Anda di halaman 1dari 16

HIBRIDISASI I.

SEJARAH
PENEMUAN HIBRIDISASITeori
hibridisasi dipromosikan oleh kimiawan
May 22, 2013 by amaliaazizah4
HIBRIDISASI

1. I.

SEJARAH PENEMUAN HIBRIDISASI

Teori hibridisasi dipromosikan oleh kimiawan Linus Pauling dalam menjelaskan struktur
molekul seperti metana (CH4). Secara historis, konsep ini dikembangkan untuk sistem-sistem
kimia yang sederhana, namun pendekatan ini selanjutnya diaplikasikan lebih luas, dan
sekarang ini dianggap sebagai sebuah heuristik yang efektif untuk merasionalkan struktur
senyawa organik.
Teori hibridisasi tidaklah sepraktis teori orbital molekul dalam hal perhitungan kuantitatif.
Masalah-masalah pada hibridisasi terlihat jelas pada ikatan yang melibatkan orbital d, seperti
yang terdapat pada kimia koordinasi dan kimia organologam. Walaupun skema hibridisasi
pada logam transisi dapat digunakan, ia umumnya tidak akurat.
Sangatlah penting untuk dicatat bahwa orbital adalah sebuah model representasi dari tingkah
laku elektron-elektron dalam molekul. Dalam kasus hibridisasi yang sederhana, pendekatan
ini didasarkan pada orbital-orbital atom hidrogen. Orbital-orbital yang terhibridisasikan
diasumsikan sebagai gabungan dari orbital-orbital atom yang bertumpang tindih satu sama
lainnya dengan proporsi yang bervariasi. Orbital-orbital hidrogen digunakan sebagai dasar
skema hibridisasi karena ia adalah salah satu dari sedikit orbital yang persamaan
Schrdingernya memiliki penyelesaian analitis yang diketahui. Orbital-orbital ini kemudian
diasumsikan terdistorsi sedikit untuk atom-atom yang lebih berat seperti karbon, nitrogen,
dan oksigen. Dengan asumsi-asumsi ini, teori hibridisasi barulah dapat diaplikasikan. Perlu
dicatat bahwa kita tidak memerlukan hibridisasi untuk menjelaskan molekul, namun untuk
molekul-molekul yang terdiri dari karbon, nitrogen, dan oksigen, teori hibridisasi menjadikan
penjelasan strukturnya lebih mudah.
Teori hibridisasi sering digunakan dalam kimia organik, biasanya digunakan untuk
menjelaskan molekul yang terdiri dari atom C, N, dan O (kadang kala juga P dan S).
Penjelasannya dimulai dari bagaimana sebuah ikatan terorganisasikan dalam metana.
1. II.

PENGERTIAN HIBRIDISASI

Hibridisasi adalah sebuah konsep bersatunya orbital-orbital atom membentuk orbital hibrid
yang baru yang sesuai dengan penjelasan kualitatif sifat ikatan atom. Konsep orbital-orbital
yang terhibridisasi sangatlah berguna dalam menjelaskan bentuk orbital molekul dari sebuah
molekul. Konsep ini adalah bagian tak terpisahkan dari teori ikatan valensi. Walaupun

kadang-kadang diajarkan bersamaan dengan teori VSEPR, teori ikatan valensi dan hibridisasi
sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan teori VSEPR.
Hibridasi
Perhatikan konfigurasi elektron Be, B dan C
Be : 1s2 2s2
B

