Anda di halaman 1dari 37

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN AKHIR PELAKSANAAN KEGIATAN MAHASISWA


PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN (PBL II) FKM UMI

KABUPATEN

PANGKEP

KECAMATAN

LABAKKANG

DESA

LABAKKANG

DUSUN

PACIKOMBAJA

Mengetahui,
ABD. RASYID

AT.DG. KULLE

Kepala Lurah

Kepala Lingkungan
Menyetujui,
SUMIATI,SKM, M.kes

Pembimbing Lapangan

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

NAMA PESERTA PBL II DUSUN EMBUNG


Kabupaten

PANGKEP

Kecamatan

LABAKKANG

Desa

LABAKKANG

Dusun

PACCIKOMBAJA

1. AHMAD RYANDI PRATAMA

141 210 348

2. SUPRIADI

141 210 454

3. MASITA ALMARDI

141 210 414

4. ASRAWATI

141 210 021

5. ASRIANI HIJRAH

141 210 457

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb


Alhamdulillah, pujian dan syukur kami haturkan kepada Allah SWT karena atas
berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan laporan sebagai hasil PBL II
FKM UMI di Dusun Pacikombaja Desa Labakkang, Kecamatan Labakkang, Kabupaten
Pangkep dapat kami selesaikan dengan baik, walaupun kegiatan ini mendapat
hambatan, rintangan, tantangan di tengah kegiatan PBL ini.
Salawat dan Taslim kami kirimkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad
SAW yang menjadi Huswatun Hasanah dan Rahmatan Lil Alamin dalam menegakkan
Dienul Islam dan Kalimatullah yang dianut oleh umat manusia.
Kami sadari sepenuhnya dalam penyusunan laporan ini masih terdapat
kekurangan karena keterbatasan pengetahuan yang kami miliki.Sperti pepatah
mengatakan tak ada gading yang tak retak, tak ada insan manusia yang luput dari
kehilafan.Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari pembimbing dan
rekan-rekan semuanya yang bersifat membangun bagi kesempurnaan laporan PBL II.
Namun demikian kami kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan
program yang terpadu dan berkesinambungan yang akan melibatkan seluruh
komponen warga Pacikombaja Desa Labakkang, Kecamatan Labakkang,.
Kepada seluruh warga Dusun paccikombaja Desa labakkang yang telah
memberikan bantuan moril maupun materil kepada kami selama berada di lokasi PBL,
kami ucapkan terima kasi semoga Allah meridhai dan memberikan rezki dan hidayah
kepada Bapak/ Ibu/ Saudara(i) sebagai amalan yang hakiki di akhirat kelak.
Tak lupa pula kami ucapkan terimakasih kepada :
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

1. Bapak Pimpinan Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI Makassar


2. Bapak/ Ibu Dosen Pembimbing Lapangan PBL II FKM UMI
3. Bapak Kepala Wilayah Kecamatan Labakkang
4. Bapak Kepala Desa labakkang
5. Bapak Kepala Dusun paccikombaja
6. Bapak Imam Dusun paccikombaja
7. Remaja Mesjid Dusun paccikombaja
8. Orang Tua Kami yang senantiasa memberikan dukungan baik Moril maupun Materil.
9. Serta semua pihak yang telah membantu selama kegiatan PBL sampai penyusunan
laporan selesai
Demikian laporan ini kami susun sebagai bahan masukan untuk perbaikan dan
peningkatan derajat kesehatan yang optimal di Dusun paccikombaja Desa labakkang

Makassar, september 2012

Kelompok PBL II
Dusun paccikombaja

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

RINGKASAN

Didalam proses pembangunan Indonesia Sehat 2012 tentunya selalu dimulai dari
tingkat lapisan paling bawah yakni mulai dari individu, keluarga, kemudian ditingkat
komunitas baik di level Dusun sampai ditingkat Desa, yang selanjutnaya akan beranjak
ketingkat kecamatan, kabupaten dan propinsi dan akhirnya bisa menjadi sehat.
Derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya: lingkungan, prilaku,
pelayanan kesehatan dan genetik. Faktor lingkungan dan prilaku sangat mempengaruhi
derajat kesehatan.Yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman/ perumahan,
tempat kerja, sekolah, tempat umum, air dan udara besar, juga teknologi, pendidikan,
ekonomi dan sosial. Sedangkan prilaku tergambar dalam kebiasaan hidup sehari-hari
seperti: pola makan, kebersihan perorangan, gaya hidup dan prilaku terhadap upaya
kesehatan
Upaya-upaya dalam bidang lingkungan dan prilaku tersebut pada waktu yang lalu
belum dilaksanakan secara optimal. Oleh karena itu, pembangunan perlu lebih proaktif,

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

misalnya tidak hanya menunggu orang sakit, melainkan aktif memelihara, melindungi
dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Pengalaman belajar lapangan (PBL) dan proses belajar untuk mendapatkan


kemampuan profesional kesehatan masyarakat. Kemampuan spesifik yang harus
dimiliki oleh setiap tenaga profesi bidang kesehatan masyarakat. Melalui PBL, ada 4
kemampuan yang diperoleh, yaitu:
1. Menetapkan diagnosis kesehatan masyarakat.
2. Mengembangkan program intervensi kesehatan.
3. Melakukan pendekatan komunitas.
4. Bekerja dalam tim multidisplioner.s
Untuk mendukung peranan itu, diperlukan pengetahuan mendalam tentang
masyarakat. Pengetahuan ini antara lain mencakup kebutuhan dan permintaan, sumber
daya yang bisa dimanfaatkan, angka-angka kependudukan dan cakupan dan program,
dan bentuk-bentuk kerja sama yang digalang. Dalam hal ini diperlukan 3 data penting,
yaitu:
1. Data umum (data demografi)
2. Data kesehatan, dan
3. Data yang berhubungan dengan kesehatan (health related data).
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada PBL II antara lain :
a. Pendekatan dengan Model Kualitatif Indepth Interview
b. Analisis Masalah dengan Data Kuantitatif pada PBL I
c. Identifikasi masalah
d. Menentukan Prioritas Masalah dengan Diskusi FGD
e. Membuat Pohon Masalah dengan FGD dan Indepth Interview
f. Menentukan solusi masalah dengan FGD dan Indepth Interview
g. Membuat PoA (Plan of Action)
h. Intervensi Awal dalam Bentuk Pre Test
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

