Anda di halaman 1dari 4

PERIKORONITIS DAN OPERKULEKTOMI

A. Definisi dan Etiologi Perikoronitis


Menurut Gehrik dkk., (2003), perikoronitis berasal dari dua kata, yaitu peri yang
berarti sekitar dan coron yang berarti permukaan koronal gigi (mahkota gigi). Perikoronitis
merupakan suatu kondisi inflamasi yang terjadi di gingiva sekitar gigi yang terpendam
(operkulum) secara parsial maupun total. Umumnya infeksi ini ditemui pada gigi molar ketiga
mandibula. Supurasi dapat terjadi pada daerah operkulum dan sering dikenal sebagai abses
perikoronal. Prevalensi terjadinya perikoronitis adalah sering terdiagnosis pada pasien dengan
usia 20 tahun 25 tahun dengan presentase bervariasi, yaitu sekitar 40%-60% (Topazian dkk.,
2002).
Etiologi utama dari perikoronitis adalah adanya bakteri yang terakumulasi pada
operkulum. Bakteri dominan yang sering dijumpai pada kultur perikoronitis adalah bakteri
spirochetes (55%) dan bakteri fusiformis (85%), selain itu terdapat bakteri fakultatif anaerob
yang sering juga dijumpai, yaitu Streptococcus milleri (78%), Streptococcus mucilaginosus
(71%), Rothia dentocariosa (57%). Prevotella intermedia, dan Fusobacterium nucleatum juga
umum ditemukan pada infeksi ini (Sharav dkk., 2008). Kontak oklusi gigi antagonis yang
mengenai operkulum juga menjadi penyebab terjadinya inflamasi dan membuat lesi pada
daerah tersebut.
B. Patofisiologi Perikoronitis
Menurut Topazian dkk., (2002), awalnya terdapat gigi yang terpendam dan
disekelilingnya tertutupi oleh jaringan lunak gingiva (operkulum). Terbentuk space atau jarak
antara operkulum dengan mahkota gigi yang erupsi sebagian atau pada gigi terpendam
sehingga space ini akan membentuk pseudopoket. Debris makanan dapat dengan mudah
berkumpul dan terjebak pada pseudopoket sehingga sulit dibersihkan dari sisa makanan. Hal ini
menyebabkan adanya akumulasi bakteri yang membentuk koloni pada celah tersebut. Kondisi
ini terus diperparah akibat adanya kontak trauma antara operkulum dengan gigi antagonis, juga
akibat kondisi kebersihan rongga mulut yang masih kurang sehingga terbentuklah akumulasi
plak yang mendukung berkembangnya koloni bakteri, akibatnya terjadilah infeksi dan respon
inflamasi sistemik. Gaya kemotaksis dari sistem imunitas kita akan segera merespon adanya
infeksi bakteri sehingga melepaskan leukosit polimorfonuklear (leukosit PMN), yaitu neutrofil
dan makrofag yang akan menginduksi pelepasan leukotrien dan prostaglandin serta mediator
pro inflamasi lain pada daerah terinfeksi yang akan menimbulkan respon inflamasi akut dan
bermanifestasi sebagai demam, malaise. Respon aktivasi mediator inflamasi juga
menyebabkan terjadinya angiogenesis sebagai pertahanan tubuh untuk menyalurkan leukosit

ke tempat sumber infeksi sehingga daerah operkulum dan sekitarnya akan berwarna
kemerahan hingga merah terang. Limfadenopati juga ditemukan pada area servikal dan
submandibula sebagai pertahanan tubuh melalui sistem limfe dan sebagai sinyal terjadinya
peradangan. Infeksi dari perikoronitis dapat menyebar ke beberapa spasia, yaitu
Spasia bukalis= perlekatan m. Buccinator yang menyebabkan trismus dan

edema pipi,
Spasia submandibula= terletak di posterior dan inferior dari m. Mylohyoid dan

m. Platysma yang berada di dekat apeks molar ketiga mandibula,


Spasia mastikasi= yaitu m. Masseter, m. Pterygoideus lateralis dan m.
Pterygoideus medialis, serta insersio dari m. Temporalis. Infeksi pada daerah
ini menyebabkan terganggunya fungsi pengunyahan sehingga pasien sering

enggan untuk makan, dan trismus, serta nyeri tenggorokan.


