Anda di halaman 1dari 7

Pembahasan

Pada kasus diatas, dari identitas awal sebagai seorang dokter, faktor resiko yang
dipikirkan adalah penyakit yang berhubungan dengan bakteri. Setelah diobservasi secara
sepintas, tampak gangguan berupa obstruksi pernapasan. Dari keluhan-keluhan yang dikatakan
pasien, yaitu sesak nafas, batuk-batuk yang kadang kering kadang berdahak, berat badan turun,
letih, lesu, tidak nafsu makan, demam, dan dahak yang kadang disertai darah didapati
kemungkinan terserang penyakit Tuberculosis, Pneumonia, efusi pleura, dan kanker paru. Untuk
memperkuat dugaan dilakukan anamnesis untuk memperoleh informasi yang lebih jelas dari
pasien baik autoanamnesis maupun alloanamnesis.1
Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara untuk mengetahui
riwayat timbulnya keluhan atau tanda-tanda pada tubuh pasien yang diingat, diketahui, dan
diyakini atau diperkirakan pasien yang menyebabkan penyakit itu menimpanya.2
Adapun sistematika anamnesis adalah:
1. Riwayat penyakit sekarang
Merupakan bagian anamnesis terpenting, karena dapat memberikan gambaran jelas
tentang penyakit yang diderita pasien. RPS harus ditulis secara kronologis, lengkap tapi
singkat, jelas dan terdiri dari 5 alinea dan terdiri dari 3 bagian, yaitu keluhan utama,
keluhan tambahan dan perjalanan penyakit. Keluhan utama adalah keluhan atau gejala
yang menyebabkan pasien dibawa berobat. Keluhan tambahan merupakan keluhan lain
yang timbul disamping keluhan utama, seperti gejala-gejala lain yang timbul. Keluhan
yang diceritakan oleh pasien harus dicatat sesuai dalam istilah yang diceritakan oleh
pasien sendiri atau apa adanya. Setelah mengetahui keluhan utama dan keluhan tambahan

dari pasien, kita bisa mencari perjalanan penyakit sejak saat keluhan timbul hingga pasien
datang berobat.
2. Riwayat penyakit dahulu
Adalah penyakit-penyakit yang jelas diagnosisnya bagi pasien maupun dokternya yang
pernah diderita pasien dahulu untuk menetahui ada atau tidaknya hal tersebut yang
menimbulkan penyakit sekarang atau memperberat penyakit sekarang.
3. Riwayat penyakit dalam keluarga
Adalah penyakit keturunan atau familier yang terdapat dalam keluarga pasien (sedarah)
atau penyakit menular pada orang-orang amat dekat hidupnya, atau berhubungan dengan
pasien yang karenanya memungkinkan pasien dapat menderita hal yang sama.
4. Riwayat hidup/ data pribadi dan kebiasaan-kebiasaan
Adalah hal-hal penting dalam perjalanan kehidupan pasien serta kebiasaan-kebiasaan
dalam hidupnya yang mungkin berpengaruh terhadap timbulnya penyakit pasien sekarang
atau yang dapat menjadi penyulit dalam upaya pengobatan atau penyembuhan pasien.3
Tinjauan keluhan menurut sistem adalah keluhan-keluhan pasien yang lain yang tidak
termasuk keluhan sekarang yang hendak diobati, yang diurut menurut sistem-sistem dalam
tubuh.
Pada pasien ini, anamnesis dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan seperti:

Sudah berapa lama mengalami keluhan-keluhan tersebut?


Apakah ada anggota keluarga yang mengalami penyakit serupa?
Apakah ada perasaan mual?
Apakah muntah atau diare?
Bagaimana keadaan di lingkungan sekitar? Apakah ada yang terjangkit penyakit

serupa?
Apakah pernah dirawat di ICU dalam jangka waktu lama sebelumnya?
Apakah pernah menderita penyakit Tuberculosis sebelumnya?