Berdasarkan hasil pendataan yang telah kami lakukan pada saat PBL I di wilayah
Dusun paccikombaja Desa labakkang, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep
ditemukan beberapa masalah yang mempunyai nilai ekstrim atau yang paling menonjol
diantara masalah-masalah kesehatan lainnya. Masalah-masalah kesehatan tersebut
adalah:
a. Masalah Perilaku dan Tempat Pembuangan Sampah
b. Masalah saluran pembuangan air limbah (SPAL)
c. Masalah penggunaan garam beryodium
Yang kemudian dalam menentukan prioritas masalah, kami melakukan Focus
Group Discussion (FGD) bersama dengan TOMA, TOGA dan masyarakat Dusun
Lerang - Lerang.Ini merupakan suatu metode agar kami dapat menggali masalah yang
ada bersama dengan masyarakat yang kami dampingi.
FGD merupakan salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif, dimana
sekelompok orang berdiskusi dengan pengarahan dari seorang moderator atau
fasilitator mengenai suatu topik permasalahan. Dalam hal ini adalah tentang masalah
kesehatan yang terjadi di Dusun paccikombaja Desa labakkang Berdasarakan hasil
pendataan kuantitatif kami pada PBL I, maka masalah kesehatan yang kami ajukan
untuk diprioritaskan pada saat FGD terdiri atas 4 masalah yaitu masih banyaknya
jumlah KK yang membuang sampah di sekitar rumah dan tempat terbuka , masih
banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan garam beryodium, masih rendahya
pengetahuan masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat,serta masih
banyaknya

masyarakat

yang

membuang

air

limbahnya

ditempat

penamampungan/peresapan, sekitar rumah.


Berdasarkan hasil FGDyang telah kami lakukan tersebut, maka prioritas masalah
yang dipilih oleh peserta FGD dengan scoring tertinggi untuk diprioritaskan yaitu :
1. Masalah Tempat Pembuangan Sampah
2. Masalah Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
3. Masalah Garam beryodium
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

DAFTAR ISI
Halaman
LEMBARAN PENGESAHAN..i
NAMA ANGGOTA KELOMPOK...ii
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

KATA PENGANTAR..iii
RINGKASAN....v
DAFTAR ISIvi
DAFTAR TABEL...vii
DAFTAR LAMPIRAN..viii
BAB I.

PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang.....1
B. Tujuan PBL II..7

BAB II.

PELAKSANAAN KEGIATAN...8
A. Kegiatan di lapangan....8
1. Kegiatan Pokok...........8
2. Kegiatan Ekstra...........8
B. Identifikasi Masalah ...............................9
C. Metode Penentuan Prioritas Masalah.........11
D. Pohon Masalah...17
E. Plan of Action (PoA)......21
F. Intervensi Awal..............21
G. Faktor Pendukung dan Penghambat..........32

BAB III

PENUTUP .....33
A. Kesimpulan....33
B. Saran .............34

DAFTAR PUSTAKA..35
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

A. Latar Belakang
1. Latar Belakang PBL 2
Paradigma sehat merupakan salah satu konsep pembangunan nasional
berwawasan kesehatan untuk menuju pencapaian visi Indonesia Sehat 2012 yang
ditandai dengan masyarakat hidup dalam lingkungan dan dengan prilaku hidup sehat,
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan serta memiliki derajat
kesehatan masyarakat yang tinggi. Paradigma sehat tidak akan terwujud dan hanya
akan menjadi slogan semata, tanpa dibarengi dengan tindakan nyata secara konsisten
dan berkesinambungan oleh seluruh lapisan masyarakat dan partisipasi aktif lintas
sektor, oleh karena itu kesehatan adalah merupakan tanggung jawab bersama.
Paradigma sehat tersebut lebih menekankan aspek kemandirian masyarakat dalam
memelihara kesehatan mereka sendiri melalui kesadaran yang tinggi akan pentingnya
pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif.
Didalam proses pembangunan Indonesia Sehat 2012 tentunya selalu dimulai
dari tingkat lapisan paling bawah yakni mulai dari individu, keluarga, kemudian ditingkat
komunitas baik di level Dusun sampai ditingkat Desa, yang selanjutnaya akan beranjak
ketingkat kecamatan, kabupaten dan propinsi dan akhirnya bisa menjadi sehat.
Kesehatan merupakan impian setiap orang didunia ini untuk melakukan aktivitas
sehari-harinya. Kesehatan juga merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah
satu faktor yang menentukan kualitas sumber daya manusia, disamping juga
merupakan karunia Tuhan yang patut disyukuri. Oleh karena itu, kesehatan perlu
dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya serta dilindungi dari ancaman yang merugikan.
Derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya: lingkungan,
prilaku, pelayanan kesehatan dan genetik. Faktor lingkungan dan prilaku sangat
mempengaruhi derajat kesehatan. Yang termasuk lingkungan adalah keadaan
pemukiman/ perumahan, tempat kerja, sekolah, tempat umum, air dan udara besar,
juga teknologi, pendidikan, ekonomi dan sosial. Sedangkan prilaku tergambar dalam
kebiasaan hidup sehari-hari seperti: pola makan, kebersihan perorangan, gaya hidup
dan prilaku terhadap upaya kesehatan.
Upaya-upaya dalam bidang lingkungan dan prilaku tersebut pada waktu yang
lalu belum dilaksanakan secara optimal. Oleh karena itu, pembangunan perlu lebih
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

10

proaktif, misalnya tidak hanya menunggu orang sakit, melainkan aktif memelihara,
melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Selain itu, pada waktu sekarang dan yang akan datang kita juga menghadapi
transisi demografis dan epidemiologis, tantangan global dan regional, perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat termasuk di bidang informasi. Selain itu,
masalah polusi dan degredasi lingkungan akan bertambah banyak dan memburuk. Hal
ini dapat dilihat dengan adanya peningkatan derajat polusi udara, masalah
pembuangan sampah, penurunan kualitas dan kuantitas air bersih.
Dalam upaya mengatasi masalah-masalah tersebut keberadaan tenaga-tenaga
kesehatan seperti dokter, dokter gigi dan perawat tidaklah cukup. Untuk itu di butuhkan
tenaga kesehatan yang membina masyarakat secara kolektif dan tidak individual,
memiliki wawasan dan keterampilan serta ilmu pengetahuan yang berbeda. Tenaga
tersebut harus dapat bekerja sama dan saling melengkapi dengan tenaga kesehatan
yang ada. Tenaga kesehatan yang di maksud adalah sarjana kesehatan masyarakat
(SKM).
Pengalaman belajar lapangan (PBL) dan proses belajar untuk mendapatkan
kemampuan profesional kesehatan masyarakat. Kemampuan spesifik yang harus
dimiliki oleh setiap tenaga profesi bidang kesehatan masyarakat. Melalui PBL, ada 4
kemampuan yang diperoleh, yaitu:
5. Menetapkan diagnosis kesehatan masyarakat.
6. Mengembangkan program intervensi kesehatan.
7. Melakukan pendekatan komunitas.
8. Bekerja dalam tim multidisplioner.

