Anda di halaman 1dari 16

6

AE

Akuntansi
Universitas Islam Nahdlatul
Ulama Jepara

MAKALAH
KEBIJAKAN PIUTANG

Restu Andriyani1), Miftahul Hidayah2), Nova Sefbriyani3) dan Muhammad Syaiful B4)
1
AE, Akuntansi, FEB
email: restu.andria29@gmail.com
2
AE, Akuntansi, FEB
email: sefbriyani.nova@gmail.com
3
AE, Akuntansi, FEB
email: miftahhidayah46@yahoo.co.id
4
AE, Akuntansi, FEB
email: msyaiful999918@gmail.com

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA
JEPARA
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

Kebijakan Piutang

6
AE

Akuntansi
Universitas Islam Nahdlatul
Ulama Jepara

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum, Wr. Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini, sebatas
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak M.
Yunies Edward, SE.,M.Si

selaku Dosen mata kuliah Manajemen Piutang & Utang.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai pengertian piutang, Kebijakan Piutang, Langkah-langkah
Pencegahan risiko tak tertagih serta Metode Penyisihan Piutang. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang
kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Wassalamualikum wr.wb

Jepara, April 2016

Penyusun

Kebijakan Piutang

6
AE

Akuntansi
Universitas Islam Nahdlatul
Ulama Jepara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
ABSTRAK........................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................2
1.1

LATAR BELAKANG.........................................................................................2

1.2

RUMUSAN MASALAH....................................................................................2

1.3

TUJUAN.............................................................................................................2

BAB 2 PEMBAHASAN..................................................................................................2
2.1

DEFINISI PIUTANG..........................................................................................2

2.2

KEBIJAKAN PIUTANG....................................................................................2

2.3

PEMANTAUAN PIUTANG...............................................................................2

2.4 LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN RESIKO PIUTANG TAK


TERTAGIH....................................................................................................................2
2.5

METODE PENYISIHAN PIUTANG.................................................................2

BAB 3 PENUTUP............................................................................................................2
3.1

KESIMPULAN...................................................................................................2

3.2

SARAN...............................................................................................................2

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................2

Kebijakan Piutang

6
AE

Akuntansi
Universitas Islam Nahdlatul
Ulama Jepara

ABSTRAK
Perusahaan biasanya lebih sering terfokus pada pencapaian laba maksimum sehingga terlena
akan kebijakan - kebijakan yang dibuat dalam pencapaian laba tersebut. Salah satu kegiatan
penting dalam memperoleh laba usaha adalah dengan meningkatkan penjualan, baik itu secara
tunai maupun kredit. Penjualan kredit menunjukkan adanya piutang perusahaan sebagai salah
satu upaya perusahaan untuk menarik minat beli konsumen agar dapat memenangkan
persaingan. Tapi dengan penjualan kredit yang meningkat bisa mempengaruhi kebijakan piutang
yang dilakukan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Kebijakan piutang
yang baik adalah kebijakan piutang yang bisa menciptakan trade-off keuntungan dan kerugian
piutang secara optimal. Kebijakan Piutang mencakup penentuan periode kredit, standar kredit,
kebijakan penagihan dan juga kebijakan kredit.
Keywords: Definisi Piutang, Kebijakan Piutang, Pemantauan Piutang, Langkah-langkah dalam
Pencegahan Piutang Tak Tertagih dan Metode Penyisihan Piutang

Kebijakan Piutang

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pada intinya setiap perusahaan baik yang bergerak di bidang jasa, dagang maupun
manufaktur memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan keuntungan dan menjaga
kesinambungan perusahaan di masa yang akan datang. Di era globalisasi saat ini, semakin
menambah adanya permasalahan bagi manajemen suatu perusahaan di dalam menjalankan
aktivitas perusahaaan dan untuk mencapai tujuan usahanya. Persaingan dalam memasarkan
produk merupakan salah satu masalah yang dihadapi perusahaan untuk meningkatkan penjualan
barang atau jasa, sehingga perusahaan harus berupaya untuk merebut pasar melalui berbagai
kebijakan.
Dalam melaksanakan

