Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA TUMBUHAN
ACARA II
TEORI KEMUNGKINAN

Semester :
Ganjil 2014

Oleh :
Destomi Nurlian
A1L013153 / F

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terbentuknya individu hasil perkawinan yang dapat dilihat dalam wujud
fenotip, pada dasarnya merupakan suatu kemungkinan-kemungkinan pertemuan
antara gamet tetua jantan dan tetua betina. Keturunan hasil perkawinan tidak dapat
dipastikan begitu saja, melainkan hanya dapat diduga berdasarkan peluang yang
ada. Oleh karena itu, teori peluang sangat berhubungan erat peranannya dalam
ilmu genetika.
Evaluasi hipotesis genetik memerlukan suatu uji yang dapat mengubah
deviasi-deviasi dari suatu nilai yang diharapkan menjadi probabilitas dari
ketidaksamaan yang terjadi oleh peluang. Dalam uji peluang, juga harus
memperhatikan besarnya sample dan jumlah peubah. Uji ini yang biasa disebut
dengan uji chi-square test.
Uji chi-square bertujuan untuk mengetahui apakah data yang di peroleh dari
hasil pengamatan sesuai dengan nilai atau nilai ekspektasinya yang dapat diartikan
bahwa hasil observasinya sesuai dengan hasil teori atau tidak. Ukuran seberapa
besar nilai deviasi tersebut dapat dihitung dengan formula sebagai berikut :
X2

(o e )2
e

Dimana:
o

: pengamatan

Kriteria pengujian :
X2 hitung > X2 tabel maka hipotesis diterima

20

X2 hitung < X2 tabel maka hipotesis di tolak


Adanya teori kemungkinan dapat membantu kita dalam memprediksi sifatsifat yang akan muncul dan juga peluang dari masing-masing sifat yang akan
muncul pada hasil anakannya. Selain itu, bisa juga untuk menguji apakah hasil
persilangan dari individu yang kita silangkan sesuai dengan nisbah yang telah
ditentukan atau sesuai dengan yang diharapkan. Pada dasarnya uji chi-square
merupakan uji yang lazimnya digunakan untuk menghitung nisbah hasil
persilangan dalam dunia geerika.
Uji chi-square harus memperhatikan data sample dan peubahnya
(fenotipiknya). Peragaan sederhana dari uji chi-square adalah dengan pelemparan
koin uang logam. Dari pelemparan ini diperoleh dua peristiwa munculnya gambar
atau angka. Kegiatan peragaan ini dapat membantu kita dalam penggunaan uji
chi-square dalam bidang genetika yaitu dengan mengibaratkan gambar atau angka
sebagai sifat fenotipiknya yang kita amati
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan berlatih
menggunakan uji X2 dan dapat menggunakannya kembali untuk persilangan yang
sesungguhnya.

II.TINJAUAN PUSTAKA

21

Probabilitas atau kemungkinan pada umumnya digunakan unuk menyatakan


peristiwa yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Sehubungan dengan itu,
teori peluang sangat penting dalam mempelajari genetika. Kemungkinan atas
terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama dengan perbandingan antara
sesuatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhannya (Suryo, 1984).
Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan nisbah yang
diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda. Penggunaan teori
peluang ini memudahkan ahli genetika untuk menghitung suatu kemungkinan
hasil yang akan di dapat dari suatu persilangan. Selain itu enggunaan teori peluang
ini memungkinkan kita untuk menduga hasil yang diperoleh dari persilangan
tertentu (Crowder, 1998).
Menurut Soenartono 1988, ada beberapa dasar dari teori kemungkinan,
yaitu :
1. Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diingikan ialah sama dengan
perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhannya
2. Kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih yang masing-masing berdiri
sendiri ialah sama dengan hasil perkalian dari besarnya kemungkinan dari
peristiwa itu
3. Keungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih yang saling mempengaruhi ialah
sama dengan jumlah dari besarnya kemungkinan untuk peristiwa itu.
Uji chi-square adalah uji yang pada umumnya digunakan untuk mengetahui
apakah hasil persilangan sesuai dengan nisbah yang telah di tentukan. Uji chisquare adalh uji nyata (goodnes of fit) apakah data yang diperoleh benar
menyimpang dari nisbah yang diharapkan dengan tidak secara kebetulan.