Untuk mendukung peranan itu, diperlukan pengetahuan mendalam tentang


masyarakat. Pengetahuan ini antara lain mencakup kebutuhan dan permintaan, sumber
daya yang bisa dimanfaatkan, angka-angka kependudukan dan cakupan dan program,
dan bentuk-bentuk kerja sama yang digalang. Dalam hal ini diperlukan 3 data penting,
yaitu:
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

11

4. Data umum (data demografi)


5. Data kesehatan, dan
6. Data yang berhubungan dengan kesehatan (health related data).
Ketiga data ini harus dianalisis. Diagnosis kesehatan masyarakat memerlukan
pengolahan mekanisme yang panjang dan proses penalaran dalam analisisnya. Melalui
PBL pengetahuan itu bisa diperoleh dengan sempurna.
Dusun

paccikombaja

Desa

labakkang

tepatnya

Kecamatan

labakkang

merupakan kecamatan yang mempunyai wilayah pinggiran kota yang berupa


pegunungan dan peresawahan yang dirasakan tepat untuk lokasi mahasiswa PBL yang
akan menerapkan konsep dalam pengelolaan upaya kesehatan dan pembangunan
kesehatan masyarakat.
2. Gambaran Umum PBL II
PBL II merupakan rangkaian kegiatan dari PBL I yang telah dilaksanakan pada
semester lalu. Pada PBL I telah dilakukan pengumpulan data baik data kualitatif
maupun data kuantitatif. Pada PBL II ini dilakukan invertarisir serta prioritas masalah
kesehatan bersama masyarakat.
Setelah melakukan PBL I selama dua minggu di Dusun paccikombaja Desa
labakkang, kami memperoleh data kuantitatif seperti berikut :
2.1 Keadaan Demografi
Berdasarkan data primer yang kami peroleh dari PBL I, keadaan
demografi penduduk Dusun paccikombaja Desa labakkang yang berhasil kami
data memiliki perincian sebagai berikut :
a. Jumlah KK

= 283 KK

b. Jumlah Laki-laki

= 300 Jiwa

c. Jumlah Perempuan

= 369 Jiwa

d. Jumlah Penduduk Seluruhnya

= 669 Jiwa

2.2 Keadaan sosial ekonomi keluarga


Berdasarkan hasil pendataan pada PBL I tentang kategori pendidikan,
masyarakat Dusun paccikombaja Desa labakkang sudah terbilang baik, yaitu
tidak tamat SD/MI yaitu 39 orang dan yang tamat SD/MI ada 36 orang dari 160
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

12

responden. Mayoritas masyarakat juga memiliki pendapatan yang kurang dari


Rp <500.000 per KK yaitu sebanyak 12 KK.
2.3 Keadaan kesehatan Lingkungan
Berdasarkan

tempat

membuang

sampah,

masyarakat

Dusun

paccikombaja Desa labakkang mayoritas membuang sampah dengan cara


dibuang disekitar rumah kemudian dikumpulkan lalu dibakar yaitu sebanyak
115 KK dan 1 KK yang dibuang disekitar rumah tapi tidak dibakar. Ini juga
menjadi masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat wilayah kerja kami.
Berdasarkan hasil dialog kami, mereka mengaku membuang sampah di
sekitar rumah lalu dikumpulkan dan dibakar karena tempat pembuangan
sampah seperti TPS atau TPA tidak ada, apalagi masih ada tanah kosong
yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat timbulan sampah. Padahal ini
adalah perilaku yang sangat mengganggu kesehatan dan pemandangan serta
bau yang tidak enak. Apalagi jika sumber air minum yang digunakan dekat dari
tempat buangan sampah ataupun
pembuangan

limbah

atau

SPAL,

SPAL. Sedangkan untuk tempat


masyarakat

Jenemadingin

dusun

paccikombaja yang paling banyak adalah dialirkan ke got yaitu sebanyak 46


KK. Keadaan timbulan sampah dan SPAL yang kurang terurus ini dapat
menyebabkan pencemaran air yang berada di sekitarnya. Untungnya,
mayoritas masyarakat sudah menggunakan air ledeng sebagai sumber air
minum.

2.4 Pengeluaran Rumah Tangga


Berdasarkan data yang diperoleh, masyarakat rata-rata pengeluaran
pangannya

pertahun yaitu 5.000.000 dengan jumlah

106 KK dan

pengeluaran untuk non-pangan yaitu <2.500.000 dengan jumlah 54 KK jadi


total pengeluaran pertahunnya untuk pengeluaran pengan dan non pangan
yaitu 28.329.500.
2.5 Status Gizi dan Kesehatan Ibu Hamil dan Ibu Balita

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

13

Berdasarkan kategori riwayat hamil dari 76 KK diketahui yang telah


mengalami gravid dan partus dengan jumlah 72 individu.
2.6 Status Gizi dan Kesehatan Anak
Berdasarkan kategori yang membantu persalinan, diketahui bahwa
terdapat 29 KK yang proses persalinannya dibantu oleh bidan. Sedangkan bayi
dilahirkan yang paling banyak adalah tunggal dengan cukup bulan. Dan selain
itu terdapat 31 KK yang bayinya pernah ditimbang dan semuanya pernah
diimunisasi.
2.7 Keluarga Berencana
Masyarakat di Desa labakkang Dusun paccikombaja yang telah
mengikuti program KB ada 50. Adapun alasan-alasan sehingga ada yang tidak
KB yaitu ingin segera punya anak dan juga dilarang suami atau keluarga.
2.8 Status Gizi Keluarga
Dari 160 KK di Desa labakkang Dusun paccikombaja memiliki pola
makan 3 kali sehari dan adanya sebagian masyarakat

yang mengabaikan

sarapan, dan sebagian masyarakat masih memiliki makanan pantangan seperti


ikan gabus dan telur dengan alasan dapat menimbulkan alergi.
Untuk konsumsi garam beryodium, 77 KK diantaranya telah
mengkonsumsi garam beryodium,diantaranya mengkonsumsi garam beryodium
dengan kadar 30 ppm dan < 30 ppm.masyarakat

memahami tentang

pentingnya konsumsi sayur dan buah.


