Anda di halaman 1dari 14

A.

B.
C.
D.
E.

Judul
Hari/Tanggal Percobaan
Selesai Percobaan
Tujuan
Dasar Teori

: Kesetimbangan Kimia
: Rabu, 15 April 2015 pukul 07.00 WIB
: Rabu, 15 April 2015 pukul 09.00 WIB
: Mempelajari kesetimbangan ion-ion dalam larutan
:

Kesetimbangan kimia dalah proses dinamis ketika reaksi ke depan dan reaksi
balik terjadi pada laju yang sama tetapi pada arah yang berlawanan. Konsentrasi pada
setiap zat tinggal tetap pada suhu konstan. Banyak reaksi kimia tidak sampai berakhir,
dan mencapai satu titik ketika konsentrasi zat-zat bereaksi dan produk tidak lagi
berubah dengan berubahnya waktu. Molekul-molekul tetap berubah dari pereaksi
menjadi produk dan dari produk menjadi pereaksi, tetapi tanpa perubahan netto
konsentrasinya (Stephen,2002 : 96).
Kebanyakan reaksi kimia berlangsung secara reversible (dua arah). Ketika
reaksi itu baru mulai, proses reversible hanya berlangsung kearah pembentukan produk,
namun ketika molekul produk telah terbentuk maka proses sebaiknya yaitu
pembentukan molekul reaktan dari molekul produk mulai berjalan. Kesetimbangan
kimia tercapai bila kecepatan reaksi tekanan (molekul produk) telah sama dengan
kecepatan reaksi ke kiri (pembentukan molekul reaktan) dan konsentrasi reaktan
maupun konsentrasi produk tidak berubah-rubah lagi (konstan) (Purwoko, 2006 : 169).
Azas Le Chatelier menyatakan Bila pada sistem kesetimbangan diadakan
aksi, maka sistem akan mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu
menjadi sekecil-kecilnya. Perubahan dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan
kesetimbangan yang baru akibat adanya aksi atau pengaruh dari luar itu dikenal dengan
pergeseran kesetimbangan. Bagi reaksi:
A + B

C + D

Suatu reaksi kimia dapat berlangsung secara sempurna jika terjadi suatu kesetimbangan
dari reaksi tersebut. Kesetimbangan dibagi menjadi dua macam, yaitu kesetimbangan
homogen dan kesetimbangan heterogen. Homogen terdapat hanya dalam satu fase,
sedangkan heterogen terdapat lebih dari satu fase. Pada saat setimbang, kecepatan
reaksi ke kanan sama dengan kecepatan reaksi ke kiri.

Kecepatan reaksi kimia pada suhu konstan sebanding dengan hasil kali
konsentrasi zat yang bereaksi. Reaksi kimia bergerak menuju kesetimbangan yang
dinamis, dimana terdapat reaktan dan produk, tetapi keduanya tidak lagi mempunyai
kecenderungan untuk berubah. Kadang-kadang konsentrasi produk jauh lebih besar dari
pada konsentrasi reaktan yang belum bereaksi di dalam campuran kesetimbangan,
sehingga reaksi dikatakan reaksi yang sempurna.
Dalam kesetimbangan kimia, jika tekanan diperbesar sama dengan volume
diperkecil, maka kesetimbangan akan bergeser kearah jumlah koefisien-koefisien gas
yang lebih kecil, dan jika tekanan diperkecil sama dengan volume diperbesar maka
kesetimbangan akan bergeser kearah jumlah koefisien-koefisien gas yang lebih besar .
Secara umum, untuk reaksi kesetimbangan sebagai berikut :
a A+ b B
Kc=

cC+ d D, maka

[C ]c [ D]d
[ A ] a [ B ] b
Tetapan kesetimbangan dilambangkan dengan Kc yang menyatakan tetapan kesetimbangan

berdasarkan konsentrasi. Tetapan kesetimbangan ini sering

dilambangkan

dengan

K saja.

Untuk kesetimbangan zat dalam wujud gas, tetapan kesetimbangan dilambangkan dengan Kp yang
menyatakan tetapan kesetimbangan berdasarkan

tekanan. Penentuan tetapan kesetimbangan

bergantung pada jenis reaksinya, homogeny atau heterogen. Reaksi kesetimbangan homogen terjadi
jika zat zat terlibat dalam kesetimbangan berada dalam fase yang sama, sedangkan untuk reaksi
kesetimbangan heterogen, zat zat tersebut berada dalam fase berbeda.Reaksi keetimbangan homogen
terjadi jika fase dari zat zat yang bereaksi dengan zat zat hasil reaksi sama, yaitu gas atau larutan.
Pada kesetimbangan hetrogen, zat zat yang berbeda pada keadaan setimbang memiliki fase
yang berbeda.
Berikut

adalah

faktor-faktor

yang

dapat

mempengaruhi

pergeseran

kesetimbangan kimia, yaitu :


1. Perubahan Konsentrasi Salah Satu Zat
Apabila dalam sistem kesetimbangan homogen, konsentrasi salah satu zat
diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dari zat
tersebut.Sebaliknya, jika konsentrasi salah satu zat diperkecil, maka kesetimbangan
akan bergeser ke pihak zat tersebut.

