Anda di halaman 1dari 39

Nama : Melinda Rachmadianty

NIM : 04054821517013
Email : melindarachmadianty@gmail.com
UJIAN KEPANITRAAN SUB-BAGIAN EPIDEMIOLOGI DAN
BIOSTATISTIK
SENIN, 14 MARET 2016

1. Soal untuk Case Control


1.1.
Tuliskan langkah case control study
a. Menetapkan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai
Pertanyaan penelitian dapat disusun hipotesis penelitian yang akan
diuji validitasnya secara empiris.
Pertanyaan penelitian sebagai berikut:
Apakah ada hubungannya antara hipertensi dengan usia?
Apakah ada hubungannya antara hipertensi dengan tingkat
pendidikan?
Apakah ada hubungannya antara hipertensi dengan pekerjaan?
Apakah ada hubungannya antara hipertensi dengan IMT?
Apakah ada hubungannya antara hipertensi dengan genetik
hipertensi?
Apakah ada hubungannya antara hipertensi dengan penggunaan
KB suntik?
Apakah ada hubungannya antara hipertensi dengan jumlah
paritas ibu ?
Faktor apa yang paling berpengaruh terhadap hipertensi pada ibu
usia subur?

b. Mendeskripsikan variabel penelitian; faktor resiko dan efek


- Faktor risiko

Instensitas pajanan faktor risiko dapat dinilai dengan cara


mengukur dosis, frekuensi atau lamanya pajanan. Ukuran pajanan
terhadap faktor risiko yang berhubungan dapat bersifat:
Dikotom, yaitu bila hanya terdapat dua kategori
Polikotom, yaitu pajanan yang diukur pada lebih dari dua
tingkat, mislanya tidak pernah, kadang-kadang, atau sering

terpajan
Kontinu, yaitu pajanan diukur dalam skala kontinu atau
numerik, misalnya umur dalam tahun, paritas, berat lahir

Efek
Untuk penyakit atau efek yang diagnosisnya mudah, maka
penentuan subyek yang mengalami atau tidak mengalami efek
tidak sukar ditentukan, beberapa penyakit tertentu telah tersedia
kriteria baku untuk diagnosis, akan tetapi tidak jarang kriteria
diagnosis yang telah baku perlu dilakukan modifikasi agar sesuai
dengan pertanyaan penelitian.

c. Menentukan subjek penelitian Menentukan populasi terjangkau dan


sampell (kasus, kontrol) dan cara untuk pemilihan subyek penor resiko
penelitian
1. Populasi penelitian
Dari populasi studi, dapat diambil sampel dan sampel yang
dihasilkan merupakan subjek yang diteliti kemudian hasil
penelitian dieksplorasi ke populasi studi.
2. Sampel penelitian
a. Kasus
Kelompok kasus adalah kelompok individu yang menderita
penyakit yang akan diteliti dan ikut dalam proses penelitian
sebagai subyek studi. Cara terbaik untuk memilih kasus adalah
dengan mengambil secara acak subyek dari populasi yang
menderita efek.
Kelompok kasus di dalam penelitian biasanya dipilih antara
populasi yang meminta perawatan medis terhadap penyakitnya.
Kasus yang baru, lebih baik karena penelitian terhadap subjek
yang telah menderita suatu penyakit dalam waktu yang lama

akan sulit untuk membedakan paparan tersebut ada sebelum


atau sesudah timbulnya penyakit, jadi sulit untuk membedakan
antara penyebab dan akibat.
b. Kontrol
Kelompok kontrol adalah kelompok individu yang sehat atau
tidak menderita penyakit, tetapi mempunyai peluang yang sama
dengan kelompok kasus karena terpajan oleh faktor risiko yang
diduga sebagai penyebab timbulnya penyakit.
Ada beberapa cara untuk memilih kontrol:
a. Memilih kasus dan kontrol dari populasi yang sama
b. Matching yaitu memilih kontrol dengan karakteristik yang
sama dengan kasus dalam semua variabel yang mungkin
berperan sebagai faktor risiko kecuali variabel yang diteliti.
c. Memilih lebih dari satu kelompok kontrol
d. Melakukan pengukuran variabel efek dan faktor risiko
e. Menganalisis hasil studi case control.
d. Melakukan pengukuran variabel efek dan faktor resiko dan analisis
data

1.2.

Buatlah kerangka desain penelitian dari data case control

tersebut
Populasi target
Sumber populasi

internal validit

sumber target populsi

selection bias

ada beberapa sampel

Eligible populasi
Kerangka sampel
keluar
Sampel dari populasi
Studi kasus
(Kelompok Hipertensi)

Kontrol
apakah hasil akurat?
(Kelompok Non Hipertensi

Trace back
Pengukuran

Pengukuran

akurat?
Paparan KB suntik

Paparan KB suntik

apakah paparan

Bias informasi

Faktor resiko + (A)


Kasus (ada penyakit)
Faktor resiko - (B)

Faktor resiko + (C)


Kontrol (tanpa penyakit)
Faktor (kasus)
resiko - (D) Faktor resiko (+/-)
Ibu usia subur dengan hipertensi
- Usia ibu
- Tingkat pendidikan ibu
- Pekerjaan ibu
Populasi
- IMT ibu
- Genetik hipertensi
Ibu usia subur tanpa hipertensi (kontrol)
- Penggunaan KB suntik
- Jumlah paritas
1.3.
Buatlah kerangka konsep dari data case control tersebut
KB suntik

Peningkatan Hormon Progesteron

Disfungsi Pembuluh Darah

Hipertensi

- Usia
- Tingkat pendidikan
- Pekerjaan
- IMT
- Genetik hipertensi
- Penggunaan KB suntik
- Jumlah paritas

1.4.
Buatlah hipotesis penelitian ini
H0 = Tidak ada hubungan antara penggunaan KB suntik dengan kejadian
hipertensi
H1 = Ada hubungan antara penggunaan KB suntik dengan kejadian
hipertensi
1.5.
Lakukan analisis deskriptif epidemiologi secara komprehensif
berupa

analisis

univariat

sehingga

mencapai

kesimpulan

deskriptif epidemiologi berupa interpretasi dan kumpulan


hipotesa
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan
persentase dari variabel independen (umur, IMT, pendidikan, genetik
hipertensi, dan KB suntik) dan variabel dependen (kejadian hipertensi).
Analisis univariate
1.5.1 Distribusi frekuensi kategori usia
Kategori usia
< 20 tahun
20 35 tahun
>35 tahun
Total
Pada penelitian ini didapatkan

1
0,3
203
55,2
164
44,6
368
100,0
data bahwa dari 368 orang subyek

penelitian, terdapat kelompok usia <20 tahun sebanyak 1 orang (0,3%), kelompok
usia 20-35 tahun sebanyak 203 orang (55,2%), dan kelompok umur >35 tahun
sebanyak 164 orang (44,6%). Dengan demikian, subyek pada penelitian ini paling
banyak adalah kelompok usia 20-35 tahun (55,2%).
1.5.2 Distribusi frekuensi kategori pendidikan
Pendidikan
Tidak sekolah
SD
SMP
SMA
D3

