Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

REVALUASI AKTIVA TETAP


Diajukan sebagai tugas mata kuliah Perpajakan II

Disusun oleh :
RX Cahyono
NPM : 1014000012

Sekolah TinggiI lmu Ekonomi Indonesia


Jl. Kayu Jati Raya No.11A, RT.8/RW.3, Rawamangun, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta

2014 /2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan
karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah Revaluasi Aktiva Tetap
ini. Makalah ini merupakan salah satu bagian tugas Mata kuliah Perpajakan II.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang aturan
baru dalam Revaluasi Aktiva Tetap yang sangat diperlukan dengan suatu harapan
mendapat penjelasan tentang masalah tersebut dan melakukan apa yang menjadi
tugas saya sabagai mahasiswa, yang mengikuti mata kuliah Perpajakan II.
Dalam proses pendalaman materi Perpajakan II ini, tentunya saya
mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Untuk itu, saya mengucapkan
terima kasih kepada Ibu Desy Amaliati Setiawan, SE, M.AK, selaku pengampu
Mata Kuliah.
Tentunya tidak ada gading yang tak retak, untuk itu saya mohon maaf atas
segala kekurangan dalam makalah ini. Demikian makalah ini saya buat, semoga
dapat bermanfaat.

Jakarta, 12 Mei 2016


Penyusun,

RX Cahyono

DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................ i
Daftar isi ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................... 2
1.3 Tujuan Pembahasan ................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Aktiva Tetap .......................................................................................... 3
2.2 Revaluasi Aktiva Tetap ........................................................................... 8
2.3 Sudut Pandang Revaluasi Aktiva Tetap................................................... 8
2.4 Pelaksanaan Revaluasi Aktiva Tetap ..................................................... 12
2.5 Manfaat Revaluasi Aktiva Tetap ........................................................... 15
2.6 Contoh Kasus ....................................................................................... 15
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................ 25
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 26

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Di Indonesia laju inflasi masih dapat dikatakan fluktutis dari tahun 2009-

2011. Tingkat laju inflasi dikendalikan BI sebagai bank sentral. BI harus


mengendalikan nilai rupiah. Kesetabilan nilai rupiah tercermin dari tingkat inflasi
dan nilai tukar yang terjadi. Inflasi yang terjadi, baik demand pull infiation maupun
cost push inflation dapat berpengaruh pada dunia usaha. Salah satunya adalah pada
saat pencatatan akuntansinya, dimana pencatatan tersebut dilaporkan dalam bentuk
laporan keuangan yang berbeda dengan kondisi ekonomi normal.
Adanya perbedaan nilai antara nilai buku dengan nilai wajar ini
mendorong perusahaan untuk menyesuaikan kondisi laporan keuangannya agar
dapat sesuai dengan nilai wajar, perusahaan melakukan revaluasi terhadap aktiva
tetapnya. Revaluasi aktiva tetap merupakan penilaian kembali atas aktiva yang
dimiliki oleh suatu perusahaan. Keuntungan bagi perusahaan yang melakukan
revaluasi aktiva tetap, diantaranya dapat menciptakan performance of balance sheet
yang lebih baik, sebagai akibat meningkatnya nilai aktiva dan modal. Selain itu
dapat meningkatkan kepercayaan para pemegang saham, karena kenaikan nilai
aktiva dapat dicatat sebagai tambahan nilai saham. Dengan adanya revaluasi aktiva
tetap juga memiliki keuntungan dari segi perpajakan, yaitu dapat melakukan
penghematan pajak sebagai akibat bertambahnya besarnya nilai penyusutan aktiva.
Revaluasi

aktiva

tetap

cenderung

dilakukan

oleh

perusahaan-

perusahaan yang tercatat di bursa, hal ini dikarenakan tuntutan untuk menyajikan
laporan keuangannya secara berkala kepada umum dan tuntutan financial
performance kepada pihak ketiga.
Pelaksanaan revaluasi aktiva tetap di Indonesia diatur dalam ketentuan
perpajakan dan akuntansi. Kebijakan mengenai revaluasi aktiva tetap ini
dikeluarkan bergantung terhadap situasi ekonomi dan moneter yang menelatar
belakanginya, serta konteks arah kebijakan pajak. Menurut perpajakan, kebijakan
1

mengenai revaluasi aktiva tetap diatur terakhir

pada

Peraturan

Menteri

Keuangan (PMK) bernomor 191/PMK.10/2015 tentang Penilaian Kembali Aktiva


Tetap Untuk Tujuan Perpajakan Bagi Permohonan Yang Diajukan Pada Tahun
2015 dan Tahun 2016 (PMK 191/2015) atau lebih dikenal sebagai Kebijakan
Revaluasi Aktiva Tetap.
1.2

Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan revaluasi aktiva tetap ?