22

Perbandingan yang diharapkan adalah berdasarkan pemisahan alel secara bebas,


pembuahan gamet secara rambang dan segregasi secara sempurna (Crowder,
1998).
Chi-square sebenarnya diharapkan untuk menghadapi data diskrit. Bilamana
digunakan untuk menyelesaikan data kontinu, maka harus dilakukan koreksi
karena kontinuitas itu. Koreksi iti adalah mengurangkan 0,5 terhadap selisih
(dalam harga mutlaknya). Koreksi itu dikenal dengan sebutan koreksi yates (Hadi,
1982).
Angka kepercayaan yang umumnya digunakan sebagai angka perbandingan
adalah 5%. Apabila nila chi-square yang diperoleh dari perhitungan lebih kecil
dari nila chi-square tabel, maka hipotesis dapat diterima. Hal ini beratri
persilangan yang kita lakukan hasilnya sesuai dengan nisbah yang telah
ditentukan atau diharapkan. Apabila nilai chi-square hitung lebih besar dari nilai
chi-square tabel maka hipotesis akan ditolak. Hal ini berarti persilngan yang kita
lakukan menyimpang dari nisbah yang telah ditentukan. Jika kita menghendaki
kepastian yang lebih besar untuk menolak hipotesis, kita dapat menggunakan
angka kepercayaan 1% atau sering dinyatakan sebagai tingkat yang sangat nyata
atau tingkat sangat signifikan (Crowder, 1982).
Uji chi-square dibuat dengan memastikan peluang bahwa penyimpangan
nisbah yang diamati dari nisbah yang diharapkan disebabkan oleh faktor
kebetulan dan tidak ada faktor lain seperti kondisi percobaan bahkan hipotesis
yang salah. Prosedur statistik biasanya meletakan kriteria sembarang untuk
menentukan berapa tingkat penyimpangan. Statistik tidak akan pernah

23

menghasilkan bukti mutlak untuk suatu hipotesis, tetapi hanya memberikan limit
ketidak pastian kepada kita (Crowder, 1982).

III. METODE PRAKTUKUM

A. Bahan dan Alat

24

Bahan yang digunakan dalam praktikun ini adalah mata uang logam dan
lembar pengamatan. Sedangkan alat yang digunakan adalah uang logam,
kalkulator dan alat tulis.
B. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Satu keping mata uang logam dilempar ke atas, lalu di catat hasilnya
(gambar atau angka). Pelemparan dilakukan 50X dan 100X. Hasil
dianalisis dengan uji X2.
2. Lakukan hal yang sama untuk kasus 2 keping uang logam yang dilempar
sekaligus serta kasus 3 keping uang logam yang dilempar sekaligus.
3. Semua data dicatat pada lembar pengamatan yang telah disediakan,
sedangkan hasil analisis ditulis pada diktat.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel I : Satu koin pelemparan 50 kali
KARAKTERISTIK YANG DIAMATI

