Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Dasar teori

II.1.1 Definisi serbuk ( Dirjen POM, 1995)


Dalam dunia farmasi, sediaan dalam bentuk serbuk sangat banyak digunakan.
serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan,
ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Serbuk adalah campuran
homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan.
Sediaan serbuk dibagi menjadi dua, yaitu pulvis dan pulveres. Pulvis adalah
serbuk yang tidak terbagi-bagi, sedangkan pulveres adalah serbuk yang dibagi
dalam bobot kurang lebih sama dengan dibungkus kertas perkamen atau bahan
pengemas lain yang cocok.
II.1.2 Keuntungan dan kerugian serbuk ( Dirjen POM, 1995)
Seperti halnya sediaan farmasi yang lain, sediaan bentuk serbuk memiliki
keuntungan dan kerugian.
a) Keuntungan bentuk serbuk :
1. Serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut daripada sediaan yang
dipadatkan.
2. Anakanak atau orang tua yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih
mudah mmenggunakan obat dalam bentuk serbuk.
3. Masalah stabilitas yang sering dihadapi dalam sediaan cair tidak ditemukan
dalam sediaan serbuk.
4. Obat yang tidak stabil dalam suspensi atau larutan air dapat dibuat dalam
bentuk serbuk.
5. Obat yang volumenya terlalu besar untuk dibuat tablet atau kapsul dapat
dibuat dalam bentuk serbuk.
6. Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan
penderita

b) Kerugian serbuk
1. Keenggangan pasien meminum obat yang mungkin rasa pahit, atau rasa yang
tidak enak.
2. Kesulitan menahan terurainya bahan-bahan yang higroskopis.
3. Mudah mencair atau menguap zat-zat yang dikandungnya.
4. Waktu dan biaya yang digunakan pada pengolahan dan pembungkusan
dalam keseragaman dosis tunggal.
II.1.3 Syarat-syarat serbuk ( Voigt, 1994 ; Dirjen POM 1995 )
Serbuk harus memenuhi syarat sebagai berikut
a)
Halus sesuai dengan derajat halus serbuk
b)
Homogen semua komponen
c)
Kering
d) Memenuhi uji keseragaman bobot (seragam dalam bobot) atau keseragaman
kandungan (seragam dalam zat yang terkandung) yang berlaku untuk
terbagi/pulveres yang mengandung obat keras, narkotik, dan psikotropik.
Syarat lain yaitu :
a) Pulveres (serbuk bagi)
Keseragaman bobot: timbang isi dari 20 bungkus satu persatu, canpur isi ke
20 bungkus tadi dan timbang sekaligus, hitung bobot isi rata-ra Penyimpanan
antara penimbangan satu persatu terhadapvbobot si rata-rata tidak lebih dari
15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus.
b) Serbuk oral tidak terbagi
Pada seruk oral tidak terbagi hanya terbatas. Pada obat yang relatif tidak
poten seperti laksan, antasida, makanan diet dan beberapa analgesik tertentu
sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok the atau penakar
lain.
c) Serbuk tabur
Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus
100 mesh, agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka.
II.1.4 Derajat halus serbuk ( Dirjen POM, 1995)
Derajat halus serbuk dan pengayak dinyatakan dalam uraian yang dikaitkan
dengan nomor pengayak yang ditetapkan untuk pengayak baku, seperti yang tertera
pada table di bawah ini.

Tabel : Klasifikasi serbuk berdasarkan derajat halus

Klasifikasi
Serbuk
Sangat kasar
Kasar
Setengah
Kasar
Halus
Sangat halus

Simplisia Nabati dan Hewani


Batas Derajat Halus 2)
Nomor
Serbuk1)
No.
%
Pengayak
8
20
60
20
40
60
40
40
80
60
40
100
80
100
80

Bahan Kimia
Nomor
Serbuk 1)
20
40
80
120

Batas Derajat Halus 2)