2. Sudut pandang tentang revaluasi aktiva tetap ?
3. Apakah syarat dilakukannya revaluasi aktiva tetap ?
4. Bagaimana prosedur revaluasi aktiva tetap ?
5. Apakah manfaat revaluasi aktiva tetap ?
6. Berikan contoh kasus revaluasi aktiva tetap !
1.3

Tujuan

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan revaluasi.
2. Untuk mengetahui sudut pandang tentang revaluasi aktiva tetap
3. Untuk mengetahui syarat untuk melakukan revaluasi.
4. Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan revaluasi.
5. Untuk mengetahui manfaat revaluasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Aktiva Tetap
Peranan aktiva tetap dalam perusahaan adalah sebagai suatu faktor

produksi, yang dapat berupa tanah, bangunan, mesin, dan sebagainya. Posisinya
dalam laporan keuangan berada pada neraca bersamaan dengan aktiva lancar,
investasai jangka panjang, dana cadangan, dan aktiva lainnya. Aktiva tetap itu
sendiri merupakan aktiva perusahaan yang bukan untuk diperjual-belikan dan
memiliki masa manfaat lebih dari satu periode. Menurut Zaki Baridwan (1995
: 271), aktiva tetap berwujud adalah aktiva-aktiva yang berwujud yang sifatnya
relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal. Istilah
relatif permanen menunjujjan sifat dimana aktiva yang bersangkutandapat
digunakan dalam jangka waktu yang relatif cukup lama. Untuk tujuan
akuntansi,jangka waktu penggunaan ini dibatasi dengan lebih dari satu periode
akuntansi. Jadi aktiva berwujud yang umurnya lebih dari satu periode
akuntansi dikelompokkan sebagai aktiva tetap berwujud.
A. Penggolongan Aktiva Tetap
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pengertian dari aktiva tetap
adalah aktiva yang bukan untuk diperjual-belikan dan memiliki masa manfaat lebih
dari satu periode. Aktiva tetap dalam perusahaan dapat bermacam-macam
bentuknya, oleh karena itu terdapat penggolongan aktiva tetap. Penggolongan
aktiva

tetap

Baridwan

ini berbeda-beda

(2004:

menurut

pendapat

para

ahli.

Menurut

272) menyatakan bahwa penggolongan aktiva tetap dibagi

menjadi 3 yaitu :
1. Aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas seperti tanah untuk letak
perusahaan,pertanian, dan peternakan.
2. Aktiva

tetap

yang umurnya

terbatas dan apabila

sudah habis

masapenggunaannya bisa diganti dengan aktiva yang sejenis, misalnya


bangunan,mesin, alat-alat, mebel, kendaraan, dan lain-lain.
3

3. Aktiva

tetap

yang umurnya

terbatas dan apabila

sudah habis

masapenggunaannya tidak dapat diganti dengan aktiva yang sejenis,


misalnya sumber-sumber alam seperti tambang, hutan, dan lain-lain.
Berbeda dengan Baridwan, menurut Harahap (1994: 23), bahwa pada
dasarnya aktiva tetap dibagi menjadi 7 berdasarkan jenisnya. Penggolongan aktiva
tetap tersebut diantaranya Lahan, Bangunan Gedung, Mesin, Kendaraan, Perabot,
Inventaris/Peralatan,dan Prasarana. Lebih lanjut mengenai penggolongan aktiva
tetap, menurut Gunadi (2009:55)
aktiva

tetap

Depreciable

disusutkan,
Assets

aktiva

dan

Non

dibagi

berdasarkan dapat atau tidaknya

tetap digolongkan
Depreciable

ke

dalam

kelompok

Assets.Depreciable

Assets

misalnya berupa bangunan, mesin, peralatan, dan sebagainya;sedangkan


Non Depreciable Assets dapat berupa tanah (kecuali tanah yang dimanfaatkanuntuk
produksi).
B. Harga Perolehan Aktiva Tetap
Dalam mendapatkan aktiva tetap dapat dilakukan dengan berbagai
cara.Menurut Harahap (1994: 25) dalam konteks untuk bisnis cara perolehan aktiva
tetap diantaranya

dengan:

Pembelian

kontan

(tunai);

Pembelian

secara

kredit jangka panjang; Pembelian dengan surat berharga; Diterima sebagai


sumbangan atau ditemukan sendiri, Dibangun sendiri; dan Tukar tambah, dalam
rangka perolehan aktiva tetap tersebut dibutuhkan biaya bagi perusahaan yang
disebut sebagai harga perolehan aktiva tetap. Biaya perolehan aktiva tetap
merupakan akumulasi dari harga beli dan biaya lainnya yang dikeluarkan saat
diperolehnya aktiva termasuk biaya yang dikeluarkan dalam rangka menempatan
aktiva tersebut pada kondisi dan tempat yang siap untuk dipergunakan.
Menurut
bahwaharga

Weygandt,
perolehan

Kieso, dan
adalah

biaya

Kimmel (2005;
yang

terdiri

421), mengatakan
dari

keseluruhan

pengeluaran yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva dan membuatnya


siap untuk digunakan.Setelah harga perolehan ditentukan, maka jumlah tersebut
digunakan menjadi basis akuntansi untuk aktiva tetap selama masa manfaatnya.

Baridwan juga mengatakan hal yang serupa dengan Weygandt, Kieso, dan Kimmel,
untuk menentukan besarnya harga perolehan suatu aktiva berlaku prinsip
yang menyatakan bahwa semua pengeluaran yang terjadi sejak pembelian
sampai aktiva

itu

siap

dipakai

harus dikapitalisasi. Menurut Baridwan

(1995;287), jenis aktiva yang dapat bermacam-macam

maka

masing-masing

jenis mempunyai cara berbeda dalam menentukanbesarnya harga perolehan.


