Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

PNEUMONIA

Oleh :
Shabrina Ghassani Roza
110.2011.257

Pembimbing :
dr. Oki Fitriani, Sp.A

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak


Rumah Sakit Umum Daerah dr. Dradjat Prawiranegara
Serang 2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb,
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan presentasi kasus yang berjudul
Pneumonia.
Presentasi kasus ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas dalam menempuh
kepaniteraan klinik di bagian ilmu kesehatan anak di RSUD dr.Drajat Prawiranegara. Dalam
penulisan presentasi kasus ini penulis tidak terlepas dari kesulitan dan hambatan yang
dihadapi, namun berkat pertolongan dari berbagai pihak presentasi kasus ini dapat terwujud.
Tidak lupa ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya kepada
dr. Oki Fitriani Sp.A yang telah bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk
memberikan petunjuk, bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan
presentasi kasus ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada berbagai pihak
yang telah membantu.
Penulis menyadari bahwa penulisan presentasi kasus ini masih jauh dari sempurna
karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis. Meskipun demikian, penulis telah
berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya.
Akhir kata penulis berharap semoga presentasi kasus

ini dapat bermanfaat bagi

penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari seluruh pihak demi kesempurnaan presentasi kasus ini.
Serang, September 2015

Shabrina Ghassani Roza

PRESENTASI KASUS
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. DRAJAT PRAWIRANEGARA SERANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
Topik

: Pneumonia

Penyusun

: Shabrina Ghassani Roza ,S.Ked

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. A

Umur

: 1 tahun 2 bulan

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Tempat Tanggal Lahir

: Sumenep, Juni 2014

Agama

: Islam

Alamat

: Kampung dukuh,Kelurahan pontang,Serang,Banten

Tanggal Masuk RS

: 31 Agustus 2015

Tanggal Keluar RS

: 2 September 2015

Ruang Rawat

: Flamboyan 2

IDENTITAS ORANG TUA


Data orang tua
Nama
Umur
Pekerjaan
Penghasilan
Agama
Pendidikan

Ibu
Ny.S
28 Tahun
Ibu Rumah Tangga
Islam
Tidak Sekolah

Ayah
Tn.H
37 Tahun
Buruh lepas
1.500.000
Islam
Tamat SD

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu pasien
3

a.

Keluhan Utama :
Batuk-batuk

b. Keluhan Tambahan :
Demam
Sesak nafas
c.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Sejak 2 minggu Sebelum Masuk Rumah Sakit (SMRS) pasien timbul batukbatuk.Batuknya berdahak dan semakin sering batuknya akhir-akhir ini.Orangtua
pasien mengatakan anaknya sesak nafas.Keluhan pilek,muntah,batuk darah disangkal
2 hari SMRS pasien mengalami demam,demamnya terus menerus.keluhan kejang (-)
Orangtua Pasien sebelumnya sudah membawa anaknya ke puskesmas,diberikan obat
puyer dan syrup penurun panas,obatnya sudah diminum habis,namun tidak ada
perbaikan.
Kemudian pasien datang ke poli anak RSUD dr.darajat prawiranegara,dan di poli
anak,pasien dianjurkan untuk dirawat inap.
Ayah pasien mengatakan di lingkungan rumahnya tidak ada yang menderita batukbatuk maupun yang menderita sakit paru,namun ayah pasien merupakan perokok aktif
Keluarga pasien merupakan pendatang,baru 7 bulan di serang,sebelumnya pasien
tinggal di Madura.Sehari-hari anak diasuh oleh ibunya.

d. Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien tidak pernah sakit batuk-batuk selama 1 bulan disertai demam sebelumnya
e.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Dikeluarga pasien tidak ada yang sedang batuk-batuk maupun yang pernah terkena
penyakit paru.
Keluarga tidak mempunyai riwayat alergi.

f.

Riwayat Persalinan :
Pasien merupakan anak pertama,lahir di rumah,di tolong oleh dukun,lahir secara
spontan,usia kehamilan cukup bulan,lahir segera menangis,berat badan lahir tidak
ditimbang

g.

