagi ibu menyusui. (Bobak, 2005)
4. Gangguan pola eliminasi bowel berhubungan dengan adanya konstipasi.
(Bobak, 2005)
5. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan
dengan kehilangan darah dan intake ke oral. (Doenges, 2005)
6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan respon hormonal psikologis,
proses persalinan dan proses melelahkan. (Doenges, 2005)
II.2.10 Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan involusi uterus, nyeri setelah melahirkan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri berkuran
Kriteria Hasil :
a. Klien mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri 3-4
b. Klien terlihat rileks, ekspresi wajah tidak tegang, klien bisa tidur
nyaman
c. Tanda-tanda vital dalam batas normal : suhu 36-370 C, N 60-100
x/menit, RR 16-24 x/menit, TD 120/80 mmHg

Intervensi :
1) Kaji karakteristik nyeri klien dengan PQRST ( P : faktor penambah
dan pengurang nyeri, Q : kualitas atau jenis nyeri, R : regio atau daerah
yang mengalami nyeri, S : skala nyeri, T : waktu dan frekuensi )
Rasional : untuk menentukan jenis skala dan tempat terasa nyeri
2) Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi klien terhadap nyeri
Rasional : sebagai salah satu dasar untuk memberikan tindakan atau
asuhan keperawatan sesuai dengan respon klien
3) Berikan posisi yang nyaman, tidak bising, ruangan terang dan tenang
Rasional : membantu klien rilaks dan mengurangi nyeri
4) Biarkan klien melakukan aktivitas yang disukai dan alihkan perhatian
klien pada hal lain
Rasional : beraktivitas sesuai kesenangan dapat mengalihkan
perhatian klien dari rasa nyeri
5) Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : untuk menekan atau mengurangi nyeri
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
cara perawatan Vulva
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi infeksi,
pengetahuan bertambah
Kriteria hasil :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Klien menyertakan perawatan bagi dirinya


Klien bisa membersihkan vagina dan perineumnya secara mandiri
Perawatan pervagina berkurang
Vulva bersih dan tidak inveksi
Tidak ada perawatan
Vital sign dalam batas normal

Intervensi :
1) Pantau vital sign
Rasional : peningkatan suhu dapat mengidentifikasi adnya infeksi
2) Kaji daerah perineum dan vulva
Rasioal : menentukan adakah tanda peradangan di daerah vulva dan
perineum
3) pengetahuan pasien mengenai cara perawatan ibu post partum
Rasional : pasien mengetahui cara perawatan vulva bagi dirinya
4) Ajarkan perawatan vulva bagi pasien

Rasional : pasien mengetahui cara perawatan vulva bagi dirinya


5) Anjurkan pasien mencuci tangan sebelum memegang daerah vulvanya
Rasional : meminimalkan terjadinya infeksi
6) Lakukan perawatan vulva
Rasional : mencegah terjadinya infeksi dan memberikan rasa nyaman
bagi pasien
3. Resiko menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan
cara perawatan payudara bagi ibu menyusui
Tujuan : pasien mengetahui cara perawatan payudara bagi ibu
menyusui
Kriteria hasil :
a.
b.
c.
d.
e.

Klien mengetahui cara perawatan payudara bagi ibu menyusui


Asi keluar
Payudara bersih
Payudara tidak bengkak dan tidak nyeri
Bayi mau menetek

Intervensi :
1) Kaji pengetahuan paien mengenai laktasi dan perawatan payudara
Rasional : mengetahui tingkat pengetahuan pasien dan untuk
menentukan intervensi selanjutnya.
2) Ajarkan cara merawat payudara dan lakukan cara brest care
Rasional : meningkatkan pengetahuan pasien dan mencegah terjadinya
bengkak pada payudara
3) Jelaskan mengenai manfaat menyusui dan mengenai gizi waktu
menyusui
Rasional : memberikan pengetahuan bagi ibu mengenai manfaat ASI
bagi bayi
4) Jelaskan cara menyusui yang benar
Rasional : mencegah terjadinya aspirasi pada bayi

4. Gangguan pola eliminasi bowel berhubungan dengan adanya konstipasi


Tujuan : kebutuhan eliminasi pasien terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Pasien mengatakan sudah BAB
b. Pasien mengatakan tidak konstipasi
c. Pasien mengatakan perasaan nyamannya

Intervensi :
1) Auskultasi bising usus, apakah peristaltik menurun
Rasional : penurunan peristaltik usus menyebapkan konstpasi
2) Observasi adanya nyeri abdomen
Rasional : nyeri abdomen menimbulkan rasa takut untuk BAB
3) Anjurkan pasien makan-makanan tinggi serat
Rasional : makanan tinggi serat melancarkan BAB
4) Anjurkan pasien banyak minum terutama air putih hangat
Rasional : mengkonsumsi air hangat melancarkan BAB
5) Kolaborasi pemberian laksatif ( pelunak feses ) jika diperlukan
Rasional : penggunana laksatif mungkan perlu untuk merangsang
peristaltik usus dengan perlahan atau evakuasi feses
5. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan
dengan kehilangan darah dan intake ke oral
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan cairan
terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Menyatakan pemahaman faktor penyebap dan perilaku yang perlu
untuk memenuhi kebutuhan cairan, seperti banyak minum air putih dan
pemberian cairan lewat IV.
b. Menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, dibuktikan oleh
haluaran urine adekuat, tanda-tanda vital stabil, membran mukosa
lembab, turgor kulit baik
Intervensi :
1) Mengkaji keadaan umum pasien dan tanda-tanda vital
Rasional : menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui
penyimpangan dari keadaan normal
2) Mengobservasi kemungkinan adanya tanda-tanda syok
Rasional : agar segera dilakukan rehidrasi maksimal jika terdapat
tanda- tanda syok
3) Memberikan cairan intravaskuler sesuai program
Rasional : pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang
mengalami difisit volume cairan dengan keadaan umum yang buruk
karena cairan IV langsung masuk ke pembuluh darah.
6. Gangguan polatidur berhubungan dengan respon hormonal psikologis,
proses persalinan dan proses melelahkan Kemungkinan dibuktikan oleh

mengungkapkan laporan kesulitan jatuh tidur / tidak merasa segera


setelahistirahat, peka rangsang, lingkaran gelap di bawah mata sering
menguap
Tujuan : istirahat tidur terpenuhi
Kriteria hasil :
Mengidentifikaasikan penilaian untuk mengakomodasi perubahan yang
diperlukan dengan kebutuhan terhadap anggota keluarga baru. Melaporkan
peningkatan rasa sejahtera istirahat
Intervensi :
1) Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat. Catat lama
persalinan dan jenis kelahiran
Rasional : persalinan/ kelahiran yang lama dan sulit khususnya bila
terjadi malam meningkatkan tingkat kelelahan.
2) Kaji faktor-faktor bila ada yang mempengaruhi istirahat
Rasional : membantu meningkatkan istirahar, tidur dan relaksasi,
menurunkan rangsang
3) Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur / istirahat setelah
kembali ke rumah
Rasional : rencana kreatif yang memperoleh untuk tidur dengan bayi
lebih awal serta tidur lebih siang membantu untuk memenuhi
kebutuhan tubuh serta menyadari kelelahan berlebih, kelelahan dapat
mempengaruhi penilaian psikologis, suplai ASI dan penurunan reflek
secara psikologis
7. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan
dengan kurang mengenai sumber informasi
Tujuan : memahami parawatan diri dan bayi
Kriteria hasil :
Mengungkapkan pemahaman perubahan fiiologis kebutuhan Individu
Intervensi :
1) Pastikan persepsi klien tentang persalian dan kelahiran, lama
persalinan dan tingkat kelelahan klien

