Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh yang berhubungan dengan

ketidakmampuan tubuh untuk menghilangkan panas ataupun mengurangi


produksi panas. Hipertermi terjadi karena adanya ketidakmampuan
mekanisme kehilangan panas untuk mengimbangi produksi panas yang
berlebihan sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh. Hipertermi tidak
berbahaya jika dibawah 39oC. Selain adanya tanda klinis, penentuan
hipertermi juga didasarkan pada pembacaan suhu pada waktu yang berbeda
dalam satu hari dan dibandingkan dengan nilai normal individu tersebut
(Potter & Perry,2010).
Menurut Wong (2008) terdapat empat jenis demam yang umum terjadi
yaitu demam intermiten, remiten, kambuhan, dan konstan. Selama demam
intermiten, suhu tubuh akan berubah-ubah dalam interval yang teratur,
antara periode demam dan periode suhu normal serta subnormal. Selama
demam remiten, terjadi fluktuasi suhu dalam rentang yang luas (lebih dari
2oC) dan berlangsung selama 24 jam, dan selama itu suhu tubuh berada di
atas normal. Pada demam kambuhan, masa febril yang pendek selama
beberapa hari diselingi dengan periode suhu normal selama 1 2 hari.
Selama demam konstan, suhu tubuh akan sedikit berfluktuasi, tetapi berada
di atas suhu normal. Tanda-tanda klinis demam dapat bervariasi, bergantung
pada awitan, penyebab, dan tahap pemulihan demam. Semua tanda tersebut
muncul akibat adanya perubahan set point pada mekanisme pengontrolan
suhu yang diatur oleh hipotalamus.
Dampak yang ditimbulkan hipertermia dapat berupa penguapan cairan
tubuh yang berlebihan sehingga terjadi kekurangan cairan dan kejang(Alves
& Almeida, 2008, dalam Setiawati, 2009). Hipertermi berat (suhu lebih dari
41oC)

1.2.

Tujuan.

1.2.1. Tujuan Umum


Mampu menerapkan

asuhan

keperawatan

dengan

hipertermi.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Dapat memahami landasan teori hipertermi
2. Dapat
melakukan
pengkajian
keperawatan
hipertermi

BAB II
LANDASA TEORI
2.1.

Pengertian
Hipertermi adalah Keadaan suhu tubuh seseorang yang

meningkat di atas rentang normalnya. (nic noc.2007).


Hipertermi adalah Keadaan dimana seorang individu
mengalami peningkatan suhu tubuh di atas 37,80C peroral
atau 38,80C perrektal karena factor eksternal (Carpenito,
1995).
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh inti akibat
kehilangan

mekanisme

termorgulasi.

(ensiklopedia

keperawatan).
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh diatas
kisaran normal (NANDA International 2009-2011)
Hipertermi adalah keadaan suhu tubuh meningkat
melebihi suhu normal yaitu suhu tubuh mencapai sekitar 40 o
secara terus menerus.
Jadi hipertermi adalah keadaan suhu tubuh seseorang
yg meningkat di atas rentang normalnya karena faktor
eksternal atau akibat kehilangan mekanisme termorgulasi.
2.2.
a.

Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah


Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat.
1) Vasodilatasi
Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir
dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini
disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis
pada hipotalamus posterior yang menyebabkan
vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang
kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan
pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga
delapan kali lipat lebih banyak.
2) Berkeringat

Pengeluaran

keringat

melalui

kulit

terjadi

sebagai efek peningkatan suhu yang melewati


batas kritis, yaitu 37C. pengeluaran keringat
menyebabkan

peningkatan

pengeluaran

panas

melalui evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar


1C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang
cukup banyak sehingga mampu membuang panas
tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal 10
kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan
salh satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat
melampaui ambang kritis. Pengeluaran keringat
dirangsang

oleh

pengeluaran

impuls

di

area

preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf


simpatis

ke

seluruh

kulit

tubuh

kemudian

menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic


kelenjar
keringat.

keringat,

yang

Kelenjar

merangsang

keringat

produksi

juga

dapat

mengeluarkan keringat karena rangsangan dari


epinefrin dan norefineprin.
3) Penurunan Pembentukan Panas
Beberapa mekanisme pembentukan panas,
seperti

termogenesis

kimia

dan

menggigil

dihambat dengan kuat.


b.

Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Menurun


a. Vasokontriksi Kulit Di Seluruh Tubuh
Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada
pusat simpatis hipotalamus posterior.
b. Piloereksi
Rangsangan

simpatis

menyebabkan

otot

erektor pili yang melekat pada folikel rambut


berdiri. Mekanisme ini tidak penting pada manusia,
tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya

bulu ini akan berfungsi sebagai isolator panas


terhadap lingkungan.

c. Peningkatan pembentukan panas


Pembentukan panas oleh sistem metabolisme
meningkat

melalui

mekanisme

menggigil,

pembentukan panas akibat rangsangan simpatis,


serta peningkatan sekresi tiroksin. (regulasi suhu
tubuh _ NursingBegin.com.htm)
2.3.
a.

Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh


Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu
berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas
yang

diproduksi

tubuh

menjadi

berbeda

pula.

Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya,


sangat terkait dengan laju metabolisme.
b.

Rangsangan saraf simpatis


Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan
kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat.
Disamping

itu,

rangsangan

saraf

simpatis

dapat

mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan


untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme
lemak

coklat

rangsangan
individu

saraf

yang

epineprin

adalah

dan

produksi

simpatis

ini

menyebabkan
norepineprin

panas.

Umumnya,

dipengaruhi

peningkatan
yang

stress

produksi

meningkatkan

metabolisme.
c.

Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat
menyebabkan

peningkatan

kecepatan

metabolisme

sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga


meningkat.

d.

Hormone tiroid
Fungsi tiroksin

adalah

meningkatkan

aktivitas

hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga


peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju
metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
e.

Hormone kelamin
Hormone kelamin
kecepatan

pria

metabolisme

dapat

basal

meningkatkan

kira-kira

10-15%

kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi


panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi
dari

pada

laki-laki

karena

pengeluaran

hormone

progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu


tubuh sekitar 0,3 0,6C di atas suhu basal.
f.

Demam ( peradangan )
Proses
peradangan

dan

demam

dapat

menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120%


untuk tiap peningkatan suhu 10C.
g.

Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan
kecepatan metabolisme 20 30%. Hal ini terjadi karena
di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan
untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian,
orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami
penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu
dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah
mengalami

hipotermia

karena

lemak

merupakan

isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan


panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan
yang lain.
h.

Aktivitas

Aktivitas

selain

merangsang

peningkatan

laju

metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen


otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan
(aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3
40,0 C.
i.

Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan
pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme
regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat
pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat
merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit
berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat
menyebabkan

mekanisme

pengaturan

suhu

tubuh

terganggu.
j.

Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan
lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau
berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu
juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu
tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan
lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
Proses
dimungkinkan

kehilangan
karena

panas
panas

melalui

diedarkan

kulit
melalui

pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus


arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang
mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam
fleksus

arteriovenosa

yang

cukup

tinggi

(kadang

mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan


konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat
efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator
panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.
(regulasi suhu tubuh _ NursingBegin.com.htm)

2.4.
a.

Mekanisme Kehilangan Panas Dari Kulit


Radiasi
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh
dalam

bentuk

gelombang

panas

inframerah.

Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh


memiliki panjang gelombang 5 20 mikrometer. Tubuh
manusia memancarkan gelombang panas ke segala
penjuru

tubuh.

Radiasi

merupakan

mekanisme

kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau


15% seluruh mekanisme kehilangan panas.
Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul.
Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat di
pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari
kulit. Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu
udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran
panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara
sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari
suhu tubuh.
b.

Konduksi
Konduksi

adalah

perpindahan

panas

akibat

paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada


di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas
dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan
dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan
suhu

yang

kecil

karena

dua

mekanisme,

yaitu

kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan


benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan
dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan
proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara
efektif terus menerus.
c.

Evaporasi

Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat


memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu
gram

air

yang

mengalami

evaporasi

akan

menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58


kilokalori.

Pada

kondisi

individu

tidak

berkeringat,

mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 600


ml/hari.Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus
menerus dengan kecepatan 12 16 kalori per jam.
Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi
terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus
melalui kulit dan system pernafasan.Selama suhu kulit
lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang
melalui radiasi dan konduksi. Namun ketika suuhu
lingkungan

lebih

tinggi

dari

suhu

tubuh,

tubuh

memperoleh suhu dari lingkungan melalui radiasi dan


konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh
melepaskan

panas

adalah

melalui

evaporasi.

Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu


tubuh, sebenarnya suhu tubuh actual ( yang dapat
diukur

merupakan

suhu

yang

dihasilkan

dari

keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan


proses kehilangan panas tubuh dari lingkungan.
d.

Usia
Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh
akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek
tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus
dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas
melalui

pemecahan

(metabolisme)

lemak

coklat

sehingga terjadi proses termogenesis tanpa menggigil


(non-shivering thermogenesis). Secara umum, proses
ini mampu meningkatkan metabolisme hingga lebih
dari 100%. Pembentukan panas melalui mekanisme ini

dapat terjadi karena pada neonatus banyak terdapat


lemak coklat. Mekanisme ini sangat penting untuk
mencegah hipotermi pada bayi. (regulasi suhu tubuh _
NursingBegin.com.htm)
2.5.
o
o
o
o

2.6.

Suhu Tubuh Dibagi Menjadi


Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36C
Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 37,5C
Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 40C
Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40C
(regulasi suhu tubuh _ NursingBegin.com.htm)

Etiologi
Hipertermi dapat disebabkan gangguan otak atau

akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan


suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan
terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan
demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa
protein , pecahan protein , dan zat lain. Terutama toksin
polisakarida , yang dilepas oleh bakteri toksik / pirogen yang
dihasilkan

dari

degenerasi

jaringan

tubuh

dapat

menyebabkan demam selama keadaan sakit.


hipertermi terjadi bila pembentukan panas melebihi
pengeluaran. hipertermi dapat berhubungan dengan infeksi,
penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik maupun
penyakit

lain.

(Julia,

2000).Menurut

Guyton

(1990)

hipertermi dapat disebabkan karena kelainan dalam otak


sendiri

atau

zat

toksik

yang

mempengaruhi

pusat

pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak


atau dehidrasi.
Penyebab

hiprtermi

selain

infeksi

juga

dapat

disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi


terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat
regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma).

10

Pada

dasarnya

penyebab

untuk

hipertermi

penggambilan
pemeriksaan

diperlukan

riwayat
fisik,

mencapai
penyakit

observasi

ketepatan
antara

lain:

pasien,

perjalanan

diagnosis
ketelitian

pelaksanaan
penyakit

dan

evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain


secara tepat dan holistik.

2.7.

Patofisiologi
Suhu tubuh kita dalam keadaan normal dipertahankan

di kisaran 37C oleh pusat pengatur suhu di dalam otak yaitu


hipotalamus. Pusat pengatur suhu tersebut selalu menjaga
keseimbangan antara jumlah panas yang diproduksi tubuh
dari metabolisme dengan panas yang dilepas melalui kulit
dan paru sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan dalam
kisaran

normal.

Walaupun

demikian,

suhu

tubuh

kita

memiliki fluktuasi harian yaitu sedikit lebih tinggi pada sore


hari jika dibandingkan pagi harinya.
Demam merupakan suatu keadaan dimana terdapat
peningkatan suhu tubuh yang disebabkan kenaikan set point
di pusat pengatur suhu di otak. Hal ini serupa dengan
pengaturan set point (derajat celsius) pada remote AC yang
bilamana set pointnya dinaikkan maka temperatur ruangan
akan menjadi lebih hangat. Suatu nilai suhu tubuh dikatakan
demam jika melebihi 37,2 C pada pengukuran di pagi hari
dan atau melebihi 37,7C pada pengukuran di sore hari
dengan menggunakan termometer mulut.

11

Termometer

ketiak

akan

memberikan

hasil

nilai

pengukuran suhu yang lebih rendah sekitar 0.5C jika


dibandingkan dengan termometer mulut sehingga jenis
termometer

yang

digunakan

berpengaruh

dalam

pengukuran suhu secara tepat. Sebagian besar kasus


demam memang disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi
dan

peradangan

sehingga

gejala

demam

seringkali

diidentikkan dengan adanya infeksi dalam tubuh. Namun


sebenarnya ada banyak proses lainnya selain infeksi yang
dapat menimbulkan gejala demam antara lain alergi,
penyakit autoimun, kelainan darah dan keganasan. Berbagai
proses tersebut akan memicu pelepasan pirogen, yaitu
mediator penyebab demam, ke dalam peredaran darah yang
lebih lanjut akan memicu pelepasan zat tertentu yang
bernama prostaglandin sehingga akan menaikkan set point
di pusat pengaturan suhu di otak. Pelepasan prostaglandin
tersebut yang merupakan dalang dari timbulnya berbagai
gejala yang sering menyertai demam yaitu badan meriang,
pegal-linu dan sakit kepala. Set point di pusat pengatur suhu
di otak yang tiba-tiba naik tersebut akan membuat tubuh
merasa bahwa suhu badan berada dibawah nilai normal
akibatnya