%

No. Pengayak

60
60
60
100

40
60
120
120

Keterangan :
1. Semua partikel serbuk melalui pengayak dengan nomor nominal tertentu.
2. Batas persentase yang melewati pengayak dengan ukuran yang telah ditentukan.
Sebagai pertimbangan praktis, pengayak terutama dimaksudkan untuk
pengukuran derajat halus serbuk untuk sebagian besar keperluan farmasi (walaupun
penggunaannya tidak meluas untuk pengukuran rentang ukuran partikel) yang
bertujuan meningkatkan penyerapan obat dalam saluran cerna. Untuk pengukuran
partikel dengan ukuran nominal kurang dari 100cm, alat lain selain pengayak
mungkin lebih berguna.
Efisiensi dan kecepatan pemisahan partikel oleh pengayak beragam, berbanding
terbalik dengan jumlah partikel termuat. Efektifitas pemisahan menurun cepat jika
kedalaman muatan melebihi lapisan dari 6 partikel sampai 8 partikel.
Pengayak untuk pengujian secara farmakope adalah anyaman kawat, bukan
tenunan. Kecuali untuk ukuran nomor 230, 270, 325, dan 400 anyaman terbuat dari
kuningan, perunggu, baja tahan karat atau kawat lain yang sesuai dan tidak dilapisi
atau disepuh.
Dalam penetapan derajat halus serbuk simplisia nabati dan simplisia hewani,
tidak ada bagian dari obat yang dibuang selam penggilingan atau pengayakan,
kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi.

ukuran rata-rata lubang pengayak baku anyaman kawat


Penandaan pengayak
Nomor
Nominal
2
3,5
4
8
10
14
16
18
20
25
30
35
40

Ukuran Lubang Pengayak


9,5mm
5,6mm
4,75mm
2,36mm
2,00mm
1,40mm
1,18mm
1,00mm
850m
710m
600m
500 m
425 m

Penandaan pengayak
Nomor
Nominal
45
50
60
70
80
100
120
200
230
270
325
400

Ukuran Lubang Pengayak


355 m
300 m
250 m
212 m
180 m
150 m
125 m
75 m
63 m
53 m
45 m
38 m

II.1.5 Jenis-jenis serbuk ( Dirjen POM, 1995)

a) Pulvis adspersorius
adalah serbuk ringan, bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat
luar. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus
untuk memudahkan penggunaan pada kulit.
Catatan :
Talk, kaolin dan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus
memenuhi syarat bebas bakteri Clostridium Tetani, Clostridium Welchii,
dan Bacillus Anthracis.

Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka.

Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus
100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka.

b) Pulvis Dentifricius
Serbuk gigi, biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan
terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90%
c)

Pulviss Sternutatorius

Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung, sehingga


serbuk tersebut harus halus sekali.
d) Pulvis Effervescent
Serbuk Effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan
terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini
akan mengeluarkan gas CO2, kemudian membentuk larutan pada umumnya
jernih. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau
asam tartrat) dengan senyawa basa (Natrium Carbonat atau Natrium
Bicarbonat). Interaksi asam dan basa ini dalam air akan menimbulkan suatu
reaksi yang menghasilkan gas karbondioksida. Bila ke dalam campuran ini
ditambahkan zat berkhasiat maka akan segera dibebaskan sehingga memberikan
efek farmakologi dengan cepat. Pada pembuatan bagian asam dan basa harus
dikeringkan secra terpisah.
II.1.6 Metode pembuatan dan pencampuran serbuk (Ansel, 1989).
Metode pembuatan dan pencampuran serbuk ada 4 jenis
a) Spatulasi
Serbuk-serbuk halus memiliki ukuran partikel dan berat molekul yang
sama dapat dicampurkan diselembar kertas atau diatas sebuah wadah dengan
sebuah spatula. Metode spatulasi menghasilkan pengurangan ukuran partikel
atau serbuk menjadi padat/kompak. Hasil akhir serbuk menjadi halus dan
siap untuk disuspensikan ke dalam cairan.
b) Triturasi
Serbuk dapat dicampur dalam lumpang dan alu. Produk ini akhirnya
menghasilkan zat-zat halus dan dapat didisfusi dalam larutan. Penggerusan
yang keras dan terlalu lama menghasilkan serbuk yang halus dan lebih padat.
Penggerusan yang keras digunakan untuk mengurangi garam-garam granul
menjadi serbuk yang lebih halus.
c) Sifting

