Anda di halaman 1dari 11

OPTIMASI FERMENTASI DALAM PEMBUATAN BIOETANOL

KLOBOT JAGUNG MENGGUNAKAN YEAST ISOLAT RAGI TAPE

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Mikrobiologi Industri


yang dibimbing oleh Ibu Dr. Endang Suarsini, M.Ked
dan Ibu Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si

Disusun Oleh:
Kelompok 1 / Offering GHK
Lailatul Qomariyah
(130342603489)
Nafisatuzzamrudah

(130342615327)

Silmy Aulia Rufiatin Nisa

(130342615312)

Soeyati Poejiani

(140342608205)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2016

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini sebagai berikut.
1. Mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembuatan bioetanol
dari klobot jagung, diantaranya konsentrasi H2SO4 yang digunakan saat
sakarifikasi atau hidrolisis, konsentrasi yeast isolat ragi tape yang
diberikan saat fermentasi, variasi penambahan pupuk NPK sebagai
tambahan nutrisi, dan lama fermentasi yang dilakukan.
2. Menganalisis dan membandingkan konsentrasi etanol yang dihasilkan
dari setiap perlakuan untuk kemudian dirancang flow chart efisiensi
produksi etanol (bioetanol) dari klobot jagung.
B. Dasar Teori
Bioetanol adalah salah satu bentuk energi alternatif dari bahan organik
yang berfungsi sebagai pengganti energi utama saat ini. Pendapat ini
didukung

oleh

Pudjiastuti

(1999)

yang

menyatakan

bahwa

Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari
sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioethanol tidak
saja menjadi alternatif yang sangat menarik untuk substitusi bensin, namun
mampu juga menurunkan emisi CO2. Pada dasarnya pembakaran bioethanol
tidak menciptakan CO2 netto ke lingkungan karena zat yang sama akan
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sebagai bahan baku bioethanol.
Bioethanol bisa didapat dari tanaman seperti tebu, jagung, gandum, singkong,
padi, lobak dan gandum hitam.
Proses pembuatan bioethanol melalui tahapan-tahapan kimia seperti
hidrolisis dan fermentasi. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula
(glukosa) larut air dilakukan dengan penambahan air dan enzyme (hidrolisis)
kemudian dilakukan proses peragian atau fermentasi gula menjadi ethanol
dengan menambahkan yeast atau ragi. Selain bioethanol dapat diproduksi dari
bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohydrat, juga dapat
diproduksi dari bahan tanaman yang mengandung selulosa, namun dengan
adanya lignin mengakibatkan proses penggulaannya menjadi lebih sulit,
sehingga

pembuatan

ethanol/bio-ethanol

dari

selulosa

tidak

perlu

direkomendasikan. Meskipun teknik produksi ethanol/bioethanol merupakan


teknik yang sudah lama diketahui, namun ethanol/bio-ethanol untuk bahan

bakar kendaraan memerlukan ethanol dengan karakteristik tertentu yang


memerlukan teknologi yang relatif baru di Indonesia antara lain mengenai
neraca energi (energy balance) dan efisiensi produksi, sehingga penelitian
lebih lanjut mengenai teknologi proses produksi ethanol masih perlu
dilakukan (Ferdiaz,1987).
C. Alat dan Bahan
- Alat :
Gunting, oven, hot plate, blender, timbangan, gelas erlenmayer,
-

saringan, kertas saring, pH meter, autoclave, plastik, botol selai.


Bahan:
Klobot jagung, air, NaOH 2%, aquades. H2SO4 konsentrasi 1%, 2%,
3%, 4% dan 5%, NaOH 4M, NPK 2 g, 4 g, 6 g, 8 g dan 10 g.

D. Prosedur Kerja
1. Proses pre-treatment
Klobot jagung dibersihkan dengan air kemudian dipotong kecil-kecil
menggunakan gunting, kemudian dibungkus dengan kertas koran
dikeringkan dalam oven pada suhu 120oC selama 24 jam. Proses ini
dilakukan untuk menghilangkan kelebihan air pada klobot jagung.

NaOH 2% sebanyak 500 mL dicampurkan dengan klobot jagung yang


sudah dikeringkan dan dipanaskan di atas hot plate pada suhu 100"C,
kemudian didinginkan untuk selanjutnya diblender.

