Anda di halaman 1dari 27

TUGAS KEPERAWATAN LANJUT II

PENERAPAN KEPERAWATAN LANJUT PALLIATIVE CARE :


HOSPICE, PALLIATIVE HOME CARE, PALLIATIVE COMBINED
CARE

OLEH :
Alfilutfiatul K. (130915001)
Filaili Peristi S. (130915023)
Bagus Kusuma (130915046)
Saktya Yudha (130915059)
Shella Novi (130915069)
Winda Bastiana (130915083)
Cinthya Surya N. (130915097)
Heru K. (130915111)
M. Irdlo B. (130915122)
Samsul Arifin (130915137)
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah yang Maha Esa atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga makalah Penerapan Keperawatan Lanjut Palliative
Care : Hospice, Palliative Home Care, Palliative Combined Care dapat
selesai pada waktunya. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Keperawatan
Lanjut II.
Kami selaku penulis menyadari bahwa tiada sesuatu yang sempurna di
dunia ini, begitu pula makalah yang telah kami buat ini, baik dlam segi isi maupun
penulisannya. Kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan
makalah kami selanjutnya.
Terakhir, penyusun berharap agar makalah ini dapat memberikan
pengetahuan dan bermanfaat bagi semua calon perawat dan masyarakat pada
umumnya.

Surabaya, Maret 2013

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN

i
ii

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian perawatan paliatif
2.2 Tujuan Perawatan Paliatif
2.3 Sasaran perawatan Paliatif
2.4 Tempat Perawatan Paliatif
2.4 Pelaksana Perawatan Paliatif
2.4 Tindakan Perawatan Paliatif
2.4 Tipe Perawatan Paliatif
BAB 3 PEMBAHASAN
3.1 Penerapan Perawatan Paliatif di Luar Negeri
3.2 Penerapan Perawatan Paliatif di Indonesia
BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penyakit kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang
menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik di dunia maupun di negara
berkembang seperti Indonesia. Menurut WHO dan Bank Dunia tahun 2005
diperkirakan setiap tahun, 12 juta orang di seluruh dunia menderita kanker dan 7,6
juta diantaranya meninggal dunia. Jika tidak dikendalikan, diperkirakan 26 juta
orang akan menderita kanker dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun
2030. Ironisnya, kejadian ini akan terjadi lebih cepat di negara miskin dan
berkembang (International Union Against Cancer/UICC 2009). Kanker
menempati urutan kedua setelah penyakit jantung sebagai penyebab kematian
utama di Amerika serikat. Pada wanita usia 40 hingga 79 tahun dan laki-laki usia
60-79 tahun (Whitney, 2008). Penyakit kanker sebagian besar dapat dicegah,
namun dapat mengakibatkan lebih dari satu juta kematian setiap tahunnya. Sekitar
23 % kematian di Amerika serikat diakibatkan oleh kanker (Lee RD, et al 2008).
Proporsi kejadian kanker di dunia yang lebih tinggi terjadi di daerah kurang
berkembang, baik dari segi insiden kanker (56% dari kasus kanker baru di tahun
2008 terjadi di negara berkembang) dan kematian kanker (63% dari kematian
akibat kanker). Penderita kanker terbanyak di dunia adalah kanker paru-paru (1.61
juta, 12.7% dari total), kanker payudara (1.38 juta, 10.9%) dan kanker kolorektal
(1.23 juta, 9.7%). Penyebab kematian yang paling umum terjadi yaitu pada kanker
paru-paru (1.38 juta, 18.2% dari total), kanker lambung (0.74 juta, 9.7%) dan
kanker hati (0.69 juta, 9.2%) (Globocan, 2008). Di Indonesia pada tahun 2004,
prevalensi penyakit neoplasma mengalami peningkatan yang cukup tinggi
(Depkes Indonesia 2005). Data statistik rumah sakit dalam Sistem Informasi
Rumah Sakit (SIRS) tahun 2006, menunjukkan bahwa kanker payudara
menempati urutan pertama pada pasien rawat inap (19,64%), disusul kanker leher
rahim (11,07%), dan leukemia (5,93%) (Depkes Indonesia, 2009). Menurut Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 diantara penyakit tidak menular pada
semua kelompok umur di Indonesia, kanker (tumor ganas) berada pada urutan
keenam setelah diabetes mellitus yaitu 4.3%.
Kanker pada umumnya memiliki prognosis buruk terlebih apabila sudah
masuk stadium lanjut. Pada kasus seperti ini tindakan kuratif tidak bisa

menyembuhkan, pengobatan hanya bersifat mencegah keadaan semakin


memburuk. Untuk itu dihadirkan perawatan paliatif sebagai penunjang disamping
penanganan dibidang medis.
Menurut WHO tahun 2013 perawatan paliatif adalah pendekatan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka menghadapi masalah
terkait dengan penyakit yang mengancam jiwa, melalui pencegahan sempurna dan
pengobatan rasa sakit dan masalah lain, fisik psikososial dan spiritual.
Pasien paliatif adalah orang yang sedang menderita sakit dimana tingkat
sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah tidak
mungkin dapat menyembuhkan lagi. Oleh karena itu, perawatan paliatif bersifat
meredakan gejala penyakit, bukan berfungsi untuk menyembuhkan. Jadi fungsi
perawatan paliatif adalah mengendalikan nyeri yang dirasakan serta keluhankeluhan lainnya dan meminimalisir masalah emosi, sosial, dan spiritual yang
dihadapi pasien (Tejawinata, 2000 dalam Chusairi 2001).
Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa pasien poli perawatan paliatif
adalah orang yang didiagnosis mengidap penyakit berat yang tidak dapat
disembuhkan lagi dimana prognosisnya adalah kematian. Data di Poli Perawatan
Paliatif RSUD dr. Soetomo Surabaya menyebutkan bahwa pasien di Poli
Perawatan Paliatif RSUD dr. Soetomo Surabaya ini semakin hari jumlahnya
semakin bertambah dari 3.962 pasien di tahun 1993 menjadi sekitar 4.298 di tahun
2001, meningkat 11,34 %. (Chusairi, 2001). Ketika seseorang terdiagnosa
penyakit berat dan berstadium lanjut, dimana pengobatan medis sudah tidak
mungkin diberikan kepada pasien, maka individu tersebut akan mengalami
goncangan psikologis yang hebat. Kematian adalah salah satu kepastian bagi para
pasien poli perawatan paliatif. Bagi para pasien paliatif, panjang atau pendek
berjalannya waktu adalah hari-hari yang sangat menyiksa karena mereka harus
menantikan kematian sebagai jawaban pasti dengan penderitaan rasa nyeri yang
sangat hebat. (Megawe, 1998). Berbagai macam peran hidup yang dijalani selama
ini pasti akan menghadapi kendala baik itu disebabkan karena kendala fisik,
psikologis, sosial, budaya maupun spiritual. Demikian pula, prognosis akan
kematian pada para pasien poli perawatan paliatif akan lebih memberikan dampak
konflik psikologis, sosial, budaya maupun spiritual yang sangat khas. Kematian

