Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS PERBEDAAN TABEL MORTALITA

TMI I TAHUN 1993, TMI II TAHUN 1999 DAN TMI III TAHUN 2011

OLEH : CANA VANINA


NPM : 1406548991

TUGAS DARI MATA KULIAH : MATEMATIKA ASURANSI

JURUSAN ADMINISTRASI ASURANSI & AKTUARIA


KELAS A

PROGRAM VOKASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DESEMBER 2015

PENGERTIAN ASURANSI, PREMI ASURANSI, POLIS ASURANSI, KLAIM


ASURANSI, PENANGGUNG, UNDERWRITING, TERTANGGUNG

Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Perniagaan atau Wetboek van


Koophandel memberikan definisi tentang asuransi sebagai berikut :

Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang


penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan
menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena
suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan,
yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.
Ada empat unsur yang terlibat dalam asuransi yaitu :
Penanggung (insurer), yang memberikan proteksi
Tertanggung (insured), yang menerima proteksi
Peristiwa (accident) yang tidakdiduga atau tidak diketahui sebelumnya,
peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian
Kepentingan (interest) yang diasuransikan yang mungkin akan mengalami
kerugian disebabkan oleh peristiwa itu.
Premi adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan setiap bulannya sebagai
kewajiban dari tertanggung atas keikutsertaannya di asuransi. Besarnya premi
atas keikutsertaan di asuransi yang harus dibayarkan telah ditetapkan oleh
perusahaan asuransi dengan memperhatikan keadaan-keadaan dari
tertanggung.
Polis Asuransi adalah suatu perjanjian asuransi atau pertanggungan bersifat
konsensual (adanya kesepakatan), harus dibuat secara tertulis dalam suatu
akta antara pihak yang mengadakan perjanjian. Pada akta yang dibuat secara
tertulis itu dinamakan polis. Jadi, polis adalah tanda bukti perjanjian
pertanggungan yang merupakan bukti tertulis.
Klaim asuransi
asuransi, untuk
Klaim Asuransi
validitasnya dan
disetujui.

adalah Sebuah permintaan resmi kepada perusahaan


meminta pembayaran berdasarkan ketentuan perjanjian.
yang
diajukan akan ditinjau oleh perusahaan untuk
kemudian dibayarkan kepada pihak tertanggung setelah

Penanggung menurut asuransi jiwa adalah yang memberikan jasa dalam


penanggulanggan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau matinya seseorang
yang diasuransikan. Perusahaan Asuransi Jiwa merupakan badan hukum
milik swasta atau badan hukum milik Negara.
Tertanggung adalah seseorang yang memanfaatkan jasa dari perusahaan
asuransi, baik milik swasta ataupun milik Negara.
Underwriting menurut pengertian asuransi jiwa adalah proses penaksiran
mortalitas atau morbiditas calon tertanggung untuk menetapkan apakah
akan menerima atau menolak calon peserta dan menetapkan klasifikasi
peserta. Mortalitas adalah jumlah kejadian meninggal relatif di antara
sekelompok orang tertentu, sedang morbiditas adalah jumlah kejadian
relative sakit atau penyakit di antara sekelompok orang tertentu
Terdapat tiga jenis asuransi, yaitu :
1. Asuransi kerugian (General Insurance) yaitu asuransi yang berkaitan
dengan pertanggungan terhadap harta benda.
2. Asuransi jiwa (Life Insurance) yaitu asuransi yang memberikan
perlindungan terhadap resiko pada jiwa seseorang yang menjadi
tertanggung selama masa asuransi.
3. Asuransi Kesehatan (Health Insurance) merupakan salah satu jenis
produk asuransi yang secara khusus menjamin biaya kesehatan atau
perawatan para nasabah asuransi tersebut apabila mereka mengalami
gangguan kesehatan atau mengalami kecelakaan.

