Anda di halaman 1dari 10

RESUME

PENINGKATAN KADAR BIJIH BESI, TIMAH, NIKEL,


TEMBAGA DAN BAUKSIT

A. Pengertian Tembaga
Tembaga adalah unsur kimia yang diberi lambang Cu (Latin: cuprum)
dalam suatu Sistem Periodik Unsur (SPU) tembaga termasuk dalam golongan
11dan menempati posisi dengan nomor atom (NA) 29 dan mempunyai bobot
atom (BA) 63,546. Tembaga, perak dan emas disebut logam koin karena dipakai
sejak lama sebagai uang dalam bentuk lempengan (koin). Hal ini disebabkan
oleh logam ini tidak reaktif, sehingga tidak berubah dalam waktu yang lama.
Tembaga adalah logam berdaya hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel
listrik. Tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga
teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3 [1]. Bentuk
pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu kehilangan empat molekul airnya pada
110 C dan kelima-lima molekul air pada 150 C. Pada 650 C, tembaga (II)
sulfat mengurai menjadi tembaga (II) oksida (CuO), sulfur dioksida (SO2) dan
oksigen (O2) .
Tembaga merupakan salah satu logam yang terdapat cukup banyak
dalam keadaan bebas.Tembaga kadang-kadang ditemukan secara alami, seperti
yang ditemukan dalam mineral-mineral seperti cuprite, malachite, azurite,
chalcopyrite, dan bornite. Deposit bijih tembaga yang banyak ditemukan di AS,
Chile, Zambia, Zaire, Peru, dan Kanada. Bijih-bijih tembaga yang penting adalah
sulfida, oxida-oxidanya, dan karbonat. Dari mereka, tembaga diambil dengan
cara smelting, leaching, dan elektrolisis.Cu (Tembaga) merupakan salah satu
unsur logam transisi yang berwarna cokelat kemerahan dan merupakan
konduktor panas dan listrik yang sangat baik. Di alam, tembaga terdapat dalam
bentuk bebas maupun dalam bentuk senyawa-senyawa, dan terdapat dalam
bentuk biji tembaga seperti (CuFeS2), cuprite (Cu2O), chalcosite (Cu2S), dan
malasite (Cu2(OH)2CO3). Dalam badan perairan laut tembaga dapat ditemukan
dalam bentuk persenyawaan ion seperti CuCO3, CuOH. Tembaga (Cu)

mempunyai sistim kristal kubik, secara fisik berwarna kuning dan apabila dilihat
dengan menggunakan mikroskop bijih akan berwarna pink kecoklatan sampai
keabuan. Tembaga merupakan suatu unsur yang sangat penting dan berguna
untuk metabolisme. Batas konsentrasi dari unsur ini yang mempengaruhi pada
air berkisar antara 1 5 mg/l merupakan konsentrasi tertinggi. Dalam industri,
tembaga banyak digunakan dalam industri cat, industri fungisida serta dapat
digunakan sebagai katalis, baterai elektroda, sebagai pencegah pertumbuhan
lumut, turunan senyawa-senyawa karbonat banyak digunakan sebagai pigmen
dan pewarna kuningan.
Proses Pembentukan Tembaga
Tembaga(II)
mencampurkan

sulfat

diproduksi

dalam

logam tembaga dengan asam

skala

besar

sulfat panas

dengan
atau

cara

oksidanya

denganasam sulfat. Untuk penggunaan di laboratorium, tembaga (II) sulfat


biasanya dibeli (tidak dibuat manual).Bentuk anhidratnya ditemukan dalam
bentuk mineral langka yang disebut kalkosianit. Tembaga sulfat terhidrasi eksis di
alam dalam bentukkalkantit (pentahidrat) dan 2 mineral lain yang lebih
langka: bonatit (trihidrat) dan bootit (heptahidrat).
Pemanfaatan Tembaga
Tembaga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dari komponen listrik,
koin, alat rumah tangga, hingga komponen biomedik. Tembaga juga dapat
dipadu dengan logam lain hingga terbentuk logam paduan seperti perunggu atau
monel. Tembaga berperan khususnya dalam beberapa kegiatan seperti enzim
pernapasan sebagai tirosinase dan silokron oksidasi. Tembaga bersifat racun. Ini
dapat terjadi ketika tembaga menumpuk dalam tubuh akibat penggunaan alat
masak tembaga. Unsur Cu yang berlebih dapat merusak hati dan memacu
sirosis.
Persebaran Tembaga
Persebaran tembaga di Indonesia ditemukan hampir merata di berbagai
provinsi, yaitu di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tengah, NTT, dan Papua.