Untuk memperoleh serbuk yang sangat halus, dapat dilakukan dengan


cara pengayakkan. Pengayak biasa dapat digunakan dalam mengayak serbuk
obat. Pengayak yang lebih distandarisasi memberikan kontrol yang lebih
baik dalam menghasilkan ukuran partikel.
d) Tumbling
Pencampuran serbuk yang sederhana tanpa mengurangi ukuran partikel
dan kepadatan yang biasanya dilakukan dalam metode triturasi, sedangkan
dalam metode tumbling digunakan wadah tertutup yang mulut wadahnya
besar.
II.1.7 Macam macam serbuk special (Martin, E. W. 1971)
Serbuk spesial memerlukan pembuatan dan pengemasan yang khusus. Dari
deskripsi diatas serbuk special meliputi garam-garam effervescent, serbuk sangat
halus, serbuk gigi, insufilasi, dan aerosol serbuk.
a) Garam-garam effervescent
Granul atau serbuk terdiri dari sodium bikarbonat, asam-asam organik atau
anorganik dan bahan-bahan obat disebut sebagai garam-garam effervescent.
Dengan adanya air, asam dan basa bereaksi membebaskan CO 2 sehingga
menghasilkan buih
b) Serbuk sangat halus
Serbuk sangat halus, semua serbuk harus melewati ayakan 100 mesh untuk
memastikan terbebas dari partikel bebas dan tidak mengiritasi
c) Serbuk gigi
Serbuk yang mengandung carmin sebagai pewarna yang dilarutkan lebih
dahulu dalam kloroform / etanol 90%.
d) Insuflation powder
Serbuk khusus yang dimasukkan kedalam lubang pada tubuh seperti hidung,
II.1.8

telinga, tenggorokan, dan vagina.


Evaluasi serbuk (Goeswim, 2012)
Setelah serbuk selesai dibuat, serbuk harus memenuhi beberrapa tahap
evaluasi untuk memastikan apakah sebuk layak untuk dipasarkan, adapun evaluasi
serbuk antara lain

a) Luas permukaan spesifik


Luas permukaan spesifik dari suatu serbuk ditentukan melalui adsorbsi fisika
dari suatu gas pada permukaan padatan, dan dengan menghitung jumlah asorbat
gas pada permukaan dalam bentuk mondayer ditentukan luas permukaan
spesifik
b) Ukuran partikel
Kesulitan dalam menetukan ukuran partikel adalah karena parikel padatan
hamper tidak ada yang berbentuk sfeeris sehinnga harus ada konvensi tentang
ykuran patikel yang terkait dengan cara pengukuran partikel
c) Sudut istirahat
Merupakan cara tekhnik ynag relative sederhana untuk memperkirakan sifat
aliran serbuk, mudah ditentukan dengan cara membiarkan serbuk mengalir
melaui suatu corong dan jatuh secara bebas pada suatu permukaan
d) Porositas, Void, dan Volume keruahan
Porositas adalah void X 100. Nilai ini nharud ditentkan secara eksperimen
melaui pengukuran volume yang diokupasi dari sejumlah berat serbuk dan
volume ruahan.
e) Indeks kompresibilitas dan Rasio hausner
Ada beberapa variasi metode dalam penentuan indeks kompresibiltas dan rasio
hausner.
II.1.9 Masalah-masalah dalam pencampuran serbuk serta penanganannya (Martin,
E. W. 1971 )
Masalah-masalah yang sering dihadapi dalam pencampuran serbuk adalah
sebagai berikut :
a) Higroskopis
Zat-zat yang menyerap kelembapan dari udara disebut higroskopis. Zat-zat
yang higrokopis antara lain amonium klorida, amonium bromida, kalsium
klorida, dan kalsium klorida.
Bahan-bahan higroskopis sebaiknya dibuat dalam bentuk granul dan dikemas
dalam aluminium foil atau kemasan plastik yang sesuai. Selain itu, juga dapat
ditambahkan magnesium oksida.
b) Serbuk efflorescent