penjualan

kepada

para

konsumen,

perusahaan

dapat

melakukannya secara tunai maupun kredit. Perusahaan tentu akan lebih menyukai apabila
transaksi penjualan tersebut dilakukan secara tunai. Karena dengan penjualan tunai, perusahaan
akan segera menerima kas dan kas tersebut dapat segera digunakan kembali sebagai operasional
perusahaan untuk menghasilkan pendapatan selanjutnya. Di lain pihak, penjualan yang
dilakukan secara kredit akan dapat memberikan peluang dalam memperluas pasar sehingga
bisa menambah laba usaha. Meski seperti itu, hal ini juga bukan tanpa resiko. Karena pada
kenyataannya, penjualan kredit kebanyakan menimbulkan adanya piutang atau tagihan.
Penagihan piutang yang telah jatuh tempo biasanya tidak sepenuhnya dapat diselesaikan.
Akibatnya modal perusahaaan akan semakin kecil apabila keadaan itu terus berlangsung dalam
jangka waktu yang lama. Dengan demikian penagihan piutang perlu mendapat perhatian dan
penanganan serius agar dapat meminimalisir resiko sekecil mungkin. Dalam hal ini, agar tidak
sampai menghambat operasi atau kegiatan perusahaan,.pimpinan seharusnya juga turut aktif
mengelola penagihan piutang .

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.
2.
3.
4.
5.

Apa definisi Piutang ?


Bagaimana Kebijakan piutang yang efektif ?
Apa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemantauan piutang ?
Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam pencegahan piutang tak tertagih ?
Bagaimana metode dalam penyisihan piutang ?

Kebijakan Piutang

1.3 TUJUAN
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk :
1. Mengetahui definisi piutang
2. Mengetahui Kebijakan piutang yang efektif
3. Mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemantauan piutang
4. Mengetahui Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pencegahan piutang tak
tertagih
5. Mengetahui metode dalam penyisihan piutang

Kebijakan Piutang

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1

DEFINISI PIUTANG
Menurut Horne (2005 : 258) mengatakan piutang meliputi jumlah uang yang dipinjam
dari perusahaan oleh pelanggan yang telah membeli barang atau memakai jasa secara kredit.
Piutang merupakan komponen aktiva lancar yang menjadi hal penting dalam entitas
bisnis karena termasuk aktiva lancar perusahaan yang paling besar setelah kas. Timbulnya
piutang dikarenakan adanya penjualan barang maupun jasa secara kredit, atau dapat pula
melalui pemberian pinjaman.
Terjadinya penjualan kredit menunjukkan adanya piutang perusahaan yang menjadi salah
satu upaya perusahaan dalam menarik minat beli konsumen untuk memenangkan persaingan.
Faktor penting yang perlu ditetapkan perusahaan agar dapat mengurangi resiko
terganggunya likuiditas perusahaan akibat adanya piutang tak tertagih yaitu dengan
menciptakan kebijakan piutang yang efektif dan membuat prosedur penagihan yang tepat
waktu. Kebijakan piutang yang baik adalah kebijakan piutang yang bisa menciptakan trade-off
keuntungan dan kerugian piutang secara optimal.

2.2

KEBIJAKAN PIUTANG
Kebijakan penjualan kredit adalah serangkaian keputusan yang meliputi periode kredit,
standar kredit, kebijakan penagihan dan diskon yang ditawarkan perusahaan.
Menetapkan periode kredit
Syarat kredit yaitu ketentuan mengenai periode kredit dan besarnya potongan atau diskon
yang akan diberikan.
Periode kredit adalah jangka waktu kredit yang diperkenankan kepada pelanggan.
Misalnya 2/10,net 30. Artinya, pembayaran akan jatuh tempo dalam jangka waktu 30
hari, dan apabila pelanggan membayar dalam waktu 10 hari akan mendapatkan potongan
2 persen.
Standar Kredit
Merupakan kriteria minimum dalam penilaian kredit oleh perusahaan yang harus
dipenuhi seorang debitur sebelum dapat diberikan kredit.
Variabel dalam pemberian kredit yang harus dipertimbangkan antara lain :
a.
b.
c.
d.

