Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

BAB II
METODOLOGI

2.1. UMUM
Penyelidikan Geologi Teknik diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang
berkaitan dengan kondisi geologi untuk perencanaan aspek. Investigasi ini
dimaksudkan untuk mengklasifikasi batuan fondasi berdasarkan sifat-sifat
teknisnya antara lain, kondisi geologi yang mencakup jenis dan sifat batuan
baik fisik, mekanik dan sifat hidrauliknya, serta mengumpulkan data lengkap
guna menentukan tipe tubuh waduk, batas galian serta perbaikan fondasi.
Lokasi dan kuantitas investigasi mempertimbangkan tipe dan ukuran
bangunan dan kondisi geologi setempat. Jenis pekerjaan dan investigasi
geologi serta mekanika tanah tersebut disesuaikan dengan kondisi dan
situasi lapangan serta jenis batuan yang ada.

2.2. PEMETAAN GEOLOGI


Pemetaan geologi teknik dilakukan dengan metode DOC (Direct Checking
Observetion)

dengan

mengacu

pada

peta

dasar

yang

telah

dibuat

sebelumnya. Sedangkan pada masing-masing bendung dan siphon atau


bangunan penunjang

irigasi lainnya

dilakukan

dengan

menggunakan

metode DOM (Direct Obsevation & Measurenment) dengan bantuan kompas


geologi

dan

pita

ukur.

Pemetaan

geologi

teknik

dilakukan

untuk

mengidentifikasi semua gejala geologi di lokasi pekerjaan.


Survei geomorfologi bertujuan mengetahui bentang alam, inventarisasi
gejala struktur geologi bertujuan untuk mengetahui gejala struktur geologi
yang berkembang. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kebocoran dan
retakan pada pasangan bangunan apabila didirikan bangunan teknik/sipil.
Sedangkan survei stratigrafi meliputi pemetaan detail satuan batuan yang
berada di daerah Bangunan Pelengkap, untuk mengetahui urut-urutan
stratigrafi dan pembentukan batuan, tingkat porositas dan permeabilitas
II - 1

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

batuan (secara relativ), posisi batuan dasar ( bed rock ) dan lain-lain.

Pemetaan geologi/geologi teknik pelaksanaannya mengacu pada SNI 032849-1992 dan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi dan gejala geologi
yang ada/muncul di permukaan, antara lain mencakup :
Jenis dan susunan (stratigrafi yang ada termasuk tingkat pelapukan
serta sifat fisik dan mekaniknya).
Kondisi geodinamik seperti ada tidaknya longsoran/gejala longsoran.
Kondisi geohidrologi seperti ada tidaknya rembesan air, mata air,
genangan air, dll.
Struktur geologi seperti ada tidaknya sesar, pola dan kondisi kekar
yang ada serta penyebaran batuan ke arah lateral maupun vertikal
(strike/dip), dll.
Pada tahap ini, sifat fisik dan mekanik batuan dilakukan dengan analisa
empirik

berdasarkan

uji

hammering

serta

observasi

singkapan

di

lapangan. Sedangkan sifat fisik dan mekanika tanah dilakukan berdasarkan


analisa empirik dan uji laboratorium serta hasil uji standar penetrasi (SPT)
didalam lubang bor.
2.3. JENIS INVESTIGASI
Jenis investigasi yang diperlukan mencakup :
a. Pengumpulan data dan studi
Peta topografi/Rupa Bumi Indonesia
Peta geologi regioal
Peta tekstur tanah dan peta tanah dll
b. Investigasi Lokasi pada bangunan bendung, Talang dan Saluran Siplesi.
Beberapa hal utama dalam penyelidikan geologi yang harus
dilakukan :
Survey geologi permukaan
Survey geologi bawah permukaan
Uji geoteknik setempat (insitu)
c. Investigasi Lokasi Bangunan Utama

II - 2

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

Survey bawah permukaan (geologi) dengan boran tangan dan insitu


test
Uji geoteknik pada batuan untuk mengetahui daya dukung dan sifatsifat geoteknik.
d. Investigasi untuk Borrow Area
Investigasi geologi permukaan
Investigasi geologi bawah permukaan
Pada perencanaan desain bangunan irigasi beberapa aspek geologi pada
sekitar lokasi bangunan harus disurvey untuk diketahui dan perlu dilakukan
pengujian-pengujian tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan informasi
yang menunjukan keamanan dan aspek-aspek geologi lainnya.
Beberapa survey yang perlu dilakukan meliputi :
a) Study ketidakstabilan lereng
b) Study terhadap daerah rencana bangunan baru
c) Study terhadap muka air tanah / sumber air
d) Kegempaan

