Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang

Saat ini kita hidup di lingkungan yang sudah banyak tercemar. Kegiatan industri dan kendaraan bermotor membuat polusi udara, ditambah lagi dengan berbagai bahan kimia yang terdapat dalam makanan maupun benda di sekitar kita. Hal-hal tersebut dapat menjadi pemicu terjadinya gangguan kesehatan, terutama bagi orang-orang yang sensitif. Banyak penyakit yang tidak hanya berasal dari virus, namun karena seseorang dikategorikan sangat rentan terhadap beberapa jenis benda alias alergi.

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam maupun di luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terakhir. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara menunjukkan penyakit alergi adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai asma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit), dan penderita Hay Fever lebih dari 9 juta orang.

Di Indonesia sendiri, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Heru Sundaru dari RSCM/FKUI menunjukkan bahwa angka penderita asma di Indonesia mencapai 8,2%, alergi hidung 17,5%, dan eksim 2,5-4%. Semua ini disebabkan oleh alergi yang penyebabnya dapat bermacam-macam, seperti faktor genetik, pola hidup, dan lingkungan.

  • 1.2 Tujuan

Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan alergi, mulai dari pengertian, penyebab,

gejala, sampai pengobatan alergi secara umum. Mempelajari sebab-sebab terjadinya hipersensivitas makanan pada tubuh , gejalanya,

langkah-langkah pencegahannya, dan cara pengobatannya.

  • 2.1 Pengertian alergi

BAB II

ISI

Alergi ialah reaksi imunologis berlebihan dalam tubuh yang timbul segera atau dalam rentang waktu tertentu setelah eksposisi atau kontak dengan zat yang tertentu (alergen). Ketika sebuah substansi tak dikenal masuk, tubuh serta merta akan meningkatkan daya imunitasnya untuk bekerja lebih giat. Normalnya, sistem kekebalan tubuh akan memproteksi tubuh dari daya rusak yang dilakukan benda asing tersebut. Akan tetapi, jika tubuh melakukan reaksi yang berlebihan atas substansi pelemah tersebut, terjadi hipersensitifitas. Reaksi abnormal terhadap zat asing bisa menyebabkan berbagai macam reaksi dari gatal- gatal minor hingga kematian. Contoh alergi termasuk :

Hay fever

: alergi hidung

Asma

: alergi paru-paru

Eksim

: alergi kulit

Kaligata

: alergi kulit

Alergi makanan

: alergi usus

Konjungtivitis

: alergi mata

Sifat-sifat alergi :

  • a. Pencetus suatu alergi disebut alergen. Debu, pollen, tumbuh-tumbuhan tertentu, obat- obatan, jenis makanan spesifik, bulu serangga, virus, atau bakteri tergolong dalam hal ini.

  • b. Reaksi yang terjadi bisa timbul di satu titik, seperti di kulit, bulu mata, atau mungkin

juga di sekujur tubuh.

  • c. Biasanya timbul satu atau beberapa gejala pengiring yang mengikuti reaksi alergi.

  • 2.2 Alergen

Menurut ilmu imunologi, alergen adalah senyawa yang dapat menginduksi imunoglobulin E (IgE) melalui paparan berupa inhalasi (dihirup), ingesti (proses menelan), kontak, ataupun injeksi. Respon tubuh terhadap suatu alergen terjadi melalui proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sifat inang, lingkungan, dan sifat fisik dari alergen. Sebagian besar alergen merupakan protein yang dapat merangsang respon imun

tubuh melalui reaksi enzimatik atau aktivasi reseptor pada sel epitelium mukosa secara langsung.

  • a. Alergen inhalatif atau alergen yang masuk melalui saluran pernafasan. Contohnya: serbuk sari tumbuh-tumbuhan (rumput, macam-macam pohon, dsb), spora jamur (aspergillus, cladosporium, penicillium, alternaria dsb), debu atau bubuk bahan-bahan kimia atau dari jenis padi-padian/gandum-ganduman (gandum, gandum hitam dsb), uap formalin dll.