: 1s2 2s2 2p1

: 1s2 2s2 2p2

Berilium dapat membentuk senyawa yang bersifat kovalen seperti BeH2 dan BeCl2. Boron
dapat membentuk senyawa dengan perbandingan 1:3 seperti BF3 dan BCl3.
Pada senyawa karbon yang lebih dari sejuta banyaknya dapat dijumpai atom karbon yang
terikat melalui empat pasangan elektron ikatan.
Jika ditinjau dari konfigurasi elektron saja, maka dapat diduga bahwa, berilium yang
orbitalnya terisi penuh tidak dapat membentuk satu ikatan kovalen, sedangkan karbon hanya
dapat membentuk dua ikatan kovalen.
Kontradiksi antara pengamatan eksperimen dan ramalan berdasarkan model atom,
menunjukkan bahwa model orbital atom masih jauh dari sempurna untuk menjelaskan ikatan
kimia.
Oleh sebab itu, penyusunan elektron dalam orbital setiap bilangan kuantum utama perlu
ditata kembali. Penyusunan kembali orbital dalam sebuah atom, untuk membentuk
seperangkat orbital yang ekivalen dalam molekul disebut hibridisasi.
Hibridisasi adalah proses pembentukan orbital-orbital hibrida dengan tingkat energi yang
sama (orbital-orbital degenerat) dari orbital-orbital asli yang jenis dan tingkat energinya
berbeda.
1. III. PROSES HIBRIDISASI
Proses hibridisasi berlangsung dalam tahap-tahap berikut :
(1) Elektron mengalami promosi ke orbital yang tingkat energinya lebih tinggi.
Misalnya pada Be : dari 2s ke 2p)
(2) Orbital-orbital bercampur atau berhibridisasi membentuk orbital hibrida yang
ekivalen.
Contoh 1
: Be mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2. Satu elektron dari 2s
mengalami promosi menghasilkan konfigurasi 1s2 2s1 2p1x. Orbital 2s dan 2p1x berhibridisasi
membentuk dua orbital hibrida sp yang ekivalen berbentuk garis lurus.

Contoh 2
: B mempunyai konfigurasi elektron terluar 2s2 2p1. Suatu elektron dari 2s
mengalami promosi menghasilkan konfigurasi elektron 2s1 2p1x 2p1y. Orbital 2s 2px dan 2py
berhibridisasi membentuk tiga orbital hibrida sp2 yang ekivalen berbentuk segitiga datar.
Contoh 3
: C mempunyai konfigurasi elektron terluar 2s2 2p2. Satu elektron dari 2s
mengalami promosi menghasilkan konfigurasi elektron 2s1 2p1x 2p1y 2p1z. Orbital 2s. 2px.
2py dan 2pz berhibridisasi membentuk 4 orbital hibrida sp3 yang ekivalen berbentuk
tetrahedral.
Contoh 4
: P mengalami konfigurasi elektron terluar 3s2 3p3. Satu elektron dari 3s
mengalami promosi menghasilkan konfigurasi elektron 3s1 3p1x 3p1y 3p1z 3d1. Orbital 3s,
3px, 3py, 3pz dan 3d1z membentuk 5 orbital hibrida sp3d yang ekivalen berbentuk trigonal
bipiramida.
Contoh 5
: S mempunyai konfigurasi elektron terluar 3s2 3p4. Satu elektron dari 3s dan
satu elektron dari 3p mengalami promosi menghasilkan konfigurasi elektron 3s1 3p2x 3p1y
3p1z 3d1 3d1x2-y2. Keenam orbitak diatas berhibridisasi membentuk 6 orbital hibrida sp3d2
yang ekivalen dengan bentuk oktahedral.
Proses hibridisasi pada pembentukan BeCl2, BCl3, CH4, PCl5 dan SF6 dapat dilihat pada
bagan-bagan berikut :
(1)

Proses hibridisasi pada pembentukan BeCl2

(2)

Proses hibridisasi pada pembentukan BCl3

(3)

Proses hibridisasi pada pembentukan CH4

(4)

Proses hibridisasi pada pembentukan PCl5

(5)

Proses hibridisasi pada pembentukan SF6

(3) Dalam hibridisasi, yang bergabung adalah orbital bukan elektron; dan
(4) Sebagian besar orbital hibrid bentuknya mirip tetapi tidak selalu identik.