B. Pengertian Nikel
Nikel adalah komponen yang banyak ditemukan dalam meteorit dan
menjadi ciri komponen yang membedakan meteorit dari mineral lainnya. Meteorit
besi atau siderit, dapat mengandung alloy besi dan nikel berkadar 5-25%. Nikel
diperoleh secara komersial dari pentlandit dan pirotit di kawasan Sudbury
Ontario, sebuah daerah yang menghasilkan 30% kebutuhan nikel dunia.
Unsur nikel berhubungan dengan batuan basa yang disebut norit. Nikel
ditemukan dalam mineral pentlandit, dalam bentuk lempeng-lempeng halus dan
butiran kecil bersama pyrhotin dan kalkopirit. Nikel biasanya terdapat dalam
tanah yang terletak di atas batuan basa.
Proses Pembentukan Nikel
Nikel terbentuk bersama mineral silikat kaya akan unsur Mg (ex;olivin).
Olivin adalah jenis mineral yang tidak stabil selama pelapukan berlangsung.
Saprolite adalah produk pelapukan pertama, meninggalkan sedikitnya 20% fabric
dari batuan aslinya (parent rock). Batas antara batuan dasar, saprolite dan
wathering front tidak jelas dan bahkan perubahannya gradasional. Endapan nikel
laterite dicirikan dengan adanya speroidal weathering sepanjang joints dan
fractures ( boulder saprolite). Selama pelapukan berlangsung, Mg larut dan Silika
larut bersama groundwater. Ini menyebabkan fabric dari batuan induknya is
totally change. Sebagai hasilnya, Fe-Oxide mendominasi dengan membentuk
lapisan horizontal diatas saprolite yang sekarang kita kenal sebagai Limonite.
Benar bahwa Nikel berasosiasi dengan Fe-Oxide terutama dari jenis Goethite.
Rata-rata nikel berjumlah 1.2 %.
Pemanfaatan Nikel
Bijih nikel laterit kadar rendah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku
dalam pembuatan feronikel dengan melakukan peningkatan kadar nikel sesuai
cut of grade yang ditentukan UBPN Operasi Pomala, PT. Antam Tbk yaitu 2.3%
Ni. Percobaan dalam skala laboratorium telah menghasilkan peningkatan kadar
nikel lebih besar dari 2.3% Ni yaitu 2.43% Ni dengan perolehan optimum sebesar
83.4% untuk conto A dan 2.39% Ni dengan perolehan sebesar 84.08% untuk
conto B, melalui metode flotasi dengan mengapungkan mineral silikat, dengan
menggunakan senyawa amina komplek untuk kolektor dan starch (kanji) untuk
depressant.

Sedangkan

metoda

magnetisasi

dapat

dimanfaatkan

dan

meningkatkan kadar besi tetapi tidak dapat meningkatkan kadar nikel dalam

pemanfaatan endapan bijih nikel laterit lapisan atas (iron cap) dengan
peningkatan kadar besi dari 41.88% Fe menjadi 66.43% Fe dan nikel dari kadar
0.40% Ni menjadi 0.50% Ni.
Persebaran Nikel
Daerah persebaran nikel terdapat di Soroako, Bulubulang, Pamaloa
Utara, dan Pamaloa Selatan (Sulawesi Tenggara).

C. Bijih besi
Biji atau bijih besi adalah cebakan yang digunakan untuk membuat besi
gubal.Biji

besi

terdiri

dalam molekul.

Besi

atas oksigen dan atom besi yang


sendiri

biasanya

berikatan

didapatkan

bersama
dalam

bentuk magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), goethit, limonit atau siderit. Bijih besi
biasanya kaya akan besi oksida dan beragam dalam hal warna, dari kelabu tua,
kuning muda, ungu tua, hingga merah karat anjing Saat ini, cadangan biji besi
nampak banyak, namun seiring dengan bertambahnya penggunaan besi secara
eksponensial berkelanjutan, cadangan ini mulai berkurang, karena jumlahnya
tetap.