Kualitas piutang dagang yang dapat diterima


Jangka waktu periode kredit
Potongan tunai bagi pembayaran yang dilakukan lebih awal
Program pengumpulan piutang

Faktor yang harus dipertimbangkan apabila melakukan perubahan terhadap standar kredit
yang telah ditentukan :

Kebijakan Piutang

a) Volume penjualan.
Apabila tenggang waktu pembayaran yang diberikan longgar, akan menarik
pembeli atau calon langganan untuk membeli barang dalam jumlah yang lebih
banyak, atau sebaliknya.
b) Investasi dalam piutang.
Apabila periode kredit yang diberikan semakin longgar, maka hal ini juga akan
meningkatkan dana yang tertanam di dalam inventori barang jadi (piutang).
c) Biaya Kerugian piutang (cost of bad debt).
Merupakan biaya yang harus diperhitungkan sebagai faktor yang akan mengurangi
keuntungan.
d) Biaya Administrasi
Kebijakan Penagihan
Menurut Syahyunan (2005 : 66) Kebijaksanaan penagihan atau pengumpulan
piutang adalah usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat mengumpulkan
piutang atas penjualan kredit yang diperkenankannya dalam waktu yang singkat.
Kebijakan penagihan juga dapat diartikan sebagai prosedur yang meliputi waktu
dan cara-cara penagihan supaya pelanggan dapat membayar tepat pada waktu yang telah
ditentukan.
Langkah-langkah penagihan yang biasanya dilakukan apabila pembeli atau langganan
belum membayar piutangnya sampai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan sebagai
berikut :
1. Melalui Surat
Perusahaan mengirimkan surat kepada pelanggan untuk mengingatkanbahwa
hutangnya telah jatuh tempo dan belum ada pembayaran sampai dengan jangka
waktu yang telah ditentukan.
2. Melalui Telepon
Jika surat teguran telah dikirimkan namun hutang-hutang tersebut belum juga
dibayar, maka bagian kredit dapat menelepon langganan dan memintanya untuk
segera melakukan pembayaran. Jika dari hasil pembicaraan tersebut ternyata
pelanggan mempunyai alasan yang dapat diterima, mungkin saja perusahaan dapat
memberikan perpanjangan sampai jangka waktu tertentu.

3. Kunjungan Personal
Teknik penagihan piutang dengan melakukan kunjungan personal atau pribadi
ke tempat langganan yang merupakan cara yang dianggap efektif dalam upaya
penagihan piutang.
4. Menggunakan jasa Debt Collector
Perusahaan menggunakan jasa penagih utang (debt collector) dari luar perusahaan
bagi debitur yang belum membayar pada dua bulan setelah batas akhir penagihan.
Kebijakan Kredit

Kebijakan Piutang

Kebijakan kredit merupakan kebijakan internal yang dapat dikendalikan oleh


manajer keuangan. Kebijakan pemberian kredit merupakan trade-off antara tambahan
keuntungan penjualan dan tambahan biaya. Tambahan biaya berawal dari jangka waktu
kredit, potongankas yang ditawarkan dan kualitas langganan yang akan terlihat atas
piutang yang tidakdibayar.
1. Analisis Kuantitatif manfaat dan biaya
Marjin kontribusi digunakan untuk perhitungan tambahan keuntungan dan biaya.
Tambahan biaya bersumber dari biaya investasi pada piutang.
Marjin kontribusi dihitung sebagai berikut ini:
[ (harga biaya variable) / harga ] 100%
Misalkan PT ABC saat ini menjual dengan tunai senilai Rp 100.000.000,.
Perusahaan mempertimbangkan pemberian kredit untuk meningkatkan penjualan.
Penggunaan kredit diperkirakan akan meningkatkan penjualan sebesar Rp
20.000.000,. Hargaproduk adalah Rp.1.000,sedangkan biaya variabel adalah
Rp750. Tingkat keuntungan yangdisyaratkan adalah 20% sebelum Pajak. Rata-rata
pengumpulan piutang adalah 2 bulan. Makabagan berikut menunjukkan analisis
untuk melihat apakah pemberian kredit tersebut pantasuntuk dilakukan.
I. Tambahan Keuntungan :
Tambahan Penjualan
= Rp20.000.000
Tambahan Keuntungan
= 0,25 x Rp20.000.000
= Rp5.000.000
II. Tambahan Biaya
Tambahan piutang
= Rp120.000.000/6 = Rp 20.000.000,.
Tambahan investasi pd piutang
= 0,75 x Rp 20.000.000
= Rp 15.000.000
Keuntungan yang disyaratkan

