Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Pada dasarnya, mata uang fungsional (mata uang pengukuran) adalah mata uang
yang digunakan dalam transaksi pengukuran. Sedangkan mata uang pelaporan adalah mata
uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan.
PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu perusahaan mengukur transaksinya
menggunakan mata uang fungsionalnya dan membolehkan perusahaan menyajikan laporan
keuangannya dengan menggunakan mata uang apa saja. Namun PSAK 10 paragraf 38 juga
menyatakan bahwa mata uang pelaporan di Indonesia adalah Rupiah.
Suatu entitas dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing dalam dua
cara. Entitas mungkin memiliki transaksi dalam mata uang asing atau memiliki kegiatan
usaha luar negeri. Di samping itu, suatu entitas dapat menyajikan laporan keuangannya
dalam mata uang asing. Tujuan dari Pernyataan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana
memasukkan transaksi-transaksi dalam mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri ke
dalam laporan keuangan suatu entitas dan bagaimana menjabarkan laporan keuangan
kedalam suatu mata uang pelaporan.
Permasalahan utama adalah nilai tukar mana yang digunakan dan bagaimana
melaporkan pengaruh dari perubahan nilai tukar dalam laporan keuangan. PSAK 10
Mengenai Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing mengatur tentang bagaimana
perlakuan dalam menggunakan valuta asing ketika terjadi transaksi-transaksi yang
ebrhubungan dengan akuntansi.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.

Financial Instrument, Transaksi Dalam Mata Uang Asing


Dewan Standar Akuntansi keuangan IAI kembali merevisi salah satu PSAK-nya,

yaitu PSAK 10 yang menggantikan PSAK 10 (1994) "Transaksi Dalam Mata Uang
Asing". PSAK 11 (1994) "Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing", dan
PSAK 52 (198) "Mata Uang Pelaporan". PSAK ini akan efektif per 1 Januari 2012.
2.2.

Tujuan Dan Lingkup


Tujuan dari dibentuknya PSAK 10 ini adalah untuk mengetahui bagaimana

memasukkan transaksi dalam mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri kedalam
laporan keuangan entitas kedalam menjabarkan laporan keuangan kedalam mata uang
penyajian.
Ruang Lingkup
1. Akuntansi transaksi dan saldo dalam mata uang asing, kecuali transaksi dan saldo
derivative (PSAK 55)
2. Menjabarkan hasil dan posisi keuangan dari kegiatan usaha luar negeri yang termasuk
dalam laoran keuangan entitas secara konsolidasi, proporsional atau metode ekuitas.
3. Menjabarkan hasil dan posisi keuangan suatu entitas ke dalam mata uang penyajian
4. Derivatif mata uang asing, kecuali derivative yang tidak termasuk lingkup PSAK 55
misal derivative yang melekat pada kontrak lain.
5. Akuntansi lindung nilai mata uang asing termasuk lindung nilai investasi di LN
6. Penyajian laporan arus kas yang timbul dari transaksi mata uang asing atau penjabaran
arus kas dari kegiatan usaha LN

2.3.

Definisi
Berikut adalah istilah yang digunakan pada PSAK 10 terkait Pengaruh Perubahan

Nilai Tukar Valuta Asing


1. Investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri adalah jumlah kepentingan
entitas pelapor dalam asset neto dari kegiatan usaha luar negeri tersebut.
2. Kegiatan usaha luar negeri adalah entitas anak, asosiasi, ventura bersama atau
cabang dari entitas pelapor yang aktiitasnya dilaksanakan di Negara yang mata
3.
4.
5.
6.
7.
8.

uangny a menggunakan mata uang selain mata uang pelapor.


Kelompok usaha adalah suatu entitas induk dan seluruh anaknya.
Kurs adalah rasio pertukaran dua mata uang
Kurs penutup adalah kurs spot pada akhir periode pelaporan
Kurs Spot adalah kurs untuk realisasi segera
Mata Uang Asing adalah mata uang selain mata uang funsional suatu entitas
Mata Uang Fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi utama

dimana entitas beroperasi.


9. Mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam penyajian
laporan keuangan.
10. Pos-pos moneter adalah unit mata uang yang dimiliki serta asset atau liabilitas
yang akan diterima atau dibayarkan dalam jumlah unit mata uang yang tetap
atau dapat ditentukan.
11. Selisih kurs adalah selisih yang dihasilkan dari penjabaran sejumlah tertentu
satu mata uang kedalam mata uang lain pada kurs yang berbeda.
2.4.

Pertimbangan Mata Uang Fungsional


Mata Uang Fungsional
Lingkungan ekonomi utama dimana sebuah entitas beroperasi adalah lingkungan

dimana entitas tersebut uta manya menghasilkan dan mengeluarkan kas. Suatu entitas
mempertimbangkan factor factor berikut dalam menentukan mata uang fungsionalnya:
1. Mata Uang:
a. yang paling mempengaruhi harga jual untuk barang dan jasa (mata uang
ini seringkali menjadi mata uang dimana harga jual untuk barang dan jasa
didenominasikan dan diselesaikan); dan
b. dari suatu negara yang kekuatan persaingan dan perundang-undangannya
sebagian besar menentukan harga jual dari barang dan jasanya.
3