10

Zat-zat yang berbentuk kristal dapat menjadi serbuk dan membebaskan


kristal air disebut efflorescent. Zat-zat yang bersifat efflorescent seperti atrofin
sulfat, kafein, asam sitrat, dan kalsium laktat. Pembebasan air dapat merubah
kelembaban relatif atau dapat terjadi selama proses triturasi itu sendiri. Air yang
dibebaskan oleh zat-zat efflorescent dapat menyebabkan serbuk menjadi seperti
bubur atau menjadi cair. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan garamgaram anhidrat akan cenderung menyerap kelembaban dari udara.
c) Pencampuran eutectic
Pencampuran eutectikum didefenisikan sebagai komponen atau bahanbahan yang akan memberikan titik lebur yang lebih rendah. Pencampuran
eutectikum dapat ditemui ketika pencampuran dua atau lebih zat menjadi cair
contoh salol, tymol, camfer, menthol, dan fenol.
Salah satu metode yang digunakan untuk pencampuran eutectikum adalah
dengan memisahkan bahan-bahannya saat penggerusan. Teknik lainnya adalah
dengan penambahan serbuk absorben seperti pati, talkum, laktosa, kalsium
fosfat, dan sebagainya.
d) Zat-zat yang tidak melarut
Ketika sedikit campuran dicampurkan kedalam serbuk, cairan akan
ditriturasi dengan serbuk yang memiliki berat yang sama dengan sisa serbuk
yang ditambahkan. Ketika bagian yang lebih besar dari dari tingtur atau ekstrak
cair diresepkan sebagai komponen serbuk, volume cairan harus dikurangi
dengan evaporasi/penguapan diatas sebuah penangas air menjadi bentuk sirup
laktosa atau beberapa pengisi yang inert lainnya harus ditambahkan dan
dievaporasi secara terus menerus menjadi serbuk yang kering. Pengisi bertindak
sebagai pembawa residu. Hal ini untuk menghindari serbuk menjadi lengket
ketika proses evaporasi sempurna.
e) Ekstrak kental
Beberapa ekstrak tersedia dalam bentuk pil dan serbuk, ekstrak yang telah
diserbukkan ditangani dengan cara yang sama seperti serbuk lain. Ketika
memungkinkan ekstrak dalam bentuk pil dapat dicampurkan dengan sejumlah

11

laktoksa dan dikurangi menjadi serbuk kering dengan evaporasi sebelum


dicampurkan dengan bahan yang lain.
f) Campuran meledak dan garam-garam inkom
Ketika bahan-bahan pengoksidasi seperti potasium klorat digerus dalam
sebuah lumpang dengan bahan pereduksi seperti asam tanat, ledakan keras akan
terjadi. Garam-garam inkom kimiawi lainnya ketika digerus akan menghasilkan
perubahan warna pada serbuk atau kehilangan potensi. Pada pencampuran
bahan-bahan yang mudah meledak dilakukan dengan tekanan yang kecil. Selain
itu dapat digunakan metode tumbling yang bertujuan mencegah serbuk bereaksi
dengan zat-zat lain.
g) Obat-obat keras
Batas akurasi seimbangan dari resep kelas A memerlukan produk khusus
untuk berat kuantitas kecil obat keras. Dalam hal ini menggunakan pengisi yang
sesuai seperti laktosa yang dicampurkan dalam jumlah yang sesuai dengan
obat-obat keras yang diserbukkan. Untuk memperoleh campuran yang homogen
dapat menggunakan metode triturasi.
II.2 Uraian bahan
II.2.1 Asam sitrat ( Dirjen POM, 1979 ; Rowe, 2009)
Nama Resmi
: Acidum citricum
Nama Lain
: Asam sitrat
RM/BM
: C6H8O7.H2O / 210,14
Rumus struktur :

Pemerian

: Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul


sampai halus, putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau,

Kelarutan

rasa sangat asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara dingin.


: Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, agak

Inkompatibilitas

sukar larut dalam eter.


: Asam sitrat ini inkom dengan potasium tartrat alkali dan
alkali tanah karbonat dan bikarbonat, asetat, dan sulfida.
Inkompatibilitas termasuk bahan pengoksida basah, sebagai

12

zat
Stabilitas

perekduksi

dan

nitrat,

berpotensi

meledak

jika

dikombinasikan dengan metal nitrat.


: Asam sitrat monohidrat kehilangan kristal air di udara kering
atau ketika dipanaskan pada suhu 40 oC, sedikit mencair di
udara lembab. Larutan asam sitrat encer dapat digunakan juga
untuk fermentasi. Jadi bahan-bahan anhidrat dan monohidrat
salam jumlah banyak harus disimpan diwadah kedap udara

ditempat sejuk dan kering


Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan
: Sumber asam
II.2.2 Asam Tartrat (Dirjen POM, 1979 ; Rowe, 2009)
Nama Resmi
: Asam Tartaricum
Nama Lain
: Asam Tartrat
RM/BM
: C4H6O6/150,09
Rumus Struktur :

Pemerian

: Hablur tidak berwarna atau bening atau serbuk hablur halus


sampai granul, warna putih, tidak berbau, rasa asam dan stabil

Kelarutan
Inkompatibilitas

di udara.
: Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol
: Asam tartrat inkom dengan perak dan bereaksi dengan metal