Didalam sebuah perusahaan asuransi terdapat 5 bagian didalam nya, yaitu


bagian Underwriting, Actuary, dan Claim yang merupakan bagian operasional
perusahaan asuransi ditambah dengan bagian Marketing dan Investasi.
Bagian Underwriting adalah bagian yang menyetujui siapakah yang
dapat mengikuti asuransi dan menyelidiki keabsahan dan kebenaran
relasi antara pemegang polis dan pihak pihak tertanggung.
Bagian Actuary adalah bagian yang menghitung jumlah biaya yang
harus dibayar oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis

Bagian Claim adalah bagian yang menyelidiki kebenaran terjadinya


sesuatu terhadap pemegang polis dan menyelidiki terjadinya claim
yang terjadi.

Bagian Marketing adalah bagian yang memasarkan produk asuransi


sebuah perusahaan

Bagian Investasi adalah bagian yang mencari dana bagi perusahaan


asuransi tersebut.

Sebagai contoh, terdapat pemegang polis A terdaftar sebagai nasabah


asuransi dan sebagai pemegang polis serta mengansuransikan
keluarganya yang terdiri dari Istri dan kedua anaknya. Bila pemegang
polis A kemudian meninggal dunia, maka keluarganya tersebut yang
terdiri dari istri dan kedua anaknya akan mendapat biaya
pertanggungan yang disebut dengan beneficiary.

Dalam perhitungan biaya pertanggungan sebuah perusahaan asuransi


dalam jenis asuransi jiwa, maka dilakukan perhitungan biaya dengan
menggunakan Tabel Mortalita

Tabel mortalita adalah tabel yang menunjukkan tingkat mortalitas yang


diperkirakan terjadi setiap tahun dalam setiap kelompok umur.
Besarnya premi murni yang harus dibayar ditentukan oleh tingkat
mortalitas

Peluang
Peluang dapat didefinisikan sebagai nilai kemungkinan munculnya suatu
kejadian . Ada dua macam peluang yang kita kenal yaitu :
-

Priority probability, yaitu peluang kejadian yang sudah diketahui


sebelumnya. Contoh : pada percobaan pelemparan koin, maka peluang
munculnya kepala dan ekor masing2 adalah 0.5

Empirical probability, yaitu peluang kejadian yang dapat diketahui dari


pengalaman sehari-hari. Contoh : dalam sebuah pabrik diamati berapa
banyak buruh yang mendapat kecelakaan kerja setiap tahunnya,
kemudian dari hasil pengamatan ditentukan nilai peluangnya.

Dalam perasuransian , yang paling banyak digunakan adalah empirical


probability. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, kita dapat menaksir
berapa kemungkinan kerugian dimasa yang akan datang sehingga dapat
digunakan sebagai dasar dalam penetapan premi.

Tabel Mortalita

Tabel Mortalita merupakan tabel yang menunjukkan rata-rata jumlah kematian


yang terjadi pada setiap tahunnya dalam setiap kelompok usia. Di dalam
asuransi jiwa baik konvensional maupun syariah tabel mortalita merupakan
unsur utama dalam proses penetapan premi. Nilai dalam tabel mortalita
menunjukkan probabilitas seorang yang hidup pada permulaan suatu tahun
akan meninggal sebelum akhir tahun tersebut. Tabel mortalita inilah yang
nantinya akan digunakan sebagi acuan dasar untuk menaksir tingkat harapan
hidup dimasa yang akan datang.
Tabel Mortalita merupakan implementasi dari empirical probability pada
perusahaan asuransi. Secara sederhana table mortalitas dapat dikatakan
sebagai tabulasi jumlah orang yang hidup sama dengan jumlah orang yang
mati misalnya pada usia 110 tahun atau dapat juga sampai batas usia dimana
jumlah yang hidup lx = 0. Populasi pada usia 0 yang menjadi basis dalam
komputasi table disebut Cohort. Cohort ini biasanya diambil dalam jumlah
besar misalnya 100.000 atau 1.000.000 orang. Dalam sebuah Tabel Mortalita
selain ditampilkan jumlah yang hidup dan mati, kadang-kadang ditampilkan
juga nilai kemungkinan hidup, kemungkinan mati, dan nilai harapan hidup.
Pada prinsipnya ada 3 jenis tabel mortalita, yaitu :
1.. Tabel Mortalita Indonesia yaitu TMI I-1993, TMI II-1999, dan TMI 2011
2. Tabel standard hasil publikasi, misalnya Commissioner 1941 Standard
Ordinary Mortality Table (CSO 1941) dan Table 80 CNSMT, 1980
Commissioners Standard Mortality Table
3. Table yang didapatkan dari pengalaman-pengalaman perusahaan asuransi
di masa lampau.