memang salah satu perjalanan dalam rentang kehidupan manusia yang pasti akan
terjadi. Akan tetapi, proses menuju kepada kematian masing-masing individu
tidak akan ada yang sama. Pasien paliatif seakan-akan diharuskan menghadapi
proses kematian dengan sebuah penderitaan yang sangat berat karena mereka
harus menderita sakit nyeri yang sangat hebat. Semakin lama rentang masa sakit
mereka sebelum mati membuat semakin berat beban psikologis mereka
menghadapi proses kematian. Demikian pula orang-orang di sekitar para pasien
paliatif tentunya juga mengalami penderitaan yang hampir sama dengan para
pasiennya karena keluarga dan orang-orang yang dekat dengan pasien akan turut
merasakan penderitaannya. Manusia secara umum ketika menghadapi sakit pasti
akan berusaha untuk mengobati sakit yang diderita dengan berbagai macam cara.
Perilaku health seeking pasti akan dilakukan baik itu dengan tujuan untuk
meredakan sakit maupun bertujuan untuk mengobati sakit. Pola perilaku health
seeking dalam masyarakat umum yang berkembang dapat dibedakan menjadi : 1)
beberapa orang mempercayakan pemeliharaan kesehatannya kepada seorang ahli
kesehatan profesional seperti dokter, 2) beberapa orang lain mempercayakan
pengobatan sakitnya kepada ahli kesehatan non-profesional seperti tabib, 3)
sebagian orang mempercayakan kesehatannya kepada pengobatan dengan
pendekatan spiritual, 4) sebagian orang lagi mempercayakan penyembuhan
sakitnya kepada pengobatan tradisional seperti jamu-jamu maupun pijat urat, atau
5) sebagian lagi mempercayakan pengobatannya kepada pengobatan alternatif
yang lain (Notoatmojo, 1993).
Di Indonesia perawatan paliatif baru dimulai pada tanggal 19 februari
1992 di RS Dr Soetomo (Surabaya), disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta ),
RS kanker Dharmis (Jakarta), RS Wahidin sudirohusodo (Makasar), RS Dr.
Sardjito (Yogyakarta), dan RS Sanglah (Denpasar).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep dari perawatan paliatif ?
2. Bagaimanakah penerapan perawatan paliatif di luar negeri ?
3. Bagaimanakah penerapan paliatif di Indonesia ?
4. Bagaimanakah inovasi dalam pengembangan paliatif care di Indonesia ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis penerapan paliatif di indonesia
1.3.2Tujuan Khusus
1.
2.
3.
4.

Mengetahui konsep perawatan paliatif.


Mengetahui penerapan perawatan paliatif di luar negeri.
Mengetahui penerapan paliatif di Indonesia.
Mengidentifikasi pengembangan inovasi perawatan paliatif di Indonesia.

1.3 Manfaat Penelitian


1) Dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam upaya perawatan paliatif.
2) Memberikan masukan kepada pengelola rumah sakit atau layanan kesehatan.
3) Memberikan pengetahuan keluarga tentang perawatan paliatif.
4) Menumbuhkan motivasi bagi perawat untuk membuat inovasi perawatan
paliatif.
5) Sebagai masukan/ pertimbangan metode untuk perawatan paliatif.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Perawatan Paliatif

Definisi perawatan paliatif menurut WHO (2002) adalah pendekatan


yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keluarganya
menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang
mengancam jiwa, dengan mencegah dan meringankan penderitaan melalui
identifikasi awal dan penilaian serta terapi rasa sakit dan masalah lainbaik fisik,
psikososial maupun spiritual. Perawatan paliatif tidak lagi ditujukan untuk
penyembuhan, tetapi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien di sisa usianya.
Perawatan ini diberikan ketika tidak ada lagi peluang kesembuhan secara medis.
Perawatan hanya ditujukan untuk mengurangi penderitaan sebanyak mungkin.
Pasien paliatif adalah pasien/orang yang sedang menderita sakit dimana
tingkat sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah
tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi. Oleh karena itu, perawatan paliatif
bersifat meredakan gejala penyakit, namun tidak lagi berfungsi untuk
menyembuhkan. Jadi fungsi perawatan paliatif adalah mengendalikan nyeri yang
dirasakan serta keluhan-keluhan lainnya dan meminimalisir masalah emosi, sosial,
dan spiritual yang dihadapi pasien (Tejawinata, 2000).
Titik sentral dari perawatan adalah pasien sebagai manusia seutuhnya,
bukan hanya penyakit yang dideritanya. Dan perawatan ini tidak dibatasi pada
pasien secara individu, namun diperluas sampai mencakup keluarganya. Dengan
demikian pelayanan pada pasien diberikan secara paripurna, hingga meliputi fisik,
mental, sosial dan spiritual. Maka timbullah pelayanan paliatif care yang
mencakup pelayanan terintegrasi antara dokter, perawat, terapis, petugas sosialmedis, rohaniawan, psikolog, relawan dan profesi lain yang diperlukan.
Lebih lanjut organisasi kesehatan dunia (WHO) menekankan lagi bahwa
pelayanan paliatif berpijak pada pola dasar dibawah ini :
1. Meningkatkan kulaitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses yang

