Anda di halaman 1dari 13

EKOSISTEM DANAU

Aryochepridho
14/365092/PN/13668
Manajemen Sumberdaya Perikanan
Intisari

Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter
hingga ratusan meter persegi yang dikelilingi oleh daratan. Keadaan danau bisa dipengaruhi
oleh beberapa faktor, seperti curah hujan, bentuk keadaan lingkungan dan sebagainya.
Praktikum ini bertujuan mempelajari karakteristik ekosistem lentik (perairan menggenang)
dan faktor-faktor pembatasnya, mempelajari cara-cara pengambilan data tolokukur
(parameter) fisik, kimia, dan biologi suatu perairan lentik, mempelajari korelasi antara
beberapa tolokukur lingkungan dengan populasi biota perairan (plankton dan bentos), serta
mempelajari kualitas perairan lentik berdasarkan atas indeks diversitas biota perairan. Metode
yang digunakan untuk mengetahui kejernihan air yaitu menggunakan secchi disk, dan untuk
mengetahui padatan tersuspensi total menggunakan kertas saring milipore (kertas penyaring
yang berdiameter 0,45 m) dengan pengukuran menggunakan metode gravimetri. Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Senin, 16 Maret 2015 pukul 13.30 WIB dan berlokasi di danau
Tambak Boyo, Sleman. Pengamatan dibagi menjadi 4 stasiun dengan pembagian di daerah
inlet (dekat air masuk), bagian tengah dan outlet (dekat air keluar).
Kata kunci : danau, diversitas, inlet, milipore, lentik, outlet, secchi disk

PENDAHULUAN
Indonesia mempunyai banyak danau dengan ukuran dan kedalaman yang bervariasi.
Danau memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia baik untuk rumah tangga,
industri maupun usaha pertanian. Danau juga berfungsi sebagai habitat biota perairan.
Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan memiliki luas mulai beberapa
meter hingga ratusan meter persegi yang dikelilingi oleh daratan (Prawitohartono, 2004). Di
dalam danau terdapat kesatuan proses yang saling terkait dan mempengaruhi anter semua
komponen, baik komponen biotik maupun abiotik yang sangat berpengaruh terhadap
keseimbangan ekosistem (Sastrawijaya, 2000). Ekosistem danau memiliki 4 zona
(daerah) yakni litoral, limnetik, profundal dan bentik (Soegianto,2004).
Berdasarkan

materi

organiknya

yang

di

produksi

(nutrisi),

danau

dikelompokkan menjadi yaitu danau oligotropik, eutropik, dan distropik


(Paney,

1986).

Organisme

makrobentos

hingga

yang

berukuran

mikroskopis adalah suatu organism yang merupakan penghuni dalam


ekosistem danau (Wibisono, 2003). Tumbuhan yang hidup didanau
biasanya tumbuhan bersel satu dan memiliki dinding sel yang seperti

alga biru dan alga hijau. Sedangkan hewan yang hidup didanau adalah
hewan tingkat tinggi yaitu salah satunya ikan ( Ewuis, 1990).
Tujuan dari praktikum ini adalah mempelajari karakteristik ekosistem lentik
(perairan menggenang) dan faktor-faktor pembatasnya, mempelajari cara-cara pengambilan
data tolokukur (parameter) fisik, kimia, dan biologi suatu perairan lentik, mempelajari
korelasi antara beberapa tolokukur lingkungan dengan populasi biota perairan (plankton dan
bentos), serta mempelajari kualitas perairan lentik berdasarkan atas indeks diversitas biota
perairan.
METODE
Pelaksanaan prakatikum ekosistem danau dilaksanakan pada hari Senin, 16 Maret 2015
di Danau Tambak Boyo, Sleman pukul 13.30 WIB. Parameter yang diamati dalam praktikum
ini yaitu parameter fisik meliputi suhu udara, suhu air, kejernihan, TSS dan warna air.
Parameter kimia meliputi kadar DO, kandungan CO2, alkalinitas, pH, BO dan BOD5. Untuk
parameter biologi yaitu menghitung densitas dan indeks diversitas plankton yang ada.
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah pH meter, kertas saring (milipore)
dengan diameter pori 0,45 m, tibangan analitik, larutan MnSO4, larutan reagen oksigen,
larutan H2SO4 pekat, larutan 1/80 N Na2S2O3, larutan 1/44 N NaOH, larutan 1/50 N H2SO4,
larutan 1/50 N HCL, larutan indikator Methyl Orange (MO), indikator Methyl Red
(MR), larutan 4 N H2SO4, larutan