= 0,2 x Rp 15.000.000
= Rp3.000.000
Dalam contoh soal diatas, margin kontribusi dihitung sebagai berikut :
((harga biaya variabel )/harga) x 100 %
[(Rp 1000 Rp 750)/Rp 1000] x 100% = 25%
Keterangan :
Margin kontribusi dipakai untuk perhitungan tambahan keuntungan dan biaya.
Tambahan biaya bersumber dari biaya investasi pada piutang.
Karena perusahaan menginginkan tambahan pada tingkat keuntungan sebesar Rp
5.000.000, lebih besar dibandingkan dengan tambahan biaya (Rp 3.000.000) maka
keputusan untuk menjual secara kredit layak dilakukan.
2. Analisis kuantitatif kebijakan kredit
Informasi diperoleh dari:
1) Laporan Keuangan ; Dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan
ekonomis dan juga stabilitas aliran kas yang dihasilkan.
2) Bank ; biasanya menyimpan data-data dan informasi
pelanggannya.

Kebijakan Piutang

mengenai

3) Asosiasi Perdagangan ; Informasi mengenai perusahaan juga dapat


diperoleh dari asosiasi perdagangan dimana perusahaan merupakan
anggotanya.
4) Pengalaman Perusahaan
5) Informasi Lainnya ; perusahaan dapat memperoleh informasi dari laporan
credit rating.
Setelah mengumpulkan berbagai informasi, manajer keuangan dapat
melakukan Lima aspek (5C) yang biasanya digunakan sebagai dasar dalam
penetapan kelayakan kredit, yang meliputi hal berikut:
a. Character
Menilai dan mengawasi cara-cara hidup, sifat-sifat pribadi dan status sosial
dari pemohon kredit. Sejauh mana reputasi pelanggan bisa dipercaya, yang
bisa dinilai dari informasi berbagai pihak maupun dari catatan masa lalu
yang patut untuk diperhatikan. Hal ini penting karena berkaitan dengan
sejauh mana kemauan para pelanggan untuk membayar hutang
hutangnya..
b. Capacity
Meneliti kemampuan pemohon kredit mengenai kemampuan keuangan
perusahaan maupun individu.
c. Capital
Mengukur posisi finansial perusahaan dengan memperhatikan sejauh mana
modal yang dimiliki perusahaan, dalam hal ini juga memperbandingkan
antara hutang dan modal.
d. Collateral
Dicerminkan dari jaminan kredit yang diberikan oleh pemohon kredit, untuk
keamanan kredit dan memperkecil risiko.
e. Conditions
Menunjukkan kondisi ekonomi perusahaan yang dapat mempengaruhi
kemampuan pelanggan untuk memenuhi kewajibannya.
2.3

PEMANTAUAN PIUTANG
Pemantauan piutang merupakan proses evaluasi terhadap kebijakan kredit yang telah
dijalankan, terutama apabila terjadi perubahan pola pembayaran pada pelanggan.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pemantauan piutang usaha yaitu:
a.
DSO (Days Sales Outstanding)
DSO adalah nama lain dari average collection period (ACP). DSO mengungkapkan
seberapa lama piutang akan tertagih. DSO merupakan ukuran termudah untuk mengamati
arus penagihan piutang dari pelanggan. DSO yang semakin meningkat menunjukkan
makin lambatnya pelanggan dalam membayar kewajibannya yang dapat dijadikan
indikator awal adanya kemungkinan timbulnya piutang tak tertagih atau kredit macet.

Kebijakan Piutang

Walaupun DSO merupakan ukuran termudah untuk memantau kondisi piutang, tetap
diperlukan sikap kehati-hatian dalam menafsirkan angka DSO. Apabila piutang menurun,
DSO atau ACP (yang dinyatakan dalam hari) juga akan semakin menurun. Menurunnya
piutang belum tentu disebabkan oleh penerimaan yang lebih cepat, bisa saja disebabkan
b.

oleh turunnya penjualan akibat kondisi ekonomi yang melemah.


