Anda di halaman 1dari 4

ILMU KEBIDANAN DAN KEMAJIRAN

Gangguan Anatomis dan Herediter Hewan Betina


Cempaka Inc.
1. Hipoplasia ovary
Hipoplasia ovary ialah kelainan alat reproduksi betina yang merupakan padanan dari
hipoplasi testis pada jantan. Hipoplasia ovary terjadi pada breed-breed sapi tertentu. Pada
kasus hipoplasia ovary biasanya hanya ovarium kiri saja yang mengalami gangguan,
presentase kejadian hipoplasia ovarium bilateral hanya sekitar 9 % yang disebut sebagai
juvenile ovary (ovarium muda). Akibat dari hipoplasia ovary yaitu kegagalan dalam siklus
estrus serta kegagalan dalam terbentuknya tanda-tanda kelamin sekunder. Pada sebagian
kasus hipoplasia ovary, sapi menunjukkan infertilitas disertai beragam kelainan fungsional.
Kelainan ini diturunkan secara genetis yaitu pada gen betina resesif yang biasanya bertaut
dengan gen warna putih. Walaupun kadang warna selain putih pun juga ada kemungkinan
menunjukkan kelainan ini.
2. Cystic ovary
Cyctic ovary merupakan penyakit yang biasa menyebabkan infertilitas pada sapi
perah. Pada penyakit ini, satu atau lebih folikel ovarium berkembang (membesar) namun
gagal dalam ovulasi, dan folikel yang berukuran besar tersebut menetap dengan diikuti
degenerasi sel teka dan sel granulose. Betina penderita cystic ovary menunjukkan estrus
yang berkelanjutan atau estrus yang tidak teratur, dan terkadang muncul sifat jantan pada
hewan betina tersebut. Kondisi ini terkait dengan meningkatnya sekresi FSH dan
menurunnya sekresi LH. Berkurangnya reseptor ovarium terhadap LH, yang secara normal
dibutuhkan dalam proses ovulasi, bisa juga dikaitkan dengan cystic ovary. Namun pada
stadium awal kondisi ini bisa diatasi dengan injeksi LH yang dikombinasikan dengan
progesteron. Kondisi ini diturunkan secara genetis sebagai polygenic trait pada sapi.
3. Defective Development of the Mulerian Ductus
Salah satu contoh tidak berkembangnya ductus mullerian adalah aplasia segmental
dari ductus mulerian yang banyak terjadi pada ternak. Pada kasus yang lebih ringan, hanya
hymen saja yang mengalami kelainan. Hymen menjadi lebih tebal sehingga menutup
hubungan antara vagina atau bagian reproduksi betina anterior dengan meatus urinary
externus. Vagina anterior dan uterus membengkak karena berisi sekreta jika hymen benarbenar tidak dapat ditembus, menyebabkan sapi tertekan. Sementara pada kasus yang
parah, mucometra (akumulasi lendir dalam uterus) dapat disalahartikan sebagai kehamilan
dan pada satu atau lebih kasus, salah satu atau kedua koruna uteri menunjukkan bentuk
embriyonic dari ductus mullerian. Walaupun belum didapatkan suatu penjelasan genetis
yang memuaskan, pertautan antara gen penurunan/hilangnya pigmen bulu dan gen aplasia

segmental telah terbukti. Seringkali kejadian ini dikaitkan dengan efek pleiotropic dari
codominan gene untuk warna bulu putih.
4. Freemartin
Freemartin merupakan kelainan interseksual yang telah ditemukan sejak 1 abad
sebelum masehi. Sementara kelainan anatomi pertama kali didokumentasikan pada abad
ke-18. Freemartin seringkali terjadi pada sapi yang melahirkan kembar beda kelamin,
namun kadang juga terjadi pada babi, kambing, biri-biri, dan kuda. Kelainan yang mengarah
pada freemartin terjadi pada proses perkembangan anastomose pada 30 dan 50 hari
gestasi yang merupakan fase sensitive dalam pembentukan organ reproduksi. Anastomose
ini mengakibatkan adanya pertukaran precursor sel darah dan hormone antara kedua fetus.
Semakin dini anastomose terjadi, makin besar derajat maskulinitas pada fetus betina.
Sifat Freemartin pada sapi merupakan kelainan pada system genital. System genital
eksternal menunjukkan jenis kelamin wanita namun mengalami maskulinisasi secara
internal. Kadang, terjadi clitoromegaly disertai gonad yang rudimenter dan terletak intraabdominal. Gonad semacam ini disebut dengan ovotestes. Hewan tidak mengalami estrus
dan saat dilakukan palpasi perektal alat kelamin betina diketahui tidak berkembang.
Panjang vagina hanya sekitar sepertiga panjang vagina normal bila dilakukan deteksi
vagina dengan speculum atau disebut dengan blind-ended vagina (cul-de-sac vagina).
Diagnosa menggunakan karyotiping pada betina suspect menunjukkan chimerism (XX/XY)
dan ditemukan presentase populasi sel jantan yang beragam pada individu freemartin.
Fetus yang berkelamin jantan juga mengalami kelainan namun tidak mengalami
abnormalitas structural. Fertilitas jantan akan menurun sejalan dengan bertambahnya umur.
Ada dua teori tentang freemartin yang telah berkembang, yaitu teori hormonal dan
teori seluler. Berdasarkan teori hormonal, hormone pada fetus jantan masuk ke dalam tubuh
fetus betina melalui anastomose pembuluh darah diantara plasenta sehingga memunculkan
maskulinisasi pada gonad betina. Namun, setelah di lakukan uji coba dengan induksi
hormone ternyata tidak terjadi sindrom freemartin.
Sementara teori seluler penyebab terjadinya freemartin didasarkan pertukaran blood
forming cell dan sel germinal (germ cell) antara fetus jantan dan betina. Akibat pertukaran
antara kembar dwizigot ini, terbentuklah antigen eritrosit yang identik pada kedua fetus,
disertai munculnya kromosom sex chimerism (60, XX/XY) pada leukosit mononuclear darah
perifer. Kejadian kembar pada sapi jarang terjadi (low percentation). Kurang lebih 92%
kembar beda kelamin mengalami freemartin. Pada kasus lain, anastomose pembuluh darah
chorioallantoic kemungkinan gagal terbentuk atau terbentuk setelah stadium kritis (critical
stage) pada organogenesis.
Kadang-kadang, hewan yang lahir tunggal menjadi chimera. Ada kemungkinan fetus
yang satu mengalami degenerasi selama gestasi awal dan fetus yang lain menjadi chimera.
Sindrom freemartin biasanya terjadi pada sapi, tetapi bisa juga terjadi pada hewan ternak
lain seperti kambing, biri-biri, ataupun babi.