Stabilitas

karbonat dan bikarbonat (dimanfaatkan dalam effervescent)


: sebagian besar bahan bersifat stabil bila disimpan didalam

wadah yang tersimpan baik


Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
: Sumber asam
III.2.3 Natrium bikarbonat ( Dirjen POM, 1995 ; Rowe, 2009)
Nama Resmi

: Natrii Subcarbonas

Nama Lain

: Natrium bikarbonat, sodium bikarbonat

RM/BM

: NaHCO3/84,01

Rumus Struktur

13

Pemerian

: Serbuk hablur, putih stabil di udara kering tetapi dalam udara


lembab secara perlahan-lahan terurai, larutan segar dalam air
dingin, tanpa di kocok bersifat basa terhadap lakmus.
Kebasaan bertambah bila larutan dibiarkan digoyang kuat
atau dipanaskan.

Kelarutan

: Larut dalam air, tidak larut dalam etanol

Inkompatibilitas

: Natrium bikarbonat bereaksi dengan asam-asam, garamgaram basah dan banyak garam alkaloid dengan perubahan
dari bikarbonat, natrium bikarbonat juga biasanya dapat
mengintensifkan salisilat menjadi gelap. Dalam campuran
serbuk, kelembapan udara atau air dan bahan-bahan lain
cukup untuk sodium bikarbonat bereaksi dengan senyawasenyawa seperti asam boric atau tawas. Campuran cairan
mengandung bismut subnitrat sodium bikarbonat bereaksi
dengan asam, dibentuk oleh hidrolisis dari garam bismut.
Untuk itu, sodium bikarbonat tidak inkompatibel dengan
banyak

zat

obat

seperti

Eiproplox

asin,

amiodern,

nikardipene, dan lerafloxan.


Stabilitas

: Ketika dipanaskan pada suhu 50oC sodium bikarbonat mulai


berpisah dalam karbondioksida, sodium bikarbonat dan air
dipanaskan pada 250-300oC dalam waktu singkat sodium
bikarbonat dikonversi secara konflik kedalam sodium
karbonat anhidrat. Dalam proses ini baik waktu maupun suhu
tergantung dengan konversi 90% lengkap dengan waktu 75
menit pada suhu 93oC. Hasil reaksi melalui permukaan yang
terkontrol secara kinetis. Ketika kristal sodium bikarbonat
dipanaskan pada waktu yang singkat, permukaan sodium

14

bikarbonat akan membentuk jarum. Jarum sodium karbonat


anhidrat yang sangat halus. Pengaruh kelembaban temperatur
relatif pada penyerapan kelembaban dan stabilitas serbuk
sodium bikarbonat dikatakan stabil jika dibawah 76% kadar
kelebaban relatif 25oC dan dibawah 48% pada kelembaban
40%

pada

54%

kelembaban

relatif

derajat

piroktik,

dekarboksilat dari sodium bikarbonat tidak boleh melebihi


4,5% untuk menghindari efek yang merugikan kestabilan
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: Sumber basa

II.2.4 PVP ( Dirjen POM, 1979 ; Rowe, 2009)


Nama Resmi

: Povidon

Nama Lain

: Povidon, Polivinilpirolidon

RM/BM

: (C6H9NO)n/84,01

Rumus Struktur

Pemerian

: Serbuk putih, atau putih kekuningan, berbau lemah, atau tidak


berbau, higroskopik

Kelarutan

: Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P, dan dalam


kloroform P, kelarutan tergantumg dari bobot molekul ratarata, praktis tidak larut dalam eter P

Inkompatibilitas

: Dapat membentuk molecular adducts dalam larutan dengan


sulfatiazol, natrium salisilat, asam salisilat, fenobarbital, tanin
dab bahan lain. Efek dari beberapa pengawet seperti
thimerosal dapat berubah (merugikan) ketika terbentuk
kompleks dengan povidon.

15

Stabilitas

: Warna povidon berubah gelap dengan pemanasan pada suhu


105 C, dan terjadi penurunan kelarutan dalam air. Stabil pada
pemanasan 110-130 oC yang sebentar, sterilisasi dengan uap
tidak mengubah karakteristik povidon. Larutan povidon
mudah terkontaminasi oleh jamur olah karena itu perlu
ditambahkan pengawet.

Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
: Sebagai zat pengikat
Konsentrasi
: 0,5 % - 2 %
II.2.5 Aspartam ( Rowe, 2009)
Nama Resmi
: Aspartame
Nama Lain
: Sucinamed acid
RM/BM
: C14H18N2O5/294,30
Rumus struktur :

Pemerian
Kelarutan
Inkompatibilitas

: Serbuk putih, serbuk kristal dan rasa manis


: Sedikit larut dalam air dan etanol
: Aspartam inkom dengan kalsium dibasik fosfat dengan
lubrikan dengan magnesium stearat dan juga reaksi antara

Stabilitas

aspartam dan gula


: Aspartam stabil dalam kondisi kering, dalam keadaan lembab
hidrolisis dapat menyebabkan terjadinya kerusakan produk
seperti asparthyl penilalanin dan benzil 6-karboksimetil-2,5-

Penyimpanan
Kegunaan
Konsentrasi

diklopiperozino.
: dalam wadah yang baik, sejuk dan kering
: Sebagai zat pemanis
: 0,75 1 %

II.2.6 Natrium benzoat ( Dirjen POM, 1995 ; Rowe, 2009)


Nama Resmi
: Natrii benzoat
Nama Lain
: Sodium benzoat
RM/BM
: C7H5N4O2/144.11
Rumus struktur :

16

Pemerian

: Granul atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau praktis

Kelarutan
Inkompatibilitas

tidak berbau, stabil di udara


: larut dalam 2 bagian air, dan dalaam 90 bagian etanol (95%) P
: Inkom dengan campuran kuartener gelatin, garam-garam besi,
garam-garam kalsium dan garam-garam dari logam berat,
termasuk perak, timah, dan tembaga. Akivitas berkurang

apabila berinteraksi dengan kaolin atau surfaktan non ionik


Stabilitas
: Larutan encer dapat disterilkan dengan autoclav atau filtrasi
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
: Sebagai zat pengawet
Konsentrasi
: 0,01 %
II.2.7 Laktosa (Dirjen POM, 1979 ; Rowe, 2009)
Nama Resmi
: Lactosum
Nama lain
: Saccharum Lactis
RM / BM

: C12H22OH. H2O / 36.30

Rumus struktur

Pemerian

: Serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa agak manis

Kelarutan

: Larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih ,


sukar larut dalam etanol (95%) P dan dalam eter P

Inkompatibilitas

: jenis reaksi kondensasi mungkin terjadi antara laktosa dan


senyawa dengan gugus amina primer untuk ementuk coklat
atau kuning coklat berwarna. Laktosa juga kopatibel xengan
asam amino, aminofilin, amfetamin dan lisinopril.

Stabililitas

: pertumbuan jamur dapat terjadi pada kondisi lembab (80%


relatif kelembaban diatas) laktosa dapat memngembangkan
warna coklat pada penyimpanan akibat kondisi lembab

17

Penyimpanan
Kegunaan
Konsentrasi
II.3

: Dalam wadah tertutup baik


: Sebagai zat pengisi
: ad 100%

Rancangan formula
Tiap sachet @ 2 g mengandung
R/

Serbuk kulit buah manggis 10 %


Asam sitrat

13,63 %

Asam tartrat

27,26 %

Natrium bikarbonat

46,35 %

PVP

2%

Aspartam

0,75 %

Natrium benzoate

0.01 %

Laktosa
II.4

ad

100 %

Alasan Formulasi
a) Kulit buah manggis mengandung senyawa kimia turunan xanthone seperti alfa
mangosteen, 8-desoxygartonin, gartanin, beta mangostin, 3 - mangostin dan ghidroxycalaba xanthone (Walker, 2007).
b) Xanthone dari kulit buah manggis telah dilaporkan memiliki aktifitas anti
oksidan, manfaat lain dari kandungan xanthone yaitu dapat menghambat
pertu,buhan degenerasi sel dan sebagai anti kanker (Jung et,al, 2006 ; akao et al,
2008).
c) Alfa mangosteen memiliki manfaat temopreventif dan berguna sebagai terapi
adjuvant atau sebagai pengobatan alternative komplementer dalam pengobatan
kanker payudara (Shibata et al, 2011).
d) Keungguln kulit buah manggis dijadikan granul effervescent karena
kebanyakan dikalangan masyrakat kulit buah manggis dbuat dalam bentuk
sediaan suplemen, tablet dan kapsul. Oleh karena itu dibuatserbuk effervescent
agar dapat memberikan inovasi aru pada kulit buah manggis ( Faradila &
Nursiah, 2013).