Rasional : terdapat hubungan lama persalinan dan kemampuan untuk


melakukan tanggung jawab tugas dan aktivitas perawatan dari atau
perawatan bayi
2) Kaji kesiapan klien dan motifasi untuk belajar, bantu klien dan
pasangan dalam mengidentifikasi hubungan
Rasional : periode postnatal dapat merupakan pengalaman positif bila
penyuluhan yang tepat diberikan untuk membantu mengembangkan
pertumbuhan ibu maturasi, dan kompetensi
3) Berikan informasi tentang peran progaram latihan postpartum
Progresif
Rasional : latiahn membantu tonus otot, meningkatkan sirkulasai,
menghasilkan tubuh yang seimbang dan meningkatkan perasaan
sejahtera secara umum
4) Identifikasi sumber-sumber yang tersedia misal pelayanan perawat,
berkunjung pelayanan kesehatan masyarakat
Rasional : meningkatkan kemandirian dan memberikan dukunagan
untuk adaptasi pada perubahan multiple.
II.2.11 Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah pelaksanaan strategi dan kegiatan sesuai dengan
rencana keperawatan. Dalam melaksanakan implementasi seorang perawat harus
mempunyai kemampuan kognitif. Proses implementasi mencakup pengkajian
ulang kondisi klien. Memvalidasi rencana rencana keperawatan yang telah
disusun, menentukan kebutuhan yang tepat untuk memberikan bantuan,
melakukan strategi keperawatan dan mengkomunikasikan kegiatan baik dalam
bentuk lisan maupun tulisan.
Di dalam melakukan asuhan keperawatan, khususnya pada klien post
partum dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mampu bekerja
sama dengan klien, keluarga serta anggota tim kesehatan yang terkait, sehimgga
asuhan keperawatan yang diberikan dapat optimal dan komperhensif
II.2.12 Evaluasi kegiatan
Evaluasi adalah tahapan dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
menilai hasil akhir dari keseluruhan tindakan keperawatan yang bertujuan untuk
menilai hasil akhir dari keseluruhan tindakan keperawatan yang telah dilakukan.
Evaluasi pada ibu post partum meliputi : Dimulainya ikatan keluarga,
berkurangnya nyeri, terpenuhinya kebutuhan psikologi, mengekspresikan harapan

diri yang positif, komplikasi tercegah/teratasi, bebas dari infeksi, pola eliminasi
optimal, mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologi, dipahami
keutuhan pasca partum. (doenges, 2005)

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA NY. S DENGAN POST PARTUM
Asuhan Keperawatan Pada

: Ny. S

Dengan Diagnosa Medis

: Post Partum

Di Ruangan

: Rawat Bersalin Puskesmas Kecamatan Pasar


Minggu

Tanggal

: 24 Februari 2016

A. Pengkajian
1. Data Demografi
Nama klien

: Ny. S

Umur klien

: 35 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Nama suami

: Tn. M

Umur suami

: 22 tahun

Alamat

: Jl. Raya Kebagusan No 4

Status perkawinan

: Kawin

Agama

: Islam

Suku/bangsa

: Jawa/Indonesia

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: IRT

Diagnosa medik

: Post partum

Tanggal masuk RS

: 23 Februari 2016

No. RM

: 151 0721 026

Tgl Pengkajian

: 24 Februari 2016

2. Keluhan Utama Saat Ini


Ibu menyatakan nyeri pada daerah kemaluan terutama jika untuk duduk dan
berjalan.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit berat hingga harus ke
rumah sakit.
4. Riwayat Persalinan dan Kelahiran Saat Ini
a. Lama persalinan:
1) Kala I 4 jam
2) Kala II 20 menit
3) Kala III 20 menit
Total waktu persalinan 4 jam 40 menit.
b. Posisi fetus memanjang, punggung kiri, dengan presentasi kepala.
c. Tipe kelahiran spontan.
d. Penggunaan analgesik dan anestesi, selama proses persalinan ibu tidak
diberikan analgesik dan anestesi.
e. Masalah selama persalinan tidak ada bayi lahir spontan, terjadi ruptur
perineum derajat I dengan jahitan dalam 1 luar 1. Jumlah perdarahan kala
I 0 cc, kala II 0 cc, kala III 250 cc, kala IV 100 cc. Total perdarahan 350
cc.
5. Data Bayi Saat Ini
a. Keadaan umum bayi baru lahir (Jenis kelamin: Laki-laki)
1) Berat badan
: 3000 Gram
2) Panjang badan
: 45 Cm
3) Lingkar kepala
: 32 Cm
4) Lingkar dada
: 33 Cm.
5) Lingkar perut
: 31,5 Cm.
6) Lingkar lengan atas
: 10,5 Cm.

b. Apgar Score
No

Tgl/Jam

Karakteristik
Penilaian
Denyut jantung
Pernapasan
Refleks
Tonus otot
Warna kulit

Menit 1

1. 3-11-2004
2
2. 06.25 WIB
2
3.
1
4.
1
5.
1
Total
7
Kesimpulan: Bayi normal tidak mengalami asfiksia.