2.9 Pencarian Pengobatan
Dari 160 KK yang kami dampingi yang pernah sakit selama 1 bulan
terakhir yaitu sebanyak 82 KK yang pernah sakit dengan gejala demam,
demam berdarah, sakit kepala, beringus, batuk - batuk, berak - berak, gatal gatal, dan lain-lain . Adapun tempat mencari pertolongan jika sakit yaitu
puskesmas dan obat tradisional.
2.10 Pemahaman Agama
Berdasarkan data yang diperoleh pada saat PBL I bahwa
pemahaman agama masyarakat Dusun paccikombaja mengenai shalat, tulis
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

14

arab, mandi wajib, tayammum, istinja dan baca Al-Quran sudah cukup baik
hal itu ditunjang oleh tersedianya tenaga pengajar dimesjid.
2.11 Perilaku Higienis
Perilaku
masyarakat

Desa

masyarakat

belum

cuci

tangan

labakkang

belum

Dusun

menyadari

diterapkan

dengan

paccikombaja

pentingnya

mencuci

baik

dimana
tangan

oleh

mayoritas
dengan

menggunakan sabun sebelum makan dan setelah buang air besar. Demikian
juga yang mencuci tangan setelah memegang binatang dan perempuan yang
mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan.
2.12 Penggunaan Tembakau dan Alkohol
Dari hasil pendataan, penggunaan tembakau dan alkohol di Dusun
paccikombaja sebanyak 19 jiwa diketahui bahwa masyarakat yang merokok
sebanyak 129 orang dan sebagian besar perokok yang ada rata rata
menghisap 1-5 batang rokok setiap harinya bahkan telah terbiasa merokok
ketika bersama ART dalam rumah. Begitupun dengan penggunaan alkohol
yang ada di dusun paccikombaja ,dari 160 jiwa masyarakat yang
menggunakan alkohol yaitu sebanyak 1 jiwa.
2.14 Perilaku Konsumsi (Semua Umur)
Perilaku konsumsi masyarakat dusun paccikombaja cukup baik
dikarenakan masyarakat disana menyadari pentingnya sarapan pagi agar
terhindari dari penyakit maagdan adapun perilaku konsumsi untuk sayursayuran dan buah-buahan sudah cukup baik.
B. Tujuan PBL 2
Tujuan Umum:
Meningkatkan pemahaman dan keterampilan Mahasiswa tentang ilmu
kesehatan masyarakat dan aplikasinya ditengah-tengah masyarakat.
Tujuan Khusus
Tujuan Khusus dari diadakannya kegiatan PBL 2 (Pengalaman Belajar
Lapangan 2) yaitu,
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

15

1. Mahasiswa mampu menganalisis permasalahan yang ada di masyarakat


bersama-ama dengan anggota masyarakat.
2. Mahasiswa dapat menentukan prioritas masalah dan merumuskan bentuk
solusinya bersama dengan anggota masyarakat.
3. Mahasiswa mampu menganalisis faktor penyebab masalah (root cause
analysis) dirumuskan bersama dengan masyarakat.
4. Mahasiswa mampu membuat proposal sederhana dalam bentuk Plan of
Action (POA) dari masalah yang akan di interfensi.
5. Mahasiswa mampu bekerjasama dengan masyarakat setempat dalam
melaksanakan kegiatan intervensi.
6. Mahasiswa mampuh melakukan suatu laporan kegiatan pada setiap
kegiatan yang telah dilakukan.

BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Kegiatan di Lapangan
1. Kegiatan Pokok
Kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL II) adalah salah satu mata
kuliah yang merupakan proses yang harus di lewati oleh mahasiswa FKM dan juga
merupakan program kesehatan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan,
keterampilan dan sikap untuk mengenal, mengatasi, dan mengelolah masalah
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

16

kesehatan yang dialami oleh masyarakat. Kegiatan PBL II ini merupakan kelanjutan
dari kegiatan PBL I. Pada PBL II ini kami tetap melakukan pendampingan terhadap
warga yang telah kami dampingi sejak PBL I yakni warga yang telah kami data.
Bersama mereka kami menganalisis masalah kesehatan yang terjadi serta
merumuskan solusi yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut.
Selama 14 hari berada di lapangan, kegiatan lapangan yang dilaksanakan
berupa kegiatan intra

(kegiatan pokok) yang tujuan utamanya adalah membuat

prioritas masalah, menganalisis faktor penyebabnya serta merumuskan solusinya


bersama dengan masyarakat tentang masalah yang diprioritaskan tersebut.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada PBL II antara lain :
i. Pendekatan dengan Model Kualitatif Indepth Interview
j. Analisis Masalah dengan Data Kuantitatif pada PBL I
k. Identifikasi masalah
l. Menentukan Prioritas Masalah dengan Diskusi FGD
m. Membuat Pohon Masalah dengan FGD dan Indepth Interview
n. Menentukan solusi masalah dengan FGD dan Indepth Interview
o. Membuat PoA (Plan of Action)
p. Intervensi Awal dalam Bentuk Pre Test

2. Kegiatan Ekstra
Selain kegiatan pokok yang kami lakukan selama 14 hari di lokasi dusun
paccikombaja, kami juga melakukan kegitan ekstra yaitu mengikuti kegiatan
posyandu dan PNPM. Dan kami juga melakukan kegiatan yang lain yaitu dengan
mengajar mengaji di mesjid.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil pendataan yang kami lakukan pada saat PBL I di wilayah
Desa labakkang Dusun paccikombaja, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep
diketahui bahwa ada beberapa masalah yang mempunyai nilai ekstrim atau yang paling

