Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIDIARE

Disusun Oleh :
DiestyaniSupratman
RaidaWidyani
Merlin Christiyan
TeniMaryami

Kelas/Kelompok : B/8

FAKULTAS MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS GARUT
2016

PERCOBAAN VI
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIDIARE

A. Tujuan Percobaan
1. Mempunyai keterampilan dalam melakukan percobaan antidiare.
2. Memahami pengaruh laksan terhadap saluran pencernaan dan
mengetahui sejauh mana obat antidiare dapat menghambat diare yang
ditimbulkan oleh laksan.
B. Dasar Teori
Diare adalah suatu gejala dimana frekuensi pengeluaran feses meningkat
melebihi frekuensi mormal dan konsistensi feses menjadi cair. Pada keadaan
diare, terjadi ketidakseimbangan antara absorpsi dan sekresi air dan elektrolit
dalam usus, dimana absorpsi berkurang atau sekresi bertambah diluar normal.
Diare dapat bersifat akut atau kronis. Diare akut dapat disebabkan oleh infeksi
bakteri, seperti E. colli, Shigella, Salmonella, V. cholera, virus dan amuba. Selain
itu, dapat pula disebabkan oleh toksin bakteri, seperti toksin bakteri
Staphylococcus aureus dan Clostridium welchii, yang mencemari makanan.Diare
kronis mungkin berkaitan dengan berbagai gangguan gastrointestinal, ada pula
diare yang berlatar belakang kelainan psikhomatik, alergi oleh makanan atau obatobat tertentu, kelainan pada system endokrin dan metabolisme, kekurangan
vitamin dan sebagai akibat radiasi.
Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya
defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai
dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara
klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan
diare persisten.
Sedangkan menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan
tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek
sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali
atau lebih dalam sehari.
Diare
jarang
membahayakan,
namun
dapat
menimbulkan
ketidaknyamanan dan nyeri kejang pada bagian perut. Meskipun tidak
membutuhkan perawatan khusus, penyakit diare perlu mendapatkan perhatian
serius, karena dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Dehidrasi
dapat ditengarai dengan gejala fisik seperti bibir terasa kering, kulit menjadi
keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung, serta menyebabkan syok. Untuk
mencegah dehidrasi dengan meminum larutan oralit. Karena itu, penderita diare
harus banyak minum air dan diberi obat anti diare (Hannifatunisa, 2013).

Anti diare adalah obat yg digunakan untuk mengobati penyakit yang


disebabkan oleh bakteri, kuman, virus, cacing, atau keracunan makanan. Gejala
diare adalah BAB berulang kali disertai banyaknya cairanyg keluar kadangkadang dengan mulas dan berlendir atau berdarah. Diare terjadi karena adanya
rangsangan terhadap saraf otonom di dinding usus sehingga menimbulkan reflek
mempercepat peristaltik usus.Penggunaan obat antidiare biasanya dimaksudkan
untuk menghentikan diare, tidak untuk menghilangkan penyebabnya. Antidiare
yang biasa digunakan adalah obat yang bersifat obsorben, misalnya kaolin dan
karbon aktif atau yang dapat menekan peristaltik usus, seperti loperamid dan
morfin serta turunan-turunannya. Penggunaan morfin dan turunan-turunannya
jarang sekali dilakukan karena obat-obat ini bersifat adiktif dan dapat
menimbulkan ketergantungan.
Penggolongan obat diare :

Kemoterapeutika
Walaupun pada umumnya obat tidak digunakan pada diare, ada
beberapa pengecualian dimana obat antimikroba diperlukan pada diare
yang disebabkan oleh infeksi beberapa bakteri dan protozoa. Pemberian
antimikroba dapat mengurangi parah dan lamanya diare dan mungkin
mempercepat pengeluaran toksin. Kemoterapi digunakan untuk terapi
kausal, yaitu memberantas bakteri penyebab diare dengan antibiotika
(tetrasiklin, kloramfenikol, dan amoksisilin, sulfonamida, furazolidin, dan
kuinolon) (Schanack 1980).
Zat penekan peristaltik usus
Obat golongan ini bekerja memperlambat motilitas saluran cerna
dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Contoh: Candu
dan alkaloidnya, derivat petidin (definoksilat dan loperamid), dan
antikolinergik (atropin dan ekstrak beladona)
Adsorbensia
Adsorben memiliki daya serap yang cukup baik. Khasiat obat ini
adalah mengikat atau menyerap toksin bakteri dan hasil-hasil metabolisme
serta melapisi permukaan mukosa usus sehingga toksin dan
mikroorganisme tidak dapat merusak serta menembus mukosa usus. Obatobat yang termasuk kedalam golongan ini adalah karbon, musilage, kaolin,
pektin, garam-garam bismut, dan garam-garam alumunium ) (Departemen
Farmakologi dan Terapi UI 2007).

C. Metode Percobaan
Bahan : NaCl Fisiologis
Oleum Ricini/Parafin cair
Loperamid HCL
Kertas Saring
Hewan : Mencit putih jantan/betina dengan bobot antara 25-30 mg.
Alat : Toples untuk pengamatan, kertas saring (telah ditimbang), alat suntik,
sonde oral mencit, timbangan mencit, timbangan elektrik, stopwatch atau jam.
Prosedur Kerja
No
1.
2.
3.

4.
5.

6.

7.