pembuluh

darah

12

akan

menyempit

untuk

mencegah kehilangan panas badan dan tubuh akan mulai


menggigil untuk menaikkan suhu tubuh. Jadi menggigil
dapat dikatakan suatu tahapan awal dari kenaikan suhu
tubuh dalam proses demam. Dengan demikian, gejala
menggigil, demam, sakit kepala, dan badan pegal-linu
merupakan satu paket gejala yang disebabkan oleh proses
yang sejalan.
Selain itu terdapat pula kondisi demam lainnya namun
yang tidak disebabkan oleh kenaikan set point di pusat
pengatur suhu di otak, yaitu dikenal sebagai hipertermia.
Pada hipertermia, terdapat kenaikan suhu tubuh yang tinggi
yang disebabkan oleh peningkatan suhu inti tubuh secara
berlebihan

sehingga

terjadi

kegagalan

mekanisme

pelepasan panas. Hipertermia antara lain dijumpai pada


heat stroke (tersengat panasnya udara lingkungan), aktivitas
fisik yang berlebihan pada cuaca panas serta dikarenakan
efek dari beberapa jenis obat-obatan seperti ekstasi

a. Fungsi Kelenjar Keringat


Gangguan sistem termoregulasi dengan berkurang
atautidaknya keringat merupakan penyebab terpenting
sengatan

panas

pada

lingkungan

panas.

Respon

berkeringat terhadap stimulus panas dan neurokimia


berkurang pada usia lanjut dibanding pada usia dewasa
muda. Juga terdapat ambang batas lebuh tinggi pada
usia lanjut untuk berkeringat. Pada kondisi stres panas,
manusia mengaktifkan kelenjar ekrin (di bawah kontrol
kolinergik

simpatis)

dan

kemampuan

kelenjar

itu

megneluarkan keringat untuk mengatur suhu tubuh.

13

Meskipun terdapat variasi luas antara individu dalam


respon

kelenjar

keringat

terhadap

stimulus

farmakologis, terdapat pula stimulus yang berasal dari


proses penuaan.
Pengaruh penuaan terhadap menurunnya fungsi
kelenjar keringat terlihat jelas di daerah dahi dan
ekstremitas daripada di badan.

b. Aliran Darah Kulit


Respon aliran darah kulit terhadap pemanasan
lokal langsung pada kulit nonakral berkurang pada usia
lanjut. Berkurangnya perfusi kulit pada usia lanjut
berkaitan dengan berkurangnya unit fungsional pleksus
kapiler. Pada usia tua, terjadi transformasi kulit dimana
kulit menjadi lebih datar akibat berkurangnya pembuluh
darah mikrosirkuler di papilaris kulit dan pleksus
vaskular superfisial.
(hipertermia-geriatri.html)

14

15

2.8.

Komplikasi
Penyakit hipertermia digolongkan dalam 3 kategori:

heat cramps, heat exhaustion, dan heat stroke.


a. Heat cramps merupakan spasme dari otot-otot
volunter akibat dari kekurangan elektrolit.
1) Kedua-duanya garam dan air hilang melalui
keringat. Pasien dengan heat cramps biasanya
mengganti air yang hilang dengan minum, tetapi
tidak mengganti garam yang hilang.
2) Pengobatan
a) Letakkan pasien pada tempat yang sejuk.
b) Berikan cairan pengganti NaCL per oral
dengan minuman yang mengandung kadar
garam tinggi atau secara IV dengan larutan
garam faal.
b. Heat exhaustion merupakan kehilangan garam
dan air; dengan salah satu kehilangannya lebih
dominan.
1) Gejala-gejala meliputi sakit kepala, nausea, pusing,
dan gangguan penglihatan.
2) Pasien dapat mengalami demam sampai 102F
tetapi berkeringat.
3) Gunakan hasil laboratorium

