Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dalam Indonesia Sehat 2015, lingkungan yang diharapkan adalah yang
kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat, yaitu lingkungan yang bebas dari polusi,
tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan
pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan, serta
terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong dengan memelihara
nilai-nilai budaya bangsa.
Perilaku masyarakat Indonesia sehat 2015 adalah perilaku proaktif untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah terjadinya resiko penyakit,
melinduni diri dari ancaman penyakit serta berpartisifasi akif dalam gerakan
kesehatan masyarakat. Selanjutnya masyarakat mempunyai kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu. Layanan yang tersedia adalah
layanan yang berhasil guna dan berdaya guna yang tersebar secara merata dindonesia.
Dengan demikian terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis.
Data UNDP tahun 1997 mencatat bahwa Indeks Pembangunan Manusia di
Indonesia masih menempati urutan ke 106 dari 176 negara. Tingkat pendidikan,
pendapatan

serta

kesehatan

penduduk

Indonesia

memang

belum

memuaskan.Menyadari bahwa tercapainya tujuan pembangunan nasional merupakan


kehendak dari seluruh rakyat Indonesia, dan dalam rangka menghadapi makin
ketatnya persaingan bebas pada era globalisasi, upaya peningkatan kualitas sumber
daya manusia harus dilakukan. Dalam hal ini peranan keberhasilan pembangunan
kesehatan sangat menentukan. Penduduk yang sehat bukan saja akan menunjang
keberhasilan program pendidikan, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas
dan pendapatan penduduk.
Untuk mempercepat keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut diperlukan
kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih dinamis dan proaktif dengan
melibatkan semua sektor terkait, pemerintah, swasta dan masayarakat. Keberhasilan
1 | Page

pembangunan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kinerja sektor kesehatan semata,
melainkan sangat dipengaruhi oleh interaksi yang dinamis dari berbagai sektor.
Upaya untuk menjadikan pembangunan nasional berwawasan kesehatan sebagai salah
satu misi serta strategi yang baru harus dapat dijadikan komitmen semua pihak,
disamping menggeser paradigma pembangunan kesehatan yang lama menjadi
Paradigma Sehat.
Penyusunan rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2015
ini adalah manifestasi konkrit dari kehendak untuk melaksanakan pembangunan
nasional berwawasan kesehatan dan paradigma sehat tersebut.Diharapkan dengan
terwujudnya lingkungan dan perilaku hidup sehat serta meningkatnya kemampuan
masyarakat tersebut di atas, derajat kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat
dapat ditingkatkan secara optimal.
B.
1.

Tujuan
Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang konsep pembangunan kesehatan di Indonesia tahun 2015
2. Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui visi dan misi tentang konsep pembangunan kesehatan di
b.
c.

Indonesia tahun 2015


Untuk mengetahui konsep masyarakat dan konsep sehat
Untuk mengetahui Indicator yang berhubungan dengan derajat kesehatan

d.

masyarakat
Untuk mengetahui factor-faktor penyebab terjadinya masalah-masalah kesehatan

masyarakat di indonesia
e. Strategi dan Program Pembangunan Kesehatan di Indonesia
f. Pilar indonesia sehat
g. Tren dan isu pembangunan kesehatan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Visi dan Misi Indonesia Sehat 2015
VISI

2 | Page

Visi pembangunan kesehatan di Indonesia adalah Indonesia sehat 2015. Dalam


Indonesia sehat 2015, lingkungan yang diharapkan adalah lingkungan yang kondusif
bagi terwujudnya keadaan sehat, yaitu (Wahit, 2013) :
1.
2.
3.
4.

Lingkungan yang bebas dari polusi


Tersedianya sumber air bersih
Sanitasi lingkungan yang memadai
Perumahan dan pemukiman yang sehat

Terwujudnya kesehatan masyarakat yang saling tolong menolong dengan memelihara


nilai-nilai budaya bangsa.
Perilaku masyarakat Indonesia sehat yang diharapkan adalah ( Wahit, 2013) :
1.
2.
3.
4.

Bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan;


Mencegah resiko tejadinya penyakit;
Melindungi diri dari ancaman sakit;
Berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.
Selanjutnya, pada masa depan diharapkan masyarakat mampu menjangkau

pelayanan kesehatan bermutu yang bermutu tanpa adanya hambatan, baik yang
bersifat ekonomi maupun non ekonomi. Pelayanan kesehatan yang bermutu yang
dimaksudkan adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan pengguna jasa,
serta diselenggarakan sesuai dengan standard an etika profesi ( Wahit, 2013).

MISI
Untuk mencapai visi diatas, disusunlah misi pembangunan kesehatan sebagai berikut
Wahit, 2013) ;
1. Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan. Keberhasilan
pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja sector
kesehatan saja, tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja serta kontribusi
3 | Page

positif berbagai sector kesehatan saja, tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil
kerja , tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja keras serta kontribusi positif
berbagai sector pembangunan lainnya.
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Kesehatan adalah
tanggung jawab bersama setiap individu, masyarakat, pemerintah, dan swasta.
Jika hanya mengandalkan pemerintah tanpa kesedaran indivud dan
masyarakat untuk menjaga kesehatannya, maka tujuan Indonesia sehat 2010
tidak akan tercapai. Perilaku sehat dan kemampuan masyarakat untuk memilih
serta mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu sangat menentukan
keberhasilan program pembangunan kesehatan.
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata
dan terjangkau. Salah satu tanggung jawab sector kesehatan adalah menjamin
tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau oleh
masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan tidak semat-mata berada
ditangan pemerintah, melainkan mengikutsertakan peran serta aktif segenap
anggota masyarakat dan berbagai potensi peran swasta dengan sebesarbesarnya.
4. Memlihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
beserta lingkungannya. Tugas utama sector kesehatan adalah memelihara dan
meningkatkan kesehatan segenap warga negaranya, yaitu: setiap individu,
keluarga, dan masyarakat Indonesia, tanpa meninggalkan upaya penyembuhan
penyakit atau pemulihan kesehatan. Untuk terselengaranya upaya tersebut,
penyelengaraan upaya kesehatan yang harus diutamakan adalah yang bersifat
prmotif dan preventif, yang didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitative.

B. Konsep Masyarakat dan Konsep Sehat


Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul / berinteraksi.
Kesatuan hidup manusia berinteraksi menurut suatu system adat istiadat tertentu yang
bersifat kontinu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Sehat adalah suatu

4 | Page

keadaan yang lengkap, meliputi kesejahteraan fisik, mental, dan social, bukan hanya
bebas dari penyakit dan kecacatan/kelemahan ( Wahit,2013).
Ciri-ciri masyarakat sehat
Ciri-ciri masyarakat sehat adalah sebagai berikut( Wahit, 2013) :
1. Adanya peningkatan kemampuan dari masyaraakt untuk hidup sehat.
2. Mampu mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan
kesehatan ( health promotion), pencegahan penyakit ( health prevention)
terutama untuk ibu dan anak.
3. Berupaya selalu meningkatkan kesehatan lingkungan, terutama penyediaan
sanitasi dasar yang dikembangakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
meningkatkan mutu lingkungan hidup.
4. Selalu menignkatkan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan
status social ekonomi masyarakat.
5. Berupaya selalu menurunkan angka kesakitan dan kematian dari berbagai
sebab dan penaykit.

C. Indicator yang berhubungan dengan derajat kesehatan masyarakat


1. Indicator menurut system kesehatan nasional ( yang diambil dari 12 indikator
menurut H.L Blum) (wahit, 2013)
a. Life span, yaitu lamanya usia harapan hidup untuk hidup dari masyarakat,
atau dapat juga dipandang sebagai derajat kematian masyarakat yang
bukan kerena mati tua.
b. Disease or infirmity, yaitu keadaan sakit atau cacat secara fisiologis dan
anatomis dari masyarakat.
c. Discomfort or illness, yaitu keluhan sakit dari masyarakat tentang keadaan
somatic kejiwaan, maupun social dari dirinya.

