Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN IV

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN


Dosen Pengampu: Ahmad Basthomi, S.Ag, M.Ag

Disusun oleh :
Kelompok 5
Widya Ika Nurjana

201310170311105

Fildatul Fuadiyah

201310170311145

Anggit Ratna Kusuma

201310170311148

Niken Laily Dwi I.

201310170311150

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Ilmu, telah menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa.
Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu
pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut
ilmu.
Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Surat Al-Alaq, di
dalam ayat itu Allah memerintahan kita untuk membaca dan belajar. Allah
mengajarkan kita dengan qalam yang sering kita artikan dengan pena.
Akan tetapi sebenarnya kata qalam juga dapat diartikan sebagai
sesuatu yang yang dapat dipergunakan untuk mentransfer ilmu kepada
orang lain. Kata qalam tidak diletakkan dalam pengertian yang sempit.
Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang lebih
banyak.

Seperti

pada

zaman

sekarang,

komputer

dan

segala

perangkatnya termasuk internet bisa diartikan sebagai penafsiran kata


qalam.
Dalam surat Al-Alaq, Allah SWT memerintahkan kita untuk
menuntut ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu
tersebut.
Dalam ajaran Islam, baik dalam ayat Quran maupun hadits,
bahwa ilmu pengetahuan paling tinggi nilainya melebihi hal-hal lain.
Bahkan sifat Allah SWT adalah Dia memiliki ilmu yang Maha Mengetahui.
Seorang penyair besar Islam mengungkapkan bahwa kekuatan suatu
bangsa berada pada ilmu. Saat ini kekuatan tidak bertumpu pada
kekuatan fisik dan harta, tetapi kekuatan dalam hal ilmu pengetahuan.
Orang yang tinggi di hadapan Allah SWT adalah mereka yang berilmu.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi Ilmu, Ilmuwan dan Majelis Ilmu


Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ilm yang berarti pengetahuan.
Kata ilm memiliki kemiripan dengan kata marifah, fiqh, hikmah, dan
syuur. Dari segi bahasa ilmu berarti jelas. Sedangkan ilmu dalam
pengertian merupakan pengetahuan ilmiah sekalipun juga merupakan
keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu,
tetapi disertai dengan memperhatikan objek yang ditelaah, cara yang
dipergunakan dan kegunaannya (Tim Departemen Agama RI.2004:1).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ilmuwan adalah
orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu;
orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan.
Majelis bermakna tempat duduk, sedangkan menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) majelis adalah pertemuan, kumpulan,
atau tempat sidang. Sedangkan ilmu bermakna pengetahuan tetang
sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode
tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di
bidang (pengetahuan) itu. Dengan demikian majelis ilmu (Convention for
knowledge) adalah suatu pertemuan atau kumpulan yang terdapat
pengkajian atau pengajaran tentang pengetahuan tertentu yang disusun
secara bersistem.

2.2

Sumber Ilmu Pengetahuan


Pengetahuan manusia diperoleh dari 2 arah, yaitu dari atas dan dari
bawah. Dari atas maksudnya dari wahyu yang Allah turunkan kepada
Rasul-Nya, sedangkan dari bawah maksudnya dari realitas yang ada di
alam ini melalui pengamatan, pendengaran, perasaan dan pengalaman.
Wahyu mengandung pengetahuan yang tak terhingga, yang tak pernah
habis dikaji sekalipun manusia melakukan pengkajian sepanjang sejarah
kehidupannya.
Berkaitan dengan masalah sumber ilmu pengetahaun, ada 4
sumber yang ditunjukkan Al Quran untuk memperoleh pengetahuan bagi
manusia antara lain:
2