Sebagai

contoh, Lester

Brown dari Worldwatch

Institute telah

memperkirakan bahwa bijih besi bisa habis dalam waktu 64 tahun berdasarkan
pada ekstrapolasi konservatif dari 2% pertumbuhan per tahun.
Pengelompokan Bijih Besi
Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat
dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik,
terbentuklah struktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona lemah yang
memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu intrusi magma menerobos batuan
tua, dicirikan dengan penerobosan batuan granitan (Kgr) terhadap Formasi
Barisan (Pb,Pbl). Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah proses
rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian (replacement) pada bagian
kontak magma dengan batuan yang diterobosnya.
Pemanfaatan Bijih besi
bijih besi dimanfaatkan oleh masyarakat industri telah ditambang dari
deposit didominasi hematit dengan nilai lebih dari 60% Fe. Deposit ini biasanya
disebut sebagai bijih pengiriman langsung atau bijih alami. Peningkatan
permintaan bijih besi, ditambah dengan menipisnya bermutu tinggi bijih hematit

di Amerika Serikat, setelah Perang Dunia II menyebabkan perkembangan tingkat


rendah sumber bijih besi, terutama pemanfaatan taconite di Amerika Utara.
Tingkat rendah sumber bijih besi umumnya memerlukan benefisiasi. Magnetit
sering dimanfaatkan karena magnet, dan karenanya mudah dipisahkan dari
mineral gangue dan mampu menghasilkan konsentrat bermutu tinggi dengan
tingkat yang sangat rendah dari kotoran. Karena kepadatan yang tinggi relatif
terhadap gangue hematit silikat terkait, benefisiasi hematit biasanya melibatkan
kombinasi dari menghancurkan, gravitasi penggilingan, atau berat pemisahan
media, dan flotasi buih silika.
Persebaran Bijih Besi
Daerah persebaran Bijih besi terdapat di daerah Lampung (Gunung
Tegak), Kalimantan Selatan (Pulau Sebuku), Sulawesi Selatan (Pegunungan
Verbeek), dan Jawa Tengah (Cilacap).

D. Timah putih
Timah merupakan logam dasar terkecil yang diproduksi, yaitu kurang dari
300.000 ton per tahun, apabila dibandingkan dengan produksi aluminium
sebesar 20 juta ton per tahun. Timah putih merupakan unsur langka, kelimpahan
rata-rata pada kerak bumi sekitar 2 ppm, dibandingkan dengan seng yang
mempunyai kadar rata-rata 94 ppm, tembaga 63 ppm dan timah hitam 12 ppm.
Sebagian besar (80%) timah putih dunia dihasilkan dari cebakan letakan
(aluvial), sekitar setengah produksi dunia berasal dari Asia Tenggara. Mineral
ekonomis penghasil timah putih adalah kasiterit (SnO2), meskipun sebagian kecil
dihasilkan juga dari sulfida seperti stanit, silindrit, frankeit, kanfieldit dan tealit
Asal mula timah di Indonesia adalah di daerah jalur timah yang membentang dari
Pulau Kundur sampai Pulau Belitung dan sekitarnya diawali dengan adanya
intrusi granit yang berumur 222 juta tahun pada Trias Atas. Magma bersifat
asam mengandung gas SnF4, melalui proses pneumatolitik hidrotermal
menerobos dan mengisi celah retakan, dimana terbentuk reaksi: SnF4 + H2O ->
SnO2 + HF2 . Cebakan bijih timah merupakan asosiasi mineralisasi Cu, W, Mo,
U, Nb, Ag, Pb, Zn, dan Sn. Busur metalogenik terbentuknya timah 100 - 1000
km. Terdapat tiga tipe kelompok asosiasi mineralisasi timah putih, yaitu
stanniferous pegmatites, kuarsa-kasiterit dan sulfida-kasiterit . Urat kuarsakasiterit, stockworks dan greisen terbentuk pada batuan beku granitik plutonik,