2.4. PROSEDUR PENYELIDIKAN GEOLOGI DAN UJI GEOTEKNIK


2.4.1. Prosedur Investigasi Geologi Permukaan
Kegunaan prosedur ini adalah untuk melakukan tindak lanjut penyelidikan
sebelumnya, pengamatan outcrop/adanya singkapan batuan dan penyiapan
peta geologi dengan menganologkan kondisi geologi bawah permukaan
yang muncul dipermukaan. Metode penyelidikan ini merupakan metode
yang paling mendasar dalam penyelidikan geologi. Prosedur umum untuk
penyelidikan geologi permukaan untuk as bendungan adalah sebagai berikut
:
a) Studi terdahulu
b) Observasi dan deskripsi outcrop dan ploting pada peta topografi
c) Persiapan peta route
d) Klasifikasi geologi

II - 3

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

e) Persiapan legenda untuk peta geologi


2.4.2. Prosedur Investigasi Geologi Bawah Permukaan
1. Pengeboran
a) Jenis

yang

harus

dipertimbangkan

secara

seksama

dalam

perencanaan
b) Jenis yang harus diobservasi pada sampel inti
2. Pemprosesan Hasil Investigasi terhadap klasifikasi teknik dasar batu,
antara lain;
a) Faktor Pengklasifikasian
b) Karakteristik geologi
c) Sifat mekanik dari tipe unsur pokok batu
d) Sifat mekanika dari massa batu
e) Faktor lainnya
Dari uraian diatas dapat dibuat suatu tabel sebagai sasaran perolehan data
dari analisa topografi dan pemetaan geologi, seperti pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Observasi Penyelidikan Geologi Permukaan
Jenis batuan, warna, kekerasan, tingkat dan kedalaman

Singkapan

Topografi

pelapukan, arah, sifat-sifat dan kerapatan rekahan, arah


Jenis dan sifat-sifat dari lapisan
dan penyebaran struktur sesar dan zona retakan, lurus
dan batuan
dan kemiringan lapisan batuan dan lain-lain
Pola Perlapisan dan hal-hal yang Pola (keselarasan, ketidak selarasan, struktur sesar,
berkaitan
peralihan) arah dan kenampakan bidang batas dan lainlain
Lain-lain
Jenis dan ketabalanlapisan penutup, jumlah, mutu dan
suhu mataair, ada tidaknya fosil dan lain-lain
Bentuk sungai dan lembahnya
Lebar lembah, kemiringan dasar, kemiringan tebing
Dataran
Dataran banjir, pelataran vulkanik, teras/undak sungai
Bentuk yang spesifik
"Karst" longsoran, gelinciran, gawir sesar, lembah sesar,
dan lain-lain

2.5. PENGAMBIALAN SAMPEL GEOLOGI DAN UJI GEOTEKNIK


2.5.1. Pemboran Tangan
Pekerjaan ini dimaksudkan untuk mengetahui keadaan perlapisan tanah
bawah permukaan serta muka air tanah dilokasi daerah penyelidikan.
Pemboran ini menggunakan mata bor tipe Iwan, pemboran diberhentikan

II - 4

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

apabila dasar lubang bor sudah mencapai lapisan tanah padat / batuan,
sudah mencapai kedalaman maksimum mencapai kedalaman 5,00 m. Dari
tiaptiap

lubang

bor

diambil

contohcontoh

tanah,

untuk

keperluan

percobaan di laboratorium mekanika tanah, baik contoh tidak terganggu


maupun contoh terganggu.
2.5.2. Penyondiran (Standart Penetrasi Test (SPT))
Maksud dari pengujian ini adalah untuk mengetahui nilai perlawanan konus
dan hambatan lekat tanah dari berbagai interval kedalaman hingga
mencapai lapisan keras. Alat yang digunakan dalam pengujian ini adalah
mesin sondir berkapasitas sedang yang dapat membaca nilai perlawanan
konus maksimum 200 kg/cm2, nilai perlawanan konus tersebut dapat
dipergunakan