25

29

21

50

25

25

50

(O-E-1/2)2

12,25

12,25

24,5

(|OE|)
E

0,49

0,49

0,98

X2

1,02

1,02

2,04

Lemparan 50 kali muncul angka =


2

(|OE|)
E

(|2925|)
25

= 0,49

Lemparan 50 kali muncul gambar =


2

(|OE|)
E

(|2125|)
25

= 0,49

X2hitung = 1,02+ 1,02 = 2,04


X2tabel = 3,84 , Kesimpulan X2hitung < X2tabel

Tabel II : Satu koin pelemparan 100 kali


KARAKTERISTIK YANG DIAMATI

51

49

100

26

50

50

100

(O-E-1/2)2

0,25

0,25

0,5

(|OE|)
E

0,005

0,005

0,01

X2

1,02

1,02

2,04

Lemparan 100 kali muncul angka =


2

(|OE|)
E

(|5150|)
50

= 0,005

Lemparan 100 kali muncul gambar =

(|OE| ) 2
E

(|4950|)
50

= 0,005

X2hitung = 1,02 + 1.02 = 2,04


X2tabel = 3,84
Kesimpulan X2hitung < X2tabel

Tabel III : Dua koin pelemparan 50 kali

27

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


AA

AG

GG

JUMLAH

OBSERVASI

11

28

11

50

HARAPAN

12,5

25

12,5

50

(O-E)2

2,25

2,25

13,5

(|OE|)
E

0,18

0,36

0,18

0,72

X2

0,18

0,36

0,18

0,72

Lemparan muncul AA =
2

(|OE|)
E

(|1112,5|)
12,5

= 0,18

Lemparan muncul AG =
2

(|OE|)
E

(|2825|)
25

= 0,36

Lemparan muncul GG =
2

(|OE|)
E

(|1112,5|)
12,5

= 0,18

X2hitung = 0,18 + 0, 36 + 0,18 = 0,72


X2tabel = 5,99
Kesimpulan X2hitung < X2tabel

Tabel IV : Dua koin pelemparan 100 kali

28

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


AA

AG

GG

JUMLAH

OBSERVASI

20

52

28

100

HARAPAN

25

50

25

100

(O-E)2

25

38

(|OE|)
E

0,08

0,36

1,44

X2

0,08

0,36

1,44

Lemparan muncul AA =
2

(|OE|)
E

(|2025|)
25

=1

Lwmparan muncul AG =
2

(|OE|)
E

(|5250|)
50

= 0,08

Lemparan muncul GG =
2

(|OE|)
E

(|2825|)
25

= 0,36

X2hitung = 1,00 + 0, 08 + 0,36 = 0,72


X2tabel = 5,99
Kesimpulan X2hitung < X2tabel => SIGNIFIKAN

29

Tabel V: Tiga koin50 kali LEMPARAN


KARAKTERISTIK YANG DIAMATI
AAG
AGG
GGG
JUMLAH
TOTAL
21
17
6
50

AAA
Observasi (O)

Ekspektasi (E)

6,25

18,75

18,75

6,25

50

0,0625

5,062
5

3,0625

0,0625

8,25

(|OE|)
E

0,01

0,27

0,163

0,01

0,453

X2

0,01

0,27

0,163

0,01

0,453

(|OE|)

Lemparan muncul AAA =


2

(|OE|)
E

(|66,25|)
6,25

= 0,01

Lwmparan muncul AAG =


2

(|OE|)
E

(|2118,75|)
18,75

= 0,27

Lemparan muncul AGG =


2

(|OE|)
E

(|1718,75|)
18,75

= 0,163

Lwmparan muncul GGG =


2

(|OE|)
E

(|66,25|)
6,25

= 0,01

X2hitung = 0,01 + 0,27 + 0,163 + 0,01 = 0,453

30

X2tabel = 7,82
Kesimpulan X2hitung < X2tabel => SIGNIFIKAN

Tabel VI : Tiga koin100 kali LEMPARAN


AAA

KARAKTERISTIK YANG DIAMATI


AAG
AGG
GGG
JUMLAH
TOTAL
34
32
15
100

Observasi (O)

19

Ekspektasi (E)

12,5

37,5

37,5

12,5

100

42,25

12,25

30,25

6,25

91

(|OE|)
E

3,38

0,327

0,807

0,5

5,014

X2

3,38

0,327

0,807

0,5

5,014

(|OE|)