Setelah melalui proses-proses di atas dan mendapatkan data-data yang lengkap mengenai
penyakit yang diderita pasien, pada kasus ini kami mendapat diagnosis sementara bahwa pasien
menderita Tuberculosis Paru.
Tuberculosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Micobacterium
tuberculosis dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh
hipersensitivitas yang diperantarai sel. Penyakit biasanya terletak di paru, tetapi dapat mengenai
organ lain. Dengan tidak adanya pengobatan yang efektif untuk penyakit yang aktif, biasa terjadi
perjalanan penyakit yang kronik, dan berakhir dengan kematian.
Dalam setiap kasus, disamping mendapatkan diagnosis sementara, kita juga harus
memiliki diagnosis banding. Diagnosis banding adalah penyakit-penyakit yang mempunyai
persamaan gejala dan atau tanda tertentu.
Pada kasus ini diagnosis banding yang kita dapatkan antara lain1,3 :
Untuk menyingkirkan diagnosis banding dan menegakkan diagnosis perlu dilakukan
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan jasmani dilakukan dengan
menggunakan seluruh panca indera dokter dan alat-alat sederhana, seperti termometer,
tensimeter, lampu senter, palu reflex, spatel lidah meteran, stethoskop. Pemeriksaan jasmani
dilakukan secara berurutan yaitu inspeksi (memeriksa dengan melihat), palpasi (memeriksa
dengan meraba), perkusi (memeriksa dengan mengetuk), auskultasi (memeriksa dengan
mendengar dengan bantuan stethoskop). Pemeriksaan pasien harus dilakukan secara sistematik
dan hasilnya dicatat dalam status.3
Tidak jarang untuk melengkapi pemeriksaan diperlukan pemeriksaan penunjang, seperti
kimia darah, serologic, bakteriologik, pencitraan (radiologis), termasuk foto sinar x,

elektrokardiografi, dan lain-lain.3 Pada kasus ini, pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan
adalah pemeriksaan sputum dan tes tuberculin. Pemeriksaan sputum adalah penting karena
dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat di pastikan1.

Cara pemeriksaan sediaan sputum yang dapat dilakukan adalah :


Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa.
Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop fluoresens (pewarnaan khusus).
Pemeriksaan dangan biakan (kultur).
Pemeriksaan terhadap resistensi obat.

Bila pada pemeriksaan penunjang diperoleh hasil positif, maka dapat diperoleh diagnosis
pastinya yaitu Tuberculosis Paru.
Untuk penatalaksanaan pada kasus ini, ada dua jenis terapi yaitu terapi medica mentosa
dan terapi non-medica mentosa.
Untuk terapi medica mentosa diberikan beberapa obat yang dapat mengurangi dampak
Tuberculosis, yaitu3:
i.
Isoniazid
ii.
Rifampin
iii.
Streptomisin
iv.
Pirazinamid
v.
Etambutol
vi.
Etionamid
vii.
Sikloserin
Sedangkan untuk terapi non-medica mentosa,dapat berupa :
a. Memberikan edukasi pada pasien mengenai penyakitnya dan faktor-faktor yang
membuat penyakitnya makin memburuk
b. Memberi bantuan oksigen untuk mengurangi sesak napas yang
c. Memberi edukasi pasien untuk menjaga lingkungan tetap bersih
Setelah melalui tahap-tahap di atas. Kita bisa mendapatkan prognosis dari penyakit yang
diderita Butet. Prognosis adalah ramalan atau perkiraan arah perjalanan penyakit. Prognosis
bergantung pada jenis penyakit, organ/ sistem yang sakit, penyebab penyakit, kondisi tubuh dan
mental, kondisi social dan ekonomi, fasilitas pengobatan dan obat yang tersedia, dan dokter yang
menangani. Pada kasus ini, kelompok kami menyatakan bahwa prognosis untuk pasien Pak

Ahmad adalah dubia ad malam. Hal ini dikarenakan pada pasien ditemukan pemeriksaan perkusi
paru yang redup, yang menandakan adanya infiltrat yang sudah meluas. Hal ini menandakan
bahwa penyakit pasien sudah berlangsung lama dan tidak diobati, sehingga kemungkinan
terjadinya kematian besar bila tidak diobati dengan pengobatan adekuat.4

KESIMPULAN
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didiagnosis bahwa Pak Ahmad menderita
Tuberculosis paru. Tuberculosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh
Micobacterium tuberculosi. Keberadaan bakteri ini dapat diketahui melalui pemeriksaan
laboratorium berupa tes sputum.

Tuberculosis yang diderita oleh pasien Pak Ahmad merupakan penyakit yang dapat sembuh
dengan pengobatan berkala.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo Aru. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit
Dalam. InternaPublishing. Jakarta:2010.
2. Natadijaja H. Penuntun kuliah: Anamnesis dan Pemeriksaan Jasmani. Bagian Ilmu
Penyakit Dalam. FK USAKTI. Jakarta:2003.

3. Asdie Ahmad. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. EGC. Jakarta:1999.


4. Danusantoso H. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Hipokrates. Jakarta:2000.