Menit 5
2
2
1
2
2
9

6. Keadaan Psikologis Ibu


Ibu merasa baik-baik saja, senang bayinya lahir dengan selamat tanpa
masalah mengingat usia kehamilannya lebih dari 9 bulan (45 minggu).
7. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
hipertensi, gula, atau penyakit menurun lainnya. Juga tidak ada yang
menderita penyakit menular.
8. Riwayat Ginekologi
Ibu mengalami menarche pada usia 14 tahun, lama menstruasi 5 hari dengan
siklus 30 hari. Darah yang keluar biasanya cukup banyak, encer, berwarna
merah, dengan bau amis. Hari pertama menstruasi terakhir (HPHT) 0912/2012dengan hari perkiraan lahir (HPL) 05/09/2013.
Ibu merupakan akseptor IUD dan sudah dipakai selama 2 tahun sebelum
gagal dan diekstraksii pada bulan Maret 2012.
9. Riwayat Obstetri
Ibu G2P1A0 , anak pertama laki-laki usia 3 tahun dengan BBL 3200 gram,
lahir spontan, di RSUD Kabupaten Mamuju.
10. Review of System dan Pemeriksaan Fisik
a. Penampilan umum : Ibu tampak rapi, terlihat lelah, berjalan dengan
bantuan dan tertatih-tatih.
b. Berat badan
c. Tanda-tanda vital

: 60 Kg
:

Tinggi badan

TD: 110/80 mmHg


N: 84 kali/menit

: 151 cm

R: 24 kali/menit
S:36,5 oC

No Komponen
Review of System
Pemeriksaan Fisik
1) Kulit, rambut, Ibu mengatakan setelah Kulit bersih, turgor kulit
kuku

melahirkan langsung

baik, lembab, rambut bersih

dimandikan oleh bidan, tidak rontok, kuku rapi dan


kuku sudah dipotong

pendek.

sejak dari rumah.


2) Kepala

Tidak ada keluhan.


danIbu mengatakan tadiEkspresi

leher

pagi

sudah

wajah

merintih

mencuciketika bergerak atau duduk.

muka sekalian mandi,Tampak lelah.


tidak ada keluhan.

Tidak ada oedema,


konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik,
penglihatan normal,
kelenjar tiroid tidak
membesar, kelenjar limfe
tidak teraba, vena jugularis
tidak meningkat, tidak

3) Telinga
4) Mulut,

Tidak ada keluhan.

terdapat bekas operasi.


Bersih, discharge tidak ada,

Tidak ada keluhan.

pendengaran normal.
Bersih, tidak terdapat karies

tenggorokan,

gigi, tidak ada stomatitis,

hidung

sekret hidung bersih, tidak


memakai alat bantu, fungsi

5) Thoraks

danTidak ada keluhan.

paru-paru

baik.
Simetris kanan-kiri, tidak
ada ketinggalan gerak, paru
dalam batas normal, tidak
terdengar

6) Payudara

suara

nafas

tambahan.
Ibu mengatakan air susuLunak,
puting

susu

sudah keluar dan akanmenonjol keluar, ASI sudah


menyusui
7) Jantung

bayinya keluar.

setelah istirahat.
Tidak ada keluhan.

Tidak

membesar,

ictus

kordis pada ICS ke 5, tidak

ada bising jantung.


Ibu mengatakan perutTerdapat striae gravidarum,

8) Abdomen

terasa mual-mual dantinggi fundus uteri 2 jari


seperti dipelintir.

dibawah
lunak,

pusat,

teraba

peristaltik

positif

agak lemah.
Ibu mengatakan nyeriLochia jumlahnya sedang,

9) Genetalia

pada daerah kemaluanwarna merah gelap, terdapat


terutama

jika

bergerak

dan

untukbekuan kecil.
duduk,

nyeri tajam, perih, lokasi


pada daerah perineum,
nyeri sedang skala 6.
Ibu menyatakan sudah
10) Anus

buang air kecil 1 kali.


danIbu mengatakan belum Terdapat ruptur perineum

rectum

BAB sejak sebelum

dengan jahitan luar 1 jenis :

melahirkan, serta setelah Zide.


melahirkan sampai
sekarang belum.
11) Musculoskeleta Tidak ada keluhan.
l

Luka tampak basah.


Refleks positif,, tidak ada
varises,
oedema,

tidak

terjadi

tanda-tanda

REEDA negatif, kekuatan


otot 5, ROM normal.
11. Riwayat Kesehatan
No. Komponen
Hasil
1. Pola persepsi Ibu mengatakan bayi ini merupakan anak kedua,
kesehatan-

anak pertamanya dulu juga dilahirkan secara

pemeliharaan spontan, jadi ibu merasa yakin atas kemampuannya


kesehatan

untuk merawat bayinya ini.


Selama ini ibu rajin memeriksakan diri ke dokter
kandungan, jika merasa tidak enak badan juga

2.

Pola nutrisi-

langsung ke Puskesmas atau dokter praktek.


Ibu makan 3 kali sehari, minum 6-8 gelas perhari,

metabolisme

selama hamil muda merasa mual muntah tapi


semakin bertambah usia kehamilan gejala semakin
hilang. Sekarang ibu sudah mulai makan makanan

3.

kecil yang dibawa oleh suaminya.


Pola aktifitas-Selama hamil ibu sering jalan-jalan bersama suami
latihan

dan aktivitas sehari-hari dapat dilakukan mandiri,


sekarang ibu merasa lelah dan ingin tidur, ibu juga
tampak berhati-hati ketika bergerak di tempat tidur.
Ibu tidak mampu masuk dan keluar dari kamar
mandi sehingga aktivitas kebersihan diri dibantu

4.

oleh keluarga.
Pola eliminasi Biasanya ibu bab 1-2 kali sehari dengan konsistensi
lunak dan bak 6-8 kali sehari selama hamil. Setelah
melahirkan bab belum sedangkan bak 1 kali tadi

5.

pagi.
Pola isitirahat-Selama hamil istirahat/tidur tidak ada gangguan,
tidur

tidur siang selama 2 jam dan malam tidur jam 21.00


WIB dan bangun pagi jam 04.30 WIB. Semalam ibu
tidak dapat tidur karena dalam proses persalinan,
baru setelah bayi lahir dan ibu dimandikan hingga

6.

dapat tidur sebentar.


Pola persepsi-Ibu mengatakan merasa
kognitif

sakit

pada

daerah

kemaluan. Ibu juga mengatakan bahwa kehamilan


yang

sekarang

ini

memang

dalam

program

kehamilan sehingga ibu dan suaminya merasa


7.

Pola persepsi

senang dengan kehadiran anak yang kedua ini.


Ibu sangat kooperatif terhadap tindakan keperawatan

terhadap diri

yang diberikan dan meyakini bahwa semua tindakan


itu adalah untuk mempercepat menolong diri dan

8.

Pola

bayinya.
Orang terdekat adalah suaminya dan ibunya yang

hubungan-

selalu mendampingi. Ibu mengatakan selama ini

9.

peran

hubungan antar anggota keluarga dan masyarakat

Pola

sekitar baik-baik saja.


Selama hamil sudah ada kesepakatan dengan suami

seksualitas-

untuk mengurangi frekwensi hubungan seksual.

reproduksi

Tidak ada gangguan dalam melakukan akttifitas

10. Pola

tersebut, juga tidak terjadi kontak bleeding.


stress-Ibu berpenampilan rapi, berbicara pelan-pelan, dan

koping

selalu minta pertimbangan suami atau ibunya jika


ada masalah atau harus mengambil keputusan.