Sejarah Baru Bisnis Asuransi Jiwa


Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) meluncurkan Tabel Mortalita
Indonesia 2011 (TMI 2011) sebagai acuan baru untuk industry asuransi jiwa di
Indonesia. TMI 2011 juga menggantikan TMI II yang berlaku sejak 1999 silam.
Selama ini, perusahaan asuransi, dalam menentukan tariff premi,
menggunakan Tabel Mortalita Indonesia II yang diberlakukan sejak 13 tahun
yang lalu. Tabel Mortalita tahun 2011 ini merupakan pembaharuan dari Tabel
Mortalita II yang dirancang oleh Dewan Asuransi Indonesia dan diterbitkan
pada 7 Desember 1999.

Perubahan yang signifikan dari kependudukan, seperti adanya urbanisasi,


faktor kesehatan, dan kematian, mendorong dilakukannya penyempurnaan
tabel mortalita sekaligus untuk mendukung penentuan tariff premi yang yang
lebih mutakhir dan dan komprehensif. Tujuannya adalah untuk mendukung
penentuan premi yang lebih komprehensif. Sampai saat ini, industri asuransi
jiwa sudah mempunyai dua tabel, yakni mortalita Indonesia I dan II. Yang
pertama di-declare tahun 1989. Tabel ini masih sangat datar, terdiri dari data
dua asuransi jiwa lalu direvisi. Tabel Mortalita II lebih baik, ada 13 asuransi
jiwa, ujar Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim.
Dalam memperbarui tabel mortalita, AAJI menggandeng Persatuan Aktuaris
Indonesia (PAI) dan Swiss Re serta mendapat dukungan penuh dari Biro
Perasuransian Bapepam LK. Keempat lembaga itu membentuk Tim Kerja TMI
2011 yang bekerja sejak November 2009 hingga finalisasi penulisan Tabel
Mortalita Indonesia 2011 pada awal Januari 2012. Dengan diterbitkannya TMI
2011, Hendrisman mengharapkan industri asuransi jiwa Indonesia punya
acuan terkini untuk menentukan tariff premi yang lebih persuasif.
Tarif premi merupakan wujud tujuan perusahaan memperoleh laba sehingga
perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Di sisi lain, tarif
premi yang dibuat berguna untuk melindungi masyarakat dari kerugian atau
perlakuan tidak fair. Seperti diketahui, dalam pembentukan tarif premi,
perusahaan asuransi menggunakan tabel mortalita, yaitu tabel yang berisi
suatu angka kejadian kematian di antara kelompok kelompok tertentu dari
penduduk.
Tabel itu berguna untuk menentukan besarnya klaim, kemungkinan timbulnya
kerugian yang disebabkan oleh kematian, serta memprediksi berapa lama
batas waktu rata-rata seseorang bisa hidup. Tabel mortalita disusun
berdasarkan penelitian dengan menggunakan prinsip hukum bilangan besar
yang menyatakan makin besar jumlah angka pengamatan yang dilakukan
terhadap suatu peristiwa tertentu akan makin besar kemungkinan hasilnya
mencapai tingkat kebenaran atas peristiwa itu.
Tabel mortalita yang kedua (TMI II-1999) sudah tidak pas lagi untuk dipakai
sebagai acuan premi asuransi karena usianya lebih dari 10 tahun. Kondisi
saat ini tingkat kematian pasti lebih rendah dari 10% sehingga tariff premi juga
nantinya bisa diturunkan. Tabel mortalita II dianggap sudah tidak up to date
lagi. Selain itu, juga ada perubahan signifikan dalam hal kependudukan yang
terkait dengan harapan hidup orang dan risiko kesehatan. Tak cuma itu,
banyak pemain baru yang bermunculan juga menjadi factor perubahan Tabel