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

17

menonjol diantara masalah-masalah kesehatan lainnya. Masalah-masalah kesehatan


tersebut adalah :
1.1 Masalah Perilaku dan Tempat Pembuangan Sampah
Berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah dambaan semua
orang. Namun, untuk mewujudkan PHBS tersebut kita perlu mengetahui,
memahami serta menyadarinya terlebih dahulu. Tidak dipungkiri bahwasanya,
banyak

masyarakat

yang

mengetahui

hal

tersebut

namun

susah

untuk

mengaplikasikannya dengan alasan tidak memiliki sarana. Demikian pula halnya


dengan perilaku membuang sampah di sembarang tempat khususnya di Dusun
paccikombaja khususnya di Daerah sapanjang. Hanya sebagian kecil saja yang
memang belum menyadari dampak terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan
oleh sampah. Masyarakat yang masih kurang paham dengan perilaku hidup sehat
menjadi faktor atau alasan untuk mengangkat masalah ini khususnya pengetahuan
warga tentang masalah sampah. Dilihat dari faktor lingkungan fisik, masalah yang
langsung

terlihat adalah masalah sampah karena banyaknya sampah yang

berserahkan di sekitar pasar, selokan (drainease) yang tertumpuk dengan


tumpukan Sampah, SPAL yang sangat kotor akibat tumpukan sampah. Lingkungan
seperti itu akan selain merusak pemandangan, menimbulkan bau yang tidak sedap,
dan yang paling bahaya yaitu menjadi tempat berkembangbiaknya hewan
penyebab penyakit seperti DBD, malaria, diare, dan sebagainya.
Tabel 1
Distribusi Responden Berdasarkan Tempat PembuanganSampah di
Desa labakkang Dusun paccikombaja
September 2012
No.
1

Tempat membuang sampah


Dikumpulkan Lalu Dibakar

N
115

%
71,7

Dikumpul Lalu Ditimbun

3,1

Dikebun/ Semak/ Sawa/ Tempat

17

10,6

terbuka

3,8

Dibuang disekitar rumah

0,6

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

18

Dibuang di TPA

16

10,0

160

100

Lainnya
Total
Sumber : Data Primer 2012

Berdasarkan distribusi responden dari Tabel menunjukkan bahwa


masyarakat didusun paccikombaja yang membuang sampah dengan cara dibuang
di TPA (10,0 %), dikumpulkan lalu dibakar sebesar (71,7 %), dikumpul lalu
ditimbun adalah sebesar (3,1 %), dibuang dikebun / sawah sebesar (10,6 %),
dibuang disekitar rumah sebesar (0,6%), lainnya (0 %), dari 160 responden.
Tidak adanya TPS yang tersedia didaerah tersebut sehingga masyarakat
malas untuk membuang sampah di TPS yang jaraknya cukup jauh. Adanya lahan
kosong yang ditinggal pemiliknya ditambah pula dengan kesadaran masyarakat
yang masih rendah membuat masyarakat setempat membuang sampahnya di
lahan kosong tersebut sehingga di beberapa tempat di sekitar rumah warga
ditemukan gundukan-gundukan sampah atau TPS -TPS dalam skala kecil.
Sebenarnya masih ada minoritas masyarakat yang mau membuang sampah di
TPS tetapi karena kecemburuan sosial, akhirnya merekapun juga ikut-ikutan.
1.2 Masalah garam beryodium
Tabel 3
Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan Garam Beryodium di
Desa labakkang Dusun paccikombaja
September 2012

No.
1

Menggunakan Garam Beryodium


Ya

N
77

%
48,1

Tidak
Total

83
160

51,9
100

2
Sumber : Data Primer 2012

Berdasarkan distribusi responden table menunjukkan bahwa masyarakat


di Dusun paccikombaja yang menggunakan garam beryodium sebanyak 77 KK
atau (48,1 %), sedangkan yang tidak menggunakan garam beryodium hanya
sebanyak 83 KK (51,9 %).
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

19

1.3 Masalah Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Tabel 4
Distribusi Responden Berdasarkan Tempat Pembuangan Air
Limbah Di Dusun Lerang Lerang Desa Gentung
Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep
September 2012
No

Tempat Membuang Air Limbah

.
1

Penampungan atau Peresapan

19

11,9

Dialirkan ke got

46

28,8

Dialirkan ke Sawah/ Kebun/ Empang

5,6

Dialirkan ke Sungai/ Pantai

36

24,4

Dialirkan ke Sekitar Rumah

44

27,5

Lainnya

3
160

1,8
100

Total
Sumber : Data Primer 2012

Berdasarkan distribusi responden dari tabel menunjukkan bahwa sebagian


masyarakat di Dusun labakkang membuang air limbah dialirkan ke sekitar rumah
(27,5 %) dialirkan ke got (28,8 %) di alirkan ke sawah / empang dan (5,6 %) dan
di alirkan ke penampungan/peresapan (11,9 %).
Masyarakat di Dusun paccikombaja rata-rata tidak menggunakan SPAL.
Mereka hanya mengalirkan ke sekitar rumah dan penampungan/peresapan
sehingga disekitar atau dibawah kolong rumah masyarakat sangat becek karena
aliran air yang dipakai tidak mengalir dan tidak meresap dengan cepat sehingga
banyak sumber penyakit yang mudah
di timbulkan oleh genangan-genangan air tersebut.
Hal ini menandakan bahwa di Dusun paccikombaja perlu diadakan
penyuluhan tentang pentingnya memiliki Tempat Pembuangan Air Limbah.
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

20

C. Metode Penentuan Prioritas Masalah


Untuk menentukan prioritas masalah, kami melakukan Focus Group Discussion
(FGD) bersama dengan TOMA, TOGA dan masyarakat Dusun Lerang - Lerang. Ini
merupakan suatu metode agar kami dapat menggali masalah yang ada bersama
dengan masyarakat yang saya dampingi.
FGD merupakan salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif,
dimana sekelompok orang berdiskusi dengan pengarahan dari seorang moderator atau
fasilitator mengenai suatu topik penelitian. Dalam hal ini adalah tentang masalah
kesehatan yang terjadi di Desa labakkang Dusun paccikombaja. Berdasarakan hasil
pendataan kuantitatif kami pada PBL I, maka masalah kesehatan yang kami ajukan
untuk diprioritaskan pada saat FGD terdiri atas 4 masalah yaitu masih banyaknya
jumlah KK yang membuang sampah di sekitar rumah dan tempat terbuka , masih
banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan garam beryodium, masih rendahya
pengetahuan masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat,serta masih
banyaknya

masyarakat

yang

membuang

air

limbahnya

ditempat

penamampungan/peresapan, sekitar rumah.


Pada awalnya FGD ini kami laksanakan untuk menganalisis masalah
kesehatan massyarakat yang terjadi di Dusun paccikombaja secara umum. Dalam FGD
ini kami menawarkan 4 masalah tersebut dan untuk menentukan 3 masalah yang
diprioritaskan kami menggunakan metode CARL yang sebelumnya telah diajarkan oleh
dosen pengelolah dan pembimbing PBL II ini. Adapun cara pemberian nilai pada kriteria
yaitu dengan memperhatikan empat faktor :
1.
2.
3.
4.