5 | Page

d. Disability or incapacity, yaitu ketidakmampuan seseorang dalam


masayrakat untuk melakukan pekerjaan dan menjalankan peran sosialnya
karena sakit.
e. Participation in health care, yaitu kemampuan dan kemauan masyararakat
untuk berpartisipasi dalam menjaga dirinya agar selalu dalam keadaan
sehat.
f. Health behavior, yaitu prilaku nyata dari anggota masyarakat yang secara
langsung berkaitan dengan kesehatan.
g. Ecologic behavior. Yaitu prilaku masyarakat terhadap lingkungan
hidupnya, terhadap spesies lain, sumber daya alam, dan ekosistem
h. Social behavior, yaitu prilaku anggota masyarakat terhadap sesame,
keluarga, komunitas dan bangsanya.
i. Interpersonal relationship, yaitu kualitas komunikasi anggota masyarakat
terhadap sesamanya.
j. Reserve or positive health, yaitu daya tahan anggota masyarakat terhadap
penyakit, atau kapasitas anggota masyarakat dalam menghadapi tekanantekanan somatic, kejiwaan dan social.
k. External satisfaction, yaitu rasa kepuasan anggota masyarakat terhadap
lingkungan sosialnya, meliputi rumah, sekolah, pekerjaan, rekreasi,
transportasi, dan sarana pelayanan kesehatan yang ada.
l. Internal satisfaction, yaitu kepuasan anggota masyarakat terhadap seluruh
aspek kehidupan dirinya sendri.
2. Indicator secara umum yang akan dicapai ( kemenkes, 2015)
a. Menurunnya angka kematian ibu dari 359 per10.000 kelahiran hidup (SP
2010), 364 menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup.

6 | Page

b. Menurunnya angka kematian bayi dari 32 menjadi 24 per 1000 kelahiran


hidup.

c. Meningkatnya upaya peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan


masyarakat, serta pembiayaan kegiatan promotif, preventif.
d. Meningkatnya upaya peningkatan prilaku hidup bersih dan sehat.

7 | Page

Sedangkan dalam rangka meningkatkan daya tanggap (responsiveness)dan


perlindungan masyarakat terhadap risiko social dan finansial dibidang
kesehatan, maka ukuran yang akan dicapai adalah :
1. Menurunnya beban rumah tangga untuk membiayai pelayanan
kesehatan setelah memiliki jaminan kesehatan, dari 37 % menjadi
10%.
2. Meningkatnya indeks responsiveness terhadap pelayanan kesehatan
dari 6,80 menjadi 8,00.

8 | Page

3. Indicator sehat menurut WHO


a. Indicator yang berhubungan dengan keadaan status kesehatan masyarakat,
yang meliputi:

9 | Page

Indicator komprehensif, yaitu angka kasar / CDR ( crude date rate)


menurun, rasio angka kematian (mortalitas) proporsional menurun,

dan usia harapan hidup meningkat.


Indicator spesifik, yaitu angka kematian ibu dan anak menurun,
angka kematian karena penyakit menular menurun, serta angka

kelahiran menurun.
b. Indikator pelayanan kesehatan, meliputi:
Rasio antara tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang;
Distribusi tenaga kesehatan merata;
Informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit dan

fasilitas kesehatan lain;


Informasi tentang jumlah

sarana

pelayanan

kesehatan

di

antarannya rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, poliklinik,


dan pelayanan kesehatan lainnya.

D. Factor-Faktor

Penyebab

Terjadinya

Masalah-Masalah

Kesehatan

Masyarakat di Indonesia
Beberapa -fakor penyebab terjadinya masalah-masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia adalah sebagai berikut ( Wahit, 2013) ;
1. Faktor lingkungan
a. Kurangnya peran serta masyarakat dalam mengatasi kesehatan
b. Kurangnya sebagian besat rasa tanggung jawab masyarakat dalam bidang
kesehatan.
2. Factor perilaku dan gaya hidup masyarakat
a. Masih banyaknya kebiasaan masyarakat yang dapat merugikan kesehatan
b. Adat istiadat yang kurang, atau bahkan yang tidak menunjang kesehatan.
3. Factor social ekonomi
a. Tingkat pendidikan masyarakat di Indonesia sebagian besar masih rendah.
b. Kurangnya kesadaran dalam pemeliharaan kesehatan.
c. Penghasilan sebagian masih rendah dan pengangguran.
d. Kemiskinan

10 | P a g e

4. Factor system pelayanan


a. Cakupan pelayanan kesehatan belum menyeluruh.
b. Upaya pelayanan kesehatan sebagian masih berorientasi pada upaya
kuratif.
c. Sarana dan prasarana belum dapat menunjang pelayanan kesehatan.