sebagai penuntun

terapi pengganti garam dengan cairan isotonik,


atau air dengan cairan hipotonik.
4) Dinginkan pasien sesuai dengan keperluan, dengan
cara pemajanan, pemberian kipas angin, dan
metode lainnya.
c. Heat stroke merupakan hipertermia yang hebat
(di atas 41 C atau 106F) dengan kehilangan
kemampuan regulasi panas.
1) Gejala-gejala meliputi keadaan bingung, koma, dan
serangan kejang.
2) Kelelahan dari fungsi regulasi hipotalamik dan
kelenjar keringat yang menimbulkan kehilangan

16

kemampuan pengeluaran panas, karena si pasien


tidak berkeringat.
3) Kehilangan cairan

dan

berat.Komplikasi

dapat

garam

biasanya

meliputi

tidak

kerusakan

hipertermik dari otak, hepar, ginjal, jantung, dan


jaringan lainnya.
4) Pengobatannya adalah dengan menurunkan suhu
badan secepatnya.
a) Kantung es harus

diletakkan

pada

kulit,

terutama aksila, inguinal, dan kulit kepala.


Kulit diperciki dengan air dingin dan kemudian
dievaporasi dengan kipas angin. Suatu selimut
pendingin dapat digunakan
b) Enema cairan dingin, bilas

lambung

dan

dialisis peritoneal, semua sudah dicoba, tetapi


mungkin efektivitasnya terbatas.
c) Merendam di dalam bak air dingin secara
umum kurang praktis dan perlu penanganan
dan pemantauan yang tepat.
d) Pijat dapat meningkatkan vasodilatasi dan
pertukaran panas.
e) Menggigil harus
meningkatkan

dihindari

suhu

badan.

karena

akan

Klorpromazin

dapat digunakan untuk mengontrol menggigil


(50

mg

IV)

hipotensi.
f) Komplikasi

tetapi
dapat

rabdomiolisis

dan

dapat

menyebabkan

berlanjut,

meliputi

mioglobinuria

koagulasi intravaskular diseminata.


g) Hentikan tindakan pendinginan aktif

atau
bila

temperatur pusat sudah turun sampai 101102F.


2.9.

Manifestasi Klinis
a. Suhu tinggi 37.80C (1000F) peroral atau 38.80C (1010F)

17

b. Taki kardia
c. Kulit kemerahan
d. Hangat pada sentuhan
e. Menggigil
f. Dehidrasi
g. Kehilangan nafsu makan
Proses Terjadi
a. Fase I: awal (awitan dingin atau menggigil)
1) Peningkatan denyut jantung
2) Peningkatan laju dan kedalaman pernafasan
3) Menggigil akibat tegangan dan kontraksi otot
4) Kulit pucat dan dingin karena vasokontriksi
5) Merasakan sensasi dingin
6) Dasar
kuku
mengalami
sianosis
karena
vasokontriksi
7) Rambut kulit berdiri
8) Pengeluaran keringat berlebihan
9) Peningkatan suhu tubuh
b. Fase II: proses demam
1) Proses menggigil lenyap
2) Kulit terasa hangat / panas
3) Merasa tidak panas atau dingin
4) Peningkatan nadi dan laju pernafasan
5) Peningkatan rasa haus
6) Dehidrasi ringan hingga berat

18

7) Mengantuk, delirium, atau kejang akibat iritasi sel


saraf
8) Lesi mulut herpetik
9) Kehilangan

nafsu

makan

jika

demam

memanjang )
c. Fase III: pemulihan
1) Kulit tampak merah dan hangat
2) Berkeringat
3) Menggigil

ringanKemungkinan

mengalami

dehidrasi
Pada mekanisme tubuh alamiah, demam yang terjadi
dalam diri manusia bermanfaat sebagai proses imun. Pada
proses

ini,

terjadi

pelepasan

interleukin-1

yang

akan

mengaktifkan sel T. suhu tinggi (demam) juga berfungsi


meningkatkan keaktifan (kerja) sel T dan B terhadap
organisme pathogen. Namun konsekuensi demam secara
umum

timbul

(peningkatan

segera
suhu).

setelah

pembangkitan

Perubahan

anatomis

demam

kulit

dan

metabolisme menimbulkan konsekuensi berupa gangguan


keseimbangan cairan tubuh, peningkatan metabolisme, juga
peningkatan kadar sisa metabolisme. Selain itu, pada
keadaan tertentu demam dapat mengaktifkan kejang.
2.10.