2. Perubahan Volume Atau Tekanan


Jika tekanan pada campuran kesetimbangan yang melibatkan gas ditingkatkan,
reaksi bersih akan berlangsung ke arah yang mempunyai jumlah mol gas lebih
kecil. Jika tekanan diturunkan, reaksi bersih berlangsung ke arah yang
menghasilkan jumlah mol gas lebih banyak. Jika dalam suatu sistem kesetimbangan
dilakukan aksi yang menyebabkan perubahan volume (bersamaan dengan
perubahan

tekanan),

maka

dalam

sistem

akan

mengadakan

pergeseran

kesetimbangan :
Jika tekanan diperbesar = volume diperkecil, kesetimbangan akan bergeser ke
arah jumlah koefisien reaksi kecil.
Jika tekanan diperkecil = volume diperbesar, kesetimbangan akan bergeser ke
arah jumlah koefisien reaksi besar.
Pada sistem kesetimbangan dimana jumlah koefisien reaksi sebelah kiri =
jumlah koefisien sebelah kanan, maka perubahan tekanan/volume tidak menggeser
letak kesetimbangan.
3. Perubahan Suhu
Menurut Van't Hoff:
Peningkatan suhu suatu campuran kesetimbangan menyebabkan pergeseran
keadaan kesetimbangan kea rah reaksi endoterm. Penurunan suhu menyebabkan
pergeseran kea rah reaksi eksoterm.
Contoh:
2NO(g)+ O2(g)

2NO2(g)

H = -216 kJ

Jika suhu dinaikkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri.


Jika suhu diturunkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan.
4. Pengaruh Katalis
Katalis dapat mempercepat reaksi baik ke kanan atau ke kiri. Keadaan
kesetimbangan tercapai lebih cepat, tetapi katalis tidak mengubah jumlah
kesetimbangan dari spesies spesies yang bereaksi. Atau dengan kata lain katalis
tidak mengubah nilai numeris tetapan kesetimbangan.
Peranan katalis adalah mengubah mekanisme reaksi kimia agar tercapai energi
aktivasi yang lebih rendah. Dengan demikian katalis tidak menggeser
kesetimbangan, melainkan katalis hanya mempercepat terjadinya keadaan
kesetimbangan.
F. Alat dan Bahan
1. Tabung reaksi
2. Pipet tetes
3. Gelas kimia 50 ml

4. Gelas ukur 10 ml
5. Rak tabung reaksi
6. Pembakar spirtus

7. Penjepit tabung reaksi


8. Fe(NO3)3 0,1 M
9. NaNO3
10. K2Cr2O7 0,1 M
11. Pb(NO3)2 0,2 M
12. NH4OH 0,5 M
13. NH4Cl 0,5 M

14. NaH2PO4
15. H2SO4 pekat / 1 M
16. KSCN 0,002 M / 1 M
17. MgCl2 0,2 M
18. NaOH 0,5 M
19. FeSO4 jenuh

G.
H.
I.
J.

20.
Alur Percobaan
Hasil Pengamatan
Analisis Data
Pembahasan
21.

Pada percobaan I kesetimbangan besi (III) tiosinat terbentuk

warna jingga yang terbentuk disebabkan karena pembentukan suatu kompleks besi (III)
tiosianat yang tidak berdisosiasi, dengan persamaan reaksi:
22.
Fe(NO3)3 (aq) + 3KSCN(aq)Fe(SCN)3 (aq)+ 3KNO3 (aq)
23.
Setelah di bagi merata, pada tabung reaksi 1 larutan Fe(SCN) 3
disimpan sebagai pembanding, pada tabung 2 larutan Fe(SCN) 3 ditambahkan 3 tetes
KSCN 1 M dan warna yang terbentuk warna merah kecoklatan yang lebih pekat (merah
kecoklatan+) dari tabung 1 karena konsentrasi pada produk bertambah konsentrasi
sehinggga kesetimbangan akan bergeser ke arah produk, dengan persamaan reaksi:
24.
Fe(NO3)3 (aq) + 3KSCN(aq)Fe(SCN)3 (aq)+ 3KNO3 (aq)
25.
Pada tabung reaksi 3, larutan Fe(SCN)3 ditambahkan 3 tetes
Fe(NO3)3 0,1 M sehingga larutan berubah menjadi merah kecoklatan yang lebih coklat
(merah kecoklatan ++) dari pada tabung 1 dan 2. Hal ini disebabkan karena tabung 3
mengalami kesetimbangan kimia yang dipengaruhi oleh penambahan konsentrasi
reaktan (Fe3+) sehingga kesetimbangan bergeser ke arah produk, dengan persamaan
reaksi:
26.
27.