0,1 Kalium Permanganat, Amonium

oksalat, formalin 4%, serta Aquades. Alat yang digunakan yaitu meteran,
water sampler, termometer, botol oksigen, erlenmeyer, gelas ukur, buret,
pipet tetes, aerator, ember plastik, tali pramuka, jaring plankton, kertas
label, dan pensil.
Metode yang digunakan dalam praktikum ini berbagai macam, seperti mengukur
kecerahan air menggunakan secchi disk, untuk mengetahui padatan tersuspensi total
menggunakan kertas saring milipore (kertas penyaring yang berdiameter 0,45 m) dengan
pengukuran menggunakan metode gravimetri, dengan rumus perhitungan sebagai berikut :
TSS =

1000
( B A ) mg/l
Y

dengan A sebagai keadaan saringan dimana sebelum

menyaring dan B sebagai keadaan saringan setelah disaring (dalam kondisi kering).

Kandungan O2 terlarut (DO atau Dissolved Oxygen) menggunakan metode winkler, dengan
rumus perhitungan sebagai berikut :
Kandungan O2 terlarut =

1000
Y 0,1 mg/l
50

dengan Y merupakan banyaknya larutan

1/80 N Na2S2O3 yang digunakan untuk titrasi dari awal hingga akhir.
Kandungan CO2 bebas menggunakan metode alkalimetri, dengan rumus perhitungan sebagai
berikut :
1 ml 1/44 N NaOH = 1 mg CO2
Kandungan CO2 =

1000
C 1mg/ l
50

dengan C sebagai larutan 1/44 N NaOH yang

digunakan dalam titrasi.


Begitu juga halnya dengan alkalinititas, juga menggunakan metode alkalimetri, dengan rumus
perhitungan sebagai berikut :
2

Kandungan CO3 =

1000
C 1mg/ l
50

Kandungan
1000
D 1 mg/ l
50

..... (=X)

HCO3

..... (=Y)

alkalinitas total : X + Y = .... (mg/l)


Indeks diversitas dihitung menggunakan metode Shannon-wiener dengan rumus :

H= log 2
N
N
H: indeks keragaman
ni: cacah individu suatu genus
N: cacah individu seluruh genera

HASIL DAN PEMBAHASAN


Praktikum ekosistem danau dilaksanakan di Danau Tambak Boyo, Sleman. Danau ini
cukup bersih dengan warna air hijau lumut akan tetapi banyak dijumpai sampah plastik di
sekitar danau tersebut. Vegetasi disekitar danau tersebut yakni ilalan, rumput, palem, dll.
Danau tersebut selain digunakan untuk tempat memancing warga sekitar. Selain itu danau
tersebut berfungsi juga sebagai penyedia air bagi warga sekitar. Penetrasi cahaya di danau
tersebut tergolong baik karena daerah tersebut merupakan lahan terbuka dan cahaya matahari
dapat diterima dengan optimal. Adapun tabel hasil pengamatan data adalah sebagai berikut:
HASIL PENGAMATAN EKOSISEM DANAU
Parameter
Suhu Udara (C)
Suhu Air (C)
Kecerahan (m)
TSS(ppm)
DO (ppm)
CO Bebas (ppm)
Alkalinitas (ppm)
pH
BO(ppm)
BOD(ppm)
Densitas
Plankton(ind/m3)
Diversitas
Plankton