C. Penyusutan Aktiva Tetap
Aktiva tetap memiliki sifat yang rentan terhadap penurunan kapasitas
sejalandengan

penggunaan

atau

pemanfaatannya.

Oleh

karena

itu,

perusahaan harus menyajikan informasi tentang nilai aktiva tetap secara mamadai
agar dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Adanya penyusutan
merupakan perkiraan sisa masa manfaat dari aktiva tetap juga untuk mencerminkan
nilai wajar bagi aktiva tetap tersebut. Pengertian dari penyusutan aktiva tetap
itu sendiri menurut Kieso & Weygandt (1995:2) adalah proses akuntansi
untuk mengalokasikan harga pokok (cost) aktiva berwujud pada beban dengan cara
yang sistematik dan rasional dalamperiode-periode yang mengambil manfaat dari
penggunaan aktiva tersebut. Dalam pelaksanaan penyusutan aktiva tetap oleh
perusahaan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya penyusutan.
Faktor-faktor tersebut diantaranya Harga Pokok, Nilai Residu, Umur Teknis, dan
Metode Penyusutan.
1. Harga Pokok
Harga pokok merupakan hal yang penting dalam meghitung biaya
penyusutan.Pengertiannya telah dibahas pada sub-bab sebelumnya
mengenai Harga PerolehanAktiva Tetap, yakni jumlah yang harus
dikeluarkan untuk memperoleh suatuaktiva tetap (Baridwab, 1995:309)
2.

Nilai Residu
Menurut Harahap (1994:54), nilai residu adalah nilai taksiran
realisasi (penjualanmelalui kas) aktiva tetap tersebut setelah akhir
penggunaannya atau pada saatmana aktiva tetap itu harus ditarik dari
kegiatan produksi. Nilai ini tidak harus selalu ada.

3. Umur Teknis
Umur teknis adalah taksiran jangka waktu penggunaan aktiva tetap
itu dalam kegiatan produksi. Terdapat dua klasifikasi umur dalam hal ini
menurut Harahap (1994: 54), yaitu umur fisik dan umur fungsional. Umur
fisik berarti berapa lamaaktiva tetap itu secara fisik mampu berproduksi,
sedangkan umur fungsional berarti berapa lama aktiva tetap itu mampu
untuk memproduksi barang-barang yang dapat ditawarkan dan diterima
masyarakat.
4. Metode Penyusutan

Dalam mengklasifikasikan metode penyusutan Weygandt, Kieso, dan


Kimmel (2005: 407) membaginnya ke dalam tiga metode yakni, straightline, units-of-activity, dan declining balance. Masing-masing metode dapat
digunakan dibawahprinsip akuntansi yang umum. Manajemen perusahaan
dapat memilih metode yang digunakan dalam melakukan penyusutan yang
sesuai dengan kebijakan perusahaan. Metode-metode dalam penyusutan
akan dijelaskan berdasarkan teori yang diungkap oleh Weygandt, Kieso,
dan Kimmel.
a. Metode Garis Lurus
Berdasarkan
sama

metode

garis

untuk setiap tahun masa

lurus,

besarnya

penyusutan

manfaat dari aktiva. Dalam

penyusutan dikenal istilah depreciable

cost

yaitu

biaya

perolehan aktiva dikurangi dengan nilai sisa/residu. Nilai ini


menjadi nilai yang dijadikan dasar penyusutan. Dengan metode
garis lurus, nilai depreciable cost selanjutnya dibagi dengan masa
manfaat aktiva.
b. Metode Units-of-Activity
Berdasarkan

metode

Units-of-Activity,

masa

manfaat

dinyatakan dalam unit total produksi atau penggunaan yang


diharapkan dari aktiva, bukan sebagai periode waktu. Metode

Units-of-Activity ini cocok untuk mesin pabrik. Produksi dapat


diukur dalam satuan output atau penggunaan mesin perjam. Metode
ini umumnya tidak cocok untuk bangunan atau perabot, karena
penyusutan untuk aktiva ini lebih merupakan fungsi dari waktu
dibandingkan penggunaan. Untuk menggunakan metode ini,
total unit aktivitas untuk seluruh masa manfaat diperkirakan, dan
unit-unit ini dibagi menjadi biayayang dapat disusutkan. Jumlah
yang dihasilkan merupakan biaya penyusutan per unit. Biaya
penyusutan per unit kemudian diterapkan pada unit aktivitas selama
tahun untuk menentukan beban penyusutan tahunan.
c. Metode Declining Balance
Metode saldo menurun menghasilkan beban penyusutan
tahunan yang menurun selama masa manfaat aktiva. Metode
ini dinamakan demikian,karena depresiasi periodik didasarkan
pada nilai buku menurun (biaya dikurangi dengan akumulasi
penyusutan) dari aktiva. Beban penyusutan tahunan dihitung
dengan mengalikan nilai buku pada awal tahun berjalan dengan tarif
penyusutan saldo menurun. Tingkat penyusutan tetap konstan dari
tahun ke tahun, tetapi nilai buku yang persentasenya berlaku
menurun setiap tahun.
Nilai buku pada awal tahun pertama adalah biaya aktiva
tersebut. Halini

terjadi

karena

keseimbangan

akumulasi

penyusutan pada awal masa manfaat aktiva adalah nol. Dalam


beberapa tahun berikutnya, nilai buku adalah perbedaan antara
biaya dengan akumulasi penyusutan sampai saat pemanfaatan
aktiva. Berbeda dengan metode penyusutan lain, metode saldo
menurun tidak menggunakan depreciable cost. Artinya, nilai sisa
diabaikandalam menentukan besarnya tarif persentase saldo
menurun. Disisi lasin nilai sisa, membatasi penyusutan total yang
dapat diambil. Penyusutan berhenti ketika
sama dengan

nilai

sisa

diharapkan.

