Anda di halaman 1dari 2

Data Angka Kematian Ibu Hamil Menurut WHO

Senin, 30 September 2013 |


Penurunan angka kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup masih terlalu lamban untuk
mencapai target Tujuan PembangunanMillenium (Millenium Development Goals/MDGs) dalam
rangka mengurangi tiga per empat jumlah perempuan yang meninggal selama hamil dan
melahirkan pada 2015.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pernyataan yang diterbitkan di laman resmi WHO itu
dijelaskan, untuk mencapai target MDGs penurunan angka kematian ibu antara 1990 dan 2015
seharusnya 5,5 persen pertahun .
Data WHO, UNICEF, UNFPA dan Bank Dunia menunjukkan angka kematian ibu hingga saat ini
masih kurang dari satu persen per tahun. Tahun 2005, sebanyak 536.000 perempuan meninggal
dunia akibat masalah persalinan, lebih rendah dari jumlah kematian ibu tahun 1990 yang
sebanyak 576.000.
Menurut data WHO, sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran
terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negaraberkembang
merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100.000 kelahiran bayihidup jika
dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara
persemakmuran.
Terlebih lagi, rendahnya penurunan angka kematian ibu global tersebut merupakan
cerminanbelum adanya penurunan angka kematian ibu secara bermakna.
Sebanyak 20-30 persen dari kehamilan mengandung resiko atau komplikasi yang dapat
menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan bayinya. Salah satu indikator utama derajat
kesehatan suatu negara adalah Angka Kematian
Ibu (AKI).
Angka Kematian Ibu adalah jumlah wanita yang meninggal mulai dari saat hamil hingga 6
minggu setelah persalinan per 100.000 persalinan. Angka Kematian Ibu menunjukkan
kemampuan dan kualitas pelayanan kesehatan, kapasitas pelayanan kesehatan, kualitas
pendidikan dan pengetahuan masyarakat, kualitas kesehatan lingkungan, sosial budaya serta
hambatan dalam memperoleh akses terhadap pelayanan
kesehatan. Tingginya AKI dan lambatnya penurunan angka ini menunjukkan bahwa pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari
segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya.
Menurut WHO tahun 2010, sebanyak 536.000 perempuan meninggal akibat persalinan.
Sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negaranegara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan tertinggi
dengan 450 kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio
kematian ibu di 9 negara maju dan 51 negara persemakmuran.

Jumlah angka kematian ibu di Indonesia masih tergolong tinggi diantara negara-negara ASEAN
lainnya. Menurut Depkes tahun 2008 jikadibandingkan AKI Singapura adalah 6 per 100.000
kelahiran hidup, AKIMalaysia mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup. Bahkan AKI Vietnam
sama seperti Negara Malaysia, sudah mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup, filipina 112 per
100.000 kelahiran hidup, brunei 33 per 100.000 per kelahiran hidup, sedangkan di Indonesia 228
per 100.000 kelahiran hidup.
Menurut depkes pada tahun 2010, penyebab langsung kematian maternal di Indonesia terkait
kehamilan dan persalinan terutama yaitu perdarahan 28 persen. Sebab lain, yaitu eklampsi 24
persen, infeksi 11 persen, partus lama 5 persen, dan abortus 5 persen.
Apakah yang menjadi penyebab lain tingginya AKI di Indonesia? Pendidikan Ibu Sangat Vital
Bagi Kesehatan Anak Penyerapan informasi yang beragam dan berbeda sangat dipengaruhi
oleh tingkat pendidikan seorang ibu. Latar pendidikan formal serta informal akan sangat
berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan para ibu mulai dari segi pikiran, perasaan maupun
tindakannya.
Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang ibu, maka akan semakin tinggi pula kemampuan
dasar yang dimiliki ibu dalam merawat anaknya mulai dari proses kehamilan hingga pemberian
Air Susu Ibu (ASI). Tingkat pendidikan dapat mendasari sikap seorang ibu dalam menyerap dan
mengubah sistem informasi tentang ASI. Dimana ASI merupakan makanan utama dan terbaik
untuk bayi usia 0-2 tahun.
Lebih dari 33 persen Ibu di Indonesia Tidak Tamat SD
Angka Kematian Ibu yang begitu tinggi salah satunya karena tingkat pendidikan para ibu di
Indonesia yang masih sangat rendah. Jika kita melihat dari jenjang pendidikan, data Badan Pusat
Statistik tahun 2010 menyatakan bahwa mayoritas ibu di Indonesia tidak memiliki ijazah SD,
yakni sebesar 33,34 persen. Selanjutnya sebanyak 30,16 persen ibu hanya memiliki ijazah SD
atau sederajat.
Hanya terdapat 16,78 persen ibu yang berpendidikan setara SMA. Hanya 7,07 persen ibu yang
berpendidikan perguruan tinggi. Tingkat kematian ibu serta gizi bayi di Indonesia begitu buruk.
Mau tidak mau cara paling struktural untuk membenahi kesehatan para ibu dan anaknya adalah
dengan memberi mereka pendidikan yang layak terlebih dahulu.
Bagaimana mungkin seorang ibu bisa mengetahui nutrisi yang mereka butuhkan selama masa
kehamilan jika sama sekali tak pernah mendengar nama asam folat dan kolin. Padahal keduanya
sangat vital pada masa kehamilan sang ibu. Tentunya pelajaran Biologi dan Kimia di sekolah
perlu lebih mengedepankan nilai-nilai yang mempersiapkan calon-calon ibu di masa depan
dengan mantap