normal.
2. Tidak mempercepat dan menunda kematian.
3. Menghilangkan nyeri dan gangguan lain yang mengganggu.
4. Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual.
5. Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayat.
6. Berusaha membantu mengatasi suasana sukacita pada keluarga.
2.2 Tujuan Perawatan Paliatif
Tujuan utama dari perawatan paliatif adalah untuk meningkatkan kualitas
hidup pasien terhadap penyakit sampai pengobatan, termasuk perawatan pada

kematian dan menangani kehilangan. Sebagai refleksi dari keluhan pasien,


pengaruh penyakit dan pengaruh dari aspek individu (oxk).
Tujuan dari perawatan paliatif adalah memberikan dukungan dan
perawatan pada pasien dalam stadium akhir dari penyakit sehingga mutu hidup
pasien tinggi dan nyaman (Robert, 1995).
2.3 Sasaran Perawatan Paliatif
Seluruh pasien (dewasa dan anak) dan anggota keluarga, lingkungan yang
memerlukan perawatan paliatif di mana pun pasien berada di seluruh Indonesia.
Perawatan paliatif tidak sekedar tentang kanker, perawatan ini semakin
banyak dilakukan untuk pasien yang mengalami segala macam penyakit
degeneratif, misalnya AIDS, penyakit pernafasan kronik, dll.
2.4 Tempat Perawatan Paliatif care
Menurut Keputusan menteri kesehatan No. 812 tahun 2007, tempat untuk
melakukan perawatan paliatif adalah:
a. Rumah sakit : Untuk pasien yang harus mendapatkan perawatan yang
memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus.
b. Puskesmas : Untuk pasien yang memerlukan pelayanan rawat jalan.
c. Rumah singgah/panti (hospis) : Untuk pasien yang tidak memerlukan
pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus, tetapi belum dapat
dirawat di rumah karena masih memerlukan pengawasan tenaga kesehatan.
d. Rumah pasien : Untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat,
tindakan khusus atau peralatan khusus atau ketrampilan perawatan yang tidak
mungkin dilakukan oleh keluarga.
2.5 Pelaksana Perawatan Paliatif
Pelaksana perawatan paliatif adalah tenaga kesehatan, pekerja sosial,
rohaniawan, keluarga, relawan.
Kriteria pelaksana perawatan paliatif adalah telah mengikuti
pendidikan/pelatihan perawatan paliatif dan telah mendapat sertifikat.
2.6 Tindakan Perawatan Paliatif
Jenis kegiatan perawatan paliatif dilakukan melalui rawat inap, rawat jalan,
dan kunjungan/rawat rumah, meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penatalaksanaan nyeri.
Penatalaksanaan keluhan fisik lain.
Asuhan keperawatan.
Dukungan psikologis.
Dukungan sosial.
Dukungan kultural dan spiritual.
Dukungan persiapan dan selama masa dukacita (bereavement).

2.1.7 Tipe Pelayanan Perawatan Paliatif


Meskipun berfokus pada pelayanan di rumah, sebagian besar pelayanan
perawatan paliatif pada UK memyarankan untuk :
1. Perawat special home care.
2. Konsultasi : di rumah dengan practisioner umum, pada bangsal dan rumah
sakit.
3. Pasien rawat jalan.
4. Day care.
5. Pasien rawat inap.
6. Dukungan terhadap kehilangan.
7. Pendidikan.
8. Penelitian.
a. Home care
Perawat spesialis home care (Perawat macmilan) sebagai penghubung dengan
tim perawat primer dan menyarankan pengobatan dan perawatan. Karena
mereka memberi dukungan kepada keluarga, pada sisa hidup pasien hingga
meninggal. Dilakukan dengan melakukan kunjungan ke rumah penderita
terutama karena alasan tertentu yang tidak bisa datang ke rumah sakit.
Kunjungan dilakukan oleh tim yang terdiri dari dokter paliatif, psikiater,
perawat dan relawan untuk memantau dan memberikan solusi atas masalah
yang dialami baik medis/biologos tetapi juga psikis, sosial dan spiritual.
b. Day care
Day care merupakan layanan untuk tindakan medis (rawat luka, kemoterapi,
dsb) yang tidak memerlukan rawat inap. Day center menerima 10 sampai 15
pasien setiap hari. Day center memperbolehkan pasien di rumah untuk waktu
lebih lama dari prediksi. Pasien datang ke day care sering menemukan arti
baru dan tujuan dalam hidup seperti mempunyai banyak teman,
mengembangkan peluang dan menikmati aktivitas budaya bersama.
c. Rawat inap
Pasien mengatakan menejemen gejala, untuk kehilangan keluarga atau
kematian. Rehabilitasi difasilitasi oleh terpi okupasi dan fisio terapi.
d. Dukungan kehilangan
Ini disediakan oleh relawan yang terlatih dibawah pengawasan pekerja sosial.
Dukungan diberikan secara berkelanjutan setelah kehilangan oleh perawat
home care.
e. Pertolongan suka rela
Dukungan yang diberikan pelayan perawatan paliatif adalah mengembangkan
relawan dengan banyak aspek perawatan.

f. Pendidikan dan penelitian


Belajar tentang bagaimana merawat lebih baik bagi pasien yg mati.
Menurut national institute for clinical excellent tahun 2004, berdasarkan
pelnelitian penelitian sebelumnya, ada beberapa perawatan paliatif yang bisa
diterapkan yakni :
1. Co-ordinate of care
Bukti dasar : Telah ada studi 13 individu yang dilakukan intervensi untuk
meningkatkan koordinasi pelayanan.semua studi ini berkualitas baik. Enam
studi yang dilakukan di inggris, satu di skotlandia, dua di amerika utara, satu di
kanada, dua di norwegia dan satu di belanda.
Jenis intervensi : adalah intervensi yang dirancang untuk merangsang
pembelajaran aktif dengan menempatkan siswa dalam hubungan satu siswa
satu pasien pada kanker yang menjalani terapi aktif atau perawatan paliatif.
Program pendidikan yang ditawarkan sebagai bagian dari intervensi untuk para
profesional masyarakat .intervensi ini difokuskan pada perawatan di rumah.
Jordhoy menerapkan intervensi perawatan paliatif menyediakan layanan untuk
memungkinkan pasien untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan
meninggal di sana jika mereka lebih suka. Zimmer mengevaluasi pendekatan
home care baru untuk pasien yang tinggal di rumah, termasuk komponen
biaya-efektivitas intervensi. Zimmer melakukan penelitian dimana tim
perawatan paliatif yang terdiri dari seorang dokter, seorang praktisi perawat
dan pekerja sosial memberikan pelayanan kesehatan primer di rumah pasien.
Ini adalah nurse co-ordinator atau tim yang dikombinasikan dengan langkahlangkah lain beberapa layanan link. Mekanisme tambahan termasuk
penyediaan layanan telepon 24 jam, penggunaan berkas rumah secara
kolaboratif, protokol untuk spesifik care, dan pedoman yang telah ditetapkan
untuk menjaga interaksi layanan optimal. Intervensi kebanyakan diarahkan
pasien terminal.
2. User involvement in planning, delivering and evaluating service (pengguna
keterlibatan dalam perencanaan, pengiriman, dan evaluasi pelayanan)
Jenis intervensi
1. Melibatkan pasien dalam perencanaan dan pengembangan pelayanan
kesehatan.
2. Pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan individu.