secara gradual terbentuk stanniferous pegmatites yang ke arah dangkal


terbentuk urat kuarsa-kasiterit dan greisen . Urat berbentuk tabular atau tubuh
bijih berbentuk lembaran mengisi rekahan atau celah. Tipe kuarsa-kasiterit dan
greisen merupakan tipe mineralisasi utama yang membentuk sumber daya timah
putih pada jalur timah yang menempati Kepulauan Riau hingga Bangka-Belitung.
Jalur ini dapat dikorelasikan dengan Central Belt di Malaysia dan Thailand .
Mineral utama yang terkandung di dalam bijih timah berupa kasiterit, sedangkan
pirit, kuarsa, zirkon, ilmenit, galena, bismut, arsenik, stibnit, kalkopirit, xenotim,
dan monasit merupakan mineral ikutan (http://www.tekmira.esdm.go.id). Timah
putih dalam bentuk cebakan dijumpai dalam dua tipe, yaitu cebakan bijih timah
primer dan sekunder.
Timah hitam
Timah hitam ( Pb ) merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan
atau abu-abu keperakan dengan titik leleh pada 327,5C dan titik didih 1.740C
pada tekanan atmosfer. Senyawa Pb-organik seperti Pb-tetraetil dan Pbtetrametil merupakan senyawa yang penting karena banyak digunakan sebagai
zat aditif pada bahan bakar bensin dalam upaya meningkatkan angka oktan
secara ekonomi. Pb tetraetil dan Pb tetrametil berbentuk larutan dengan titik
didih masing-masing 110C dan 200C.

Karena daya penguapan kedua

senyawa tersebut lebih rendah dibandingkan dengan daya penguapan unsurunsur lain dalam bensin, maka penguapan bensin akan cenderung memekatkan
kadar P-tetraetil dan Pb-tetrametil. Kedua senyawa ini akan terdekomposisi pada
titik didihnya dengan adanya sinar matahari dan senyawa kimia lain diudara
seperti senyawa holegen asam atau oksidator.
Kegunaan
Penggunaan timah untuk paduan logam telah berlangsung sejak 3.500
tahun sebelum masehi, sebagai logam murni digunakan sejak 600 tahun
sebelum masehi. Kebutuhan timah putih dunia setiap tahun sekitar 360.000 ton.
Logam timah putih bersifat mengkilap, mudah dibentuk dan dapat ditempa
(malleable), tidak mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat.
Kegunaan timah putih di antaranya untuk melapisi logam lainnya yang berfungsi
mencegah karat, bahan solder, bahan kerajinan untuk cendera mata, bahan
paduan logam, casing telepon genggam. Selain itu timah digunakan juga pada
industri farmasi, gelas, agrokimia, pelindung kayu, dan penahan kebakaran.

Timah merupakan logam ramah lingkungan, penggunaan untuk kaleng makanan


tidak berbahaya terhadap kesehatan manusia. Kebanyakan penggunaan timah
putih untuk pelapis/pelindung, dan paduan logam dengan logam lainnya seperti
timah hitam dan seng. Konsumsi dunia timah putih untuk pelat menyerap sekitar
34% untuk solder 31%.
Potensi
Potensi timah putih di Indonesia tersebar sepanjang kepulauan Riau
sampai Bangka Belitung, serta terdapat di daratan Riau (Gambar 2) yaitu di
Kabupaten Kampar dan Rokan Ulu. Sumber daya timah putih yang telah
diusahakan merupakan cebakan sekunder, baik terdapat sebagai tanah residu
dari cebakan primer, maupun letakan sebagai aluvial darat dan lepas pantai.
Endapan aluvial darat mempunyai pola sebaran memanjang mengikuti lembah
sungai yang masih aktif maupun sungai purba, menerus ke arah lepas pantai
membentuk pola yang menunjukkan arah dispersi dari cebakan primer
tertranspot melalui media air, membentuk endapan aluvial darat menerus ke arah
lepas pantai. Pola sebaran memanjang mengikuti lembah aluvial daratan
menerus ke arah lepas pantai, dengan komponen penyusun umumnya
mengandung kerikil sampai berangkal kuarsa memberikan gambaran akan
kemungkinan terbentuk pada saat susut laut. Harga timah putih yang sangat
rendah pada akhir tahun 1980an sampai pertengahan 1990an mengakibatkan
sebagian wilayah usaha pertambangan ditutup, dengan menyisakan sumber
daya yang masih signifikan untuk saat ini kembali diusahakan. Potensi sumber
daya timah putih masih sangat prospektif untuk diusahakan, baik timah pada
endapan in-situ yang belum pernah dimanfaatkan, maupun yang terkandung
pada tailing tambang lama. Penambangan timah putih lepas pantai, selama ini
menggunakan kapal keruk yang mempunyai kapasitas dapat menjangkau
kedalaman 15-50 meter . Sumber daya timah putih dengan sebaran berada pada
kedalaman dari permukaan air lebih dari 50 meter atau kurang dari 15 meter
tidak tertambang. Penggunaan kapal hisap yang mempunyai kapasitas dapat
menjangkau kedalaman lebih dari 50 meter memberikan peluang untuk
mengusahakan endapan timah putih lepas pantai tersebut. Selain itu endapan
pada lepas pantai yang dangkal kurang dari 15 meter dapat diusahakan oleh
masyarakat atau untuk pertambangan sekala kecil. Mengingat hal tersebut, maka
aktifitas eksplorasi untuk mendapatkan sumber daya timah putih khususnya