Filtrat yang diperoleh kemudian dicuci menggunakan akuades dan


dikeringkan selama 2 hari hingga pH filtrat netral

Ekstrak kasar selulosa klobot jagung


2. Proses Hidrolisis
Selulosa klobot jagung ditimbang sebanyak 20 gram, kemudian
dicampurkan dengan H2SO4 pada konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, dan
5% pada gelas Erlenmeyer, campuran kemudian dihidrolisa
menggunakan hot plate pada suhu 100"C

Rendemen klobot jagung hasil hidrolisis dikeringkan dan disaring

menggunakan kertas saring. Larutan hasil hidrosilat merupakan produk


utama

Larutan hasil hidrolisat diatur pH-nya menjadi 4,5 diukur dengan pH


meter. Penambahan pH dilakukan dengan menambahkan NaOH 4 M

Disterilisasi pada autoclave dengan suhu 120"C selama 15 menit


3. Fermentasi
Ragi tape dimasukkan ke dalam fermentor yang terbuat dari botol selai
berisi larutan hidrolisat klobot jagung dengan variasi bobot 5%, 10%,
15%, 20%, dan 25% (dari berat feed). Fermentor ditutup rapat dengan
plastik, diberi selang dan dimasukkan dalam air agar tidak
berhubungan dengan udara luar

Pada masing-masing konsentrasi ragi tape (berdasarkan bobot ragi


tape) diberikan tambahan NPK sebanyak 2 g, 4 g, 6 g, 8 g, dan 10 g

Fermentasi dilakukan selama 3 hari, 4 hari, 6 hari, 8 hari, dan 10 hari


pada masing-masing perlakuan
4. Destilasi dan HPLC

E. Data

Hari
5

Perlakuan
Konsentrasi
H2SO4 (%)
1

Ragi
(g)
5

Gula
reduksi
58

Hasil

pH

Aroma

Asam

58

Asam ++

59

61

Asam apek
+++
Asam ++

1
2

5
6

59
57

1
1

Manis
Manis

3
4

7
8

56
58

1
1

Manis
Manis

60

Manis

60

Manis

3
4
1
2
3
4
1
2
3

7
8
5
6
7
8
5
6
7

61
60
61
61
62
61
62
62
62

1
1
1
1
1
1
1
1
1

Manis
Manis
Manis
Manis
Manis
Manis
Manis
Manis
Manis

63

Manis

11

13

Warna
Kuning
bening
Kuning
keruh
Kuning
sekali
Putih
keruh
Kuning
Kuning
bening
Keruh
Keruh
sekali
Kuning
bening
Kuning
keruh
Keruh
Putih
Kuning
Keruh
Keruh
Keruh
Bening
Keruh
Keruh
sekali
Keruh

F. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan sotfware SPSS 16 dengan
hasil sebagai berikut.
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:hasil
Type III Sum
Source

of Squares

Corrected

Mean
df

Square

Sig.

58.250a

72120.050

55.700

13.925

15.617

.000

KOH

.000

ragi

.000

Error

10.700

12

.892

Total

72189.000

20

68.950

19

Model
Intercept
hari

Corrected Total

8.321

9.332

.000

72120.050 8.088E4

.000

a. R Squared = ,845 (Adjusted R Squared = ,754)

Berdasarkan pengujian dengan menggunakan analisis Multivariat,


diperoleh hasil bahwa faktor hari pengambilan data, konsentrasi H2SO4 dan ragi
berpengaruh signifikan terhadap hasil penelitian.
hasil
Duncan
Subset
hari

59.00

60.25

11

13

Sig.

57.50

60.25
61.25

61.25
62.25

1.000

.086

.160

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = ,892.

.160

Karena hasil yang diperoleh berupa signifikan, maka dilakukan uji lanjut
dengan menggunakan uji Duncan. Berdasarkan pengujian dengan uji Duncan,
diperoleh hasil bahwa hari ke-7 merupakan hari yang paling berpengaruh dalam
pengambilan data.
hasil
Duncan
Subset
KOH

59.60

60.00

60.00

60.60

Sig.

.146

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = ,892.