  • b. Alergen ingestif atau alergen yang masuk melalui saluran pencernaan: susu, putih telur, ikan laut atau ikan air tawar, udang, makanan asal tumbuhan (kacang-kacangan, arbei, madu dsb), obat-obat telan.

  • c. Alergen kontak atau alergen yang menimbulkan reaksi waktu bersentuhan dengan kulit atau selaput lendir: zat-zat kimia, zat-zat sintetik (plastik, obat-obatan, bahan desinfeksi dll), bahan-bahan yang berasal dari hewan (sutera, woll dll) atau dari tumbuh-tumbuhan (jamur, getah atau damar dsb).

  • d. Alergen yang memasuki tubuh melalui suntikan atau sengatan: obat-obatan, vaksin, racun atau bisa dari serangga seperti lebah atau semut merah).

  • e. Implant dari bahan sintetik atau logam (tertentu), bahan-bahan yang digunakan dokter gigi untuk mengisi lubang di gigi.

  • f. Autoalergen ialah zat dari organisme itu sendiri yang keluar dari sel-sel yang rusak atau pada proses nekrosa jaringan akibat infeksi atau reaksi toksik/keracunan.

2.3 Antibodi

Antibodi (bahasa Inggris: antibody, gamma globulin) adalah glikoprotein dengan struktur tertentu yang disekresi dari pencerap limfosit-B yang telah teraktivasi menjadi sel plasma, sebagai respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap antigen tersebut. Sistem imunitas manusia ditentukan oleh kemampuan tubuh untuk memproduksi antibodi untuk melawan antigen. Antibodi dapat ditemukan pada darah atau kelenjar tubuh vertebrata lainnya, dan digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengidentifikasikan dan menetralisasikan benda asing seperti bakteri dan virus. Molekul antibodi beredar di dalam pembuluh darah dan memasuki jaringan tubuh melalui proses peradangan. Mereka terbuat dari sedikit struktur dasar yang disebut rantai. Tiap antibodi memiliki dua rantai berat besar dan dua rantai ringan.

Terdapat beberapa tipe berbeda dari rantai berat antibodi, dan beberapa tipe antibodi yang berbeda, yang dimasukan ke dalam kelas (en:isotype) yang berbeda berdasarkan pada

tiap rantai berat. Lima isotype antibodi yang berbeda diketahui berada pada tubuh mamalia dan memainkan peran yang berbeda dan menolong mengarahkan respon imun yang tepat untuk tiap tipe benda asing berlainan yang masuk ke dalam tubuh, yaitu: IgG, IgM, IgA, IgD dan IgE.

  • 2.4 Faktor-faktor pendukung terjadinya alergi

Kesediaan atau kecenderungan sebuah organisme untuk bereaksi secara berlebihan terhadap zat-zat asing akibat kemampuan organisme itu untuk memproduksi antibodi

dengan berlebihan. Kelabilan struktur pembuluh daah ikut mendukung hal ini. Terjadi kontak dengan antigen dalam jumlah tinggi sekali (extreme exposure). Kecenderungan untuk menjaga kebersihan secara berlebihan juga bisa mendukung

terbentuknya penyakit alergi, karena kemungkinan tubuh tidak terbiasa lagi kontak dengan antigen sebagai akibat disingkirkannya antigen-antigen tersebut secara “mutlak”.