Skedul Umur Piutang (aging schedule)
Skedul umur piutang merupakan tabel yang memuat informasi tentang umur, jumlah,
proporsi, dan periode penagihan piutang.

Contoh tabel skedul umur piutang:


Umur
(hari)
0-30
31-60
61-90
Lebih

Jumlah

Proporsi

Periode penagihan
(hari)

Rp 405.000.000
Rp 450.000.000
Rp 27.000.000
Rp 18.000.000

45 %
50 %
3%
2%

20
51
80
96

dari 90
Rp 900.000.000
Contoh analisis pemantauan piutang. Misalnya, suatu perusahaan menetapkan batas
waktu pembayaran piutang 30 hari. DSO rata-rata = 45% (20) + 50 % (51) + 3% (80) +
2% (96) = 52 Hari. Hal itu berarti bahwa secara rata-rata lebih banyak pelanggan
membayar kewajibannya pada bulan kedua dari batas waktu penagihan yang ditentukan.
Pelanggan yang membayarnya sampai batas akhir penagihan hanya mencapai 45%.
Sedangkan 55% sisanya, justru tergolong pelanggan yang membayar melampaui batas
waktu penagihan. Jadi analisis ini menunjukan bahwa pola penerimaan penagihan
piutang perusahaan kurang baik karena lebih dari separuhnya tergolong sebagai
pelanggan yang tidak tepat waktu. Sehingga untuk memperbaiki kondisi tersebut,
perusahaan harus mengkaji ulang kebijakan kreditnya.
2.4

LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN RESIKO PIUTANG TAK TERTAGIH.


1) Besarnya resiko yang akan ditanggung perusahaan ditentukan atas dasar pengalaman
tahun-tahun sebelumnya.

Kebijakan Piutang

2) Kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya dapat diukur dengan likuiditas dan
rentabilitas. Selain itu juga perlu mempertimbangkan soliditas (Tingkat kepercayaan
pihak luar terhadap suatu perusahaan) :
o

Soliditas komersiil; kejujuran debitur dalam memenuhi kewajibannya tepat pada


waktu yang telah ditentukan.

soliditas finansiil, mempunyai modal kerja yang cukup untuk memenuhi


kewajibannya tepat pada waktu yang telah ditentukan.

soliditas moril, sifat-sifat dan moril yang baik dari pelanggan untuk melunasi
kewajibannya secara tepat waktu.

3) Membuat klasifikasi kredit tiap pelanggan, dengan menggunakan daftar analisis umur
piutang (aging schedule) sehingga didapat sejarah kredit tiap-tiap pelanggan.
4) Mengadakan seleksi terhadap calon pelanggan, berdasar dari sejarah kredit dapat
ditentukan pelanggan mana yang dapat ditambah plafon kredit, diturunkan, atau tetap.
2.5

METODE PENYISIHAN PIUTANG


Metode Penyishan piutang ada 2 yaitu :
1) Metode Penghapusan Langsung
Dalam metode penghapusan langsung, Jumlah kerugian piutang tidak perlu
ditaksir dan tidak diperlukan rekening cadangan kerugian piutang dalam pembukuan.
Apabila piutang tersebut diyakini tidak akan bisa ditagih lagi, maka kerugian
akibat piutang tersebut langsung didebet ke dalam rekening kerugian piutang dan diposisi
kreditnya yaitu piutang dagang.
Rekening kerugian piutang dalam metode penghapusan langsung, hanya akan
menunjukkan jumlah kerugian yang sebenarnya diderita, dan piutang dagang dalam
neraca dilaporkan sebesar jumlah brutonya. Selain itu, biaya (kerugian) acap kali
dilaporkanpada periode yang berbeda dengan periode penjualannya.
2) Metode cadangan
Digunakan ketika kerugian piutang yang biasa terjadi, cukup besar jumlahnya.
Dalam penerapan metode cadangan, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan
yaitu sebagai berikut :

Jumlah kerugian piutang tak tertagih ditentukan melalui taksiran dan dibandingkan
dengan penjualan pada periode akuntansi yang sama dengan periode terjadinya
penjualan.