a) Al Quran dan Assunah. Keduanya merupakan sumber pertama ilmu


pengetahuan. Al Qura mengingatkan manusia untuk memikirkan ayatayatnya dan mengambil pelajaran darinya, serta mengingatkan
manusia untuk menjadikan Rasul sebagai suri tauladan. Tentang
Assunah, seorang mukmin diharuskan mengambil pelajaran dari
Sunnah Rasul-Nya.
b) Alam semesta. Al Quran menyuruh manusia memikirkan keajaibankeajaiban ciptaan Allah. Al Quran menunjukkan kepada manusia
mengenai alam semesta dengan beragam bentuk dan jenis benda
untuk diteliti.
c) Manusia adalah sumber ketiga ilmu. Selain ayat-ayat al Quran
melukiskan penciptaan manusia secara biologis, juga banyak yang
melukiskan watak manusia sebagai individu. Dari studi tentang
manusia ini banyak melahirkan berbagai disiplin keilmuan, antara lain:
psikologi, kedokteran, dll.
d) Sejarah umat manusia. Meskipun Al Quran bukanlah buku sejarah
tetapi di dalamnya termuat hukum sejarah , hukum Allah tentang
sejarah kemanusiaan. Di dalamnya juga terdapat pola sejarah
kemanusiaan dari zaman Nabi Adam hingga sejarah manusia akhir
zaman (Muhammad Alim, 2006 : 208).
2.3 Mencari dan Mengajarkan Ilmu
1. Hukum Menuntut Ilmu
Apabila kita menelaah isi Al-Qur'an dan Al-Hadis, niscaya kita akan
menemukan beberapa nas yang menjelaskan kewajiban menuntut ilmu,
baik bagi laki-laki ataupun perempuan. Tujuan diwajibkannya mencari
ilmu tiada lain yaitu agar kita menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut
kejahilan atau kebodohan.
Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan
jalan bertanya, melihat, ataupun mendengar. Perintah kewajiban menuntut
ilmu terdapat dalam hadis Nabi Muhammad saw:

) .

(
"Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun
perempuan" (HR. Ibn Abdul Barr).
Dari hadis di atas dapat kita ambil pengertian, bahwa Islam
mewajibkan pemeluknya untuk menuntut ilmu, baik bagi laki-laki ataupun
3

perempuan. Dengan ilmu yang dimilikinya, seseorang dapat mengetahui


segala bentuk kemaslahatan dan jalan kemanfaatan. Dengan ilmu pula, ia
dapat menyelami hakikat alam, mengambil pelajaran dari pengalaman
yang didapati oleh umat terdahulu, baik yang berhubungan dengan
masalah-masalah akidah, ibadah, ataupun yang berhubungan dengan
persoalan keduniaan. Nabi Muhammad saw. bersabda:


() .
"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia,
wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barang siapa yang ingin (selamat dan
berbahagia) di akhirat, wajiblah ia memiliki ilmunya pula; dan barang siapa
yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-keduanya
pula" (HR.Bukhari dan Muslim).
Islam mewajibkan kita untuk menuntut berbagai macam ilmu dunia
yang memberi manfaat dan dapat menuntun kita mengenai hal-hal yang
berhubungan dengan kehidupan dunia. Hal tersebut dimaksudkan agar
tiap-tiap muslim tidak picik, dan agar setiap muslim dapat mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi
segenap manusia yang ada di dunia ini dalam batasan yang diridhai oleh
Allah swt.
Demikian pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat, karena
dengan mengetahuinya kita dapat mengambil dan menghasilkan suatu
natijah, yakni ilmu yang dapat diamalkan sesuai dengan perintah syara'.
Seorang mukallaf wajib menuntut ilmu yang bersifat ain, yaitu pada
masalah yang berkenaan dengan akidah. Hal ini dikarenakan dengan
mengetahui ilmunya, maka akidah yang melenceng dapat diluruskan.
Selain itu, seorang mukallaf juga wajib menuntut ilmu yang berkaitan
dengan kewajiban-kewajiban lain seperti salat, puasa, zakat dan haji. Di
samping itu, wajib pula bagi seorang mukallaf mempelajari ilmu akhlak,
yang mana dengannya ia dapat mengetahui adab dan sopan santun yang
harus dilaksanakan, dan tingkah laku buruk yang harus ditinggalkan.
Adapun ilmu lain yang tidak kalah pentingnya dimiliki oleh seorang
mukallaf yaitu ilmu keterampilan, yang dapat menjadi tonggak hidupnya.
4