Orang-orang tertentu yang mudah terjangkiti reaksi alergi :

Pernah mengalami alergi tertentu pada masa sebelumnya Penderita asma Orang yang mengalami gangguan pada saluran pernapasannya Penderita polip Penderita infeksi pada sinus, telinga, atau pangkal tenggorokkan Orang yang memiliki kulit sensitif

  • 2.5 Macam-macam alergi

    • a. Alergi makanan Alergi makanan adalah respon tubuh yang tidak wajar terhadap suatu makanan yang diakibatkan oleh reaksi spesifik pada sistem imun dengan gejala yang spesifik pula. Zat penyebabnya (alergen) dapat berupa protein yang tidak rusak ketika proses memasak atau saat berada di keasaman lambung. Akibatnya, alergen dapat masuk ke peredaran darah hingga mencapai organ tertentu dan

menimbulkan reaksi alergi. Alergi makanan ini bisa dialami oleh siapa saja. Umumnya makanan seperti susu,

telur, seafood, kacang-kacangan, makanan berpengawet, dan wijen sering

menimbulkan reaksi alergi. Indikasi bahwa seseorang mengalami alergi makanan, diantaranya terdapat tanda-tanda sebagai berikut :

Lidah dan tenggorokkan terasa kering dan gatal

Napas menjadi tersengal-sengal dan sesak

Perut mual, kembung, nyeri ulu hati

Diare dan/atau muntah

Kulit menjadi gatal-gatal atau ruam

Mata terasa gatal, merah, dan perih

Batuk

Bibir dan tenggorokkan bengkak

Hidung berair dan tersumbat

  • b. Alergi debu Orang yang memiliki alergi debu akan sangat rentan terhadap debu yang umum dijumpai di rumah atau di luar rumah. Namun sebetulnya, yang harus diwaspadai adalah tungau debu penyebab alergi. Tungau debu adalah komponen debu yang

berupa sejenis binatang yang sangat kecil. Biasanya ia hidup di kasur atau bantal berisi kapuk, kain, karpet, tirai, mainan berbulu, selimut dan sebagainya. Debu yang tersebar di berbagai sudut rumah akan terhirup oleh penderita ketika ia menghirup napas. Hal inilah yang akan memicu terjadinya alergi. Gejala yang umum terjadi pada penderita alergi debu rumah adalah bersin-bersin dengan frekuensi yang sering, pilek, hidung berair, rasa gatal pada hidung, dan hidung tersumbat.

  • c. Alergi kulit Penderita alergi kulit sangat rentan terhadap zat-zat atau bahan kimia tertentu yang biasa terkandung dalam kosmetik, detergen, sabun mandi, karet, perhiasan imitasi, dan sebagainya yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Alergi kulit ini cenderung bersifat penyakit turunan. Gejala pada alergi kulit ditandai dengan gatal-gatal atau ruam pada kulit, kulit berwarna kemerahan, bengkak, dan lecet. Bagi penderita sebaiknya menghindari kontak langsung dengan bahan atau senyawa yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit. Lebih baik untuk tidak menggaruk kulit jika terasa gatal.

  • d. Alergi udara dingin Alergi terhadap udara dingin merupakan peradangan di sekitar saluran hidung (mukosa) yang ditimbulkan oleh alergen berupa udara dingin. Alergi udara dingin ini menyerang sistem kekebalan tubuh yang bisa mengakibatkan bengkak pada jaringan dalam hidung, sehingga hidung pun tersumbat.

Alergi

udara

dingin

seringkali

diidentikkan

dengan

penyakit

flu.

Padahal

keduanya adalah penyakit yang berbeda. Pada penderita alergi gejala dingin tidak

menunjukkan gejala demam. Namun, penderita sering mengalami bersin-bersin, tenggorokkan terasa gatal, dan biasanya disertai mata merah dan berair.

2.6 Reaksi alergi

Saat antigen memasuki tubuh, secara otomatis seluruh jaringan tubuh akan melakukan suatu proses kompleks untuk mengenali benda asing tersebut. Sel darah putih akan

menghasilkan antibodi spesifik untuk melawan antigen. Proses ini disebut sensitisasi. Antibodi bekerja dengan mendeteksi dan merusak substansi yang menyebabkan penyakit. Pada reaksi alergi, antibodi dikenal sebagai Immunoglobulin E atau IgE.