Capability (Kemampuan)
Accessability (Kemudahan)
Readiness (Kesiapan)
Leverage (Daya Ungkit)

Adapun cara menghitung nilai dari masing-masing masalah adalah :


1. Semua Kriteria diberikan nilai
2. Total nilai merupakan perkalian dari nilai masing-masing kriteria
Total :
C xAx R x L

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

21

3. Penentuan Prioritas masalah dilihat dari total nilai tertinggi merupakan masalah
yang paling penting.

MATRIKS
No.
1.

Masalah Kesehatan
Membuang

sampah

dikumpulkan
dikumpul

lalu

lalu

di
di

Rangki

Hasil

400

ng
1

bakar,
timbun,

dikebun/ semak/ sawah/tempat


terbukadibuang d danisekitar
2.

rumah

12

3.

Penggunaan garam beryodium

96

Saluran pembuangan air


Limbah (SPAL)

Skala Likers :
1. Sangat tidak menjadi masalah
2.Tidak menjadi masalah
3.Cukup menjadi masalah (sedang)
4.Sangat menjadi masalah
5.Sangat menjadi masalah (mutlak)
Berdasarkan tabel hasil FGD kami tersebut, maka prioritas masalah yang dipilih
oleh peserta FGD dengan scoring tertinggi untuk diprioritaskan yaitu :
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

22

4. Masalah Tempat Pembuangan Sampah


5. Masalah penggunaan garam beryodium
6. Masalah Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
D.Pohon Masalah
Selain dapat menentukan prioritas masalah pada saat diskusi FGD kami
bersama TOMA, TOGA dan masyarakat dusun Lerang - Lerang, kami juga dapat
langsung menggali informasi yang lebih mendalam mengenai penyebab munculnya
masalah kesehatan yang terjadi di dusun Lerang - Lerang. Karena secara tidak
langsung sebelum menentukan nilai-nilai yang pantas diajukan untuk satu masalah
yang kami coba ajukan, masyarakat senantiasa memberikan pendapat tentang
penyebab, faktor penghambat dan pendorong masalah tersebut. Namun, untuk
menentukan pohon masalah yang kami ajukan kami menggunakan metode indepth
interview (wawancara mendalam) dengan menanyakan penyebab terjadinya tiga
masalah yang diprioritaskan di tingkat dusun serta solusi yang ditawarkan oleh
masyarakat. Dari hasil wawancara kami, diperoleh pohon masalah sebagai berikut:

1. Pohon Masalah Perilaku Membuang Sampah di Sembarang Tempat

93,6% MASYARAKAT MEMBUANG


SAMPAH DI SEMBARANG TEMPAT

Anggapan
Yang Salah
Kesadaran
Rendah

Ikut Ikutan

Kebiasaan

Tidak Ada
Mobil
Pengangkut
Sampah

Tidak ada
TPS dekat

Praktis

Kurangnya
Tidak Tahu
Perhatian
Bahaya
Masyarakat &
Laporan
Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II
Sampah
Pemerintah

Bukan
Prioritas

23

Kecemburuan
sosial
Kurangnya
Pengetahuan

Kurangnya
Penyuluhan

Daya Beli
Rendah

Pendidikan
Rendah

Pendapatan
Rendah

POLEK - SOSBUD

2. Pohon Masalah Penggunaan Garam Beryodium


PENGGUNAAN GARAM
BERYODIUM

Anggapan
Yang Salah
Kesadaran
Rendah

Malas

Kebiasaan
Sejak Kecil

Kurangnya
Perhatian
Orang Tua

Kurangnya
Pengetahuan
Laporan
Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II
24

Kurangnya
Penyuluhan

Pendidikan
Rendah
EKO SOS BUD

3. Pohon Masalah Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)

86,3 %TIDAK
MEMILIKI
SPAL

Tingkat Ekonomi
Masyarakat

Kurangnya
Motivasi

Tingkat Pendidikan
Rendah

Ekonomi Lemah

Kebiasaan

Kurangnya
Pengetahuan

Malas

Kurangnya
Informasi

Pendapatan
Rendah

Ekonomi-Sosial-Budaya

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

25

E. Plan of Action
1. Penyuluhan Tentang Masalah Sampah dan Akibatnya
Upaya Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat Tentang Sampah
dari 93,6% menjadi 99%di Dusun Paccikombaja Desa
Labakkang Kec. Labakkang,
Kab. Pangkep Tahun 2012
1. Latar Belakang
Seperti yang diketahui bahwa sampah merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan rusaknya lingkungan hidup sampai saat ini dan menjadi
pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan secepatnya oleh semua kalangan
masyarakat di Indonesia. Karena selain merusak keindahan lingkungan,
menimbulkan bau yang tidak sedap, sampah yang tidak ditangani dengan
baik dapat juga dapat menimbulkan penyakit seperti Diare, DB, malaria, dll .
Berdasarkan data pada PBL I diketahui bahwa masyarakat dusun
Lerang - Lerang yang diwawancarai ternyata semuanya masih membuang
sampah di sembarang tempat. Tidak adanya TPS yang dekat membuat
masyarakat malas untuk membuang sampah di TPS tersebut. Meskipun
berdasarkan data pre test yang kami lakukan pengetahuan mereka tentang
sampah sebenarnya sudah cukup baik namun kesadaran yang rendah
membuat masyarakat yang melihat masih adanya lahan kosong yang
ditinggal pemiliknya memberikan kesempatan masyarakat setempat untuk
membuang sampahnya sementara di lahan kosong tersebut.
Dengan demikian, sebagai langkah awal kami melakukan penyuluhan
mengenai dampak sampah guna memberi pemahaman yang lebih
mendalam pada Desa Gentung Dusun Lerang - Lerang Kecamatan
Labakkang Kabupaten Pangkep diharapkan dapat menyelesaikan masalah
ini.

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

26

2. Tujuan
Melakukan penyuluhan

bersama dengan masyarakat di Desa Gentung

Dusun Lerang - Lerang Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep


selama 1 kali dalam 2 minggu akan meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang sampah dari 93,6% menjadi 99% dan menurunkan
jumlah KK yang membuang sampah disekitar rumah.