untuk

memperoleh

nilai

daya

dukung

tanah

dengan

menggunakan formula empiris. Penyelidikan sondir ini dilakukan sampai


mencapai nilai tahanan konusmaksimum menunjukkan yaitu < 150 kg/cm2
atau telah mencapai nilai yang ditetapkan. Dari hasil pembacaan sondir
tersebut didapat suatu grafik yang menggambarkan hubungan antara nilai
tahanan konus dan hambatan lekat tanah untuk setiap interval kedalaman
20 cm.
Standard penetration test dilakukan untuk mengetahui daya dukung tanah,
dan akan dilaksanakan pada saat pengeboran dilaksanakan. Test dilakukan
setiap kedalaman 2 - 3 meter, atau setiap perubahan batuan/tanah,
bertujuan

untuk

mengetahui

konsistensi

dari

lapisan

tanah

bawah

permukaan dengan cara menghitung banyaknya pukulan palu SPT yang


mengakibatkan penetrasi spoon SPT sepanjang 45 cm kedalam lapisan
tanah. Pelaksanaan SPT dengan menggunakan beban seberat 63.5 kg yang
dijatuhkan secara bebas dengan tinggi jatuh 75 cm. Penetrasi dari spoon
SPT kedalam tanah akibat pukulan dicatat setiap 15 cm sebanyak 3 kali NSPT yaitu banyaknya pukulan palu untuk penetrasi spoon 2 x 15 cm terakhir.
Apabila penetrasi tidak dapat mencapai 30 cm dan jumlah pukulan telah
mencapai 50 kali, maka pelaksanaan SPT dihentikan. Pada kedalaman > 20
meter, harga N akan dikoreksi dengan menggunakan formula sebagai
berikut:
II - 5

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

N = (1,06 0,003 D) N
Dimana:
-N

= Harga N setelah dikoreksi

-D

= Panjang RQD kedalaman (m)

-N

= Harga N hasil lapangan

Pengambilan contoh tanah tak terganggu di ambil pada setiap pergantian


lapisan tanah di dalam lubang bor. Pengukuran muka air tanah dalam lubang
bor dilaksanakan pada pagi hari sebelum kegiatan pemboran dilaksanakan.
Hubungan N SPT dengan daya dukung tanah/batuan dapt di lihat pada Tabel
2.2 dan Tabel empirik untuk mengetahui parameter teknik tanah pasiran
dan pasir berdasarkan nilai N dari SPT dapt di lihat pada Error: Reference
source not found.

Tabel 2.2. Hubungan N SPT dengan daya dukung


Tanah Lempung & Lanau
N
<2
24
48
8 15
15 30
> 30

Konsistensi
Sangat lunak
Lunak
Sedang
Agak Kenyal
Sangat
Kenyal
Keras

Tanah Pasir
N
<4
4 10
10 30
30 50
> 50

Kepadatan
Sangat Lepas
Lepas
Agak Padat
Padat
Sangat Padat

Tabel 2.3. Tabel Empirik untuk Parameter Teknik Tanah Pasiran Dan Pasir
Jumlah
Tumbukan

Katagori
(Kepadatan)

Parameter Empirik (TERSAGI & PECK)


Pasiran
Pasir

( N SPT)

C (T/m )

wet

Dr (

(T/m )
0-4

Sangat Urai

4 - 10

wet
(T/m )

15 - 20

0.5

1.8

28.5

< 15

1.8

Urai

25

0.5

1.9

28.5 - 30

15 - 35

1.9

10 - 30

Agak Padat

30

0.5 - 1.0

30 - 36

35 - 60

30 - 50

Padat

36 - 41

60 - 85

2.1

Sangat Padat

> 41

> 85

2.1

>50

II - 6

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

2.5.3. Sumuran Uji (Test Pit)


Maksud dari pekerjaan test pit adalah untuk mengetahui jenis, ketebalan,
tekstur,

sifat fisis tanah guna

menganalisa kestabilan lereng/galian.