Antibodi ini memerintah para mediator untuk memproduksi semacam zat yang mampu mengurangi kadar kimia dan hormon yang dimiliki antigen. Mediator yang umum dikenal diantaranya adalah histamin. Mediator mempunyai efek meningkatkan aktivitas sel darah putih. Inilah yang memungkinkan terjadinya gejala yang mengikuti. Jika hadirnya mediator dirasa sudah cukup, reaksi alergi bisa dikatakan telah berakhir.

Dikenal 4 macam mekanisme terjadinya alergi, yaitu:

  • a. Type I (reaksi anafilaktis dini): Setelah kontak pertama dengan antigen/alergen, di tubuh akan dibentuk antibodi jenis IgE (proses sensibilisasi). Pada kontak selanjutnya, akan terbentuk kompleks antigen-antibodi. Dalam proses ini zat-zat mediator (histamin, serotonin, brdikinin, SRS= slow reacting substances of anaphylaxis) akan dilepaskan ke sirkulasi tubuh. Jaringan yang terutama bereaksi terhadap zat-zat tersebut ialah otot-otot polos (smooth muscles) yang akan mengerut (berkontraksi). Juga terjadi peningkatan permeabilitas (ketembusan) dari kapiler endotelial, sehingga cairan plasma darah akan meresap keluar dari pembuluh ke jaringan. Hal ini mengakibatkan pengentalan darah dengan efek klinisnya hipovolemia berat. Gejala- gejala atau tanda-tanda dari reaksi dini anafilaktis ialah: – shok anafilaktis – urtikaria, edema Quincke – kambuhnya/eksaserbasi asthma bronchiale – rinitis vasomotorica

  • b. Type II (reaksi imu sitotoksis): Reaksi ini terjadi antara antibodi dari kelas IgG dan IgM atau IgA dengan bagian-bagian membran sel yang bersifat antigen, sehingga mengakibatkan terbentuknya senyawa komplementer yang akan menyebabkan lisis sel. Contoh: reaksi setelah transfusi darah, morbus hemolitikus neonatorum, anemia hemolitis, leukopeni, trombopeni dan penyakit-penyakit autoimun.

  • c. Type III (reaksi berlebihan oleh kompleks imun = immune complex = precipitate): Reaksi ini merupakan reaksi inflamasi atau peradangan lokal/setempat (Type Arthus) setelah penyuntikan intrakutan atau subkutan ke dua dari sebuah alergen. Proses ini berlangsung di dinding pembuluh darah. Dalam reaksi ini terjadi interaksi antara antibodi IgG dengan antigen dalam sirkulasi, terbentuk komplemen-komplemen intravasal yang melekat pada jaingan dan mengakibatkan terjadinya kerusakan endotelium kapiler dan kematian atau nekrosis jaringan. Contoh: fenomena Arthus, serum sickness, lupus eritematodes, periarteriitis nodosa, artritis rematoida.

d. Type IV (Reaksi lambat type tuberkulin): Reaksi ini baru mulai beberapa jam atau sampai beberapa hari setelah terjadinya kontak, dan merupakan reaksi dari t-limfosit yang telah tersensibilisasi oleh kompleks antigen-hapten-protein. Prosesnya merupakan proses inflamatoris atau peradangan seluler dengan nekrosis jaringan dan pengubahan fibrinoid pembuluh-pembuluh yang bersangkutan. Contoh: reaksi tuberkulin (pada tes kulit tuberkulosa), contact eczema, contact dermatitis, penyakit autoimun (poliarthritis, colitis ulcerosa) dll).

2.7 Tes alergi

Tes kulit sangat bermanfaat untuk menentukan alergen penyebab terjadinya reaksi alergi. Larutan encer yang terbuat dari saripati pohon, rumput, rumput liar, serbuk tanaman, debu, bulu binatang, racun serangga, makanan dan beberapa jenis obat secara terpisah disuntikkan pada kulit dalam jumlah yang sangat kecil. Jika terdapat alergi terhadap satu atau beberapa bahan tersebut, maka pada tempat penyuntikkan akan terbentuk bentol (pembengkakan seperti kaligata yang sekelilingnya merah) dalam waktu 15-20 menit. Tes RAS (radioallergosorbent) dilakukan untuk mengukur kadar antibodi IgE dalam darah yang spesifik untuk alergen individual. Hal ini bisa membantu mendiagnosis reaksi alerki kulit, rinitis alergika musiman atau asma alergika. Tes epikutan: pembubuhan alergen-alergen yang dicurigai bisa menjadi penyebabnya ke atas foil khusus, yang kemudian ditempelkan (biasanya) ke punggung penderita. Pada reaksi positif, maka akan timbul bercak merah pada alergen atau alergen-alergen