Jumlah piutang yang ditaksir tidak akan dapat ditagih dicatat dengan mendebet
rekening kerugian piutang dan rekening cadangan kerugian piutang dikredit.

Kebijakan Piutang

Kerugian piutang yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan mendebet rekening


cadangan kerugian piutang dan mengkredit rekening piutang dagang pada saat
suatu piutang dihapus dari pembukuan.

Kebijakan Piutang

BAB 3
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, dengan ini ditarik
kesimpulan bahwa :
1. Piutang adalah akibat yang timbul karena adanya penjualan barang maupun jasa secara
kredit, atau dapat pula melalui pemberian pinjaman.
2. Kebijakan piutang yang efektif adalah kebijakan piutang yang bisa menciptakan tradeoff keuntungan dan kerugian dari piutang secara optimal. Dalam hal ini meliputi
serangkaian keputusan yang mencakup periode kredit, standar kredit, kebijakan
penagihan, dan diskon yang ditawarkan perusahaan.
3. Dalam pemantauan piutang usaha, hal yang perlu diperhatikan yaitu DSO (Days Sales
Outstanding) dan Skedul Umur Piutang. DSO mengungkapkan seberapa lama piutang
akan tertagih. Sedangkan Skedul umur piutang mengelompokkan berdasarkan umur,
jumlah, proporsi, dan periode penagihan piutang.

4. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pencegahan piutang tak tertagih adalah
sebagai berikut :
a) Besarnya resiko yang akan ditanggung perusahaan ditentukan atas dasar
pengalaman tahun-tahun sebelumnya.
b) Kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya dapat diukur dengan
likuiditas dan rentabilitas
c) Membuat klasifikasi kredit tiap pelanggan, dengan menggunakan daftar analisis
umur piutang (aging schedule) sehingga diketahui sejarah kredit tiap-tiap
pelanggan.
d) Mengadakan seleksi terhadap calon pelanggan, berdasar dari sejarah kredit dapat
ditentukan pelanggan mana yang dapat ditambah plafon kredit, diturunkan, atau
tetap.
5. Metode Penyisihan Piutang ada 2 yaitu :
1)
Metode Penghapusan Langsung
Dalam metode penghapusan langsung,

jumlah kerugian piutang tidak perlu

ditaksir dan dalam pembukuan tidak digunakan rekening cadangan kerugian


piutang.
2) Metode cadangan
Digunakan ketika kerugian piutang yang biasa terjadi, cukup besar jumlahnya.
Dalam penerapan metode cadangan, ada beberapa hal penting yang perlu
diperhatikan yaitu sebagai berikut :

Kebijakan Piutang

10

Jumlah kerugian piutang tak tertagih ditentukan melalui taksiran dan


dibandingkan dengan penjualan pada periode akuntansi yang sama dengan
periode terjadinya penjualan.

Jumlah piutang yang ditaksir tidak akan dapat ditagih dicatat dengan
mendebet rekening kerugian piutang dan rekening cadangan kerugian
piutang dikredit.

Kerugian piutang yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan mendebet


rekening cadangan kerugian piutang dan mengkredit rekening piutang
dagang pada saat suatu piutang dihapus dari pembukuan.

3.2

SARAN
Agar dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan, disarankan perusahaan dapat menjalankan
prosedur pengelolaan piutang usaha berdasar pada kebijakan yang seharusnya. Dimana
perusahaan harus dapat bersikap tegas kepada pelanggan yang melakukan keterlambatan
pembayaran, sehingga dapat meminimalisir risiko piutang tak tertagih yang dimiliki
perusahaan.

Kebijakan Piutang

11

DAFTAR PUSTAKA
http://inkagustiana.blogspot.co.id/2013/03/manajemen-piutang.html
http://moh-angscorp2.blogspot.co.id/2013/03/manajemen-piutang.html
http://dokumen.tips/documents/manajemen-piutang-dan-persediaan.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26553/4/Chapter%20II.pdf

Kebijakan Piutang

12