Anda di halaman 1dari 29

FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERUS

PADA ANAK

NYCODEMUS SESA
0110840032

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS CENDERAWASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN
2013
1

DAFTAR ISI
COVER

...................................................................................................

DAFTAR ISI

...................................................................................................

ii

LAMPIRAN

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG ........................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1

ANATOMI

......................................................................................

2.2

HISTOLOGI

......................................................................................

2.3

FISIOLOGI

......................................................................................

2.4

BIOKIMIA

......................................................................................

BAB III ANALISIS KASUS


3.1

FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERUS

..................................

3.1.1

DEFINISI

......................................................................................

3.1.2

EPIDEMIOLOGI

3.1.3

ETIOLOGI

..........................................................................

......................................................................................

3.1.4

KLASIFIKASI ......................................................................................

3.1.5

PATOFISIOLOGI

10

3.1.6

GEJALA DAN TANDA KLINIS

3.1.7

PEMERIKSAAN FISIK

3.1.8

PEMERIKSAAN PENUNJANG

3.1.9

DIAGNOSIS

..........................................................................
...............................................

10

............................................................

11

..............................................

11

......................................................................................

11

3.1.10 PENATALAKSANAAN

...........................................................

12

3.1.11 FOLLOW UP ......................................................................................

13

3.1.12 PROGNOSIS ......................................................................................

13

3.1.13 KOMPLIKASI ......................................................................................

13

3.1.14 PENGENDALIAN

..........................................................................

15

BAB IV KESIMPULAN

...

16

18

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

GAMBAR 1

19

GAMBAR 2

19

GAMBAR 3

20

GAMBAR 4

20

GAMBAR 5

21

GAMBAR 6

21

GAMBAR 7

22

GAMBAR 8

22

GAMBAR 9

23

GAMBAR 10

23

GAMBAR 11

24

GAMBAR 12

24

GAMBAR 13

25

GAMBAR 14

25

GAMBAR 15

26

GAMBAR 16

26

GAMBAR 17

27

GAMBAR 18

27

GAMBAR 19

27

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG (1,2,3,4,5,6,7)
Fraktur merupakan hilangnya kontuinitas tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis, yang bersifat total maupun parsial, karena disebabkan oleh trauma
yang tiba-tiba baik langsung maupun tidak langsung sehingga dapat merusak
jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari tulang, otot, struktur neurovaskuler, fascia
dan kulit. Fraktur tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi dapat juga terjadi
pada anak-anak.(1)
Fraktur pada anak diperkirakan menyebabkan 10-15% dari semua cidera masa
anak. Sistem skeleton anak mempunyai perbedaan anatomi, biomekanik, dan
fisiologi dari sistem skeleton orang dewasa. Hal ini menyebabkan pola fraktur yang
berbeda, termasuk fraktur epifisis, serta masalah-masalah diagnosa dan teknik
penatalaksanaan.(2,3)
Fraktur yang terjadi pada anak dapat bervariasi, tetapi untuk memfokuskan
ruang lingkup maka hanya dibahas fraktur sekitar sendi siku secara khusus adalah
fraktur suprakondiler humeri yang merupakan fraktur yang sering ditemukan pada
anak-anak.(1)
Fraktur suprakondiler humeri adalah fraktur yang terjadi pada bagian sepertiga
distal tulang humerus setinggi kondilus humeri tepat proksimal troklea dan
capitulum humeri, yang melewati fossa olekrani.(4)
Fraktur ini sering terjadi pada anak-anak, yaitu sekitar 65 % dari seluruh kasus
patah tulang lengan atas. Mayoritas fraktur suprakondiler pada anak-anak terjadi
pada usia 3-10 tahun, dengan puncak kejadiannya pada usia 5 dan 7 tahun. Dan
biasanya paling sering ditemukan pada anak laki-laki daripada anak perempuan
dengan perbandingan 2 : 1.(4)
Perkembangan pusat osifikasi sekitar sendi siku ialah bagian terlemah, pada
umur 2-12 tahun dan titik-titik pegangan pada tulang sendi siku, dimana fleksi 900
dan ekstensi 1800. Kedua hal inilah yang digunakan untuk mengetahui dengan jelas
fraktur dislokasi sekitar sendi siku serta titik pegangan atau tumpuan, apabila terjadi
suatu trauma.(1)
Saat ini, penyakit maupun trauma yang terjadi pada tulang, telah menjadi
masalah yang banyak dijumpai pada pusat-pusat pelayanan kesehatan diseluruh
dunia.
4

Tahun 1993 Boyd dan Altenberg mendapatkan sebanyak 65,4% dari 713 kasus
fraktur suprakondiler humerus.(5)
Pada tahun 2001 Penelitian yang dilakukan oleh Houshian S, Mehdi B, Larsen
MS of Esbjerg County Hospital mendapatkan bahwa insidennya 308/100 000 per
tahun dengan 58% anak mengalami fraktur suprakondiler humerus.(6)
Di Indonesia, dikatakan bahwa lebih dari 30.000 kematian maupun fraktur
disebabkan oleh kecelakaan, trauma dan proses patologis serta stress pada tulang.(7)
Di Makassar Chairuddin Rasjad mengatakan bahwa fraktur pada anak 99%
disebabkan oleh fraktur suprakondiler humeri tipe ekstensi sedang 1-2% oleh tipe
fleksi.(1)
Di Papua khususnya Jayapura, kasus fraktur banyak ditemukan baik yang
disebabkan oleh kecelakaan, trauma, maupun proses penyakit dan dapat terjadi pada
orang dewasa maupun pada anak-anak, yang apabila tidak ditangani dengan baik
dapat mengakibatkan kerusakan pada daerah yang terkena fraktur maupun daerah
disekitar fraktur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

ANATOMI TULANG (1,8,9,10)


Ada perbedaan yang mendasar antara tulang pada anak dan tulang pada orang
dewasa. Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis
sebagai daerah pertumbuhan kongenital. Lempeng epifisis ini akan menghilang pada

dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini akan menyatu pada saat itulah
pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti.
Yang termasuk tulang panjang adalah femur, tibia, ulna dan humerus. Tulang
panjang terdiri dari epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan bagian paling
atas dari tulang panjang dan metafisis merupakan bagian yang paling lebar dari
ujung tulang panjang, yang berdekatan dengan diskus epifisialis, sedangkan diafisis
merupakan bagian tulang panjang yang dibentuk dari pusat osifikasi primer.
Kaput humerus berbentuk sepertiga sferis. Kaput yang bulat berartikulasi
dengan glenoid yang dangkal. Susunan demikian memungkinkan pergerakan bahu
yang luas. Kolum anatomikum memisahkan kaput dari tuberkulum majus dan minus.
Kolum chirurgikum terletak dibawah kolum anatomikum antara ujung atas dan
korpus humeri. Nervus aksilaris dan pembuluh sirkumfleksa membelok disekitar
kolum chirurgikum humerus. Tuberkulum majus dan minus merupakan tempat
perlekatan mm. rotatores. Keduanya dipisahkan oleh sulkus intertuberkularis tempat
berjalannya tendon kaput longum biseps. Tampak sulkus nervi radialis yang halus di
aspek posterior korpus humeri yang berjalan miring kearah bawah lateral. Kaput
lateral dan medial triseps memiliki origo di kedua sisi sulkus. N. radialis lewat
diantara keduanya. N. ulnaris membelok kedepan pada sulkus dibelakang
epikondilus medialis. Pada artikulasio kubiti: troklea memiliki artikulasi pada
insisura troklearis ulna; dan kapitulum yang bulat dengan kaput radialis. Batas
medial troklea menonjol ke inferior agak jauh daripada margo lateralis. Hal ini
terjadi karena ada carying angel, yaitu sudut yang dibentuk oleh sumbu lengan atas
dan bawah secara lateral ketika siku diekstensikan.

Ujung distal humerus berbentuk pipih antero-posterio, bersama-sama dengan


ujung proksimal radius dan ulna membentuk persendian jenis ginglimus
arthroradialis atau hinge joint. Ujung distal humerus terdiri dari dua kondilus tebal
(lateralis dan medialis) yang tersusun oleh tulang konselous. Pada anak, ujung distal
humerus terdiri dari kartilago. Batas massa kartilago dengan batas tulang merupakan
tempat yang lemah, dimana sering terjadi pemisahan epifise. Karena itu penting
untuk mengetahui kapan timbulnya penulangan, konfigurasi dan penyatuan dengan
batang humerus.
6

Kondilus lateralis ditumpangi oleh kapitulum yang merupakan tonjolan yang


berbentuk kubah yang nantinya akan bersendi dengan cekungan kaput radii.
Di kranial kapitulum pada pada permukaan anterior humerus, terdapat cekungan
(fossa) yang akan menampung ujung kaput radii, pada keadaan flexi penuh sendi
siku.
Seluruh permukaan troklea dilapisi kartilago sampai fossa olekranon. Sedikit
di kranial troklea humerus menipis untuk membentuk fossa koronoidea, di anterior
dan fossa olekranon di posterior. Fossa tersebut akan menampung prosessus
koronoideus ulna pada gerakan fleksi dan ujung prossesus olekranon pada gerakan
ekstensi. Hiperostosis pada fossa tersebut atau disekitar tonjolan / prominensia ulna
akan membatasi gerak sendi siku di kranial kedua kondilus yaitu di bagian lateral
dan medial humerus terdapat epikondilus tempat melekatnya tendo-tendo otot.
Satu-satunya tendo yang merupakan tempat asal kelompok fleksor pronator berasal
terutama dari epikondilus medialis dan dari medial suprakondiler ridge yang
terdapat

sedikit

di

kranial

epikondilus.

Demikian

juga

kelompok

otot

ekstensor supinator berasal dari epikondilus lateralis dan lateral suprakondiler


ridge.
2.2

HISTOLOGI TULANG (1,8,9)


Tulang terdiri dari bagian yang kompak, pada bagian luar yang disebut korteks
dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan secara
keseluruhan tulang diliputi oleh lapisan fibros yang disebut periosteum, yang
mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses
pertumbuhan tranversal tulang panjang serta arteria nutrisi. Periosteum dan keutuhan
dari pembuluh darah inilah yang menetukan berhasil atau tidaknya proses
penyembuhan suatu tulang yang patah.
Pada anak, terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan
pertumbuhan. Periosteum sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding
akan menghasilkan kalus yang lebih cepat dan lebih besar daripada orang dewasa.
Berdasarkan histologinya, maka dikenal :
1. Tulang Imatur (non-Iamelar bone, woven bone, fiber bone)

Pertama-tama terbentuk dari osifikasi endikondral pada perkembangan


embrional yang kemudian secara perlahan-lahan menjadi tulang yang matur dan
pada umur satu tahun tulang imatur tidak terlihat lagi. Tulang imatur ini
mengandung jaringan kolagen dengan substansia semen dan mineral yang lebih
sedikit dibanding dengan tulang yang matur.
2. Tulang Matur (matur bone, lamellar bone)
Tulang yang matur terdiri dari tulang kortikal (cortical bone, dense bone,
kompakta bone) dan tulang trabekuler (cancellous bone, trabekuler bone,
spongiosa).
Secara histologik perbedaan imatur dan matur terutama terletak pada
jumlah sel, jaringan kolagen dan mukopolisakarida. Tulang matur ditandai
dengan sistem harvesian atau osteon yang memberikan kemudahan sirkulasi
darah melalui korteks yang tebal. Tulang matur kurang mengandung sel dan
lebih banyak substansia semen dan mineral dibanding dengan tulang imatur.
Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensial mesenkim yang
sangatt penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel, osteoblas
dapat memproduksi substansia organik intraseluler atau matriks, dimana
klasifikasi terjadi dikemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium
disebut osteid dan apabila klasifikasi terjadi pada jaringan matriks maka jaringan
disebut tulang. Sesaat setelah osteoblas dikelilingi oleh substansia organik
intraseluler, disebut osteosid dimana keadaan ini terjadi didalam lakuna.
Sel yang bersifat multinukleus, tidak ditutupi oleh permukaan tulang
dengan sifat dan fungsi resorpsi serta mengeluarkan tulang yang disebut
osteoklas. Kalsium hanya dikeluarkan dari tulang melalui proses aktivitas
osteoklasis yang menghilangkan matriks organik dan kalsium secara bersamaan,
yang disebut dengan deosifikasi.

2.3

FISIOLOGI TULANG (1,8,9)


Metabolisme kalsium dan fosfor sangat berkaitan erat.tulang mengandung
99% dari seluruh kalsium tubuh dan 90% dari seluruh fosfor tubuh. Kalsium
mempunyai beberapa fugsi penting dalam tubuh, yaiyu berperan dalam mekanisme
pembekuan darah, sebagai transmisi impuls neuromuskuler, iritabilitas dan
eksitabilitas otot, keseimbangan asam basa, permeabilitas membran sel, sebagai
pelekat diantara sel-sel, memberikan rifiditas dan kekuatan mekanik tulang. Kalsium