3. Difokuskan pada pemberian informasi.


4. Mendorong pasien untuk mengambil peran aktif dalam pengambilan
keputusan medis.
3. Face to face communication
Jenis intervensi
a. Pelatihan keterampilan komunikasi efektif untuk

perilaku profesional

kesehatan dalam perawatan kanker.


b. Komunikasi dan keterampilan konseling dijalankan bersama-sama untuk
dokter dan perawat yang bekerja di rumah sakit dan masyarakat.
c. Meningkatkan keterampilan komunikasi ketika memberikan informasi
menyedihkan. Termasuk memberikan kabar buruk kepada pasien.
d. Keterampilan komunikasi ketika berhadapan dengan pasien kanker yang
sakit parah.
e. Memfasilitasi komunikasi antara pasien dan profesi kesehatan lain,
termasuk secara tertulis, memperkenalkan metode, multidisiplin proaktif
berkomunikasi dengan

pasien dan keluarga mereka untuk menentukan

apakah rencana perawatan yang efektif memenuhi tujuan pasien.


f. Menyediakan rekaman dari konsultasi dengan onkolog.
g. Menyediakan kontak telepon rutin bagi pasien untuk meningkatkan
kecukupan dukungan. Termasuk pasien yang menjalani radiotherapy, pasien
selama periode berpotensi stres dan lain lain.
Intervensi intervensi ini dilaksanakan untuk memberikan kontribusi
terhadap otonomi pasien dan keterlibatan aktif mereka dalam keputusan klinis.
4. Information
Jenis intervensi
a.

Intervensi bisa berupa informasi tertulis, kaset, alat bantu audiovisual dan
media interaktif.

b. Penelitian menerapkan berbagai intervensi:


c. Bahan tertulis seperti leaflet atau booklet, baik umum dan specific atau surat
meringkas konsultasi, baik dalam kombinasi dengan rekaman kaset
konsultasi
d. Pemberian rekaman kaset dari konsultasi

e. Sebuah rekaman geser persiapan untuk mendidik pasien sebelum procedures


f. Video dan intervensi booklet tentang nyeri kanker dan management nya.
g. Sebuah video pendidikan untuk dibawa pulang setelah konsultasi pertama.
h. Telepon bantuan untuk

informasi dan dukungan kepada pasien kanker,

orang lain yang berarti bagi mereka dan umum


i. Dokumentasi informasi dan / atau perawatan:
j. Berisi rekaman perawatan yang mengandung janji, buku harian peristiwa
penting, obat-obatan, alamat penjaga 'dan no yang bisa dihubungi, pasien
memiliki catatan bahan tertulis yang diberikan kepada pasien, sesuai dengan
informasi yang pasien butuhkan.
k. Sebuah tim interdisipliner yang menyediakan information
l. Intervensi perawat yang terstruktur
5. Psychological support service
Jenis intervensi : Intervensi psikologis bagi penderita kanker memanfaatkan
pendekatan yang berbeda:
a. Menggunakan perawat kesehatan mental sebagai terapis.
b. Menggunakan psikolog sebagai fasilitator.
Mayoritas studi mengevaluasi intervensi psikososial diarahkan pada
penderita kanker payudara.termasuk pasien kanker payudara non-metastasis,
pasien kanker payudara stadium awal, wanita yang mendapat kemoterapi,
radioterapi, hormon therapy, wanita yang menjalani operasi kanker payudara,
wanita setelah operasi payudara untuk cancer, wanita dengan kanker payudara
metastatik dan kanker payudara survivors. Intervensi psikologis juga
diterapkan untuk nyeri kanker relief dan sebagai bagian dari percobaan.
6. Social support service
Jenis intervensi
a. Identifikasi area masalah dalam situasi kehidupan pasien
b. Berbagi informasi yang relevan mengenai pasien dengan keluarganya dalam
batas-batas kerahasiaan
c. Membantu pasien dalam perencanaan tujuan untuk hidup, membantu
keluarga untuk menangani hubungan yang terganggu, dan membantu pasien
dengan reaksi emosional terhadap penyakit disfungsional.