E. Strategi dan Program Pembangunan Kesehatan di Indonesia


Strategi pembangunan kesehatan 2015-2019 meliputi ( Kemenkes, 2015) :
1. Akselerasi pemenuhan akses pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja, dan
lanjut usia yang berkualitas.
2. Mempercepat perbaikan gizi masyarakat.
3. Meningkatkan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan.
4. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas
5. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan rujukan yang berkualitas
6. Meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, dan kualitas farmasi
dan alat kesehatan.
7. Meningkatkan pengawasan obat dan makanan.
8. Meningkatkan ketersediaan, penyebaran dan mutu ssumber daya manusia
kesehatan.
9. Meningkatkan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
10. Menguatkan managemen, penilaian pengembangan dan system informasi.
11. Memantapkan pelayanan system jaminan social nasional bidang kesehatan.
12. Mengembangkan dan meningkatkan efektifitas pembiayaan kesehatan.

11 | P a g e

F. Pilar Indonesia sehat


Sebelumnya terdapat Tiga pilar yang diperlukan demi terwujudnya Indonesia
sehat 2010 antara lain sebagai berikut.
1. Lingkungan sehat
2. Prilaku sehat
3. Pelayanan kesehatan
Untuk program kementrian kesehatan periode 2015-2019 melalui program
Indonesia sehat dengan tiga pilar, yaitu :

1. Paragdima sehat
Paragdima sehat dilakukan dengan strategis pengutamakan kesehatan
dalam pembangunan kesehatan, penguatan promotif, preventif dan
pemberdayaan masyarakat.

12 | P a g e

2. Penguatan pelayanan kesehatan


Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan
akses pelayanan kesehatan, optimalisasi system

rujukan dan

pendekatan continuum of care, intervensi berbasis risiko kesehatan.


13 | P a g e

3. Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN)


JKN melalui kartu Indonesia sehat, dilakukan dengan strategi
perluasan sasaran dan benefit, serta kendali mutu dan kendali biaya.

14 | P a g e

G. Tren dan isu pembangunan kesehatan


Dalam membahas topic trend dan isu pembangunan kesehatan, tidak terlepas
dari peran daerah di era globalisasi dan bidang kesehatan. Undang-undang no.22
tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan undang-undang no. 25 tahun 1999 tentang
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah membawa perubahan
yang mendasar dalam penyelenggaraan pemerintah. System pemerintahan berubah
menjadi desentralisasi, kewenangan pemerintah yang selama ini berada di tangan
pemerintahan pusat beralih ke pemerintahan daerah (Wahit,2013).
Di era otonomi ini, baik kegiatan birokrasi, administrasi, maupun ekonomi
daerah tidak banyak bergantung pada pemeritahan pusat. Daerah pun dapat menyusun
rencana kegiatan pembangunan sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran masyrakatnya dalam berbagai aspek, termasuk
dibidang kesehatan (Wahit, 2013)
Hal ini mengacu kepada:
1. Pasal 11 ayat (2) undang-undang no 22 tahun 1999
2. Pasal 2 ayat (1) peraturan pemerintah (pp) 25 tahun 2000 tentang
kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah
otonom.
DESENTRALISASI
Undang-Undang No.22 tahun1999 tentang Pemerintah Daerah menjelaskan
pengertian desentralisasi sebagai penyerahan wewenang pemerintahan oleh
pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia . Terkait dengan pengertiam tersebut, maka desentralisasi bidang
kesehatan juga penyerahan wewenang oleh pemerintah di bidang kesehatan
kepada daerah otonom, sebagaimana diamankan pada pasal 11 ayat (2)
Undang-Undang No.23 tahun1999 (Wahit,2013).
Peran Pemerintah Daerah
Undang-Undang No.22 tahun1999 dab PP No.25 tahun 2000 diketahui bahwa
daerah terdiri dari daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota dan tidak
mempunyai hubungan hierarki. Kewenangan daerah provinsi sebagai daerah
otonom mencakupwewenang dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan
15 | P a g e

