Anda di halaman 1dari 8

Penyebab Kegagalan

1.

Degenerasi pulpa
Saat pemeriksaan pasien mengeluhkan adanya sensitivitas pada gigi abutment
pasca insersi gigi tiruan jembatan, rasa sakit spontan atau kelainan periapikal yang
terdeteksi pada gambaran radiografi.
Penyebab:

Panas yang berlebih pada saat preparasi

Pengurangan gigi yang berlebihan

Trauma oklusal

Keterlibatan semen
2.

Kerusakan jaringan periodontal


Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya resesi gingiva, keterlibatan daerah
furkasi, pembentukan poket, dan kegoyangan gigi. Halini dapat berupa kerusakan
periodontal yang menyeluruh di rongga mulut yang mungkin berhubungan dengan
drifting gigi atau mungkin terlokalisasi pada abutment jembatan.
Penyebab :

Instruksi tidak adekuat pada prosthesis hygiene atau pasien dengan implementasi rendah

Protesa yang menghalangi oral hygiene yang baik

Adaptasi marginal buruk

Permukaan axial over kontur

Konektor terlalu besar sehingga membatasi embrasur pada servikal

Kontak pontik yang besar pada puncak edentolous

Protesa dengan permukaan yang kasar sehingga menyebabkan akumulasi plak

Trauma oklusi

Jumlah gigi abutment kurang


3.

Hilangnya facing (porcelen)


Hilangnya facing atau lapisan estetik dapat disebabkan karena :
1. Kurangnya retensi
2. Perubahan bentuk dari kerangka logam
3. Maloklusi
4. Pengolahan bahan pelapis yang salah dan keausan bahan
Hilangnya facing ini dapat diperbaiki dengan cara :
a. Retainer atau pontik. Apabila facing telah terkikis atau hilang, sebaiknya oklusi
diperiksa dengan cermat. Malam untuk mengganti bagian yang hilang dapat
membantu memperlihatkan gangguan oklusi yang terjadi. Komposit merupakan
bahan utama untuk perbaikan tambahan dan tersedia screw pin repair kit.
b. Hanya pontik. Kadang kadang rangka pontik yang ada dapat diasah menjadi bentuk
bar yang bebas dari gigi oklusi sekurang kurangnya 1 mm. Kemudian dibuat
mahkota lapis porcelen dengan kunci yang melewati mesial ke distal yang tepat
masuk pada bar dan disemen dengan semen fosfat.

Perawatan pendahuluan meliputi:

Pencabutan.
Gigi yang akan dicabut harus ditentukan dengan teliti. Setiap gigi diperiksa
apakah cukup penting dan masih dapat dipertahankan untuk keberhasilan gigitiruan yang
akan dibuat atau harus dicabut. Gigi yang cukup kuat yang akan dijadikan sandaran dapat
dipertahankan sebaliknya gigi yang dapat menimbulkan kesulitan dalam pembuatan
gigitiruan sebaiknya dicabut.

Kista dan tumor odontogenik


Semua gambaran radiolusen dan radiopak harus diselidiki. Penderita

harus

diyakinkan tentang keadaan mulutnya yang mempunyai kelainan berdasarkan laporan


akhir patologis.

Bedah periodontal
Bedah periodontal dilakukan untuk mendapatkan keadaan jaringan yang sehat
sebagai pendukung gigitiruan. Penyingkiran saku gusi dapat dilakukan dengan cara
kuretase dan eksisi surgical. Misalnya gingivectomy, reposisi flap.

Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan pendukung.


Hal ini berguna untuk mendapatkan jaringan yang sehat pada gigi yang ada
sehingga dapat memberikan dukungan dan fungsi yang baik untuk gigitiruan, antara lain:

Menghilangkan kalkulus
Menghilangkan pocket periodontal
Melakukan splinting terhadap gigi-gigi yang mobility
Memperbaiki tambalan yang tidak baik, seperti tambalan menggantung
Menghilangkan gangguan oklusal

Yang perlu diperhatikan drg saat menerima model dari tekniker

Kecekatan ( fitness/self retention ). GTC harus memiliki kecekatan yang maksudnya saat
dipasangkan bisa pas dan tidak jatuh saat dipasang di gigi hasil preparasi dan mampu
melawan gaya-gaya ringan yang berlawanan dengan arah insersi tanpa sementasi.

Marginal fitness & integrity. Diperiksa pada bagian tepi servikal restorasi menggunakan
sonde half- moon; apakah ada bagian yang terlalu pendek atau terbuka serta dilakukan
pemeriksaan mengelilingi servikal. Kemudian dilihat juga kondisi gusi, apakah mengalami
kepucatan (menandakan tepi servikal yang terlalu panjang sehingga menekan gusi). Disini
perlu dilakukan pengurangan panjang namun jangan sampai terlalu pendek yang dapat
berakibat terbukanya tepi restorasi.

Kontak proksimal. Kontak tidak boleh terlalu menekan, overhanging, atau overkontur
(terlalu ke labial atau lingual atau oklusal). Perhatikan juga efek dari ACF karena gaya ini
sangat berpengaruh terhadap kondisi inklinasi gigi. Pengecekan dilakukan dengan
menggunakan benang gigi dan dilewatkan di proksimal gigi tetangga ataupun antar GTC.
Disini benang harus mengalami hambatan ringan namun tidak sampai merobek benang.