endapan lepas pantai kembali marak dilakukan akhir-akhir ini. Kadar timah
terendah ekonomis (cut off grade) pada tahun 2007 untuk endapan timah aluvial
pada kisaran kadar 0.01% Sn, atau cebakan bijih timah primer dengan kadar
sekitar

0.1%

Sn

(http://sn-tin.info/production.html).

Akan

tetapi

dengan

kecenderungan harga yang terus meningkat disertai konsumsi dunia yang


meningkat juga, mengakibatkan cut off grade (COG) cenderung menurun, oleh
karena itu sumber daya timah dengan kadar rendah yang pada masa lalu tidak
ekonomis diusahakan, dapat menjadi cadangan yang mempunyai nilai ekonomi.
Peningkatan jumlah status sumber daya menjadi cadangan tersebut dapat
memberikan peluang pengembangan cebakan timah yang pada beberapa
wilayah telah dilakukan pengakhiran tambang.Pada neraca Pusat Sumber Daya
Geologi, tahun 2007, tercatat sumber daya timah putih berupa bijih sebesar
4.037.304 ton, atau dalam bentuk logam 622.626 ton, cadangan bijih mempunyai
nilai ekonomi 543.796 ton, atau berupa logam 442.763 ton. Potensi tersebut
terdapat pada daerah-daerah penghasil timah utama meliputi Bangka, Belitung,
Kundur dan Kampar. Sedangkan perkembangan akhir-akhir ini dengan kegiatan
eksplorasi yang semakin intensif, temuan sumber daya timah akan meningkat.
Mineral yang terkandung di dalam bijih timah berupa kasiterit sebagai mineral
utama, pirit, kuarsa, zircon, ilmenit, plumbum, bismut, arsenik, stibnit, kalkopirit,
kuprit, senotim, dan monasit merupakan mineral ikutan. Mineral-mineral ikutan
pada bijih timah akan terpisahkan pada proses pengolahan, sehingga berpotensi
menjadi produk sampingan.
Penambangan
Penambangan timah putih dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
semprot, penggalian dengan menggunakan excavator, atau menggunakan kapal
keruk untuk penambangan endapan aluvial darat yang luas dan dalam serta
endapan timah lepas pantai. Penggunaan kapal keruk terutama dilakukan oleh
PT Timah, yang banyak melakukan penambangan cebakan timah aluvial lepas
pantai. Kapal keruk dapat beroperasi untuk penambangan cebakan timah aluvial
lepas pantai yang berada pada kedalaman sekitar 15 meter sampai dengan 50.
Penambangan menggunakan cara semprot dilakukan terutama pada endapan
timah aluvial darat dengan sebaran tidak luas dan relatif dangkal. Penambangan
dengan menggunakan shovel/excavator dilakukan untuk menggali cebakan
timah putih tipe residu, yang merupakan tanah lapukan bijih primer, umumnya