1. IV. MACAM HIBRIDISASI


Pada pembentukan ikatan kovalen, dua orbital atom overlap satu dengan yang lain
membentuk orbital molekul. Tiap-tiap orbital atom harus berisi satu elektron, karena orbital
molekul hanya dapat diisi oleh dua elektron yang spinnya berlawanan. Ini berarti, ikatan yang
terbentuk oleh suatu atom, tergantung elektron yang tidak berpasangan. Kovalensi atom-atom
biasanya sama dengan jumlah elektron yang tidak berpasangan. Contohnya CH4 yang
mempunyai struktur tetrahedral.

Sebelum membentuk ikatan, orbital 2s dan orbital 2p yang dalam keadaan valensi tereksitasi
di atas berubah menjadi orbital baru dengan energi sama. Orbital baru ini disebut orbital
hibrida sp3.
Perubahan beberapa jenis orbital menjadi orbital baru yang energinya sama disebut
hibridisasi. Dapat juga dikatakan, hibridisasi ialah penggabungan orbital-orbital s, p, dan d
dengan jalan menambah atau mengurangi fungsi gelombangnya membentuk fungsi
gelombang baru yang menyatakan orbital hibrida.
Hibridasisasi ini dapat terjadi antara orbital s dan p atau s, p dan d. Contohnya pembentukan
orbital hibrida untuk atom C

Atom

1s

2s

2px

Dapat pula digambarkan sebagai berikut :

2py

2pz

Orbital
hibrida

sp3

2p

2s

2p

Promosi

hibridisasi
sp3

2s

1s

1s

1. 1.

1s

Hibridisasi sp atau linear

Gabungan orbital s dan p, membentuk orbital baru yaitu orbital hibrida sp yang co-linear.
Orbital yang besar diperoleh dengan penambahan, yang kecil dengan pengurangan dari fungsi
gelombangnya. Berikut ini adalah pembentukan orbital hibrida sp

Sebagai contoh dari pembentukan orbital hibrida sp, yaitu


1. berilium klorida, BeCl2
Dalam keadan padat zat ini terdapat sebagai (BeCl2)2 tetapi dalam larutan dan dalam keadaan
uap terdapat sebagai molekul BeCl2. Orbital sp dari Be overlap dengan orbital 3px dari atom
Cl membentuk orbital molekul. Ikatannya adalah ikatan . Berikut ini adalah pembentukan
orbital molekul BeCl2.

2.

Molekul hidrogen halida, HX

Hidrogen halida terbentuk dari overlap orbital 1s dari atom H dengan orbital px dari halogen.
Karena ikatan dari orbital sp lebih kuat daripada ikatan s dan p sendiri, ikatan dalam HX
biasanya juga dijelaskan dengan mula-mula membentuk orbital hibrida sp bagi halogennya.
Contoh hidrogen halida adalah molekul HF yang terbentuk seperti pada gambar berikut

1. 3.

Hibridisasi sp2 atau trigonal planar

Kombinasi satu orbital s dan dua orbital p membentuk orbital hibrida sp2 yang bentuknya
trigonal planar dengan sudut antara 1200. Ikatan dengan orbital sp2 lebih kuat daripada ikatan
dengan orbital s atau orbital p. Berikut ini adalah pembentukan orbital hibrida sp2

Sebagai contoh dari orbital hibrida sp2 sebagai berikut


1. Bor-triklorida, BCl3
Di dalam molekul BCl3, orbital hibrida sp2 dari atom B membentuk ikatan dengan orbital
3px dari atom Cl.
1.

Senyawa lain yang mempunyai struktur sama, yaitu B(CH3)3, B(C6H5)3, dan BO33-

1. 4.

Hibridisasi sp3 atau tetrahedral

Hibridisasi satu orbital s dan tiga orbital p, membentuk orbital hibrida sp3 yang strukturnya
tetrahedral. Sudut ikatan dengan orbital ini mendekati 109028.