2. Mata uang yang paling mempengaruhi biaya tenaga kerja, material dan biayabiaya lain dari pengadaan barang atau jasa (mata uang ini seringkali menjadi
mata uang dimana biaya-biaya tersebut didenominasikan dan diselesaikan).
Faktor-faktor berikut juga dapat memberikan bukti dari mata uang fungsional suatu
entitas:
1. Mata uang yang mana dana dari aktivitas pendanaan (antara lain penerbitan
instrumen utang dan instrumen ekuitas) dihasilkan.
2. Mata uang dalam mana penerimaan dari aktivitas operasi pada umumnya
ditahan.
Faktor-faktor berikut ini dipertimbangkan dalam menentukan mata uang fungsional
dari suatu kegiatan usaha luar negeri, dan apakah mata uang fungsionalnya sama seperti
mata uang entitas pelapor (entitas pelapor, dalam konteks ini, merupakan entitas yang
memiliki kegiatan usaha luar negeri sebagai entitas anak, cabang, entitas asosiasi atau
ventura bersama):
1. Apakah aktivitas-aktivitas dari kegiatan usaha luar negeri dilaksanakan sebagai
suatu perpanjangan dari entitas pelapor, bukan dilaksanakan dengan otonomi
yang signifikan.
2. Tinggi rendahnya proporsi kegiatan usaha luar negeri terhadap transaksi
dengan entitas pelapor.
3. Apakah arus kas dari kegiatan usaha luar negeri secara langsung
mempengaruhi arus kas entitas pelapor dan apakah arus kas tersebut siap
tersedia untuk dikirimkan ke entitas pelapor.
4. Apakah arus kas dari aktivitas-aktivitas kegiatan usaha luar negeri cukup untuk
membayar kewajiban instrumen utang yang ada ataupun yang diperkirakan
dapat terjadi tanpa adanya dana yang disediakan oleh entitas pelapor.
Mata uang fungsional suatu entitas mencerminkan transaksi, kejadian dan kondisi
yang mendasari yang relevan. Sehingga, sekali ditentukan, mata uang fungsional tidak
berubah kecuali ada perubahan pada transaksi, kejadian dan kondisi yang mendasari
tersebut.

Investasi Neto di dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri


Entitas mungkin memiliki suatu pos moneter yang merupakan tagihan dari atau
utang kepada suatu kegiatan usaha luar negeri. Suatu pos yang penyelesaiannya tidak
4

direncanakan ataupun mungkin tidak akan terjadi dimasa mendatang, pada hakekatnya
adalah bagian dari investasi neto entitas tersebut di dalam kegiatan usaha luar negeri, dan
diperlakukan sesuai dengan paragraf 30 dan 31. Pos-pos moneter ini mungkin mencakup
piutang atau utang jangka panjang. Pos-pos moneter ini tidak mencakup piutang dagang
atau utang dagang.
Pos pos Moneter
Fitur utama dari suatu pos moneter adalah hak untuk menerima (atau kewajiban
untuk menyerahkan) suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan. Contoh
yang termasuk didalamnya: pensiun dan imbalan kerja lainnya harus dibayar dalam kas,
kewajiban diestimasi yang harus diselesaikan secara kas, dan dividen kas yang diakui
sebagai kewajiban. Demikian juga, suatu kontrak untuk menerima (atau menyerahkan)
suatu jumlah variabel dari instrumen ekuitas yang dimiliki oleh entitas atau suatu jumlah
variabel dari suatu aset yang nilai wajarnya harus diterima (atau diserahkan) setara dengan
suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan, adalah merupakan suatu pos
moneter. Fitur utama dari dari suatu pos nonmoneter adalah tidak adanya hak untuk
menerima (atau kewajiban untuk menyerahkan) suatu jumlah unit mata uang yang tetap
atau dapat ditentukan.

2.5.Pelaporan Pada Tanggal Neraca


Pada setiap tanggal neraca :
1. Pos asset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan kedalam
mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tangga neraca. Apabila terdapat
kesulitaan dalam menentukan kurs tanggal neraca, dapat digunakan kurs
tengah BI sebagai indicator yang obyektif.
2. Pos nonmoneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
neraca, tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
transaksi, dan
3. Pos nonmoneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus
dilaporkan dengan menggunakankurs yang berlaku pada saat nilai tersebut
ditentukan.
2.6.Transaksi Valuta Berjangka
Salah satu transaksi valuta berjangka SWAP adalah transaksi pertukaran dua valuta
asing melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka. Pada
5