tersebut. Tes intrakutan: setelah kulit di lengan bawah (lihat gambar) ditoreh dengan jarum

dan ditandai, lalu pada luka-luka torehan dibubuhkan alergen-alergen yang dipilih (biasanya dipilih yang paling sering menjadi penyebab). Setelah beberapa waktu, jika ternyata positif, maka pada alergen tersebut akan timbul indurasi yang dikelilingi bercak merah. Tergantung garis tengah indurasi masing-masing, maka gradasi atau tingkat kepekaan terhadap alergen tersebut disebutkan dengan: negatif/tidak

pasti/lemah/positif/positif kuat atau dengan – / (+) / + / ++ / +++ / ++++ . tes eksposisi inhalatif: khusus bagi penderita yang dicurigai menderita ekstrinsik atau

alergik bronkial asma, kecuali jika dalam anamsesa (pemeriksaan riwayat penyakit) sudah terbukti bahwa penderita tersebut mengalami sesak napas terhadap eksposisi suatu alergen. Tes eksposisi inhalatif dengan alergen tersebut tidak dianjurkan, karena jelas berbahaya dengan memungkinkan timbulnya reaksi yang parah dengan sesak nafas berat yang bisa sampai menyebabkan kematian. Karena itu sebelum tes ini harus

dipastikan, bahwa obat-obatan seperti kortison, antihistaminikum, epinefrin, cairan infus serta alat-alat untuk resusitasi termasuk intubasi sudah tersedia lengkap. Setelah persiapan-persiapan di atas, pemeriksaan dimulai dengan pelaksanaan spirometri. Jika ternyata pada pasien sudah dapat dibuktikan adanya obstruksi bronkial, maka tes tidak boleh dilaksanakan. Kecuali kalau obstruksinya hanya ringan sekali. Dalam hal ini dan jika tidak ada obstruksi, maka tes bisa dimulai dengan menyemprotkan alergen ke lubang hidung atau pasien harus menghirup alergen tersebut dari nebulizer.

2.8 Pencegahan dan Pengobatan alergi

Menghindari alergen

Imunoterapi Terapi ini melakukan pemberian ulang jenis zat yang diketahui menimbulkan

reaksi alergi pada pasien tersebut. Pendekatan imunoterapi merupakan pencegahan

dan perlindungan dari gejala alergi dan reaksi radang yang dapat timbul bila pasien kontak dengan alergen. Terapi terkini adalah bioresonansi. Cara ini dapat mengatasi gejala alergi. Terapi ini menggunakan pendekatan ilmu fisika gelombang/kuantum. Dalam biofisika, setiap substansi terdiri dari energi, juga menghasilkan energi. Dengan energi yang berupa gelombang/resonansi (getaran) inilah, sel-sel tubuh berkomunikasi satu sama lain pada frekuensi tertentu. Jika komunikasi antarsel ini berjalan harmonis, berarti orang itu berada dalam kondisi sehat. Namun jika komunikasi antarsel ini terganggu oleh substansi yang memiliki frekuensi gelombang lain, fungsi organ tubuh juga dapat terganggu. Dalam kasus alergi, gangguan ini berkenaan dengan sistem kekebalan tubuh.