d. Siegel mengembangkan intervensi yang terdiri dari sistem telepon


penjangkauan otomatis ditambah dengan bantuan pekerja sosial tepat waktu.
e. Mendorong pasien melaporkan kebutuhan perawatan kanker, kualitas hidup,
dan intervensi psikososial tersedia bagi tim perawatan kesehatan
f. Menawarkan dukungan intervensi pada daerah yang jauh dari perawatan
medis standar, program ini secara rutin melibatkan layanan dukungan
psikososial dengan pengobatan medis.
g. Konselor onkologi memberikan dukungan dan informasi selama rawat inap
h. Seorang pekerja sosial memberikan koordinasi dan kontinuitas pelayanan
antara rumah sakit dan masyarakat.
7. Spiritual support service
Jenis intervensi : review sistematik cochrane mempunyai obyek spesifik
untuk melihat efektivitas dalam berdoa sebagai intervensi tambahan pada
masalah kesehatan pada orang-orang yang sudah menerima sandart layananan
medis. Sebuah review literatur dan hubungan antara pekerja hospice dan
ulama di awal tahun 90-an untuk mengerti evaluasi dari teori dan praktek dari
keperawatan spiritual. Dia menempatkan dalam konteks dan
mempertimbangkan implikasi dari tiap pilihan agar organisasi pengobatan
paliatif dan peran dari ulama, perawat dan praktisi lain. Dua penelitian
berfokus pada syarat dari spiritual care dengan cara yang berbeda. Disinilah
klinik yang menyediakan pengukuran kualitas hidup dengan penerapan
spiritualitas. Terdiri dari ulama(tokoh agama), perawatan paliatif tim
multidisiplin yang melibatkan dokter, perawat, psikolog dan pada sebuah
penelitian kohort tampak hubungan antara keyakinan spiritual dan berduka
menyimpulkan bahwa orang-orang yang mengaku kuat keyakinan spiritual
tampaknya mengatasi kesedihan mereka lebih cepat daripada orang yang tidak
beragama spiritual.
8. General palliative care services, incorporating care of dying patients
Jenis intervensi : Intervensi kebanyakan diarahkan pasien yang sakit kritis
atau menderita gejala parah seperti dispnea kanker paru-paru atau pasien
sekarat.
9. Specialist palliative care services
Jenis intervensi

a. Tim spesialis perawatan paliatif bekerja dalam perawatan di rumah ,


perawatan rumah sakit, unit rawat inap, dan hospices rawat inap terpadu.
b. Di AS pelayanan perawatan paliatif cenderung untuk menyediakan semua
aspek perawatan, sedangkan dalam perawatan negara lain dibagi antara tim
perawatan paliatif dan profesional lainnya.
Spesialis layanan terapi paliatif
Spesialis perawatan paliatif hari didefinisikan sebagai layanan, yang
meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup pasien melalui rehabilitasi,
terapi okupasi, fisioterapi, pengelolaan dan pemantauan gejala dan
penyediaan dukungan psikososial. Hal ini diatur dalam konteks interaksi
sosial, saling mendukung dan persahabatan dan dapat memberikan beberapa
perawatan fisik dan tangguh.
10. Rehabilitation services
Tipe intervensi : Rehabilitasi kanker tidak dapat dibagi ke dalam kategori
karena mereka sering memanfaatkan kombinasi intervensi yang berbeda:
klinis, pendidikan, konseling, informasi. Ini adalah dalam menanggapi
berbagai kondisi atau efek pengobatan, di berbagai tahapan dalam jalur
pasien.
Tipe intervensi rehabilitasi adalah sebagai berikut :
a. Seorang konselor onkologi yang memberikan dukungan dan informasi
selama rawat inap dan seorang pekerja sosial yang disediakan koordinasi
dan kontinuitas pelayanan antara rumah sakit dan masyarakat.
b. Menerapkan intervensi kelompok psikososial menekankan pelatihan fisik,
informasi dan keterampilan mengatasi atas tindak lanjut dari satu tahun.
c. Melaksanakan instruksi, terapis konservasi energi fisik oleh seorang ahli
terapi okupasional, contohnya instruksi tai chi oleh seorang guru tai chi.
d. Pelayanan komprehensif yang terdiri dari penilaian terstruktur dari tiga
gejala target, diikuti oleh pendidikan rencana individual, konseling
farmakologis dan / atau intervensi perilaku, psikososial dukungan, arahan,
dan tindak lanjut disesuaikan.
e. Intervensi dalam rehabilitasi kanker sebagian besar lebih dari 1 hal untuk
mengurangi kerugian fisik dan psikologis efek dari kanker .

11. Complementary therapy services


Tipe intervensi
Dua dari tinjauan sistematis mengevaluasi prevalensi pelengkap dan
pengobatan alternatif (complementary and alternative medicine/cam) . Tidak
ada definisi universal tentang apa yang merupakan terapi cam dalam
penelitian. Ernst dan cassileth melihat tinjauan prevalensi terapi cam pada
pasien yang diketahui menderita kanker.
1) Penelitian oleh cooke dan ernst memeriksa penggunaan aromaterapi di
sejumlah pengaturan klinis. Ini termasuk kanker, pasca-operasi dan itu
(unit terapi intensif) pasien dalam lingkungan rumah sakit, serta pasien
dengan bronchitis kronik, perokok, pasca-partum wanita, orang dewasa
yang sehat dan pasien dengan alopecia areata. Pengobatan dengan
aromaterapi dibandingkan dengan plasebo, aromaterapi dalam enam studi
melibatkan penggunaan pijat dengan aromaterapi, dan dalam enam studi
yang tersisa, dua inhalasi melibatkan dari campuran aromatik, orang yang
terlibat pijat kulit kepala setiap hari, satu dari pemberian oral melibatkan
cairan aromatik dan yang terakhir melibatkan rokok dummy yang
terkandung bau metanol.
2) Tinjauan sistematis oleh pan menganalisis peran terapi cam dalam
pengelolaan nyeri, dyspnoea dan mual dan muntah untuk pasien yang
mendekati akhir hidup mereka. Ini tidak hanya termasuk pasien kanker,
tetapi juga orang dengan hiv (positif) dan obstruktif kronis penyakit
airway (coad). Jenis-jenis intervensi yang digunakan untuk pengobatan
sakit adalah tens, terapi akupunktur, pijat, perilaku dan relaksasi, terapi
musik dan terapi psikologis. Dispnea dirawat oleh akupunktur, akupresur
dan terapi perilaku dan psikologis. Intervensi digunakan untuk mual dan
muntah adalah akupresur pada acupoint p6.
3) Tinjauan sistematis yang dilakukan oleh vickers memeriksa penggunaan
akupunktur dalam berbagai pengaturan klinis yang memicu mual dan
muntah dan termasuk pasien kanker yang menerima kemoterapi, wanita
dan pasien pasca-operasi mual dan muntah (umum, prosedur ginekologi,
anak dan bedah ortopedi ).