18

e) Selain itu, keunggulan serbuk effervescent disbanding minuman serbuk biasa


yaitu kemampuan meghasilkan gas karbondioksida (CO 2) yang memberikan
II.5

rasa segar.
Alasan penggunaan baahan
a. Asam sitrat
1)Asam sitrat digunakan karena mudah didapat, relative tidak mahal, sangat
mudah larut, memiliki kekuatan asam yang tinggi, tersedia sebagai granul
halus dan mengalir bebas (Siregar, 2007).
2)Asam sitrat yang digunakan dalam pembuatan sediaan effervescent karena
memiliki kelarutan yang tinggi dalam air dingin, mudah didapat, dalam
bentuk granul atau serbuk (Reynold, 1982).
3)Asam sitrat digunakan untuk dikombinasikan dengan asam tartrat yang
menghasilkan granul. Aam sitrat tidak dapat digunakan untuk bahan asam
tunggal. Dimana asam sitrat saja akan menghasilkan campuran lengket dan
sukar menjadi serbuk (Ansel, 2008).
4)Konsentrasi asam sitrat menurut Khusunah (2003), menyimpulkan bahwa
pengunaan asam sitrat 50% memberikan hasil yang terbaik.
5)Menurut Wardiningrum (2001), menyimpulkan bahwa peggunaan asam sitrat
32% memberikan hasil terbaik pada pembuatan effervescent.
b. Asam tartrat
1)Asam tartrat digunakan dalam banyak sediaan effervescent karena
kelarutannya tinggi dan tersedia secara komersial (Siregar, 2007).
2)Asam tartrat yang dikombinasikan dengan asam sitrat, karena apabila asam
tartrat sebagai asam tunggal saja, maka serbuk yang dihasilkan akan mudah
kehilangaan kekuatannya dan akan menggupal (Ansel, 2008).
3)Asam tartrat dalaam formulasi ini secara luas digunakan dalam kombinasi
dengan bikarbonat sebagai granul effervescent serbuk dan tablet (Rowe,
2009).
4)Jika asam tartrat berikatan dengan zat atif akan menngkatkan laju disolusi,
dalam hal ini akan cepat larut dan hilang atau habis ketika dimasukkan
kedalam air (Rowe, 2009).
5)Konsentrasi asam tartrat menurut Ansel (1989), mengatakan 28% asam tatrtat
baik untuk sediaan effervescent.

19

6)Konsentrasi asam tartrat menurut Ari Widayanti (2012), menunjukkan bahwa


konsenntrasi 25% asam tartrat sebagai sumber asam pada granul effervescent
merupakan konsentrasi terbaik
c. Natrium bikarbonaat
1)Natrium bikrarnonat adalah garam yang berwujud kristal dan larut air bila
bereaksi dengan sumber asam dan menghasilkan buih pada sediaan
effervescent, penambahan natrium bkarbonat dalam sediaan effervescent
dapat meningkatkan kadar total padatan terlarut dan dapat memperbaiki rasa
(Murdianto & Syahruimansyah, 2012).
2)Natrium bikarbonat cepat bereaksi dengan air karena memiliiki sifat kelarutan
yang mudah larut dalam 2 bagian air sehingga bagus untuk menjadi sediaan
effervescent (Dirjen POM, 1979).
3)Natrium bikarbonat dapat menetralisir asam sitrat dan asam tartrat, untuk
dapat ,membebaskan karbondioksida sehingga terbentuk buih (Ansel, 2008).
4)Natrium bikarbonat umumnya digunakan dalam formulasi sebagai sumber
karbondioksida dalam sediaan effervescent (Rowe, 2009).
5)Menurut Wardiningrum konsenrasi natrium bikaronat yang baik adalh 32%
pada pembuatan effervescent
d. Polivinilpirolidon (PVP)
1)Granul dengan penambahan polivinilpirolidon memiliki sifat alir yamg baik,
sudut diam minimum, menghasiilkan fines lebih sedikit, dan daya
kompatibilitasnya lebih baik (Banker & Anderson, 1986)
2)PVP mempunyai sifat inert, larut air dan alcohol, sedikit higrokopisnya, tidak
mengeras selama penyimpanan, sehingga baik digunakan sebagai bahan
pengikat pada sediaan granul effervescent ((Banker & Anderson, 1986).
3)PVP merupakan salah satu contoh polimer untuk sediaan effervescent yang
efektif (Mohrle, 1980)
4)PVP berfungsi untuk memberikan kekompakan dari daya

tahan sediaan,

sehingga menjamin penyalutan beberapa partikel srbuk- serbuk butitan


granul (Voigt, 1994).
5)Keunggulan PVP dengan zat pengikat lain seperti Na CMC yaitu, PVP
memiliki sifat higroskopik yang sedikit, sedangkan Na CMC memiliki sifat