Riwayat perkembangan :
4

Pasien bisa berjalan pada usia 12 bulan


Pasien bisa duduk pada usia 8 bulan
Tengkurap pada usia 4 bulan
h. Riwayat Imunisasi :
Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya tidak pernah mendapatkan imunisasi sejak lahir
hingga sekarang.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
: Tampak Sakit Sedang
Kesadaran
: Composmentis
Berat Badan
: 7,5 kg
Panjang Badan
: 76 cm
Lingkar Kepala
: 42 cm
Tanda-tanda vital
: Heart Rate : 150 x/menit, reguler, teraba kuat.
Respiration Rate

: 45 x/menit

Temperature

Status gizi :

: 37,3 c (axilla)

Weight for length = -3 < SD < -2 (Gizi Kurang)

STATUS GENERALIS
Kepala

: Normocephale

Rambut

: Hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut.

Mata

: Palpebra kanan dan kiri tidak cekung dan tidak edema, konjungtiva anemis
(-/-) sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Pernafasan cuping hidung (-), sekret (-/-), epistaksis tidak ada.

Mulut

: mukosa bibir kering (-), sianosis (-)

Leher

: bentuk simetris, trakea ditengah, pembesaran tiroid tidak ada, pembesaran


kelenjar getah bening (-)

Thorax

: Simetris , retraksi (-)

Cor :
Inspeksi

Pulsasi iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

Pulsasi iktus kordis tidak teraba

Perkusi

Batas jantung sukar dinilai

Auskultasi BJ I II regular, gallop (-) murmur (-).


Pulmo :
5

Inspeksi

Pergerakan kedua hemithorax simetris saat statis dan dinamis.


Retraksi (-)

Palpasi

Fremitus sukar dinilai

Perkusi

Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

vesicular +/+, ronki +/+ , wheezing -/-

Abdomen :
Inspeksi

Datar

Auskultasi

Bising usus (+)

Perkusi

Timpani di seluruh lapang abdomen,nyeri tekan (-),asites (-)

Palpasi

Supel,tidak ada pembesaran hepar dan lien

Ekstremitas :
Superior

Inferior

Akral hangat

+/+

+/+

Akral sianosis

-/-

-/-

Edema

-/-

-/-

Capillary Refill Time

< 2 detik

< 2 detik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Darah tanggal 31 Agustus 2015
Hematologi
Haemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit

Hasil
11,50 g/dL
11.720 /L
34,90 %
464.000/L

V. DIAGNOSIS
- Pneumonia
VI. DIAGNOSIS TAMBAHAN
6

VII. DIAGNOSIS BANDING


- Tuberkulosis
- Asma
VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN
Rontgen Thorax
PPD test
IX. PENATALAKSANAAN
- Cefotaxim 3 x 300 gr iv
- Ampicillin 4x300 gram iv
- Lasal syr 3 x 1,5 cc
- Paracetamol syr cth / 4-8 jam
- Apialys 1 x 1 cth
-

X.

Kebutuhan cairan : 750


IVFD KAEN 3A 5 tpm

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

XI. FOLLOW UP
Tanggal

FOLLOW UP
S/ Batuk (+) ,sesak nafas (+),demam (-)

01/09/2015 O/KU : Tampak sakit sedang


KS : Composmentis

TERAPI
- Cefotaxim 3 x 300 gr iv
- Ampicillin 4x300 gram iv
- Lasal syr 3 x 1,5 cc
- Paracetamol syr cth / 4-

HR : 143 x/menit RR : 45 T : 36,5c (axilla)


Kepala : normosefal

Mata : konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-)

8 jam
Apialys 1 x 1 cth
Kebutuhan cairan : 750
IVFD KAEN 3A 5 tpm

Hidung : PCH (-)


Mulut : sianosis (-)
Leher : pembesaran KGB (-)
Thorax : SSD, retraksi (-)
Cor : BJ I II regular, gallop (-) murmur (-).
Pulmo : vesicular +/+, ronki +/+ , wheezing -/Abdomen : Datar, Bising usus (+) dbn,
Ekstremitas : akral hangat, edema (-), CRT < 2
7

Pemeriksaan Foto Thoraks tanggal 1 September


2015
Uraian Hasil Pemeriksaan
Foto simetris
Cor : normal,aorta normal
Pulmo :
- Hilli kanan kiri tak menebal
- Corakan bronkovaskular normal,tampak
perselubungan homogen di lapang atas
paru kanan dan perihiler,parakardial paru
-

kanan
Kedua sinus dan diafragma normal
Tulang dan jaringan lunak baik

KESAN : Pneumonia DD/ Proses spesifik


02/09/2015 S/ Batuk sudah berkurang, demam (+),sesak nafas (+)
O/KU : Tampak sakit sedang
KS : Composmentis
HR : 140 x/menit RR : 41 T : 38c (axilla)