Adapun ilmu yang tidak berkaitan dengan aktifitas keseharian, maka


yang wajib dipelajari hanya pada batas yang dibutuhkan saja. Sebagai
contoh, seseorang yang hendak memasuki gapura pernikahan, maka ia
wajib mengetahui syarat-syarat dan rukun-rukunnya serta segala sesuatu
yang diharamkan dan dihalalkan dalam menggauli istrinya.
Sedang ilmu yang wajib kifayah, maka hukum mempelajarinya
tidaklah diwajibkan bagi setiap mukallaf. Kewajiban mempelajarinya
gugur apabila salah satu dari mereka sudah ada yang mempelajarinya.
Hal tersebut dikarenakan ilmu-ilmu yang wajib kifayah hanya bersifat
sebagai pelengkap, seperti ilmu tafsir, ilmu hadis dan sebagainya.
2. Hukum Mengajarkan Ilmu
Seseorang yang telah mempelajari dan memiliki ilmu, maka yang
menjadi kewajibannya adalah mengamalkan segala ilmu yang dimilikinya,
sehingga ilmunya menjadi ilmu yang manfaat; baik manfaat bagi dirinya
sendiri ataupun manfaat bagi orang lain.
Agar ilmu yang kita miliki bermanfaat bagi orang lain, maka hendaklah
kita mengajarkannya kepada mereka. Mengajarkan ilmu-ilmu kepada
orang lain berarti memberi penerangan kepada mereka, baik dengan
uraian lisan, atau dengan melaksanakan sesuatu amal dan memberi
contoh langsung di hadapan mereka atau dengan jalan menyusun dan
mengarang buku-buku untuk dapat diambil manfaatnya.
Mengajarkan ilmu memang diperintah oleh agama, karena tidak bisa
disangkal lagi, bahwa mengajarkan ilmu adalah suatu pekerjaan yang
sangat mulia. Nabi diutus ke dunia ini pun dengan tugas mengajar,
sebagaimana sabdanya:


( ) .
Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar." (HR. Baihaqi)
Sekiranya Allah tidak mengutus Rasul untuk menjadi guru bagi
manusia, guru dunia, tentulah manusia tinggal dalam kebodohan
sepanjang masa.
Walaupun akal dan otak manusia mungkin dapat menghasilkan
berbagai ilmu pengetahuan, namun disisi lain masih ada juga hal-hal
yang tidak dapat dijangkaunya, yaitu hal-hal yang berada di luar akal
manusia. Untuk itulah Rasulullah diutus di dunia ini.

Mengingat

pentingnya

penyebaran

ilmu

pengetahuan

kepada

manusia secara luas, agar mereka tidak berada dalam kebodohan dan
kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para muallim (guru), dan
ulama untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagiaan
dunia dan akhirat. Hal tersebut dikarenakan para guru dan ulama yang
suka menyembunyikan ilmunya, maka mereka akan mendapatkan
ancaman, sebagaimana sabda Nabi saw:

( ) .
Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan
(tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangnya
(mulutnya), kelak di hari kiamat dengan kekangan (kendali) dari api neraka."
(HR. Ahmad)
Oleh karena itu, marilah kita menuntut ilmu pengetahuan, sesempat
dan sedapat mungkin dengan tidak ada hentinya, tanpa absen sampai ke
liang kubur, dengan ikhlas dan tekad akan mengamalkan dan
menyumbangkannya kepada masyarakat, agar kita semua dapat
mengenyam hasil dan buahnya.
2.4 Prinsip-prinsip Islam dalam Pengembangan IPTEK
1. Percaya bahwa alam ini diatur oleh Tuhan yang esa (al-tawhd).
2. Berpedoman kepada filsafat ilmu alam tertentu sesuai bidang kajian
3.

yang hendak diteliti atau dibahas.