Berdasarkan pengujian dengan uji Duncan, diperoleh hasil bahwa


konsentrasi H2SO4 sebesar 4% merupakan konsentrasi yang paling berpengaruh
dalam pengambilan data.
Berdasarkan hasil pengamatan dari penelitian ini pada hari ke-5 konsentrasi
1% dengan ragi 5 gram menghasilkan gula reduksi sebanyak 58 brix dengan pH 1,
aroma asam dan warna kuning bening. Konsentrasi 2% dengan ragi 6 gram
menghasilkan gula reduksi sebanyak 58 brix dengan pH 1, aroma asam (++) dan
warna kuning keruh. Konsentrasi 3% dengan ragi 7 gram menghasilkan gula
reduksi sebanyak 59 brix dengan pH 1, aroma asam apek (+++) dan warna kuning
sekali. Konsentrasi 4% dengan ragi 8 gram menghasilkan gula reduksi sebanyak
61 brix dengan pH 1, aroma asam (++) dan warna putih.
Pada hari ke-7, konsentrasi 1% dengan ragi 5 gram menghasilkan gula
reduksi sebanyak 59 brix dengan pH 1, aroma manis dan warna kuning.
Konsentrasi 2% dengan ragi 6 gram menghasilkan gula reduksi sebanyak 57 brix
dengan pH 1, aroma manis dan warna kuning bening. Konsentrasi 3% dengan ragi
7 gram menghasilkan gula reduksi sebanyak 56 brix dengan pH 1, aroma manis

dan warna keruh. Konsentrasi 4% dengan ragi 8 gram menghasilkan gula reduksi
sebanyak 58 brix dengan pH 1, aroma manis dan warna keruh sekali.
Pada hari ke-9, konsentrasi 1% dengan ragi 5 gram menghasilkan gula
reduksi sebanyak 60 brix dengan pH 1, aroma manis dan warna kuning bening.
Konsentrasi 2% dengan ragi 6 gram menghasilkan gula reduksi sebanyak 60 brix
dengan pH 1, aroma manis dan warna kuning keruh. Konsentrasi 3% dengan ragi
7 gram menghasilkan gula reduksi sebanyak 61 brix dengan pH 1, aroma manis
dan warna keruh. Konsentrasi 4% dengan ragi 8 gram menghasilkan gula reduksi
sebanyak 60 brix dengan pH 1, aroma manis dan warna putih.
Pada hari ke-11, konsentrasi 1% dengan ragi 5 gram menghasilkan gula
reduksi sebanyak 61 brix dengan pH 1, aroma manis dan warna kuning.
Konsentrasi 2% dengan ragi 6 gram menghasilkan gula reduksi sebanyak 61 brix
dengan pH 1, aroma manis dan warna keruh. Konsentrasi 3% dengan ragi 7 gram
menghasilkan gula reduksi sebanyak 62 brix dengan pH 1, aroma manis dan
warna keruh. Konsentrasi 4% dengan ragi 8 gram menghasilkan gula reduksi
sebanyak 61 brix dengan pH 1, aroma manis dan keruh.
Pada hari ke-13, konsentrasi 1% dengan ragi 5 gram menghasilkan gula
reduksi sebanyak 62 brix dengan pH 1, aroma manis dan warna bening.
Konsentrasi 2% dengan ragi 6 gram menghasilkan gula reduksi sebanyak 62 brix
dengan pH 1, aroma manis dan warna keruh. Konsentrasi 3% dengan ragi 7 gram
menghasilkan gula reduksi sebanyak 62 brix dengan pH 1, aroma manis dan
warna keruh sekali. Konsentrasi 4% dengan ragi 8 gram menghasilkan gula
reduksi sebanyak 63 brix dengan pH 1, aroma manis dan keruh.
G. Pembahasan
Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dengan cara fermentasi
mengunakan bahan baku nabati. Bioetanol merupakan salah satu jenis sumber
energi yang sedang dipacu pengembangannya oleh Pemerintah Indonesia.
Sedangkan etanol atau ethyl alcohol (C2H5OH) adalah senyawa organik golongan
alkohol yang mengandung gugus hidroksil (OH) dengan rumus kimia CH3CH2OH
(Richanna, 2011).

Grafik 1. Pengaruh lama waktu fermentasi terhadap gula reduksi yang


dihasilkan
Gula reduksi merupakan senyawa penting dari karbohidrat yang
mempunyai peran utama dalam penyediaan kalori bagi makhluk hidup dan
merupakan senyawa utama yang dapat dijumpai pada tumbuh-tumbuhan.
Kadar gula reduksi yang tinggi dalam suatu bahan pangan ditandai dengan
rasanya yang manis. Dengan demikian semakin manis klobot jagung tersebut,
berarti semakin tinggi kadar gula reduksinya.
Berdasarkan grafik di atas, didapatkan bahwa gula reduksi yang
dihasilkan terbanyak yaitu pada hari ke-13 dengan konsentrasi 4% yang
menggunakan 8 gram ragi, gula reduksi yang dihasilkan sebanyak 63 brix
dengan pH 1, aroma manis dan keruh.