11. Pola

Ibu berasal dari suku jawa dan beragama Islam

kepercayaan- sehingga kebudayaan yang umum di masyarakat


nilai-nilai

masih

dilakukan

seperti

tujuh

bulanan

dan

selamatan. Ibu merasa sangat bersyukur bayinya


dapat lahir selamat mengingat usia kehamilan yang
mundur.
12. Profil Keluarga
a. Pendukung keluarga
Ibu tinggal serumah dengan suami. Jika ada apa-apa biasa minta tolong
kepada orang tuanya. Hubungan dengan masyarakat sekitar juga baik.
Sedangkan anaknya yang pertama ada di kebumen.
b. Jumlah anak
Dua dengan anak yang sekarang. Anak pertama laki-laki, anak kedua
perempuan.
c. Tipe rumah dan komunitas
Rumah milik sendiri dengan bangunan permanen, lantai keramik dengan
ventilasi dan cahaya yang cukup. Sumber air PAM dan memiliki WC
sendiri. Jarak dengan tetangga dekat dan tipe komunitas masyarakat
perkotaan dengan budaya gotong royong.
d. Pekerjaan
Ibu tidak bekerja, di rumah saja mengurus anaknya, sedangkan suaminya
adalah seorang wirawswata (pedagang).
e. Tingkat pendidikan
Ibu berpendidikan terakhir SD sedangkan suaminya SMP.
f. Tingkat sosial ekonomi
Menengah dengan penghasilan perbulan Rp 750.000.00.

2.

Riwayat dan Rencana Keluarga Berencana


Ibu pernah menggunakan KB pil selama 2 tahun, Ibu mengatakan berencana
akan memakai IUD untuk program KB selanjutnya.

3.

Pemeriksaan Laboratorium atau Hasil Pemeriksaan Diagnostik Lainnya


Tanggal dan Jenis

Hasil pemeriksaan

Pemeriksaan
Tanggal 03-11-2013

Interpretasi

dan Nilai Normal

Lab. Darah :

HB

11,6

(11,5-16,5)

Normal

AL

13,3

(4-11)

Naik

AE

4.30

(3,8-5,8)

Normal

AT

156

(150-450)

Normal

HCT

35

(37-47)

Turun

Golongan Darah
4.

Terapi Medis yang Diberikan

Tanggal

Jenis Terapi

Rute

Dosis
Terapi
23/02/2016 Amoxycillin Oral
3 x 500 Mg

Indikasi Terapi
Antibiotik (mencegah infeksi)

Asam

Oral

3 x 500 Mg

Analgetik (mengurangi nyeri)

Mefenamat

Oral

1 x 1 tab.

Derivat besi (mengatasi anemia)

Emineton
24/02/2016 Amoxycillin Oral

3 x 500 Mg

Antibiotik (mencegah infeksi)

Asam

Oral

3 x 500 Mg

Analgetik (mengurangi nyeri)

Mefenamat

Oral

1 x 1 tab.

Derivat besi (mengatasi anemia)

Emineton
24/02/2016 Amoxycillin Oral

3 x 500 Mg

Antibiotik (mencegah infeksi)

Asam

Oral

3 x 500 Mg

Analgetik (mengurangi nyeri)

Mefenamat

Oral

1 x 1 tab.

Derivat besi (mengatasi anemia)

Emineton

5. Analisa Data
Data

Penyebab
Agen injuri fisik

DS:

Masalah
Nyeri akut

a. Ibu mengatakan nyeri pada daerah Kontraksi uterus


kemaluan terutama jika untuk
bergerak dan duduk, nyeri tajam,
perih,

lokasi

pada

daerah

perineum, nyeri sedang skala 6.


b. Ibu mengatakan perut terasa mualmual dan seperti dipelintir.
DO:
a. Tampak

berhati-hati

ketika

bergerak di tempat tidur.


b. Ekspresi wajah merintih ketika
bergerak atau duduk.
c. Tanda-tanda vital : TD: 110/80

mmHg , N: 84 kali/menit, R: 24
kali/menit, S: 36,5 oC.
DS:

Faktor risiko:

a. Ibu mengatakan terdapat luka di Trauma jaringan


kemaluannya dan rasanya sakit.
DO:

Risiko
infeksi

Tidak adekuatnya
pertahanan

a. Terdapat ruptur perineum derajat I sekunder tubuh


dengan jahitan luar 1 Zide.
b. Luka tampak basah.
c. Lb. Darah (23-02-2016):
1) HB: 11,6
2) AL: 13,3
DS:
a. Ibu mengatakan merasa lelah dan
ingin tidur.

Kelelahan

Defisit
perawatan
diri: Mandi/
kebersihan

DO:
a. Ibu tidak mampu masuk dan

diri,

keluar dari kamar mandi.


b. Tampak lemah.
c. Aktivitas kebersihan diri dibantu

Toileting

oleh keluarga.
6.

Diagnosa Keperawatan
Sesuai dengan prioritas diagnosa yang muncul adalah:
a. Nyeri akut berhubungan dengan Agen injuri fisik, Kontraksi uterus.
b. Defisit perawatan diri: Mandi/kebersihan diri, Toileting berhubungan
dengan Kelelahan.
c. Risiko infeksi berhubungan dengan Faktor risiko: Trauma jaringan, Tidak
adekuatnya pertahanan sekunder tubuh.

7.

Rencana Pendidikan Kesehatan


Area
Kerja

Rencana Tindakan
Memberikan informasi bahwa selama tiga minggu
post partum belum diperbolehkan bekerja keras,
seperti mengangkat ember, barang-barang yang berat,
dan memperbolehkan bekerja ringan seperti menyapu,

Istirahat

menyetrika, dan memasak.


Mengajarkan kepada ibu agar istirahat dengan cukup
saat bayi tertidur, hal ini sangat baik untuk
memulihkan kondisi ibu walaupun ibu tidak punya

Latihan

masalah dengan keadaan tidur.


Mengajarkan kepada ibu bahwa latihan pada awal
minggu pertama post partum seperti menaiki tangga,

Hygiene

senam post partum.


Mengajarkan pada ibu untuk selalu membersihkan
daerah vagina dan perineum setelah bak atau bab

Koitus

dengan air sabun.


Mengajarkan pada ibu bahwa koitus bisa dimulai
apabila lokhia berubah menjadi putih dan luka
perineum sudah sembuh sempurna serta ibu merasa

Kontrasepsi

nyaman untuk melakukan hubungan.