kepada gubernur selaku wakil pemerintah (dekonsentrasi). Kewenangan


daerah kabupaten atau kota dalam bidang kesehatan adalah semua
kewenangan diluar kewenangan yang diatur dalam PP No.25 tahun 2000
(Wahit, 2013).
Isu Startegi yang terkait dengan desentralisasi Bidang Kesehatan
1. Kelangsungan dan Keselarasan Pembangunan kesehatan
Dalam tatana otonomi daerah, keberhasilan pembangunan nasional dalam
bidang kesehatan sangat ditentukan oleh keberhasilan pembangunan yang
diselenggarakan oleh daerah-daerahn. Oleh karena itu, kelangsungan
pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kemauan dan kemampuan
daerah.
2. ketersediaan dan pemerataan sumber daya tenaga kesehatan
pelayanan kesehatan adalah pelayanan jasa yang tidak terpisahkan dengan
sumber daya tenaga. Ketersediaan dan pemerataan pelayanan kesehatan akan
terkait dengan ketersediaan dan pemerataan sumber daya tenaga.
3. Kecukupan dalam Pembiayaan Kesehatan
Pada dasarnya, pembangunan kesehatan harus dilaksakan bersama atas
pemerintah, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat dalam hal
pembiayaan kesehatan. Untuk itu, Pengembangan Jaminan Kesehatan
Masyarakat atau bentuk-bentuk asuransi kesehatan lanyya merupakan
indicator bagi peran serta masyarakat dalam pembiayaan kesehatan saat ini.
4. Keberadaan Prasarana dan Sarana Kesehatan
Di era desentralisasi, kepemilikan atas pengelolaan prasarana dan sarana
kesehatan dilimpahkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah bagi
kelangsuangan

kegiatan

operasipnal

kesehatan.

Namun,

pengalihan

kepemilikan dan pengelolaan prasarana dan sarana kesehatan ini tidak


menimbulkan perubahan fungsinya.
5. Kemampuan Manajemen Kesehatan
Selain misi, visi, strategi, serta sumberdaya keberhasilan pembangunan
kesehatan di daerah sangat dipengaruhi oleh kemampuan manajemen
kesehatan dari aparatur kesehatan itu sendiri. Kemampuan manajemen ini
meliputi kemampuan dalanm perencanaan dan penganggaran kesehatan,

16 | P a g e

pemantauan dan evaluasi, serta pengembangan dukunan system informasi


(Wahit, 2013).
Manfaat atau Keuntungan Desentralisasi
1. Memungkinkan pengorganisasian pelayanan kesehatan agar lebih rasional
dan terpadu dengan dasar area geografis dan administrasi, terutama untuk
pelayanan kesehatan primer;
2. Keterlibatan dan partisipasi pemerintah kabupaten atau kota akan lebih
besar, terutama dalam hal perencanaan yang disesuaikan dengan
kebutuhan yang mendasar dalam wilayah kerjanya;
3. Dapat menekan biaya dan duplikasi pelayanan kesehatan, terutama pada
tingkat sekunder atau tersier dengan cara melibatkan tanggungjawab
masyarakat dalam wilayah kerjanya;
4. Kegiatan pelayanan kesehatan pemerintah, non pemerintah , dan swasta
lebih terpadu;
5. Meringankan tugas-tugas ruti pemerintah pusat dalam hal perencanaan
dam penentuan kebijakan;
6. Kualitas program kesehatan akan meningkat dengan mengurangi kontol
dari pusat, terutama dalam hal administrasi;
7. Koordinasi lintas sector semakin baikdengan fasilator pemerintah
kabupaten atau kota (Wahit, 2013).
Kendala Pelaksanaan Desentralisasi
1. Kekhawatiran pemerintah pusat akan kehilangan sumber keuangan dan
pengaruh politik ;
2. Pemerintah pusat masih meragukan kemampuan administrative dan
managemen daerah untuk dapat bekerja secara efisien dan efektif.
3. Hambatan aspek keuangan (pembiayaan/pengangaran) di sebagian besar
daerah di Indonesia;
4. Peentuan kebijakan serta ketenagakerjaan masih sangat bergantung pada
pemerintahan pusat;
5. Adanya anggapan beberapa kabupaten/kota bahwa pelayanan kesehatan dapat
dijadikan sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) bukan sebagai
investasi, sehingga orientasinya masih pada profil atau material yang dapat
diraih dengan cepat;
17 | P a g e