Komplikasi
Pengaruh hipertermia terhadap sawar darah otak/ BBB

adalah meningkatkan permeabilitas BBB yang berakibat


langsung

baik

secara

partial

maupun

komplit

dalam

terjadinya edema serebral (Ginsberg, et al, 1998). Selain itu

19

hipertermia meningkatkan metabolisme sehingga terjadi


lactic

acidosis

yang

mempercepat

kematian

neuron

(neuronal injury) dan menambah adanya edema serebral


(Reith, et al, 1996). Edema serebral (ADO Regional kurang
dari 20 ml/ 100 gram/ menit) ini mempengaruhi tekanan
perfusi otak dan menghambat reperfusi adekuat dari otak,
dimana kita ketahui edema serebral memperbesar volume
otak dan meningkatkan resistensi serebral. Jika tekanan
perfusi tidak cukup tinggi, aliran darah otak akan menurun
karena resistensi serebral meninggi. Apabila edema serebral
dapat diberantas dan tekanan perfusi bisa terpelihara pada
tingkat yang cukup tinggi, maka aliran darah otak dapat
bertambah (Hucke, et al, 1991).
Dengan demikian daerah perbatasan lesi vaskuler itu
bisa

mendapat

sirkulasi

kolateral

yang

cukup

aktif,

kemudian darah akan mengalir secara pasif ke tempat


iskemik oleh karena terdapatnya pembuluh darah yang
berada dalam keadaan vasoparalisis. Melalui mekanisme ini
daerah iskemik sekeliling pusat yang mungkin nekrotik
(daerah penumbra) masih dapat diselamatkan, sehingga lesi
vaskuler dapat diperkecil sampai daerah pusat yang kecil
saja yang tidak dapat diselamatkan lagi/nekrotik (Hucke, et
al, 1991).
Apabila sirkulasi kolateral tidak dimanfaatkan untuk
menolong daerah perbatasan lesi iskemik, maka daerah
pusatnya yang sudah nekrotik akan meluas, sehingga lesi
irreversible mencakup juga daerah yang sebelumnya hanya
iskemik saja yang tentunya berkorelasi dengan cacat
fungsional yang menetap, sehingga dengan mencegah atau
mengobati hipertermia pada fase akut stroke berarti kita
dapat mengurangi ukuran infark dan edema serebral yang

20

berarti kita dapat memperbaiki kesembuhan fungsional


(Hucke, et al, 1991).
2.11.
a.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Medis
1) Beri obat penurun panas seperti paracetamol,
asetaminofen.

b.

Penatalaksanaan keperawatan
1) Beri pasien banyak minum. pasien menjadi lebih
mudah dehidrasi pada waktu menderita panas.
Minum air membuat mereka merasa lebih baik dan
mencegah dehidrasi.
2) Beri pasien banyak istirahat, agar produksi panas
yang diproduksi tubuh seminimal mungkin.
3) Beri kompres hangat di beberapa bagian tubuh,
seperti ketiak, lipatan paha, leher belakang.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEOROTIS

21

3.1.

Pengkajian
a. Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang
diperlukan
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien
saat pengkajian)
2) Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit
yang diderita pasien saat masuk rumah sakit):
sejak kapan timbul demam, sifat demam, gejala
lain yang menyertai demam (misalnya: mual,
muntah, nafsu makn, eliminasi, nyeri otot dan
sendi dll), apakah menggigil, gelisah.
3) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit
yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita
oleh pasien).
4) Riwayat kesehatan

keluarga

(riwayat

penyakit

yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita


oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat
genetik atau tidak).
3.2.
a.
b.

c.

Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi
Pemeriksaan persistem
1) Sistem persepsi sensori
2) Sistem persyarafan : kesadaran
3) Sistem pernafasan
4) Sistem kardiovaskuler
5) Sistem gastrointestinal
6) Sistem integumen
7) Sistem perkemihan
Pada fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
2) Pola nutrisi dan metabolisme
3) Pola eliminasi
4) Pola aktivitas dan latihan
5) Pola tidur dan istirahat
6) Pola kognitif dan perseptual
7) Pola toleransi dan koping stress
8) Pola nilai dan keyakinan

22

9) Pola hubungan dan peran


d.