Menjelaskan kepada ibu bisa

menggunakan

kontrasepsi setelah tiga minggu post partum dan


apabila ibu menyusui secara penuh dan tidak

memberikan makanan tambahan pada bayi bisa


dipergunakan untuk kontrasepsi selama enam bulan
Follow up

post partum.
Ibu bisa mengontrolkan diri seminggu setelah
persalinan dan selanjutnya kontrol sampai 42 hari post

Lain-lain
8.

partum
-

Rencana Keperawatan
Diagnosa

Tujuan
keperawatan
Nyeri akut
Setelah diberikan
berhubungan asuhan

Intervensi
Kaji ulang
skala nyeri

dengan

keperawatan

trauma

diharapkan nyeri

mekanis ,

ibu berkurang

agar

edema /

dengan criteria

menggunakan

pembesaran

evaluasi : skala

teknik

Anjurkan ibu

jaringan atau nyeri 0-1 , ibu

relaksasi dan

distensi efek

mengatakan

distraksi rasa

efk

nyerinya berkurang nyeri


Motivasi :
sampai hilang ,

hormonal

tidak merasa nyeri

untuk

saat mobilisasi ,

mobilisasi

tanda vital dalam

sesuai indikasi

batas normal . S = Berikan


37 C . N =
kompres
80x/menit , TD =

hangat

120/80 mmHG , R Delegasi


= 18 20 x / menit

Rasional
mengidentifikasi
kebutuhan dan
intervensi yang tepat
Untuk mengalihkan
perhatian ibu dan rasa
nyeri yang dirasakan

Memperlancar
pengeluaran lochea,
mempercepat involusi
dan mengurangi nyeri
secara bertahap.
Meningkatkan
sirkulasi pada
perinium
Melonggarkan system
saraf perifer sehingga
rasa nyeri berkurang

pemberian

analgetik
Resiko tinggi setelah diberikan Kaji lochea

Untuk dapat

terhadap

askep diharapkan

(warna, bau,

mendeteksi tanda

kekurangan

infeksi pada ibu

jumlah)

infeksi lebih dini dan

volume

tidak terjadi dengan kontraksi uterus mengintervensi

cairan

KH : dapat

dan kondisi

dengan tepat.

berhubungan mendemonstrasikan jahitan


dengan

teknik untuk

episiotomi.
Sarankan pada
penurunan
menurunkan resiko
ibu agar
masukan /
infeksi, tidak
Pembalut yang
mengganti
penggantian terdapat tandalembab dan banyak
pembalut
tiap
4
tidak adekuat tanda infeksi.
darah merupakan
jam.
, kehilangan
media yang menjadi
cairan
berlebih
( muntah ,
hemoragi ,
peningkatan

tempat
Pantau tandatanda vital.
Lakukan

kuman.
Peningkatan suhu >

rendam bokong.

38oC menandakan

infeksi.
Untuk memperlancar

keluaran
urine )

berkembangbiaknya

Sarankan ibu

sirkulasi ke perinium

membersihkan dan mengurangi


perineal dari
udema.
depan ke
belakang.

Membantu mencegah
kontaminasi rektal
melalui vaginal.

Resiko tinggi Setelah

diberikan Ajarkan ibu

terhadap

askep

infeksi

diharapkan

Memberi rangsangan

ibu agar massage

pada uterus agar

tidak sendiri fundus

berkontraksi kuat

berhubungan kekurangan volume uteri.


dengan
cairan dengan KH : Pertahankan

trauma
cairan masuk dan cairan peroral
1,5-2
jaringan ,
keluar seimbang,
Hb/Ht
dalam Liter/hari
penurunan

Observasi
batas
normal
Hb , prosedur
perubahan
(12,0-16,0 gr/dL)
invasive ,
suhu, nadi,

pecah
tensi.
ketuban ,
Periksa ulang
malnutrisi
kadar Hb/Ht.
9.
No
DX

dan mengontrol
perdarahan.
Mencegah terjadinya
dehidrasi.
Peningkatan suhu
dapat memperhebat
dehidrasi.
Penurunan Hb tidak
boleh melebihi 2
gram%/100 dL.

Tindakan Keperawatan
Tanggal/Jam

Tindakan

Catatan Perkembangan TTD

1 Rabu,24/02/16
Jam 09.45 Wib

o Mengkaji nyeri klien:


PQRST.
o Mengukur TTV.
o Menganjurkan klien untuk
melakukan mobilisasi
bertahap.
o Membatasi pengunjung.

S:
o Ibu mengatakan masih
merasa nyeri pada daerah
sekitar

kemaluan

meskipun

sudah

berkurang dibanding tadi


pagi.
o Nyeri tajam, perih, nyeri
sedang skala 6, waktu
ketika

melakukan

mobilisasi/ambulasi.
o Ibu mengatakan sudah
mencoba
tempat

turun
tidur

dari
dengan

bantuan kursi dan posisi


tidur berubah-ubah.
O:
o Ekspresi wajah ketika
melakukan

ambulasi

tampak menahan nyeri.


o Posisi tidur miring ke
kanan.
o Ibu mampu
mempraktekkan teknik
napas dalam dan masase.
o Penunggu 1 orang ibu
klien.
A : Tujuan belum berhasil.
P : Lanjutkan intervensi.

S : Ibu mengatakan nyeri


jauh berkurang
dibandingkan kemarin,
nyeri ringan, skala 3,
lokasi di daerah sekitar

kemaluan.
O: Tanda-tanda vital: TD:
120/70 mmHg, N: 80
o Mengkaji
Rabu, 25/02/16
Jam 21.10 Wib

nyeri

klien:

kali/mnt, R: 24 kali/mnt,

S: 36,6 oC.
o Obat diminum.
klien untuk
o Wajah tampak segar,
mengubah posisi tidur secara
tenang.
teratur.
o Dapat turun dari tempat
o Mengajarkan klien tehnik
tidur dan berjalan.
napas dalam dan masase padaA : Tujuan berhasil
PQRST.
o Menyarankan

daerah

ekstremitas

dan

punggung.
o Membatasi pengunjung.

sebagian.
P : Lanjutkan intervensi.
S : Ibu mengatakan nyeri
jauh berkurang
dibandingkan kemarin,
nyeri ringan, skala 3,
lokasi di daerah sekitar
kemaluan.
O: Tanda-tanda vital: TD:
120/70 mmHg, N: 80
kali/mnt, R: 24 kali/mnt,
S: 36,6 oC.
o Obat diminum.
o Wajah tampak

o Mengkaji

nyeri

segar,

klien:

tenang.
o Dapat turun dari tempat
PQRST.
Kamis, 26/02/16 o Mengukur TTV.
tidur dan berjalan.
o Memberikan analgetik asam
A : Tujuan berhasil
jam 06.00 Wib
mefenamat 500 Mg oral.
sebagian.
o Menjelaskan tentang nyeriP : Lanjutkan intervensi.
pada post partum.
2 Kamis, 24/02/16 o Mengkaji kemampuan mandi S :
o Ibu mengatakan sudah
Jam 09.45 Wib
ibu.
o Mengkaji kemampuan ibu ke bisa
membersihkan
toilet.
o Mengkaji keadaan kuku.