4) Tinjauan sistematis yang dilakukan oleh fellowes memeriksa bukti-bukti


untuk efektivitas aromaterapi dan pijat dalam meningkatkan fisik dan
kesejahteraan psikologis pada pasien dengan kanker. Sembilan studi yang
disertakan, tujuh di antaranya secara acak terkontrol.
5) Gambles memeriksa bukti untuk efektivitas refleksologi dalam
meningkatkan fisik dan kesejahteraan psikologis pada pasien dengan
kanker. Tiga studi termasuk dalam kajian ini, yang kedua secara acak
terkontrol.
6) Review yang dilakukan oleh cassileth & brown memeriksa jenis obat
kanker yang terbukti mencapai popularitas di amerika bersama dengan
efek sampingnya. Review yang dilakukan oleh ernst dibedakan antara
pengobatan kanker alternatif (act) dan perawatan suportif pelengkap (csc)
dan juga didefinisikan peran mereka dalam manajemen kanker modern
atas dasar bukti yang diterbitkan.
7) Review yang dilakukan oleh trijsburg et al meneliti efek dari pengobatan
psikologis pada pasien kanker. Penelitian ini meliputi pengobatan pasien
dengan hipnoterapi. Ada tiga kelompok utama, konseling yg disesuaikan,
konseling terstruktur dan intervensi perilaku atau hipnosis. Tidak semua
studi memberikan rekening yang tepat dari intervensi pada kelompok
perlakuan (yaitu hasilnya tidak direproduksi di sebelas studi). Perlakuan
dibandingkan dengan kontrol. Durasi dan jumlah sesi dalam studi
diperiksa bervariasi dari lima belas menit untuk sembilan puluh menit
dan dari beberapa minggu untuk lebih dari satu tahun. Pengobatan dinilai
menggunakan instrumen psikologis berbagai variabel dan juga variabel
somatik. Dua puluh satu dari dua puluh dua studi menggunakan
instrumen psikologis diketahui valid dan reliabel. Ada variasi dalam
metodologi percobaan dan pilihan parameter psikologis dan somatik
diukur dalam studi.
Review oleh walker penelitian yang dianggap telah menguji penerapan
intervensi hipnotis untuk pasien kanker di empat bidang:
1. Untuk memperbaiki efek samping dari pengobatan,
2. Untuk membantu pasien menyesuaikan diri dengan memiliki kanker
3.

dan gejalanya
untuk mengurangi penderitaan yang disebabkan oleh prosedur yang
menyakitkan

4. Untuk mencoba untuk mengubah mekanisme kekebalan dengan


maksud untuk meningkatkan prognosis.
a. Walker melakukan rct (random control trial) prospektif untuk
menyelidiki efek relaksasi dikombinasikan dengan citra dipandu
terhadap kualitas hidup dan respon terhadap kemoterapi primer
antara 96 wanita dengan kanker payudara yang baru didiagnosa
besar atau stadium lanjut
b. Sebuah penelitian merenungkan layanan onkologi psikososial bagi
perempuan dengan payudara kanker memusatkan perhatian pada
identifikasi perempuan pada risiko masalah psikologis dan
kejiwaan. Para penulis melihat pola perilaku pencarian pengobatan
oleh pasien dengan kanker payudara, dan penggunaan terapi
komplementer.
c. Penelitian oleh clover menggambarkan pasien kanker yang
menghadiri layanan terapi komplementer dan mengukur dampak
pada kualitas hidup mereka.
d. Penelitian oleh downer melihat berapa proporsi pasien kanker
menerima konvensional serta pengobatan komplementer.
e. Penelitian oleh thomas et al. Melihat skala dan cakupan akses ke
terapi komplementer (akupunktur, chiropractic, homeopati,
hipnoterapi, medis jamu dan osteopati) melalui praktik umum di
inggris.
f. Penelitian oleh ferrell-torry & glick meneliti efek dari terapi pijat
pada tingkat nyeri persepsi, kecemasan dan relaksasi pada pasien
kanker rawat inap yang mengalami nyeri kanker.
g. Penelitian oleh speca mengkaji pengaruh partisipasi dalam meditasi
kesadaran dan program pengurangan stres berbasis pada gangguan
mood dan gejala stres pada pasien rawat jalan kanker
12. Care for family and carees, including bereavement care (perawatan untuk
keluarga dan pengasuh, termasuk perawatan berduka)
Jenis intervensi dan ukuran hasil.

1. Menggabungkan perawatan rumah, day care dan tangguh, dievaluasi


sebagai layanan tunggal.
2. Sebuah program psikoedukasi untuk pengasuh kanker dilaksanakan oleh
perawat dan pekerja sosial dievaluasi, yang ditujukan pada manajemen
gejala, dukungan psikososial, dan sumber daya identifikasi. Temuan
mengkonfirmasi sifat kronis dan memakan kanker pengasuhan.
Penyediaan perawat
Data deskriptif dari penjaga menekankan pentingnya berbicara dan
memiliki seseorang untuk mendengarkan. Namun, biaya tinggi dan
kurangnya opsi pendanaan untuk kesehatan campuran dan intervensi
perawatan sosial membuat layanan tidak layak.
Kegiatan dan jaringan sosial : The well spouse foundation
mempromosikan kesejahteraan penjaga dari sakit kronis melalui peer
ketimbang profesional support. Ini jaringan nasional yang menyediakan
telepon dan surat dukungan kelompok, memberikan informasi dan berbagi
ide-ide praktis. One-to-one interventions
Membantu pengasuh dalam memenuhi fungsi dukungan mereka: yaitu
untuk mempertahankan dukungan pasien sosial, mempromosikan otonomi
paten, advokat bagi pasien dalam sistem medis, mendorong komunikasi
pasien, dan memfasilitasi ekspresi saling feelings..
13. Group work
Intervensi kerja kelompok pada kanker dan perawatan paliatif secara luas
disarankan untuk memberikan dukungan yang diperlukan dan informasi kepada
pengasuh, dan telah berhasil digunakan dengan cara ini untuk pasien kanker.
Pengembangan model kelompok multi-disiplin telah dijelaskan, yang
bertujuan untuk mengurangi stres pengasuh yang berasal dari kurangnya
pengetahuan dalam menerapkan keterampilan yang diperlukan peduli.