Penggalian Test-Pit dilakukan pada borrow area yang terlebih dahulu telah
diidentifikasi dari interpretasi Peta Geologi Regional dan Peta Topografi serta
checking dilapangan pada saat pemetaan geologi teknik. Pekerjaan sumuran
uji ini dilakukan dengan penggalian tanah berukuran 1.50 m x 1.50 m
dengan kedalaman 2.00 3.00 m. Setiap perubahan formasi tanah akan
diambil sample dan dimasukan kedalaman karung goni, setelah itu lubang
akan dideskripsi sesuai dengan kondisi asli. Pekerjaan ini dihentikan apabila
dinding galian selalu runtuh dan muka air tanah tinggi serta sukar untuk
diatasi. Dari pekerjaan ini diambil undisturbed sample untuk keperluan
analisa di laboratorium mekanika tanah.
2.5.4. Pengambilan Contoh Tanah/Batuan
Untuk keperluan diskripsi lapisan tanah yang dijumpai pada setiap titik
penyelidikan dan untuk keperluan pengujian dilaboratorium. Maka pada
waktu pekerjaan penyelidikan lapangan yang dilakukan, diambil contoh
contoh tanah baik contoh tanah terganggu maupun contoh tanah tidak
terganggu.
Pengambilan contoh tanah/batuan dilakukan pada setiap bor inti dan untuk
contoh tanah diambilkan pada test pit. Pengambilan contoh tanah dilakukan
setiap terjadi perubahan lapisan yang dijumpai, kemudian dimasukan
kedalam tempat contoh tanah yang diberi tanda pengenalan/label berupa
nomor lubang, kedalaman dan lokasi proyek. Untuk mengadakan penelitian
tanah dilaboratorium pengambilan contoh tanah harus dilakukan, hal ini
diperlukan

untuk

mengetahui

sifat

fisik

dan

parameter

tanahnya.

Pengambilan contoh tanah dilakukan pada areal usulan borrow area dengan
persetujuan direksi.
2.5.5. Pengambilan Contoh Tanah terganggu (Disturbed Sample)
Contoh tanah terganggu dapat diperoleh dari tanah/batuan dari sumuran uji
II - 7

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

(test pit) atau dari paritan uji (trench) adapaun uji laborotorium dari kedua
jenis contoh tanah tersebut adalah sebagai berikut :
A. Penyelidikan Laboratorium Tanah
Pada contoh tanah yang terambil, baik tanah asli maupun contoh tanah
yang tidak asli akan dilakukan beberapa macam uji laboratorium,
sehingga data parameter dan sifat-sifat tanahnya dapat diketahui. Jenis
dan macam percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Soil properties

Unit density (n)

Specific gravity (Gs)

Natural Moissture Content (Wn)

Void ratio (e)

2. Grain size
3. Atterberg Limit (wi, wp, lp)
4. Triaxial Test (, c)
5. Pearmibility (k)

B. Atterberg Limit (LL, PL, PI)


1) Liquit Limit (LL)
Batas cair/liquit limit adalah nilai kadar air yang dinyatakan dalam
proses dari contoh tanah yang dikeringkan dalam oven pada batas
antara keadaan cair ini dapat ditentukan dengan cara menentukan
nilai kadar air pada contoh tanah yang mempunyai jumlah ketukan
25 kali dijatuhkan setinggi 1 cm pada kecepatan 2 kali setiap
detiknya, dan panjang lereng saluran percobaan ini adalah 12,7
mm.
2) Plastic Limit ( PL )
Batas plastic ini adalah nilai kadar air pada batas bawah daerah
plastis. Kadar air ini ditentukan dengan mengelilingi tanah yang
melewati ayakan N0. 40 (4.255 mm) pada alat kaca sehingga
membentuk diameter 3.2 mm dan memperlihatkan retak-retak.
3) Plastic Index (PI)
II - 8

LAPORAN GEOLOGI/MEKTAN

SID Pembangunan Embung Sungai Air Santan Kabupaten Lebong

Interval kadar air dimana tanah masih bersifat plastis. PI = LL PL


4) Shringkage Limit
Shringkege limit adalah nilai maksimum kadar air pada keadaan
dimana volume dari tanah ini tidak berubah.
C. Engineering Properties
1) Konsolidasi (Cc)
Percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan sifat pemampatan
suatu jenis tanah.
2) Triaxial ( C, )
Percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan sudut geser dalam
() dan kohesi tanah (C) suatu jenis tanah.
3) Permeabilitas ( k )
Percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan sifat kelulusan air
dari suatu tanah.
4) Direct Shear ( )
Percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan Tegangan geser
langsung ( ) dan kohesi suatu jenis tanah (C).

II - 9