daerah

perineal

yaitu

dengan sabun dan selalu


dijaga

kekeringannya,

mengganti pembalut jika


basah.
o Ibu mengatakan
mandi

dan

ke

kalau
toilet

sementara waktu dibantu


oleh ibunya, tadi sore.
O: Aktif dalam diskusi.
A : Tujuan berhasil
sebagian.
P : Lanjutkan intervensi.
S:
o Ibu mengatakan pagi ini
akan
Kamis, 24/02/16 o Melakukan diskusi dengan
Jam 21.30 Wita

ibu cara membersihkan


daerah perineal.
o Menganjurkan ibu pada saat
mandi untuk:
o Menggunakan suhu air yang
nyaman.
o Memonitor kondisi kulit.
o Menempatkan alat mandi
sesuai kondisi.
o Menyediakan alat mandi
pribadi.
o Memfasilitasi ibu untuk
mandi dengan menyediakan
air hangat, menjaga privasi,
melibatkan keluarga dalam
membantu mandi dan

mencoba

mandi

sendiri ke kamar mandi.


o Keluarga
menyatakan
akan membantu semua
kebutuhan klien.
O:
o Ibu tampak berjalan ke
kamar mandi.
o Ibu mampu mandi dan
melakukan eliminasi di
kamar mandi.
o Keluarga
membantu
menuntun

klien

menyediakan

dan
alat

mandinya.
o Ibu tampak segar dan
berbau haru
A : Tujuan berhasil.
P : Lanjutkan dengan

toileting.
motivasi ibu untuk
o Mengkaji kemampuan klien
melakukan aktivitas lainnya
ke toilet.
secara mandiri.

3 Jumat, 24/02/16
Jam 09.45 Wib

o Membatasi jumlah

S : Ibu mengatakan akan

pengunjung.
o Mengajarkan cara mencuci

melakukan

tangan kepada orang tua.


o Menganjurkan orang tua

selama

hal-hal

disarankan
ini

yang

meskipun
juga

sudah

melakukannya.
O: Klien dan keluarga aktif

untuk mencuci tangan

sebelum dan sesudah kontak dalam diskusi.


o Tidak ditemukan tandadengan bayi.
o Memonitor tanda infeksi
tanda infeksi.
A : Tujuan
berhasil
lokal dan sistemik.
o Memonitor AL.
sebagian.
o Mengukur tanda-tanda vital. P : lanjutkan intervensi.
o Mengawasi tanda-tanda
REEDA.
o Mengobservasi

kontraksi

uterus.
o Menganjurkan

Jumat, 24/02/16
Jam 21.30 Wib

ibu

dan

keluarga untuk:
S:
Ibu
mengatakan
o Menjaga kebersihan kamar.
o membatasi
jumlah cairan
yang
keluar
pengunjung.
berwarna merah dengan
o Memberikan nutrisi yang
jumlah lumayan banyak,
adekuat.
o Memberikan
cairan
dan perut juga masih terasa
mulas
tapi
sudah
istirahat yang cukup.
o Menjaga

kebersihan

dan berkurang

melakukan perawatan kulit.


kemarin.
o Melakukan aktivitas dan O:
o Kulit intact,
mobilisasi.
o Mengajarkan ibu dan
tampak
keluarga tentang tanda-tanda
infeksi, cara mencegah
infeksi.
o Meginspeksi kulit dan
mukosa dari kemerahan,

dibanding

mukosa
basah,

kemerahan, dan tidak ada


perlukaan.
o Lokhia rubra.
o Involusi uterus baik.
o TFU 2 jari dibawah
pusat.
o Tanda-tanda vital: TD:

BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1

Pengkajian
Menurut Lyer (1998) dalam Nursalam (2009), pengkajian adalah tahap awal

dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses pengumpulan data yang
sistematis dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status
kesehatan klien.
Pada tanggal 24 Februari 2016 Ny.S (35 th) dan suami Tn.M (22 th) yang
beralamat di Jl. Raya Kebagusan No 4 datang ke Rawat Bersalin Puskesmas
Kecamatan Pasar Minggu. Ny. S beragama Islam dengan suku bangsa Jawa
berpendidikan terakhir SD dengan pekerjaan IRT.
Ibu mengatakan sudah mandi, kuku sudah dipotong sejak dari rumah. Kulit
bersih, turgor kulit baik, lembab, rambut bersih tidak rontok, kuku rapi dan
pendek.
Ibu mengatakan tadi pagi sudah mencuci muka sekalian mandi, tidak ada
keluhan. Ekspresi wajah merintih ketika bergerak atau duduk dan tampak lelah.
Tidak ada edema, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, penglihatan

normal, kelenjar tiroid tidak membesar, kelenjar limfe tidak teraba, vena jugularis
tidak meningkat, tidak terdapat bekas operasi.
Telinga ibu tampak bersih, discharge tidak ada, pendengaran normal. Mulut,
tenggorokkan, dan hidung ibu tampak bersih, tidak terdapat karies gigi, tidak ada
stomatitis, sekret hidung bersih, tidak memakai alat bantu, fungsi baik. Thoraks
dan paru paru ibu simetris kanan-kiri, tidak ada ketinggalan gerak, paru dalam
batas normal, tidak terdengar suara nafas tambahan. Jantung ibu tampak tidak
membesar, ictus kordis pada ICS ke 5, tidak ada bising jantung.
Ibu mengatakan terasa mual-mual dan perut seperti dipelintir. Terdapat
striae gravidarum, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, teraba lunak,
peristaltik positif agak lemah. Kontraksi uterus mutlak diperlukan untuk
mencegah terjadinya perdarahan dan pengembalian uterus kebentuk normal.
Tinggi fundus uterus yang normal segera setelah persalinan adalah kira-kira
setinggi umbilikus. Jika ibu tersebut sudah berkali-kali melahirkan atau bayinya
kembar atau besar, tinggi fundus uterus yang normal adalah diatas umbilikus
(Erawati, 2011).
Ibu mengatakan nyeri pada daerah kemaluan terutama jika untuk bergerak
dan duduk, nyeri tajam, perih, lokasi pada daerah perineum, nyeri sedang skala 6.
Ibu menyatakan sudah buang air kecil 1 kali. Lochia jumlahnya sedang, warna
merah gelap, terdapat bekuan kecil. Nyeri digambarkan sebagai keadaan yang
tidaknyaman, akibat dari ruda paksa jaringan.tanda dan gejala nyeri ada
bermacam-macam perilaku yang tercermin dari pasien, respon psikologis berupa :
suara menangis, merintih, menarik/menghembuskan nafas, ekspresi wajah :
meringis, menggigit lidah, dahi berkerut, menggigit bibir (Judha, 2012).
Ibu mengatakan belum buang air besar sejak sebelum melahirkan, serta
setelah melahirkan sampai sekarang belum. Terdapat ruptur perineum dengan
jahitan luar 1 jenis Zide. Luka tampak basah. Refleks positif,, tidak ada varises,
tidak terjadi oedema, tanda-tanda REEDA negatif, kekuatan otot 5, ROM normal.
Penampilan umum Ibu tampak rapi, terlihat lelah, berjalan dengan bantuan
dan tertatih-tatih. Berat badan : 60 Kg dan tinggi badan : 151 cm. Tanda-tanda
vital yaitu TD : 110/80 mmHg, N : 84 kali/menit, R : 24 kali/menit, S : 36,5 oC.
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit berat hingga harus ke
rumah sakit. Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang menderita