13
74
108
160
6

3,5
20,1
29,3
43,5
1,6

S1
Total

7
368

1,9
100,0

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa, dari 368 subyek penelitian,
pendidikan yang paling banyak dalam subyek penelitian adalah SMA sebanyak
160 orang (43,48%), dan yang paling sedikit menjadi subyek penelitian adalah
pendidikan D3 sebanyak 6 orang (1,63%).
1.5.3 Distribusi frekuensi pekerjaan
Pekerjaan
Iburumahtangga
Dagang
Buruh
Swasta
PNS
Total

246
77
6
19
20
368

66,8
20,9
1,6
5,2
5,4
100,0

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa, dari 368 subyek penelitian,
pekerjaan yang paling banyak dalam subyek penelitian adalah ibu rumah tangga
sebanyak 246 orang (66,85%), dan yang paling sedikit menjadi subyek penelitian
adalah yang bekerja sebagai buruh sebanyak 6 orang (1,63%).
1.5.4 Distribusi frekuensi IMT
IMT
Underweight
Healthy weight
Overweight
Heavily weight
Obese
Total

16
189
83
67
13
368

4,3
51,4
22,6
18,2
3,5
100

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa, dari 368 subyek penelitian,
mayoritas memiliki IMT dengan kategori Healthy weight yaitu sejumlah 189
orang (51,36%). Kategori IMT yang jumlahnya paling sedikit adalah yang
obesitas yaitu hanya 13 orang (3,5%) dari total subjek penelitian.

5. Distribusi Frekuensi Genetik Hipertensi


Genetik Hipertensi
Ya
Tidak
Total

204
164
368

55,4
44,6
100,0

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa, dari 368 subyek penelitian,
didapatan sampel yang memiliki genetik hipertensi sebanyak 204 orang (55,4%),
lebih banyak dibanding yang tidak memiliki genetik hiprtensi sebanyak 164 orang
(44,6%).
6. Distribusi Frekuensi Penggunaan KB suntik
Riwayat KB suntik
Ya
Tidak
Total

242
126
368

65,8
34,2
100,0

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa, dari 368 subyek penelitian,
didapatan sampel yang menggunakan KB suntik lebih banyak, yakni 242 orang
(65,8%) dibanding yang tidak menggunakan KB suntik sebanyak 126 orang
(34,2%).

7. Distribusi Frekuensi Tekanan Darah


Tekanan darah
Hipertensi
Normal

184
184

50,0
50,0

Total

368

100,0

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa, dari 368 subyek penelitian,
didapatan jumlah yang sama antara sampel memiliki tekanan darah tinggi
(hiperetensi) dan yang memiliki tekanan darah normal, yakni masing-masing 184
orang (50%).
8. Distribusi Frekuensi Paritas
Paritas
Primipara
Multipara
Grande multipara
Total

72
235
61
368

19,6
63,9
16,6
100,0

Pada penelitian ini didapatkan data bahwa, dari 368 subyek penelitian,
didapatan jumlah sampel yang termasuk kelompok multipara adalah yang paling
banyak, yakni 235 orang (53,9%), diikuti kelompok primipara sebanyak 72 orang
(19,6%) dan kelompok yang paling sedikit adalah grande multipara yakni
sebanyak 61 orang (16,6%).

1.6.

Lakukan analisa analitik epidemiologi berupa analisa faktor

causal dan hitunglah odd ratio dan confidence intervalnya


Analisa Bivariat
1.6.1 Hubungan KB Suntik dengan Hipertensi
Tensi

P
Value

KB
Suntik
Total

Ya
Tidak

Hipertensi
131
53

%
71,2
28,8

Normal
111
73

%
60,3
39,7

Total
242
126

%
65,8
34,2

184

100

184

100

368

100

Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variable


dependen (kejadian hipertensi). Uji Statistik menggunakan uji chi square. Hasil
analisa menunjukkan bahwa dari 184 responden hipertensi yang menggunakan
KB suntik sebanyak 71,2% lebih banyak daripada responden yang tidak
menggunakan KB sebanyak 28,8%. Hasil uji statistic dengan chi squre diperoleh
hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara penggunaan KB suntik dengan
kejadian hipertensi (p value = 0,037).
Odds Ratio
Odds Ratio =

Odds dari paparan kasus


odds dari paparan kontrol

ad
bc

9563
5883

= 1,62

Odds Ratio 1,62 berarti ibu yang menggunakan KB suntik 1,62 kali lebih
cenderung terkena hipertensi dari yang tidak menggunakan KB suntik.
Confidence Interval
Ukuran 95% confidence interval pada point estimasi dari OR
dapat dikalkulasikan menggunakan formulasi sebagai berikut :

VAR

95% CI 0f OR = (OR) exp () 1,96

Dimana VAR (In OR) =1/a + 1/b + 1/c + 1/d


LnOR = Transformasi natural log dari rasio odds
Exp(InOR) = OR
95% CI untuk hipertensi dalam hubungannya dengan KB suntik
VAR (In OR) = 1/a + 1/b + 1/c + 1/d

0,037

= 1/131 + 1/111 + 1/53 + 1/73 = 0,0368


= (1,84) Exp (+- 1,96 0,0368)
Batas bawah = (1,84) Exp (- 1,96 0,0368) = 1,26
Batas Atas

= (1,84) Exp (+ 1,96 0,0368) = 2,67

Kesimpulan: karena CI 95% >1, maka KB suntik bermakna sebagai faktor resiko
kejadian hipertensi.
1.6.2 Hubungan Kategori Usia dengan Hipertensi
Tensi

P
Value

Kategori
Usia

< 20 tahun
20 35 tahun
>35 tahun

Total

Hipertensi
1
99

%
0,3
53,8

Normal
0
104

%
0
56,5

Total
1
203

%
0,3
55,2

84
184

45,7
100

80
184

43,5
100

164
368

44,6
100

0,543

Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variable


dependen (kejadian hipertensi). Uji Statistik menggunakan uji chi square. Hasil
analisa menunjukkan bahwa dari 184 responden hipertensi yang berusia 20 35
tahun sebanyak 99 orang (53,8%) lebih banyak daripada responden yang berusia >
35 tahun dan < 20 tahun sebanyak 84 orang (45,7%) dan 1 orang (0,3%). Hasil uji
statistik dengan chi squre diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan yang
bermakna antara kategori usia dengan kejadian hipertensi (p value = 0,543).