Stasiun
1
31
30
0.99
5
9.2
6.3
101
7.3
22.457

2
32
29
0.96
5.2
6.98
8.2
114.16
7.1
1.5

3
31.5
29.5
0.69
6.8
6.98
0
114
7.2
10.1216

8.46

4.98

9.8

4
29
27.8
0.83
18.5
7.2
8.4
112
7.3
2.3
8.36

2610.44

1706.827

2911.65

2359.438

3.43849

3.616404

3.08626

2.940768

Pada stasiun pengamatan 1 daerah inlet danau, suhu udara berkisar 31C dengan suhu
air yakni sebesar 30C. Suhu air berada pada kisaran normal, yakni antara 28-32 (Effendi,
2003). Kecerahan air 0,99 m sedangkan padatan total terlarut (TSS) sebesar 10,01 ppm.
Padatan total tersuspensi berbanding terbalik dengan kecerahan air. Semakin tinggi TSS maka
semakin rendah kecerahan airnya, ini karena banyaknya padatan pada perairan tersebut
menyebabkan kecerahan air semakin kecil. Hasil pengukuran parameter kimia meliputi DO
sebesar 9,2 ppm, kandungan CO2 bebas sebesar 6,3 ppm, alkalinitas sebesar 101 ppm, pH
sebesar 7,3, BO sebesar 22,457 ppm, dan BOD sebesar 8,46 ppm, warna air pada stasiun I
yaitu hijau lumut. Warna perairan dipengaruhi oleh pengaruh bahan organik dan anorganik,

keberadaan plankton, humus, ion-ion logam serta bahan-bahan lain (Effendi, 2003). Pada
parameter biologi pengukuran densitas plankton 2610,44 ind/m3 dan diversitas plankton
sebesar 3,43849. Nilai densitas dan diversitas plankton dipengaruhi oleh
kondisi fisik dan kimia perairan, terutama kandungan oksigen terlarut dan
kandungan CO2 bebas dengan kondisi lingkungan yang sesuai, maka
jumlah densitas dan nilai diversitasnya pun tinggi.
Pada stasiun II yang juga merupakan daerah inlet danau, hasil
pengukuran suhu udara sebesar 32C dan suhu airnya sebesar 29C. Nilai
kecerahan air 0,96 m dan TSS sebesar 5,2 ppm. Hasil pengukuran parameter kimia meliputi
DO sebesar 6,98 ppm, kandungan CO2 bebas sebesar 8,2 ppm, alkalinitas sebesar 114,16
ppm, pH sebesar 7,1, BO sebesar 1,5 ppm, dan BOD sebesar 4,98 ppm. Pada parameter
biologi pengukuran densitas plankton 1706,827 ind/m3 dan diversitas plankton sebesar
3,616404. Pada stasiun ini terlihat kondisi perairan yang jelek, ini karena
nilai BO

dari stasiun

ini merupakan yang paling kecil,

sehingga

berpengaruh pada jumlah densitas plankton yang hidup pada daerah


tersebut.
Pada stasiun III yang merupakan daerah tengah danau, hasil
pengukuran suhu udara sebesar 31,5C dan suhu airnya sebesar 29,5C. Nilai
kecerahan air 0,69 m dan TSS sebesar 6,8 ppm. Hasil pengukuran parameter kimia meliputi
DO sebesar 6,98 ppm, kandungan CO2 bebas sebesar 0 ppm, alkalinitas sebesar 114 ppm, pH
sebesar 7,2, BO sebesar 10,1216 ppm, dan BOD sebesar 9,8 ppm. Pada parameter biologi
pengukuran densitas plankton 2911,65 ind/m3 dan diversitas plankton sebesar 3,08626.
Stasiun III merupakan stasiun terbaik, ini terbukti dari jumlah densitas
plankton yang tinggi.
Pada stasiun IV yang merupakan daerah

outlet danau, hasil

pengukuran suhu udara sebesar 29C dan suhu airnya sebesar 27,8C. Nilai
kecerahan air 0,83 m dan TSS sebesar 18,5 ppm. Hasil pengukuran parameter kimia meliputi
DO sebesar 7,2 ppm, kandungan CO2 bebas sebesar 8,4 ppm, alkalinitas sebesar 112 ppm, pH
sebesar 7,3, BO sebesar 2,3 ppm, dan BOD sebesar 8,36 ppm. Pada parameter biologi
pengukuran densitas plankton 2359,438 ind/m3 dan diversitas plankton sebesar 2,940768.
Pada stasiun IV, kandungan zat padat tersuspensi sangat tinggi. TSS yang
tinggi dapat mengurangi penetrasi cahaya matahari ke dalam air,

sehingga panas yang diterima permukaan air tidak cukup efektif untuk
proses fotosintesis (Connell, 1995). Namun tampaknya kandungan zat
padat tersuspensi di perairan ini belum menyebabkan terhalangnya
transfer energi dari matahari ke permukaan, sehingga energi matahari
yang diterima danau ini masih mampu untuk melaksanakan fotosintesis.
Keadaan ini terlihat dari hasil pengukuran kandungan oksigen (DO) yang
masih tinggi.

