Anda di halaman 1dari 7

PRODUKTIVITAS MAKROALGA DI PANTAI SEPANJANG, KABUPATEN

GUNUNGKIDUL
Aryochepridho
14/365092/PN/13668

Intisari

Intisari ditulis dalam bahasa Indonesia dengan jenis huruf Arial ukuran 10 pt, spasi tunggal. Intisari
bukanlah penggabungan beberapa paragraf tetapi merupakan ringkasan yang utuh dan lengkap yang
menggambarkan isi tulisan. Intisari memuat judul serta uraian singkat tentang tujuan, metode, hasil
dan kesimpulan penelitian. Panjang intisari maksimum 250 kata, ditulis dengan jarak satu spasi.
Intisari harus dilengkapi dengan kata kunci maksimal lima kata.

Kata kunci: kata kunci 1, kata kunci 2, kata kunci 3, kata kunci 4, kata kunci 5

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan talus ialah tumbuh tumbuhan yang belum dapat dibedakan dalam tiga
bagian utamanya, yang disebut akar, batang dan daun. Tubuh yang berupa talus itu
mempunyai struktur dan bentuk dengan variasi yang sangat besar. Tumbuhan yang memiliki
ciri utama berbentuk talus dimasukkan ke dalam Divisi Thallophyta.
Untuk mempelajari Tumbuhan talus yang dalam hal ini Divisi Algae, baik secara
morfologi maupun habitat, perlu diadakannya pengamatan secara langsung terhadap objek
yang akan diteliti dengan PKL (Praktik Kerja Lapangan), sehinggga mahasiswa dapat lebih
mudah untuk mengidentifikasi baik ciriciri mofologi (penampakan luar) maupun habitatnya,
dalam hal ini maka Praktik Kerja Lapangan dengan mengamati spesiesspesies tumbuhan
dari Divisi Algae di pantai kondang merak Malang, sebagai Prakyik Kerja Lapangan (PKL)
secara terorganisir.
Pentingnya dilakukannya Praktik Kerja Lapangan (PKL) Sistematika Tumbuhan
Algae secara terorganisir adalah agar mahasiswa mengetahui tumbuhan-tumbuhan tingkat
rendah dari Sub Divisi Algae secara langsung untuk diamati bagian-bagian dan ciri-ciri
khususnya kemudian digunakan sebagai acuan dalam mengidentifikasi. Selain itu agar
mahasiswa mengetahui warna, bentuk dan habitat asli dari Sub Divisi Algae, karena pada
waktu praktikum di laboratorium warna dan bentuk preparat sudah berubah karena sudah
diawetkan, sehingga kami harus melihat preparat yang morfologi dan habitat dalam bentuk
aslinya.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum biologi laut adalah untuk mengetahui komposisi jenis,
densitas, frekuensi jenis dan penutupan alga di suatu wilayah serta mengetahui indeks
diversitas makroalga di suatu wilayah perairan.