nilai
Tarif

buku

aktiva

saldo menurun

umumnya adalah dua kali dari tarif garis lurus. Oleh karena itu
metode menurun sering disebut dengan double-declining-balance
method
2.2

Revaluasi Aktiva Tetap


Revaluasi diambil dari kata re dan valuasi (value), dimana re berarti

berulang atau kembali sedangkan valuasi yang berasal dari kata value yang berarti
nilai sehingga valuasi dapat diartikan sebagai proses penilaian. Jadi arti kata dari
revaluasi itu sendiri adalah penilaian kembali.
Revaluasi aktiva tetap adalah penilaian kembali aktiva tetap perusahaan
yang diakibatkan adanya kenaikan nilai aktiva tersebut di pasaran atau karena
rendahnya nilai aktiva tetap dalan laporan keuangan perusahaan yang disebabkan
oleh devaluasi atau sebab lain. Hal ini mengakibatkan nilai aktiva tetap dalam
laporan keuangan tidak mencerminkan nilai yang wajar. Atau dapat juga dikatakan
revaluasi aktiva tetap merupakan penilaian kembali aktiva tetap yang tercatat
didalam buku perusahaan dan masih digunakan untuk kegiatan operasional
perusahaan. Tujuan revaluasi adalah agar nilai yang tercantum didalam buku
perusahaan / laporan keuangan perusahaan sesuai dengan nilai wajar yang berlaku
pada saat dilakukannya revaluasi.
Revaluasi aktiva tetap dapat digunakan sebagai sarana bagi pemerintah atau
Direktorat Jenderal Pajak untuk meningkatkan penerimaan negara yang berasal dari
Pajak Penghasilan Badan, sedangkan bagi wajib pajak sendiri penilaian kembali
aktiva dapat dijadikan sebagai sarana untuk melakukan perencanaan perpajakannya
dengan tujuan untuk menghemat pembayaran pajak penghasilan badan.

2.3
1.

Sudut Pandang Revaluasi Aktiva Tetap


Berdasarkan PSAK
PSAK 16 adalah standar akuntansi keuangan resmi di Indonesia yang
menggunakan IAS 16 - Property, Plant and Equipment sebagai acuan utama
dan dikeluarkan oleh DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) Ikatan
Akuntan Indonesia.

Dalam PSAK nomor 16 disebutkan bahwa penilaian kembali aset


tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) menganut penilaian aset berdasarkan harga perolehan atau
harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan
berdasarkan ketentuan pemerintah.
Revaluasi atau penyajian kembali (restatement) aset dan kewajiban
menimbulkan kenaikan atau penurunan ekuitas. Meskipun memenuhi
definisi penghasilan dan beban menurut pemeliharaan modal tertentu,
kenaikan dan penurunan ini tidak dimasukkan kedalam laporan laba rugi.
Sebagai alternatif pos ini dimasukkan ke dalam ekuitas sebagi penyesuaian
pemeliharaan modal atau cadangan revaluasi.
2. Menurut Peraturan Menteri Keuangan ( PMK )
Kebijakan Revaluasi Aktiva Tetap bukanlah instrumen baru karena
Menteri Keuangan pernah meluncurkan instrumen yang sama pada tahun
pada tahun 2008 yaitu melalui PMK Nomor: 79/PMK.03/2008 tentang
Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Untuk Tujuan Perpajakan
(PMK 79/2008). Dengan diterbitkannya peraturan ini adalah diharapkan
dapat menambah setoran tunai pajak penghasilan yang berasal dari aset yang
dimiliki oleh para wajib pajak. Selain itu peraturan ini juga bertujuan untuk
menjaga stabilitas ekonomi makro serta membuat perusahaan dapat
menampilkan nilai aset yang wajar dalam laporan keuangan mereka. Akan
tetapi fasilitas ini hanya berlaku hingga akhir tahun 2016 saja karena itu
diharapkan wajib pajak dapat memanfaatkan betul fasilitas yang diberikan
oleh dirjen pajak.
PMK 191 Tahun 2015 merupakan pengembangan dari PMK Nomor
79/PMK.03/2008. PMK 191 Tahun 2015 berisi antara lain antara lain:

Aktiva yang dapat di-revaluasi adalah sebagian atau seluruh aktiva tetap
berwujud yang terletak atau berada di Indonesia, dimiliki, dan
dipergunakan

untuk

mendapatkan,

menagih,

penghasilan yang merupakan Objek Pajak.

dan

memelihara

Penilaian kembali harus dilakukan oleh kantor jasa penilai publik


(KJPP) atau ahli penilai yang memperoleh izin dari pemerintah. Dalam
hal nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh kantor jasa penilai
public atau ahli penilai ternyata tidak mencerminkan keadaan
sebenarnya, Direktorat Jenderal Pajak dapat menetapkan kembali nilai
pasar atau nilai wajar aktiva tetap yang bersangkutan.