3.3.

Pemeriksaan penunjang
1) laboratorium
2) foto rontgent
3) USG
Diagnosa Keperawatan Yang Sering Muncul
a. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit
b. Resiko
injury
berhubungan
dengan
infeksi
mikroorganisme
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan
intake yang kurang dan diaporesisi

3.4.

Discharge Planning
a. ajarkan keluarga mengenal tanda-tanda kekambuhan
dan laporkan dokter atau perawat
b. Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai
dengan dosis dan waktu
c. Ajarkan

bagaimana

mengukur

suhu

tubuh

dan

intervensi
d. Intruksikan untuk kontrol ulang
e. Jelaskan factor penyebab demam dan menghindari
factor pencetus.

3.5.

Rencana Keperawatan

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

o.

Keperawatan

Hasil (NOC)

23

Intervensi (NIC)

1.

Hipertemia

Setelah

berhubungan
dengan

proses

penyakit.
Batasan karakeristik
o kenaikan
tubuh

suhu
diatas

rentang normal
o serangan/konvulsi
o
o
o
o

(kejang)
kulit kemerahan
pertambahan RR
takikardi
saat
disentuh
tangan
hangat

terasa

dilakukan o Mengontrol panas


o Monitor
suhu
tindakan
perawatan
minimal tiap 2 jam
selama
24
jam,
o Monitor suhu basal
keseimbangan
secara
kontinyu
termoregulasi
klien
sesui
dengan
dengan kriteria hasil :
kebutuhan.
o Monitor TD, Nadi,
o Suhu tubuh dalam
dan RR
rentang
normal
o Monitor warna dan
35,9 C 37,5 C
suhu kulit
o Nadi dan RR dalam
o Monitor penurunan
rentang normal
tingkat kesadaran
o Tidak
ada
o Monitor
WBC,Hb,
perubahan
warna
Hct
kulit
o Monitor intake dan
o Tidak ada pusing
output
o Berikan anti piretik
o Selimuti pasien
o Lakukan
Tapid
sponge
o Berikan cairan intra
vena
o Kompres

pasien

pada

paha,

lipat

aksila dan leher


o Temperature
Regulation
o Monitor

tanda-

tanda hipertermi
o Tingkatkan
intake
cairan dan nutrisi
o Berikan
obat
antipiretik

sesuai

dengan kebutuhan
o Gunakan
matras
dingin

24

dan

mandi

air

hangat

untuk

mengatasi

atu

mengurangi
gangguan

suhu

tubuh

sesuai

dengan kebutuhan
o Lepasakan pakaian
yang
dan

berlebihan
tutupi

pasien

dengan

hanya

selembar pakaian.
o Vital
Sign
Monitoring
o Monitor TD,

Nadi,

Suhu, dan RR
o Catat
adanya
fluktuasi
darah
o Monitor

tekanan
vital

sign

saat pasien berdiri,


duduk

dan

berbaring
o Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
o Monitor TD,
dan

RR

Nadi,

sebelum,

selama,

dan

sesudah aktivitas
o Monitor kualitas dari
nadi
o Monitor

frekuensi

dan
pernapasan

25

irama

o Monitor suara paru


o Monitor
pola
pernapasan
abnormal
o Monitor suhu, warna
dan

kelembaban

kulit
o Monitor

sianosis

perifer
o Monitor

adanya

tekanan nadi yang


melebar

bradikardi,
peningkatan sistolik
(Chusing Triad)
o Identifikasi
penyebab

dari

perubahan

vital

Sign
2.

Resiko

injury

b/d Setelah

dilakukan o Sediakan

infeksi

tindakan keperawatan

mikroorganisme

selama x 24 jam,
pasien

tidak

mengalami injury.