1.6.3 Hubungan Kategori IMT dengan Hipertensi


Tensi

P
Value

Kategori
IMT

Underweight
Healthy

Hipertensi
6
89

%
3,3
48,4

Normal
10
100

%
5,4
54,3

Total
16
189

%
4,3
51,4

0,315

weight
Overweight
Heavily
overweight
Obese
Total

48
36

26,1
19,6

35
31

19,0
16,8

83
67

22,6
18,2

5
184

2,7
100

8
184

4,3
100

13
368

3,5
100

Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variable


dependen (kejadian hipertensi). Uji Statistik menggunakan uji chi square. Hasil
analisa menunjukkan bahwa dari 184 responden, paling banyak memiliki kategori
IMT healthy weight yaitu 89 orang (48,4%) dan yang paling sedikit berada pada
kategori obese sebanyak 5 orang (2,7 %). Hasil uji statistik dengan chi squre
diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kategori IMT
dengan kejadian hipertensi (p value = 0,543).
1.6.4 Hubungan Pendidikan dengan Kejadian Hipertensi
Tabel Hubungan Pendidikan dengan Kejadian Hipertensi
Variabel
Tingkat

Tidak

Pendidika

Sekolah
SD
SMP
SMA
D3
S1

Total

Hipertensi
Ya
%
8
4,3%
32
57
78
4
5
184

17,4%
31,0%
42,4%
2,2%
2,7%
100%

p value
Tidak
5
42
51
82
2
2
184

%
Total
2,7% 13

%
3,5%

22,8%
27,7%
44,6%
1,1%
1,1%
100%

20,1%
29,3%
43,5%
1,6%
1,9%
100%

74
108
160
6
7
368

0,489

Berdasarkan hasil analisis Bivariate, didapatkan hasil dari total 368 sujek,
yang terdiri atas 184 subjek kasus dan 184 subjek kontrol, didapatkan bahwa dari
184 subjek penelitian yang menderita hipertensi, peringkat teratas pendidikan
terbanyak yang dimiliki subjek adalah tingkat pendidikan SMA sebanyak 78
orang (42,4% dari total kasus), diikuti oleh SMP sebesar 57 orang (31,0%dari
total kasus), SD sebanyak 32 orang (17,4% total kasus), tidak sekolah sebanyak 8
orang (4,3% dari total kasus), S1 sebanyak 5 orang (2,7% total kasus), dan D3

sebanyak 4 orang (2,2% total kasus). Sedangkan hasil yang diperoleh dari 184
subjek penelitian yang tidak menderita hipertensi, diperoleh peringkat teratas
pendidikan terbanyak yang dimiliki subjek kontrol adalah tingkat pendidikan
SMA sebanyak 82 orang (44,6% dari total kontrol), diikuti oleh SMP sebesar 51
orang (27,7%dari total kontrol), SD sebanyak 42 orang (22,8% total kontrol),
tidak sekolah sebanyak 5 orang (2,7% dari total kontrol), S1 sebanyak 2 orang
(1,1% total kontrol), dan D3 sebanyak 2 orang (1,1% total kontrol).Hasil uji
statistik menggunakan uji chi square diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna antara pendidikan dan kejadian Hipertensi (p value = 0,489). Hasil
analisis dapat dilihat pada tabel yang telah disajikan di atas.
1.6.5 Hubungan Pekerjaan dengan Hipertensi
Tabel Hubungan Pekerjaan dengan Kejadian Hipertensi
Variabel
Pekerjaan

Ibu

Hipertensi
Ya
%
Tidak
118 64,1% 128

p value
%
Total
69,6% 246

%
66,8%

19,6%
1,6%
4,9%
4,3%
100%

20,9%
1,6%
5,2%
5,4%
100%

0,812

Rumah
Tanga
Dagang
Buruh
Swasta
PNS
Total

41
3
10
12
184

22,3%
1,6%
5,4%
6,5%
100%

36
3
9
8
184

77
6
19
20
368

Berdasarkan hasil analisis Bivariate, didapatkan hasil dari total 368 sujek,
yang terdiri atas 184 subjek kasus dan 184 subjek kontrol, didapatkan bahwa dari
184 subjek penelitian yang menderita hipertensi, peringkat teratas pekerjaan
terbanyak yang dimiliki subjek adalah ibu rumah tangga sebanyak 118 orang
(64,1% dari total kasus), diikuti olehdagang sebesar 41 orang (22,3%dari total
kasus), PNS sebanyak 12 orang (6,5% total kasus), swasta sebanyak 10 orang
(5,4% dari total kasus), dan buruh sebanyak 3 orang (1,6% total kasus).
Sedangkan hasil yang diperoleh dari 184 subjek penelitian yang tidak menderita
hipertensi, diperoleh peringkat teratas pekerjaan terbanyak yang dimiliki subjek

adalah ibu rumah tangga sebanyak 128 orang (69,6% dari total kontrol), diikuti
olehdagang sebesar 36 orang (19,6%dari total kontrol), swasta sebanyak 9 orang
(4,9 % dari total kontrol), PNS sebanyak 8 orang (4,3% total kontrol), dan buruh
sebanyak 3 orang (1,6% total kontrol). Hasil uji statistik menggunakan uji chi
square diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan
dan kejadian Hipertensi (p value = 0,812). Hasil analisis dapat dilihat pada tabel
yang telah disajikan di atas.

1.6.6 Hubungan Genetik Hipertensi dan Kejadian Hipertensi


Tabel hubungan Genetik Hipertensi dan Kejadian Hipertensi
Variabel

Genetik
Hipertensi
Total

Hipertensi

Ya
Tidak

Ya
104
80

Value
%
Tidak %
Total %
56,5% 100
54,3% 204
55,4% 0,753
43,5% 84
45,7% 164
44,6%

184

100%

184

100% 368

100%

Berdasarkan hasil analisis Bivariate, didapatkan hasil dari total 368 sujek,
yang terdiri atas 184 subjek kasus dan 184 subjek kontrol, didapatkan bahwa dari
184 subjek penelitian yang menderita hipertensi, sebanyak 104 subjek (56,5% dari
kasus) memiliki genetik hipertensi dan 80 orang subjek (43,5% dari kasus) tidak
memiliki genetik hipertensi. Sedangkan hasil yang diperoleh dari 184 subjek
penelitian yang tidak menderita hipertensi, didapatkan bahwa dari 184 subjek
penelitian yang tidak menderita hipertensi, sebanyak 100 subjek (54,3% dari
kontrol) memiliki genetik hipertensi dan 84 orang subjek (45,7% dari kontrol)
tidak memiliki genetik hipertensi. Hasil uji statistik menggunakan uji chi square
diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara genetik
hippertensi dan kejadian Hipertensi (p value = 0,753). Hasil analisis dapat dilihat
pada tabel yang telah disajikan di atas.
Analisa Odd Ratio

Odd Ratio =

Odss dari paparan kasus ad 8736


= =
=1,092
Odds dari paparan kontrol bc 8000

Dari hasil analisis didapatkan nilai OR genetik hipertensi (Ya/Tidak)


sebesar 1,092, yang berarti bahwa genetik hipertensi merupakan faktor risiko
(OR>1), yaitu subjek yang memiliki genetik hipertensi positif, memiliki
kemungkinan 1,092 kali terkena hipertensi dibandingkan yang tidak memiliki
genetik hipertensi.
Analisa Confidence Interval
95% CI of OR = (OR) exp () 1,96

ln
VAR

Dimana VAR(lnOR) = 1/a + 1/b + 1/c + 1/d


LnOr = transformasi natural log dari rasio odds
Exp(lnOR) = OR
95% CI untuk Tuberkulosis dalam hubungannya dengan Kontak Serumah:
VAR(lnOR)
= 1/a + 1/b + 1/c + 1/d
= 1/104 + 1/100 +1/80 + 1/84 = 0,0440
95% CI of OR = (1,092) exp ( 1,96 0,0440 )
Batas Bawah = (1,092) exp (- 1,96 0,0440 )= 0,7238
Batas Atas
= (1,092) exp (+ 1,96 0,0440 )= 1,6474