Mortalita II. Patut diketahui, Tabel mortalita II datanya hanya mengacu pada
13 perusahaan yang menguasai 70% pangsa pasar saat itu.
Menurut Hendrisman, tabel mortalita bukanlah model yang akan
mempengaruhi kenaikan atau penurunan premi bagi asuransi jiwa. Pasalnya,
tiap perusahaan akan memiliki tingkat premi berbeda-beda. Setiap
perusahaan akan menentukan premi sesuai dengan karakteristik perusahaan
sehingga akan mempengaruhi system tabel mortalita tersebut.
Dalam Tabel Mortalita 2011 ini juga terdapat penurunan tingkat mortalitas
yang signifikan untuk usia-usia produktif. Hal ini diharapkan akan membawa
dampak positif pada industry jiwa, manfaat karyawan, dan semacamnya.
Imbuh dia.

Sedangkan ketua PAI Budi Tampubolon menyatakan dengan jumlah eksposur


data yang besar dan sebagai hasil kontribusi data dari sebagian besar
perusahaan asuransi jiwa, TMI 2011 memberikan gambaran tingkat mortalitas
asuransi di Indonesia yang lebih akurat dan terkini dibandingkan beberapa
TMI terdahulu.
Sehingga akan membantu meningkatkan kualitas proyeksi/perhitungan
aktuaria dan opini aktuaris, ungkap dia.
Sementara itu, ketua Kelompok Kerja TMI 2011 Rianto Ahmadi Djojosugito
menyatakan pengalaman mortalita untuk kategori usia di bawah 50 tahun
menurun 28 % dibandingkan data TMI II tahun 1999. Sedangkan pengalaman
mortalita untuk kategori usia di atas 50 tahun meningkat 2 % dibandingkan
TMI II.
Dalam TMI 2011 ditemukan banyak perubahan data mortalita sebagai
masukan dari 41 perusahaan yang bergerak di asuransi jiwa dibanding posisi
data TMI II yang datanya hanya berasal dari 13 perusahaan . Sebagai contoh,
ujar dia, pada TMI 2011 pada portfolio, polis rupiah tercatat lebih banyak,
sementara dolar sedikit. Data dari perusahaan asuransi jiwa yaitu data jumlah
eksposur dan jumlah klaim auransi.
Ini juga terjadi dalam bisnis baru. Minimnya dolar merupakan akibat dari krisi
moneter di tahun 1997-1998. Setelah krisis 1998, dolar semakin ditinggal
karena ada risiko currency

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyatakan keyakinannya akan


harga premi yang lebih kompetitif dengan dirilisnya Tabel Mortalita Indonesia
(TMI) 2011.
Dengan dirilisnya TMI 2011, maka otomatis harga premi asuransi akan lebih
kompetitif, kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Hendrisman Rahim. Pertumbuhan industri, tidak hanya tergantung premi.
Tetapi juga tergantung pada kondisi ekonomi. Kalaupun ada penurunan premi
sebagai dampak dari TMI 2011 pertumbuhan industry masih tetap pada level
20 persen 30 persen.
Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) Budi Tampubolong menambahkan,
berpengaruhnya TMI 2011 terhadap harga premi yang lebih kompetitif karena
data yang ditawarkan dalam TMI 2011 lebih akurat dibandingkan TMI II yang
dirilis pada 1999.
Jelas premi asuransi jiwa di Indonesia akan lebih kompetitif karena data-data
yang ditawarkan di TMI 2011 jauh lebih akurat dari TMI sebelumnya, tandas
dia.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja TMI 2011 Rianto Ahmadi Djojosugito
menyatakan, pengalaman mortalita untuk kategori usia dibawah 50 tahun
menurun 28 % dibandingkan data TMI II tahun 1999. Sedangkan pengalaman
mortalita untuk kategori usia di atas 50 tahun meningkat 2%.
Dalam TMI 2011 ditemukan banyak perubahan data mortalita sebagai
masukan dari 41 perusahaan yang bergerak di asuransi jiwa, dibanding posisi
data TMI II yang datanya hanya berasal dari 13 perusahaan saja. Sehingga,
semakin besar jumlah angka pengamatan yang dilakukan terhadap suatu
peristiwa tertentu akan makin besar kemungkinan hasilnya mencapai tingkat
kebenaran atas peristiwa itu.
Sebagai contoh, pada TMI 2011 pada portofolio, polis rupiah tercatat lebih
banyak, sementara dolar sedikit. Ini juga terjadi dalam bisnis baru, dimana
minimnya dolar sebagai akibat dari krisis.moneter di tahun 1997-1998.
Dalam TMI 2011 terdapat penurunan tingkat kematian, atau membaik
dibanding dengan TMI II. Sebab itu, untuk risiko kematian, harga premi
menurun secara signifikan.
Untuk premi yang memiliki saving atau produk unit link TMI 2011 tidak terlalu
berpengaruh signifikan. Tapi saya yakin, TMI 2011 akan sangat membantu