Berikut ini adalah grafik hubungan antar parameter lingkungan


Hubungan suhu DO CO2 bebas

Suhu Air VS Stasiun

DO VS Stasiun

32
30 3029.5
29
Suhu Air (C) 28
27.8

10 9.2
6.986.98 7.2
Suhu Air

DO

26

DO(ppm)

0
1

Stasiun

Stasiun

CO Bebas vs Stasiun
10
8.4
8 8.2
6.3
6
CO Bebas (ppm) 4
2
0 0

CO2 Bebas

Stasiun

Dari ketiga grafik tersebut terlihat penurunan suhu dari daerah inlet
(stasiun I) ke daerah outlet (stasiun IV). Hal ini sebanding dengan
penurunan DO. Temperatur air di suatu ekosistem danau di pengaruhi
terutama oleh intensitas cahaya matahari tahunan, letak geografis serta
ketinggian danau diatas permukaan laut. Dengan peningkatan suhu akan
menyebabkan konsentrasi oksigen akan menurun dan sebaliknya suhu
yang semakin rendah akan meningkatkan oksigen yang terlarut (Barus,
2004). Namun ini berbeda dari hasil yang diperoleh. Ini dapat dikarenakan
adanya aktifitas fotosintesis yang tinggi pada perairan tersebut. Hal ini
berbeda dengan kadar CO2 karena peningkatan suhu menyebabkan
terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organic sehingga kadar CO 2
pun semakin meningkat. Jadi, suhu berbanding terbalik dengan DO dan
berbanding lurus dengan CO2 (Effendi, 2003).

Hubungan CO2 bebas alkalinitas pH

pH VS Stasiun
7.4
7.3 7.3
7.2
pH
7.1
7
1

Alkalinitas VS Stasiun
120

7.3
7.2

114.16 114
112

110
Alkalinitas
Alkalinitas 100 101 (ppm)

pH

7.1

90
2

Stasiun

Stasiun

CO Bebas vs Stasiun
10
8.4
8 8.2
6.3
6
CO Bebas (ppm) 4
2
0 0

CO2 Bebas

Stasiun

Alkalinitas terendah dimiliki pada stasiun I yaitu 110 ppm, dan


tertinggi pada stasiun II yaitu 114,16 ppm, seluruh stasiun berada pada
kisaran normal alkalinitas. Nilai alkalinitas berada pada kisaran normal
antara 80-120 ppm. Nilai alkalinitas berbanding lurus dengan nilai pH
yang berada pada kisaran 6,8 karena sifat basa pada alkalinitas
menyebabkan tingginya nilai pH dan bila nilai alkalinitas rendah, rendah
pula nilai pH-nya (SITH, 2009). Berbeda dari teori diatas, stasiun II yang
memiliki alkalinitas tinggi, mempunyai pH yang sangat rendah. Ini dapat
dipengaruhi oleh CO2 yang terkandung pada stasiun tersebut, terbukti dari
nilai CO2 bebas yang tergolong tinggi.

Hubungan DO BOD5 BO

DO VS Stasiun

BOD VS Stasiun
12

10 9.2
6.986.98 7.2
DO

BOD (ppm)

0
2

8.36

8 8.06

DO(ppm)
1

9.8

10

BOD

4.98

4
2

Stasiun

BO VS Stasiun
30
20 22.46
BO (ppm) 10

10.12
2.3

1.5

0
1

BO

Stasiun

DO memiliki hubungan terbalik dengan BO, karena suspensi yang ada


pada BO akan menyebabkan kekeruhan sehingga akan berpengaruh pada
organisme perairan dan penurunan DO. Kadar BOD berkisar antara 4,989.80, semakin tinggi BOD suatu perairan maka semakin buruk kondisi
perairan tersebut. Karena jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk senyawa
organik semakin banyak sehingga menurunkan nilai DO. Jadi, BO
berbanding terbalik dengan DO dan berbanding lurus dengan BOD (Barus,
2004). Dengan demikian kondisi air akan miskin oksigen, sehingga
organisme tidak dapat berkembang karena BOD mengindikasikan banyak
limbah yang terdapat pada perairan tersebut.