Dengan

menggunakan alat Bicorn Bioresonance, pola frekuensi yang

menimbulkan penyakit dapat diubah menjadi pola frekuensi yang efektif dalam pemulihan fungsi kekebalan tubuh. Metode ini mampu mengeliminasi gelombang abnormal dari bahan asing/alegen dan mengalirkan gelombang normal tubuh sehingga akhirnya menghilangkan sensitivitas yang berlebihan terhadap alergen tersebut.

Dengan demikian, terapi ini merangsang tubuh untuk memulihkan fungsinya sendiri.

Selain

itu,

imunoterapi

juga

dapat

dilakukan

dengan

suntikan

alergi

(imunoterapi alergen). Dengan imunoterapi, sejumlah kecil alergen disuntikkan di bawah kulit dan dosisnya dinaikkan secara bertahap sampai tercapai dosis pemeliharaan. Pengobatan ini merangsang tubuh untuk menghasilkan antibodi penghalang atau antibodi penetralisir yang bertindak sebagai pencegah terjadinya

reaksi alergi. Pada akhirnya kadar antibodi IgE dalam darah (sebagai antigen) juga turun (nilai normal 0,1-0,4 ug/ml dalam serum). Imunoterapi harus dilakukan secara hati-hati karena pemberian alergen dosis tinggi yang terlalu cepat bisa menyebabkan terjadinya reaksi alergi. Imunoterapi paling sering digunakan untuk penderita alergi terhadap serbuk tanaman, partikel debu rumah, racun serangga dan bulu binatang. Imunoterapi tidak dianjurkan untuk dilaksanakan pada penderita alergi makanan karena resiko terjadinya anafilaksis.

Ada beberapa cara untuk mengobati reaksi alergi. Pilihan tentang pengobatan dan

bagaimana cara pemberian disesuaikan dengan gejala yang dirasakan. Untuk alergi jenis biasa seperti debu atau bulu binatang, pengobatan yang

disarankan adalah:

-

Precription

antihistamines,

seperti cetirize (Zytrec), fexofenadine

(Allegra), ioratadine (Claritin), dapat mengurangi gejala tanpa menyebabkan rasa kantuk. Pengobatan ini dilakukan sesaat penderita

mengalami reaksi alergi. Jangka waktu pemakaian hanya dalam satu hari (24 jam).

  • - Nasal costicoroid semprot. Cara pengobatan ini dimasukkan ke dalam mulut atau melalui injeksi. Bekerja cukup ampuh dan aman dalam penggunaan, pengobatan ini tidak menyebabkan efek samping. Alat semprot dapat digunakan beberapa hari untuk meredakan reaksi alergi, dan harus digunakan setiap hari. Contoh : fluticasone (flonase), mometasone (nasonex), dan triamcinolone (nasacort). Untuk reaksi alergi spesifik :

    • - Epinephrine

    • - Antihistamines, seperti diphenhydramine (Benadryl)

    • - Corticosteroids

2.9 Alergi makanan (Nutrisi)

Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologik (intoleransi makanan).

Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Reaksi tersebut dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi,

farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme, serta neuropsikologis terhadap makanan. Dari semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan dan zat aditif makanan, sekitar 20% disebabkan karena alergi makanan.

Reaksi simpang makanan (adverse food reactions)

Istilah umum untuk reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan reaksi sekunder terhadap alergi makanan atau intoleransi makanan.

Alergi makanan (Food Alergy)

Alergi makanan adalah reaksi imunologis (kekebalan tubuh) yang menyimpang karena masuknya bahan penyebab alergi dalam tubuh.

Intoleransi makanan (Food intolerance)

Intoleransi makanan adalah reaksi makanan non-imunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan karena kontaminasi toksik dan zat farmakologik yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada keju atau kafein pada kopi.

2.10 Faktor yang berperan dalam alergi makanan  Imaturitas usus. Secara mekanik, integritas mukosa usus dan
  • 2.10 Faktor yang berperan dalam alergi makanan

Imaturitas usus. Secara mekanik, integritas mukosa usus dan gerakan peristaltik menjadi pelindung dari masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi, asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi alergen. Secara imunologik, IgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal alergen yang masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur (tidak matang), sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Dengan pertambahan usia, IgA, yang merupakan imunoglobulin utama dalam sekresi internal akan meningkat jumlahnya sesuai dengan maturasi (kematangan) sistem kekebalan tubuh.