Berpegang kepada sifat keuniversalan dan keumuman Al-Quran
dalam isyarat ilmiah seperti ketetapan sunnatullah atau dan hukum

alam.
4. Melakukan pembahasan yang integral dan utuh antar ayat Al-Quran
yang terkait dengan realitas.
5. Melakukan kegiatan pentakwilan ilmiah,
6. Memperhatikan corak penafsiran bayn.
7. Melakukan hubungan yang seimbang antara ayat dengan premis
ilmiah.
8. Memperhatikan hakikat ilmiah yang fleksibel.
9. Berpegang teguh kepada esensi, substansi, dan eksistensi Al-Quran
secara keseluruhan.
10. Memperhatikan hadis Nabi saw yang terkait.
2.5

Persoalan Bioakhlak dalam Pandangan Islam

2.5.1 Bayi Tabung


Bayi

tabung atau pembuahan

pembuahan yang

invitro adalah

sebuah

teknik

sel telur (ovum) dibuahi di luar tubuh wanita. Ini

merupakan salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan


ketika metode lainnya tidak berhasil.
Bayi tabung (tets tube baby) yang kita kenal adalah bayi yang
didapatkan melalui proses pembuahan yang dilakukan di luar rahim
sehingga terjadi embrio tidak secara alamiah, melainkan dengan bantuan
ilmu kedokteran (Hasan, 1998, 70).
Tekhnik inseminasi buatan
Ada beberapa teknik inseminasi buatan yang telah dikembangkan
dalam dunia kedokteran antara lain, pertama: Fertilazation in Vitro (FIV)
dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses
di Vitro (tabung) dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer ke rahim
istri. Kedua, Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil
sperma suami dan ovum istri dan setelah dicampur terjadi pembuahan,
maka segera ditanam saluran telur (tuba palupi). Teknik kedua ini terlihat
lebih alamiah, sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di tuba palupi
setelah terjadi ejakulasi melalui hubungan seksual (Utomo, 2003, 88).

2.5.2 Kloning
Kata kloning ini berasal dari kata clone kata dalam bahasa
Inggris yang berarti potongan yang digunakan untuk memperbanyak
tanaman, kloning ini pertama kali muncul dari usulan Herbert Webber
pada tahun 1903 dalam mengistilahkan sekelompok individu makhluk
hidup yang dilahirkan dari satu induk tanpa proses seksual. Secara
definisi dan pengertian, kloning adalah suatu upaya tindakan untuk
memproduksi atau menggandakan sejumlah individu yang hasilnya
secara genetic sama persis (identik) berasal dari induk yang sama,
mempunyai susunan (jumlah dan gen) yang sama.
Permasalahan

kloning

adalah

merupakan

kejadian

kontemporer

(kekinian). Dalam kajian literatur klasik belum pernah persoalan kloning


7

dibahas oleh para ulama. Oleh karenanya, rujukan yang penulis


kemukakan berkenaan dengan masalah kloning ini adalah menurut
beberapa pandangan ulama kontemporer.
Para ulama mengkaji kloning dalam pandangan hukum Islam
bermula dari ayat berikut:

..