dan fosfor secara teratur diekskresikan oleh tubuh dan kadarnya dalam darah diatur
oleh diet, jumlah depositnya dalam tulang atau oleh keduanya.
Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodelling yang
lebih besar dibandingkan padaa orang dewasa, sehingga tulang pada anak-anak
mempunyai perbedaan fisiologis, yaitu :
1. Pertumbuhan berlebihan (over growth)
Pertumbuhan diafisis tulang panjang akan memberikan stimulasi pada
pertumbuhan panjang, karena tulang rawan lempeng epifisis mengalami
hiperemi pad awaktu penyambungan.
2. Deformitas yang progresif
Kerusakan permanen pada lempeng epifisis akan terjadi pemendekan atau
angulasi.
3. Fraktur total
Pada anak-anak fraktur total jarang bersifat komunitif karena tulangnya
sangat fleksibel dibandingkan oranfg dewasa.
Tulang pada anak-anak sangat porous, korteks berlunag-lubang dan sangat
mudah dipotong oleh karena Kanalis Harvesian menduduki sebgian besar tulang.
Faktor ini menyebabkan tulang anak-anak dapat menerima toleransi yang besar
terhadap deformasi tulang dibandingkan tulang dewasa. Tulang orang dewasa
sangat kompak dan mudah mengalami tegangan dan tekanan sehingga tidak
dapat menahan kompresi.
Lempeng pertumbuhan merupakan tualng rawan yang melekat pada
metafisis yang bagian luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian dalamnya
oleh procesus mamilaris.
Untuk memisahkan metafisis dan epifisis diperlukan kekuatan yang besar.
Tulang rawan lempeng epifisi mempunyai konsistensi seperti karet yang besar
dan juga periosteum pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah
mengalami robekan dibandingkan orang dewasa.
2.3

BIOKIMIA TULANG (1)


Struktur tulang berubah sangat lambat terutama setelah periode pertumbuhan
tulang berakhir. Setelah fase ini perubahan tulang lebih banyak terjadi dalam bentuk
perubahan mikroskopis akibat fisiologis tulang sebagai suatu organ biokimia utama
tulang. Komposisi tulang terdiri atas :
Substansia organik : 35%
9

Substansia inorganik : 45%


Air

: 20%

Substansia organik terdiri atas sel-sel tulang serta substansi organik intraseluler atau
matriks kolagen dan merupakan bagian terbesar dari matriks (90%) sedangkan
sisanya adalah asam hialuronat dan kondroitin asam sulfur. Substansi inorganik
terutama terdiri atas kalsium dan fosfor dan sisanya oleh magnesium, sodium,
hidroksil, karbonat dan fluorida. Enzim tulang adalah alkali fosfatase yang
diproduksi oleh osteoblas yang kemungkina besar mempunyai peranan yang penting
dalam produksi organik matriks sebelum terjadi kalsifikasi.

BAB III
ANALISIS KASUS
3.1

FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERUS (1,4,7,8,9)


3.1.1 DEFINISI (1,4,8)
Fraktur suprakondiler humerus adalah fraktur pada ujung distal dari tulang
humerus tepatnya diatas epifisial plate atau lempeng pertumbuhan. Fraktur pada
daerah siku ini banyak dijumpai pada anak-anak dengan usia 2-12 tahun dan
tepatnya pada anak laki-laki. Hal ini disebabkan karena biasanya tangan diulurkan
adanya hiperekstensi dari siku dan diteruskan ke posterior dari fossa olekranon
sehingga dapat mengakibatkan terjadinya fraktur dan juga adanya beberapa faktor
seperti tulang anak yang masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, pola
aktivitas atau bermainnya anak, kurangnya keterlibatan orangtua dalam aktivitasnya
anak.

10

Dikenal dua tipe fraktur suprakondiler humerus berdasarkan pergeseran


fragmen distal, yaitu :
1. Tipe Ekstensi
Sering terjadi 99% kasus. Pada fraktur ini fragmen distal bergeser kearah
posterior. Bila

melibatkan

sendi,

fraktur

suprakondiler

tipe

ekstensi

diklasifikasikan sebagai fraktur transkondiler atau interkondiler. Fraktur terjadi


akibat hyperxtension injury (outstreched hand) gaya diteruskan melalui elbow
joint, sehingga terjadi fraktur proksimal terhadap elbow joint. Fragmen ujung
proksimal terdorong melalui periosteum sisi anterior dimana m. brachialis
terdapat, ke arah a. brachialis dan n. medianus. Fragmen ini mungkin menembus
kulit sehingga terjadi fraktur terbuka.
2. Tipe Fleksi
Pada tipe fleksi jarang terjadi yaitu 1-2%. Fragmen distal bergeser ke arah
anterior. Trauma terjadi akibat trauma langsung pada aspek posterior elbow
dengan posisi fleksi. Hal ini menyebabkan fragmen proksimal menembus
tendon triceps dan kulit.
3.1.2

EPIDEMIOLOGI (4)
Fraktur ini sering terjadi pada anak-anak, yaitu sekitar 65 % dari seluruh

kasus patah tulang lengan atas. Mayoritas fraktur suprakondiler pada anak-anak
terjadi pada usia 3-10 tahun, dengan puncak kejadiannya pada usia 5 dan 7 tahun.
Dan biasanya paling sering ditemukan pada anak laki-laki daripada anak perempuan
dengan perbandingan 2 : 1.
3.1.3

ETIOLOGI (4)

1. Adanya riwayat trauma atau cedera


2. Kecelakaan kendaraan bermotor
3. Jatuh dari ketinggian
4. Luka tembak
5. Sidewipe injuries
3.1.4

KLASIFIKASI (1,4,8)
Klasifikasi fraktur suprakondiler humerus dibuat atas dasar derajat

displacement :
Tipe I

11

Terdapat fraktur tanpa adanya pergeseran dan hanya berupa retak yang
berupa garis.

Tipe II
Tidak ada pergeseran fragmen, hanya terjadi perubahan sudut antara

humerus dan kondilus lateralis ( normal 40 derajat ).


Tipe III
Terdapat pergeseran fragmen tetapi korteks posterior masih utuh serta
masih ada kontak antara kedua fragmen.

Tipe IV
Pergeseran kedua fragmen dan tidak ada kontak sama sekali.

3.1.5

PATOFISIOLOGI (4,8)
Daerah suprakondiler humerus merupakan daerah yang relatif lemah pada

ekstremitas atas. Di daerah ini terdapat titik lemah, dimana tulang humerus menjadi
pipih disebabkan adanya fossa olekranon di bagian posterior dan fossa koronoid di
bagian anterior. Maka mudah dimengerti daerah ini merupakan titik lemah bila ada
trauma di daerah siku. Terlebih pada anak-anak sering dijumpai fraktur di daerah ini.
Akibatnya baik pada cedera hiperekstensi maupun fleksi lengan bawah, tenaga
trauma ini akan diteruskan lewat sendi siku.
Fraktur terjadi akibat bertumbu pada tangan terbuka dengan siku agak fleksi
dan lengan bawah dalam keadaan pronasi. Sebagian besar garis fraktur berbentuk
oblique dari anterior ke kranial dan ke posterior dengan pergeseran fragmen distal ke
arah posterior kranial.
Fraktur suprakondiler humerus jenis ekstensi selalu disertai dengan rotasi
fragmen distal ke medial dan hinging kortek lateral. Pergeserannya yaitu, angulasi
ke anterior dan medial dengan pemisahan fragmen fraktur sehingga tidak adanya
kontak antara fragmen, tetapi kadang-kadang pergeserannya cukup besar yang
mengakibatkan ujung fragmen distal yang tajam bisa menusuk dan merusak
m.brachialis, n.radialis, n medianus. Sedangkan Fraktur suprakondiler humeri tipe
fleksi jarang jatuh mengenai siku dalam keadaan fleksi. Garis fraktur mulai cranial
mengarah ke posterior kaudal dan fragmen distal mengalami pergeseran ke arah
anterior.
Bila terjadi oklusi a. brachialis dapat menimbulkan komplikasi serius yang
disebut dengan Volkmanns Ischemia. a. brachialis terperangkap dan kingking pada

12

daerah fraktur. Selanjutnya a. brachialis sering mengalami kontusio dengan atau


tanpa robekan intima.
3.1.6

3.1.7

GEJALA DAN TANDA KLINIS (1,4,8)


a. Terasa nyeri pada daerah yang terkena trauma
b. Adanya pembengkakan pada sendi siku
c. Adanya deformitas pada daerah fraktur
d. Berkurangnya denyut nadi arteri radialis
e. Mengalami paralisis
f. Terlihat pucat
PEMERIKSAAN FISIK (1,4,8)
1. Tipe Ekstensi
Sendi siku dalam posisi ekstensi daerah siku tampak bengkak
Teraba tonjolan fragmen di bawah subkutis.
2. Tipe Fleksi
Posisi siku fleksi (semifleksi), dengan siku yang bengkak dengan
sudut jinjing yang berubah.
3. Sangat penting diperiksa gangguan sirkulasi perifer dan lesi pada saraf
tepi yang memerlukan tindakan reduksi fraktur segera, yaitu : warna
kulit, palpasi pulsasi, temperatur dan waktu dari capilarry refill.
4. Jika terdapat lesi pada n. medianus (28-60%) akan mengakibatkan
ketidakmampuan mengoposisikan ibu jari dengan jari lain.
5. Jika terdapat lesi pada cabang n.medianus yaitu n. interosseus
anterior akan mengakibatkan ketidakmampuan jari I dan II untuk
melakukan fleksi (pointing sign).
6. Jika terdapat lesi pada n. radialis (26-61%) akan mengakibatkan
ketidakmampuan melakukan ekstensi ibu jari dan ekstensi jari lainnya
pada sendi metakarpofalangeal.
7. Jika terdapat lesi pada n. ulnaris (11-15%) akan mengakibatkan
ketidakmampuan abduksi dan aduksi jari jari.

3.1.8

PEMERIKSAAN PENUNJANG (1,4,8)


Pemeriksaan penunjang dengan radiologi proyeksi AP/LAT, jelas dapat
dilihat tipe ekstensi atau fleksi

3.1.9

DIAGNOSIS (1,4,8)
Diagnosa

ditegakan

dari

pemeriksaan penunjang.

13

anamnesis,

pemeriksaan

fisik

dan

3.1.10 PENATALAKSANAAN (1,4,7,8,9)


1. Penanganan Secara Konservatif
Penanggulangan konservatif

fraktur

suprakondiler

humerus

diindikasikan pada anak undisplaced / minimally dispaced fractures atau


pada fraktur sangat kominutif pada pasien dengan lebih tua dengan
kapasitas fungsi yang terbatas. Pada prinsipnya adalah reposisi dan
immobilisasi. Pada undisplaced fracture hanya dilakukan immobilisasi
dengan elbow fleksi selama tiga minggu.
Kalau pembengkakan tidak hebat dapat dicoba dilakukan reposisi
dalam narkose umum. Penderita tidur terlentang, dalam posisi ekstensi,
operator menekuk bagian distal, menarik lengan bawah dengan siku pada
posisi ekstensi, sedang asisten menahan bagian proksimal, memegang
lengan atas pada ketiak pasien.
Setelah tereposisi, perlahan-lahan sambil tetap menarik lengan
bawah siku difleksikan sambil diraba a. radialis. Gerakan fleksi
diteruskan sampai a. radialis mulai tidak teraba, kemudian diekstensi
siku sedikit untuk memastikan a. radialis teraba lagi Fleksi maksimal
akan menyebabkan tegangnya otot triseps, dan ini akan mempertahankan
reposisi lengan baik.
Dalam posisi ini dilakukan immobilisasi dengan gips spalk
(posterior splint). Pemasangan gips dilakukan dengan lengan bawah
dalam posisi pronasi bila fragmen distal displaced ke medial dan dalam
posisi supinasi bila fragmen distal displaced ke arah lateral.
Bila reposisi berhasil biasanya dalam 1 minggu perlu dibuat foto
rontgen kontrol, karena dalam 1 minggu bengkak akibat hematom dan
udem telah berkurang dan menyebabkan kendornya gips, yang
selanjutnya dapat menyebabkan terlepasnya reposisi yang telah tercapai.
Kalau dengan pengontrolan radiologi hasilnya sangat baik, gips dapat
dipertahankan dalam waktu 3 minggu. Setelah itu gips diganti dengan
mitela dengan maksud agar pasien bisa melatih gerakan fleksi ekstensi
dalam mitela. Umumnya penyembuhan fraktur suprakondiler ini
berlangsung cepat dan tanpa gangguan.
2. Operasi
14

Bila reposisi gagal, atau bila terdapat gejala Volkmann Ischemia atau lesi
saraf tepi, dapat dilakukan tindakan reposisi terbuka secara operatif dan
dirujuk ke dokter spesialis orthopaedi.
Indikasi Operasi :
a. Displaced fracture
b. Fraktur disertai cedera vaskular
c. Fraktur Terbuka
3.1.11 FOLLOW UP (8,9)
Evaluasi union sekitar 3-4 minggu untuk anak usia 4 tahun dan sekitar 4-5
minggu untuk anak-anak usia 8 tahun dengan pemeriksaan klinis dan radiologi.
Dengan meletakan jari di atas tendon biceps kemudian dilakukan fleksi dan ekstensi
elbow. Adanya spasme m. biceps menunjukkan elbow belum siap mobilisasi. Setelah
melepas splints, dilakukan latihan aktif dalam sling selama beberapa bulan sampai
range of motion tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
3.1.12 PROGNOSIS (4)

Dubia ad bonam
Dubia ad malam

3.1.13 KOMPLIKASI (1,4,7,8,9)


1. Pembentukan lepuh kulit
Pembengkakan sendi siku terjadi karena gangguan drainase atau
mungkin juga karena verban yang terlalu kuat.
2. Maserasi kulit di daerah antekubiti
Komplikasi ini terjadi karena setelah reposisi, dilakukan fleksi akut
pada sendi siku yang menyebabkan tekanan pada kulit.

3. Volkmann ischemia
Volkmanns ischemia

terjepitnya

a.

brachialis

yang

akan

menyebabkan iskemi otot-otot dan saraf tepi pada regio antebrachii.


Komplikasi ini terjadi akibat kompartemen sindrom yang tidak terdeteksi.
Nekrosis akan terjadi mulai 6 jam terjadinya ischemik. Maka
penanggulangannya sangat penting sebelum 6 jam arteri harus sudah
bebas. Bila dilakukan perubahan posisi ekstensi a. radialis masih belum
teraba dan release bandage/cast, arteriografi dulu, untuk menentukan
15

lokasi sumbatannya, kemudian dilakukan operasi eksplorasi a. brachialis,


dicari penyebabnya.
Operasi dapat berupa repair/reseksi arteri yang robek, bila
Volkmanns ischemia tidak tertolong segera

akan menyebabkan

Volkmanns kontraktur dimana otot-otot fleksor lengan bawah menjadi


nekrosis dan akhirnya fibrosis, sehingga tak berfungsi lagi.
4. Trauma Saraf Perifer
Trauma saraf perifer lebih sering mengalami nervus medianus
daripada nervus ulnaris. Kelainan biasanya bersifat sementara dan
prognosisnya baik.
5. Malunion
Komplikasi malunion dapat berupa kubitus varus atau perubahan letak
posisi distal humerus ke posterior (carrying angle). Kubitus varus
merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan. Kelainan ini sulit
dihindarkan kecuali dengan melakukan reposisi yang akurat. Kelainan
kubitus varus akan memberikan gejala sisa dan secara psikologis anak
merasa rendah diri sehingga perlu dilakukan koreksi osteotomi. Perubahan
posisi humerus distal akan memberikan gangguan pergerakan fleksi,
sehingga terjadi hiperekstensi. Pada keadaan ini perlu dilakukan koreksi
osteotomi.
6. Miositis Osifikans
Merupakan komplikasi lanjut fraktur suprakondiler humerus yang akan
memberikan gangguan pergerakan pada sendi siku dikemudian hari.

3.1.14 PENGENDALIAN
Pemberian pendidikan pada masa kanak-kanak khususnya yang berkaitan
dengan fraktur, aktivitas yang dilakukan diluar rumah seperti bermain dan
melakukan olahraga, dan partisipasi orang tua agar lebih berperan aktif dalam
keseharian anak,

maka akan meminimalkan angka kejadian fraktur pada masa

kanak-kanak.

16

BAB IV
KESIMPULAN
1. Fraktur suprakondiler humerus adalah fraktur pada ujung distal dari tulang humerus
tepatnya diatas epifisial plate atau lempeng pertumbuhan. Fraktur pada daerah siku ini
banyak dijumpai pada anak-anak dengan usia 2-12 tahun. Dikenal dua tipe fraktur
suprakondiler humerus berdasarkan pergeseran fragmen distal; tipe ekstensi, fraktur
ini fragmen distal bergeser kearah posterior, dan tipe fleksi fragmen distal bergeser ke
arah anterior.
2. Fraktur ini sering terjadi pada anak-anak, mayoritas fraktur suprakondiler pada anakanak terjadi pada usia 3-10 tahun, dengan puncak kejadiannya pada usia 5 dan 7
tahun. Dan biasanya paling sering ditemukan pada anak laki-laki daripada anak
perempuan dengan perbandingan 2 : 1.
3. Faktor penyebab fraktur suprakondiler humerus : Adanya riwayat trauma atau cedera,
Kecelakaan kendaraan bermotor, Jatuh dari ketinggian, Luka tembak, Sidewipe
injuries
4. Klasifikasi fraktur suprakondiler humerus dibuat atas dasar derajat displacement
yaitu; tipe I, tipe II, tipe III dan tipe IV.
5. Daerah suprakondiler humerus adalah daerah dimana tulang humerus menjadi pipih
disebabkan adanya fossa olekranon di bagian posterior dan fossa koronoid di bagian
anterior dan daerah ini merupakan titik lemah bila ada trauma di daerah siku. Terlebih
17

pada anak-anak sering dijumpai fraktur di daerah ini.