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Perkembangan Perawatan Paliatif di Dunia


Dibawah ini dijelaskan aplikasi perawatan paliatif di beberapa negara :
a. Perawatan paliatif di canada
Perkembangan dan pelayanan pengiriman hospice palliative care di kanada
berkembang lebih lanjut pada 5 tahun lalu (artinya tahun 1999 ) dikarenakan
inisiatif pemerintah pusat, provinsi, dan pemerintah lokal.
Keperawatan paliatif di kanada berkembang sebagai spesialisasi keperawatan
yang diakui yang memungkinkan keperawatan untuk menyediakan model
kepemimpinan terintegrasi.
Canadian hospice palliative care adalah asosisi non profit di kanada, bergerak
di bidang promoting education & training, serta menyadarkan masyarakat tentang
adanya paliiative care servise. Untuk pasien dan keluarga yang menderita suatu
penyakit ditujukan untuk semua jenis diagnosa penyakit.
Palliative care service delivery in canada:
1. Dilakukan oleh multi disiplin ilmu
2. Menyediakan penanganan gejala seperti nyeri
3. Conseling care
4. Spiritual care
5. Consultation servise
6. Pelayanan home care
7. Tim konsultasi komunitas
b. Perawatan Paliatif di Australia dan Selandia Baru
Perkembangan Hospice dan paliatif care di Australia dan Selandia Baru
sudah sangat baik, dengan pelayanan yang membutuhkan ketetapan dari standar
pelayanan kesehatan. Bentuk dari perawatn paliatif di dua negara ini kurang lebih
sama. Ada yang mengutamakan inpatient, home care, dan dukungan dari rumah
sakit, pelayanan berdasarkan fakta lebih banyak digunakan pelayanan day care di
Selandia Baru daripada di Australia.
Pelayanan Hospice pertama di Selandia Baru dibuka pada tahun 1979, dengan
pelayanan yang mencakup seluruh negara. Paliatif care di Selandia Baru
berkembang dari komunitas inpastient hospice kecil yang terhubung kuat dengan
komunitas pelayanan keperawatan local dengan syarat semacam home care.

Sistem organisasi dari asosiasi nasional sudah sangat baik yaitu berupa fasilitas
komunikasi antara pengguna, termasuk konferensi national tahunan. Pemilihan
umum pada tahun 2008 dan perubahan pemerintah berjanji akan meningkatkan
dukungan untuk hospice dan paliatif care.
Pelayanan hospice pertama di Australia dibuka di St. Christophers di London
(1969) yang terkait dengan Isrish Sisters of Charity of Hospice di Sydney (1890)
dan Melbourne (1938). Di Australia baru ada respon tentang perkembangan
pelayanan keperawatan paliatif di rumah.
Paliatif Care di dua negara tersebut terus berkembang dan tumbuh. perawat
saat ini menunjukkan peran kepemimpinan yang jelas di dua negara ini dan
praktek keperawatan berdasarkan fakta, pendidikan, dan penelitian. untuk
melanjutkan perkmebangan dari tingkat pendidikan di keperawartan paliatif
dilakukan melalui penelitian keberlanjutan.
c. Perawatan paliatif di eropa
Perawatan paliatif di eropa bisa digambarkan seperti bagan berikut :
Perawatan paliatif di tingkat regional , Certal Norway
tertiary level
Unit Perawatan Paliatif

Paliatif center tidak di

Tim konsultan Paliatif

rumah sakit
secondary level

Spesialis Out- termasuk Pasien klinik

Perbedaan Departemen

-Kanker Out-Pasien klinik

Rumah Sakit

Dengan keluhan nyeri


Disetujui oleh
General Practitioner

Rumah perawatan dengan


Home Care

Pasien

paliatif dengan penginapan


Rumah Perawatan dengan
paliatif tanpa penginapan

a. Primary level
1. Perawatan profesional paliatif pasien di RS atau di hospice
2. Pasien yang memerlukan pengobatan paliativ care service tetapi tidak berada
dirumah sakit atau home care.
3. Pendekatan multidiscliplinary
d. Perawatan paliatif di inggris
Paliatif care di inggris d
ipelopori oleh dame cicely saudners pada tahun 1967. Dan pada tahun 1987,
kedokteran palitif diakui menjadi spesialis di bidang kedokteran dengan masa
pendidikan 4 tahun. Beberapa lama setelah itu, keperawatan palitiaf dan diploma
juga didirikan.
The gold standard frameworks (GSF) oleh dr. Keri thomas:
1. Identifikasi kebutuhan paliatif pasien.
2. Mengkaji kebutuhan, gejala, dan pilihan dan pertimbangan penting untuk
pasien dan keluarga.
3. Merencanakan ke depan, fakta dari situasi out-of-hours. Yakinkan form
rujukan pada pelayanan ambulan dan pengobatan yang tersedia jika dibutuhkan
oleh rumah pasien atau home care
Komunitas dan rumah sakit bisa semakin saling terkait dengan baik karena
adanya regulasi yang jelas untuk seorang anp oleh uk nursing and midwifery
council (NMC). Di inggris ada day care, tempat ini ditujukan untuk pasien yang
membutuhkan perawatan dan dukungan.
Inpatient hospice seperti sistem perawatan-kesehatan mini. Bagaimanapun,
mereka menyediakan kesempatan penting untuk mendemonstrasikan hasil dari
perawatan yang baik dan efektivitas multi-profesional tim. Home care atau
hospice digunakan pada semua rumah perawatan yang dengan perawat, rumah
perawatan, rumah perlindungan, dan rumah perawatan ekstra.
3.2 Perkembangan Perawatan Paliatif di Indonesia
Perkembangan dan penerapan perawatan paliatif di tiap negara dan tiap RS
berbeda-beda. hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :
pemerintahan, finansial, budaya, kepadatan populasi, lingkungan, faktor geografi,
SDM yang dimiliki dan lain lain.