Penilaian kembali aktiva tetap dilakukan berdasarkan nilai pasar atau


nilai wajar aktiva tetap yang berlaku pada saat penlaian kembali aktiva
tetap.

Selisih lebih revaluasi = Nilai Pasar Nilai Buku Fiskal


(Catatan : Perlu diperhatikan bahwa revaluasi untuk tujuan perpajakan
tidak mengenal istilah selisih kurang. Selisih lebih merupakan obyek
pajak penghasilan yang akan diberikan insentif pengurangan tarif.)

Penilaian kembali tidak dapat dilakukan kembali sebelum lewat jangka


waktu lima tahun sejak dilakukan penilaian dengan dasar PMK 191
Tahun 2005.

10

*Dari 2 (dua) standar tersebut, paling tidak terdapat 8 (delapan) perbedaan


signifikan sebagai berikut:

11

2.4

Pelaksanaan Revaluasi Aktiva Tetap

A. Syarat dilakukanya Revaluasi Aktiva Tetap


Menurut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) no. 191/2015 , syarat yang
harus dipenuhi adalah sebagai berikut :
1. Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk Usaha Tetap (BUT), tidak
termasuk perusahaan yang memperoleh ijin menyelenggarakan pembukuan
dalam bahasa Inggris dan mata uang Dolar Amerika Serikat.
2. Telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak
terakhir sebelum masa pajak dilakukannya penilaian kembali,
3. Mendapat persetujuan Diretur Jenderal Pajak.

B. Prosedur Melakukan Revaluasi Aktiva Tetap


1. WP mengajukan surat permohonan beserta lampirannya ke kantor kanwil
Direktorat Jendral Pajak dimana domisili WP terdaftar.

Persyaratan untuk WP telah melakukan penilaian kembali aktiva yang


dilakukan KJPP atau ahli penilaian sebagai berikut:
1. Surat permohonan
2. SSP Pelunasan PPh

12

3. Daftar aktiva yang dinilai kembali


4. Laporan keuangan
5. Fotokopi izin usaha KJPP/ ahli penilai
6. Laporan penilaian kembali oleh KJPP/ ahli penilai

Persyaratan untuk WP yang belum melakukan penilaian kembali aktiva


yang dilakukan KJPP atau ahli penilaian sebagai berikut:
Saat Permohonan :
1. Surat Permohonan
2. SSP PPh atas perkiraan penilaian dilunasi sebelum pengajuan
permohonan
3. Daftar aktiva tetap yang akan dinilai
Saat Pengajuan Dokumen Kelengkapan :
1. SSP kurang bayar dilunasi sebelum pengajuan dokumen
2. Laporan keuangan
3. Foto kopi izin usaha KJPP/ ahli penilai
4. Laporan penilaian kembali oleh KJPP/ ahli penilai
5. Daftar aktiva tetap hasil penilaian kembali

Batas waktu permohonan pengajuan permohonan dan kelengkapan


dokumen
1.

31 Desember 2016 untuk permohonan 20 Oktober 2015- Desember


2015

2.

30 Juni 2016 untuk permohonan 1 Januari 2016 30 Juni 2016

3.

31 Desember 2017 untuk permohonan Juli 2016 31 Desember


2016

C. Pemberlakuan tarif
Dalam hal ini PMK 191 Tahun 2015 memberlakukan tarif insentif
revaluasi aktiva tetap yang terbagi menjadi 3 macam dan ketiganya bersifat

13

final. Pembagian tarif ini disesuaikan dengan saat wajib pajak melakukan
pemanfaatan insentif perpajakan revaluasi. Tarif tersebut adalah:
1. 3%, untuk permohonan sampai dengan 31 Desember 2015 dan penilaian
kembali selesai paling lambat 31 Desember 2016.
2. 4%, untuk permohonan periode 1 Januari 2016 sampai dengan 30 Juni 2016
dan penilaian kembali selesai paling lambat 30 Juni 2017.atau
3. 6%, untuk permohonan periode 1 Juli 2016 sampai dengan 31 Desember
2016 dan penilaian kembali selesai paling lambat 31 Desember 2017.
Tarif tersebut dikenakan atas selisih lebih nilai aktiva tetap hasil penilaian
kembali atau hasil perkiraan penilaian kembali oleh Wajib Pajak berdasarkan
Kantor Jasa Penilai Publik atau ahli penilai di atas nilai buku fiskal semula.
Adapun hal yang perlu diperhatikan oleh Wajib Pajak lainnya adalah Wajib
Pajak wajib melunasi Pajak Penghasilan (PPh) Final terkait dilakukannya
penilaian kembali aktiva tetap dilakukan sebelum diajukannya permohonan
dan dilengkapinya dokumen dalam hal permohonan diajukan dengan
menggunakan nilai perkiraan penilaian kembali dari Wajib Pajak.
D. Ketentuan Khusus

Pelunasan Pajak Penghasilan (PPh) Final terkait dilakukannya


penilaian kembali aktiva tetap dilakukan sebelum diajukannya
permohonan dan dilengkapinya dokumen.