Genetik. Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau kakek/nenek penderita. Bila salah satu dari orang tua menderita gejala alergi, maka anaknya beresiko sekitar 20-40%,

sedangkan bila tidak ada riwayat alergi pada kedua orang tua, maka resiko anak adalah 5-5%.

Faktor pencetus : faktor fisik (dingin, panas, hujan), faktor psikis (sedih, stress) atau beban latihan (lari, olah raga).

  • 2.11 Mekanisme terjadinya alergi makanan

Pada paparan awal, alergen dikenali oleh sel penyaji antigen untuk selanjutnya mengekspresikan pada sel-T secara langsung atau melalui sitokin. Sel-T tersensitisasi dan akan merangsang sel-B menghasilkan antibodi dari berbagai subtipe. Alergen yang intak diserap oleh usus dalam jumlah cukup banyak dan mencapai sel-sel pembentuk antibodi di dalam mukosa usus dan organ limfoid usus. Selanjutnya terjadi sensitisasi sel mast pada saluran cerna, saluran nafas dan kulit. Kombinasi alergen dengan IgE pada sel mast bisa terjadi pada IgE yang telah melekat pada sel mast atau komplek IgE-Alergen terjadi ketika IgE masih belum melekat pada sel mast atau IgE yang telah melekat pada sel mast diaktifasi oleh pasangan non spesifik, akan menimbulkan degranulasi mediator. Pembuatan antibodi IgE dimulai sejak paparan awal dan berlanjut walaupun dilakukan diet eliminasi. Komplemen akan mulai mengalami aktivasi oleh kompleks antigen antibodi. Pada paparan selanjutnya mulai terjadi produksi sitokin oleh sel-T. Sitokin mempunyai berbagai efek terhadap berbagai sel terutama dalam menarik sel-sel radang misalnya netrofil dan eosinofil, sehingga menimbulkan reaksi peradangan. Aktifasi komplemen dan terjadinya komplek imun akan menarik netrofil. Gejala klinis yang timbul adalah hasil interaksi mediator, sitokin dan kerusakan jaringan yang ditimbulkannya.

Menurut kecepatan timbulnya reaksi, maka alergi terhadap makanan dapat dibedakan menjadi reaksi cepat (Immediate Hipersensitivity/rapid onset reaction) dan reaksi lambat (delayed onset reaction). Reaksi cepat, reaksi terjadi berdasarkan reaksi kekebalan tubuh tipe tertentu. Terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan. Reaksi lambat, terjadi lebih dari 8 jam setelah memakan bahan penyebab alergi.

  • 2.12 Penyebab dan pencetus alergi makanan

Penyebab alergi di dalam makanan adalah protein, glikopotein, atau polipeptida dengan berat molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas, dan tahan enzim proteolitik. Sebagian besar alergen pada makanan adalah glikoprotein dan berkisar antara 14.000 sampai 40.000 dalton. Molekul-molekul kecil lainnya juga dapat menimbulkan kepekaan (sensitisasi) baik secara langsung atau melalui mekanisme hapten-carrier.

Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengauhi oleh penyebab alergi, tapi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Beberapa hal yang menyulut atau mencetuskan timbulnya alergi disebut faktor pencetus. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti tubuh sedang terinfeksi virus atau bakteri, minuman dingin, udara dingin, panas atau hjan, kelalahan, aktivitas tertawa berlebihan, menangis, berlari, olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress, atau ketakutan.

Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. Tanpa paparan alergi, maka faktor pencetus tidak akan terjadi. Bila seseorang mengkonsumsi makanan penyebab alergi disertai dengan adanya pencetus, maka keluhan atau gejala alergi yang timbul jadi lebih berat. Tetapi bila tidak mengkonsumsi makanan penyebab alergi meskipun terdapat pencetus, keluhan alergi tidak akan muncul.

