Anda di halaman 1dari 5

AKULTURASI DAN PERKEMBANGAN BUDAYA ISLAM

DALAM SISTEM KALENDER

Pada zaman Khalifah Umar bin Khatab ditetapkan kalender Islam dengan perhitungan
atas dasar peredaran bulan yang disebut tahun Hijriah. Tahun 1 Hijrah (H) bertepatan dengan
tahun 622 M. Sementara itu, di Indonesia pada saat yang sama telah menggunakan
perhitungan tahun Saka (S) yang didasarkan atas peredaran matahari. Tahun 1 Saka
bertepatan dengan tahun 78 M.
Pada tahun 1633 M, Sultan Agung raja terbesar Mataram menetapkan berlakuknya
tahun Jawa (tahun Nusantara) atas dasar perhitungan bulan ( 1 tahun =354 hari). Dengan
masuknya Islam maka muncul sistem kalender Islam dengan menggunakan nama-nama
bulan, seperti Muharram (bulan Jawa; Sura),Shafar (bulan Jawa; Sapar), dan sebagainya
sampai dengan Dzulhijah (bulan Jawa; Besar) dengan tahun Hijrah (H).
ketika islam baru masuk ke indonesia, khususnya di jawa berlaku hitungan tahun
dengan menggunakan tahun saka. Namun pada saat islam masuk mulai berkembang di jawa
hitungan tahun saka dengan tahun hijriah saling mengisi atau paling mempengaruhi. Proses
akulturasi ini menimbulkan kebudayaan baru yang disebut tahun jawa islam yang
hitungannya dimulai bukan Sura berakhir pada bulan Besar.
Sistem penanggalan yang dipakai sudah memiliki tuntunan jelas di dalam Al Qur'an,
yaitu sistem kalender bulan (qomariyah). Nama-nama bulan yang dipakai adalah nama-nama
bulan yang memang berlaku di kalangan kaum Quraisy di masa kenabian. Namun ketetapan
Allah menghapus adanya praktek interkalasi (Nasi'). Praktek Nasi' memungkinkan kaum
Quraisy menambahkan bulan ke-13 atau lebih tepatnya memperpanjang satu bulan tertentu
selama 2 bulan pada setiap sekitar 3 tahun agar bulan-bulan qomariyah tersebut selaras
dengan perputaran musim atau matahari. Karena itu pula, arti nama-nama bulan di dalam
kalender qomariyah tersebut beberapa di antaranya menunjukkan kondisi musim. Misalnya,
Rabi'ul Awwal artinya musim semi yang pertama. Ramadhan artinya musim panas.
Praktek Nasi' ini juga dilakukan atau disalahgunakan oleh kaum Quraisy agar
memperoleh keuntungan dengan datangnya jamaah haji pada musim yang sama di tiap tahun
di mana mereka bisa mengambil keuntungan perniagaan yang lebih besar. Praktek ini juga
berdampak pada ketidakjelasan masa bulan-bulan Haram. Pada tahun ke-10 setelah hijrah,
Allah menurunkan ayat yang melarang praktek Nasi' ini:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan
haram..." [At Taubah (9): 38]
"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah
kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka
menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar
mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka
mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah... " [At Taubah (9): 39]
Dalam satu tahun ada 12 bulan dan mereka adalah:
1. Muharram
2. Shafar
3. Rabi'ul Awal
4. Rabi'ul Akhir
5. Jumadil Awal
6. Jumadil Akhir
7. Rajab
8. Sya'ban
9. Ramadhan
10. Syawal
11. Dzulqa'idah
12. Dzulhijjah

Sedangkan 4 bulan Haram, di mana peperangan atau pertumpahan darah di larang,


adalah: Dzulqa'idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Peristiwa Hijrah sebagai tonggak Kalender Islam


Masalah selanjutnya adalah menentukan awal penghitungan kalender islam ini.
Apakah akan memakai tahun kelahiran Nabi Muhammad saw., seperti orang Nasrani?
Apakah saat kematian beliau? Ataukah saat Nabi diangkat menjadi Rasul atau turunnya Al
Qur'an? Ataukah saat kemenangan kaum muslimin dalam peperangan? Ternyata pilihan
majelis Khalifah 'Umar tersebut adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrah. Karena itulah,
kalender islam ini biasa dikenal juga sebagai kalender hijriyah. Kalender tersebut dimulai
pada 1 Muharram tahun peristiwa Hijrah atau bertepatan dengan 16 Juli 662 M. Peristiwa
hijrah Nabi saw. sendiri berlangsung pada bulan Rabi'ul Awal 1 H atau September 622 M.