Kesimpulan: Karena CI 95% > 1, maka genetik hipertensi bermakna sebagai


faktor risiko kejadian tuberkulosis.
1.6.7

Hubungan Paritas Ibu dengan Kejadian Hipertensi


Tabel Hubungan Paritas Ibu dengan Kejadian Hipertensi

Variabel
Paritas
Ibu

Hipertensi
Ya
%
Tidak
Primipara 34
18,5%
38
Multipara 112 60,9% 123
Grande
38
20,7%
23

p value
%
Total
20,7% 72
66,8% 235
12,5% 61

%
19,6%
63,9%
16,6%

100%

100%

Multipara
Total

184

100%

184

368

0,109

Berdasarkan hasil analisis Bivariate, didapatkan hasil dari total 368


sujek, yang terdiri atas 184 subjek kasus dan 184 subjek kontrol,
didapatkan bahwa dari 184 subjek penelitian yang menderita hipertensi,
peringkat teratas paritas yang dimiliki subjek kasus adalah multipara
sebanyak 112 orang (60,9% dari total kasus), diikuti olehgrande
multipara38 orang (20,7%dari total kasus), dan primipara sebanyak 34
orang (18,5% total kasus). Sedangkan hasil yang diperoleh dari 184 subjek
penelitian yang tidak menderita hipertensi, diperoleh peringkat teratas
paritas dimiliki subjek kontrol adalah multipara sebanyak 123 orang
(66,8% dari total kontrol), diikuti olehprimipara 38 orang (20,7%dari total
kontrol), dan grande multipara sebanyak 23 orang (12,5 % dari total
kontrol). Hasil uji statistik menggunakan uji chi square diperoleh hasil
bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara paritas ibu dan kejadian
Hipertensi (p value = 0,109). Hasil analisis dapat dilihat pada tabel yang
telah disajikan di atas.
Analisa Multivariat
Seluruh variabel yang telah diuji pada analisis bivariat serta uji
beda rata-rata kemudian disertakan dalam analisis multivariat dengan
regresi logistik.Metode dan hasil lengkap regresi logistik dapat dilihat
pada output (Lampiran output SPSS). Dari hasil regresi logistik dapat
disimpulkan bahwa hanya variabel KB sutik yang tingkat pengaruhnya
terbesar terhadap kejadian hipertensi pada penelitian ini.
+ 1 x 1+ 2 x 2 ..+ ixi


1+ e
1
P(X) =

0,077+0,588 x kategori


1+e
1
P(X) =
0,077+0,588 x 1

1+e

1
P(X) =

P ( X ) =

P(X) =

1
(0,665)

1+ e

1
1+ 0,514

= 0,66
Artinya, Ibu yang menggunakan KB suntik memiliki probabilitas
untuk menderita hipertensi sebesar 66%, sisanya dipengaruhi oleh faktor
lain.

1.7.
Buatlah kesimpulan akhir analisis anda
1. Berdasarkan analisa univariat didapatkan dari seluruh responden,
persentase usia mayoritas adalah 20-35 tahun yaitu 55,2%, persentase
pendidikan mayoritas adalah SMA yaitu 43,5%, persentase pekerjaan
mayoritas adalah ibu rumah tangga yaitu 66,8%, persentase IMT mayoritas
adalah healthy weight yaitu 51,4%, persentase yang memiliki genetik
hipertensi yaitu 55,4%, persentse mayoritas adalah yang multipara yaitu
63,9%, persentase pengguna KB suntik 65,8%, dan persentase penderita
hipertensi adalah 50%.
2. Berdasarkan analisa bivariat, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara KB suntik dengan kejadian hipertensi, dilakukan uji statistik
menggunakan

chi

square.

Dari

184

responden

hipertensi

yang

menggunakan KB suntik sebanyak 131 responden (71,2%) lebih banyak


dibandingkan dengan responden yang

tidak menggunakan KB suntik

sebnyak 53 responden (28,8%). Hasil uji statistik diperoleh hasil terdapat


hubungan yang bermakna antara penggunaan KB suntik dengan kejadian
hipertensi dengan nilai p< 0,05 (0,037).
3. Berdasarkan analisa multivariat dengan regresi logistik, dapat disimpulkan
bahwa hanya variabel KB suntik yang tingkat pengaruhnya paling besar
terhadap kejadian hipertensi pada penelitian ini.

2. Soal untuk ekperimental


Perbandingan Efektifitas Obat Terbinafin dan Ketokonazol pada
Pengobatan Dermatitis Seboroik
2.1.

Buatlah kerangka desain penelitian dari data eksperimental


tersebut
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan
desain eksperimental pre dan post-test. Penelitian ini membagi subjek
menjadi 2 kelompok untuk menerima obat terbinafin atau obat
ketokonazol untuk pengobatan DS. Pengobatan dipakai selama waktu
tertentu kemudian dievaluasi menggunakan skor SASI-F dan

perubhan nilai fungsi hati yaitu SGOT dan SGPT. Subjek yang
memenuhi kriteria dan menandatangani persetujuan (informed
consent) setelah penjelasan diikutsertakan dalam penelitian ini.
Kriteria inklusi dan eksklusi ditentukan sesuai penelitian. Kriteria
efektivitas jika skor SASI-F menurun secara signifikan antara pre dan
post eksperimental. Efektivitas juga dinilai dengan adanya perubahan
fungsi hati yang signifikan, dimana obat yang memiliki efek samping
terendah pada pada perubahan kadar fungsi hati yang memiliki
efektivitas lebih baik

Pasien Dermatitis Seboroik

Memenuhi criteria inklusi & ekslusi

Tidak memenuhi kriteria inklusi & ekslusi

Menandatangani Informed Consent

Penatalaksanaan

gisian status penelitian, pemeriksaan fisik, penilaian skor SASI-F, Penilaian kadar fungsi hati (SGOT, SGPT)

Random Alokasi

Obat Terbunafin

Obat Kenokozol

atan lanjut: evaluasi pengobatan, dengan skor SASI-F dan Penilaian kadar fungsi hati (SGOT, SGPT)

Analisis Statistik

Hasil Penelitian

2.2.

Buatlah kerangka konsep dari studi eksperimental tersebut


Obat Ketokonazol

Obat Terbinafin
Usia
Jenis Kelamin
Sosial Ekonomi
Pekerjaan
Tipe Kulit
Riwayat
Tidak ada
perubahan fungsi
hati yang signifikan

Penurunan
skor SASI-F
Efektivitas

Sangat
baik

Baik

Efektivitas

Efektivitas

Kurang

Sangat
baik

Baik

Tidak ada
perubahan fungsi
hati yang signifikan

Penurunan
skor SASI-F

Kurang

Sangat
baik

Perbandingan
Efektivitas
Perbandingan Efektivitas

Baik

Efektivitas

Kurang

Sangat
baik

Baik

Kurang

2.3.
Ho:

Buatlah hipotesis penelitiannya


Tidak ada perbedaan efektifitas antara obat terbinafin dan ketokonazol pada

H1:

pengobatan Dermatitis Seboroik


Ada perbedaan efektifitas antara obat terbinafin dan ketokonazol pada
pengobatan Dermatitis Seboroik

2.4.