PPD tes
OT minta APS
Sinfix 2 x 1,5 cc
Lasal 3 x 1,5 cc
Apialys 1 x 1 cth
Paracetamol syr jika perlu

Kepala : normosefal
Mata : konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik
(-/-)
Hidung : PCH (-)
Mulut : sianosis (-)
Leher : pembesaran KGB (-)
Thorax : SSD, retraksi (-)
Cor : BJ I II regular, gallop (-) murmur (-).
Pulmo : vesicular +/+, ronki +/+ , wheezing -/Abdomen : Datar, Bising usus (+) dbn,
Ekstremitas : akral hangat, edema (-), CRT < 2
A/Pneumonia

ANALISIS KASUS
Diagnosis pneumonia didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan
penunjang. Pada kasus ini diagnosa pneumonia, ditegakkan berdasarkan:
Anamnesis
Pada teori :
Keluhan yang terpenting pada pneumonia adalah demam, batuk, sesak napas,
takipnea, keluhan gastrointestinal, air hunger, pernapasan cuping hidung,
merintih, dan lain-lain.
Pada kasus :
Sejak 2 minggu Sebelum Masuk Rumah Sakit (SMRS) pasien timbul batukbatuk.Batuknya

berdahak

dan

semakin

sering

batuknya

akhir-akhir

ini.Orangtua pasien mengatakan anaknya sesak nafas.


2 hari SMRS pasien mengalami demam,demamnya terus menerus.
Pemeriksaan Fisik
Pada teori :
Pada pneumonia suhu tubuh normal, subfebris, atau demam tinggi, frekuensi
pernapasan meningkat, retraksi subkostal, interkostal, dan suprasternal. Pada
auskultasi suara pernapasan mungkin normal, ekspirasi memanjang dapat
terdengar crackles.
Pada kasus :
Temperature : 37,3 c (axilla)
Auskultasi

vesicular +/+, ronki +/+ , wheezing -/-

Pemeriksaan penunjang
Pada teori:
9

Pada pneumonia pemeriksaan darah perifer lengkap didapatkan leukosit


normal pada infeksi virus, sedangkan bakteri didapatkan leukosit meningkat.
Sedangkan pada pemeriksaan foto toraks, secara umum gambaran foto toraks
terdiri dari:
a. Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular,
b.

peribronchial cuffing, dan hiperaerasi.


Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram.
Konsolidasi dapat mengenai satu lobus, disebut dengan pneumonia
lobaris, atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar,
berbentuk sferis, berbatas tidak terlalu tegas, dan menyerupai lesi tumor
paru, dikenal sebagai round pneumonia.

Pemeriksaan Darah tanggal 31 Agustus 2015


Hematologi
Haemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit

Hasil
11,50 g/dL
11.720 /L
34,90 %
464.000/L

Pemeriksaan Foto Thoraks tanggal 1 September 2015


Uraian Hasil Pemeriksaan
Foto simetris
Cor : normal,aorta normal
Pulmo :
- Hilli kanan kiri tak menebal
- Corakan bronkovaskular normal,tampak perselubungan homogen di lapang atas paru
-

kanan dan perihiler,parakardial paru kanan


Kedua sinus dan diafragma normal
Tulang dan jaringan lunak baik

KESAN : Pneumonia DD/ Proses spesifik

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
10

Pneumonia adalah penyakit peradangan akut pada paru yang disebabkan oleh infeksi
mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh penyebab non-infeksi.(Garna,dkk.2005)
Pneumonia adalah infeksi parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan
interstitial.(WHO.2005)
Epidemiologi
Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia <5
tahun di seluruh dunia,terutama di negara berkembang. Diperkirakan hampir seperlima
kematian anak di seluruh dunia lebih kurang 2 juta anak balita, meninggal setiap tahun akibat
pneumonia, sebagian besar di Afrika dan Asia Tenggara. Menurut survei kesehatan nasional
(SKN) 2001, 27,6% kematian bayi dan 22,8% kematian balita di Indonesia disebabkan oleh
penyakit sistem respiratori, terutama pneumonia.
Faktor resiko
a.
b.
c.
d.
e.