berada pada lereng daerah perbukitan. Penambangan oleh masyarakat


umumnya dilakukan dengan cara semprot. Banyak juga penambangan dalam
sekala kecil terdiri dari satu atau dua orang, menggunakan peralatan sangat
sederhana berupa sekop, saringan dan dulang, seperti penambangan oleh
masyarakat di lepas pantai timur Pulau Singkep menggunakan sekop dengan
panjang sekitar 2,5 meter, dan dilakukan pada saat air laut surut. Penambangan
banyak dilakukan pada wilayah bekas tambang dan sekitarnya. Bahkan tailing
yang semula dianggap sudah tidak ekonomis, kembali diolah untuk dimanfaatkan
kandungan timah putihnya. Penambangan oleh masyarakat di lepas pantai selain
menggunakan peralatan manual sederhana, menggunakan juga pompa hisap
dan perahu .

E. Bauksit
Bauksit merupakan bahan yang heterogen, yang mempunyai mineral
dengan susunan terutama dari oksida aluminium, yaitu berupa mineral buhmit
(Al2O3H2O) dan mineral gibsit (Al2O3 .3H2O). Secara umum bauksit
mengandung Al2O3 sebanyak 45-65%, SiO2 1-12%, Fe2O3 2-25%, TiO2 >3%,
dan H2O 14-36%. Bauksit merupakan kelompok mineral aluminium hidroksida
yang dalam keadaan murni berwarna putih atau kekuningan.Bahan galian yang
ditambang dengan menggunakan shovel ini, pabila dicampur dengan bahan
mineral lain, semisal chrome, baja, atau nikel, menghasilkan aluminium yang
sangat bagus (Alloy). Aluminium ini tahan panas, kuat namun lentur dan mudah
dibentuk. Untuk, onderdil otomotif, perkapalan dan industri pesawat terbang,
menggunakan bauksit secara massif.Bijih bauksit terjadi di daerah tropika dan
subtropika dengan memungkinkan pelapukan sangat kuat. Bauksit terbentuk dari
batuan sedimen yang mempunyai kadar Al nisbi tinggi, kadar Fe rendah dan
kadar kuarsa (SiO2) bebasnya sedikit atau bahkan tidak mengandung sama
sekali. Batuan tersebut (misalnya sienit dan nefelin yang berasal dari batuan
beku, batu lempung, lempung dan serpih. Batuan-batuan tersebut akan
mengalami proses lateritisasi, yang kemudian oleh proses dehidrasi akan
mengeras menjadi bauksit. Bauksit dapat ditemukan dalam lapisan mendatar
tetapi kedudukannya di kedalaman tertentu. Potensi dan cadangan endapan
bauksit terdapat di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Pulau Bangka, dan Pulau
Kalimantan. Bauksit yang terkandung di bumi nusantara, jenis mineralnya adalah

gibsit, dengan kadar utama alumina, kuarsa, dan silika aktif. Biji bauksit laterit
terjadi di daerah tropis dan sub tropis serta membentuk perbukitan landai, yang
memungkinkan terjadinya pelapuk yang cukup kuat. Bauksit terbentuk dari
batuan yang mempunyai kadar aluminium tinggi, kadar Fe rendah dan sedikit
kadar kuarsa bebas.
Batuan yang memenuhi persyaratan itu antara lain nepelin syenit dan
sejenisnya yang berasal dari batuan beku, batuan lempung/ serpih. Batuan itu
akan mengalami proses laterisasi (proses pertukaran suhu secara terus menerus
sehingga batuan mengalami pelapukan).Untuk menggali bauksit, dilakukan
dengan metode land clearing (mengupas pohon dan semak di permukaan tanah,
atau pengupasan tanah penutup). Alat-alat berat macam buldozer, biasa dipakai
untuk melakukan pengupasan tersebut. Sementara lapisan bijih bauksit digali
dengan shovel, diangkut dengan dump truck untuk dimasukan ke dalam instalasi
pencucian. Setelah dicuci (desliming) yang berfungsi memisahkan bijih bauksit
dari unsur lain seperti pasir atau lempung kotor, maka dilakukan proses
penyaringan (screening). Bersamaan dengan itu dilakukan pemecahan (size
reduction) dari butiran-butiran yang berukuran lebih dari 3 inchi dengan jaw
cruscher. Setelahnya, barulah memasukai tahap pengolahan dengan proses
bayer (teknik pemurnian bauksit)