Hubungan TSS, kecerahan, DO, densitas plankton

TSS VS Stasiun
20
TSS (ppm)

Kecerahan VS Stasiun
1.5
0.99
0.96
0.83
10.69

18.5

10 5 5.2 6.8

TSS

Kecerahan ( m0.5
)

Kecerahan

0
1 2 3 4

Stasiun

Stasiun

DO VS Stasiun
10 9.2
6.986.98 7.2
DO

DO(ppm)

0
1

Stasiun

Densitas Plankton VS Stasiun


Densitas
Densitas Plankton (ind/L) Plankton

Stasiun

Diversitas Plankton VS Stasiun


3.62
43.44
3.09
2.94
3
2
Diversitas Plankton
1
0

Diversitas
Plankton

Stasiun

Kecerahan suatu perairan dipengaruhi oleh kadar TSS dan DO. TSS
tertinggi terdapat pada stasiun IV yaitu sebesar 18,5 ppm dan pada
stasiun ini memiliki kecerahan 0,83 m. semakin tinggi suatu kadar TSS,
maka akan mengakibatkan DO menurun karena larutan yang tersuspensi
di perairan. Jadi, TSS berbanding terbalik dengan kecerahan dan DO.
Densitas plankton tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu 2911,65

individu/liter dan terendah pada stasiun II yaitu 1706,827 individu/liter.


Densitas plankton ini dipengaruhi oleh kandungan DO, semakin tinggi DO
maka semakin tinggi pula densitas plankton. Pada seluruh stasiun
pengamatan memiliki kisaran diversitas plankton antara 2,940768 hingga
3,616404. Nilai diversitas tertinggi terdapat pada stasiun II dan terendah
pada stasiun IV.
Oleh karena itu, secara umum berdasarkan parameter dan stasiun
yang diamati, danau ini tergolong baik, dari 4 stasiun yang ada, kualitas
perairan yang terbaik adalah stasiun III. Hal ini dikarenakan stasiun III
mempunyai densitas plankton yang tinggi dan parameter fisik serta
parameter kimia yang masih berada pada batas normal.
KESIMPULAN
Karakteristik

ekosistem

lentik

adalah

suatu

perairan

yang

menggenang, pada tepi danau umumnya curam, air danau biasanya


bersifat jernih dan keberadaan vegetasi air terbatas hanya dapat pada
daerah pinggir-pnggir saja. Faktor pembatas perairan danau yaitu suhu,
DO, CO2 bebas, BO, BOD5, pH, alkalinitas, TSS, intensitas cahaya, dan
kecerahan. Cara pengambilan data tolokukur lingkungan adalah dengan
cara mengambil sampel kemudian dilakukan pengukuran parameter fisik,
kimia, dan biologi. Korelasi antara parameter lingkungan dengan populasi
biota perairan contohnya yaitu kandungan DO yang tinggi menyebabkan
densitas plankton juga ikut meningkat sedangkan kadar CO 2 yang tinggi
menyebabkan densitas plankton rendah. Stasiun dengan kualitas perairan
terbaik terdapat pada stasiun III karena mempunyai densitas plankton
yang tinggi, dan tiap parameter menunjukkan nilai yang masih ideal.
DAFTAR PUSTAKA
Barus, T. A. 2004. Pengertian Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Darat.
USU Press. Medan.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan
Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Ewuis, I. Yanney. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. IPB press. Bandung.

Paney, A.L. 1986. The Ecology of Tropical Lake and Rivers. John Willey and
Sons. New York
SITH. 2009. Teknologi Pengelolaan Kualitas Air. Institut Teknologi Bandung,
Bandung.
W.D. Connell. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran, Terjemahan:
Yanti Koestoer. Universitas Indonesia. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai