Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Definisi
Kalau berbicara tentang ilusi, kita biasanya menganggap bahwa kita bisa
melihat hal-hal yang benar-benar faktual atau nyata di dunia sekitar kita.
Menurut Matsumoto (2008), dalam psikologi tradisional, sensasi dan ilusi
adalah tentang memahami bagaimana kita menerima stimulasi dari
lingkungan dan bagaimana kita memproses stimulus tersebut. Ilusi biasanya
dimengerti sebagai bagaimana informasi yang berasal dari organ yang
tersetimulasi diproses, termasuk bagaimana informasi tersebut diseleksi,
ditata, dan ditafsirkan. Ilusi mengacu pada proses di mana informasi inderawi
diterjemahkan menjadi sesuatu yang bermakna.
Menurut Bimo Walgito (2004: 131) menjelaskan bahwa ilusi yaitu kesalahan
individu dalam memberikan ilusi atau arti terhadap stimulus yang
diterimanya. Orang seringkali memilusi suatu kejadian atau keadaan yang
terjadi di sekitarnya. Dalam memilusi tersebut seringkali terjadi kesalahan,
karena dalam mengartikan suatu stimulus ini melibatkan perasaan dan
pemikiran. Kesalahan dalam memilusi stimulus ini wajar terjadi pada
individu.
Ilusi adalah suatu ilusi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan
panca indera yang ditafsirkan secara salah. Dengan kata lain, ilusi adalah
interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Sebagai
contoh, seorang penderita dengan perasaan yang bersalah, dapat menginterpretasikan suara gemerisik daun-daun sebagai suara yang mendekatinya.
Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada
penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi,
maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif.

BAB II
BENTUK-BENTUK
B. Bentuk-bentuk ilusi
Ilusi terjadi dalam bermacam-macam bentuk, yaitu:
1. Ilusi visual (penglihatan)
Ilusi visual didefinisikan sebagai hubungan yang terputus antara ilusi dan
realitas fisik sebenarnya. Ketika kita mengalami ilusi visual, sepertinya
kita melihat sesuatu yang berbeda dengan keadaan realitas fisik. Hal ini
disebabkan adanya gambaran yang menyesatkan dan mengelabui (distorsi)
pada penglihatan kita. Akibatnya, otak menerima informasi salah, dan
memilusikan secara keliru sehingga gambaran yang terbentuk tidak sesuai
dengan objek sebenarnya.
2

Contoh yang paling mudah sewaktu kita berkendaraan dan melihat bendabenda bergerak. Pepohonan atau tetumbuhan di tepi jalan sepertinya
bergerak menjau atau Ilusi terjadi ketika anda melihat sebuah sendok
dibengkokkan, sendok tersebut tidak benar - benar bengkok tetapi oleh
sang magician kita di ilusikan sehingga melihat sendok tersebut menjadi
bengkok.
2. Ilusi akustik (pendengaran)
Ilusi Akustik (pendengaran) sebagai hubungan yang terputus antara ilusi
pendengaran dan realitas pendengaran yang sebenarnya Misalnya, ilusi
pendengaran dapat terjadi ketika seseorang mendengar kata-kata dalam
percakapan yang menyerupai nama mereka sendiri dan mereka percaya
bahwa mereka sedang berbicara tentang dirinya. Pada saat itu sulit untuk
memastikan bahwa seseorang menggambarkan ilusi atau apakah ia benarbenar mendengar suara-suara halusinasi berbicara tentang dirinya dan
menghubungkan

mereka

kepada

orang-orang

yang

nyata

di

lingkungannya.
3. Ilusi olfaktorik (pembauan)
Ilusi Olfaktorik adalah pembauan yaang berbeda dengan kenyataan bau
yang sebenarnya.
Contoh : ketika anda mencium bau minyak wangi tapi yang anda rasakan
bukan bau wangi tapi bau tinja.
4. Ilusi gustatorik (pengecapan)
Ilusi gustatorik adalah pengecapan yang dirasakan berbeda dengan yang
sesungguhnya.
Contoh : Ketika anda mengecap garam yang dirasakan manis bukan asin.
5. Ilusi taktil (perabaan).
Ilusi taktil adalah ilusi ketika merasakan rabaan sesuatu berbeda dengan
yang sebenarnya.

Contoh : ketika tangan anda di letakan semut tapi anda merasa bahwa itu
bukan semut melainkan laba laba.
C. Beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya ilusi, yaitu :
1.

Factor kealama
Kesalahan ilusi terjadi karena fakrot alam, misalnya illusi echo
(gema), illusi kaca.

2.

Factor stimulus
1. Stimulus yang memiliki makna ambigu, memberi peluang
terjadinya ilusi ganda.
2. Stimulus yang tidak dianalisis lebih lanjut, yang memberikan
impresi secara total.

3.

Factor individu
Ini dapat disebabkan karena adanya kebiasaan dan juga kesiapan
psikologis dari individu.

D. Factor yang berperan dalam ilusi, yaitu:


a. Objek yang diilusi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera, yang
sebagian besar datang dari luar individu itu sendiri.
b. Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf
Alat indera atau reseptor benfungsi sebagai alat untuk menerima
stimulus, kemudian syaraf untuk melanjutkan stimulus yang diterima
oleh alat indera untuk kemudian diteruskan ke pusat susunan syaraf
(otak) untuk diproses dan akhirnya direspon melalui syaraf motoric.
c. Perhatian
Perhatian merupakan konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang
ditijukan

kepada

sesuatu

objek,

sebegai

tahap

melaksanakan ilusi, yang merupakan syarat psikologis.

awal

untuk

BAB III
MASALAH

E. Beberapa komentar umum tentang pengaruh budaya pada ilusi


Ilusi dan Realitas
Salah satu hal yang harus disadari tentang ilusi adalah bahwa ilusi kita atas
dunia belum tentu mewakili secara persis realitas fisik dunia atau indera kita.
Poinnya di sini adalah bahwa ilusi kita tentang dunia yang penuh tidak
selalu cocok dengan realitas fisik dan sensasi yang kita terima lewat sistem
penglihatan kita. Contohnya adalah saat kita menutup satu mata kita, dan kita
tetap bisa mengalami atau melihat dunia seolah-olah utuh. Meski ada satu area
yang darinya mata kita tidak menerima cahaya, kita tidak bisa melihat
bagian visual itu sebagai sesuatu yang hilang. Otak kitalah yang mengisinya
sehingga seolah-olah seluruh wilayah visual kita bisa terlihat.
Selain itu, pengalaman sehari-hari kita dengan temperatur dan sentuhan juga
menunjukkkan fenomena ini. Hal itu bisa terbukti pada eksperimen seperti
berikut: Isilah tiga mangkuk dengan air satu mangkuk dengan air panas,
satu dengan air es, dan satu lagi dengan air hangat. Masukkan tangan kita ke
dalam mangkuk berisi air panas untuk beberapa detik, dan kemudian
pindahkan ke air hangat. Air itu akan terasa dingin. Tunggu beberapa menit;
setelah itu masukkan tangan kita ke dalam air es, dan kemudian ke air hangat

lagi. Air itu akan terasa hangat. Temperatur air yang hangat itu tidak berubah.
Yang berubah adalah ilusi kita tentangnya.
Seperti yang terdapat pada Dayakisni (2008), kunci jawaban masalah di atas
adalah pengalaman. Seperti yang diungkapkan para pengagum teori-teori
empiris, manusia akan secara terus-menerus melakukan interpretasi terhadap
tanda-tanda (dunia) dan dengan mudah tersesat oleh pengalaman terdahulu
untuk melakukan phenomenal absolutism (bahwa manusia secara naif
mengambil kesimpulan dari apa yang dirasakan dan bukan dari realitas
sebenarnya). Dari proses-proses tersebut selanjutnya orang akan belajar
bahwa dunia ini adalah dalam bentuk tiga dimensi. Segall (dalam Dayakisni,
2008) menjelaskan bahwa ilusi bukanlah stimulus penentu tetapi lebih
merupakan produk dari interaksi antara stimulus dengan pengalaman.
Ilusi dan Pengalaman
Salah satu hal yang kita ketahui tentang ilusi kita adalah bahwa ilusi itu
berubah. Ilusi kita juga berubah bila kita mengetahui lebih banyak tentang
sesuatu. Contohnya, bagi kebanyakan orang, apa yang ada di bawah kap
mobil merupakan pemandangan campur aduk yang tak rapi. Tapi bagi mereka
yang mempelajari mesin, pemandangan itu akrab dan terdeferensiasi menjadi
benda-benda yang lebih spesifik karburator, blok mesin, alternator, dan
lain-lain.
Selama beberapa tahun Chase dan Simon (Matsumoto, 2008) mempelajari
orang-orang yang ahli dalam bidang tertentu. Mereka secara konsisten
menemukan bahwa ketika orang belajar lebih banyak tentang sesuatu, mereka
akan melihatnya secara berbeda dari saat pertama kali melihatnya. Jadi,
jelas sekali bahwa bagaimana kita akan melihat sesuatu itu berubah seiring
pengalaman kita dengan hal itu.
Bagaimana seseorang dari latar belakang budaya yang sangat berbeda
melihat sesuatu yang amat familier bagi kita? Dan bagaimana kita akan
6

melihat sesuatu yang familier bagi mereka dan asing bagi kita? Untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, seorang guru di Australia
mempunyai pengalaman menarik yang menunjukkan perbedaan kultural
dalam ilusi ini. Di sebuah sekolah untuk anak-anak suku Aborigin, guru ini
sedang mencoba mengajarkan sebuah permainan who touched me?. Dalam
permainan ini semua berdiri melingkar dan anak yang jadi akan ditutup
matanya. Kemudian ada satu anak dari lingkaran yang akan berjalan diamdiam dan menyentuh anak yang tertutup matanya lalu kembali ke tempatnya.
Tutup mata itu dibuka dan anak yang jadi harus menebak siapa yang
menyentuhnya.
Guru itu melihat bahwa anak-anak Aborigin tidak benar-benar ingin bermain.
Meski begitu, mereka tetap melakukan permainan itu untuk menghormati
sang guru. Setelah permainan itu, sang guru menemukan bahwa muridmuridnya menjadi tidak kooperatif dan enggan mencoba apapun yang ia
usulkan. Mereka menolak belajar alphabet. Guru itu pun mengira bahwa
mereka sedang berpura-pura bodoh atau nakal.
Sama halnya ketika guru menganggap anak-anak Aborigin berpura-pura
bodoh atau nakal, anak-anak suku Aborigin justru menganggap gurunyalah
yang bodoh. Anak-anak Aborigin itu bisa dengan mudah melihat tapak kaki
siapa yang ada di tanah dengan melihat sepintas. Jadi bagi mereka guru itu
telah meminta mereka untuk memainkan sesuatu yang bagi anak-anak
Aborigin sangat bodoh sampai mereka tak mengerti kenapa itu bisa menjadi
sebuah permainan.
Ilusi Pengecapan
Kebanyakan orang pernah mengalami perubahan kesukaan makanan.
Sebagian alasannya barangkali terkait dengan perubahan proporsi dari jenisjenis saraf pengecapan di mulut (Matsumoto, 2008). Kita semua tahu bahwa
anak-anak suka makanan yang manis dan bahwa mereka biasanya sangat

pilih-pilih dengan makanan secara umum. Sifat ini mungkin sebagian


disebabkan oleh kenyataan bahwa makanan yang sama punya rasa yang
berbeda bagi anak-anak dan orang dewasa. Contohnya, sebatang coklat
mungkin akan terasa terlalu manis bagi orang tua yang punya lebih saraf
manis ketimbang saraf pahit dan asam. Bagi anak berusia 3 tahun, yang punya
lebih banyak saraf pahit disbanding rata-rata orang dewasa, batang coklat
yang sama mungkin akan terasa sedikit pahit.
Beberapa penelitian juga dilakukan untuk mengetahui perbedaan kemampuan
mengecap yang diseabbkan oleh perbedaan budaya. Doty (Berry dalam
Dayakisni, 2008) melaporkan kekurangmampuan orang-orang Kaukasia untuk
mengecap subtansi yang mengandung PTC (phenilthiocarbamide). Ia juga
menambahkan sekitar 30% orang Kaukasia dikatakan buta kecap atau lidah
karena kebiasaan mengecap subtansi-subtansi yang lebih kasar ketimbang
subtansi yang biasa dikecap orang-orang non-Kaukasia.
F. PENGARUH-PENGARUH BUDAYA PADA ILUSI VISUAL
Pengetahuan Tradisional tentang Ilusi Visual
Ada banyak kajian psikologi di bidang ilusi yang meneliti ilusi optik, yaitu
ilusi yang mengandung diskrepansi atau perbedaan antara kenampakan sebuah
benda dengan benda itu sesungguhnya. Seringkali, ilusi-ilusi optik terjadi
karena asumsi-asumsi yang keliru tentang karakteristik stimulus dari benda
yang diilusi.
Salah satu ilusi optik yang paling popular adalah ilusi Mueller-Lyer. Dalam
ilusi ini ada dua garis yang masing-masing memiliki tanda panah di ujungnya.
Tanda panah pada salah satu garis itu mengarah ke luar, menjauhi garisnya,
sedangkan pada garis yang lain mengarah ke dalam. Penelitian menunjukkan
bahwa subjek-subjek yang melihat dua gambar tersebut biasanya menilai
bahwa garis dengan panah yang mengarah ke dalam adalah yang lebih

panjang. Tapi hal ini hanya ilusi, karena kedua garis itu sebenarnya sama
panjang.
Ilusi Mueller-Lyer
Ilusi lain yang popular adalah ilusi horizontal/vertikal. Dalam ilusi ini dua
garis dengan panjang yang sama ditempatkan secara saling tegak lurus. Ketika
para subjek diminta menilai garis mana yang lebih panjang, biasanya mereka
memilih garis yang vertikal.
Ilusi Horizontal/Vertikal
Ilusi ketiga yang juga terkenal adalah ilusi Ponzo. Dalam ilusi ini dua garis
horizontal ditempatkan sejajar, satu di atas yang lain. Setelah itu ditarik dua
garis diagonal yang lebih rapat di ujung atas daripada di bawah. Ketika para
subjek melihat gambar ini, mereka biasanya mengatakan bahwa garis
horizontal yang ada di atas lebih panjang daripada garis horizontal di
bawahnya. Tentu saja, kedua garis tersebut sebenarnya sama panjang.
Teori-teori Dominan tentang Ilusi Optik
Ada tiga teori utama yang dikembangkan untuk menjelaskan efek ilusi optik,
yaitu:
1. Carpentered World Theory atau Teori Lingkungan Buatan
Teori ini menyatakan bahwa orang, seperti hanlnya sebagian besar orang
Amerika, terbiasa melihat benda-benda yang berbentuk kotak. Tinggal di
lingkungan yang didominasi bentuk kotak, secara tak sadar kita cenderung
menduga akan bertemu dengan benda-benda dengan sudut atau pojok
berbentuk kotak. Kita sudah melakukan ini begitu lama sehingga kita tak
lagi sadar bahwa kita menafsirkan berbagai benda seolah-olah berbentuk
persegi padahal stimulus aktualnya tidak tegak lurus dengan mata kita.
Kita hanya melihatnya seolah-olah bentuknya persegi.
2. Front-Horizontal

Foreshortening

Horizontal-Depan

Theory

atau

Teori

Pemendekan

Teori ini menyatakan bahwa kita menafsirkan garis vertikal di mata kita
sebagai garis horizontal yang terentang sampai kejauhan. Dengan
demikian,

kita

akan

menafsirkan

garis

vertikal

pada

ilusi

vertikal/horizontal sebagai sebuah garis yang terentang menjauhi kita.


Sekali lagi, kita akan menduga bahwa sebuah garis akan punya ukuran
lebih panjang bila berada jauh dari kita. Karena itu, kita melihat garis
vertikal tersebut lebih panjang daripada yang horizontal, yang tidak
terlihat terentang menjauh.
3. Symbolizing-Three-Dimensions-in-Two-Dimensions

atau

Teori

Menyimbolkan-Tiga-Dimensi-dalam-Dua-Dimensi
PENELITIAN LINTAS-BUDAYA TENTANG ILUSI VISUAL
Beberapa penelitian lintas-budaya tentang ilusi visual menantang pemahamanpemahaman tradisional tentang ilusi optik. Bahkan sudah semenjak 1905, W.H.R.
Rivers membandingkan efek ilusi Muller-Lyer dan horizontal/vertikal pada kelompok
dari Inggris, pedesaan India, dan Papua Nugini. Ia menemukan bahwa orang Inggris
melihat dua garis pada ilusi Muller-Lyer lebih berbeda panjangnya daripada orangorang dari kelompok-kelompok lainnya. Ia juga menemukan bahwa orang India dan
Papua Nugini lebih tertipu oleh ilusi horizontal/vertikal daripada orang Inggris.
Hasil-hasil ini cukup mengejutkan. Sebelumnya, mereka yakin bahwa orang India
dan Papua Nugini lebih primitif dan akan lebih tertipu oleh ilusi-ilusi tersebut
daripada orang Inggris yang lebih berpendidikan dan lebih beradab. Tapi hasilnya
menunjukkan bahwa ada efek ilusi tersebut berbeda antarbudaya, dan bahwa ada
sesuatu selain pendidikan yang turut memengaruhi bagaimana orang tertipu oelh
ilusi-ilusi itu. Para peneliti itu kemudian menyimpulkan bahwa pasti ada pengaruh
budaya pada bagaimana kita melihat dunia.

10

Hasil-hasil yang didapatkan Rivers tadi dapat dijelaskan dengan Teori Lingkungan
Buatan maupun Teori Pemendekan Horizontal-Depan. Pada Teori Lingkungan
Buatan, akan dinyatakan bahwa sebagian besar orang Amerika dan Inggris, dalam
penelitian Rivers, sudah terbiasa melihat benda-benda yang berbentuk persegi.
Sebaliknya, orang-orang di India dan Papua Nugini lebih terbiasa dengan lingkungan
yang lebih bundar dan ileguler. Terhadap ilusi Muller-Lyer, orang Inggris akan
cenderung melihatnya sebagai sudut-sudut persegi yang memproyeksikan kedalaman
ke arah menjauhi atau mendekati kita. Namun orang India dan Papua Nugini tinggal
di budaya di mana lingkungannya tidak terlalu banyak memuat benda-benda buatan
manusia. Kecenderungan mereka untuk membuat kesalahan perseptual dalam hal
ini lebih kecil daripada orang Inggris. Karena itulah orang Inggris lebih sering salah
dalam menafsirkan ilusi Muller-Lyer daripada orang India dan Papua Nugini. Pada
Teori Pemendekan Horizontal-Depan dapat membedakan perbedaan cultural dalam
penelitian Rivers. Di India dan Papua Nugini terdapat lebih sedikit gedung yang
menghalangi jarak pandang orang. Karena itu, orang India dan Papua Nugini lebih
mengandalkan petunjuk kedalaman daripada orang Inggris dan membuat lebih
banyak kesalahan dalam menilai gambar horizontal/vertikal. Sedangkan Teori
Menyimbolkan-Tiga-Dimensi-dalam-Dua-Dimensi menyatakan bahwa di budayabudaya Barat, orang lebih banyak memperhatikan hal-hal yang tertera di atas kertas
daripada orang dari budaya lain. Secara lebih khusus, orang Barat menghabiskan
lebih banyak waktu untuk belajar menafsirkan gambar daripada orang dari budaya
non-Barat. Karena itu orang-orang di Papua Nugini dan India lebih sulit tertipu ilusi
Muller-Lyer karena gambar tersebut lebih asing bagi mereka. Tapi mereka akan
lebih tertipu oleh ilusi horizontal/vertikal karena hal itu lebih mewakili cara hidup
mereka.
Untuk melihat apakah temuan-temuan Rivers juga berlaku pada lebih banyak
budaya secara umum, Segall dkk (Matsumoto, 2008) membandingkan orang dari tiga
11

kelompok masyarakat industri dengan empat-belas kelompok masyarakat nonindustri pada ilusi Muller-Lyer dan horizontal/vertikal. Hasilnya menunjukkan bahwa
efek ilusi Muller-Lyer lebih kuat pada kelompok-kelompok industri. Sebaliknya, efek
ilusi horizontal/vertikal lebih kuat pada kelompok non-industri. Mereka menemukan
bahwa efek ilusi-ilusi tersebut menurun dan hamper menghilang seiring pertambahan
usia. Wagner (1977) mengkaji persoalan ini dengan menggunakan beberapa versi
ilusi Ponzo dan membandingkan jawaban orang-orang dari lingkungan desa dan kota,
yang sebagian melanjutkan pendidikan dan sebagian tidak. Wagner menemukan
bahwa ada pengaruh lingkungan perkotaan dan pengalaman sekolah pada ilusi
Muller-Lyer. Pollack dan Silvar (1967) menunjukkan bahwa efek ilusi Muller-Lyer
terkait dengan kemampuan untuk mendeteksi kontur, dan kemampuan ini akan
menurun seiring pertambahan umur. Untuk melihat teori mana teori rasial ataukah
teori pembelajaran lingkungan yang lebih benar, Stewart (1973) menguji efek ilusi
Muller-Lyer pada anak-anak kulit hitam dan putih yang tinggal di satu kota yang
sama. Ia tak menemukan perbedaan antara kedua kelompok ini. Kemudian ia
membandingkan beberapa kelompok anak usia sekolah dasar di Zambia yang berasal
dari lingkungan kota yang penuh dengan benda arsitektur serta yang berasal dari
lingkungan pedesaan yang minim benda arsitektur. Ia menemukan bahwa efek ilusi
ini tergantung pada sejauh mana seorang anak tinggal di lingkungan berarsitektur. Ia
juga menemukan bahwa seiring pertambahan usia, efek ilusi ini berkurang, yang
menunjukkan bahwa baik hasil belajar maupun sifat bawaan punya peran dalam
perbedaan cultural yang tampak ini.
Hudson (1960) mencoba mengembangkan sebuah tes proyektif mirip Thematic
Apperception Test untuk digunakan pada suku Bantu di Afrika Selatan.
Ia meminta seorang seniman untuk membuat gambar-gambar yang menurut
dugaan para ahli psikologi akan membuat anggota suku itu memikirkan emosi-emosi
mereka yang mendalam. Para ahli psikologi ini terkejut karena menjumpai bahwa
anggota suku Bantu seringkali melihat gambar-gambar tersebut dengan cara berbeda
12

dari yang dimaksudkan. Anggota-anggota suku itu seringkali tidak menggunakan


ukuran relatif sebagai petunjuk kedalaman. Dalam ilustrasi yang ada, misalnya, kita
akan cenderung melihat bahwa si pemburu bersiap melempar tombaknya pada kijang
yang ada di latar depan, sementara ada seekor gajah yang berdiri di atas sebuah bukit
sebagai latar belakang. Banyak anggota suku Bantu justru melihat bahwa si pemburu
di gambar yang sama sedang bersiap menusuk gajak yang masih bayi.
Hudson menemukan bahwa perbedaan-perbedaan dalam ilusi kedalaman ini
terkait dengan pendidikan dan pengalaman dengan budaya Eropa. Dengan kata lain,
orang-orang suku Bantu yang terdidik di sekolah-sekolah Eropa, atau punya
pengalaman lebih banyak dengan budaya Eropa, akan melihat benda-benda seperti
halnya orang Eropa. Orang-orang suku Bantu yang tak berpendidikan dan minim
pengalaman dengan budaya Barat akan melihat gambar-gambar itu secara berbeda.
PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN INTELEGENSI
Intelegensi dalam pandangan orang Amerika ialah sejumlah kemampuan,
keahlian, talenta, dan pengetahuan, yang keseluruhannya merujuk pada kemampuan
kognitif dan proses mental. Ruang lingkup dalam proses intelegensi ini ialah memori,
kekayaan kosa kata, kemampuan komperehensif, kemampuan matematis, dan berpikir
logis. Cara budaya mainstream Amerika mendefinisikan inteligensi mempengaruhi
pandangan banyak orang mengenai proses perkembangan kognitif bahwa orang yang
berasal dari budaya tertentu lebih cerdas dibanding yang lain. Padahal perbedaan
budaya juga sangat berperan dalam menentukan definisi dari intelegensi/kecerdasan
ini. Sebagai contoh, seorang yang berada dalam budaya tertentu yang ada di
pedalaman, kecerdasan yang harus dimiliki mungkin bukanlah sebuah kecerdasan
matematis dalam berhitung, namun kecerdasan dan ketepatan dalam menangkap
hewan buruan ataupun menyalakan api dengan kayu bakar. Satu jenis alat tes yang
digunakan mungkin menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap budaya dikarenakan
adanya kemungkinan alat tes yang bias budaya. Oleh karena itu, adanya perbedaan
13

dalam skor intelegensi diantara kelompok-kelompok budaya barangkali merupakan


akibat atau hasil dari (1) perbedaan keyakinan tentang apa yang disebut dengan
intelegensi; (2) ketidaktepatan pengukuran intelegensi terkait budaya.
Para ahli psikologi telah banyak mempelajari bagaimana anak-anak belajar
berpikir dan bagaimana mendefinisikan dan mengukur kecerdasan. Skor IQ dapat
menjadi faktor penentu yang penting bagi hidup seseorang, hasil tes tersebut harus
ditafsirkan dengan amat hati-hati, terutama bila ingin mengkur inteligensi lintasbudaya. Beberapa ahli berpendapat mengenai perlunya memahami inteligensi secara
lebih luas untuk mengintegrasikan penelitian lintas-budaya ke dalam teori yang dapat
menjelaskan

mengapa

orang

dari

berbagai

belahan

bumi

berpikir

dan

mengembangkan keterampilan mental secara berbeda.


Misalnya ilusi bahwa orang Cina itu lebih pintar dibandingkan orang
Indonesia (Pribumi). Sebenarnya hal itu hanyalah ilusi kita saja karena sudah
terbentuk di lingkungan sekitar kita dan didukung dengan bukti empiris bahwa negeri
Cina lebih maju.
Teori Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif adalah bidang khusus dalam psikologi yang mempelajari
bagaimana perkembangan keterampilan berpikir. Berdasarkan pengamatan Piaget di
Swiss, ia menemukan bahwa ternyata anak-anak dari usia yang berbeda-beda
cenderung memecahkan masalah secara berbeda. Anak-anak berkembang maju
melalui 4 tahap seiring pertumbuhan mereka menurut Piaget, yaitu:
1. Tahap sensorimotor
Dimulai sejak lahir sampai 2 tahun. Proses permanensi objek-kemampuan
untuk mengetahui bahwa suatu benda itu tetap ada meski tidak terlihat oleh
pandangan mata. Misalnya di Indonesia berkembang mitos bahwa anak kecil
memiliki penglihatan yang sensitif sehingga dapat melihat makhluk-makhluk

14

gaib atau yang dikatakan penampakan. Hal itu akan membentuk konsep diri
terhadap anak yang didukung oleh lingkungan yang kuat untuk memberikan
si anak pemahaman antara konsep magis dan rasionalitas.
2. Tahap pra operasional
Usia 2-7 tahun. Di bagi berdasarkan 5 sifat yaitu,
Konservasi: kesadaran bahwa adanya kuantitas fisik yang tidak berubah
meski bentuk atau penampakannya berubah.
Keterpakuan: kecenderungan untuk terfokus pada satu aspek dari suatu
persoalan/masalah.
Ketidakberhasilan: ketidakmampuan untuk membayangkan penguraianbalik.
Egosentrisme: keidakmampuan untuk menggunakan kacamata orang lain dan
memahami sudut pandangnya.
Animisme: keyakinan bahwa benda-benda mati punya nyawa.
3. Tahap operasional konkret
Usia 6-11 tahun. Anak memperoleh keterampilan berpikir baru dalam
menghadapi benda dan kejadian nyata. Mereka bisa membalikkan dalam
pikiran-bayangan proses suatu tindakan dan memperhatikan lebih dari satu
aspek dari suatu persoalan, mengerti ada sudut pandang berbeda dari
pandangan mereka. Dalam memecahkan masalah masih trial-error.
4. Tahap operasional formal
Pada usia 11 tahun sampai dewasa. Mengembangkan kemampuan berpikir
logis mengenai konsep abstrak, sistematis dalam problem solving.
Teori Tahapan Piaget dari Perspektif Lintas Budaya
Teori Piaget ini berlangsung seperti empat tahapan tersebut di setiap budaya.
Dari beberapa penelitian pada anak-anak Inggris, Amerika, Yunani, dan
Pakistan menunjukkan dapat mengerjakan tugas perkembangan Piaget pada
tahap yang sama yaitu, tahap operasional konkret (Shayer, Dementriou &
Perez, 1988).
Penelitian lain menunjukkan adanya variasi kultural pada usia anak di
masyarakat yang berbeda-beda dalam pencapaian tahap perkembangan Piaget
15

yang ketiga dan keempat (tahap operasional konkret dan tahap operasional
formal) sehingga menyebabkan tahap perkembangan yang berbeda dengan
tahapan-tahapan yang dikemukakan oleh Piaget. (Dasen, Lavallee, Ngini, dan
Retschitzki, 1979; Dasen, 1982).
Dalam sebuah penelitian, terdapat variasi yang cukup besar antara tahapantahapan perkembangan Piaget dan ketrampilan fisik yang terkait. Jadi anakanak yang tumbuh dan berkembang dalam suatu budaya dan usia tertentu
secara tidak langsung dituntut untuk mempelajari keterampilan-ketrampilan
khusus yang sesuai dengan aturan budayanya tanpa dipengaruhi oleh tahapan
perkembangan Piaget.
Misalnya pada anak-anak zaman dulu yang masih tinggal nomaden atau anak
yang tinggal di perkampungan memiliki keterampilan tertentu misalnya
berburu. Dalam hal berburu juga diperlukan perhitungan dan strategi yang pas
untuk menangkap hewan berburu. Belum tentu pola pikir seperti itu dimiliki
oleh anak-anak dan orang dewasa yang tinggal menetap di perkotaan.
Teori Piaget berasumsi bahwa penalaran ilmiah yang diasosiaikan dengan
tahap operasional formal merupakan puncak perkembangan kognitif, dengan
kata lain pemikiran ini menjadi acuan bagi setiap budaya dalam menentukan
langkah-langkah penalaran ilmiah. Penelitian lintas budaya mematahkan teori
tersebut dengan menyatakan bahwa masyarakat yang berbeda budaya
menghargai dan mendorong keterampilan dan perilaku yang berbeda-beda.
Misalnya, cerdik-cendikiawan yang paling dihormati oleh masyarakat islam
tradisional adalah pemuka agama dan penyair. Meskipun pendidikan islam
tradisional
ilmiah

sudah cukup mencakup pelajaran budaya barat (yang bersifat

seperti

Matematika,

Fisika,

Kimia),

tujuan

utamanya

ialah

mengajarkan pengetahuan umum, iman, dan penghargaan yang mendalam


atas puisi dan sastra. Beberapa budaya di dunia tidak sepakat bahwa proses
berpikir abstrak merupakan titik perkembangan kognitif yang paling tinggi.
16

Banyak pula budaya yang menganggap bahwa perkembangan kognitif


mencakup hubungan antara ketrampilan dan proses berpikir untuk berhasil
dalam konteks interpersonal (well adjusted dalam lingkungannya).
Apakah ini berarti bahwa suatu budaya dapat digolongkan terhambat di tahap
perkembangan kognitif yang rendah? Jadi tugas-tugas Piagetian memang
merupakan cara yang tepat untuk mengukur tahap tertinggi dalam
perkembangan kognitif. Sayangnya tes-tes tersebut tidak selalu bisa dipahami
dan diberikan pada budaya-budaya tertentu. Tes operasional formal, tidak bisa
menunjukkan apakah orang dari budaya yang berbeda memiliki keterampilan
kognitif di bidang lain selain yang dipilih oleh Piaget. Dari pernyataan
tersebut timbul pertanyaan tentang sejauh mana tugas-tugas Piagetian lebih
tergantung pada pengetahuan sebelumnya dan nilai-nilai budaya ketimbang
keterampilan kognitif. Misalnya pada salah satu tes inteligensi hasil adaptasi
dari luar Indonesia terdapat kosa kata-kosa kata tertentu yang belum tentu
dimengerti oleh orang Indonesia pada tahap perkembangan tertentu.
Pada akhirnya perbedaan dalam satu atau beberapa budaya menyulitkan
pengambilan kesimpulan yang valid tentang perbedaan perkembangan
kognitif antar budaya terbatas pada aktivitas-aktivitas khusus. Misalnya
individu yang bisa menerapkan logika ilmiah pada suatu masalah pekerjaan
mungkin akan menggunakan penalaran yang berbeda untuk situasi yang lain.
Pengaruh Kultural pada Pengukuran Intelegensi
Tes inteligensi menjadi cara untuk membedakan anak-anak yang membutuhkan
pendidikan luar biasa dengan anak-anak yang terhambat karena alasan lain. Tidak
semua pihak diuntungkan oleh tes inteligensi ini karena tes-tes ini bergantung pada
kemampuan verbal dan pengetahuan kultural. Beberapa orang merespon bahwa tes
inteligensi itu bias dan tidak mengukur dengan akurat kemampuan orang dari budaya
lain.

17

Dalam sebuah kontroversi dikenal perdebatan nature vs culture. Kubu nature


berpendapat bahwa dalam skor IQ pada masyarakat dan kelompok-kelompok etnis
yang berbeda disebabkan oleh faktor alam atau keturunan. Perbedaan skor inteligensi
antar kelompok juga mungkin diakibatkan oleh:
1) Perbedaan definisi inteligensi
2) Ukuran inteligensi yang secara kultural kurang tepat.
Seperti yang kita ketahui bahwa tes-tes inteligensi merupakan prediktor yang
baik dalam hal keterampilan verbal yang diperlukan untuk bisa berhasil dalam
budaya yang terkait dengan sistem-sistem pendidikan formal di masyarakat
modern, model yang sekarang semakin banyak diadopsi di seluruh dunia.
Pandangan lain yang dipegang oleh ahli psikologi lintas-budaya bahwa tes-tes
inteligensi memang mengukur perbedaan yang nyata antara masyarakat yang
berbeda, tapi perbedaan tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai
kekurangan/kelemahan suatu budaya.

18

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Kita tidak bisa sepenuhnya percaya pada apa yang kita lihat karena penglihatan
berbeda dari dunia faktual dalam pengertian absolutnya. Apa yang kita lihat mungkin
berbeda dari apa yang dilihat dan diyakini orang lain. Hal inilah yang dinamakan
dengan ilusi. Ilusi dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk usia, pematangan,
lingkungan dan situasi latar belakang kebudayaan tetap merupakan penentu yang
berpengaruh dalam ilusi kita terhadap dunia (ilusi dapat dibentuk, diubah, dan
dipengaruhi oleh kebudayaan di mana kita dibesarkan).
Kategorisasi yang merupakan bagian dari proses kognisi ternyata tak berbeda anta
budaya bila terkait dengan pengalaman seperti warna, ekspresi wajah, dan bentukbentuk geomeetris. Hal ini berarti, proses-proses dasar ini akan sama pada semua
orang namun kategori dapat pula menjadi berbeda ketika individu memiliki latar
belakang pengalaman kultural yang berbeda. Ketika ada perbedaan kultural yang
19

muncul bukanlah dalam kemampuan kognitif melainkan perbedaan dalam preferensi


(pilihan) untuk menggunakan gaya-gaya kognitif tertentu.
Hubungan inteligensi sebagai bagian dari proses kognisi memiliki banyak definisi
yang

dipengaruhi

oleh latar

belakang

budaya.

Bagaimana

sutau

budaya

mendefinisikan apa yang disebut cerdas barangkali tidak sama dengan bagaimana
budaya lain mendefinisikan inteligensi. Oleh karena itu, pengukuran inteligensi
seharusnya disesuaikan dengan kemungkinan terjadinya bias budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.


Atkinson, Rita L. 1992. Pengantar Psikologi. Batam: Interaksara.
http://www.abualbanicentre.com/artikel/difinisi-ilusi#sthash.jviNnAdI.dpuf
http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-64903-Penelitian-LAPORAN
%20PRAKTIKUM%20ILUSI%20MULLERLYER%20.html

20