penyakit hipertensi, gula, atau penyakit menurun lainnya. Juga tidak ada yang
menderita penyakit menular.
Ibu mengalami menarche pada usia 14 tahun, lama menstruasi 5 hari dengan
siklus 30 hari. Darah yang keluar biasanya cukup banyak, encer, berwarna merah,
dengan bau amis. Hari pertama menstruasi terakhir (HPHT) 09-12/2012dengan
hari perkiraan lahir (HPL) 05/09/2013.
Ibu merupakan akseptor IUD dan sudah dipakai selama 2 tahun sebelum
gagal dan diekstraksii pada bulan Maret 2012. Ibu G2P1A0 , anak pertama lakilaki usia 3 tahun dengan BBL 3200 gram, lahir spontan, di RSUD Kabupaten
Mamuju.
Riwayat kehamilan dan persalinan saat ini yaitu lama persalinan kala I 4
jam, kala II 20 menit, kala III 20 menit sehingga total waktu persalinan 4 jam 40
menit. Posisi fetus memanjang, punggung kiri, dengan presentasi kepala. Tipe
kelahiran spontan. Penggunaan analgesik dan anestesi, selama proses persalinan
ibu tidak diberikan analgesik dan anestesi. Masalah selama persalinan tidak ada
bayi lahir spontan, terjadi ruptur perineum derajat I dengan jahitan dalam 1 luar 1.
Jumlah perdarahan kala I 0 cc, kala II 0 cc, kala III 250 cc, kala IV 100 cc. Total
perdarahan 350 cc.
Data bayi saat ini yaitu bayi bayi baru lahir dengan jenis kelamin laki-laki,
berat badan : 3000 gram, panjang badan : 45 cm, lingkar kepala : 32 cm, lingkar
dada : 33 cm, lingkar perut : 31,5 cm, lingkar lengan atas : 10,5 cm. Apgar score
yaitu menit ke 1 : 7 dan menit ke 5 : 9, dengan kesimpulan bayi normal tidak
mengalami asfiksia.
Keadaan psikologis ibu yaitu ibu merasa baik-baik saja, senang bayinya
lahir dengan selamat tanpa masalah mengingat usia kehamilannya lebih dari 9
bulan (45 minggu).
Ibu mengatakan bayi ini merupakan anak kedua, anak pertamanya dulu juga
dilahirkan secara spontan, jadi ibu merasa yakin atas kemampuannya untuk
merawat bayinya ini.Selama ini ibu rajin memeriksakan diri ke dokter kandungan,
jika merasa tidak enak badan juga langsung ke Puskesmas atau dokter praktek.
Ibu makan 3 kali sehari, minum 6-8 gelas perhari, selama hamil muda
merasa mual muntah tapi semakin bertambah usia kehamilan gejala semakin
hilang. Sekarang ibu sudah mulai makan makanan kecil yang dibawa oleh

suaminya. Selama hamil ibu sering jalan-jalan bersama suami dan aktivitas seharihari dapat dilakukan mandiri, sekarang ibu merasa lelah dan ingin tidur, ibu juga
tampak berhati-hati ketika bergerak di tempat tidur. Ibu tidak mampu masuk dan
keluar dari kamar mandi sehingga aktivitas kebersihan diri dibantu oleh keluarga.
Biasanya ibu BAB 1-2 kali sehari dengan konsistensi lunak dan BAK 6-8
kali sehari selama hamil. Setelah melahirkan bab belum sedangkan bak 1 kali tadi
pagi. Selama hamil istirahat/tidur tidak ada gangguan, tidur siang selama 2 jam
dan malam tidur jam 21.00 WIB dan bangun pagi jam 04.30 WIB. Semalam ibu
tidak dapat tidur karena dalam proses persalinan, baru setelah bayi lahir dan ibu
dimandikan hingga dapat tidur sebentar. Ibu mengatakan merasa sakit pada daerah
kemaluan. Ibu juga mengatakan bahwa kehamilan yang sekarang ini memang
dalam program kehamilan sehingga ibu dan suaminya merasa senang dengan
kehadiran anak yang kedua ini.
Ibu sangat kooperatif terhadap tindakan keperawatan yang diberikan dan
meyakini bahwa semua tindakan itu adalah untuk mempercepat menolong diri dan
bayinya. Orang terdekat adalah suaminya dan ibunya yang selalu mendampingi.
Ibu mengatakan selama ini hubungan antar anggota keluarga dan masyarakat
sekitar baik-baik saja. Selama hamil sudah ada kesepakatan dengan suami untuk
mengurangi frekwensi hubungan seksual. Tidak ada gangguan dalam melakukan
akttifitas tersebut, juga tidak terjadi kontak bleeding.
Ibu berpenampilan rapi, berbicara pelan-pelan, dan selalu minta
pertimbangan suami atau ibunya jika ada masalah atau harus mengambil
keputusan. Ibu berasal dari suku jawa dan beragama Islam sehingga kebudayaan
yang umum di masyarakat masih dilakukan seperti tujuh bulanan dan selamatan.
Ibu merasa sangat bersyukur bayinya dapat lahir selamat mengingat usia
kehamilan yang mundur.
IV.2