(5 : ).
Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani,
kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan
kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki
(QS. 22/Al-Hajj: 5).
Abul Fadl Mohsin Ebrahim berpendapat dengan mengutip ayat di
atas, bahwa ayat tersebut menampakkan paradigma Al-Quran tentang
penciptan manusia mencegah tindakan-tindakan yang mengarah pada
kloning. Dari awal kehidupan hingga saat kematian, semuanya adalah
tindakan Tuhan. Segala bentuk peniruan atas tindakan-Nya dianggap
sebagai perbuatan yang melampaui batas.
Selanjutnya, ia mengutip ayat lain yang berkaitan dengan
munculnya prestasi ilmiah atas kloning manusia, apakah akan merusak
keimanan kepada Allah SWT sebagai Pencipta? Abul Fadl menyatakan
tidak, berdasarkan pada pernyataan al-Quran bahwa Allah SWT telah
menciptakan Nabi Adam As. tanpa ayah dan ibu, dan Nabi Isa As. tanpa
ayah, sebagai berikut:


(59 : ) .

Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti


(penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah
berfirman kepadanya: Jadilah (seorang manusia), maka jadilah dia (QS.
3/Ali Imran: 59).
Pada surat yang sama juga dikemukakan:



.

.


(47 -45 : ) .
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah
menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan)
dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih `Isa putera
Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orangorang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia
dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orangorang yang saleh. Maryam berkata: Ya Tuhanku, betapa mungkin aku
mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang lakilakipun. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): Demikianlah Allah
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak
menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya:
Jadilah, lalu jadilah dia (QS. 3/Ali Imran: 45-47).
Hal yang sangat jelas dalam kutipan ayat-ayat di atas adalah bahwa
segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah. Namun, kendati Allah
menciptakan sistem sebab-akibat di alam semesta ini, kita tidak boleh
lupa bahwa Dia juga telah menetapkan pengecualian-pengecualian bagi
sistem umum tersebut, seperti pada kasus penciptaan Adam As. dan
Isa As. Jika kloning manusia benar-benar menjadi kenyataan, maka itu
adalah atas kehendak Allah SWT. Semua itu, jika manipulasi
bioteknologi ini berhasil dilakukan, maka hal itu sama sekali tidak
mengurangi keimanan kita kepada Allah SWT sebagai Pencipta, karena

bahan-bahan utama yang digunakan, yakni sel somatis dan sel telur
yang belum dibuahi adalah benda ciptaan Allah SWT.
Islam mengakui hubungan suami isteri melalui perkawinan sebagai
landasan bagi pembentukan masyarakat yang diatur berdasarkan
tuntunan Tuhan. Anak-anak yang lahir dalam ikatan perkawinan
membawa komponen-komponen genetis dari kedua orang tuanya, dan
kombinasi genetis inilah yang memberi mereka identitas. Karena itu,
kegelisahan umat Islam dalam hal ini adalah bahwa replikasi genetis
semacam ini akan berakibat negatif pada hubungan suami-isteri dan
hubungan anak-orang tua, dan akan berujung pada kehancuran institusi
keluarga Islam. Lebih jauh, kloning manusia akan merenggut anak-anak
dari akar (nenek moyang) mereka serta merusak aturan hukum Islam
tentang waris yang didasarkan pada pertalian darah.
2.5.3 Operasi Ganti Kelamin
Operasi

ganti

kelamin

adalah

suatu

tindakan

atau

operasi

merekonstruksi kembali, dimana seorang laki-laki diubah secara


anatomis agar menyerupai seorang perempuan atau sebaliknya.Pada
dasarnya Allah menciptakan manusia ini dalam dua jenis saja, yaitu lakilaki dan perempuan, sebagaimana firman Allah swt:

Dan Dia (Allah) menciptakan dua pasang dari dua jenis laki-laki dan
perempuan. (Qs An Najm : 45)

Wahai manusia Kami menciptakan kamu yang terdiri dari laki-laki dan
perempuan. (Qs Al Hujurat : 13)
Kedua ayat di atas, dan ayat-ayat lainnya menunjukkan bahwa manusia
di dunia ini hanya terdiri dari dua jenis saja, laki-laki dan perempuan,
dan tidak ada jenis lainnya. Tetapi di dalam kenyataannya, kita dapatkan
seseorang tidak mempunyai status yang jelas, bukan laki-laki dan bukan
perempuan.
Alasan Dilakukannya Operasi Bedah Kelamin:
10