3. Langkah - langkah
a. Persiapan
1. Mengadakan pertemuan & sosialisasi dengan kepala dusun Lerang
- Lerang, para kepala RT serta tokoh masyarakat Desa Gentung
untuk menentukan waktu serta tempat penyuluhan.
2. Persiapan materi penyuluhan, pembuatan undangan dan brosur
serta konsumsi.
3. Menyebarkan undangan penyuluhan.
b. Pelaksanaan
Kegiatan penyuluhan ini dilakukan oleh mahasiswa dan juga para
masyarakat di tempat yang telah di tetapkan. Penyuluhan ini akan
dilaksanakan pada hari ke- 2, minggu kedua pada saat PBL II.
c. Penilaian
Kami mengadakan peninjauan pada masyarakat yang telah
mendapat

penyuluhan

untuk

melihat

peningkatan

pengetahuan,

perubahan perilaku dan sikap mengenai masalah kesehatan yang terkait


dengan perilaku membuang sampah di sembarang tempat dengan
membandingkan jawaban antara pre test dan post test.
d. Kesinambungan
Dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan semua
warga Desa Gentung Dusun Lerang - Lerang Kecamatan Labakkang
Kabupaten

Gentung

diharapkan

program

kesehatan

yang

telah

dilaksanakan pada PBL II tetap berlangsung.

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

27

4. Time schedule
P.J
N
o
.

Minggu I

Minggu 2

Jenis kegiatan

K
e
t

1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
1 Fase Persiapan :
1. Observasi
Lapangan
2. Sosialisasi dengan
Kepala dusun, para
ketua RT dan Tokoh
Masyarakat
3. Menyiapkan bahanbahan penyuluhan
dan undangan

K.T

2 Fase Pelaksanaan
- Penyuluhan

K.T

3 Fase evaluasi

K.T
X

Ket : K.T = ketua tim , P. J = Penanggung Jawab


5. Sumber Daya yang Dibutuhkan

Sumber daya
yang di butuhkan

Yang Tersedia

Tenaga Penyuluh
7 orang
Alat tulis

Spanduk

Belum Tersedia

Undangan
Pertemuan 15

Rp. 40.000,00
Rp. 12.000,00

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

28

Lembar
Konsumsi

Rp. 34.000,00

Total

Rp. 86.000,00

6. Evaluasi
a. Apa yang
dinilai
b. Bagaimana
cara
penilaiannya

c. Kapan dan
berapa sering
d. Siapa yang
menilai

Peningkatanpengetahuan
masyarakat
tentang sampah dari 93,6% menjadi 99%
serta berkurangnya
jumlah KK yang
membuang sampah di sembarang tempat.
1. Mengadakan pre-post test kepada
masyarakat yang telah mengikuti
penyuluhan mengenai bahaya sampah
dan pentingnya tempat pembuangan
sampah.
2. Dengan
mengadakan
observasi
langsung apakah terjadi penurunan
jumlah KK yang membuang sampah di
sekitar rumah.
Pada PBL II sebanyak 1 kali.
Mahasiswa/i PBL II FKM UMI di Desa
Gentung Dusun Lerang - Lerang.

7. Kesinambungan
Dengan

melibatkan

tokoh

masyarakat,

tokoh

agama

dan

para

masyarakat Desa Gentung Dusun Lerang - Lerang Kecamatan


Labakkang Kabupaten Pangkep diharapkan program kesehatan yang
telah dilaksanakan pada PBL II tetap berlangsung.
2. Penyuluhan Memgenai Pentingnya SPAL
Upaya Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat Tentang SPAL
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

29

di Dusun Lerang Lerang Desa Gentung


Kec. Labakkang, Kab. Pangkep
Tahun 2012
1. Latar Belakang
SPAL atau saluran pembuangan air limbah adalah saluran khusus yang
dibuat untuk mengalirkan air limbah bekas rumah tangga atau yang dikenal
dengan istilah comberan atau dalam bahasa Makassarnya Pacairang. Jika
suatu rumah tidak mempunyai SPAL maka kemungkinan anggota rumah tangga
tersebut akan diserang berbagai macam penyakit dan permasalahan yang
sangat besar, sebab air limbahnya dibuang sembarang tempat. Antara lain, nilai
estetika dan keindahan berkurang, menimbulkan bau yang tidak sedap,
menganggu kehidupan alam air, menimbulkan penyakit malaria, demam
berdarah, cholera, disentri, dan lain-lain.
Jika masalah diatas tidak ditanggulangi segera maka akan merugikan
masyarakat itu sendiri. Kerugian yang dialami baik dari segi fisik maupun non
fisik.
Dari data PBL I, masyarakat dusun Lerang - Lerang sebagian besar
membuang air limbahnya di sekitar rumah yaitu sebesar (86,9%), masyarakat
kurang mengerti tentang dampak yang ditimbulkan serta kurangnya kesadaran
mereka tentang pentingnya SPAL.
2. Tujuan
Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Embung
tentang pentingnya manfaat SPAL bagi kesehatan, dengan persentase yang tahu
pentingnya memiliki SPAL.
3. Pelaksanaan
a. Persiapan.
Kami melakukan pertemuan dengan TOMA, TOGA serta masyarakat untuk
menentukan waktu serta tempat penyuluhan. Kami melakukan pembagian
undangan, dan menyiapkan bahan-bahan penyuluhan.

b. Pelaksanaan.
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

30

Kami melakukan pertemuan, penentuan prioritas masalah serta kegiatan


penyuluhan mengenai SPAL, akibat yang ditimbulkan serta solusinya yang
dilaksanakan pada PBL II.
c. Evaluasi.
Kami mengadakan peninjauan pada masyarakat yang telah mendapat
penyuluhan untuk melihat peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku dan
sikap mengenai masalah kesehaan yang terkait dengan SPAL.
d. Kesinambungan.
Dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan para masyarakat
diharapkan program kesehatan yang telah di laksanakan pada PBL II tetap
berlanjut.
6. Time schedule
P.J
No
.

Minggu I

Minggu 2

Jenis kegiatan

K
e
t

1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7
1

Fase Persiapan :
4. Observasi
Lapangan
5. Sosialisasi dengan
Kepala dusun, para
ketua RT dan Tokoh
Masyarakat
6. Menyiapkan bahanbahan penyuluhan
dan undangan

Fase Pelaksanaan
- Penyuluhan

K.T

K.T

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

31

Fase evaluasi

K.T
X

Ket : K.T = ketua tim , P. J = Penanggung Jawab


7. Sumber Daya yang Dibutuhkan

Sumber daya
yang di butuhkan

Yang Tersedia

Tenaga Penyuluh
7 orang
Alat tulis

Spanduk

Belum Tersedia

Rp. 40.000,00

Undangan
Pertemuan 15
Lembar
Konsumsi

Rp. 12.000,00

Total

Rp. 86.000,00

Rp. 34.000,00

6. Evaluasi
a. Apa yang
dinilai

Peningkatanpengetahuan
masyarakat
tentang pola hidup bersih dan sehat.

b. Bagaimana
cara
penilaiannya

3. Mengadakan pre-post test kepada


masyarakat yang telah mengikuti
penyuluhan mengenai pentingnya pola
hidup bersih dan sehat
4. Dengan
mengadakan
observasi
langsung apakah terjadi peningkatan
jumlah KK yang menerapkan pola hidup
bersih dan sehat.
Pada PBL II sebanyak 1 kali.

c. Kapan dan
berapa sering
d. Siapa yang
menilai

Mahasiswa/i PBL II FKM UMI di Desa


Gentung Dusun Lerang - Lerang.