Gangguan Anatomis dan Herediter Hewan Jantan


1. Cryptorchidismus
Kegagalan pada salah satu atau kedua testis untuk turun ke dalam scrotum.
Testes tertahan di dekat abdomen (terlalu dekat dengan tubuh) sehingga suhu testes
akan tinggi dan kemampuan untuk spermatogenesis dan spermatositogenesis akan
rendah. Suhu testes normal yang dibutuhkan untuk proses spermatogenesis antara 35C dibawah suhu normal tubuh. Cryptorchidismus bilateral mengakibatkan steril;
Cryptorchidismus unilateral lebih sering terjadi dan fertilitas mendekati normal karena
produksi sperma normal berasal dari testes yang terletak di dalam skrotum.
Cryptorchidismus dapat terjadi pada semua hewan ternak akan tetapi lebih
sering terjadi pada kuda jantan dan babi jantan. Testis yang tidak turun kemungkinan
terletak di caudal ginjal atau antara canalis inguinalis. Testis yang terletak di abdomen
tetap menghasilkan hormon kelamin jantan. Penderita cryptorchid memiliki karakteristik
kelamin sekunder dan kelakuan kelamin. Telah dilaporkan bahwa cryptorchidismus pada
kuda merupakan sifat dominan yang diturunkan, sementara pada spesies lain
merupakan sifat resesif. Karena diturunkan, hewan yang mengalami cryptorchidismus
unilateral tidak dapat digunakan untuk pembiakan. Karena testis yang cryptorchid dapat
menjadi tumor, hewan yang terinfeksi harus dikastrasi.
2. Testis ektopik
Tidak umum terjadi pada sapi. Testis tidak berada di skrotum, tetapi terletak di
subcutan di antara kulit dan lipatan paha sehingga tidak bisa dipakai sebagai pejantan
karena dapat menularkan abnormalitas.
3. Orchitis (Peradangan pada testis)
Dapat disebabkan oleh infeksi (Contohnya : Actinobacillus seminis, Brucella
abortus, B. suis, Corynebacterium pseudotuberculosis, tuberculosis) atau akibat trauma
kulit robek menimbulkan infeksi. Infeksi virus pada testis disebut infectious orchitis.
Necrotic orchitis pada sapi jantan di Inggris disebabkan oleh actinobacillosis. Testis
ditutupi oleh jaringan fibrosa sehingga kapsula tidak elastik dan tidak bergerak bebas di
dalam skrotum. Skrotum menjadi merah pada hewan yang tidak memiliki pigmen pada
kulit di daerah inguinal. Pengobatan dengan antibiotik atau terapi lain sangat dibutuhkan
jika terjadi infeksi.
4. Hipoplasia Testis
Testis berukuran subnormal (kecil) dan teksturnya lembek di mana menunjukkan
adanya ketidakcukupan pertumbuhan dan perkembangan selama masa embrional.
Selain itu, kelainan ini menyebabkan fertilitas menurun sehingga hewan yang
mengalami hipoplasia testis tidak boleh digunakan sebagai pejantan. Hipoplasia testis
dapat terjadi beberapa hewan yang proses turunnya testis normal. Hipoplasia testis
umum ditemukan pada sapi, kambing, babi, dan diturunkan oleh sifat resesif.
5. Epididymitis (Peradangan pada epididimis)
6. Prostatitis

Peradangan yang terjadi pada kelenjar prostat akibat infeksi urethra pars
ascendens. Hewan yang terinfeksi menunjukkan gejala anoreksia, malaise, dan muntah.
Selain itu, terjadi nyeri abdomen yang hebat disertai dengan hewan melengkungkan
punggungnya. Urinasi menjadi sangat sulit dan menyakitkan. Antibiotik, estrogen,
relaksasi muscular dan kastrasi telah digunakan untuk mengobati prostatitis. Jarang
teramati kecuali pada anjing.
7. Balanitis
Peradangan pada preputium. Perlekatan antara penis dan preputium akibat
balanitis akut atau kronis (jarang) dapat menyebabkan ketidakdakmampuan secara
mekanis untuk menarik penis dan membuahi betina.

Sumber : Catatan Kuliah & Reproduction in Farm Animals (ESE Hafez)