hakekatnya transaksi tersebut dilakukan untuk lebih mendapatkan kepastian tentang kurs
penjabaran yang bersifat tetap selama dalam kontrak sehingga pembuat transaksi terhindar
dari kerugian akibat perubahan kurs. Dalam transaksi SWAP pembuat transaksi umumnya
memperhitungkan premi yang ditetapkan terlebih dahulu.Perlakuan akuntansi transaksi
valuta berjangka yang dilakukan untuk tujuan hedging utang adalah sebagai berikut :
a. Selisih kurs tunai (spor rate) dan kurs masa depan (forward rate) dicatat)
sebagai diskonto atau premi yang harus diamortisasi sesuai dengan jangka
waktu kontrak valuta berjangka;
b. Setiap akhir periode harus dihitung selisih kurs untuk utang dalam mata uang
asing (yang diproteksi melalui hedging), forward receivable, dan forward
payable dalam mata uang asing. Selisih kurs yang timbul sebagai akibat
perbedaan antara kurs tanggal neraca dengan kurs tunai pada saat terjadinya
transaksi diakui sebagai keuntungan atau kerugian kurs periode berjalan;
c. Dalam neraca, forward receivable atau forward payable, dan diskonto atau
premi yang belum diamortisasi yang timbul dari kontrak valuta berjangka yang
berhubungan harus dijadikan satu dibagian asset atau kewajiban. Bergantung
pada posisi neto dari seluruh pos tersebut.
2.7.Investasi Neto Dalam Suatu Entitas Asing
Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang dalam substansinya
membentuk bagian investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus
diklasifikasikan sebagai suatu ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga saat
pelepasan (disposal) investasi neto dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan
atau beban (lihat PSAK 11).
Selisih kurs yang timbul dari kewajiban valuta asing yang diperhitungkan sebagai
hedging dari investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan
sebagai suatu ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan pelepasan (disposal) investasi
neto, dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapaan atau sebagai beban (lihak
PSAK 11)
Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam uraian selisih kurs diatas, selisih
penjabaran pada asset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca
dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dlam mata uang asing dikreditkan atau
dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan.

2.8.Perlakuan Alternative Diijinkan


Selisih kurs dapat disebabkan oleh devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata
uang dalam keadaan tidak tersedia fasilitas hedging dan menimbulkan kewajiban yang
tidak terselesaikan akibat perolehan asset yang baru saja dilakukan dan harus dilunasi
dalam mata uang asing. Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat
(carrying amount) asset sepanjang nilai tercatat asset yang disesuaikan tidak melebihi
jumlah terendah antara biaya pengganti (replacement cost) dan jumlah yang dapat
diperoleh kembali (amount recoverable) dari penjualan atau penggunaan asset tersebut.
Alternative yang dipilih harus diungkapkan secukupnya.
2.9.Pelaporan Transaksi Mata Uang Asing Ke Dalam Mata Uang Fungsional
2.9.1. Pengakuan Awal
Suatu transaksi mata uang asing adalah suatu transaksi yang didenominasikan atau
memerlukan penyelesaian dalam suatu mata uang asing, termasuk transaksi-transaksi yang
timbul ketika suatu entitas:
a. membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasikan dalam suatu
mata uang asing.
b. meminjam atau meminjamkan dana ketika jumlah yang merupakan utang atau
tagihan didenominasikan dalam suatu mata uang asing; atau
c. memperoleh atau melepas aset, atau mengadakan atau menyelesaikan kewajiban
yang didenominasikan dalam suatu mata uang asing.
2.9.2. Pelaporan Pada Akhir Periode Pelaporan Berikutnya
Jumlah tercatat dari suatu pos ditentukan sejalan dengan Pernyataan lain yang
relevan. Sebagai contoh, aset tetap dapat diukur dengan nilai wajar atau biaya historis
sesuai dengan PSAK 16: Aset Tetap. Apakah jumlah tercatat ditentukan berdasarkan biaya
historis ataupun berdasarkan nilai wajar, jika jumlah nya ditentukan dalam mata uang
asing maka kemudian dijabarkan kedalam mata uang fungsional sesuai Pernyataan ini.
a. pos moneter mata uang asing harus dijabarkan menggunakan kurs penutup;
b. pos nonmoneter yang diukur dalam biaya historis, dalam suatu mata uang asing
harus dijabarkan menggunakan nilai tukar pada tanggal transaksi; dan
c. pos nonmoneter yang diukur pada nilai wajar, dalam mata uang asing harus
dijabarkan menggunakan nilai tukar pada tanggal ketika nilai wajar ditentukan.
2.9.3. Pengakuan Selisih Nilai Tukar
Selisih nilai tukar yang timbul pada penyelesaian pos moneter atau pada penjabaran
pos moneter pada kurs yang berbeda dari kurs pada saat pos moneter tersebut dijabarkan
7