Lakukan analisis komprehensif sehingga mencapai kesimpulan dengan

pendekatan epidemiologi deskriptif dan analitik


1. Anilasi Deskriftif
a. Distribusi Frekuensi
Banyak kelas interval = 1 + 3,3
= 1 + 3,3
Statistics
Umur

Lebar

kelas

Valid

kelas interval

Missing

Tabel frekuensi
Kelompok Usia

90

Jumlah

log n
log 90
= 1 + 6,4
= 7,4
interval = range / banyak

Range

50

Minimum

13

Maximum

63

Persentasi

= 50 / 7,4
= 6,7
=7
Usia:

Persentasi
Kumulutaif

13-19

13

14.4 %

14.45%

20-26

10

11.1%

25.6%

27-33

21

23.3 %

48.9%

34-40

16

17.8 %

66.7%

41-47

13

14.4 %

81.1%

48-54

10

11.1 %

92.2%

55-61

4.4%

96.7%

62-68

3.3%

100.0%

Total

90

100.0%

Pada Kelompok usia, kelompok usia terbanyak adalah kelompok usia


27-33 tahun yaitu berjumlah 21 orang (23,3%), diikuti oleh kelompok usia 3440 tahun berjumlah 16 orang (17,8%), kelompok 41-47 tahun dan 13-19 tahun
berjumlah 13 orang (14,4%),

kelompok 20-26 tahun dan 48-54 tahun

berjumlah 10 orang (11,1%), kelompok usia 55-61 tahun berjumlah 4 orang


(4,4%). Sedangkan kelompok usia terendah adalah kelompok usia 62-68 tahun
yaitu berjumlah 3 orang (3,3%).

b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin

Jumlah

Persentasi

Persentasi
Kumultaif

Laki-laki

39

43.3%

43.3%

Perempuan

51

56.7%

100.0%

Total
90
100.0%
Pada kelompok jenis kelamin, perempuan lebih banyak dibandingkan
laki-laki yaitu sebanyak 51 orang (56,7%). Sedangkan laki-laki berjumlah 39
orang (43,3%) .
c. Sosial Ekonomi
Sosial Ekonomi
Rendah
Sedang
Tinggi
Total

Jumlah
54
27
9
90

Persentasi
Persentasi
Kumulatif
60.0%
60.0%
30.0%
90.0%
10.0%
100.0%
100.0%

Pada kelompok sosial ekonomi dari jumlah 90 orang terdapat


kelompok sosial ekonomi dari yang tertinggi sampai ke terendah yaitu, 54
orang (60%) dengan sosial ekonomi rendah, 27 orang (30%) dengan sosial
ekonomi sedang dan sisnya 9 orang (10%) dengan sosial ekonomi rendah.
d. Pekerjaan
Pekerjaan
Tidak
beker
ja
Buru
h
Wiras
wasta
PNS
Total

Jumlah

Perse
ntasi

Persentasi
Kumulatif

19

21.1%

21.1%

26

28.9%

50.0%

23

25.6%

75.6%

22

24.4%
100.0
%

100.0%

90

Pada kelompok pekerjaan dari jumlah 90 orang terdapat kelompok


pekerjaan terbanyak adalah 26 orang (28,9%) yang bekerja sebagai buruh, 23

orang (25,6%) yang bekerja sebagai wiraswasta, 22 orang (24,4%) yang


bekerja sebagai PNS, dan 19 orang (21,1%) yang tidak bekerja.
e. Tipe Kulit

Ke
rin
g
No
rm
al
Ber
mi
nya
k
Tot
al

Ju
ml
ah

Pers
enta
si

1.1
%

1.1%

10.0
%

11.1%

80

88.9
%

100.0%

90

100.
0%

Persentasi Kumulatif

Pada kelompok tipe kulit dari jumlah 90 orang terdapat kelompok tipe
kulit terbanyak adalah 80 orang (88,9%) yang memiliki kulit berminyak, 9
orang (10%) yang memiliki kulit normal, dan 1 orang (1,1%) yang memiliki
kulit kering.
f. Riwayat
Riwayat

Ti
da
k
ad
a
Ad
a
To
tal

Ju
ml
ah

Persen
tasi

Persentas
i
Kumulati
f

18

20.0%

20.0%

72

80.0%

100.0%

90

100.0
%

Pada kelompok riwayat dari jumlah 90 orang terdapat kelompok


riwayat terbanyak adalah 72 orang (80%) dengan riwayat dan sisanya 18
orang (20%) tanpa riwayat.

g. Skor SASI Pre


Dari skor SASI-F dikategorikan derajat berat ringan dermatitis
seboroik menjadi 3 yaitu DS ringan apabila skor < 14, DS sedang apabila skor
14-23, DS berat apabila skor > 23

Perlakuan
Ketokonazol
SASI PRE

DS RIngan

Count
% of Total

DS Sedang

Count
% of Total

DS Berat

Count
% of Total

Total

Count
% of Total

Terbinafin

Total

22

23

45

24.4%

25.6%

50.0%

11

17

6.7%

12.2%

18.9%

17

11

28

18.9%

12.2%

31.1%

45

45

90

50.0%

50.0%

100.0%

dari Hasil analisa SASI-F Pre-eksperimental didapatkan DS ringan


sebanyak 45 orang (50%), DS sedang sebanyak 17 orang (18,9%) dan DS
berat sebanyak 28 orang (31,1%).
h. Skor SASI Post

Skor SASI-F post-eksperimental yaitu Sangat Baik jika skor SASI-F 0;


Baik jika skor 0-1,5 dan Kurang jika skor >1,5. Angka kesembuhan adalah
jumlah pasien dengan skor SASI-F post-eksperimental 0-1,5.
Skor SASI post
Jumalah
sangatbaik

Persentais
Kumulatif

Persentasi
16

17.8

17.8

40

44.
4

62.2

kurang

34

37.8

100.0

Total

90

100.0

baik

Dari Hasil analisa SASI-F Post-eksperimental didapatkan hasil sangat


baik sebanyak 16 orang (17,8%), baik sebanyak 40 orang (44,4%) dan kurang
sebanyak 34 orang (37,8%).

i. Skor SGOT Pre

Perlakuan
Terb

SG

Cou

OT

nt

Pre

of

Total

Tota

l
Cou
nt

Ketok

inafi

onazol

45

50.0%

45

45

50.0
%

45

Total
90

100.0%

90

%
of
Tota

50.0%

50.0
%

100.0%

Sebelum diberikan perlakuan berupa pengobatan (ketokonazol dan


terbinafin), masing-masing kelompok sampel dilakukan pemeriksaan kadar
fungsi hati berupa SGOT. Pada kelompok pengobatan ketokonazol, semua
sampel berjumlah 45 orang (50%) memiliki nilai SGOT yang normal

(>35U/L). Demikian pula pada kelompok pengobatan terbinafin, semua


sampel yang berjumlah 45 orang (50%) memiliki nilai SGOT yang normal
(>35U/L).
j. SGOT Post
Perlakuan
Ketokonazol