1.3 Tinjauan Pustaka


Daerah intertidal adalah daerah terkecil diantara daerah-daerah di laut atau
samudera dan luasnya hanya beberapa meter yang terletak diantara pasang air tertinggi
dan pasang air terendah. Zona intertidal merupakan bagian laut yang paling banyak dikenal
dan dipelajari, karena sangat mudah dicapai oleh manusia. Penelitian terhadap organisme
laut di daerah intertidal dapat di laksanakan secara langsung selama periode air surut tanpa
memerlukan peralatan khusus (Nybakken 1992).
Daerah intertidal terletak paling pinggir dari bagian ekosistem pesisir dan laut dan
berbatasan dengan ekosistem darat. Intertidal merupakan daerah pasang surut (intertidal)
yang dipengaruhi oleh kegiatan pantai dan laut. Kondisi komunitas pasang surut tidak
banyak perubahan kecuali pada kondisi ekstrim tertentu dapat merubah komposisi dan
kelimpahan organisme intertidal. Daerah ini merupakan daerah yang paling sempit namun
memiliki keragaman dan kelimpahan organisme yang relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan habitathabitat laut lainnya (Yulianda, 2013).
Gerakan ombak di zona intertidal mempunyai pengaruh terbesar terhadap organisme
dan komunitas dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Pengaruh ini terlihat nyata baik
secar langsung maupun tidak langsung. Aktivitas ombak mempengaruhi kehidupan pantai
secara langsung yaitu pengaruh mekaniknya yang dapat menghancurkan dan
menghanyutkan benda yang terkena dan kegiatan ombak memperluas batas zona intertidal.
Kegiatan ombak juga mempunyai pengaruh lain yaitu mencampur dan mengaduk gas-gas
atmosfer ke dalam air, sehingga ombak meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air
(Nybakken 1992).
Pembagian daerah komunitas hayati lebih terlihat pada daerah intertidal
bercadas/berkarang daripada ditempat lain, karena batu karang menyediakan substrat untuk
melekat serta perlindungan untuk biota yang subur. Jarak vertikal didaerah tersebut
bervariasi sifatnya dan terbentuk jarak horizontal yang lebih pendek daripada yang ada
didaerah lapisan bawah yang lunak (Mc Connaughey dan Zotolli 1983).
Menurut Ramimohartarto dan Juana (2001) beberapa sifat khusus biota daerah
intertidal antara lain:
a. Algae
Dilengkapi dengan holdfast sebagai alat untuk melekat pada substrat agar tidak hanyut
terkena gerakan ombak. Algae dilengkapi juga dengan air bladder sebagai alat untuk
mengapung. Algae renik hidup plankltonik atau bersimbiosis dengan karang atau
avertebrata lainnya, misalnya zooxanthela yang berwarna coklat hidup dalam polip
karang.
b. Cacing
Hidup dalam liang-liang batu dan karang. Cacing biasanya berasosiasi dengan karang
dan berperan dalam proses eroso yang dilakukan hewan secar alami.
c. Padang Lamun
Adaptasi bentuk padang lamun dapat dilihat dengan tipe populasinya yaitu:
1) Tumbuh-tumbuhan yang panjang, berdaun tebal sampai dengan populasi yang padat
hidup di bagian dalam dan terlindung suatu teluk kecil.
2) Tumbuh-tumbuhan yang pendek, berdaun tipis meliputi populasi yang tumbuh jarang
pada terumbu karang terbuka yang dangkal.
Bentuk-bentuk adaptasi organisme intertidal menurut Nybakken (1992) antara lain:
1. Adaptasi terhadap kehilangan air
Dengan cara pindah ke daerah yang lembab, cepat menyerap air merapatkan
cangakang, dll.
2. Adaptasi terhadap keseimbangan panas
Dengan memperbesar ukuran tubuh relative, memperluas cangkang, memperbanyak
uliran pada cangkang, warna organisme, persediaan air, dll.
3. Adaptasi terhadap tekanan mekanik (gerakan ombak)
Dengan melekat kuat pada substrat, menyatukan diri pada dasar perairan, membuat alat
pelekat yang kuat tetapi tidak permanen, kaki kuat dan besar dll.
4. Adaptasi pernapasan
Mempunyai tonjolan organ pernapasan, memasukkan organ pernapasan ke dalam
rongga perlindungan, menutup operculum atau mengaitkan diri dll.
5. Adaptasi cara makan
Dengan cara aktif jika pasang naik dan tubuhnya terendam air.
6. Adaptasi terhadap tekanan salinitas
Dengan cara melindungi tubuh dari kekeringan.
7. Adaptasi reproduksi
Dengan menghasilkan telur atau larva planktonik yang terapung bebas dan dengan daur
perkembangbiakan yang seirama dengan munculnya arus pasang surut tertentu.
Pantai Sepanjang merupakan salah satu pantai terpanjang di antara deretan pantai
yang ada di selatan Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Pantai ini terletak di Desa
Kemadang Kecamatan Tanjungsari (Koordinat GPS: S88'0.2" E11033'11.3"). Karakter
utama pantai adalah memiliki substrat yang disominasi oleh karang mati dan pasir serta
pada beberapa tempat bercampur dengan lumpur. Pada daerah pasang surut, paparan
cahaya matahari sangat mempengaruhi keberadaan makro alga. Makro alga pada daerah
pasang surut ini sangat membutuhkan cahaya matahari untuk melangsungkan fotosintesis.
BIOEDUKASI Volume 6, Nomor 1 Halaman 12-21 ISSN: 1693-2654 Februari 2013 13
Kondisi lingkungan dan substrat yang demikian merupakan habitat yang cocok bagi
tanaman makro alga atau rumput laut.
Makroalga adalah tumbuhan tidak berpembuluh yang tumbuh melekat pada substrat
di dasar laut. Tumbuhan ter sebut tidak memiliki akar, batang, daun, buah dan bunga sejati
(Jana, 2006). Peran makroalga dalam ekologi perairan sebagai produsen primer. Produsen
primer adalah organisme yang dapat menghasilkan suatu makanan yang berada pada
tingkat tropik terendah (Odum, 1993). Fungsi utama makroalga adalah sebagai makanan
yang kayaakan protein bagi organisme laut maupun manusia karena makroalga merupakan
satu satunya tumbuhan dengan struktur asam amino lengkap (Raharjo, 1982).
Kehidupan biota laut, baik tumbuh-tumbuhan, hewan maupun mikroba, dimana pun
ia terdapat selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Adapun beberapa faktor
ekologis yang mempengaruhi kehidupan alga seperti keadaan substrat dasar perairan,
cahaya, suhu, salinitas, kekeringan, nutrien dan gerakan air. Tiap spesies alga memiliki
toleransi yang berbeda-beda terhadap faktor-faktor ekologis tersebut. Faktor-faktor tersebut
dapat berpengaruh bersama-sama dan sederajat, atau satu faktor lebih menonjol
pengaruhnya daripada faktor yang lain. Seperti pada muara sungai, faktor salinitas lebih
menonjol pengaruhnya daripada faktor-faktor lain dalam kaitannya dengan sebaran biota
dari sungai ke laut dan sebaliknya (Raharjo, 1982).