20

higroskopik yag kurang baik dalam sediaan effervescent (Banker &


Anderson, 1986 ; Rowe, 2009).
6)Keunggulan PVP dengan zat aktif yaitu PVP bersifat inert dalam aliran suatu
keadaan yang tidak melakukan sesuatu sama sekali atau sesuatu yang sangat
kecil efeknya. Jadi PVP meiliki efek samping minimum jika dikombinasikan
dengan zat tambahan lainnya (Banker & Anderson, 1986)
7)Konsentrasi PVP sebesar 5% dalam etanol anhidrat menghasilkan grranulasi
dengan kompresibilitas yang baik dari serbuk sediaan bikarbonat dan asam
sitrat menghasilkan sediaan effervescent yang kuat dan cepat terdisolusi
(Mohrle, 1980).
8)Penggunaan PVP dengan range konsentrasi 0,5-2% dapat menghasilkn
tablet/granul yang mempunyai kekerasan yang cukup, yang kerapuhannya
rendah dan waktu hancur yamg lama (Setyarini, 2005).
e. Aspartam
1) Kandungan energi aspartam sangat rendah untuk menghasilkan rasa manis,
sehinnga menyebabkan aspartam sangat popular untuk menghindari kalori
dan gula (Rowe, 2009).
2) Aspartam memiliki rasa manis 160 200 kali sukrosa, tidak ada rasa pahit
atau after taste yang sering terdapat pada pemanis buatan (Wijaya, dkk,
2009).
3) aspartam dapat digunakan untuk semua jenis gula rendah kalori, misalnya
untuk kegemukan dan diabetes, karena kandungan kalorinya yang rendah
dan tidak dapat menyebabkan kelainan gigi seperti karie (Susilo, 2005).
4) Aspartam mempunyai energi yamg sangat rendah, mempunyai cita rasa
manis mirip gula, tanpa rasa pahit, tidak merusak gigi, menguatkan cita rasa
buah-buahan pada makanan dan minuman (Harbone, 1979).
5) Menurut Yoga (2007), konsentrasi aspartam yang baik dan paling disukai
yaitu 0,75%
6) Perbandinga tingkat kemanisan aspartam 180-200 kali sukrosa lebih tinggi
dibandingkan tingkat kemanisan sorbitol hanya 50-60 kali sukrrosa (Banker
& Anderson, 1986).
f. Natrium benzoat

21

1)Natrium benzoat merupakan satu dari beberapa pengawet makanan dan


minuman yang disahkan oleh PeMenKes no 722/1988
2)Natrium benzoat lebih larut dalam air dibandingkan dengan asam benzoat
(Cahyadi, 2008).
3)Banyak dijual dipasaran dan mudah ditemukan (Cahyadi, 2008).
4)Digunakan untuk mengawetkan berbagai bahan pangan dan minuman
(Cahyadi, 2008).
5)Memiliki fungsi sebagai antimikroba yang optimum pada pH 2,5-4,0
(Cahyadi, 2008).
6)Penambahan pengawet pada formulasi ini juga berguna untuk melindungi
sediaan agar tidak terkontaminasi oleh jamur (Rowe, 2009).
7)Menurut persyaratan SNI 01-0222-1995 batas maksimum penggunaan
natrium benzoate adalah 0,01%
g. Laktosa
1)Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling banyak digunakan (Cahyadi,
2008).
2)Laktosa mudah didapat dan harganya relatif murah (Effionora,2012)
3)Laktosa bersifat inert dan granulnya cepat kering (Effionora, 2012)
4)Laktosa memiliki kelarutan yag mudah larut dalam air (Dirjen POM, 1995).
5)Laktosa memiliki stabilitas baik bila dikombinasikan dengan zat aktif, baik
digunakan dalam bentuk hidrat maupun anhidrat (Effionora, 2012).
6)Perbadingan penggunaan laktosa dan maltodekstrin sebgai bahan pengisi
dilihat dari pemeriannya ,altodekstrin bersifat higroskopis sedangkan laktosa
stabil diudara (Dirjen POM, 1979).