Terbinafin

Total

45

45

90

50.0%

50.0%

100.0%

45

45

90

50.0%

50.0%

100.0%

Total

Setelah diberikan perlakuan berupa pengobatan (ketokonazol dan


terbinafin), masing-masing kelompok sampel dilakukan pemeriksaan kadar
fungsi hati berupa SGOT. Pada kelompok yang telah diberikan pengobatan
ketokonazol, semua sampel berjumlah 45 orang (50%) memiliki nilai SGOT
yang normal (>35U/L). Demikian pula pada kelompok yang telah diberikan
pengobatan terbinafin, semua sampel yang berjumlah 45 orang (50%)
memiliki nilai SGOT yang normal (>35U/L).

k. SGPT Pre
Perlakuan
Terb

SG

Cou

PT

nt

Pre

of

Tota

Total

Cou
nt

Ketok

inafi

To

onazol

tal

45

90

45

50.0%

45

50.0
%

45

10
0.0
%
90

%
of
Tota

50.0

50.0%

10
0.0
%

Sebelum diberikan perlakuan berupa pengobatan (ketokonazol dan


terbinafin), masing-masing kelompok sampel dilakukan pemeriksaan kadar
fungsi hati berupa SGPT. Pada kelompok pengobatan ketokonazol, semua
sampel berjumlah 45 orang (50%) memiliki nilai SGPT yang normal
(>36U/L). Demikian pula pada kelompok pengobatan terbinafin, semua
sampel yang berjumlah 45 orang (50%) memiliki nilai SGPT yang normal
(>36U/L).\
l. SGPT Post
Perlakuan
Terb

SGP

Cou

Tpo

nt

st

of

Tota

Total

Cou
nt

Ketok

inafi

To

onazol

tal

45

90

45

50.0%

45

50.0
%

45

%
of
Tota

50.0%

50.0
%

10
0.0
%

90

10
0.0
%

Setelah diberikan perlakuan berupa pengobatan (ketokonazol dan


terbinafin), masing-masing kelompok sampel dilakukan pemeriksaan kadar
fungsi hati berupa SGPT. Pada kelompok yang telah diberikan pengobatan
ketokonazol, semua sampel berjumlah 45 orang (50%) memiliki nilai SGOT
yang normal (>36U/L). Demikian pula pada kelompok yang telah diberikan
pengobatan terbinafin, semua sampel yang berjumlah 45 orang (50%)
memiliki nilai SGPT yang normal (>36U/L).

2. Analisa Bivariat
1. Hubungan antara Sosial Ekonomi dengan Skor SASI-F Pre-eksperimental pada
kelompok Ketokonazol dan Kelompok Terbinafin
KETOKONAZOLE
Descriptives

95% Confidence Interval for Mean


N

Mean

Std. Deviation

Std. Error

Lower Bound

Upper Bound

Minimum

Maximum

Rendah

31

15.9355

8.21456

1.47538

12.9224

18.9486

3.00

27.00

Sedang

10

15.8500

7.69578

2.43362

10.3448

21.3552

6.00

24.00

Tinggi

10.6250

9.06803

4.53401

-3.8043

25.0543

4.00

24.00

Total

45

15.4444

8.12699

1.21150

13.0028

17.8861

3.00

27.00

ANOVA
Skor SASI Pre
Sum of Squares
Between Groups

df

Mean Square

102.028

51.014

Within Groups

2804.083

42

66.764

Total

2906.111

44

Sig.
.764

.472

TERBINAFIN
Descriptives

95% Confidence Interval for


Std.
N

Mean

Std. Deviation

Error

Mean
Lower Bound

Maximu

Upper Bound

Minimum

Rendah

23

12.4565

6.84722

1.42774

9.4956

15.4175

2.50

25.50

Sedang

17

16.0588

8.95803

2.17264

11.4530

20.6646

3.00

25.50

Tinggi

15.0000

7.90569

3.53553

5.1838

24.8162

7.00

24.00

Total

45

14.1000

7.82885

1.16706

11.7480

16.4520

2.50

25.50

ANOVA

Sum of Squares
Between Groups

df

Mean Square

131.402

65.701

Within Groups

2565.398

42

61.081

Total

2696.800

44

Sig.

1.076

.350

Analisi bivariate antara social ekonomi dengan skor SASI-F Pre-eksperimental


dilakukan menggunakan one-way anova. Pada penelitian ini, social ekonomi tidak
mempengaruhi Skor SASI-F pre eksperimental baik pada kelompok Ketokonazol maupun
pada kelompok Terbinafin, dengan nilai p tiap kelompok secara berturut-turut adalah
0,472 Dan 0.350 (tidak bermakna jika p> 0.05). Perbandingan nilai rerata skor SASI-F
Pre-eksperimental pada tiap kolompok social ekonomi dapat dilihat pada tabel.

2. Hubungan antara Usia dengan Skor SASI-F Pre-Eksperimental pada kelompok


Ketokonazol dan Kelompok Terbinafin
KETOKONAZOLE
Descriptives
Skor SASI Pre
95% Confidence Interval for Mean
N

Mean

Std. Deviation

Std. Error

Lower Bound

Upper Bound

Minimum

Maximum

13 -19 tahun

20.3333

9.86577

5.69600

-4.1746

44.8413

9.00

27.00

20 -26 tahun

10.0000

1.35401

.67700

7.8455

12.1545

9.00

12.00

27 - 33 tahun

12

18.2917

7.75024

2.23730

13.3674

23.2159

6.50

25.50

34-40 tahun

19.0000

7.60169

2.68760

12.6448

25.3552

8.00

25.50

41-47 tahun

12.0556

7.94687

2.64896

5.9470

18.1641

3.50

24.00

48-54 tahun

10.6000

6.98570

3.12410

1.9261

19.2739

3.00

19.00

55-61 tahun

17.0000

9.89949

7.00000

-71.9434

105.9434

10.00

24.00

62-68 tahun

13.5000

14.84924

10.50000

-119.9151

146.9151

3.00

24.00

45

15.4444

8.12699

1.21150

13.0028

17.8861

3.00

27.00

Total

ANOVA
Skor SASI Pre
Sum of Squares
Between Groups

df

Mean Square

621.793

88.828

Within Groups

2284.318

37

61.738

Total

2906.111

44

TERBINAFIN
Descriptives
Skor SASI Pre

F
1.439

Sig.
.220

95% Confidence Interval for Mean


N

Mean

Std. Deviation

Std. Error

Lower Bound

Upper Bound

Minimum

Maximum

13 -19 tahun

10

12.9500

7.76191

2.45453

7.3975

18.5025

2.50

25.00

20 -26 tahun

9.9167

8.42862

3.44097

1.0714

18.7620

3.00

24.00

27 - 33 tahun

15.0000

8.09707

2.69902

8.7760

21.2240

4.00

25.50

34-40 tahun

14.6875

8.00418

2.82991

7.9958

21.3792

5.00

25.00

41-47 tahun

10.8750

9.36638

4.68319

-4.0290

25.7790

3.00

24.00

48-54 tahun

16.3000

5.51815

2.46779

9.4483

23.1517

10.00

24.00

55-61 tahun

22.0000

4.94975

3.50000

-22.4717

66.4717

18.50

25.50

62-68 tahun

24.0000

24.00

24.00

45

14.1000

7.82885

1.16706

11.7480

16.4520

2.50

25.50

Total

ANOVA
Skor SASI Pre
Sum of Squares
Between Groups

df

Mean Square

416.910

59.559

Within Groups

2279.890

37

61.619

Total

2696.800

44

Sig.
.967

.470

Pada penelitian ini, kelompok usia tidak mempengaruhi Skor SASI-F pre
eksperimental baik pada kelompok Ketokonazol maupun pada kelompok Terbinafin,
dengan nilai p tiap kelompok secara berturut-turut adalah 0.220 Dan 0.470 (tidak
bermakna jika p> 0.05). Perbandingan nilai rerata skor SASI-F pre-eksperimental
pada tiap kolompok usia dapat dilihat pada tabel.
3. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Skor SASI-F Pre-eksperimental pada
kelompok Ketokonazol dan Kelompok Terbinafin
KETOKONAZOLE
Group Statistics
Jenis Kelamin
Skor SASI Pre

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

Laki-laki

17

15.5882

8.32585

2.01932

Perempuan

28

15.3571

8.15686

1.54150

Independent Samples Test


Levene's Test
for Equality of
Variances

t-test for Equality of Means

95% Confidence
Interval of the
Difference

F
Skor SASI Pre

Sig.

df

Sig. (2-

Mean

Std. Error

tailed)

Difference

Difference

Lower

Upper

Equal
variances

.012

.914

.091

43

.928

.23109

2.52745

-4.86599 5.32818

.091 33.367

.928

.23109

2.54045

-4.93533 5.39751

assumed
Equal
variances not
assumed

TERBINAFIN
Group Statistics
Jenis Kelamin
Skor SASI Pre

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

Laki-laki

22

12.0227

7.85657

1.67503

Perempuan

23

16.0870

7.43097

1.54947

Independent Samples Test


Levene's Test for
Equality of Variances

F
Skor SASI Pre

Sig.

Equal
variances
assumed

.420

.520

t-test for Equality of Means

df
-

1.783

Std.

95% Confidence

Mean

Error

Interval of the

Sig. (2-

Differen

Differenc

Difference

tailed)

ce

43

.082

42.565

.082

4.06423

Lower

Upper

2.27890

-8.66007 .53162

2.28179

-8.66725 .53879

Equal
variances
not

1.781

4.06423

assumed

Analisis bivariate antara jenis kelamin dengan skor SASI-F Pre-eksperimental


dilakukan menggunakan student t test. Pada penelitian ini, jenis kelamin tidak
mempengaruhi Skor SASI-F post eksperimental baik pada kelompok Ketokonazol
maupun pada kelompok Terbinafin, dengan nilai p tiap kelompok secara berturut-turut
adalah 0.928 Dan 0.082 (tidak bermakna jika p> 0.05). Perbandingan nilai rerata skor
SASI-F Pre-eksperimental pada tiap kolompok jenis kelamin dapat dilihat pada tabel.

4. Hubungan antara Pekerjaan dengan Skor SASI-F Pre-eksperimental pada


kelompok Ketokonazol dan Kelompok Terbinafin
KETOKONAZOLE
Descriptives
Skor SASI Pre
95% Confidence Interval for Mean
N

Mean

Std. Deviation

Std. Error

Lower Bound

Upper Bound

Minimum

Maximum

Tidak bekerja

10

17.3500

8.86018

2.80183

11.0118

23.6882

3.00

27.00

Buruh

15

15.9000

7.47185

1.92922

11.7622

20.0378

7.00

25.50

Wiraswasta

11

13.6818

8.68410

2.61836

7.8478

19.5159

3.00

24.00

PNS

14.7222

8.55538

2.85179

8.1460

21.2985

4.00

24.00

Total

45

15.4444

8.12699

1.21150

13.0028

17.8861

3.00

27.00

ANOVA
Skor SASI Pre
Sum of Squares
Between Groups

df

Mean Square

78.294

26.098

Within Groups

2827.817

41

68.971

Total

2906.111

44

Sig.
.378

.769

TERBINAFIN
Descriptives
Skor SASI Pre
95% Confidence Interval for Mean
N
Tidak bekerja

Mean

Std. Deviation

Std. Error

Lower Bound

Upper Bound

Minimum

12.5556

4.97773

1.65924

8.7293

16.3818

5.50

Buruh

11

11.2273

6.93673

2.09150

6.5671

15.8874

2.50

Wiraswasta

12

15.2083

8.88937

2.56614

9.5603

20.8564

3.00

PNS

13

16.5769

8.85731

2.45658

11.2245

21.9293

3.00

Total

45

14.1000

7.82885

1.16706

11.7480

16.4520

2.50

ANOVA
Skor SASI Pre
Sum of Squares
Between Groups

df

Mean Square

206.744

68.915

Within Groups

2490.056

41

60.733

Total

2696.800

44

F
1.135

Sig.
.346

Analisi bivariate antara pekerjaan dengan skor SASI-F Pre-eksperimental


dilakukan menggunakan one-way anova. Pada penelitian ini, pekerjaan

tidak

mempengaruhi Skor SASI-F pre eksperimental baik pada kelompok Ketokonazol


maupun pada kelompok Terbinafin, dengan nilai p tiap kelompok secara berturut-turut
adalah 0.769 Dan 0.346 (tidak bermakna jika p> 0.05). Perbandingan nilai rerata skor
SASI-F Pre-eksperimental pada tiap kolompok pekerjaan dapat dilihat pada tabel.

5. Hubungan antara Tipe Kulit dengan Skor SASI-F Pre-eksperimental pada


kelompok Ketokonazol dan Kelompok Terbinafin
KETOKONAZOLE
Descriptives
Skor SASI Pre
95% Confidence Interval for Mean
N
Normal

Mean

Std. Deviation

Std. Error

Lower Bound

Upper Bound

Minimum

Maximum

16.1000

8.12712

3.63456

6.0089

26.1911

7.00

25.00

Berminyak

40

15.3625

8.22674

1.30076

12.7315

17.9935

3.00

27.00

Total

45

15.4444

8.12699

1.21150

13.0028

17.8861

3.00

27.00

ANOVA
Skor SASI Pre
Sum of Squares
Between Groups

df

Mean Square

2.417

2.417

Within Groups

2903.694

43

67.528

Total

2906.111

44

Sig.
.036

.851

TERBINAFIN
Descriptives
Skor SASI Pre
95% Confidence Interval for Mean
N

Mean

Std. Deviation

Std. Error

Lower Bound

Upper Bound

Minimum

Kering

24.0000

24.00

Normal

15.1250

11.06327

5.53163

-2.4791

32.7291

3.00

Berminyak

40

13.7500

7.54899

1.19360

11.3357

16.1643

2.50

Total

45

14.1000

7.82885

1.16706

11.7480

16.4520

2.50

ANOVA
Skor SASI Pre
Sum of Squares

df

Mean Square

Sig.