7. Kesinambungan

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

32

Dengan

melibatkan

tokoh

masyarakat,

tokoh

agama

dan

para

masyarakat Desa Gentung Dusun Lerang - Lerang Kecamatan


Labakkang Kabupaten Pangkep diharapkan program kesehatan yang
telah dilaksanakan pada PBL II tetap berlangsung..
F. INTERVENSI AWAL
Intervensi awal yang kami lakukan pada PBL II ini yaitu berupa pemberian
pre test kemudian melakukan penyuluhan setelah itu kami melakukan pemberian
post test untuk mengetahui peningkatan pengetahuan masyarakat Lerang Lerang tentang sampah, SPAL, dan PHBS setelah diadakannya penyuluhan.
Intervensi awal ini kami lakukan setelah kami membuat pohon masalah dari tiga
prioritas masalah yang ada, dimana salah satu penyebabnya adalah kurangnya
sosialisasi atau penyuluhan tentang masalah kesehatan tersebut. Untuk lebih
meyakinkan data kuantitatif kami tersebut, kami kemudian mengadakan pretest
untuk menguji sejauh mana pengaruh atau kaitan antara pengetahuan rendah
dengan terjadinya masalah tersebut. Pretest ini kami lakukan selama 1 hari pada
saat kamimelakukan penyuluhan dan memberikan pretest ini dengan cara
memberikan pertanyaan pretest dan jawaban pilihannya, jika responden terlihat
tidak mengerti maka kami menjelaskan maksud dari pertanyaan tersebut.
Adapun hasil yang kami peroleh untuk sementara bahwa memang masyarakat
rata rata telah mengetahui tentang masalah tersebut namun penerapan dari
pengetahuan tersebut masih susah karena pengaruh lingkungan dan kurangnya
kesadaran

dari

masyarakat

itu

sendiri.

Dengan

demikian

untuk

lebih

memahamkan dan menyadarkan masyarakat akan hal tersebut, maka dengan


alasan inilah sehingga kami

melakukan penyuluhan agar pengetahuan

masyarakat meningkat.
Evaluasi yang akankami lakukan yaitu dengan melihat hasil jawaban pada
pre-post test. Apakah ada perubahan sikap dan perilaku yang berarti setelah
saya melakukan penyuluhan.

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

33

G. FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT


1. Faktor Pendukung
a. Sudah tersedianya posko PBL II yang berada di wilayah kerja kami,
sehingga memudahkan kami untuk bisa berinteraksi dengan masyarakat
dusun Lerang - Lerang.
b. Masyarakat dusun Lerang Lerang yang cukup ramah.
c. Adanya bantuan moral dan materil dari pengelolah PBL II yang
memudahkan pelaksanaan PBL II.
d. Adanya bimbingan dari pembimbing PBL II kami.
2. Faktor penghambat
a. Kesibukan warga yang sangat padat sehingga dominan kegiatan
kami dilaksanakan pada malam hari.
b. Susahnya dalam mengumpulkan

masyarakat

untuk

inti

melakukan

pertemuan.
c. Ekonomi masyarakat yang masih rendah.
d. Lokasi PBL yang cukup jauh dari kampus.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

34

Berdasarkan hasil diskusi kami pada saat FGD dan indepth interview bersama
masyarakat Desa Labakkang Dusun Paccikombaja selama PBL II dapat diketahui
bahwa terdapat tiga masalah yang diprioritaskan dan solusinya yang ditawarkan
untuk masing masing masalah, dengan rincian sebagai berikut :
1. Masalah tempat pembuangan sampah serta perilaku membuang sampah di
sembarang tempat
Berdasarkan data kuantitatif pada PBL I diketahui bahwa semua
masyarakat membuang sampah di sembarang tempat. Hal ini disebabkan oleh
tidak adanya TPS yang dekat serta kurangnya kesadaran dari masyarakat
sehingga perlu dilakukan penyuluhan mengenai sampah serta diadakan tempat
sampah percontohan.
2. Masalah SPAL
Dari data PBL I, masyarakat dusun Lerang - Lerang sebagian besar
membuang air limbahnya di penampungan/peresapan, dialirkan disekitar rumah,
dan dialirkan kegot, Masyarakat

Dusun Lerang - Lerang rata-rata tidak

menggunakan SPAL. Mereka hanya mengalirkan ke sekitar rumah sehingga


disekitar atau dibawah kolong rumah masyarakat cukup becek karena aliran air
yang dipakai tidak mengalir dan tidak meresap dengan cepat sehingga banyak
sumber penyakit yang mudah di timbulkan oleh genangan-genangan air tersebut.
Hal ini menandakan bahwa di Dusun Lerang - Lerang perlu diadakan penyuluhan
tentang pentingnya memiliki Tempat Pembuangan Air Limbah.
B. Saran
a. Harapan kami dari mahasiswa, agar masyarakat yang ada di Dusun Lerang Lerang mampu merubah perilaku kesehatannya serta menjaga kesehatan
lingkungannya agar dapat tercipta suasana lingkungan yang bersih dan sehat
demi tercapainya derajat kesehatan yang setinggi - tingginya.
b.Kami mengharapkan agar pemerintah setempat hendaknya dapat benar - benar
memperhatikan masalah kesehatan yang ada di lingkungan masyarakat Dusun
Lerang Lerang dan bekerjasama untuk melaksanakan dan mengatasi masalah
kesehatan yang ada tersebut.
Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

35

DAFTAR PUSTAKA

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

36

Panduan dan Jurnal Pengalaman Belajar Lapangan I, FKM UMI, Makassar


Laporan Hasil Pengalaman Belajar LapanganI, Februari 2012. FKM UMI
Makassar

Laporan Hasil Pengalaman Belajar Lapangan II

37

Anda mungkin juga menyukai