Metode Penelitian
2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Laut ini dilakukan pada hari Sabtu, 31 Oktober 2015 pukul 11.00
17.00. Bertempat di Pantai Sepanjang Gunung Kidul Yogyakarta. Pada praktikum ini lokasi
Pantai Sepanjang dibagi menjadi 11 stasiun dan setiap kelompok dibagi lagi menjadi 4 zona
pengamatan berdasarkan jarak 10 meter dari bibir pantai.

2.2 Pengambilan Data


Pada praktikum ini data sampel pengujian diambil dengan metode Transek. Prinsip
kerja dari metode Transek adalah dengan membagi lokasi penelitian menjadi beberapa garis
transek dengan jarak yang telah ditentukan antara satu transek dengan transek berikutnya.
Setiap transek diambil beberapa plot dengan ukuran 1 m x 1 m (kuadrat plot). Penempatan
plot adalah 10 m, 20 m, 30 m, dan 40 m dari garis pantai. Fungsi dari kuadrat plot adalah
untuk menentukan tingkat tutupan alga berdasarkan luasan plot serta mengidentifikasi
ragam flora yang terdapat didalam plot. Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah ;
kuadrat plot, termometer, rafia, penggaris, pasak, pena waterproof, kertas, plastik clip,
kertas label, kertas pH, botol film, kamera dan pelampung. Bahan-bahan yang digunakan
pada praktikum ini adalah ; sampel air laut tiap zona, dan sampel flora yang belum
teridentifikasi
2.3 Analisis data
Pada setiap stasiun pengamatan dilakukan analisis data parameter fisik perairan
pantai seperti suhu udara, suhu air, pH, salinitas dan substat yang terkandung di dasarnya.
Selain itu setiap plot dihitung jumlah spesies alga yang ditemukan serta luas penutupannya,
serta jumlah individu/koloni. Berdasarkan dari hasil jumlah spesies alga yang telah didapat
serta jumlah individu/koloninya maka dapat didapatkan nilai frekuensi alga, frekuensi relatif
alga, densitas alga, dan densitas relatif alga. Nilai frekuensi alga dihitung menggunakan
rumus Fi = Ji/K, dimana Fi adalah frekuensi spesies ke-i, Ji adalah jumlah plot dimana
terdapat spesies ke-i dan K adalah jumlah total plot yang diamati (Soegianto, 1994). Nilai
frekuensi relatif alga dapat dihitung dengan rumus Rfi = [Fi / F ] x 100% , dimana Rfi
adalah frekuensi Relatif Jenis, Fi adalah frekuensi jenis ke-i, dan F adalah jumlah total
petak contoh (Bengen, 2000). Nilai densitas alga dapat dihitung menggunakan rumus D =
n/A, dimana D adalah densitas, n adalah total jumlah individu spesies tertentu dan A adalah
total area sampel (Nurmiyati, 2013). Terakhir adalah nilai densitas relatif alga dapat dihitung
dengan rumus Dfi = [Di / D ] x 100% , dimana Dfi adalah frekuensi Relatif Jenis, Di adalah
densitas jenis ke-i, dan D adalah jumlah total densitas (Aslan, 1991). Identifikasi jenis
dilakukan di lapangan dengan menggunakan buku-buku identifikasi alga dan dilakukan
konfirmasi di laboratorium.