Perumusan Masalah
Menurut Carpenito (2000) dalam Nursalam (2009), diagnosa keperawatan

adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau
resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk
menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan mengubah.
Diagnosa yang pertama kali ditemukan adalah nyeri akut berhubungan
dengan agen injuri fisik, kontraksi uterus, karena pada saat dilakukan pengkajian

didapatkan data subjektif : Ibu mengatakan nyeri pada daerah kemaluan terutama
jika untuk bergerak dan duduk, nyeri tajam, perih, lokasi pada daerah perineum,
nyeri sedang skala 6. Ibu mengatakan perut terasa mual-mual dan seperti
dipelintir. Data Objektif : tampak berhati-hati ketika bergerak di tempat tidur,
ekspresi wajah merintih ketika bergerak atau duduk. Tanda-tanda vital : TD:
110/80 mmHg, N: 84 kali/menit, R: 24 kali/menit, S: 36,5 oC.
Nyeri digambarkan sebagai keadaan yang tidaknyaman, akibat dari ruda
paksa jaringan.tanda dan gejala nyeri ada bermacam-macam perilaku yang
tercermin dari pasien, respon psikologis berupa : suara menangis, merintih,
menarik/menghembuskan nafas, ekspresi wajah : meringis, menggigit lidah, dahi
berkerut, menggigit bibir (Judha, 2012).
Diagnosa kedua yang didapatkan adalah risiko infeksi berhubungan dengan
faktor risiko: trauma jaringan, tidak adekuatnya pertahanan sekunder tubuh,
karena pada saat dilakukan pengkajian didapatkan data subjektif : Ibu mengatakan
terdapat luka di kemaluannya dan rasanya sakit. Data Objektif : terdapat ruptur
perineum derajat I dengan jahitan luar 1 Zide, luka tampak basah, Lab darah (2302-2016) : HB: 11,6 & AL: 13,3
Diagnosa ketiga yang didapatkan

adalah

defisit

perawatan

diri:

mandi/kebersihan diri, toileting berhubungan dengan kelelahan, karena pada saat


dilakukan pengkajian didapatkan data subjektif : Ibu mengatakan merasa lelah dan
ingin tidur. Data Objektif : ibu tidak mampu masuk dan keluar dari kamar mandi,
tampak lemah dan aktivitas kebersihan diri dibantu oleh keluarga.
IV.3

Intervensi
Rencana intervensi keperawatan adalah desain spesifik dari intervensi yang

disusun untuk membantu klien dan mencapai kriteria hasil. Kriteria hasil untuk
diagnosis keperawatan mewakili status kesehatan klien yang dapat diubah atau
dipertahankan melalui rencana asuhan keperawatan yang mandiri, sehingga dapat
dibedakan antara diagnosis keperawatan dan masalah kolaboratif (Nursalam,
2009).
Rencana intervensi keperawatan yang dilakukan berdasarkan diagnosa nyeri
akut berhubungan dengan agen injuri fisik, kontraksi uterus yaitu kaji ulang skala
nyeri yaitu untuk mengidentifikasi kebutuhan dan intervensi yang tepat. Anjurkan
ibu agar menggunakan teknik relaksasi dan distraksi rasa nyeri untuk mengalihkan
perhatian ibu dan rasa nyeri yang dirasakan. Motivasi : untuk mobilisasi sesuai

indikasi yaitu untuk memperlancar pengeluaran lochea, mempercepat involusi dan


mengurangi nyeri secara bertahap. Berikan kompres hangat meningkatkan
sirkulasi pada perinium. Serta delegasi pemberian analgetik yaitu untuk
melonggarkan system saraf perifer sehingga rasa nyeri berkurang
IV.4

Implementasi
Menurut Lyer (1996) dalam Nursalam (2009), implementasi adalah

pelaksanaan dari rencana intervensi untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap
implementasi dimulai setelah rencana intervensi disusun dan ditunjukkan nursing
orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
Implementasi dilakukan pada diagnosa keperawatan yang pertama pada
tanggal Rabu, 24 Februari 16 sampai dengan Kamis, 26 Februari 16 yaitu :
mengkaji nyeri klien : PQRST, menyarankan klien untuk mengubah posisi tidur
secara teratur, mengajarkan klien tehnik napas dalam dan masase pada daerah
ekstremitas dan punggung, membatasi pengunjung. Didapatkan respon : ibu
mengatakan masih merasa nyeri pada daerah sekitar kemaluan meskipun sudah
berkurang dibanding tadi pagi. Nyeri tajam, perih, nyeri sedang skala 6, waktu
ketika melakukan mobilisasi/ambulasi. Ibu mengatakan sudah mencoba turun dari
tempat tidur dengan bantuan kursi dan posisi tidur berubah-ubah. Ekspresi wajah
ketika melakukan ambulasi tampak menahan nyeri. Posisi tidur miring ke kanan.
Ibu mampu mempraktekkan teknik napas dalam dan masase. Penunggu 1 orang
ibu klien.
IV.5

Evaluasi
Menurut Ignatavicius dan Beyne (1994) dalam Nursalam (2009), evaluasi

adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang


menandakan keberhasilan dari diagnosis keperawatan, rencana intervensi dan
implementasinya. Tahap evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor
kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan
implementasi intervensi.
Evaluasi yang penulis lakukan pada diagnosa keperawatan pertama adalah
nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik, kontraksi uterus belum teratasi.
Karena tidak sesuai dengan tujuan dan krteria hasil yang diharapkan maka
dilanjutkan kembali pada hari kedua dan sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil
yang diharapkan, yaitu Ibu mengatakan nyeri jauh berkurang dibandingkan

kemarin, nyeri ringan, skala 3, lokasi di daerah sekitar kemaluan. Tanda-tanda


vital: TD: 120/70 mmHg, N: 80 kali/mnt, R: 24 kali/mnt, S: 36,6 oC. Tampak ibu
meminum obat, wajah tampak segar, tenang, serta ibu dapat turun dari tempat
tidur dan berjalan.

DAFTRA PUSTAKA
Bobak, Irene M, dkk (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas (Maternity
Nursing). Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Dewi dan Sunarsih, T. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta Selatan:
Salemba Medik
Dongoes, M.E., 2005, Rencana Keperawatan Maternal Bayi : Pedoman untuk
Perencanaan dan Dokumentasi Klien (terjemahan), EGC, Jakarta.
Jannah, Nurul. 2011. Konsep kebidanan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Maryunani,Anik.2009.Asuhan Pada Ibu dalam Masa Nifas.Jakarta :Trans info
Media

Nursalam, 2009. Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktek


Klinik. Jakarta : Salemba Medika
Prawirohardjo,Sarwono.2010.Ilmu Kebidanan.Jakarta:PT Bina Pustaka
Saleha, siti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba
Medika
Sulistyawati, Ari. 2012. Asuhan Kebidanaan Pada Masa Kehamilan.Jakarta:
Salemba Medika.
Rukiyah, Ai Yeyeh & Lia Yulianti. 2011. Asuhan Kebidanan IV (Patologi
Kebidanan). Jakarta: Trans Info Media