pada pengakuan awal selama periode atau pada periode laporan keuangan sebelumnya,
harus diakui dalam laba atau rugi dalam periode pada saat terjadinya.
Ketika pos moneter timbul dari transaksi mata uang asing dan terdapat perubahan
dalam nilai tukar antara tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian, terjadilah sejumlah
selisih nilai tukar. Ketika transaksi diselesaikan dalam suatu periode akuntansi yang sama
seperti saat transaksi itu terjadi, semua selisih nilai tukar diakui dalam periode itu. Namun
ketika transaksi diselesaikan dalam periode akuntansi berikutnya, selisih nilai tukar yang
diakui dalam setiap periode sampai pada tanggal penyelesaian, ditentukan dengan
perubahan pada nilai tukar selama masing-masing periode.
Ketika suatu keuntungan atau kerugian pada suatu pos nonmoneter diakui dalam
pendapatan komprehensif lain, setiap komponen perubahan dari keuntungan atau kerugian
itu harus diakui dalam pendapatan komprehensif lain. Sebaliknya, ketika keuntungan atau
kerugian pada suatu pos nonmoneter diakui dalam laba atau rugi, setiap komponen
perubahan dari keuntungan atau kerugian tersebut harus diakui dalam laba atau rugi.
Ketika suatu pos moneter membentuk bagian dari investasi neto suatu entitas
pelapor dalam suatu kegiatan usaha luar negeri dan didenominasikan dalam mata uang
fungsional dari entitas pelapor, suatu selisih nilai tukar muncul dalam laporan keuangan
individual kegiatan usaha luar negeri. Jika pos moneter tersebut didenominasikan dalam
mata uang fungsional dari kegiatan usaha luar negeri itu, selisih nilai tukar muncul di
dalam laporan keuangan terpisah suatu entitas pelapor. Jika pos moneter tersebut
didenominasikan dalam suatu mata uang selain mata uang fungsional baik entitas pelapor
atau kegiatan usaha luar negeri, suatu selisih nilai tukar muncul dalam laporan keuangan
terpisah entitas pelapor dan dalam laporan keuangan individual kegiatan usaha luar negeri.
Selisih nilai tukar tersebut diakui dalam pendapatan komprehensif lain pada laporan
keuangan yang mencakup kegiatan usaha luar negeri dan entitas pelapor (yaitu laporan
keuangan yang didalamnya kegiatan usaha luar negeri dikonsolidasikan, dikonsolidasikan
secara proporsional atau dihitung dengan menggunakan metode ekuitas).
2.9.4. Perubahan Dalam Mata Uang Fungsional
Pengaruh dari perubahan dalam mata uang fungsional diperlakukan secara
prospektif. Dalam kata lain, suatu entitas menjabarkan semua pos-pos ke dalam mata uang
fungsional yang baru menggunakan nilai tukar pada tanggal perubahan itu. Hasil dari
jumlah yang dijabarkan untuk pos nonmoneter dianggap sebagai biaya historis entitas.
Selisih nilai tukar yang timbul dari penjabaran kegiatan usaha luar negeri, yang sudah
8

diakui sebelumnya di dalam pendapatan komprehensif lain tidak dikelompokkan ulang


dari ekuitas ke dalam laba atau rugi sampai pelepasan kegiatan usaha tersebut.
2.10.

Penggunaan Mata Uang Pelaporan Selain Mata Uang Fungsional

Penjabaran dalam mata uang pelaporan


Entitas dapat menyajikan laporan keuangannya dalam mata uang (atau beberapa
mata uang) apapun. Jika mata uang penyajian berbeda dari mata uang fungsional entitas,
entitas menjabarkan hasil dan posisi keuangannya ke dalam mata uang penyajian.
Hasil dan posisi keuangan dari suatu entitas yang mata uang fungsionalnya bukan
mata uang dari suatu ekonomi hiperinfl asi1 harus dijabarkan ke dalam mata uang
pelaporan yang berbeda menggunakan prosedur sebagai berikut:
a. aset dan laibilitas untuk setiap laporan dari posisi keuangan yang disajikan (yaitu
termasuk komparatif) harus dijabarkan menggunakan kurs penutup pada tanggal
laporan dari posisi keuangan itu.
b. pendapatan dan beban untuk setiap laporan laba rugi komprehensif atau laporan
laba rugi terpisah yang disajikan (yaitu termasuk komparatif) harus dijabarkan
menggunakan nilai tukar pada tanggal transaksi; dan
c. semua hasil dari selisih nilai tukar harus diakui dalam pendapatan komprehensif
lain.
Untuk alasan praktis, suatu kurs yang mendekati nilai tukar pada tanggal transaksi,
contohnya suatu kurs rata-rata untuk periode itu, sering digunakan untuk menjabarkan pos
pos pendapatan dan beban. Bagaimanapun, jika nilai tukar berfluktuasi secara signifikan,
penggunaan kurs rata-rata untuk suatu periode adalah tidak tepat.Selisih nilai tukar
dihasilkan dari:
a. penjabaran pendapatan dan beban dengan nilai tukar pada tanggal transaksi dan
aset serta kewajiban dengan kurs penutup.
b. penjabaran saldo awal aset neto dengan kurs penutup yang berbeda dari kurs
penutup sebelumnya.
Selisih nilai tukar ini tidak diakui dalam laba atau rugi karena perubahan dalam
nilai tukar memiliki sedikit atau tidak memi- liki pengaruh langsung terhadap arus kas
sekarang dan masa depan dari kegiatan usaha. Jumlah kumulatif dari selisih nilai tukar
disajikan dalam suatu komponen terpisah dari ekuitas sampai pelepasan kegiatan usaha
luar negeri tersebut. Ketika selisih nilai tukar yang terkait dengan kegiatan usaha luar
negeri yang dikonsolidasikan tetapi tidak sepenuhnya dimiliki, akumulasi selisih nilai
9

tukar yang timbul dari penjabaran dan dapat diatribusikan kepada kepentingan
nonpengendali

dialokasikanke, dan diakui seba gai bagian dari, kepentingan

nonpengendali dalam laporan konsolidasi dari posisi keuangan.


Penjabaran Kegiatan Usaha Luar Negeri
Penggabungan dari hasil dan posisi keuangan dari suatu kegiatan usaha luar negeri
dengan entitas pelapor mengikuti prosedur konsolidasi normal, seperti eliminasi saldo
antar kelompok dan transaksi antar kelompok dari suatu entitas anak (lihat PSAK 4:
Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri dan PSAK 12:
Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama). Namun, suatu aset atau kewajiban moneter
antar kelompok, baik jangka pendek atau jangka panjang, tidak dapat dieliminasi terhadap
kewajiban atau aset antar kelompok tanpa menunjukkan hasil fluktuasi mata uang dalam
laporan keuangan konsolidasian.
Hal ini karena pos moneter menggambarkan suatu komitmen untuk mengkonversi
satu mata uang ke dalam mata uang lainnya dan mengakibatkan suatu entitas pelapor
memiliki resiko atas keuntungan atau kerugian melalui fl uktuasi mata uang. Sehingga,
dalam laporan keuangan konsolidasian dari suatu entitas pelapor, selisih nilai tukar ini
diakui dalam laba atau rugi atau, jika selisih nilai tukar ini timbul dari kondisi-kondisiyang
digambarkan dalam paragraf 30, selisih ini diakui dalampendapatan komprehensif lain dan
diakumulasikan dalam suatu komponen terpisah dari ekuitas sampai pelepasan kegiatan
usaha luar negeri.
Ketika laporan keuangan dari suatu kegiatan usaha luar negeri memiliki tanggal
yang berbeda dari entitas pelapor, kegia tan usaha luar negeri sering mempersiapkan
laporan tambahan dengan tanggal yang sama seperti laporan keuangan entitas pela por.
Ketika hal ini tidak dilakukan, PSAK 4 mengijinkan penggunaan tanggal yang berbeda
yang menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak lebih dari tiga bulan dan penyesuaian
dibuat untuk dampak dari setiap transaksi signifi kan atau kejadian lain yang terjadi antara
tanggal yang berbeda tersebut. Dalam kasus demikian, asset dan kewajiban dari kegiatan
usaha luar negeri dijabarkan pada nilai tukar pada akhir periode pelaporan dari kegiatan
usaha luar negeri itu. Penyesuaian dibuat untuk perubahan yang signifikan dalam nilai
tukar sampai akhir periode pelaporan dari entitas pelapor sesuai dengan PSAK 4.
Pendekatan yang sama digunakan dalam penerapan metode ekuitas untuk entitas asosiasi
dan ventura bersama dan dalam penerapan konsolidasi secara proporsional untuk ventura
bersama sesuai dengan PSAK 15 dan PSAK 12.
10

Pengaruh Pajak atas Semua Selisih Nilai Tukar


Keuntungan atau kerugian pada transaksi mata uang asing dan selisih nilai tukar
yang timbul pada penjabaran hasil dan posisi keuangan dari suatu entitas (termasuk suatu
kegiatan usaha luar negeri) ke dalam suatu mata uang yang berbeda mungkin memiliki
pengaruh pajak. PSAK 46 diterapkan ke pengaruh pajak ini.

2.11.

Pengungkapan

Entitas terkadang menyajikan laporan keuangannya atau informasi keuangan


lainnya dalam suatu mata uang yang bukan mata uang fungsionalnya tanpa memenuhi
persyaratanpersyaratan dari paragraf 51. Contohnya, suatu entitas dapat melakukan
konversi hanya terhadap pos-pos tertentu dari laporan keuangannya. Atau, suatu entitas
yang mata uang fungsionalnya bukan mata uang dari suatu ekonomi hiperinflasi dapat
melakukan konversi terhadap laporan keuangannya ke dalam mata uang lain dengan
menjabarkan semua pos-pos dengan kurs penutup terkini. Konversi sebagaimana disebut di
atas tidak sesuai dengan PSAK dan pengungkapan yang dijelaskan dalam paragraf 54
dipersyaratkan.
Ketika entitas menyajikan laporan keuangan atau informasi keuangan lainnya di
dalam suatu mata uang yang berbeda baik dari mata uang fungsionalnya maupun dari mata
uang pela porannya, dan persyaratan-persyaratan dari paragraf 52 tidak dipenuhi, entitas
harus:
1. Jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian untuk
periode tersebut,
2. Selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu
unsure yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan akhir
periode, dan
3. Jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam nilai
tercatat suatu asset sesuai dengan perlakuan alternative yang diijinkan.

2.12. Perbedaan Psak 10 Dengan Psak Sebelumnya


Ada 3 pokok penting yang membedakan PSAK 10 (revisi 2009) tersebut PSAK
sebelumnya:
1. Penentuan Mata Uang Fungsional
11

Point utama dari PSAK 10 (revisi 2009) adalah bagaimana penentuan mata uang
fungsional. Mata uang fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi utama
dimana

entitas

beroperasi.

Artinya

dianggap

sebagai

mata

uang

dasar (base

currency) dalam menentukan nilai tukar atau dalam perhitungan selisih kurs. Sebagai
contoh, apabila berdasarkan fakta substansi ekonomi mata uang fungsional perusahaan
adalah Dolar Amerika, maka mata uang selain Dolar Amerika dianggap sebagai mata uang
non fungsional, sehingga semua transaksi dalam mata uang non fungsional harus
ditranslasikan ke mata uang fungsional.
Banyak Perusahaan-perusahaan di Indonesia khususnya Perusahaan Modal Asing
(PMA) yang melakukan hampir keseluruhan transaksi penjualan dan pembeliannya dengan
menggunakan mata uang selain Rupiah dan penerimaannya aktivitas operasinya juga
bukan mata uang Rupiah, intinya mata uang yang ada di dominasi oleh mata uang selain
Rupiah namun menggunakan mata uang fungsionalnya adalah Rupiah.
Oleh karena itu, dalam penentuan mata uang fungsional tingkat relevansi dan
keandalan harus diperoleh, misalnya melalui pemberian bobot pada masing-masing
12

indikator tersebut di atas, kemudian atas bobot indkator individu ini ditentukan bobot
secara keseluruhan. Jika dari hasil pembobotan disimpulkan bahwa mata uang selain
Rupiah yang paling dominan digunakan sebagai mata uang fungsional maka sudah tidak
relevan lagi bagi Perusahaan tersebut untuk menggunakan Rupiah sebagai mata uang
fungsionalnya, sehingga harus dilakukan perubahan mata uang fungsional.
2. Perubahan dalam mata Uang Fungsional

Maka dari itu per 1 Januari 2012 sejak PSAK 10 (revisi 2009) ini berlaku, maka
setiap Perusahaan yang sebelumnya menggunakan mata uang fungsional Rupiah, harus
melakukan review ulang kembali atas mata uang fungsional, jika dari hasil review tersebut
menyatakan bahwa indikator-indikator yang telah disebutkan diatas terpenuhi, maka harus
dilakukan perubahan mata uang fungsionalnya, yang telah diatur dalam PSAK 10 (revisi
2009), penjabaran untuk mata uang fungsional secara prospektif sejak tanggal perubahan.
Dalam kata lain, entitas menjabarkan semua pos kedalam mata uang fungsional yang baru
menggunakan kurs pada tanggal perubahan itu. Hasil dari jumlah yang dijabarkan untuk
pos non moneter dianggap sebagai biaya historisnya seperti aset tetap dan persediaan.

3. Pengukuran dan Penyajian Mata Uang

Sesuai PSAK 10 (revisi 2009) maka suatu perusahaan dalam menyusun laporan
keuangan antara pengukuran dengan penyajian dapat menggunakan mata uang fungsional
yang sama namun dapat juga dapat menyajikan laporan keuangan dengan mata uang
fungsional yang berbeda yang digunakan dalam pengukurannya tentunya setelah dilakukan
penjabaran hasil usaha dan posisi keuangannya ke dalam mata uang penyajian
13

sebagaimana diatur dalam PSAK 10 (revisi 2009) Misalkan Suatu Perusahaan


memutuskan untuk menggunakan mata uang fungsional menggunakan Dolar Amerika
Serikat, maka seluruh transaksi diluar mata uang fungsional harus dibukukan
menggunakan kurs tanggal transaksi, begitu juga untuk pos moneter setiap akhir bulan
dilakukan translasi menggunakan kurs akhir bulan sehingga terdapat pengakuan laba/(rugi)
selisih kurs, Namun untuk penyajian dalam Laporan Keuangan diperbolehkan menyajikan
Laporan Keuangan menggunakan Mata uang fungsionalnya yaitu Dolar Amerika Serikat
dan juga diperbolehkan menggunakan mata uang yang berbeda dengan mata uang
fungsionalnya misalkan penyajian menggunakan mata uang Rupiah tentunya setelah
dilakukan penjabaran hasil usaha dan posisi keuangannya ke dalam mata uang penyajian.
Hal tersebut berbeda dengan penerapan PSAK sebelumnya dimana pengukuran dan
penyajian mata uang menggunakan Rupiah, Entitas dapat menggunakan mata uang selain
Rupiah jika mata uang tersebut memenuhi kriteria sebagai mata uang fungsional.

2.1.3. Dampak Penerapan Psak 10 Terhadap Perpajakan


Di Indonesia sendiri pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan satuan
mata uang selain Rupiah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No.196/PMK.03/2007
tentang Tata Cara Penyelengaraan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Asing dan
Satuan Mata Uang selain Rupiah serta Kewajiban Penyampaian Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan, didalam Pasal 4 disebutkan bahwa
penyelengaraan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat Wajib Pajak harus terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari
Menteri Keuangan, kecuali bagi Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya atau Wajib
Pajak dalam rangka Kontraktor Kontrak Kerja Sama, dan di dalam Pasal 10 ayat 1
disebutkan bahwa Dalam hal Wajib Pajak yang tidak memperoleh izin tertulis untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat, tetapi tetap menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, terhadap Wajib Pajak
tersebut diperlakukan sebagai Wajib Pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 Undang-Undang KUP.
Oleh karena itu, mengantisipai kondisi tersebut jika suatu Perusahaan akan
melakukan perubahan mata uang fungsionalnya karena telah memenuhi kriteria dari PSAK
10 (revisi 2009) namun terkendala karena belum mendapatkan izin dari Menteri
14

Keuangan, maka Perusahaan harus mempunyai dua pencatatan yaitu pembukuan dengan
mata uang Rupiah dan pembukuan dengan mata uang asing, untuk memudahkan bagi
Perusahaan dalam melakukan kewajiban perpajakannya dan taat kepada peraturan yang
ada di Indonesia.
Perubahan pada PSAK 10 yang akan berlaku efektif tahun 2012 terkait masalah
functional currency yaitu mata uang yang digunakan dalam kegiatan operasional
perusahaan. Pada perubahan terbaru, functional currency tidak harus dalam rupiah.
Perusahaan bisa mencatat kegiatan operasional sehari-hari dalam mata uang apapun.
Perusahaan wajib mengkonversi dalam rupiah atau dolar setiap laporan keuangan yang
akan dilaporkan ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP), seperti tertuang dalma PMK
196/PMK.03/2007 mengenai tata cara pembukuan dalam bahasa asing dan mata uang
hanya Dollar Amerika Serikat. Hal ini berkebalikan dengan PSAK 10 setiap laporan
keuangan yang memperbolehkan menggunakan mata uang apa pun, tergantung seringnya
perusahaan tersebut menggunakan mata uang asing lain dalam setiap transaksinya.