Fe(NO3)3 (aq) + 3KSCN(aq) Fe(SCN)3 (aq)+ 3KNO3 (aq)


Pada tabung 4, larutan Fe(SCN)3 ditambahkan beberapa butir

kecil NaH2PO4 sehingga larutan berubah menjadi tidak berwarna. Hal ini disebabkan
karena butir NaH2PO4 membuat larutan menjadi asam maka kesetimbangan bergeser ke
arah produk. Hal ini sesuai dengan persamaan reaksi:
28.
Fe(NO3)3 (aq) + 3KSCN(aq) + NaH2PO4 (s) FePO4 (s) + H+
+ NaNO3(aq) + KSCN(aq)
29.
Dengan hal ini dapat disimpulkan pada percobaan pertama ini
(aq)

kesetimbangan dapat dipengaruhi oleh konsentrasi zat.


30.
Pada percobaan ke II, kesetimbangan natrium dikromat dengan
cara pada tabung reaksi ke 1 dimasukkan 1 ml K 2Cr2O7 yang berwarna jingga dan
disimpan sebagai pembanding, lalu pada tabung ke 2 dimasukkan kedalam tabung
reaksi larutan K2Cr2O7 ditambahkan 20 tetes NaOH 0,5 M sehingga menghasilkan
larutan Na2CrO4 yang berwarna kuning, setelah itu ditambahkan lagi 20 tetes HCl 0,5
M sehingga menghasilkan larutan Na2Cr2O7 dan larutan berubah warna kembali
menjadi warna jingga yang sama dengan tabung 1. Reaksi kesetimbangan kimia
tersebut dipengaruhi oleh ion-ion dalam larutan yaitu penambahan dari NaOH

menjadikan reaksi tersebut kehilangan ionnya yang semula dikromat menjadi kromat
saja karena sebagian electron atom yang dimiliki oleh K 2Cr2O7 dilepaskan dan bereaksi
dengan air, sehingga warnanya berubah menjadi kuning. Namun setelah adanya
penambahan HCl, ion nya yang semula kromat (K 2CrO4) berubah lagi menjadi
dikromat sehingga warnanya berubah kembali seperti awal. Oleh karena itu dengan
penambahan NaOH dan HCl dapat mempengaruhi ion ion pada reaksi tersebut.
31.
Pada percobaan ke III untuk mengetahui kesetimbangan
magnesium hidroksida dengan cara pada tabung 1 dimasukkan 1 ml MgCl 2 0,2 M
setelah itu ditambahkan 1 ml NH4OH 0,5 M sehingga menghasilkan endapan putih
Mg(OH)2. Hal ini disebabkan karena konsentrasi ion hidroksil (OH-) yang kecil, yang
memang sudah rendah, masih makin berkurang lagi, sehingga banyak dari garam
magnesium itu tetap berada dalam larutan sesuai dengan persamaan reaksi:
32.
Mg2+(aq) + 2OH- Mg(OH)2 (s) (endapan putih)
33.
Pada tabung 2, dimasukkan 1 ml MgCl2 0,2 M setelah itu
ditambahkan 1 ml NH4OH 0,5 M sehingga menghasilkan endapan putih Mg(OH)2.
Kemudian ditambahkan NH4Cl 0,5 M sehingga menyebabkan endapan putih Mg(OH)2
akan larut. Hal ini disebabkan karena endapan putih Mg(OH) 2 mudah larut dalam
garam-garam ammonium sesuai dengan persamaan reaksi:
34.
Mg(OH)2 + Cl-(aq) MgCl2 + 2OH35.
Pada percobaan ke III ini reaksi kesetimbangan kimia
dipengaruhi oleh penambahan volume atau lebih dominan pada kesetimbangan yang
dipengaruhi oleh konsentrasi, karena dengan penambahan konsentrasi NH4OH
mengakibatkan reaksi bergeser kearah produk dibuktikan dengan adanya endapan yang
terbentuk namun setelah dengan penambahan NH4Cl mengakibatkan reaksi bergeser
kearah reaktan dibuktikan bahwa endapan yang terbentuk larut.
36.
Pada percobaan IV kesetimbangan