6. Pemborosan dan inefisiensi dan di sector kesehatan, terutama di tingkat


pengambil keputusan dalam alokasi sumber daya yang mempengaruhi seluruh
system kesehatan (Wahit,2013)
Desentralisasi dengan PP dan permendagri bermasalah bagi daerah
Otonomi daerah yang dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada tiap-tiap
daerah untuk mengelola dan mengatur pemerintahan daerah, ternyata tidak
berjala sesuai dengan harapan.campur tangan yang terlalu jauh melalui
peraturan pemerintah ( PP) dan peratura mentri dalam negri (permendagri)
telah mewarnai program-program daerah yang seharusnya mandiri dan
otonom (Wahit, 2013)

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesahatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa
18 | P a g e

dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan
dengan prilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan
yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia. Strategi pembangunan kesehatan
untuk mewujudkan Indonesia Sehat tahun 2010 adalah sebagai berikut.
1.

Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan


Semua kebijakan pembengunan nasional yang sedang akan diselenggarakan harus
memiliki wawasan kesehatan. Artinya program pembangunan nasional harus
memberikan konstribusi yang positif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terdapat
dua hal, di antaranya:

a.

Pembentukan lingkungan sehat

b.

Pembentukan perilaku sehat;


Untuk terselenggarakannya pembangunan berwawasan kesehatan perlu dilaksanakan
kegiatan sosialisasi, orientasi, kampanye, dan pelatihan. Sehingga semua pihak terkait
memahami dan mampu melaksanakan pembangunan berwawwasan Internasional.

2.

Determinan yang berpengarah dalan perencanaan tenaga kesehatan diantaranya


adalah sebagai berikut.

a.

Perkembangan penduduk.

b.

Pertumbuhan ekonomi.

c.

Kebjaksanaan di bidang kesehatan antara lain: upaya peningkatan kelas rumah sakit
dan deregulasi bidang rumah sakit upaya peninhkatan mutu unit-unit pelayanan
kesehatan, swadaya unit pelayanan kesehatan, serta pengembangan sector swasta
(nasional dan asing).
Dalam penentuan atau perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan didasarkan atas
pertimbangan kombinasi dari tiga prinsip, yaitu: memerhatikan rasio tenaga dengan
penduduk; permintaan dan kecenderungan epidemiologi di lapangan; serta
determinan yang ada. Namun, untuk negara Indonesia yang sangat beragam situasi
dan kondisi daerahnya maka keadaan geografi dan kepadatan penduduk merupakan
factor determinan yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tentang kesehatan
disamping determinan yang disebutkan di atas. Ciri daerah yang sangat bervariasi
19 | P a g e

merupakan satu permasalahan tersendiri dalam melakukan perencanaan tenaga


kesehatan sehingga kemungkinan tidak dapat diperoleh satu formula yang dapat
digunakan untuk semua wilayah Indonesia.
B. Saran
Semoga makalah ini dapat menambah wawasan para pembaca dan isi dari makalah
ini dapat denagn mudah dipahami oleh para pembaca sehingga par pembaca dapat
mengetahui informasi yang disampaikan dari penulisan makalah ini. Makalah ini juga
dpat dijadikan referensi awal untuk para mahasiswa yang mencari materi mengenai
Pembangunan Kesehatan di Indonesia, Indonesia Sehat 2014, dan MDGs.

Daftar Pustaka
Mubarak, Wahit Iqbal, Nurul Chayatin. (2013). Ilmu Keperawatan Komunitas
pengantar dan teori. Jakarta. Salemba Medika
Moeloek, Nila F. (2015). Pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat
diakes dari www.depkes.go.id/resources/download/rakerkesnas.../kemenkes.pdf pada
tanggal 17 maret 2015.
Kementrian kesehatan RI. (2015). Rencana strategis kementrian kesehatan
tahun

2009-2019

diakses

dari

www.depkes.go.id/resources/download/info-

publik/Renstra-2015.pdf pada 17 maret 2015

20 | P a g e