2.1.4. Ketentuan Transisi


Pada saat pernyataan ini diterapkan, perusahaan harus mengklasifikasikan secara
terpisah dan mengungkapkan saldo kumulatif, pada awal periode, selisih kurs yang
ditangguhkan dan diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam periode sebelumnya, kecuali jika
jumlah tersebut tidak dpat ditentukan secara wajar. Dalam hal tersebut perlu dijelaskan
alasannya.
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Akuntansi Atas Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing


PT. Pertamina (Persero) mulai tahun 2012 akan menyajikan laporan keuangan
menggunakan US Dolar, tidak lagi menggunakan rupiah. Penggunaan mata uang US Dolar
untuk BUMN terbesar yang dimiliki oleh bangsa ini terkadang menimbulkan rasa
nasionalisme kita. Namun sebagai perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik
signifikan bahkan telah menerbitkan surat berharga (global bonds) di pasar modal

15

Singapura, Pertamina tidak dapat menghindar dari kewajiban untuk menerapkan PSAK 10
tentang Pengaruh Perubahan Selisih Kurs yang mulai berlaku efektif 1 Januari 2012.
PSAK 10 mengatur pengaruh selisih kurs atas transaksi dalam mata uang asing dan
penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing. Bagian awal PSAK 10 mengatur
tentang mata uang fungsional. Pengaturan mata uang asing sebelum adopsi IFRS diatur
dalam 3 PSAK dan 1 ISAK yaitu, PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing, PSAK 11:
Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing, PSAK 52: Mata Uang Pelaporan
dan ISAK 4: Interprestasi atas Paragraf 20 PSAK 10 tentang Alternatif Pelakuan yang
diizinkan atas selisih kurs. Otomotis standard an intepretasi tersebut tidak berlaku lagi.
Dalam penjabaran mata uang asing ke dalam mata uang fungsional, perlakuan
akuntansi dibedakan atas pos moneter dan pos non moneter. Pos moneter adalah pos yang
memiliki konsekuensi penerimaan atau pengeluaran kas di masa mendatang sesuai dengan
jumlah yang dicantumkan dalam mata uang asing tersebut , misal tagihan, liabilitas dan
investasi dalam obligasi. Pos selain moneter dikategorikan sebagai pos non moneter.
Perusahaan seringkali melakukan transaksi mata uang asing atau mata uang selain
mata uang fungsional. Pada saat pengakuan awal, transaksi mata uang asing harus dicatat
dengan menggunakan mata uang fungsional. Jumlah mata uang asing dihitiung dalam mata
uang fungsional dengan menggunakan kurs spot pada tanggal transaksi. Pada tanggal
pelaporan, pos moneter akan dinyatakan dalam mata uang fungsional dengan
menggunakan kurs tanggal neraca. Pos non moneter dicatat dengan menggunakan kurs
historis sehingga tidak perlu disesuaikan dengan kurs pada tanggal pelaporan.
Perlakuan transaksi yang terjadi dengan menggunakan mata uang asing yaitu selain
mata fungsionalnya. Pada awal transaksi tersebut terjadi maka entitas harus mencatat
transaksi mata uang asing dengan menggunakan kurs pada tanggal transaksi.

pos moneter mata uang asing dijabarkan menggunakan kurs penutup;

pos nonmoneter yang diukur dalam biaya historis, dalam mata uang asing
dijabarkan menggunakan kurs pada tanggal transaksi; dan

pos nonmoneter yang diukur pada nilai wajar, dalam mata uang asing dijabarkan
menggunakan kurs pada tanggal ketika nilai wajar ditentukan.

Penerapan - Aset tetap

Aset tetap dapat ditentukan berdasarkan biaya historis ataupun berdasarkan nilai
wajar, jika jumlahnya ditentukan dalam mata uang asing, maka kemudian dijabarkan
kedalam mata uang fusional
16

Ketika beberapa nilai tukar tersedia, kurs yang digunakan adalah kurs di mana arus
kas masa depan diselesaikan jika arus kas tersebut telah terjadi pada tanggal
pengukuran.

Selisih kurs

Selisih kursyang timbul pada penyelesaian pos moneter atau pada prose penjabaran
pos moneter pada kurs yang berbeda dari kurs pada saat pos moneter tersebut
dijabarkan, pada pengakuan awal selama periode atau pada periode laporan keuangan
sebelumnya, diakui dalam laba atau rugi dalam periode pada saat terjadinya, kecuali
sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 32.

Selisih nilai tukar - komprehensif

Jika keuntungan atau kerugian pos nonmoneter diakui dalam pendapatan


komprehensif lain, setiap komponen perubahan dari keuntungan atau kerugian itu
diakui dalam pendapatan komprehensif lain.