Stabilitas dan adaptasi ke mukosa gingiva. Merupakan kedudukan pada gigi penyangga
harus tetap dan tepat, sehingga tidak goyang, memutar, ataupun terungkit meskipun tidak
diberi gaya. Untuk masalah faktor ungkit umumnya diperiksa dengan menekan salah satu
gigi penyangga. Adaptasi mukosa tentu perlu karena nantinya GTJ akan menekan gusi
meskipun ringan namun tetap tidak boleh membuat perubahan warna pada gusi yang dapat
berujung pada resesi serta untuk memaksimalkan efek self cleansing pada daerah
embrasurnya.

Penyesuaian oklusal. Pemeriksaan dilakukan menggunakan kertas artikulasi dan diletakan


di titik kontak dan titi oklusi dan suruh pasien menggigit kertas tersebut dalam kondisi
oklusi sentris. Hasil yang baik adalah tidak adanya tanda pada hasil restorasi yang
menandakan bahwa oklusi sudah nyaman dan tidak ada yang mengganjal atau
ketidaknyamanan saat beroklusi. Hal ini perlu karena ketidaknyamanan ini dapat berujung
pada gangguan sistem mastikasi.

Estetika. Syarat estetis selalu menjadi poin utama dalam setiap restorasi, khususnya pada
masa kini dimana pasien menginginkan restorasinya sewarna gigi dan seideal mungkin,
maka pada bagian yang terlihat saat tersenyum (anterior dan sebagian kecil posterior) maka
restorasi harus sewarna gigi tetangganya dan harus mengikuti kontur, anatomi, dan bentuk
normal gigi tersebut.

Cara Membuka Crown atau Bridge


1. Conservative Disassembly
Prosthesis yang tinggal tetap utuh. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengaplikasikan gaya perkusi dan traksi untuk membongkar semen
sehingga prosthesis dapat dibuka dari gigi abutment.
a. Ultrasonics
Penggunaan energi ultasonik dapat membongkar crown dan bridge
dengan

menghancurkan

semen.

Penggunaan

energi

ultrasonik

ini

biasanya berhasil dalam pembongkaran restorasi crown dan bridge


b. Pneumatic(KaVo)CORONAflex
Teknik ini dapat membongkar crown dan bridge dengan menggunakan
brass wire yang diulirkan melalui embrassure space pada bridge
sehingga membentuk suatu loop yang akan memberikan gaya untuk
mengangkat bridge.
Merupakan air-driven device yang terhubung dengan standard dental
handpiece hoses via KaVos MULTIflex coupler. Alat ini bekerja dengan
memberikan kontrol low amplitude pada ujungnya sepanjang sumbu axis
dari gigi abutment. Loop diulirkan dibawah konektor dan ujung dari crown
remover diletakkan pada bar. Dampaknya dapat diaktifasi dengan
memindahkan finger index dari pipa udara pada handpiece.
Peralatan ini juga dilengkapi dengan clamps yang dapat dipasangkan
pada crown menggunakan autopolymerization resin, sehingga dapat
melepaskan crown.

Gambar 2: Pneumatic(KaVo)CORONAflex
d. Sliding hammer
Prinsip dasar dari penggunaan sliding hammer adalah pemilihan ujung
yang

tepat

untuk

digunakan

pada

margin

crown

dan

kemudian

tahanannya didorong pada tangkai pendek, ketukan cepat dapat


melonggarkan restorasi . Variasi dari sliding hammer banyak tersedia
dipasaran.

Penguunaan

sistem

ini

terkadang

bisa

menyebabkan

ketidaknyamanan pasien dan penggunaannya terkadang tidak selalu


berhasil.

Rusaknya

margin

porselen

juga

dapat

terjadi

karena

penggunaan teknik ini.

Gambar 3: Sliding
e. Matrix bands

hammer

Penggunaan Siqveland matrix band pada crown, yang dipasangkan pada


undercut dan kemudian ditarik secara vertikal, dapat menjadi salah satu
teknik yang berhasil untuk pembongkaran crown dan bridge.
Gambar 4: Siqveland matrix band

2. Destructive disassembly
Destructive disassembly berarti melakukan pemotongan pada crown
menggunakan bur tungsten carbide diamond . Tahapannya adalah
sebagai berikut:
A. Gigi tiruan jembatan jenis cantilevered partial ini ingin digantikan
dengan gigi tiruan jembatan yang baru karena alasan estetis dan
periodontal.
B. Restorasi tersebut dibelah dengan hati-hati hingga memotong bagian
porselen, yaitu lebih mudah dilakukan pada sisi fasial dan insisal
C. Pemotongan ini dilakukan hingga mencapai bagian metal hingga
semen, sehingga ujung bur pemotong diposisikan dekat margin
gingiva
D. Bagian gingiva dilepaskan menggunakan suatu instrument
E. Seluruh bagian gigi tiruan dipotong hingga ke margin gingiva
F. Gunakan instrument seperti semen spattle untuk ditempatkan pada
bagian yang telah terpotong dan dirotasi untuk mendorong bagian
gigi tiruan agar terlepas dari gigi abutment

G. Setelah terlepas, periksa gigi abutment lalu pertimbangkan apakah


perlu dilakukan perbaikan terhadap gigi abutment dan jaringan
periodontal.