lingkungan

aman untuk pasien


o Identifikasi
kebutuhan
keamanan

Risk Injury

sesuai

Kriteria Hasil :

kondisi
fungsi

o Klien terbebas dari


cidera
o mampu
menjelaskan
metode
mencegah

26

yang

pasien
dengan

fisik

dan

kognitif

pasien dan riwayat


penyakit

terdahulu

pasien
cara o Menghindari
untuk
lingkungan
yang
injury
berbahaya misalnya

atau cedera
o mampu

memindahkan

perabotan
o
Memasang side rail
menjelaskan factor
faktor

resiko

lingkunga

dari
atau

perilaku personal
o Mampu
memodifikasi
hidup

gaya
untuk

mencegah injury
o Menggunakan
fasilitas kesehatan

tempat tidur
o Menyediakan
tempat tidur yang
nyaman dan bersih
o Meletakan
saklar
lampu

ditempat

yang

mudah

dijangkau pasien
o Membatasi

pengunjung
yang ada
o Memberikan
o Mampu mengenali
penerangan
yang
perubahan status
cukup
kesehatan
o Menganjurkan
keluarga

untuk

menemani pasien
o Mengontrol
lingkungan

dari

kebisingan
o Memindahkan
barang-barang
yang

dapat

membahayakan
o Berikan penjelasan
pada

pasien

keluarga

dan
atau

pengunjung adanya
perubahan

status

kesehatan

dan

penyebab penyakit.
3

Resiko

kekurangan Setelah

dilakukan Fluid management:

27

volume

cairan tindakan keperawatan o Pertahankan

dengan faktor resiko selama x 24 jam,


faktor

yang fluid balance dengan

mempengaruhi
kebutuhan

cairan

(hipermetabolik)

kriteria hasil :

catatan intake dan


output yang akurat
o Monitor
status
dehidrasi( kelemba

o Mempertahankan

ban

membrane

urine output sesuai

mukosa,

nadi

dengan

adekuat,

tekanan

usia

dan

BB, BJ urine normal,


HT normal
o Tekanan
nadi,

suhu

darah ortostatik)
o Monitor vital sign
asupan
darah, o Monitor
tubuh

dalam batas normal


o Tidak ada tanda-

makanan

cairan

dan

intake

hitung

kalori harian
tanda
dehidrasi, o Lakukan terapi IV
o Monitor
status
elastisitas
turgor
nutrisi
kulit
baik,
o Berikan cairan
membrane mukosa o Berikan cairan IV
lembab, tidak ada
rasa

haus

berlebihan.

yang

pada suhu ruangan


Dorong masukan

oral
o Berikan
penggantian
nasogastrik
output
o Dorong
untuk

sesuai
keluarga

membantu

pasien makan
o Anjurkan
minum
kurang

lebih

gelas

belimbing

perhari
o Kolaborasi
jika

28

7-8

tanda

dokter
cairan

berlebih

muncul

memburuk
o Atur kemungkinan
transfusi

http://gusriwahyudi.blogspot.co.id/2013/02/askephipertermi.html.

BAB IV
PENUTUP
4.1.

Kesimpulan

29

hipertermi adalah keadaan suhu tubuh seseorang yg


meningkat

di

atas

rentang

normalnya

karena

faktor

eksternal atau akibat kehilangan mekanisme termorgulasi.


Suhu Tubuh Dibagi Menjadi
o Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36C
o Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 37,5C
o Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 40C
o Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40C
Penatalaksanaan Keperawatan Pada Hipertermi
1) Beri pasien banyak minum. pasien menjadi lebih mudah
dehidrasi pada waktu menderita panas. Minum air
membuat mereka merasa lebih baik dan mencegah
dehidrasi.
2) Beri pasien banyak istirahat, agar produksi panas yang
diproduksi tubuh seminimal mungkin.
3) Beri kompres hangat di beberapa bagian tubuh, seperti
ketiak, lipatan paha, leher belakang.
4.2.

Saran
Dengan keterbatasan penyusun dalam membuat makalah ini penyusun

mengharapkan setiap mahasiswa mau memberikan kritik dan saran untuk


memaksimalkan keberhasilan tugas makalah selanjutnya. Karena kritik dan
saran kalian semua berarti bagi penyusun. Semoga makalah ini berguna bagi
pendidikan kita agar lebih maju.

DAFTAR PUSTAKA
Lynda Juall Corpenito.1998.Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada
Praktek Klinis.Jakarta.EGC
Doenges M.E.1999.Rencana Keperawatan Edisi 3. Jakarta.EGC

30

Nanda International.2009-2011.Diagnosa Keperawatan Definisi


dan Klasifikasi.Jakarta.EGC
http://id.wikipedia.org/wiki/Hipertermia
http://id.wikipedia.org/wiki/Demam
http://elisabetmela.blogspot.co.id/2014/11/hipertermi.html

31