Sebaliknya, jika keuntungan atau kerugian pos nonmoneter diakui dalam laba atau
rugi, maka setiap komponen keuntungan atau kerugian tersebut diakui dalam laba atau
rugi.

Selisih nilai tukar investasi neto

Selisih kurs yang timbul pada pos moneter yang membentuk bagian dari investasi
neto entitas pelapor dalam suatu kegiatan usaha luar negeri, diakui dalam laba atau
rugi dalam laporan keuangan tersendiri dari entitas pelapor (PSAK 4) atau laporan
keuangan individual dari kegiatan usaha luar negeri, yang mana yang tepat.

Dalam laporan keuangan yang memasukkan kegiatan usaha luar negeri dan entitas
pelapor (konsolidasi), selisih selisih kurs diakui awalnya dalam pendapatan
komprehensif lain dan direklasifikasi dari ekuitas ke laba atau rugi pada saat
pelepasan investasi neto sesuai dengan paragraf 46.

PSAK 46 diterapkan ke pengaruh pajak ini.


1.

Pengungkapan - 1
jumlah dari selisih kurs yang diakui dalam laba rugi kecuali untuk selisih kurs yang
timbul pada instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajarnya melalui laba atau
rugi PSAK 55 (revisi 2006), dan selisih kurs neto diakui dalam pendapatan
komprehensif lain dan diakumulasikan dalam komponen ekuitas terpisah, serta
rekonsiliasi kurs tersebut pada awal dan akhir periode.
17

2.
Pengungkapan - 2
Jika mata uang pelaporan berbeda dari mata uang fungsional, maka fakta tersebut
dinyatakan, bersama dengan pengungkapan mata uang fungsional dan alasan untuk
menggunakan suatu mata uang pelaporan yang berbeda.Ketika terdapat suatu perubahan
dalam mata uang fungsional dari entitas pelapor maupun dari suatu kegiatan usaha luar
negeri yang signifikan, fakta tersebut dan alasan untuk perubahan dalam mata uang
fungsional harus diungkapkan.
3.
Pengungkapan - 3
Ketika entitas menyajikan laporan keuangan dalam mata uang yang berbeda dengan mata
fungsionalnya, maka entitas menjelaskan bahwa laporan keuangan mereka tunduk pada
SAK hanya jika entitas mematuhi semua persyaratan dari setiap Pernyataan dan setiap
Interpretasi dari Pernyataan yang berlaku termasuk metode penjabaran sebagaimana
dijelaskan dalam paragraf 37.
4.

5.

Pengungkapan - 4
Entitas menyajikan laporan keuangan dalam mata uang yang berbeda dari mata uang
fungsionalnya maupun dari mata uang pelaporannya, dan persyaratan-persyaratan dari
paragraf 52 tidak dipenuhi, entitas:
a.
mengidentifikasikan secara jelas informasi sebagai informasi tambahan
untuk membedakannya dari informasi yang tunduk dengan PSAK;
b.
mengungkapkan mata uang di mana informasi tambahan tersebut disajikan;
dan
c.
mengungkapkan mata uang fungsional entitas dan metode penjabaran yang
digunakan untuk menentukan informasi tambahan.
Tanggal Efektif dan Transisi

Pernyataan ini diterapkan untuk periode tahunan yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2012.
1.

Goodwill dan penyesuaian nilai wajar dinyatakan didalam mata uang fungsional
entitas atau merupakan pos nonmoneter dalam mata uang asing, dilaporkan
menggunakan kurs pada tanggal akuisisi.

2.

Entitas harus menerapkan paragraf 43 secara prospektif untuk semua akuisisi yang
terjadi setelah awal dari periode ldi mana Pernyataan ini pertama kali diterapkan.

3.

Pernyataan ini menghapus devaluasi atau depresiasi luar biasa. Perubahan ini
diterapkan secara prospektif.

4.

Perubahan lain yang dihasilkan dari penerapan Pernyataan ini harus diperlakukan
sesuai dengan Persyaratan dari PSAK 25.
18

BAB IV
KESIMPULAN

Valuta Asing memudahkan transaksi yang dilakukan antar dua pihak dengan
penggunaan mata uang yang tdiak sama untuk melakukan transaksi. Pengukuran dan
pengungkapan yang diterpakan dengan menggunakan valuta asing diatur dalam PSAK 10
ini. Ketika terdapat suatu perubahan dalam mata uang fungsional dari entitas pelapor
maupun dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang signifi kan, fakta tersebut dan alasan
untuk perubahan dalam mata uang fungsional harus diungkapkan.

19

Pengaturan mengenai valuta asing ini juga terkait pada saat entitas menyajikan
laporan keuangannya dalam suatu mata uang yang berbeda dari mata uang fungsionalnya,
entitas harus menjelaskan bahwa laporan keuangan mereka tunduk pada SAK hanya jika
entitas mematuhi semua persyaratan dari setiap Pernyataan dan setiap Interpretasi dari
Pernyataan yang berlaku termasuk metode penjabaran.

DAFTAR PUSTAKA

PSAK 10
Martini, Dwi. 2015. Perngaruh Kurs Valuta Asing. Staf pengajar Akuntansi FEUI, anggota
tim implementasi IFRS

20