dan mendorong industri asuransi jiwa untuk terus bertumbuh, tegas Ketua
Kelompok Kerja TMI 2011 Rianto Ahmadi Djojosugito.

Kesimpulan
1. Tabel Mortalita I masih sangat datar karena data hanya dari 2
perusahaan asuransi
2. Tabel Mortalita II yang diterbitkan tahun 1999 lebih baik dibandingkan
Tabel Mortalita I karena data mengacu pada 13 perusahaan yang
menguasai 70% pangsa pasar saat itu.
3. Dalam TMI 2011 ditemukan banyak perubahan data mortalita sebagai
masukan dari 41 perusahaan yang bergerak di asuransi jiwa dibanding
posisi data TMI II yang datanya hanya berasal dari 13 perusahaan.
Sebagai contoh, pada TMI 2011 pada portofolio, polis rupiah tercatat
lebih banyak, sementara dolar sedikit. Dalam Tabel Mortalita 2011 ini
juga terdapat penurunan tingkat mortalitas yang signifikan untuk usiausia produktif. Hal ini diharapkan akan membawa dampak positif pada
industry jiwa, manfaat karyawan, dan semacamnya. Perubahan yang
signifikan dari kependudukan, seperti adanya urbanisasi, faktor
kesehatan, dan kematian, mendorong dilakukannya penyempurnaan
tabel mortalita sekaligus untuk mendukung penentuan tarif premi yang
yang lebih mutakhir dan dan komprehensif. Tujuannya adalah untuk
mendukung penentuan premi yang lebih komprehensif. Jumlah
eksposur data yang besar dan sebagai hasil kontribusi data dari
sebagian besar perusahaan asuransi jiwa, TMI 2011 memberikan
gambaran tingkat mortalitas asuransi di Indonesia yang lebih akurat
dan terkini dibandingkan beberapa TMI terdahulu.

TABEL MORTALITA
INDONESIA 2011 (TMI III
2011)
LAKI - LAKI

X
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

qx (laki-laki)
0.00802
0.00079
0.00063
0.00051
0.00043
0.00038
0.00034
0.00031
0.00029
0.00028
0.00027
0.00027
0.00026
0.00026
0.00027
0.00029
0.0003
0.00032
0.00036

px
0.99198
0.99921
0.99937
0.99949
0.99957
0.99962
0.99966
0.99969
0.99971
0.99972
0.99973
0.99973
0.99974
0.99974
0.99973
0.99971
0.9997
0.99968
0.99964

lx
100000
99198
99119.63358
99057.18821
99006.66904
98964.09618
98926.48982
98892.85481
98862.19803
98833.52799
98805.8546
98779.17702
98752.50665
98726.83099
98701.16202
98674.5127
98645.8971
98616.30333
98584.74611

TABEL MORTALITA INDONESIA 2011 (TMI III 2011)