Pelaksanaan perawatan paliatif yang dilakukan di pusat pengembangan


paliatif dan bebas nyeri di RS Dr. Soetomo Surabaya meliputi rawat jalan, rawat
inap, home care, day care dan respite care.
Di indonesia belum semua RS memiliki layanan perawatan paliatif. RS
yang sudah memiliki perawatan paliatif diantaranya adalah : RS Dr Soetomo
(Surabaya), disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS kanker Dharmis
(Jakarta), RS Wahidin sudirohusodo (Makasar), RS Dr. Sardjito (Yogyakarta), dan
RS Sanglah (Denpasar).
Sampai saat ini di Indonesia belum ada sekolah yang menyediakan
pelatihan atau pendidikan khusus mengenai perawatan paliatif sehingga sumber
daya manusia di indonesia yang menekuni bidang perawatan paliatif harus pergi
ke luar negeri dulu untuk menempuh jenjang pendidikan tersebut.
Diharapkan kedepannya perawatan paliatif di indonesia berkembang lebih
luas dan lebih maju. Model pelayanan perawatan paliatif di luar negeri bisa dicoba
untuk diterapkan di indonesia. Tentunya dengan menyesuaikan budaya,
lingkungan, dana dan sumber daya yang dimiliki indonesia, hal ini juga harus
dengan dukungan pemerintah. Dengan demikian pasien akan mendapatkan
perlindungan, perhatian dan dukungan dari banyak pihak. Pasien akan merasa
lebih tenang dalam menjalani masa hidupnya. Keluarga juga mempunyai
informasi yang cukup tentang penyakit dan keluhan pasien. Tim medis juga
mengetahui cara perawatan paliatif yang tepat, efektif dan penuh inovasi dalam
memperlakukan pasien sehingga pasien dapat memperoleh kualitas hidup yang
optimal.

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Perawatan paliatif merupakan perawatan yang digumakan untuk
meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keluarganya menghadapi masalahmasalah yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa, dengan

mencegah dan meringankan penderitaan melalui identifikasi awal dan penilaian


serta terapi rasa sakit dan masalah lainbaik fisik, psikososial maupun spiritual.
Perawatan paliatif sangat berkembang di luar Negara Indonesia seperti
Canada, Australia, Eropa dan Inggris. Di Indonesia juga berkembang, namun
belum begitu banyak rumah sakit maupun tempat pelayanan kesehatannya yang
menerapkannya. Pelayanan perawatan paliatif di Indonesia masih perlu
dikembangkan bai dari segi pelayanan maupun tenaga yang member pelayanan.

DAFTAR PUSTAKA
Albrecht, Jennifer S. Kesehatan Jurnal of pain and symptom management:
Analysis Penggunaan Antibiotik pada Perawatan Hospice dalam
Akhir.2013.Kehidupan.http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S08
85392412008160
Anonym. 2011. American Cancer Society

Anonym. 2012. Cases of HIV AIDS in


Indonesia
.http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/SITUASI_AIDS_TERKIN
I.pdf
Anonym. NHPCO fact and figure : hospice care in America. 2012
Anonim. 2012. Palliative Home Care. [online]
http://www.palliative.org/newpc/about/whatis/hospicecare.html diakses
pada tanggal 28 Maret 2013 pukul 15.00 WIB.
Anonim. 2012. Perawatan Paliatif. [online]. http://i-careclinic.com/layanankami/perawatan-paliatif/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2013 pukul 15.23
WIB
Farrel, Betty r. Palliative Nursing. 2010. oxford university press: New York.
Ferrel, B.R & Coyle, N. 2007. Textbook of Palliative Nursing, 2nd ed. New York :
Oxford Thomas J. Simms. 2007. Perspective on the end of life : hospice
care. http://www.medscape.com/viewarticle/549702_3. Diakses pada
tanggal 28 pebruari 2013.
Hartini, Nurul . 2007. Dinamika Pasien Paliatif dalam Menghadapi Kematian, Vol.
09, no. 1, Hal.4
Megawe, Herlin. 1998. Nyeri Kanker. Surabaya: Media IDI.
National institute for clinical excellent. 2004. Guidance on cancer services:
improving supportive and palliative care for adults with cancer. University
of london: london.
Notoatmojo, Soekidjo. 1993. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Perilaku
Reddall, C. (2009). Palliative Care for Care Homes: A Practical Handbook. united
kingdom: radcliffe publishing Ltd.University Press.Yogyakarta: Penerbit
Andi Offset.1 maret 2013
WHO. 2013. WHO Definition of Palliative Care.
http://www.who.int/cancer/palliative/definition/en/

Analisis P-I-C-O-T
No.
1.

Population
Pemberi perawatan

Intervention
Membandingkan 3-5

Comparison
Memberikan pelayanan

kanker : dokter,

hari pelatihan

tanpa pelatihan

perawat, peksos,

komunikasi termasuk : komunikasi

pertanyaan berfokus

psikolog

mengidentifikasi area

pada psikologi dan

pokok partisipan,

Outcome
a.Peningkatan pada

Time
6 bulan

pertanyaan terbuka,

klarifikasi psikologi
b.Peningkatan kemampuan

strategi berbicara

untuk membantu

kepada pasien,

masalah pasien

mensimulasikan
interview dengan
timbal balik.
2.

a.Pengembangan pada

203 pasien kanker

Pasien mendapat

Pasien menerima

yang diprediksi

pelayanan rutin dan

pelayanan rutin yang ada

dengan usia <

komunikasi perawat

setahun dan pasien

dengan penyedia

yang telah difollow

layanan paliatif

Pasien dengan

hingga pasien

Waktu yang dihabiskan di


Seluruh pasien

2 minggu, 6 bulan,
meninggal

up
3.

kelompok intervensi

Pelayanan tanpa di

rumah tidak meningkat

penyakit malignan

mendapat perawatan

program, dengan

signifikan, meski

dan diprediksi

medis, dilayani secara

pelayanan seadanya

intervensi pada pasien

bertahan 2-9 bulan

komunitas, menjaga

sedikit dilakukan di rumah

interaksi secara

perawatan

optimal, kelompok
professional mendapat
program pendidikan
4.

Kepuasan yang dicapai

Pasien yang ada di

Tim berkoordinasi

Pasien datang ke RS atau

rumah dengan

dengan pasien selama

rumah perawatan paliatif

penyakit yang berat

24 jam, bisa dengan

dan memerlukan

telepon dan datang

perawatan medis,

jika diperlukan

tidak ada dokter yg


berkunjung dan
tinggal bersama
orang yang
membantu
perawatan di rumah

oleh pengasuh signifikan

Anda mungkin juga menyukai