Lemparan muncul AAA =


2

(|OE|)
E

(|1912,5|)
12,5

= 3,38

Lemparan muncul AAG =


2

(|OE|)
E

(|3437,5|)
37,5

= 0,327

Lemparan muncul AGG =


2

(|OE|)
E

(|3237,5|)
37,5

= 0,807

Lwmparan muncul GGG =

31

(|OE|)
E

(|1512,5|)
12,5

= 0,5

X2hitung = 3,38 + 0,327 + 0,807 + 0,5 = 5,014


X2tabel = 7,8

Kesimpulan X2hitung < X2tabel => SIGNIFIKAN

B. Pembahasan
Probabilitas atau peluang merupakan kemungkinan peristiwa yang
diharapkan, artinya antara yang diharapkan itu dengan peristiwa yang mungkin
terjadi terhadap suatu objek. Sebagai contoh koita dapat melakukan pelemparan
terhadap mata uang. Dari pelemparan tersebut maka dapat diperoleh kemungkinan
50% akan muncul gambar dan 50% akan muncul angka. Selain digunakan pada
ilustrasi sederhana diatas, teori probabilitas juga dapat digunakan dalam
pewarisan sifat dengan tanda beda. Ilustrasi sederhananya adalah bila AB
menghasilkan sel kelamin, maka 50% akan membentuk gamet yang mengandung
A dan B saja. Konsep dasar dari suatunteori probabilitas adalah memiliki nilai
diantara 0 dan 1 yang menggambarkan besarnya kesempatan yang akan muncul
( fenotipik ). Apabila nilai dari suatu peluang 0 berarti suatu kemungkinan
mustahil akan terjadi, apabila nilai peluang 1 maka suatu kejadian pasti akan
terjadi.
Ilmu genetika merupakan ilmu yang mengkaji keturunan. Dalam pewarisan
keturunan kita hanya bisa mengira hasil keturunan tersebut merupakan replikasi

32

dari kedua tetuanya. Dengan hanya melihat dari tetuanya saja kita tidak dapat
memastikan apakah sifat dari tetua itu diturunkan. Banyak kemungkinan yang
terjadi disini. Kemungkinan yang ada adalah apabila tetua membawa sifat resesif
maka keturunannya akan berbeda (letal). Dari sinilah timbul keterkaitan antara
teori peluang dengan pewarisan sifat. Dalam ilmu genetika, memisahkan gen
( segregasi ) dari tetua kepada anakan tidak luput dari suatu kemungkinan,
demikian pula bersatunya gamet yang membawa gen juga tidak luput dari teori
kemungkinan. Pemisahan gamet tersebut perlu diperhitungkan. Perhitungan
tersebut sudah diketahui perbandingannya dalam hukum Mendel. Dengan uji chi
square kita dapat mengetahui dan kita dapat memiliki acuan dalam melakukan
suatu persilangan. Tanpa chi square (kemungkinan) kita tidak dapat menghitung
peluang anakan dan juga kita tidak dapat melakukan hipotesis terhadap suatu
persilangan.
Berdasarkan ulasan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa teori
kemungkinan dengan ilmu genetika sangat berhubungan erat. Tanpa probabilitas
kita tidak dapat menghitung suatu kemungkinan hasil anakan dari suatu
persilangan antar tetua yang memiliki sifat beda. Tanpa probabilitas (uji chi
square) kita tidak dapat mengetes apakah rasio fenotip prakis dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan rasio fenotip teoritis.
Chi square merupakan suatu uji yang telah di ketahui banyak orang. Uji ini
biasanya digunakan pada tabel kontingensi untuk mengetahui apakah terdapat
hubungan antara dua variabel yang berasal dari sample yang berbeda. Akan tetapi
teori chi square juga memiliki keterbatasan. Keterbatasan dari chi square ini di