Infeksi Streptococcus pneumoniae


Pasien yang dirawat inap di rumah sakit
Perokok
Minum minuman beralkohol
Orang dengan imunokompromais

Klasifikasi
Klasifikasi pneumonia adalah (Garna,dkk.2005):
1.
Berdasarkan lokasi lesi di paru
a. Pneumonia lobaris
b. Pneumonia interstitialis
c. Bronkopneumonia
2.
Berdasarkan asal infeksi
a. Pneumonia yang didapat dari masyarakat (community acquired pneumonia=ACP)
b. Pneumonia yang didapat dari rumah sakit (hospital-based pneumonia)
3.

4.
5.

Berdasarkan mikroorganisme penyebab


a. Pneumonia bakteri
b. Pneumonia virus
c. Pneumonia mikoplasma
d. Pneumonia jamur
Berdasarkan karakteristik penyakit
a. Pneumonia tipikal
b. Pneumonia atipikal
Berdasarkan lamanya penyakit
a. Pneumonia akut
b. Pneumonia persisten
11

Klasifikasi pneumonia berdasarkan WHO:


1.
Bayi kurang dari 2 bulan:
a. Pneumonia berat: napas cepat atau retraksi yang berat
b. Pneumonia sangat berat: tidak mau menetek/minum, kejang, letargi, demam atau
hipotermi, bradipnea atau pernapasan ireguler.
Anak umur 2 bulan 5 tahun
Pneumonia ringan: napas cepat
Pneumonia berat: retraksi
Pneumonia sangat berat: tidak dapat minum/makan, kejang, letargis, malnutrisi

2.
a.
b.
c.
Etiologi

Etiologi pneumonia sulit dipastikan karena kultur sekret bronkus merupakan tindakan
yang sangat invasif sehingga tidak dilakukan. Patogen penyebab pneumonia pada anak
tergantung usia, status imunologis, kondisi lingkungan (epidemiologi setempat, polusi udara),
status imunisasi, faktor penjamu (penyakit penyerta malnutrisi). Pada awalnya sebagian besar
didahului infeksi virus. Virus lebih sering ditemukan pada anak kurang dari 5 tahun, dimana
penyebab virus tersering adalah respiratory syncytial virus (RSV), parainfluenza virus,
influenza virus, dan adenovirus.(Pudjiadi,dkk.2009)

Bakteri adalah penyebab utama di negara berkembang,yaitu :


Streptococcus pneumoniae (30-50%)
Haemophilus influenzae type b (Hib)
Staphylococcus aureus
Klebsiella pneumoniae
Virus merupakan penyebab utama di negara maju,yaitu :
RSV (15-40%)
Virus influenza A dan B
Parainfluenza
Human metapneumovirus
Adenovirus
Usia merupakan prediktor yang baik untuk memperkirakan patogen penyebab pneumonia
Tabel.Penyebab utama pneumonia yang didapat di masyarakat pada anak berdasarkan usia
Usia
0-20 hari

Penyebab Tersering
Bakteri

Penyebab Jarang
Bakteri
12

Escherichia coli

Organisme

Group B streptococci

Group B streptococci

Listeria monocytogenes

Haemophilus influenzae
Streptococcus pneumoniae
Ureplasma urealyticum
Virus
Cytomegalovirus