Wajib Pajak dapat melakukan penilaian sendiri terlebih dahulu


berdasarkan perkiraan untuk dapat melunasi perkiraan pajak terutang
karena penilaian kembali aktiva tetap dan pengajuan permohonan.
Meski demikian, hasil perkiraan penilaian wajib pajak tetap harus
dilakukan penilaian kembali oleh kantor jasa penilai public (atau ahli
penilai dalam batas waktu yang ditentukan).

Tambahan Obyek PPh final = Nilai Aktiva KJPP Nilai Aktiva Hasil
Perkiraan Sendiri.

14

Dalam hal Wajib Pajak telah memperoleh izin menyelenggarakan


pembukuan engan Bahasa Ingris dan mata uang Dollar, selisih lbih
penilaian kembali (dasar pengenaan pajak/DPP) dikonversi ke dalam
rupiah dengan KURS KMK pada saat pembayaran Pajak Penghasilan.

2.5
1.

Manfaat Revaluasi Aktiva Tetap


Dapat menciptakan performance of balance sheet yang lebih baik, sebagai
akibat meningkatnya nilai aktiva dan modal

2.

Meningkatkan kepercayaan para pemegang saham, karena kenaikan nilai


aktiva dapat dicatat sebagai tambahan nilai saham (saham bonus)

3.

Meningkatkan kepercayaan kreditur, sebagai dampak membaiknya


beberapa rasio keuangan perusahaan, khususnya yang ditunjukkan
oleh debt to assets ratio dan debt to equity ratio.

4.

Meningkatkan nilai perusahaan (mark-up) sehingga memudahkan


perusahaan dalam proses pencarian dana, baik melalui pinjaman bank
maupun peniualan saham (go public).

5.

Meningkatkan biaya penyusutan aktiva tetap dimasa datang sehingga


deductible expense dimasa datang semakin besar dan beban pajak samakin
kecil.

6.

Meningkatkan keakuratan penghitungan penghasilan maupun biaya


sehingga mencerminkan kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam
menghasilkan laba.

7.

Agar neraca perusahaan menunjukan posisi kekayaan perusahaan yang


sebenarnya.

2.6

Contoh Kasus
Kasus 1
Revaluasi aset tetap yang dilakukan oleh PT (Persero) Angkasa Pura
didasari oleh PMK Nomor 79/PMK.03/2008 Tanggal 23 Mei 2008
dengan tarif 10%.

15

PT (Persero) Angkasa Pura


Laba rugi perusahaan PT. Angkasa Pura adalah Rp. 4.464.157.000
sebelum dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) terhadap Badan dengan
pengenaan tarif pajak Badan sebesar 25%. Dengan demikian besarnya PPh
Terhutang PT. (Persero) Angkasa Pura I Kantor Cabang Bandar Udara
Sam Ratulangi sesuai dengan tarif pajak PPh Pasal 17 ayat 2 (a) adalah
sebagai berikut :
25% x Rp. 4.464.157.000

= Rp.

16

1.116.039.250

17

18

Pengaruh Revaluasi Aktiva Tetap Terhadap Laba Kena Pajak


Laporan laba rugi sebelum PPh badan sebesar Rp.3.084.186.000.
Perhitungan PPh Terhutang adalah:
25% x Rp.3.084.186.000

Rp. 771.046.500

Tarif PPh Final 10% x Rp.59.226.358.127,78 = Rp. 5.922.635.812,77


Final ditambah dengan PPh badan yaitu sebesar Rp. 6.693.682.312.77
Perbandingan

Pengenaan

Pajak

Sebelum

Melakukan

Dan

Melakukan Revaluasi Aktiva Tetap

Dikarenakan biaya PPh final revaluasi lebih besar dari pada beban pajak ,
maka beban pajak dihapuskan menjadi Rp. 0.
Biaya PPh final revaluasi dapat di angsur sampai 5 tahun.
Kasus 2
Revaluasi aset tetap yang dilakukan oleh Hotel Montana Dua Malang
didasari oleh PMK Nomor 79/PMK.03/2008 Tanggal 23 Mei 2008 dengan
tarif 10%.

Revaluasi Hotel Montana Dua Malang


Selisih nilai pada aktiva tetap sebelum dan sesudah revaluasi sebesar
Rp. 5.420.090.031,24. Dari selisih revaluasi tersebut dikenakan pajak 10%
bersifat final, sehingga pajak yang harus dibayar akibat adanya revaluasi
adalah sebesar Rp. 542.009.003,12. Selisih revaluasi akan tampak pada
neraca sisi pasiva di bagian modal. Sedangkan pengaruhnya terhadap

19

laporan laba rugi perusahaan terlihat pada biaya usaha pada poin depresiasi
aktiva tetap.

Perhitungan penghematan pajak

nilai komersial per 31 Desember 2001 sebagai berikut :


-

Tanah Rp 900.000.000.

Bangunan permanent (20 tahun) Rp 1.200.000.000.

Akumulasi penyusutan bangunan 7 tahun (Rp 420.000.000)

Peralatan dan kendaraan kelompok 2 Rp 1.600.000.000.