Senyawa-senyawa dengan orbital hibrida sp3, seperti :


CH4, SiH4, SnCl4, SnBr4, Pb(C2H5)4, SO42-, ClO4, NH4+, BH4, dan BF4.
Pembentukan molekul-molekul NH3 dan H2O serta HF, juga dapat dijelaskan dengan
pembentukan orbital hibrida sp3, hanya dalam hal ini ada orbital-orbital yang tidak dipakai
untuk membentuk ikatan. Berikut gambar orbital molekul H2O sudut ikatan 104031, NH3
sudut ikatan 10703, HF, dan CH4.

Penggantian atom H dalam metana dengan atom atau gugusan atom lain, menyebabkan
asimetri dalam molekul, hingga sudut ikatan berubah, misalnya
CH2Cl2, sudut ikatan ClCCl : 1110
CHCl3, sudut ikatan ClCCl : 1120

1. 5.

Hibridisasi d2sp3 dan sp3d2 atau oktahedral

Kombinasi satu orbital s, tiga orbital p dan dua orbital d, membentuk orbital d2sp3 atau sp3d2
yang disebut hibridisasi oktahedral karena strukturnya oktahedral.
Hibridisasi ini misalnya terjadi pada senyawa SF6, suatu senyawa yang berbentuk gas dan
tidak berwarna.

1. 6.

Hibridisasi sp3d atau trigonal bipiramidal

Orbital hibrida sp3d mempunyai bentuk trigonal bipiramidal. Tiga orbital planar dengan
sudut-sudut 1200 dan orbital sisanya tegak lurus pada orbital yang lain.

Orbital hibrida sp3d

Molekul PCl5 terbentuk dengan orbital hibrida sp3d masing-masing orbital overlap dengan
orbital 3px dari atom Cl membentuk orbital molekul .
Pembentukan orbital hibrida pada fosfor dan orbital molekul pada PCl5 digambarkan sebagai
berikut :

1.
2.
3.
4.
5.

1. V.

HIBRIDISASI DAN BENTUK MOLEKUL

Penggunaan orbital hibrida untuk menerangkan dan mengaitkan struktur tidak begitu lazim
lagi pada tahun-tahun ini, untuk memberikan jalan bagi penggunaan yang umum dari teori
orbital molekul. Alasan-alasan utamanya adalah bahwa pendekatan orbital molekul lebih
mudah diterapkan untuk perhitungan kuantitatif yang menggunakan komputer digital, dan
karena dengan perhitungan semacam itu dimungkinkan untuk menerangkan spektra molekul
secara lebih mudah. Bagaimanapun konsep orbital hibrida tetap memiliki kelebihan tertentu
karena kesederhanaanya, dan dalam banyak hal memberikan cara yang sangat mudah untuk
mengaitkan dan menerangkan struktur molekul.
Hibridisasi, bersama dengan teori VSEPR, membantu kita dalam menjelaskan bentuk molekul:

AX (contoh: LiH)
1

tidak ada hibridisasi; berbentuk linear

AX (contoh: BeCl )
2
2

hibridisasi sp; berbentuk Linear atau diagonal; sudut ikat cos1(1) = 180

AX E (contoh: GeF ) :
2
2

berbentuk V, < 120

AX (contoh: BCl )
3
3

hibridisasi sp2; berbentuk datar trigonal; sudut ikat cos1(1/2) = 120

AX E (contoh: NH )
3
3

piramida trigonal, 107

AX (contoh: CCl )
4
4

hibridisasi sp3; berbentuk tetrahedral; sudut ikat cos1(1/3) 109.5

AX (contoh: PCl )
5
5

hibridisasi sp3d; berbentuk Bipiramida trigonal

AX (contoh: SF )
6
6

hibridisasi sp3d2; berbentuk oktahedral (atau bipiramida persegi)