Peningkatan nilai ini diduga

disebabkan adanya aktivitas selulase secara sinergis antara endo--glukanase


(CMCase), ekso- -glukanase, dan -glukosidase (Belitz et al., 2008).
Tingginya kadar glukosa pada hari ke-13 diduga telah menghambat aktivitas
selulase sehingga pembentukan glukosa menjadi terhambat. Hal tersebut
diduga telah terjadi feedback inhibition pada hari ke-7 yang mengakibatkan
menurunnya nilai total gula pereduksi. Pada hidrolisis enzimatis ini terjadi
penghambatan

reversibel

kompetitif,

kadar

glukosa

yang

berlebih

menghambat aktivitas selulase dengan cara membentuk kompleks dengan

enzim tersebut sehingga terjadi persaingan antara glukosa dan substrat untuk
membentuk kompleks dengan selulase. Jika kadar glukosa berlebih maka
pembentukan glukosa juga menjadi berkurang (Izzati et al., 2010).
Selain itu, adanya variasi konsentrasi gula reduksi sisa pada akhir
fermentasi kemungkinan disebabkan adanya variasi konsentrasi gula reduksi
awal. Aktivitas kelompok enzim invertase selama fermentasi yang memecah
disakarida

menjadi

gula-gula

sederhana

juga

menyebabkan

variasi

konsentrasi sisa gula reduksi. Grafik di atas juga menunjukkan bahwa


pemakaian gula reduksi paling efektif dan cepat terjadi pada medium dengan
konsentrasi ragi 4%. Hal tersebut menunjukkan bahwa medium dengan
konsentrasi ragi 4% merupakan media yang paling sesuai bagi khamir
tersebut, sedangkan aktivitas sel khamir di medium dengan kadar atau
konsentrasi ragi 1% dan 2% terhambat sehingga sampai hari terakhir
fermentasi gula yang tidak digunakan cukup banyak. Hal ini berpengaruh
terhadap kadar atau konsentrasi etanol yang dihasilkan. Makin banyak gula
reduksi yang dimanfaatkan oleh khamir maka makin tinggi pula konsentrasi
etanol yang dapat dihasilkan dan sebaliknya makin sedikit gula reduksi yang
dimanfaatkan oleh khamir maka makin rendah pula konsentrasi etanol yang
dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winarti (1996) yang menyatakan
bahwa semakin tinggi konsentrasi substrat atau gula reduksi yang dapat
dipecah oleh sel khamir menjadi etanol maka semakin tinggi pula konsentrasi
etanol yang dihasilkan.
H. Kesimpulan
Semakin lama waktu fermentasi maka akan semakin banyak pula gula
reduksi yang dihasilkan. Sehingga seharunya akan semakin banyak pula kadar
etanol yang dihasilkan.

DAFTAR RUJUKAN
Becker, E. W. 2006. Microalgae as A Sourco of Protein. Germany: Medical Clinic
University of Tubingen Press
Belitz, H. D., Grosch, W., and Schieberle, P. 2008. Food Chemistry, 4th ed.
Berlin: Springer-Verlag. p. 327-337.
Ferdiaz. 1987. Fisiologi Fermentasi. Bogor: Pusat Antar Universitas Institut
Pertanian Bogor dengan Lembaga Sumberdaya Informasi Institut
Pertanian Bogor
Izzati, N., Yusnidar, R., Rahmawati F. D., dan Hidayat, F. 2010. Pengaruh
Perlakuan Awal Autoklaf dan AutoklafImpregnasi terhadap Persen
Sakarafikasi Ampas Tebu secara Eznimatis menjadi Bioetanol sebagai
Bahan Bakar Alternatif. Program Kreativitas Mahasiswa. Universitas
Negeri Malang. Malang.
Pudjatmaka,Hendi. 2002. Kamus Kimia. Jakarta: Balai Pustaka.
Pudjiastuti L., Suwarsono, N., dan Nurhatika, S., 1999. Pemanfaatan Limbah
Padat Industri Tepung Tapioka Menjadi Etanol.Surabaya: Pusat Penelitian
KLH Institut Teknologi sepuluh Nopember
Winarti, S., 1996, Pengaruh Lama Fermentasi dan Kadar Substrat Terhadap
Produksi Etanol Pada Fermentasi Onggok oleh Saccharomyces cerevisiae,
Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang.