Anda di halaman 1dari 3

Falling Film Evaporator

Evaporator adalah alat yang banyak digunakan dalam industri kimia untuk
memekatkan suatu larutan. Pada proses fisik, evaporator memerlukan energi untuk
mengubah cair menjadi uap. Evaporator menggunakan proses penguapan untuk
menurunkan pelarut, evaporator membutuhkan panas dalam pengoperasiannya. salah satu
sumber panas untuk evaporator berasal dari uap air yang terbentuk dari boiler steam atau
buangan uap proses lain. Perbedaan macam-macam tipe evaporator berdasarkan prinsip
cara perpindahan panas yang diterapkan. Pada umumnya tipe evaporator ada tiga yaitu
rising film, falling film, dan forced circulation evaporator. Falling film evaporator
umumnya banyak digunakan dibanding rising film evaporator.
Falling film evaporator memiliki waktu tertahan yang pendek, dan menggunakan
gravitasi untuk mengalirkan liquida yang melalui pipa. Pada saat sekarang ini falling film
evaporator sangat meningkat penggunaanya di dalam proses industri kimia untuk
memekatkan fluida terutama fluida yang sensitif panas (misal sari buah dan susu), karena
waktu tertahan pendek, cairan tidak mengalami pemanasan berlebih selama mengalir
melalui evaporator. Laju perpindahan panas pada falling film evaporator dapat dinaikkan
dengan menurunkan suhu permukaan liquida yaitu dengan cara penghembusan udara
panas sehingga tekanan parsial uap akan turun. Hal ini menggantikan prinsip evaporasi
secara vakum yang memungkinkan penguapan pada suhu rendah.
Perlu diperhatikan dalam penerapan prinsip falling film evaporator adalah
mengatur agar seluruh permukaan evaporator terbasahi secara continue, dan film yang
dihasilkan mempunyai ketebalan yang seragam. Sehingga distributor umpan yang akan
dipakai harus didesain secara tepat. Berbagai cara distribusi umpan, dibuat untuk
menjamin keseragaman tebal film, antara lain memakai distributor tipe overflow weir,
peletakan evaporator harus benar-benar tegak.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mempelajari perpindahan panas dan
massa pada falling film evaporator, Palen, et al, (1994) mengadakan penelitian hubungan
antara perpindahan panas dan perpindahan massa, untuk campuran biner ethylene glicol
dengan propilene glicol, pada tekanan atmosfer. Penelitian ini menggunakan distribusi
film tipe plug melalui celah. Hewit, et al. (1993) memberikan persamaan koefisien
perpindahan panas pada aliran laminar halus, laminar bergelombang dan turbulen.
Lailatul, et al. (2000) mengadakan penelitian tentang pengaruh laju alir, dan konsentrasi
terhadap koefisien perpindahan panas untuk larutan gula. Penelitian ini dilakukan pada
tekanan atmosferik. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa koefisien perpindahan
panas tergantung pada laju alir dan konsentrasi larutan. Nugroho dan Priyono (1999)
mengadakan penelitian tentang perpindahan panas pada falling film evaporator pada
sistem larutan Gula-Udara dan hasil yang diperoleh koefisien perpindahan panas
tergantung pada laju alir umpan, konsentrasi larutan dan laju alir udara. Semakin besar

laju alir larutan semakin besar koefisien perpindahan panas, sebaliknya semakin pekat
konsentrasi larutan yang digunakan semakin rendah harga koefsien perpindahan
panasnya. Laju alir udara berpengaruh menurunkan titik jenuh larutan. Wahyudi dan
Anggoro (2001) mengadakan penelitian tentang permodelan fenomena perpindahan
panas dan massa pada falling film evaporator untuk sistem larutan NaOH-Udara. Dari
peneilitian diperoleh semakin besar laju alir liquid atau udara semakin besar perpindahan
panas, sebaliknya semakin pekat konsentrasi larutan semakin rendah perubahan
temperatur udara dan liquid.
Tujuan dari setiap proses evaporasi adalah menaikkan konsentrasi atau kadar
kepekatan suatu larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tak mudah menguap dari zat
pelarutnya yang relatif lebih mudah menguap. Penguapan beberapa porsi pelarut tersebut
akan memberikan produk yang berupa larutan pekat dan kental, sedangkan hasil
kondensasi uap pelarutnya bisa dibuang langsung sebagai limbah atau didaur ulang dan
digunakan lagi sebagai pelarut. Hal-hal ini yang membedakan proses evaporasi dengan
distilasi.
Falling Film Evaporator adalah metoda penguapan dengan cara menjatuhkan
bahan umpan membentuk lapisan tipis, sementara itu pemanas dikontakkan terhadap
umpan lapis tipis tersebut dalam suatu kolom FFE (kalandria). Pertimbangan dibuat
lapisan tipis adalah :
a. Luas permukaan lebih luas, sehingga memudahkan proses penguapan
b. Penguapan yang terjadi berada di bawah titik didih air atau pelarut lain sehingga
memerlukan kalor lebih sedikit.
Falling film Evaporator adalah salah satu jenis alat untuk proses evaporasi yang
diklasifikasikan dalam kelas long tube vertical evaporator (LTVE) bersama-sama dengan
climbing film evaporator (CFE). Sedangkan berdasarkan tipe pemanasan dapat
diklasifikasikan ke dalam sistem pemanasan dipisahkan oleh dinding pertukaran panas,
yaitu jenis kolom calandria shell and tube. FFE memiliki efektivitas yang baik untuk :
a. pengentalan larutan-larutan yang jernih
b. pengentalan larutan berbusa
c. pengentalan larutan-larutan yang korosif
d. beban penguapan yang tinggi
e. temperatur operasi yang rendah
Kinerja suatu evaporator ditentukan oleh beberapa factor lainnya :
a. Konsumsi uap
b. Steam ekonomi
c. Kadar kepekatan
d. Persentasi produk

Untuk tujuan teknik dan karakteristik evaporator yang perlu diperhatikan adalah :
a. Neraca massa dan energi
b. Koefisien perpindahan panas
c. Efisiensi
Proses pengaupan berlangsung pada kalandria shell and tube. Di dalam kalandria
tersebut terdapat tabung berjumlah tiga, umpan masuk didistribusi ke masing-masing
tube kemudian membentuk lapisan tipis pada selimut bagian dalam tube. Sementara
pemanas berada diluar tube, bahan umpan yang turun secara gravitasi menyerap panas
maka terjadi penguapan pelarut sehingga keluar dari kalandria terdiri dari dua fasa ( fasa
uap pelarut dan larutan pekat ) kemudia dipisahkan di separator.
Metode FFE sudah banyak digunakan pada industri :
1. Produksi pupuk organic
2. Proses desalinasi
3. Bubur kertas dan industri kertas
4. Bahan alami/larutan biologi
Kinerja suatu evaporator ditentukan oleh beberapa faktor antara lain :
5. Konsumsi uap
6. Ekonomi uap atau ratio penguapan
7. Kadar kepekatan, konsentrasi produk, dan distilat atau kondensat dari umpan
8. Persentase produk
Untuk tujuan teknik dan karakteristik evaporator yang perlu diperhatikan yaitu :
9. Neraca massa dan neraca energi
10. Koefisien perpindahan panas
11. Effisiensi
Pada dasarnya evaporator adalah alat dimana pertukaran panas terjadi. Laju perpindahan
panas dinyatakan dalam persamaan umum :
Q = U A dT
dengan U = koefisien keseluruhan perpindahan panas dalam sistem