Anda di halaman 1dari 3

Analisis Penelitian Action Research

Judul Penelitian

: Deteksi Dini Pada Penderita Kanker Payudara Stadium Lanjut Di Rsud


Labuang Baji Makassar)

Bahan dan Metode

: Penelitian ini dilakukan di RSUD Labuang Baji Makassar Provinsi


Sulawesi Selatan ,desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus.

Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan

metode purposive sampling. Metode Purposive Sampling adalah


sebuah tehnik pemilihan sampel penelitian secara non random melalui
pertimbangan peneliti. Adapun informan dalam penelitian ini adalah 11
(sebelas) orang penderita kanker payudara stadium lanjut dan 3 (tiga)
orang

Petugas

Kesehatan

di

RSUD

Labuang

Baji

Makassar.

Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam


(Indepth Interview). Wawancara mendalam yang merupakan tanya
jawab terbuka dan teliti terhadap hasil tanggapan mendalam tentang
pengalaman, persepsi, pendapat, perasaan dan pengetahuan informan
terhadap deteksi dini dan penyakit kanker payudara. selain itu dilakukan
pula mengumpulkan informasi dan dokumen dari rumah sakit di RSUD
Labuang Baji Makassar serta data data lainnya yang berhubungan
dengan penelitian. Teknik pengolahan dan penyajian data yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan model Milles dan
Huberman, melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan.
Analisis Tema
Setelah dilakukan indepth Interview didapatkan 4 buah tema dalam penelitian ini, yaitu:
1. Pengetahuan
Beberapa Informan menjelaskan ketidaktahuannya tentang deteksi dini kanker
payudara. Beberapa informasi terkait deteksi dini hanya sampai sebahagian,baik gejala
awalnya saja atau factor resikonya saja, sehingga penanganan awal yang tepat
terkesan sangat terlambat, informan lain bahkan tidak mengetahui tentang informasi
deteksi dini kanker payudara dengan alasan tidak ada akses informasi terkait masalah
ini, akibatnya kebanyakan datang ke RS sudah dalam Kondisi kanker stadium lanjut.
Berikut beberapa kutipan dari informan.

banyak saya dengar soal kanker payudara dari orang tapi saya tidak pernah
dengar soal ini, yang kutau kalau ada benjolan itu kanker bilang orang jadi takutka
takutka kurasa (LZ, 29 tahun, penderita kanker payudara stadium III).
tidak pernah dengar juga begitu, tidak pernahka juga lakukan karena ini
penyakitku tidak sakitji kurasa jugaitu mi kapang tidak saya pernah dengar
karena saya orang dari kampung, begitu meki kalau tinggal dikampung, kurang
informasiki kita ini... (ros, 54 tahun, pederita kanker payudara stadium III)
kalau begitu banyak pasien yang tidak tau tentang deteksi dini.. kita liatmi ada
yang sudah datang kalau sudah parah lebih pilih mereka obati sendiri dari pada
datang ke dokter datangnya kalau sudah parah.. (HW, 51 tahun, dokter)
2. Kepercayaan Individu (Manfaat, Kerentanan (Resiko), Hambatan Serta Keyakinan
Diri )
Beberapa informan menjelaskan kondisi yang rentan terhadap terjadinya kanker
payudara akibat pola hidup mereka dimasa lalu seperti factor makanan atau hormonal,
disisi lain ada informan yang telah menderita kanker payudara tapi belum meminta
pertolongan pada petugas kesehatan atau mendatangi RS untuk mendapatkan
pengobatan dengan alasan takut atas tindakan bedah yang biasanya dilakukan pada
kasus seperti ini, kondisi ini tentu mengabaikan manfaat yang bisa didapat dengan
tindakan pengobatan yang cepat.
Berikut ini kutipan dari beberapa informan
itu pi saya sakit kurasa kalau tidak pake BH ka,, dulu dulu tidak sakit saya
rasa,bilang dokter karena hormon jadi saya kanker begini, bilang orang karena
sering makan makanan instan. makanan yang saya takutkan kayak mie instan
dulu waktu kuliahji kita makan, namanya anak kos (AB, 33 tahun penderita
kanker payudara stadium III)
..tidak bisa hilang itu rasa kuatir saya dulu, disuruh ka cepat cepat periksa tapi
bagaimana di, takut betulka saya, saya beranikanji diriku ini sekarang periksa,
keluarga juga memaksa. takut ka ini payudaraku diangkat apalagi saya masih
muda, ada saya punya suami, anak anakku juga masih kecil ..tidak bisa hilang
itu rasa kuatir saya dulu, disuruh ka cepat cepat periksa tapi bagaimana di,
takut betulka saya, saya beranikanji diriku ini sekarang periksa, keluarga juga
memaksa. takut ka ini payudaraku diangkat apalagi saya masih muda, ada saya
punya suami, anak anakku juga masih kecil (FN, 35 tahun, penderita kanker
payudara stadium III.
mungkin bagus kalau kecil kita datang periksa tapi namanya ketakutan
de..apalagi perempuanki ini (SR, 37 tahun, penderita kanker payudara stadium
III).
Dulu kan kita tidak tau de, tapi dulu dulu itu saya sadari kalau yang pertama
saya rasa itu takut apalagi begitumi malu meki juga karena kita perempuan jadi

saya takut sama malu juga datang ke dokter (TI, 53 tahun, penderita kanker
payudara stadium III)
3. Isyarat Untuk Bertindak
Fase bertindak oleh seseorang banyak ditentukan oleh factor eksternal dalam bentuk
informasi tentang deteksi dini dan pengobatan kanker payudara dan dukungan moril.
Umumnya dukungan berasal dari keluarga terdekat yang peduli atas kondisi kesehatan
informan seperti, suami, anak, saudara dll.
Berikut penuturan informan.
kalau saya yang paling selalu kasih tauka itu suami, suami juga yang selalu
antarka.(MW, 40 tahun, kanker payudara stadium III)
Analisis Jurnal :
Jurnal ini merupakan jurnal penelitian Kualitatif untuk menjawab pertanyaan mengapa dan
bagaimana suatu fenomena itu terjadi, mempelajari perubahan fenomena tersebut dan
menghasilkan suatu temuan. Peneliti dalam hal ini juga mengamati perilaku informan terhadap
deteksi dini kanker payudara. Tema yang muncul dari hasil wawancara cukup relevan dengan
kutipan hasil wawancara dengan para informan dalam penelitian ini.