Akumulasi

penyusutan

peralatan

dan

kendaraan

(Rp.1.400.000.000).
Hasil penilaian sesuai harga pasar
-

Tanah Rp 3.960.000.000

Bangunan Rp 2.420.000.000

Peralatan / kendaraan Rp 920.000.000

Prediksi laba tahun 2002 (sebelum penyusutan) : Rp 350.000.000


Jika melakukan revaluasi
Aktiva

Nilai Buku

Harga Pasar

Selisih

Tetap

(dalam Rp)

(dalam Rp)

Revaluasi

Lebih

(dalam Rp)
Tanah

900.000.000

3.960.000.000 3.060.000.000

Bangunan

780,000,000

2.420.000.000 1.640.000.000

Peralatan

200,000,000 920.000.000

720.000.000

dan
Kendaraan
1.880.000.000

5.420.000.000

PPh final

542.000.000

10%

Laba

Rp

Penyusutan

20

350.000.000

tahun

Bangunan = Rp 3.960.000.000 x 5%

(Rp

198.000.000)

Peralatan&kendaraan = Rp920.000.000 x (Rp

115.000.000)

12,5%
Penghasilan Kena Pajak

Rp

37.000.000

Pajak PPh badan 25%

Rp

9.250.000

Jumlah pajak yg harus dibayar

Rp

551.250.000

Jika tidak melakukan revaluasi


Laba

Rp 350.000.000

Penyusutan
Bangunan

(Rp

60.000.000)

Peralatan&kendaraan

(Rp

20.000.000)

Penghasilan Kena Pajak

Rp 270.000.000

Pajak PPh badan 25%

Rp

67.500.000

Kasus 3
Revaluasi aset tetap yang dilakukan oleh PT. RXN didasari oleh PMK
191 Tahun 2015.
PT. RXN mengajukan permohonan penilaian aktiva tetap pada tanggal
15 Nopember 2015 yang telah dilakukan penilaian kembali oleh KJPP atas
aktiva tetap berupa truck yang diperoleh pada tahun 2009 sebesar Rp
130.000.0000 dan memiliki nilai buku fiskal tahun berjalan sebelum
penilaian kembali sebesar Rp 32.500.000.
Hasil penilaian kembali yang telah dilakukan oleh KJPP atas nilai pasar
aset tersebut pada tanggal 3 Nopember 2015 sebesar Rp.102.500.000.
Surat Keputusan Persetujuan atas penilaian kembali aktiva tetap diberikan
pada tanggal 10 Desember 2015.
-

Formulir yang digunakan oleh perusahaan tersebut saat pengajuan


permohonan penilaian kembali aktiva tetap adalah lampiran I dan
lampiran III PER-37/PJ/2015.

21

Jumlah pajak terutang yang harus dibayar adalah :


3% x Selisih lebih Nilai buku fiskal setelah penilaian kembali
DAFTAR AKTIVA TETAP HASIL PENILAIAN KEMBALI
UNTUK TUJUAN PERPAJAKAN
PER TANGGAL 3 NOPEMBER 2015

NO

KELOMPOK/JENIS
AKTIVA TETAP
BERWUJUD

TAHUN
PEROLEHAN

NILAI
PEROLEHAN

NILAI
BUKU
FISKAL TH.
BUKU
TERAKHIR
SEBELUM
PENILAIAN
KEMBALI

-1

-2

-3

-4

-5

2009

130.000.000

NILAI
BUKU
FISKAL TH.
BERJALAN
SEBELUM
PENILAIAN
KEMBALI

NILAI BUKU
FISKAL
SETELAH
PENILAIAN
KEMBALI

SELISIH
LEBIH (7) (6)

-6

-7

-8

32.500.000

102.500.000

70.000.000

Bukan Bangunan
Kelompok 2
TRUCK
JUMLAH

xxxxxx

70.000.000

KURS
JUMLAH (Rp)

70.000.000

TARIF

3%

PAJAK TERUTANG (Rp)

2.100.000

Penghitungan penyusutan mulai dilakukan atas aktiva tetap yang telah


mendapatkan persetujuan penilaian kembali mulai per tanggal 1 Januari
2016.

Kasus 4
Revaluasi aset tetap yang dilakukan oleh PT. NSG didasari oleh PMK
191 Tahun 2015.

22

PT. NSG mengajukan permohonan penilaian aktiva tetap pada tanggal


31 Desember 2015 yang belum dilakukan penilaian kembali oleh KJPP
berupa sebidang tanah kosong yang terletak di Lampung dan sebidang
tanah lainnya yang terdapat bangunan pabrik diatasnya yang terletak di
Bekasi. Aktiva tersebut diperoleh perusahaan pada tahun 2010 dengan
harga masing-masing Rp 150.000.000 dan Rp 500.000.000. Perkiraan nilai
buku fiskal sebelum penilaian kembali masing-masing sebesar Rp
750.000.000 dan Rp 2.000.000.000. Menurut penghitungan perusahaan
perkiraan nilai buku fiskal setelah penilaian kembali masing-masing
sebesar Rp 850.000.000 dan Rp 2.500.000.000.
Hasil penilaian kembali yang telah dilakukan oleh KJPP atas nilai pasar
aset tersebut pada tanggal 3 Maret 2016 masing-masing sebesar Rp
950.000.000 dan Rp 3.000.000.000. Perusahaan melengkapi dokumen
tambahan pada tanggal 10 Maret 2016. Surat Keputusan Persetujuan atas
penilaian kembali aktiva tetap diberikan pada tanggal 25 Maret 2016.
-

Formulir yang digunakan saat pengajuan permohonan penilaian


kembali aktiva tetap adalah :

lampiran II

dan lampiran IV PER-37/PJ/2015 (pada saat

pengajuan permohonan penilaian kembali).