3 minggu 3 bulan

Bakteri

Herpes simplex virus


Bakteri

Chlamydia trachomatis

Bordetella pertusis

S.pneumoniae

H.Influenzae tipe B dan non

Virus

typeable

Adenovirus

Moraxella catarrhalis

Influenza virus

Stahylococcus aureus

Parainfluenza virus 1,2 dan U.urealyticum

4 bulan 5 tahun

Virus

Respiratory syncytial virus


Bakteri

Cytomegalovirus
Bakteri

Chlamydia trachomatis

H.Influenzae tipe B

Mycoplasma pneumoniae

Moraxella catarrhalis

S.pneumoniae

Mycobacterium tuberculosis

Virus

Neisseria meningitis

Adenovirus

S.aureus

Influenza virus

Virus

Parainfluenza virus

Varicella-zoster virus

Rhinovirus
6 18 tahun

Respiratory syncytial virus


Bakteri

Bakteri

C. pneumoniae

H.Influenzae

M. pneumoniae

Legionella species

S. pneumoniae

Mycobacterium tuberculosis
S.aureus
Virus
Adenovirus
13

Influenza virus
Parainfluenza virus
Rhinovirus
Respiratory syncytial virus
Epstein-Barr virus
Varicella-zoster virus
Patogenesis
Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran
respiratori. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang mempermudah proliferasi
dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Bagian paru yang terkena mengalami
konsolidasi, yaitu terjadi serbukan sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema, dan ditemukannya
kuman di alveoli. Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu.
Selanjutnya, jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan mengalami degenarasi,
fibrin menipis, kuman dan debris menghilang. Stadium ini disebut stadium resolusi. Sistem
bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena akan tetap normal.(Said.2012)
Manifestasi Klinis
Sebagian besar penumonia pada anak menujukkan gambaran klinis yang ringan
sampai sedang sehingga dapat berobat jalan saja.Hanya sebagian kecil anak mengalami
pneumonia berat yang mengancam kehidupan dan mungkin terdapat komplikasi,sehingga
memerlukan perawatan di rumah sakit.
Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat ringan infeksi
Gejala infeksi umum : demam,sakit kepala,gelisah,malaise,nafsu makan menurun,keluhan
gastrointestinal seperti mual,muntah atau diare,kadang ditemukan gejala ekstraparu.Pada
anak dengan malnutrisi berat,demam jarang terjadi
Gejala respiratori : batuk,sesak nafas,retraksi dinding dada,takinea,nafas cuping hidung,air
hunger,merintih,dan sianosis
Diagnosis
Anamnesis
1. Batuk yang awalnya kering, kemudian menjadi produktif dengan dahak purulen
bahkan bisa berdarah.
2. Sesak napas
3. Demam
4. Kesulitan makan/minum
14

5. Tampak lemah
6. Serangan pertama

atau

berulang,

untuk

membedakan

dengan

kondisi

imunokompromais, kelainan anatomi brokus atau asma.


Pemeriksaan fisis
a. Dapat ditemukan merintih (grunting), sianosis.
b. Suhu tubuh normal, subfebris, atau demam tinggi.
c. Frekuensi pernapasan meningkat, pernapasan cuping hidung, retraksi subkostal,
interkostal, dan suprasternal.
d. Perkusi: hiperresonans.
e. Auskultasi: Suara pernapasan mungkin normal, ekspirasi memanjang, dapat
terdengar wheezing dan crackles atau wheezing.
f. Hepar dan lien dapat teraba akibat hiperinflasi toraks.
Pemeriksaan penunjang
1.
Darah perifer lengkap
Hitung leukosit dapat membantu membedakan antara pneumonia viral dan
bakteri:
a. Virus: Leukosit normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm), limfosit

2.

predominan.
b. Bakteri: Leukosit meningkat (15.000-40.000/mm), neutrophil predominan.
C-Reactive Protein (CRP)
CRP merupakan suatu protein fase akut yang disintesis oleh hepatosit. Sebagai
respon infeksi atau inflamasi jaringan, produksi CRP secara cepat distimulasi oleh
sitokin, terutama IL-6, IL-1, dan TNF. CRP sangat mungkin berperan dalam
oponisasi mikroorganisme atau sel yang rusak dan secara klinis digunakan sebagai
alat diagnostik untuk membedakan antara faktor infeksi dan non-infeksi, infeksi

3.

virus dan bakteri, atau infeksi bakteri superfisialis dan profunda.


Uji serologis
Uji serologik untuk mendeteksi antigen dan antibodi pada infeksi bakteri tipik
mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang rendah. Akan tetapi, diagnosis infeksi
Streptokokus grup A dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibodi seperti
antistreptolisin O, streptozim, atau antiDnase B. Peningkatan titer dapat juga berarti

3.

adanya infeksi terdahulu.


Pemeriksaan mikrobiologis
Untuk pemeriksaan mikrobiologik spesimen dapat berasal dari usap tenggorok,
sekret nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura, atau aspirasi paru.
Diagnosis dikatakan definitif bila kuman ditemukan dari darah, cairan pleura, atau
aspirasi paru. Spesimen yang memenuhi syarat adalah spesimen yang mengandung
lebih dari 25 leukosit dan kurang dari 40 sel epitel/lapangan pada pemeriksaan
mikroskopis dengen pembesaran kecil.
15

4.