Fraktur suprakondiler humerus jenis ekstensi selalu disertai dengan rotasi fragmen
distal ke medial dan hinging kortek lateral, kadang-kadang pergeserannya cukup
besar yang mengakibatkan ujung fragmen distal yang tajam bisa menusuk dan
merusak m.brachialis, n.radialis, n medianus. Sedangkan Fraktur suprakondiler
humeri tipe fleksi jarang jatuh mengenai siku dalam keadaan fleksi. Garis fraktur
mulai cranial mengarah ke posterior kaudal dan fragmen distal mengalami pergeseran
ke arah anterior.
6. Gejala dan tanda klinisnya yaitu; terasa nyeri pada daerah yang terkena trauma,
adanya pembengkakan pada sendi siku, adanya deformitas pada daerah fraktur,
berkurangnya denyut nadi arteri radialis, mengalami paralisis dan terlihat pucat.
7. Diagnosa ditegakan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik adalah dengan memeriksa kedua tipe fraktur yaitu; tipe ekstensi dan
tipe fleksi dan sangat penting diperiksa gangguan sirkulasi perifer dan lesi pada saraf
tepi yang memerlukan tindakan reduksi fraktur segera, yaitu : warna kulit, palpasi
pulsasi, temperatur dan waktu dari capilarry refill.
Pemeriksaan penunjang dengan radiologi proyeksi AP/LAT, jelas dapat dilihat tipe
ekstensi atau fleksi
8. Penanganannya awal secara konservatif yang prinsipnya adalah reposisi dan
immobilisasi sedangkan penanganan kedua adlah penanganan dengan cara operasi.
9. Follow up dengan evaluasi union sekitar 3-4 minggu untuk anak usia 4 tahun dan
sekitar 4-5 minggu untuk anak-anak usia 8 tahun dengan pemeriksaan klinis dan
radiologi.
10. Prognosisnya yaitu antara dubia ad bonam atau dubia ad malam
11. Komplikasi yang akan muncul diantaranya; pembentukan lepuh kulit, maserasi kulit
di daerah antekubiti, volkmann ischemia, trauma saraf perifer, malunion, miositis
osifikans
12. Pengendaliannya dengan pemberian pendidikan pada masa kanak-kanak khususnya
yang berkaitan dengan fraktur, aktivitas yang dilakukan diluar rumah seperti bermain
dan melakukan olahraga, dan partisipasi orang tua agar lebih berperan aktif dalam
keseharian anak, maka akan meminimalkan angka kejadian fraktur pada masa kanakkanak.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Prof.Rasjad Chairuddin,MD,Ph.D.Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif
Watampone. 2009.
2. Nelson E Waldo,dkk/ editor Indonesia: Prof.Dr.dr.Wahab,samik.A,SpA(K). Nelson
Vol.3 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC. 2000.
3. Oski A,Frank,dkk. Principles And Practice Of Pediartics. Philadelphia: J.B
Lippinincott Company. 1994.
4. dr. Gatot Ibrahim Wijayadi,Sp.OT. http://www.scribd.com/doc/65809919/FRAKTURSUPRAKONDILER-PADA-ANAK. 28 November 2013
5. Boyd HB and Altenberg AR. Fractur About The Elbow In Children. Arcr
Surgery.1994.
6. Bucholz, Robert. Rookwood and Greens Fractur In Adults Sixth Edition. Lippincott
Willians and Wilkins. 2006.
7. Priyanto. Fraktur Suprakondiler Humeri Pada Anak Evaluasi Komperatif Pengolaan
Secara Operatif dan Konservatif Pada Fraktur.1996.eprints.undip.ac.id. 28 november
2013
8. http://bedahunmuh.wordpress.com/2010/05/20/fraktur-suprakondiler-humerus/. 2
Desember 2013
9. Penanganan Konservatif Fraktur Suprakondiler
Humerus.www.Zimbio/bedahumum.com. 28 Desember 2013.
10. Faiz Omar, Moffat David. At a Glance Anatomi. EMG series. Bandung; 2003.

19

LAMPIRAN
Gambar 1. Anatomi Humerus Sinistra

Gambar 2. Gambar Anatomis Tulang Panjang Pada Anak dan Histologi Lempeng Epifisis

20

Gambar 3. Gambar Skematis Perkembangan Pusat Osifikasi Sekitar Siku 2-12 Tahun dan
Dewasa

Gambar 4. Sistem Peredaran Darah Ektremitas Atas

21

Gambar 5. Sistem Vena Superfisialis Ektemitas Atas

Gambar 6. Kelenjar Getah Bening dan Drainase Limfatik Payudara

22

Gambar 7. Pleksus Brakialis

Gambar 8. Perjalanan dan Cabang N. Radialis

23

Gambar 9. Perjalanan dan Cabang N. Medianus

Gambar 10. Perjalanan dan Cabang N. Ulnaris

24

Gambar 11. Regio Cubiti Tampak Posterior

Gambar 12. Regio Cubiti Tampak Anterior Posterior


25

Gambar 13. Regio Cubiti Tampak Lateral

26

Gambar 14. Ligamen dari Elbow Joint Tampak Lateral

Gambar 15. Gambar Skematis Titik Pegangan pada Tulang Sendi Siku

Gambar 16. Klasifikasi Fraktur Lempeng Epifisis Munurut Salter-Harris

27

Gambar 17. Fraktur Suprakondiler Humerus Tipe Ekstensi

28

Gambar 18. Fraktur Suprakondiler Humerus Tipe Fleksi

Gambar 19. Klasifikasi Fraktur Suprakondiler Humerus Pada Anak

29

Anda mungkin juga menyukai