Anda di halaman 1dari 2

PEMERINTAH KABUPATEN BONE

DINAS KESEHATAN

UPTD PUSKESMAS CENRANA


Alamat : Jln. KH.Zainuddin No.

Kel.Cenrana Telp. 0481-2912442

KERANGKA ACUAN KEGIATAN PENATAKSANAAN PENYAKIT


DEMAM BERDARAH DENGUE ( DBD )
I.

Pendahuluan
Latar Belakang
Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini
mengakibatkan sejumlah rumah sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien
DBD. Untuk mengatasinya pihak rumah sakit menambah tempat tidur di lorong-lorong
rumah sakit serta merekrut tenaga medis dan paramedis. Merebaknya kembali kasus
DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini
terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan
sebagian lagi menganggap karena pemerintah lambat dalam mengantisipasi dan
merespon kasus ini.
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah
penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir
di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000
meter di atas permukaan air laut.
Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau
tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa
bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Pasien DBD sering menunjukkan
gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus
tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus.
Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi
virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan
klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang
(laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.
Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968,
akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit
tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di
Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali
ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah
maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap
tahun.
Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit,
disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman
baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk,
terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel
tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun. Sedangkan nyamuk Aedes aegypti masih
tersebar luas di pelosok tanah air kecuali di ketinggian > 1000 meter dari permukaan
laut, masih banyak di ketemuinya jentik di rumah, sekolah, tempat-tempat umum,
sedangkan pengetahuan sikap perilaku terhadap DBD.

II.

Tujuan
A. Tujuan Umum
meningkatkan kesadaran, kemauan hidup sehat bagi setiap masyarakat agar
terhindar dari penyakit DBD melalui terciptanya masyarakat yang hidup dengan
perilaku dan lingkungan yang sehat terbatas dari penyakit DBD, serta memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata.
B. Tujuan khusus
Kewaspadaan dini terhadap penyakit DBD dengan melaksanakan surveilans vektor
guna mencegah dan membatasi agar tidak terjadi KLB/wabah serta memutus

matarantai penularan demam berdarah


III. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan
A. Tahap persiapan ( kewaspadaan dini )
1. Pelacakan kasus
2. Survei jentik
3. Penyuluhan
B. Tahap pelaksanaan ( Penanggulangan KLB )
1. Fogging
2. Abatenisasi
3. Monitoring dan Evaluasi
IV. Strategi
Karena titik berat program pemberantasan penyakit DBD adalah penggerakan
masyarakat melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD meliputi:
A. Menyelanggarakan penyuluhan kepada masyarakat agar mampu secara mandiri mencegah
penyakit DBD.
B. Melakukan tindakan kewaspadaan dini kasus/KLB-DBD.
C. Melaksanakan pengobatan/pertolongan penderita DBD di Puskesmas.
D. Menanggulangi secepatnya KLB-DBD agar penyebaran dapat dibatasi.
V. Sasaran
Sasaran adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cenrana
kecamatan Cenrana yang mempunyai faktor resiko tinggi terhadap penyebaran
penyakit Demam Berdarah Dengue.
VI.

Waktu Pelaksanaan
Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cenrana
kecamatan Cenrana selama 2 Bulan ( April-Mei ) 2016.

VII.

Evaluasi pelaksanaa kegiatan dan pelaporan


Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan
VIII.

Pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan


Evaluasi dilakukan secara bertahap. Evaluasi hasil kegiatan berupa:
A. jumlah penderita DBD yang diberikan pengobatan dan penyuluhan di desa-desa
resiko tinggi.
B. Jumlah desa yang difogging.
C. Masalah pendistribusian bubuk abate.
D. Masalah-masalah lain.