Prosedur
Dua jam sebelum percobaan dimulai, mencit dipuasakan dahulu.
Mencit dibagi menjadi empat kelompok dan masing-masing
kelompok terdiri atas 3 4 ekor mencit.
- Kelomook 1 mencit diberi NaCl fisiologis sacara oral dan 30 menit
kemudian diberi air secara oral.
- Kelompok 2 mencit diberi NaCl fisiologis secara oral dan 30 menit
kemudian diberi oleum ricini / paraffin cair secara oral.
- Kelompok 3 dan 4 mencit diberi loperamid dosis I dan II secara oral
dan 30 menit kemudian diberi oleum ricini / paraffin cair secara oral.
Tiap mencit dimasukkan kedalam toples yang diberi alas kertas saring
yang telah ditimbang beratnya.
Waktu timbulnya diare, frekuensi defekasi, jumlah / berat feses,
konsistensi feses dan lamanya diare dicatat setiap selang waktu 30
menit selama 2 jam.
Konsistensi feses dapat dinyatakan dalam bentuk skor sebagai
berikut :
Symbol
Konsistensi
Skor
N
Normal
0
LN
Lembek Normal
1
L
Lembek
2
LC
Lembek Cair
3
C
Cair
4
Data pengamatan disajikan dalam bentuk table dan dianalisis.

D. Hasil Pengamatan

Perhitungan dosis :
Loperamid 4 mg/70 kg BB
Oleum ricini 120 mL/70 kg BB
Paraffin cair 90 mL/70 kg BB

Dosis absolut mencit (bobot 20 g)


4 mg x 0,0026 = 0,0104 mg/20 g BB
Konsentrasi
Dosis 0,0104
=
=0,052 mg /ml
Volume
0,2

Volume pemberian
Bobot mencit :
a. Mencit 1 = 32 gram
b. Mencit 2 = 25 gram
Volume untuk mencit 0,2 mL
bobot mencit
x 0,2 ml
20 g

32
Tragakan 1% = 20 x 0,2=0,32 ml

Oleum ricini
Dosis : 120 mL/70 kg BB
120 x 0,0026 = 0,312 mL
32
x 0,312=0,4992 mL
= 20

Paraffin cair
Dosis : 90 mL/70 kg BB
90 x 0,0026 = 0,234 mL
25
x 0,234=0,292 Ml
= 20

E. Pembahasan dan Diskusi


Diare adalah suatu gejala dimana frekuensi pengeluaran feses meningkat
melebihi frekuensi mormal dan konsistensi feses menjadi cair. Pada keadaan
diare, terjadi ketidakseimbangan antara absorpsi dan sekresi air dan elektrolit
dalam usus, dimana absorpsi berkurang atau sekresi bertambah diluar normal.
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian aktivitas antidiare loperamid
terhadap diare yang diinduksi oleh oleum ricini dan parafin. Pengujian ini
dilakukan dengan membagi mencit ke dalam 5 kelompok, diantaranya:
1. Air dan tragakan 1% (Kontrol negatif)
2. Parafin dan tragakan 1% (Kontrol + parafin)
3. Parafin dan loperamid (Uji + parafin)

4. Oleum ricini dan tragakan 1% (Kontrol + Ol. Ricini)


5. Oleum ricini dan loperamid (Uji + oleum ricini)
Hasilnya dilihat dari tabel % rata-rata mulai diare, kontrol positif oleum ricini
dapat menginduksi diare dibandingkan dengan kontrol positif parafin, karena
dilihat dari mekanisme kerja dari oleum ricini menginduksi dengan cara
menstimulasi gerak peristaltik usus besar sehingga mempercepat pengeluaran isi
usus serta mengubah konsistensi feses menjadi lembek. Sedangkan mekanisme
kerja parafin hanya sebagai laksansia tetapi tidak mengubah konsistensi feses.
Pada tabel % rata-rata lama diare, kelompok uji + oleum ricini memiliki aktivitas
antidiare karena dapat menurunkan frekuensi diare yang diinduksi oleh oleum
ricini, karena obat uji yang digunakan yaitu loperamid HCl memiliki mekanisme
kerja menghambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan
longitudinal usus. Loperamid juga memperpanjang waktu transit isi saluran cerna,
menurunkan volume feses, meningkatkan viskositas, kepadatan feses dan
menghentikan kehilangan cairan dan elektrolit.

Kesimpulan
Pada praktikum yang telah dilakukan yaitu pengujian aktivitas antidiare dapat
disimpulkan bahwa :
Diare adalah suatu gejala dimana frekuensi pengeluaran feses meningkat
melebihi frekuensi mormal dan konsistensi feses menjadi cair.
oleum ricini dapat menginduksi diare dibandingkan dengan kontrol positif
parafin, karena dilihat dari mekanisme kerja dari oleum ricini menginduksi
dengan cara menstimulasi gerak peristaltik usus besar sehingga
mempercepat pengeluaran isi usus serta mengubah konsistensi feses
menjadi lembek. Sedangkan mekanisme kerja parafin hanya sebagai
laksansia tetapi tidak mengubah konsistensi feses
Loperamid dapat bekerja sebagai obat antidiare dengan mekanisme
kerjanya dapat menghambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi
otot sirkuler dan longitudinal usus. Loperamid juga memperpanjang waktu
transit isi saluran cerna, menurunkan volume feses, meningkatkan
viskositas, kepadatan feses dan menghentikan kehilangan cairan dan
elektrolit.

DaftarPustaka

Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007. Farmakologi dan Terapi ed 5.


Jakarta : Penerbit UI Press.
Harkness, Richard. 1984. Interkasi Obat. Bandung : Penerbit ITB.
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga jilid Pertama.
Jakarta : Universitas Indonesia.
Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi Edisi
kelima. Jakarta : ITB
Yulia A. 2011. Aktivitas Obat Antehelmintik. Bandung : Universitas Islam
Bandung Press.

Anda mungkin juga menyukai