33

antaranya adalah uji ini sensitif terhadap banyaknya sampel yang digunakan. Uji
ini akan menjaadi kurang akurat jika terdapat nilai frekuensi harapan kurang dari
5 pada tabel kontingensi.
Menurut Agresti 2002, Uji chi square baik digunakan pada jumlah sample
yang cukup besar dan tidak efektif digunakan pada sample yang jumlahnya kecil.
Dari teori ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa jumlah sample yang
digunakan pada praktikum ini terlalu sedikit, sehingga memicu penyebab
terjadinya percobaan tidak signifikan. Jumlah sample merupakan salah satu faktor
penyebab dari percobaan ini tidak signifikan. Sejatinya, nila X 2 dikatakan
signifikan ini maksudnya sudut deviasi atau penyimpangan ini sangat kencil dan
ada faktor lain diluar faktor kemungkinan yang mengambil peranan disitu. Jika
kita kaji lebih dalam, sebenarnya dalam setiap percobaan terjadi penyimpangan,
hanya penyimpangan tersebut nilai kisarannya tinggi atau tidak. Jika nilai
penyimpangan tidak terlalu tinggi maka percobaan tersebut dikatakan menjadi
signifikan.
Tabel X2 merupakan tabel deretan angka, dimana deretan angka tersebut
merupakan angka kemungkinan. Posisi deret angka dalam tabel memiliki aturan
dan makna tersendiri. Makin ke kanan maka nilai kemungkinan itu akan menjauhi
angka 1 yang berarti hasil percobaan itu bernilai tidak baik. Makin ke kiri nilai
kemungkinan tersebut semakin mendekati nilai satu atau 100% yang berarti nilai
kesalahan dalam percobaan tersebut sedikit.
Hasil riset dari ahli statistik bahwa apabila nilai chi square yang didapat dari
perhitungan terletak dibawah kolom nilai kemungkinan 5% (0,005) atau kurang

34

dari 1% (0,01) itu berarti terdapat faktor kebetulan yang hanya berpengaruh 5%.
Dalam praktikum kali ini kita menggunakan X tabel 5% karena nilai 5% ini
menunjukan tingkat kebenaran sebesar 95%. Tingkat kebenaran dari 95% ini
sudah mendekati nilai sempurna ( mendekati 100% ), walaupun pada dasarnya
dalam pengujian teori yang ada, tidak akan mendapatkan hasil yang sama (100%)
dengan teori yang pernah dilakukan, tetapi secara matematis hanya akan
mendekati 100%. Apabila nilai yang di dapat semakin dekat dengan angka 100%
maka hipotesis tersebut dapat dikatakan mendekati sempurna ( signifikan ). Selain
itu, nilai kemungkinan 5% dianggap sebagai garis batas antara menolak dan
menerima hipotesis. Apabila nilai kemungkinan lebih besar dari 5%,
penyimpangan dari nisbah harapan tidak nyata dan apabila nilai kemungkinan
dibawah 5%, penyimpangan dari nisbah nyata dan tidak tercadi secara kebetulan
tetapi ada faktor lain yang menyebabkan penyimpangan tersebut.
Telah disebutkan diatas bahwa uji chi-square ini memiliki suatu
keterbatasan yaitu sangat sensitif terhadap banyaknya sample yang digunakan dan
metode chi-square juga di gunakan untuk menghitung data yang berskala ordinal.
Karena keterbatasan ini maka chi-square tidak bisa digunakan dalam segala
keadaan. Ada sebuah metode yang dapat melengkapi dari keterbatasan chi-square
yaitu metode korelasi Spearman.
Korelasi Spearman merupakan alat uji statistik yang digunakan untuk
menguji hipotesis asosiatif dua variabel bila datanya bersifat ordinal. Karena
digunakan pada data berkala ordinal, maka data yang akan diolah harus dibuat
dalam bentuk rank terlebih dahulu. Uji signifikan pada Spearman menggunakan

35

uji Z karena distribusinya mendekati distribusi normal. Kekuatan antara variabel


ditunjukan melalui nilai korelasi.
Nilai korelasi Spearman berada diantara -1 0 1. Bila nilai Spearman 0,
berarti tidak ada korelasi atau dapat dikatakan tidak ada hubungan antara variabel
terkait ( tidak signifikan ). Nila +1 berarti terdapat hubungan yang positif antara
variabel, sedangkan apabila nila -1 berarti terdapat hubungan yang negatif antara
variabel terkait. Dengan kata lain, tanda + dan - menunjukan arah hubungan
diantara variabel yang sedang dioperasikan. Hal ini yang tidak dimiliki pada uji
chi-square. Didalam uji chi-square hanya bernilai 0-1 dan tidak adanya hubungan
( positif atau negatif ) antar variabel.
Adapun rumus dari korelasi Spearman adalah :
= 1 (6b)/(n (n^2-1))
= nilai korelasi Spearmen
b = jumlah kuaddrat selisih rank variabel x dan y
n = jumlah sample
Sedangkan formula yang digunakan untuk uji Z adalah
Z hitung =

/ ( 1 / (n-1 ))
Kesimpulan:

Bila Z hitung > Z tabel, maka hubungan x dan y adalah signifikan.