1. Jika ada seseorang dilahirkan biseksual dan ada kebutuhan medis


untuk

melakukan

operasi

ubah

jenis

kelamin

dengan

tujuan

mengembalikan kembali keseimbangan biologis di tubuhnya maka hal


tersebut diperbolehkan.
2. Jika ada seseorang dilahirkan sebagai laki-laki, tetapi tiba-tiba hormon
kewanitaannya lebih menonjol dibanding hormon kelelakiannya dan
untuk alasan kesehatan ia memerlukan untuk melakukan operasi ubah
jenis kelamin agar memperbaiki kekurangannya maka hal tersebut
diperbolehkan.
3. Jika ada seseorang dilahirkan dalam kondisi normal, tetapi untuk
alasan 'kesenangan' dia melakukan operasi ubah jenis kelamin maka
ia telah melakukan sebuah dosa besar yang tidak bisa diterima
menurut pandangan Islam.
2.5.4 Bedah Plastik
Operasi plastik atau dikenal dengan Plastic Surgery atau dalam
bahasa arab Jirahah Tajmil adalah bedah atau operasi yang dilakukan
untuk mempercantik atau memperbaiki satu bagian didalam anggota
badan, baik yang nampak atau tidak, dengan cara ditambah, dikurangi
atau dibuang, bertujuan untuk memperbaiki fungsi dan estetika (seni)
tubuh.
Hukum operasi plastik ada yang mubah dan ada yang haram.
Operasi plastik yang mubah adalah yang bertujuan untuk memperbaiki
cacat sejak lahir (al-uyub al-khalqiyyah) seperti bibir sumbing, atau
cacat yang datang kemudian (al-uyub al-thari`ah) akibat kecelakaan,
kebakaran,

atau

semisalnya,

seperti

wajah

yang

rusak

akibat

kebakaran/kecelakaan.
Adapun operasi plastik yang diharamkan, adalah yang bertujuan
semata untuk mempercantik atau memperindah wajah atau tubuh, tanpa
ada hajat untuk pengobatan atau memperbaiki suatu cacat. Contohnya,
operasi untuk memperindah bentuk hidung, dagu, buah dada, atau
operasi untuk menghilangkan kerutan-kerutan tanda tua di wajah, dan
sebagainya.

11

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Dalam ajaran Islam menuntut ilmu hukumnya adalah wajib baik
bagi laki-laki maupun perempuan, hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur'an
dan Al-Hadis. Tujuan diwajibkannya mencari ilmu tiada lain yaitu agar kita
menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilian atau kebodohan.
Seseorang yang telah mempelajari dan memiliki ilmu, maka
berkewajiban untuk mengamalkan segala ilmu yang dimilikinya, sehingga
ilmunya menjadi ilmu yang manfaat baik manfaat bagi dirinya sendiri
ataupun manfaat bagi orang lain.

12

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan terdapat beberapa


persoalan bioakhlak antara lain : bayi tabung, kloning, operasi ganti
kelamin dan bedah plastik. Persoalan bioakhlak tersebut diperbolehkan
oleh agama apabila bertujuan untuk kesehatan bukan didasarkan atas
kesenangan pribadi.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://prayitno-com.blogspot.co.id/2011/07/normal-0-false-false-false.html
2. http://www.definisi-pengertian.com/2015/01/definisi-dan-pengertiankloning.html
3. https://islamintegral.wordpress.com/2007/11/22/makalahprinsippengembangan-iptek-dalam-perspektif-islam/
4. Bedah%20Plastik%20Menurut%20Hukum%20Islam
%20%20%20Dinimon.com.htm
5. File:///G/AIK%20IV/Pustaka%20Arief%20%20OPERASI%20KELAMIN
%20MENURUT%20PANDANGAN%20ISLAM.htm

13

14

Beri Nilai