Hasil dan Pembahasan


3.1 Hasil
(terlampir)
3.2 Pembahasan
Praktikum lapangan biologi laut kali ini dilaksanakan di Pantai Sepanjang Kabupaten
Gunung Kidul. Pantai ini mempunyai daerah yang selalu terendam air meskipun pada saat
surut. Pantai ini memiliki daerah berbatu karang yang terendam air, di sana terdapat banyak
biota air laut yang hidup baik flora maupun fauna.
Sebagian besar algae tumbuh pada daerah intertidal berbatu karang, karena daerah
ini sangat cocok untuk melekatkan diri guna mempertahankan diri dari hempasan ombak.
Selain algae, juga terdapat formasi pes-caprae yang terlihat di kedua pantai ini sangat
banyak. Tumbuhan yang paling banyak mendominasi adalah Ipomea pes-caprae yang
banyak tumbuh di belakang garis pasang pantai.
Pola penyebaran organisme dan zona yang beragam disebabkan oleh pasang-surut,
kemiringan dan keterbukaan. Satu ciri khas kebanyakan pantai berbatu adalah genangan-
pasang dari berbagai ukuran, kedalaman, dan lokasi. Ada tiga faktor fisik utama yang dapat
berubah-ubah dalam genangan-pasang yaitu suhu, salinitas dan konsentrasi oksigen.
Daerah berbatu karang yang terendam air ini terdapat banyak biota air laut yang
hidup baik flora maupun fauna. Dasar pantai ini berwarna terang dan warna terlihat
bervariasi tergantung spesies algae maupun biota lain yang mendominasi daerah
tersebut.Sebagian besar algae tumbuh pada daerah intertidal berbatu karang, karena
daerah ini sangat cocok untuk melekatkan diri guna mempertahankan diri dari hempasan
ombak.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh kelompok 5 diperoleh makroalga
sebanyak 4 jenis spesies alga, masing masing termasuk ke dalam 2 divisi yang berbeda
yakni 3 spesies di Chlorophyta dan 1 spesies berada pada divisi Rhodophyta. Adapun
spesies yang di dapat dan diamati yaitu Ulva sp; Caulerpa sp; Enteromorpha sp; dan
Acanthopora sp. Spesies yang termasuk ke dalam divisi Chlorophyta adalah Ulva sp;
Caulerpa sp; Enteromorpha sp, dan pada divisi Rodhophyta yakni Acanthopora sp.

A. Komposisi Jenis
1. Ulva sp.
Spesies ini ditemukan di seluruh stasiun. Nilai densitas yang didapatkan di stasiun 5
dengan nilai sebesar (Frekuensi = 152). Ulva sp. beradaptasi dengan mempunyai holdfast
yang kuat untuk menahan gempuran ombak yang besar dan kelas Chlorophyceae ini
menyerap sinar matahari yang berwarna merah, karena sinar ini digunakan untuk
malakukan fotosintesis. Data dari pengamatan menunjukkan bahwa Ulva sp. tipe tumbuhan
berkoloni, soliter dan agregasi. Ulva sp. berasosiasi dengan Turbinaria sp. Acanthopora sp.
Enteromorpha sp. Dictyota sp. Sargassum sp. Gigartina sp. Gelidium sp. (tipe hubungannya
kompetisi) dan karang (tipe hubungannya komensalisme).
Hasil praktikum menunjukkan bahwa Ulva sp. menunjukkan nilai penting yang sangat
tinggi diperairan tersebut dalam arti bahwa spesies ini keberadaannya diperairan tersebut
sangat penting dalam komunitas tersebut. Ulva sp. memepunyai peranan yang sangat
penting dalam menyediakan makanan, menyediakan oksigen dan lain-lain. Kelas
Chlorophyceae kecenderungan hidup di daerah-daerah pinggiran dan menggunakan sinar
merah untuk fotosintesis. Algae ini keberadaannya juga dipengaruhi oleh faktor fisik antara
lain suhu, salinitas, aktifitas ombak, kondisi substrat, turbiditas, waktu bersentuhan dengan
udara bebas, konsentrasi pemangsaan dan ketersediaan nutrient bagi perkembangannya.
Data dari grafik layang-layang kelas Chlorophyceae ini dikethui bahwa penyebarannya lebih
merata pada stasiun I dan II.

2. Caulerpa sp.
Spesies ini hanya dijumpai pada beberapa stasiun (terutama stasiun 5), dengan nilai
(Frekuensi = 117). Tipe tumbuh koloni dan berasosiasi dengan Ulva sp. Halycistis sp.
Gelidium sp. Gracillaria sp. (tipe hubungannya kompetisi), Ophiotricoides sp. Echinus sp.
(tipe hubungannya predasi). Beradaptasi dengan mempunyai holdfast yang kuat untuk
menahan gempuran ombak yang besar dan kelas Chlorophyceae ini menyerap sinar
matahari yang berwarna merah, karena sinar ini digunakan untuk malakukan fotosintesis.
Pada daerah dangkal seperti ini, cahaya paling merah yang paling banyak di serap oleh
alga, karena daya tembus dari gelombang merah adalah paling dangkal tetapi panjang
gelombangnya paling panjang pada spektrum cahaya. Pigmen yang paling mendominasi
pada spesies ini adalah klorofila dan b, sehingga warna dari spesies ini adalah hijau,
walaupun cahaya yang paling banyak diserap adalah cahaya warna merah.
3. Enteromorpha sp.
Spesies ini ditemukan di semua stasiun, namun stasiun yang diamati yakni stasiun 5
dengan nilai (f = 194). Enteromorpha sp tipe tumbuhnya berkoloni, soliter dan agregasi,
berasosiasi dengan Ulva sp. Turbinaria sp. Acanthopora sp. Dictyota sp. Sargassum sp.
Gigartina sp. Gelidium sp. (tipe hubungannya kompetisi), Ophiutrichoides sp. Sea grass,
Soft coral, Crustacea, Pisces (tipe hubungannya predasi) dan karang dan favites sp.(tipe
hubungannya komensalisme).

4. Acanthopora sp.
Spesies ini memiliki ciri thallus berwarna cokelat tua, silindris dengan percabangan
yang tidak teratur. Pada permukaan thallus utama dan percabangannya muncul bintik-bintil
seperti duri tumpul yang rapat. Sehingga bentuk thallus ini seperti gimbal, rimbun pada
ujung rumpun thallusnya.
Pesentase tutupan pada stasiun 7 plot satu sebesar 68,75%, pada plot 2 sebesar
81,25%, plot 3 sebesar 81,25 %, dan pada plot 4 sebesar 25%. Pada stasiun 7 spesies yang
paling dominan adalah Enteromorpha yaitu sebanyak 194 spesies.

B. Frekuensi
Nilai frekuensi Ulva sp. dari semua stasiun adaah 0,6363 dan nilai frekuensi relatifnya
adalah 26,9230. Untuk spesies Caulerpa sp. nilai frekuensinya adalah 0,14 dan frekuensi
relatifnya adalah 5,77. Selanjutnya nilai frekuensi spesies Enteromorpha sp. adalah 0,5 dan
frekuensi relatifnya adalah 64,41. Dan untuk spesies Acanthopora sp. frekuensinya bernilai
0,4318 dan frekuensi relatifnya bernilai 18,2693.

C. Nilaidominansi

Spesies yang paling dominan dilihat dari nilai densitasnya adalah Enteromorpha sp.
Spesies ini bentuk tubuhnya seperti mempunyai ukuran yang kecil dan berbentuk seperti
usus yang saling mengikat. Sel bagian tengah dan ujung berisi satu pireoid pada masing-
masing sel. Kloroplasnya sering memiliki bentuk seperti mangkuk yang tampak dibagian
permukaan dengan ukuran yang berbeda panjangnya pada masing-masing sel. Bentuk dan
susunan sel sama dengan tumbuhan tingkat tinggi. Umumnya hidup pada rataan terumbu
karang yang selalu tergenang pada saat air surut terendah. Enteromorpha sp. banyak
digunakan sebagai sayuran, makanan ikan dan juga bermanfaat sebagai penyusun daerah
intertidal dan penyuplai oksigen yang terdapat di dalamnya karena spesies ini melakukan
proses fotosintesis yang hasilnya adalah oksigen. Faktor yang mempengaruhi
Enteromorpha sp. mendominasi di perairan pantai sepanjang adalah karena spesies ini
mendapatkan asupan nutrisi yang mencukupi untuk hidupnya dan karena adanya faktor
musiman juga yang mempengaruhi spesies ini dapat mendominasi di daerah tersebut
dibandingkan dengan spesies lainnya.

D. KondisiHidrologi
Kondisi hidrologi dari pada stasiun 5 sangatlah beragam pada setiap plotnya, untuk
plot pertama diperoleh data untuk suhu air sebesar 290C, untuk suhu udara sebesar 310C,
pH sebesar 8 (basa), salinitas 350/00 dan subsatratnya pesir. Untuk plot kedua diperoleh
hasil untuk suhu air sebesar 280C, suhu udara sebesar 300C, pH sebesar 8, salinitas 350/00
dan substratnya berbatu. Untuk plot 3 dan 4 keseluruhan nilainya hampir sama yaitu untuk
suhuu aiir sebesar 250C, suhu udara 280C, pH 8, salinitas 350/00 dan substratnya berkarang.
Di dalam rumput laut Eucheuma sp. tumbuh berkembang dengan baik pada salinitas
yang tinggi. Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar dari sungai dapat menyebabkan
pertumbuhan rumput laut Eucheuma sp menurun. Menurut Dawes (1981), kisaran salinitas
yang baik bagi pertumbuhan Eucheuma sp adalah 30-35 ppt. Menurut Zatnika dan Angkasa
(1994) menyatakan bahwa salinitas perairan untuk budidaya rumput laut jenis Eucheuma
sp, berkisar antar 28-34 ppt. Sedangkan menurut Soegiarto et al., (1978), kisaran salinitas
yang baik untuk Eucheuma sp adalah 32-35 ppt.

Kesimpulan
Berdasarkan penelitian, maka diketahui bahwa komposisi makroalga yang menyusun
ekosistem di pantai Sepanjang pada stasiun pengamatan 5 terdiri dari spesies Ulva sp.,
Caulerpa sp. Enteromorpha sp., dan Acanthopora sp. Spesies yang paling dominan dilihat
dari nilai densitasnya adalah Enteromorpha sp. Faktor yang mempengaruhi Enteromorpha
sp. mendominasi di perairan pantai sepanjang adalah karena spesies ini mendapatkan
asupan nutrisi yang mencukupi untuk hidupnya dan karena adanya faktor musiman juga
yang mempengaruhi spesies ini dapat mendominasi di daerah tersebut dibandingkan
dengan spesies lainnya.

Saran
Demi mendapatkan hasil yang lebih akurat, diharapkan pengamatan dilakukan lebih
dari sehari.

Daftar Pustaka
Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Yogyakarta: Kanisius
McConnaughey, B., R. Zotolli. 1983. PEngantar Biologi laut. the C.V. Osby Company,
MIssouri. (pp. 23-25)
Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta
Odum, Eugene P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Gajah Mada University Prees
Raharjo, S dan H.S.Sanusi.1982. Oseanografi Perikanan I. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.141 halaman.
Romimohtarto, Kasijan dan Sri Juwana. 2001. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota
Laut. Djambatan. Jakarta.
Soegiarto AW, Sulistijo, Mubarak H. 1978. Rumput Laut Algae. Manfaat, Potensi dan Usaha
Budidayanya. Jakarta: Lembaga Oseanologi Nasional. LIPI. 87 hlm
Yulianda, F. 2013. Zonasi Dan Kepadatan Komunitas Intertidal Di Daerah Pasang Surut,
Pesisir Batuhijau, Sumbawa. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 5, No. 2