Hal ini berlaku apabila tidak terdapat pasangan elektron menyendiri (lone pair electron) pada atom pusat. Jika terdapat pasangan elektron menyendiri, maka
elektron tersebut harus dihitung pada bagian X , namun sudut ikat akan menjadi lebih kecil karena gaya tolak menolak. Sebagai contoh, air (H O) memiliki
i
2
atom oksigen yang berikatan dengan dua H dan dua pasangan elektron menyendiri, hal ini berarti terdapat 4 elemen pada O. Sehingga termasuk dalam kategori
AX dan terdapat hibridisasi sp3.
4

Orbital hibrida

Jumlah PEI dan Bentuk molekul Sudut ikatan


PEB

Contoh

sp

Garis lurus,
diagonal

180

BeCl2

sp2

Trigonal

120

C2H2

sp3

Bujur sangkar

90

Ni(CN)42-

sp3d

Bipiramida
trigonal

120 dan 90

PCl5

d2sp3

Oktahedral

90

Fe(CN)63-

sp3d2

Oktahedral

90

SF6
FeF63-

Tabel susunan pasangan elektron, bentuk molekul dan hibridisasi

No.

senyawa PE Ikatan PE Non- Jumlah


ikatan

Susunan
elektron

Bentuk
molekul

Hibridisas
i atom
pusat

BeCl2

linier

linier

Sp

BCl3

Segitiga

Segitiga

Sp2

CH4

Tetrahedra Tetrahedra Sp3


l
l

NH3

tetrahedral Piramida Sp3

PCl5

Trigonal Trigonal Sp3d


bipiramida bipiramida

AlCl3

Segitiga
datar

KrF2

Trigonal Linier
bipiramida

BrF3

Trigonal Bentuk T Sp3d


bipiramida

PH4+

Tetrahedra Tetrahedra Sp3d


l
l

10

PCl6

Oktahedra Oktahedra Sp3


l
l

11

XeF4

Oktahedra Bujur
l
sangkar

Segitiga
datar

Sp2

Sp3d

Sp3d3

12

OCl2

Tetrahedra Sudut
l

Sp3d2

13

BrF4

Oktahedra Bujur
l
sangkar

Sp3d2

14

ICl3

Trigonal

15

SiF5

Trigonal Trigonal sp3d


bipiramida bipiramida

1.

VI.

Bentuk T sp3d

TEORI HIBRIDISASI VS TEORI ORBITAL MOLEKUL

Teori hibridisasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari kimia organik dan secara umum didiskusikan bersama dengan teori orbital molekul dalam buku
pelajaran kimia organik tingkat lanjut. Walaupun teori ini masih digunakan secara luas dalam kimia organik, teori hibridisasi secara luas telah ditinggalkan pada
kebanyakan cabang kimia lainnya. Masalah dengan teori hibridisasi ini adalah kegagalan teori ini dalam memprediksikan spektra fotoelektron dari kebanyakan
molekul, meliputi senyawa yang paling dasar seperti air dan metana. Dari sudut pandang pedagogi, pendekatan hibridisasi ini cenderung terlalu menekankan
lokalisasi elektron-elektron ikatan dan tidak secara efektif mencakup simetri molekul seperti yang ada pada teori orbital molekul.

1. VII.

RINGKASAN ATURAN PENGHIBRIDAAN

Berikut adalah ringkasan aturan dalam proses hibridisasi :


1. Penghibridan adalah proses orbital pada satu atom (atau ion). Sebaliknya,
pembentukan orbital molekul memerlukan pencampuran orbital yang semula berpusat
pada atom yang berbeda (atom sejenis atau tidak sejenis).
2. Hanya orbital yang energinya berdekatan yang dicampur membentuk hibrida yang
baik. Untuk tujuan ini, orbital yang dimaksudkan ialah yang tergolong ke dalam
golongan energi yang sama.
3. Banyaknya orbital yang dicampurkan selalu sama dengan banyaknya hibrida yang
diperoleh.
4. Dalam penghibridaan, kita mencampur sejumlah orbital, bukan sejumlah elektron.
Misalnya, jika kita ingin membentuk hibrida dwigonal (sp) pada atom dengan
konfigurasi tiga-elektron, 2s2 2p1, maka kita campurkan orbital s dan p untuk
mendapatkan dua hibrida 1 2 dan kemudian menata elektron kedalamnya, mungkin
menjadi 12 21.

