Anda di halaman 1dari 12

EVOLUSI MOLEKULER

DAN
ASAL USUL

By Agustina Rahmah

Teori evolusi
kehidupan berawal dari sebuah
sel yang terbentuk secara
kebetulan

empat miliar tahun yang lalu, berbagai


macam senyawa kimia mengalami
suatu reaksi di dalam atmosfer purba di
bumi saat kekuatan petir dan tekanan
atmosfer mendorong terbentuknya sel
hidup pertama.

Teori

evolusi
menyatakan bahwa
sebuah sel hidup
yang tak bisa
dihasilkan bahkan
dengan menyatukan
segenap daya
kecerdasan, ilmu
pengetahuan, dan
teknologi manusia
bagaimana juga
berhasil dibentuk
secara kebetulan di
dalam lingkungan
purba di bumi.

Untuk

memahami keniscayaan kehidupan


sebagaimana diungkapkan oleh biologi
molekuler, kita harus memperbesar sebuah
sel ribuan juta kali hingga garis tengahnya
mencapai 20 kilometer dan menyerupai
sebuah kapal udara raksasa yang cukup
besar untuk menutupi sebuah kota raya
sekelas London atau New York. Yang akan
kita lihat adalah sebuah benda dengan
rancangan tiada tara rumitnya dan mudah
menyesuaikan diri. Di permukaan sel, kita
akan melihat jutaan celah, bak jendelajendela di lambung kapal induk antariksa,
membuka dan menutup untuk menjaga aliran
zat keluar-masuk dengan sinambung. Bila
kita masuki salah satu celah ini, akan kita
dapati diri kita di dalam dunia berteknologi
canggih dan kerumitan mencengangkan.

DNA Manusia Juga Mirip dengan


Milik simpanse
perampungan terakhir peta gen manusia
sebagai bagian dari Projek Genom Manusia
merupakan perkembangan ilmiah yang
sangat penting. Dinyatakan bahwa gen
simpanse memiliki 98% kesamaan dengan
gen manusia. Ini dikemukakan sebagai bukti
bagi klaim bahwa kera berhubungan dengan
manusia, dan seterusnya, sebagai bukti bagi
teori evolusi.

ada

sekitar seratus ribu gen, dan karenanya


ada seratus ribu protein yang dikodekan oleh
gen-gen ini pada manusia
Perbandingan ini dibuat pada tahun 1987
oleh dua orang ahli biologi bernama Sibley
dan Ahlquist, dan dipublikasikan dalam
terbitan rutin bernama Journal of Molecular
Evolution.

DNA Manusia Juga Mirip dengan


Milik Cacing, Nyamuk, dan Ayam!

Analisis

genetik yang dipublikasikan


dalam New Scientist telah
mengungkapkan 75% kesamaan antara
DNA cacing nematode dan manusia.

Di

lain pihak, dalam


temuan lain yang
juga muncul dalam
media lokal,
dinyatakan bahwa
perbandingan yang
dilakukan antara gen
lalat buah yang
berasal dari spesies
Drosofila dan gen
manusia
menghasilkan
kesamaan 60%

Dalam

survei yang
dilakukan oleh peneliti
dari Universitas
Cambridge, sejumlah
protein dari hewanhewan penghuni
daratan dibandingkan.
Yang menakjubkan,
dalam hampir semua
sampel, manusia dan
ayam dipasangkan
sebagai kerabat
terdekat. Kerabat
terdekat selanjutnya
adalah buaya

Contoh lain yang


digunakan oleh para
evolusionis tentang
kesamaan genetis
antara manusia dan
kera adalah
terdapatnya 48
kromosom pada
simpanse dan gorila
dibandingkan dengan
46 kromosom pada
manusia. Para
evolusionis
memandang
kedekatan jumlah
kromosom sebagai
indikasi dari hubungan
evolusioner.

Berdasarkan temuan-temuan terbaru di


bidang biologi molekuler, ahli biokimia
terkenal Prof. Michael Denton berkomentar
sebagai berikut:
Setiap kelas pada tingkat molekuler adalah unik,

Setiap kelas pada tingkat molekuler adalah unik,


terisolasi dan tidak terhubung oleh perantara.
Dengan demikian, molekul, seperti fosil, telah
gagal menyediakan perantara yang tak
terjelaskan yang begitu lama dicari oleh biologi
evolusioner. Pada tingkat molekuler, tidak ada
organisme yang leluhur atau primitif atau
maju dibandingkan dengan kerabatnya. Ada
sedikit keraguan bahwa jika bukti molekuler ini
telah tersedia seabad yang lalu. Ide evolusi
organik mungkin tidak pernah akan diterima.

Sekian