Bila Z hitung < Z tabel, maka hubungan x dan y adalah tidak signifikan.
Hasil dari praktikum pada percobaan pertama yaitu pada pelemparan satu

keping mata uang logam mendapatkan nilai Xhitung 2,04 untuk 50X pelemparan dan
2,04 juga untuk 100x pelemparan. X tabel yang digunakan adalah 0.05 pada drajat

36

bebas 1 yaitu 3,84. Hipotesis yang dapat diambil dari percobaan ini yaitu hasilnya
signifikan karena X2hitung < X2tabel.
Hasil dari percobaan kedua yaitu dengan pelemparan dua uang logam
mendapatkan Xhitung 0,72 untuk 50X pelemparan dan 1,44 untuk 100X pelemparan.
Xtsbel yang digunakan adalah 0,05 pada drajat bebas 2 yaitu 5,99. Hipotesis yang
dapat diambil dari percobaan pelemparan dua uang logam adalah signifikan
karena X2hitung < X2tabel.
Hasil dari percobaan ketiga yaitu dengan pelemparan tiga uang logam
dengan variabel pengamatan AAA, AAG, AGG, GGG mendapatkan X hitung 0,453
untuk 50X pelemparan dan 5,014 untuk 100X pelemparan. X tabel yang digunakan
addalah 0.05 pada drajat bebas tiga yaitu 7,82. Hipotesis yang dapat diambil dari
percobaan pelemparan tiga koin uang adalah signifikan karena X2hitung < X2tabel.
Berdasarkan keseluruhan pengamatan dari 50X pelemparan satu, dua dan
tiga koin serta pelemparan 100X di dapatkan data yang signifikan karena X 2hitung <
X2tabel . Hal ini berarti sesuai dengan teori yang dikemukaan oleh Rohmana 2011,
bahwa apabila uji chi-square mendapatkan nilai X2tabel > X2hitung maka hipotesisnya
dinyatakan signifikan dan uji X2 ini memiliki peranan apakah rasio fenotip praktis
dapat dipertanggungjawabkan dengan rasio fenotip pada teoritis.

37

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Teori kemungkinan adalah dasar untuk menentukan nisbah yang
diharapkan

dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda-beda. Penggunaan

teori kemungkinan ini memungkinkan untuk menduga kemungkinan diperolehnya


suatu hasil tertentu dari suatu persilangan.
2. Probabilitas ikut mengambil peranan penting dalam ilmu genetika,
misalnya mengenai pemindahan gen-gen dari induk ke gamet keturunanny
B. Saran
Sebaiknya praktikan harus teliti dalam menghitung rumus chi-square supaya
perhitungannya cepat. Dan sbaiknya dalam melempar koin harus lebih
diperhatikan ( jangan asal ) agar hasil pelemparan maksimal.

38

DAFTAR PUSTAKA

Agresti, A. 2002. Categorical Data Analysis Second Edition. New York:


JohnWhilley and son.
.
Crowder. 1998. Genetika Tumbuhan Edisi Indonesia. UGM Press, Yogyakarta.
Hadi, S. 1982. Metodologi Research Jilid II. Andi Press, Yogyakarta.
Rohmana, T. 2011. Penggaruh Paranet terhadap Sifat Toleran Tanaman Talas.
Skripsi Pemuliaan Tanaman IPB Bogor. Page 16-19.
Soenartono. 1998. Genetika III. Erlangga, Jakarta.
Suryo. 1984. Genetika. UGM Press, Yogyakarta.

39

DAFTAR LAMPIRAN

40