Lampiran V dan lampiran VI

PER-37/PJ/2015 (pada saat

tambahan dokumen kelengkapan).


-

Jumlah pajak terutang yang adalah :

3% X Selisih lebih Perkiraan nilai buku fiskal setelah penilaian


kembali dikurangi Perkiraan nilai buku fiskal sebelum penilaian
kembali. (pada saat pengajuan permohonan penilaian kembali)

4% X Selisih lebih Perkiraan nilai buku fiskal setelah penilaian


kembali dikurangi Perkiraan nilai buku fiskal sebelum penilaian
kembali. (pada saat tambahan dokumen kelengkapan)

23

DAFTAR AKTIVA TETAP HASIL PENILAIAN KEMBALI


UNTUK TUJUAN PERPAJAKAN
PER TANGGAL 4 MARET 2016

NO

KELOMPOK/JENIS
AKTIVA TETAP
BERWUJUD

TAHUN
PEROLEHAN

NILAI PEROLEHAN

NILAI BUKU
FISKAL TH.
BUKU
TERAKHIR
SEBELUM
PENILAIAN
KEMBALI

-1

-2

-3

-4

-5

NILAI BUKU
FISKAL TH.
BERJALAN
SEBELUM
PENILAIAN
KEMBALI

NILAI BUKU
FISKAL SETELAH
PENILAIAN
KEMBALI

SELISIH LEBIH (7) (6)

-6

-7

-8

Bukan Bangunan
Kelompok 3
Mesin

2010

450.000.000

225.000.000

230.000.000

320.000.000

90.000.000

JUMLAH

90.000.000

NILAI AKTIVA TETAP BERDASARAKAN PERKIRAAN

80.000.000

SELISIH

10.000.000

KURS
SELISIH

10.000.000

TARIF

4%

PAJAK TERUTANG (Rp)

400.000

Penghitungan penyusutan mulai dilakukan atas aktiva tetap yang


telah mendapatkan persetujuan penilaian kembali mulai bulan
Maret 2016 (bulan dilakukannya penilaian kembali)

24

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Revaluasi aktiva tetap merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan

oleh perusahaan sebagai salah satu cara pelaksanaan tax planning yang bertujuan
untuk meringankan beban kerugian perusahaan. Revalusi Aktiva Tetap
disebabkan oleh adanya perubahan nilai kekayaan ( Aktiva Tetap) tersebut, baik
terjadi kenaikan nilai aktiva tetap atau rendahnya nilai aktiva tetap yang
diakibatkan oleh devaluasi atau hal-hal lain dan Revaluasi ini di atur pada
Peraturan Menteri Keuangan bernomor 191/PMK.10/2015 tentang Penilaian
Kembali Aktiva Tetap Untuk Tujuan Perpajakan Bagi Permohonan Yang
Diajukan Pada Tahun 2015 dan Tahun 2016 (PMK 191/2015) atau lebih dikenal
sebagai Kebijakan Revaluasi Aktiva Tetap.
Secara garis besar, kebijakan ini adalah bentuk insentif perpajakan yang
diberikan kepada Wajib Pajak. Kebijakan Revaluasi Aktiva Tetap bukanlah
instrumen baru karena Menteri Keuangan pernah meluncurkan instrumen yang
sama pada tahun pada tahun 2008 yaitu melalui PMK Nomor: 79/PMK.03/2008
tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Untuk Tujuan Perpajakan
(PMK 79/2008).Terdapat beberapa keuntungan bagi pihak Wajib Pajak (
Perusahaan / Perorangan ) yang melakukan revaluasi aktiva tetap berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.010/2015, salah satunya dimana
Wajib Pajak diberikan diskon terhadap tarif PPh sehingga PPh yang dikenakan
menjadi lebih kecil yaitu sebesar 3%, 4% atau 6% saja Namun di sini para
manager

perlu

berhati-hati

dalam

merespon

terbitnya

PMK

No.191/PMK.010/2015. Keputusan untuk melakukan revaluasi aset tetap harus


mempertimbangkan dampak jangka pendek dan jangka panjang serta dampak
pelaporan keuangannya nanti. Seperti mempertimbangkan Aset tetap mana yang
akan direvaluasi untuk mengoptimalkan manfaat pajak.

25

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pajak.go.id/
Ikatan Akuntansi Indonesia, 2011, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
Nomor 16
tentang

Aset

Tetap,diaksespadatanggal15

Juli

2012,
(http://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/ED-PSAK-16.pdf).
Unikom, 2013.Modul Pelatihan Pajak Terapan Brevet A dan B Terpadu.
Suandy, Erly. 2013. Perencanaan Pajak Edisi Revisi 5. Salemba Empat.
C Katuk, Yolanda. 2013.Analisis Perencanaan Pajak Melalui Revaluasi Aktiva Tet
ap PadaPAngkasa Pura I (Persero) Bandara Sam Ratulangi. Jurnal Emba. Vo
l 1 No. 3.
http://akuntansidanpendidikan-anggi.blogspot.com/2012/02/makalah-revaluasiaktiva-tetap.html
http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/06/revaluasi-atau-penilaiankembali-aktiva.html
http://lib.ui.ac.id?file=digital/20318284-S-Yosseane%20Widia%20Kristi.pdf

26