Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN

Analisis MDA merupakan analisis radikal bebas secara tidak langsung dan mudah dalam
menentukan jumlah radikal bebas yang terbentuk. Analisis radikal bebas secara langsung sangat
sulit dilakukan karena senyawa radikal sangat tidak stabil dan bersifat elektrofil dan reaksinya
pun berlangsung sangat cepat (Gutteridge, 1996). Pengukuran MDA dapat dilakukan dengan
pereaksi thiobarbituric acid (TBA) dengan mekanisme reaksi penambahan nukleofilik
membentuk senyawa MDA-TBA (Conti et. al., 1991). Senyawa ini berwarna merah jambu yang
dapat diukur intensitasnya dengan menggunakan spektrofotometer. Metode yang digunakan
yaitu TBARS (Thiobarbituric Acid Reactive Substance) dengan spektrofotometer. Prinsip
analisis ini yaitu pemanasan akan menghidrolisis peroksida lipid sehingga MDA yang terikat
akan dibebaskan dan akan bereaksi dengan TBA dalam suasana asam membentuk kompleks
MDA-TBA yang berwarna merah dan diukur pada panjang gelombang 532 nm.

Metode ini didasarkan pada reaksi antara

kompleks MDA dengan TBA dalam suasana asam yang membentuk kompleks MDA-TBA yang
berwarna merah jambu yang kemudian diukur intensitasnya dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang 532 nm. Senyawa 1,1,3,3-tetraetoksipropana (TEP) digunakan dalam
pembuatan kurva standar karena TEP dapat dioksidasi dalam suasana asam menjadi senyawa
aldehid yang dapat bereaksi dengan TBA (Conti et. al., 1991). Metode ini memiliki kekurangan:
banyak senyawa yang terdapat pada sampel biologis seperti karbohidrat, pirimidin, hemoglobin
dan bilirubin dapat bereaksi dengan TBA membentuk senyawa yang dapat menghasilkan warna
dan juga diabsorbsi pada 530 nm (Wade dan Van Ru, 1989 dalam Conti et. al. 1991). Beberapa
senyawa tersebut larut dalam asam dan akhirnya tereliminasi oleh pencucian selama proses
presipitasi tetapi beberapa tidak, sehingga menyebabkan interferensi. Kemudian, selama
dekomposisi termal lipoperoksida plasma menjadi MDA, asam lemak yang tidak terperoksidasi
akan terperoksidasi. Inilah yang menjelaskan mengapa hasil penetapan MDA plasma tidak
pernah maksimum bahkan setelah perlakuan pemanasan selama beberapa jam (Hackett et. al.,
1988 dalam Conti et. al., 1991). Terakhir, dekatnya panjang gelombang eksitasi dan emisi (536
dan 549 nm) menghasilkan interferensi pada pengukuran florometri akibat difusi Rayleigh
(Caraway, 1986 dalam Conti et. al., 1991). Untuk mencegahnya, bisa mengeksitasi senyawa
florosens pada 515 nm tetapi akan menurunkan sensitifitas dan spesifitasnya. Kurva standar
dibuat setelah peng-ukuran absorbansi sampel untuk mengetahui range absorbansi sampel
sehingga dapat ditentukan seri konsentrasi yang digunakan, yang nilai absorbansinya dapat
mencakup nilai absorbansi sampel. Kurva standar yang diperoleh adalah y=5,49x 0,003 dengan
R2=0,999.
Referensi

Conti, M et. al.1991. Improved Fluorometric Determination of Malonaldehyde. Clin. Chem.


37/7, 1273-1275 pp
Caraway, WT. 1986. Analytical Procedures and Instrumentation, section one. In: Tietz NW, ad.
Textbook of Clinical Chemistry. Philadelphia: Saunders Co.,:55 :p 7
Gutteridge JMC, Halliwell B. 1996. Antioxidant in Nutritions Health and Disease. Oxford
University Press. New York
Hackett, C et. al. 1988. Plasma Malon- dialdehyde: A Poor Measure of in vivo Lipid
Peroxidation [Letter]. Clin. Chem.;34:p 208
Wade, CR. dan Van Ru, AM. 1989. Plasma Malondialdehyde, Lipid Peroxides and The
Thiobarbituric Acid Reaction [Letter]. Clin. Chem.;35:p 336