Infeksi perikoronitis dapat mereda sesaat namun apabila penyebab infeksi tidak segera
dihilangkan maka akan terjadi rekurensi. Bakteri S. milleri sering ditemukan menyebabkan
adanya pus atau supurasi pada operkulum (Sharav dkk., 2008).
C. Tanda dan Gejala Perikoronitis
Menurut Gehrig dkk., (2003), tanda dan gejala yang dapat timbul dapat dilihat dan
diklasifikasikan menjadi 3 fase, yaitu
1. Fase perikoronitis akut yang ditandai dengan nyeri spontan tanpa rangsang dan
berdenyut pada daerah yang terinfeksi dan diperparah jika mengunyah serta nyeri
dapat menyebar ke daerah lain seperti tenggorokan, belakang telinga dan kepala;
jaringan operkulum tampak kemerahan, dan edema (swelling); trismus; malaise,
nyeri telan, disfagia, limfadenopati yang teraba dan terasa sakit, serta demam.
2. Fase perikoronitis subakut, ditandai dengan nyeri yang lebih ringan dibandingkan
dengan fase akut tanpa disertai adanya trismus.
3. Fase kronis ditandai dengan gejala intra oral ini terdapat hanya sedikit atau tidak
sama sekali. Kadang-kadang perikoronitis kronik menunjukkan eksaserbasi.
Selain itu dapat ditemukan adanya supurasi pada operkulum dan dapat ditemukan ulserasi
karena traumatik oklusi.

D. Kegawatdaruratan Perikoronitis
Menurut Kardayati dkk., (2007), fokus terapi perikoronitis adalah dengan menangani
sumber infeksinya. Perawatan awal yang dilakukan ketika pasien datang adalah dengan
melakukan kontrol infeksi dan penanggulangan rasa nyeri. Bersihkan daerah infeksi

menggunakan hidrogen perokisda 2% atau salin hangat dan povidon iodin. Tahap selanjutnya
adalah memberikan pasien peresepan atau medikamentosa, yaitu antibiotik untuk mengurangi
mikroba penyebab infeksi, analgesik, obat kumur sebagai antiseptik, dan muscle relaxan untuk
mengatasi trismus. Pasien juga diinstuksikan untuk berkumur dengan menggunakan air garam
atau dengan obat kumur klorhexidin 0,12% (jika diresepkan) dan menjaga kebersihan rongga
mulut. Setelah itu pasien diminta datang kembali keesokan harinya untuk evaluasi.
Kunjungan kedua, lakukan evaluasi pada area operkulum dan lihat respon inflamasi
sistemik dari pasien. Apabila kondisi membaik, lakukan debridemen ulang dengan anestesi
terlebih dahulu secara topikal dan infiltrasi, dan dengan bantuan kuret atau probe bersihkan
space antara gigi dengan gingiva yang umunya terdapat debris dengan menggunakan kuret
atau probe dan eskavator secara perlahan lahan. Abses perikoronitis yang tampak juga perlu
dilakukan insisi drainase pada tahapan ini. Tingkatkan pengetahuan pasien tentang tindakan
yang akan dilakukan selanjutnya dan evaluasi menggunakan radiologi.
Kunjungan selanjutnya adalah mengevaluasi gejala pasien, apabila fase akut telah
terlewati maka pertimbangkan untuk melakukan operkulektomi. Operkulektomi adalah prosedur
pembuangan flap atau gingiva terinfeksi yang menutupi koronal gigi secara pembedahan.
Perawatan final dari perikoronitis adalah dengan melakukan ekstraksi gigi yang terpendam
sehingga tidak terjadi rekurensi (Newmann dkk., 2006).

Gambar 1. Prosedur operkulektomi dengan menggunakan radioscalpel loop


(Newmann dkk., 2006)
E. Indikasi dan Kontraindikasi Operkulektomi
Menurut Newmann dkk., (2006) indikasi dari operkulektomi adalah
1. Erupsi sempurna ( bagian dari gigi terletak pada ketinggian yang sama pada garis oklusal).
2. Adanya ruang yang cukup untuk ditempati koronal gigi, adanya ruangan yang cukup antara
ramus dan sisi distal gigi molar kedua.
3. Inklinasi tegak.
4. Kontak oklusi antagonis yang baik.
Sedangkan untuk kontraindikasinya adalah
1. Erupsi tegak tetapi erupsi belum sempurna (parsial) karena tertutup tulang.

2. Erupsi horizontal tampak pada pemeriksaan radiologi.

DAFTAR PUSTAKA
Gehrig, J., Donald, E., 2003), Foundations of Periodontic for Dental Hygienist, Edisi ke2, Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia.
Ghom, A., Savita, A., 2011, Texbook of Oral Medicine, Edisi ke-3, Jaypee Brother
Medical Publisher, London.
Kardayati, L. Ike, S., 2007, Perawatan Perikoronitis Regio Molar Satu Kanan Bawah
Pada Anak Laki-laki Usia 6 Tahun, Indonesian Journal of Dentistry, 14(2): 127131.
Newmann, Takei, Klokkevold, Carranza, Carranzas Clinical Periodontology, Edisi ke11, Elsevier, Philadhelpia.
Sharav, Y., Rafael, B., 2008, Orofacial Pain and Headache, Mosby Elsevier,
Philadelphia.