Pemeriksaan rontgen toraks


Kelainan foto rontgen toraks pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan
gambaran klinis, kadang-kadang bercak sudah ditemukan pada gambaran radiologis
sebelum timbul gejala klinis. Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari:
a. Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular,
peribronchial cuffing, dan hiperaerasi.
b. Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram.
Konsolidasi dapat mengenai satu lobus, disebut dengan pneumonia lobaris, atau
terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis,
berbatas tidak terlalu tegas, dan menyerupai lesi tumor paru, dikenal sebagai
round pneumonia.

Diagnosis banding
Diagnosis banding pneumonia adalah(Garna,dkk.2005):
1.
Infeksi perinatal/kongenital
2.
Hyalin membrane disease/HMD (pada neonatus)
3.
Aspirasi pneumonia
4.
Edema paru
5.
Atelektasis
6.
Perdarahan paru
7.
Kelainan kongenital parenkim paru
8.
Tuberkulosis
9.
Gagal jantung kongestif
10. Neoplasma
11. Reaksi Hipersensitivitas (pneumonitis)
Penatalaksanaan
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Indikasi perawatan
terutama berdasarkan berat-ringannya penyakit, misalnya toksis, distres pernapasan, tidak
mau makan atau minum, atau ada penyakit dasar yang lain, komplikasi,maka pertimbangkan
rawat inap.
Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini pertama secara oral,
misalnya amoksisilin (25 mg/kgBB) atau kotrimoksazol (4 mg/kgBB TMP - 20 mg/kdBB
sulfametroksazol), dengan pemberian dua kali sehari. Makrolid, baik eritromisin maupun
makrolid baru, dapat digunakan sebagai terapi alternarif beta-laktam untuk pengobatan inisial

16

pneumonia, dengan pertimbangan adanya aktivitas ganda terhadap S. pneumonia dan bakteri
atipik.
Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan antibiotik
yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi pemberian cairan intravena,
terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan keseimbangan asam-basa, elektrolit, dan gula
darah. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik. Penggunaan antibiotik
yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan, dapat diberikan golongan betalaktam atau kloramfenikol.
Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap beta-laktam dan kloramfenikol, dapat
diberikan antibiotik lain, seperti gentamisin, amikasin, atau sefalosporin, sesuai dengan
petunjuk etiologi yang ditemukan. Antibiotik diteruskan selama 7-10 hari pada pasien dengan
pneumonia tanpa komplikasi.
Pada neonatus dan bayi kecil, antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik
spektrum luas seperti kombinasi beta-laktam/klavulanat dengan aminoglikosid atau
sefalosporin generasi ketiga. Bila sudah stabil, antibiotik dapat diganti dengan antibiotik oral
selama 10 hari.
Obat simtomatik yang diberikan adalah obat penurun panas dan pereda batuk, tetapi
sebaiknya tidak diberikan terutama selama 72 jam pertama.
Komplikasi
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empyema torsis, pericarditis purulenta,
pneumotoraks, atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta.
Pencegahan
Pemberian imunisasi memberikan arti yang sangat penting dalam pencegahan
pneumonia. Pneumonia diketahui dapat sebagai komplikasi dari campak, pertusis dan varisela
sehingga imunisasi dengan vaksin yang berhubungan dengan penyakit tersebut akan
membantu menurunkan insiden pneumonia.
Pneumonia yang disebabkan oleh Haemophillus influenza dapat juga dicegah dengan
pemberian imunisasi Hib. The American Academic of Pediatric (AAP) merekomendasikan
vaksinasi influenzae untuk semua anak dengan resiko tinggi yang berumur 6 bulan dan pada
usia tua.
Pencegahan lain dapat dilakukan dengan menghindari faktor paparan asap rokok dan
polusi udara, membatasi penularan terutama di rumah sakit misalnya dengan membiasakan
cuci tangan dan penggunaan sarung tangan dan masker, isolasi penderita, menghindarkan
bayi/anak kecil dari tempat keramaian umum, pemberian ASI, menghindarkan bayi/anak
kecil dari kontak dengan penderita ISPA.
17

DAFTAR PUSTAKA
Said, Mardjanis. 2012. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta: IDAI.
Garna, Herry, Heda Melinda D.N, dan Sri Endah R. 2005. Pedoman Diagnosis dan
Terapi. Edisi 3. Bandung: FK UNDAP
Pudjiadi, Antonius H., Badriul Hegar, Setyo Handryastuti, dkk. 2009. Pedoman
Pelayanan Medis. Jakarta: IDAI.
WHO. 2005. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: WHO Indonesia.

18