cincin

coklat,

kesetimbangan cincin coklat dengan cara memasukkan 1 ml larutan NaNO3 0,1 M


yang tidak berwarna ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 5 tetes H2SO4 yang tidak
berwarna dan 5 tetes FeSO4 jenuh yang berwarna merah kecoklatan dan menghasilkan
larutan berwarna jingga. Setelah itu larutan tersebut ditambahkan 5 tetes H2SO4 pekat
yang tidak berwarna memutari dinding tabung reaksi.Ketika ditambah 5 tetes H 2SO4
pekat inilah maka akan terbentuk cincin coklat karena, Cincin coklat ini disebabkan
oleh pembentukan [Fe(NO)]2+, menurut reaksi :
37.
2NaNO3 (aq)+ 4H2SO4(aq) + 7FeSO4 Na2SO4(aq) +
[Fe(NO)SO4](aq) + NO(aq) + 4H2O(l) + 3Fe2(SO4)3(aq)

38.

Reaksi mengalami pergeseran dipengaruhi oleh perubahan

konsentrasi, apabila konsentrasi reaktan bertambah (H 2SO4) maka kesetimbangan


bergeser ke kanan (produk) sehingga jumlah produk akan bertambah.
39.
Pada percobaan V kesetimbangan Pb, setelah 2 ml Pb(NO 3)2
0,2M

ditambahkan tetesan H2SO4 1M dan ditambahkan alkohol akan terbentuk

endapan karena hal ini disebabkan karena suhu larutan tersebut. Menurut reaksi :
40.
Pb(NO3)2(aq) + H2SO4 (aq) + Alkohol PbSO4(s) +
2HNO3(aq)
41.

Pada percobaan ini suatu reaksi mengalami pergeseran

kesetimbangan yang dipengaruhi oleh perubahan suhu. Apabila suhu dinaikkan maka
kesetimbangan akan bergeser ke reaksi endoterm. Sedangkan bila suhu diturunkan
maka kesetimbangan akan bergeser ke reaksi eksoterm. Penambahan alkohol dalam hal
ini bertujuan untuk memperbanyak endapan (produk).
42.
43.
44.
45.
46.
K. Jawaban Pertanyaan
1. Dengan anggapan system kesetimbangan untuk reaksi :
H2 + I 2 2HI
47.
Jika 23 gram I2 dan 0,5 gram H2 dipanaskan pada 450oC sampai

48.

kesetimbangan tercapai, tentukan berat I 2 jika berat mula-mula 8,95 gram.


Hitunglah konsentrasi HI dan H2 dalam campuran itu jika volume system 1L!
2HI
49.
H
+
I
2

50. m :
51. r :
52. s :

0,25
0,09
0,16

0,09
0,09
-

K c=

53.

( HI )2
( H2)
(0,18)2
(0,16)

54.

55.

0,025

56.

2HI

0,18
0,18

H
2

I2

57. m :

0,07

58. r

0,05

0,025

0,025

59. s

:0,02

60. Massa I2

0,025

0,025

= n . Mr

61.

= 0,025 mol . 254 gr/mol


62.

= 6,35 gr

63. V sistem = 1 L

64.

M HI =

n HI
V

65.

M HI =

0,02 mol
1l

66.

M HI =0,02 M

67.

68.

M H 2=

n HI
V

69.

M H 2=

nH 2
V

70.

M H 2=

0,025 mol
1l

71.

M H 2=0,025 M

72.
2. Sistem kesetimbangan akan bergeser ke arah mana bila :
a. Volume sistem diperbesar
73.
Jika volume pada sistem diperbesar maka sistem kesetimbangan akan
bergeser ke arah produk.
b. Temperatur sistem dinaikkan
74.
Jika temperature pada sistem dinaikkan maka sistem kesetimbangan
akan bergeser ke arah reaksi endoterm.

75.
L. Kesimpulan
76.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada kesetimbangan kimia

dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pengaruh konsentrasi, tekanan, volume,
dan temperature. Dan dalam percobaan diatas dapat diketahui pengaruh kesetimbangan
konsentrasi, ion-ion dan perubahan suhu. Sehingga mengakibatkan reaksi dapat
bergeser kearah produk maupun reaktan.
1. Pengaruh konsentrasi terhadap kesetimbangan
77.
Jika konsentrasi salah satu diperbesar maka kesetimbangan akan
2.

bergeser kearah zat yang memiliki konsentrasi lebih kecil dan sebaliknya.
Perubahan temperatur
78.
Jika temperatur dinaikan, maka kesetimbangan reaksi bergeser ke arah
reaksi endoterm.
79.
Jika temperatur diturunkan, maka kesetimbangan reaksi bergeser ke

arah reaksi eksoterm.