Between Groups

107.113

53.556

Within Groups

2589.688

42

61.659

Total

2696.800

44

.869

.427

Analisi bivariate antara tipe kulit dengan skor SASI-F Pre-eksperimental


dilakukan menggunakan one-way anova. Pada penelitian ini, tipe kulit tidak
mempengaruhi Skor SASI-F pre eksperimental baik pada kelompok Ketokonazol
maupun pada kelompok Terbinafin, dengan nilai p tiap kelompok secara berturut-turut
adalah 0.851 Dan 0.427 (tidak bermakna jika p> 0.05). Perbandingan nilai rerata skor
SASI-F Pre-eksperimental pada tiap kolompok tipe kulit dapat dilihat pada tabel.
6. Hubungan antara Riwayat dengan Skor SASI-F Pre-eksperimental pada
kelompok Ketokonazol dan Kelompok Terbinafin
KETOKONAZOLE
Group Statistics
Riwayat
Skor SASI Pre

Tidak ada
Ada

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

14.6667

7.36659

3.00740

39

15.5641

8.32022

1.33230

Independent Samples Test


Levene's Test
for Equality of
Variances

t-test for Equality of Means


95% Confidence Interval of

F
Skor SASI Pre

Sig.

df

Sig. (2-

Mean

Std. Error

tailed)

Difference

Difference

the Difference
Lower

Upper

Equal
variances

1.030

.316

-.249

43

.804

-.89744

3.60253

-8.16262

6.36775

-.273

7.119

.793

-.89744

3.28930

-8.64909

6.85422

assumed
Equal
variances
not
assumed

TERBINAFIN
Group Statistics
Riwayat

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

Skor SASI Pre

Tidak ada

12

9.9167

7.27647

2.10054

Ada

33

15.6212

7.55814

1.31570

Independent Samples Test


Levene's Test for
Equality of
Variances

t-test for Equality of Means


95% Confidence Interval

Mean
F
Skor SASI Pre

Equal variances
assumed

Sig.

.472

.496

df

-2.260

Equal variances
not assumed

Sig. (2-

Differenc

Std. Error

tailed)

Difference

of the Difference
Lower

Upper

43

.029

-5.70455

2.52390

-10.79447

-.61462

-2.302 20.253

.032

-5.70455

2.47857

-10.87062

-.53847

Analisi bivariate antara riwayat dengan skor SASI-F Pre-eksperimental


dilakukan menggunakan one-way anova. Pada penelitian ini, riwayat

tidak

mempengaruhi Skor SASI-F pre eksperimental pada kelompok Ketokonazol tetapi


mempengaruhi Skor SASI-F pre eksperimental pada kelompok Terbinafin dengan
nilai p tiap kelompok secara berturut-turut adalah 0.804 Dan 0.029 (tidak bermakna
jika p> 0.05). Perbandingan nilai rerata skor SASI-F Pre-eksperimental pada tiap
kolompok riwayat dapat dilihat pada tabel.

7. Perbandingan Rerata Skor SASI-F Post-eksperimental dan Pre-eksperimental


Kelompok Ketokonazol

Paired Samples Statistics


Mean
Pair 1

Skor SASI Pre


Skor SASI Post

Std. Deviation

Std. Error Mean

15.4444

45

8.12699

1.21150

2.0111

45

1.52810

.22780

Paired Samples Correlations


N
Pair 1

Skor SASI Pre & Skor SASI


Post

Correlation
45

Sig.

.700

.000

Paired Samples Test


Paired Differences

df

Sig. (2-tailed)

95% Confidence
Interval of the

Mean
Pair 1

Std.

Std. Error

Deviation

Mean

Difference
Lower

Upper

Skor
SASI
Pre -

13.4333

Skor

7.14111

1.06453

11.28791

15.57876

12.619

44

SASI
Post

Penilaian skor total SASI-F Post-eksperimental pada kelompok ketokonazol


mendapatkan penurunan Yaitu 2.0111 1.528 Dari 15.444 8.12 skor total SASI-F
pre-eksperimental. Analisis menggunakan uji t, perbedaan tersebut didapatkan
bermakna (p= 0.000). Hasil Statistik perbedaan skor SASI-F post-eksperimental
dibandingkan dengan skor SASI-F Pre-eksperimental pada kelompok Ketokonazol,
disajikan dalam tabel.

8. Perbandingan Rerata Skor SASI-F Post-eksperimental dan Pre-eksperimental


Kelompok Terbinafin
Paired Samples Statistics
Mean
Pair 1

Std. Deviation

Std. Error Mean

Skor SASI Pre

14.1000

45

7.82885

1.16706

Skor SASI Post

1.5333

45

1.13016

.16848

Paired Samples Correlations


N
Pair 1

Skor SASI Pre & Skor SASI


Post

Correlation
45

.580

Sig.
.000

Paired Samples Test


Paired Differences

df

.000

95% Confidence
Interval of the

Mean
Pair 1

Skor SASI Pre Skor SASI Post

12.56667

Std.

Std. Error

Deviation

Mean

7.23203

Difference
Lower

Sig. (2-

Upper

1.07809 10.39392 14.73941

tailed)
11.656

44

Penilaian skor total SASI-F Post-eksperimental pada kelompok terbinafin


mendapatkan penurunan Yaitu 1.533 1.13 Dari 14.1 7.8 skor total SASI-F preeksperimental. Analisis menggunakan uji t, perbedaan tersebut didapatkan bermakna
(p= 0.000). Hasil Statistik perbedaan skor SASI-F post-eksperimental dibandingkan
dengan skor SASI-F Pre-eksperimental pada kelompok terbinafin, disajikan dalam
tabel.

2.5.

Buatlah analisis Evidence Based Medicine (EBM) dengan menghasilkan


ukuran sebagai berikut :
Nama Obat

Ya

Tidak

Jumlah

Terbinafin

45

45

Ketokonazol

45

45

a. Eksperimental Event Rate (EER)


Experimental event rate (EER)
= 45 / 45+0 = 1
Menunjukkan penurunan kejadian penyakit pada kelompok obat Terbinafin
b. Control Event Rate (CER)
Control event rate (CER)
= 45 / 45+0 = 1
Menunjukkan penurunan kejadian penyakit pada kelompok obat Ketokonazole
c. Absolure Risk Reduction (ARR)
Absolute Risk Reduction (ARR) = CER-EER

= 1 1= 0

d. Relative Risk Reduction (RRR)


Relative Risk Reduction (RRR) = CER-EER/CER = 1-1 / 1 = 0

.000

RRR menunjukkan berapa persen obat Experimental dapat menurunkan


kegagalan terapi,artinya obat Terbinafin dapat menurunkan kegagalan
sebanyak 0%
e. Number Neede to Treat (NNT)
Number Needed to Treat (NNT) = 1/ARR = 1 / 0 = ~
Artinya diperlukan sebanyak ~ orang yang diberi Terbinafin untuk dapat
menghindarkan 1 orang dari kejadian Dermatitis Seboroik
f. RR
Relative Risk (RR) = EER/CER
=1/1=1
Menunjukkan berapa persen obat Terbinafin meningkatkan risiko memperoleh
efek samping, yaitu sebesar 1%.

3. Soal untuk Cross sectional/survey


3.1.
Buatlah kerangka desain penelitian dari data cross sectional tersebut
3.2.

Buatlah kerangka konsep dari data cross sectional tersebut

3.3.

Buatlah hipotesis penelitian ini

3.4.

Lakukan

analisis

komprehensif

dengan

pendekatan

deskriptif dan analitik sehingga mencapai kesimpulan

epidemiologi

3.5.

Buatlah kesimpulan akhir studi tersebut