Pemilihan peristiwa Hijrah ini sebagai tonggak awal penanggalan islam memiliki
makna yang amat dalam. Seolah-olah para sahabat yang menentukan pembentukan kalender
islam tersebut memperoleh petunjuk langsung dari Allah. Seperti Nadwi yang berkomentar:
"Ia (kalender islam) dimulai dengan Hijrah, atau pengorbanan demi kebenaran dan
keberlangsungan Risalah. Ia adalah ilham ilahiyah. Allah ingin mengajarkan manusia bahwa
peperangan antara kebenaran dan kebatilan akan berlangsung terus. Kalender islam
mengingatkan kaum muslimin setiap tahun bukan kepada kejayaan dan kebesaran islam
namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar
melakukan hal yang sama."

Sistem Penanggalan Kalender Jawa


Lambang
Lambang merupakan jarak waktu 8 tahunan, terdapat 2 macam Lambang :
1. Langkir (8 tahun)
2. Kulawu (8 tahun)
Siklus total dari Lambang adalah 16 tahun. Pergantian antara satu Lambang dengan Lambang
yang lain ditentukan pada setiap tanggal 1 sura tahun Alip (Lihat sistem tahun).
Windu
Sama seperti lambang, windu mempunyai jarak waktu atau umur 8 tahun, terdapat 4 macam
Windu.
1. Adi (8 tahun)
2. Kuntara (8 tahun)
3. Sengara (8 tahun)
4. Sancaya (8 tahun)
Siklus total dari seluruh windu adalah 32 tahun. Pergantian antara satu windu dengan yang
lain adalah sama dengan lambang yaitu dimulai dari tahun Alip dan berakhir pada tahun
Jumakir. Bila di gabungkan antara lambang dan windu maka siklus keduanya adalah sebagai

berikut : Windu Adi, lambang Langkir -> Windu Kunthara, lambang Kulawu -> Windu
Sengara, lambang Langkir -> dan Windu Sancaya, lambang Kulawu.
Masing-masing Windu memiliki arti sendiri-sendiri. Windu Adi memiliki artu utama, Windu
Kuntara memiliki arti kelakuan, Sengara dapat berarti banjir sedangkan Sanjata adalah
kekumpulan (persahabatan).
Tahun
Terdapat 8 macam tahun menurut kalender jawa, 8 tahun ini memiliki umur antara 354 dan
355 hari
1. Alip (354 hari)
2. Ehe (355 hari)
3. Jimawal (354 hari)
4. Je (355 hari)
5. Dal (354 hari)
6. Be (354 hari)
7. Wawu (354 hari)
8. Jimakir (355 hari)
Jumlah hari pada table diatas tidaklah mutlak, karena pada akhirnya untuk menentukan
tanggal 1 Sura, biasanya penanggalan jawa mengikuti sistem Hijriah. Seperti halnya Windo
setiap tahun memiliki arti sendiri : Alip berarti mulai berniat, Ehe artinya melakukan,
Jimawal artinya pekerjaan, Je artinya nasih, Dal artinya hidup, Be artinya selalu kembali,
Wawu artinya kearah dan Jimakir artinya kosong.
Bulan
Seperti bulan Hijriah atau Masehi, maka penanggalan Jawa juga menganut sistem dengan 12
bulan, jumlah harinya antara 29 dan 30 (mengikuti siklus bulan).
1. Sura (30 hari)
2. Sapar ((Dal) 29/30 hari)
3. Mulud (30 hari)
4. Bakdamulud (29 hari)

5. Jumadilawal ((Dal) 29/30 hari)


6. Julmadilakhir ((Dal) 30/29 hari)
7. Rejeb (30 hari)
8. Ruwah (29 hari)
9. Pasa (30 hari)
10. Sawal (29 hari)
11. Sela (30 hari)
12. Besar (29/(Tahun kabisat) 30 hari)
Terdapat bulan yang berubah jumlah harinya berdasarkan tahun Dal atau tidak : Sapar,
Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakhir. Dan ada juga yang berubah karena merupakan
tahun kabisat yaitu Besar.