  • 2.13 Diagnosis / pemeriksaan alergi makanan Diagnosis

alergi

makanan

dibuat

berdasarkan

diagnosis

klinis,

yaitu

anamnesa

(mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, tanda, dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari penyebab alergi sangat banyak dan beragam. Diantaranya adalah uji kulit alergi, pemeriksaan darah (IgE, RASt, dan IgG), pemeriksaan lemak tinja, antibody monoclonal dalam sirkulasi, pelepasan histamine oleh basofil (basofil histamine release assay/BHR), kompleks imun dan imunitas seluler, intestinal mast cell histamine release (IMCHR), provokasi intragastral melalui endoskopi, biospi usus setalah dan sebelum pemberian makanan.

Selain itu terdapat juga pemeriksaan alternatif untuk mencari penyebab alergi makanan, diantaranya adalah kinesiology terapan (pemeriksaan otot), alat vega (pemeriksaan kulit elektrodermal), metode refleks telinga jantung, cytotoxic food testing, ELISA/ACT, analisa rambut, iridology, dan tes nadi.

Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Controlled Food Challenge). Dalam det sehari-hari dilakukan eliminasi atau dihindari beberapa makanan penyebab alergi selama 2-3 minggu. Setelah 3 minggu, bila keluhan menghilang, maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu, bila timbul gejala dicatat. Disebut sebagai penyebab alergi bila dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala.

  • 2.14 Gejala alergi makanan

Kompleksnya proses pencernaan makanan akan mempengaruhi waktu, lokasi dan gejala alergi makanan. Gejala dapat muncul beberapa menit setelah makan atau berjam jam kemudian. Gejala awal dari alergi makanan dapat berupa rasa gatal pada mulut, kesulitan menelan dan bernafas. Saat makanan sudah mencapai lambung dan usus halus, gejala yang timbul berupa rasa mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

Alergen akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Saat mereka mencapai kulit, alergen akan menyebabkan terjadinya eksim. Pada saat mereka mencapai paru paru, alergen dapat mencetuskan terjadinya asma. Gejala alergi yang paling ditakutkan dikenal dengan nama anafilaktik syok. Gejala ini ditandai dengan tekanan darah yang menurun, kesadaran menurun, dan bila tidak ditangani segera dapat menyebabkan kematian. Gejala klinis alergi makanan biasanya mengenai berbagai organ sasaran seperti kulit, saluran nafas, saluran cerna, mata, telinga, saluran vaskuler. Organ sasaran bisa berpindah-pindah, gejala sering kali sudah dijumpai pada masa bayi.

15
2.15 Makanan yang berpotensi menyebabkan alergi 16
  • 2.15 Makanan yang berpotensi menyebabkan alergi

2.15 Makanan yang berpotensi menyebabkan alergi 16
17
17
18
  • 3.1 Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Alergi ialah reaksi imunologis berlebihan dalam tubuh yang timbul segera atau dalam

rentan waktu tertentu setelah eksposisi atau kontak dengan zat yang tertentu (alergen). Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan

sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Intoleransi makanan adalah reaksi makanan non-imunologik dan merupakan sebagian

besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Makanan yang sering menyebabkan alergi adalah susu sapi, sereal, kacang-kacangan, putih telur, udang dan ikan. Alergi juga dapat disebabkan oleh sulfida atau salisilat dalam makanan dan obat, penyedap masakan, zat pengawet dan pewarna sintetis.

  • 3.2 Saran

Alergi ternyata dapat disebabkan oleh banyak faktor dengan berbagai gejala yang ditimbulkan. Gajala alergi harus disadari sejak dini agar dapat diberikan penanganan yang tepat. Untuk alergi makanan sendiri, penanganan terbaik pada penderita alergi makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan anti alergi dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala alergi dan megidentifikasi secara tepat penyebabnya dapat mengurangi timbulnya gejala alergi.