PEREMPUAN

X
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

qx (perempuan)
0.0037
0.00056
0.00042
0.00033
0.00028
0.00027
0.0003
0.00031
0.0003
0.00028
0.00025
0.00024
0.00026
0.00028
0.00029
0.00028
0.00025
0.00024
0.00023

px
0.9963
0.99944
0.99958
0.99967
0.99972
0.99973
0.9997
0.99969
0.9997
0.99972
0.99975
0.99976
0.99974
0.99972
0.99971
0.99972
0.99975
0.99976
0.99977

lx
100000
99630
99574.2072
99532.386
99444.8231
99414.9897
99354.3558
99326.5366
99301.7049
99277.8725
99252.0603
99301.7049
99277.8725
99252.0603
99224.2697
99195.4947
99167.7199
99142.928
99119.1337

TABEL MORTALITA INDONESIA TAHUN 1999 (TMI II - 1999)


x
0
1
2
3
4
5
6
7

lx
10,000,000.00
9,967,900.00
9,959,726.32
9.952,156.93
9,944,692.81
9,937,433.19
9,930,576.36
9.924,022.18

dx
32,100.00
8,173.68
7,569.39
7,464.12
7,259.63
6,856.83
6,554.18
6,152.89

qx
0.00321
0.00082
0.00076
0.00075
0.00073
0.00069
0.00066
0.00062

px
0.99679
0.99918
0.99924
0.99925
0.99927
0.99931
0.99934
0.99938

TABEL MORTALITA INDONESIA TAHUN 1993 (TMI II - 1993)


x
0
1
2
3
4
5
6
7

lx
10,000,000.00
9,677,700.00
9,642,470.00
9,617,210.00
9,597,880.00
9,581,560.00
9,566,420.00
9,551,690.00

dx
322.300.00
35,230.00
25,260.00
19,330.00
16,320.00
15,140.00
14,730.00
13,750.00

qx
0.03223
0.00364
0.00262
0.00201
0.0017
0.00158
0.00154
0.00144

Keterangan :
X = usia
lx =jumlah orang pada usia x yang hidup
dx = jumlah orang yang mati sebelum usia x + 1
qx = nilai kemungkinan kematian pada usia x

px
0.96777
0.996.36
0.99738
0.99799
0.9983
0.99842
0.99846
0.99856

px = nilai kemungkinan seorang hidup pada usia x

Berikut adalah notasi baku aktuaria :


x = usia
qx = nilai kemungkinan kematian pada usia x = dx : lx
px = nilai kemungkinan seorang hidup dalam setahun = lx + 1 : lx
lx = jumlah orang usia x yang hidup
dx = jumlah kematian selama usia x = lx lx + 1

Seseorang pada satu usia akan mati atau hidup pada tahun tersebut, jadi
dalam setiap usia : qx + px = 1. Selanjutnya, terdapat relasi antara dx dan lx,
yaitu lx + 1 = lx dx
Dengan kata lain, sejumlah orang yang hidup pada suatu usia (x + 1) (lx + 1)
dapat dicari dengan menggunakan jumlah kematian tahun lalu (dx) dari jumlah
orang yang hidup pada awal tahun.

Referensi :

Ali, A. Hasymi. Pengantar asuransi. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 1993

Ningrum, Kurniati Kusuma. Gambaran penggunaan Tabel Mortalita


dalam penetapan premi pada asuransi jiwa (studi kasus pada PT.
Asuransi Jiwa Bringin Life). Skripsi

http://www.proteksipradana.com/

http://keuangan.kontan.co.id/news/tabel-mortalita-iii. --Reporter
Fransiska Firlana ; Editor Uji Agung Santosa

http://www.bisnis.com/articles/asuransi-jiwa-aaji-rilis-tabel-mortalita-2011

http://stabilitas.co.id/home/detail/aaji-rilis-tabel-mortalita-iii-2011

http://suksesgudangilmu.blogspot.co.id/search/label/tabel%20mortalita

TOP SAHAM .COM

Anda mungkin juga menyukai