3. Perubahan volume atau tekanan
80.
Jika tekanan diperbesar (atau volume diperkecil), kesetimbangan akan
bergeser ke arah jumlah koefisien reaksi yang lebih kecil.
81.
Jika tekanan diperkecil (atau volume diperbesar), kesetimbangan akan
bergeser ke arah jumlah koefisien reaksi yang lebih besar.
82.
M. Daftar Pustaka
83.
L. Setiono, Pudjaatmaka A. Hadyana. 1990. Vogel Edisi ke lima (terjemahan).
Jakarta:
PT. Kalman Media Pustaka
84.
Petrucci, Ralph H. 1992. Kimia Dasar dan Terapan Modern Terjemahan
Seminar.
Jakarta: Erlangga
85.
Purwoko, Agus Abh. 2006. Kimia Dasar I. NTB : Mataram Unpres
86.
Stephen, Bresnick. 2002. Istilah Kimia Umum. Jakarta: Erlangga
87.
Sugiarto, Bambang, dkk. 2014. Kimia Dasar. Surabaya : Fakultas Matematika
dan Ilmu
Pengetahuan Alam UNESA
88.
Tim Kimia Dasar. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Dasar Lanjut. Surabaya :
Universitas Negeri Surabaya
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.

101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.

Lampiran

110.

111.

No.

Gambar

112.

Keterangan

114.

116.

113.

KSCN 0,002 M 5

ml + Fe(NO3)3 0,1 M 2

1.

tetes

115.
118.

120.

Tabung 1 (jingga)

: KSCN 0,002 M 5 ml +
Fe(NO3)3 0,1 M 2 tetes
121. Tabung 2 (merah

117.

kecoklatan) : KSCN

2.

0,002 M 5 ml + Fe(NO3)3
0,1 M 2 tetes + 3 tetes
KSCN

119.
122.

123.

3.

127.

Tabung 1 (jingga)

: KSCN 0,002 M 5 ml +
Fe(NO3)3 0,1 M 2 tetes
128. Tabung 3 (merah
kecoklatan) : KSCN
0,002 M 5 ml + Fe(NO3)3
0,1 M 2 tetes + 3 tetes
Fe(NO3)3
124.

125.
126.
131.

Tabung 1 (jingga)

: KSCN 0,002 M 5 ml +
Fe(NO3)3 0,1 M 2 tetes
132. Tabung 4 (tidak

129.

berwarna) : KSCN 0,002

4.

M 5 ml + Fe(NO3)3 0,1 M
2 tetes + 1 butir
NaH2PO4

130.

135.

Perbandingan

tabung 1 (jingga), tabung


133.

2 (merah kehitaman),

5.

tabung 3 (merah
kehitaman) dan tabung 4
(tidak berwarna)
134.

136.

138.

6.

Tabung 1 dan 2

(jingga) : K2Cr2O7 0,1 M

137.
141.
143.
139.
140.

Tabung 1 (jingga)

: K2Cr2O7 0,1 M
144. Tabung 2

7.

(kuning) : K2Cr2O7 0,1


M + NaOH 20 tetes
142.

147.

Tabung 1 (jingga)

: K2Cr2O7 0,1 M
148. Tabung 2 (jingga)

145.

: K2Cr2O7 0,1 M +

8.

NaOH 20 tetes + HCl 20


tetes
146.

151.

149.
12.

MgCl2 + NH4OH

(putih keruh)

150.
153.
155.

Tabung 1 (putih

keruh) : MgCl2 + NH4OH


152.
Tabung 2 (tidak

13.

berwarna) : MgCl2 +
NH4OH + NH4Cl
156.
154.

157.

160.

14.

NaNO3 + H2SO4

+ FeSO4 (jingga)

158.
161.

159.
162.

165.

Cincin coklat

[Fe(NO)]2+

15.

163.
164.
167.

170.

166.

Pb(NO3)2 0,2 M

+ H2SO4 + alkohol ( putih

16.

keruh)

168.
169.
172.

175.

171.

Pb(NO3)2 0,2 M

+ H2SO4 + alcohol

17.

dipanaskan

173.
174.

179.
176.

Setelah

dipanaskan, larutan

18.

menjadi tidak berwarna


(endapan larut)
177.
178.
181.

183.
180.

Setelah

didinginkan, larutan

19.

piutih keruh dan terdapat


endapan putih

182.
184.