Anda di halaman 1dari 3

Obat-obatan pada Glaukoma

1. Beta Blocker
Beta bloker menurunkan TIO melalui penurunan sekresi humor aqueous
dan dapat digunakan pada berbagai jenis glaukoma. Dasar farmakologis
dalam mekanisme kerja belum dapat dijelaskan secara pasti, namun pada
10% kasus glaukoma TIO menurun seiring berjalannya waktu. Hal ini dapat
terjadi pada beberapa hari sampai beberapa bulan setelah terapi dimulai.
Ketika beta blocker digunakan bersamaan dengan obat penurun TIO yang
lain, yakni inhibitor karbonik anhidrase atau brimonidin dapat menurunkan
TIO sebesar 15%.
Efek samping:
-

Alergi yang berakibat erosi pada kornea dan penurunan sekresi air
mata.
Efek samping sistemik yang dapat dialami pada penggunaan 1 minggu
pertama. Jarang tetapi berbahaya, misalnya bradikardia dan hipotensi,
bronkospasme, gangguan tidur, kebingungan dan depresi, sakit kepala,
mual dan muntah, dan kemungkinan penurunan high density
lipoprotein (HDL).

Ketersediaan:
-

Timolol
a. Timoptol 0,25%, 0,5% 2 kali sehari
b. Timoptol-LA 0,25%, 0,5% 1 kali (tetes) per hari
c. Nyogel 0,1% 1 kali sehari
Betaxolol (Betoptic) 0,5% bd
Levobunolol (Betagan) 0,5% setiap hari atau 2 kali sehari sama dengan
timolol
Carteolol (Teoptic) 1% atau 2% 2 kali sehari
Metipranolol 0,1 atau 0,3 2 kali sehari

2. Alpha 2 Agonist
Agen ini menurunkan TIO dengan menurunkan sekresi humor aqueous dan
meningkatkan aliran uveoskleral. Obat ini dapat menembus Blood Brain
Barrier karena itu tidak boleh digunakan pada anak-anak.
Ketersediaan:
- Brimonidin 0,2% 2 kali sehari. Efek samping dapat menyebabkan
konjungtivitis alergi dan granulomatosa akut. Efek samping sistemik
berupa xerostomia, kebingunan, dan kelemahan.
- Apraklonidin (Iopidin) 0,5% umumnya digunakan setelah operasi laser
pada glaukoma. Tidak diperbolehkan untuk penggunaan jangka
panjang karena dapat terjadi kehilangan efek terapeutiknya.
3. Analog Prostaglandin
Menurunkan TIO dengan cara meningkatkan aliran uveoskleral.
Efek samping:
a. Lokal

Konjungtiva hiperemis dan sensasi benda asing.


Penebalan dan hiperpigmentasi palpebra
Hiperpigmentasi iris
Hiperpigmentasi kulit periorbita
Edema makula
Uveitis anterior
Meningkatkan risiko keratitis herpetika

b. Sistemik
Sakit kepala, migrain, alergi pada kulit, gangguan respirasi ringan.
Tidak boleh digunakan pada ibu hamil karena bersifat teratogenik.
Ketersediaan:
-

Latanoprost (Xalatan) 0,005% 1 kali sehari pada sore hari


Travoprost (Travatan) 0,004% 1 kali sehari pada sore hari
Bimatoprost (Lumigan) 0,03% 1 kali sehari pada sore hari
Unoproston isopropil (Rescula) 0,15% 2 kali sehari

4. Miotik
Adalah jenis parasimpatomimetik yang menurunkan TIO melalui stimulasi
reseptor muskarinik pada sfingter pupil dan korpus siliaris.
Ketersediaan:
- Tetes Mata Pilokarpin 1%, 2%, 3%, 4%, sebagai monoterapi 4 kali
sehari, atau bila digabungkan dengan penggunaan beta blocker maka
2 kali sehari sudah cukup.
- Gel Pilokarpin digunakan sehari sekali pada saat jam tidur. Obat ini
jarang digunakan karena dapat menyebabkan kekeruhan pada kornea.
- Karbakol 3% 3 kali sehari.
5. Inhibitor Karbonik Anhidrase Topikal
Menurunkan TIO dengan cara menghambat sekresi humor aqueous.
Ketersediaan:
- Dorzolamid (Trusopt) 2% 3 kali sehari
- Brinzolamid (Azopt) 1% 2 kali atau 3 kali sehari
SEDIAAN KOMBINASI TOPIKAL
Sediaan kombinasi ini memiliki efek menurunkan TIO;
-

Cosopt (timolol +dorzalomid) 2 kali sehari


Xalacom (timolol +latanoprost) sekali sehari
TimPilo (timolol + pilokarpin) 2 kali sehari

6. Inhibitor Karbonik Anhidrase Sistemik


Cara Kerjanya sama dengan topikal.
Efek Samping
Obat ini hanya dapat digunakan untuk jangka pendek. Hal ini dikarenakan
efek sistemiknya dapat menyebabkan kebutaan.
- Parastesia, yakni kesemutan pada jari-jari tangan atau kaki.
- Malaise disertasi depresi.

Gangguan gastrointestinal dengan karateristik iritasi gaster, nyeri


abdomen, diare dan mual.
Pembentukan batu ginjal.
Steven-Johnsons Syndrome.
Diskrasis darah karena dapat menyebkan supresi sumsum tulang.

Ketersediaan
-

Asetazolamid
a. Tablet 250 mg. Dosis 250-1000 mg dibagi dalam 2 dosis.
b. Kapsul 250 mg. Dosis 250-500 mg per hari.
c. Serbuk 500 mg melalui injeksi vial.
Diklorfenamid tablet 50 mg. Dosis 50-100 mg 2-3 kali sehari.
Metazolamid tablet 50 mg. Dosis 50-100 mg 2-3 kali sehari.

7. Agen Osmotik
Agen ini dapat digunakan apabila semua jenis obat penurun TIO telah
digunakan, namun tidak mendapatkan hasil yang maksimal.
Efek samping
- Gangguan kardiovaskuler
- Retensi cairan
- Sakit kepala, sakit tulang belakang, mual, dan kebingungan
Ketersediaan
-

Gliserol. Dosis 1 g/kgBB atau 2 mL/kgBB.


Isosorbid. Dosis 1 g/kgBB atau 2 mL/kgBB.
Manitol. Dosis 1 g/kgBB atau 5 mL/kgBB.

8. Agen Neuroprotektif
Glaukoma dapat menyebabkan retinopati sehingga dibutuhkan agen
neuroprotektif.
Ketersediaan
- Betaxolol yang menghambat kanal kalsium pada sel ganglion.
- Brimonidin yang menstimulasi alfa 2 reseptor.
- Aminoguanidin yang menginhibisi produksi nitrit oksida.
- Memantin yang menginhibisi reseptor N-methyl-D-aspartate pada sel
ganglion.
- Vitamin E yang mencegah pembentukan lipid peroksidase.
- Ginkgo biloba yang mencegah kerusakan oksidatif.