5. Segera setelah orbital digunakan untuk membangun hibrida, orbital ini tidak lagi
tersedia untuk ditempati elektron dalam bentuk murni, karena orbital 2s tidak lagi
dalam keadaan itu.
6. Kebanyakan hibrida bersifat sama, tetapi tidak selalu sama; perbedaannya satu sama
lain terutama pada orientasinya dalam ruang. Gambaran yang benar untuk hibrida sp
dalam penampang lintangnya disajaikan pada gambar 4.12.bentuk tiga dimensi dibuat
diruang dengan memutar sumbu z tanpa tranlasi, jadi cukup memutarnya dengan jari.
7. Karena orbital s tidak mempunyai arah dalam bidang xyz, maka orbital ini tidak
mnambah arah dalam pembentukan hibrida. Orbital s hanya menanmbah gemuk.
8. Orbital lain yang arahnya jelas di ruang (px, pz, dxy, dyz, dan lain-lain) menentukan
arah hibrida. Mencampur orbital dekat-x dan dekat-y dengan orbital s menghasilkan
hibrida mendekati bidang xy, mencampur orbital dekat-x dengan orbital s
menghasilkan hibrida yang mendekati arah sumbu x.
9. Untuk hibrida yang setara, orientasinya diruang ditentukan oleh (a) banyaknya orbital
yang dicampur, karna itu sesuai pula dengan banyaknya hibrida yang diperoleh, (b)
arah x, y, dan z hanya terjadi jika orbital murni (tidak dicampur),(c) anggapan bahwa
jika elektron menempati hibrida, elektron akan berusaha saling menjauhi dengan batas
b. Misalnya, kita ingin membentuk tiga hibrida setara dengan mencampur orbital
2s,2px dan 2py pada sebuah atom. Buti b mensyaratkan bahwa arah utama terletak
pada bidang xy; butir c mensyaratkan bahwa sudut 360 pada bidang xy dibagi
menjadi tiga bagian, sehingga sudut di antara hibrida adalah 120.
10. Jenis hibrida pada strukrur tertentu ditentukan melalui penelitian geometrti molekul
(tetapi jika belum ada penelitian, kita masih dapat menduga bentuknya melalui
pembandingan dengan molekul yang serupa). Sudut ikatan 120 menyiratkan hibrida
sp2, sistem linear menyiratkan hibrida sp3 dan bentuk tetrahedral atau sudut ikatan
109 menyiratkan hibrida sp3.

1. VIII. SOAL DAN PENYELESAIAN


SOAL :
1. Sebutkan aturan hibridisasi dalam pembentukan ikatan senyawa !
2. Tentukan struktur molekul dari PCl5 !

PENYELESAIAN :
1. Aturan hibridisasi dalam pembentukan ikatan senyawa, yaitu sebagai berikut :
a)

Orbital yang bergabung harus mempunyai tingkat energi yang sama atau hampir sama;

b)

Orbital hibrid yang terbentuk sama banyaknya dengan orbital yang bergabung;

c)

Dalam hibridisasi, yang bergabung adalah orbital bukan elektron; dan

d)

Sebagian besar orbital hibrid bentuknya mirip tetapi tidak selalu identik.

1. PCl5

.
.
.
.
.
P (atom)
3s

3p

3d

P (tereksitasi)

Cl

Cl

Cl

Cl

Cl

P (dalam PCl5)
sp3d
Orbital hibrid P adalah sp3d, maka PCl5 berstruktur trigonal bipiramid
Cl
Cl
P

Cl

Cl
Cl

Anda mungkin juga menyukai