Anda di halaman 1dari 45

GERAKAN PEMBAHARUAN DI INDONESIA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada


Mata kuliah : Pemikiran Modern Dalam Islam
Dosen Pengampu :
Sufirmansyah M.Pd I

Disusun Oleh : Kelas E


Devi Noviantika Putri
932135914
Esti Wafain Nida
932134914
Lilik Susanti
932142614
Dody Utomo
932113114

JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI


(STAIN) KEDIRI
2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wataala
yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tetap tercurah
dan

telimpahkan

kepada

Baginda

junjungan

kita

Nabi

Muhammad SAW, yang telah membimbing perubahan akhlaq


dari yang sesat menuju akhlaqul karimah serta beliau adalah
sebagai uswah dan khudwah kita.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak
Sufirmansyah

M.Pd

I,

selaku

Dosen

Pembimbing

atas

pembimbingnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah


ini.
Penulis

menyadari

keterbatasan

kemampuan

kami

sehingga penulis makalah ini masih dari sempurna, oleh karena


itu mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
dan bermanfaat demi kesempurnaan makalah ini.
Hanya kepada Allah SWT penulis memohon ampunan dan
rahmat-Nya semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya,
dan bagi pembaca pada umumnya. Amin Ya Robbal Alamin.

Kediri, 19 Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..

Daftar Isi .. ii
BAB I

PENDAHULUAN . 1
A. Latar Belakang ............ 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penelitian . 2

BAB II

PEMBAHASAN ........ 3
A. Kaum Paderi dan Kaum Muda serta Pemikirannya ...
.. 3
B. Jamiatul Khair dan Pemikirannya ..................
9
C. Al Irsyad dan Pemikirannya ... 13
D. Persis dan Pemikirannya ..... 17
E. Muhammadiyah

dan

Pemikirannya ................................ 20
F. Nahdlatul

Ulama

Pemikirannya ............................... 27
BAB III

PENUTUP. 32
A. Kesimpulan . 32

DAFTAR PUSTAKA

dan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Melihat

keadaan

pada

zaman

dahulu,

bahwa

pengamalan agama Islam di Indonesia yang masih banyak


bercampur dengan tradisi Hindu-Budha yang jelas sekali
merusak kemurnian ajaran Islam, maka tampillah beberapa
ulama mengadakan pemurnian dan pembaharuan faham
keagamaan dalam Islam. Pada mulanya lahir Gerakan Padri
di daerah Minangkabau yang dipelopori oleh Malim Basa,
pendiri perguruan di Bonjol, yang kemudian dikenal dengan
sebutan Imam Bonjol. Sejak kembali dari Mekah, Imam
Bonjol melancarkan pemurnian aqidah Islam seperti yang
telah dilakukan oleh gerakan Wahabi di Mekah. Karena
kaum tua yang masih sangat kuat berpegang teguh pada
adat menentang dengan keras terhadap gerakan Imam
Bonjol maka timbulah perang Padri yang berlangsung
antara tahun 1821-1837.
Pemerintahan Kolonial Belanda, sesuai dengan politik
induknya Devide at empera akhirnya membantu kaum
adat untuk bersama-sama menumpas kaum pembaharu.
Sungguh pun kaum militer Padri dapat dikalahkan, tetapi
semangat pemurnian Islam dan kader-kader pembaharu
telah ditabur yang kemudian pada kenmudian hari banyak
meneruskan usaha dan perjuangan mereka.
Pada saat itu juga, di Jakarta berdiri Jamiatul Khair
pada tahun 1905, yang pada umumnya beraggotakan
peranakan Arab. Sementara itu, banyak tumbuh dan lahir

gerakan pembaharuan dan pemurnian Agama Islam di


beberapa tempat di Indonesia, yang satu sama lain
mempunyai

penonjolan

perjuangan

dan

sifat

yang

berbeda-beda. Akan tetapi, secara keseluruhan mereka


mempunyai cita-cita yang sama dan tunggal yaitu Izzul
Islam wal Muslimin atau kejayaan Agama Islam dan Kaum
Muslimin.
Di

antara

gerakan-gerakan

tersebut

adalah:

Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan Al Irsyad, yang lebih


jelasnya akan di sampaikan pada makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat kita ambil
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah

sejarah

dan

pemikiran

Kaum

Paderi dan Kaum Muda ?


2. Bagaimanakah sejarah dan pemikiran Jamiatul
Khair ?
3. Bagaimanakah sejarah dan pemikiran Al Irsyad ?
4. Bagaimanakah sejarah dan pemikiran Persatuan
Islam ?
5. Bagaimanakah

sejarah

dan

pemikiran

Muhammadiyah ?
6. Bagaimanakah sejarah dan pemikiran Nahdlatul
Ulama ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah dan Pemikiran Kaum Paderi serta Kaum
Muda
Pada

abad

ke

16

Islam

sudah

masuk

ke

Minangkabau, setelah kejatuhan Malaka, terjadilah proses


sinkretisme yang berjalan cukup lama. Terdapat dua cara
hidup berdampingan yang damai : adat lama dan syara
lama

sama-sama

dihormati.

Hal

ini

antara

lain

digambarkan dengan pepatah, Adat basandi syara, syara


basandi kitabullah.1
Paderi adalah sebuah nama daerah di Padang, yang
mana

di

daerah

inilah

mulanya

diterapkan

gerakan

puritanisme di Indonesia. Gerakan puritanisme adalah


sebuah gerakan pemurnian ajaran agama Islam yang telah
terpengaruh

dengan

ajaran

yang

dipelopori

oleh

Muhammad ibn Abdul Wahab.


Gerakan puritanisme ini dibawa masuk ke wilayah
Indonesia oleh tiga orang kaum muda Padri yang baru
pulang kembali dari tanah suci. Mereka itu adalah Haji
Miskin, Haji Abdur Rahman dan Haji Muhammad Arif, pada
tahun 1803 M. Mereka kemudian membentuk kelompok
yang terkenal dengan kelompok Harimau Nan Salapan.
Mereka itu terdiri dari : Tuanku Nan Renceh, Tuanku Basa,
Tuanku Galung, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Padang Lawas,
Tuanku Padang Luar, Tuanku Kubu Ambelan, dan Tuanku
1 Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto.Sejarah Nasional Indonesia
IV.( Jakarta : Balai Pustaka, 1993)hlm 168

Kubu Sanang. Mereka mengadakan penentangan terhadap


praktek kehidupan beragama masyarakat Minangkabau,
yang telah terpengaruh oleh unsur-unsur tahayul, bidah
dan kurafat. Masyarakatnya sudah menyimpang jauh dari
tradisi keagamaan yang telah ada.

Perjudian, penyabungan ayam, dan lain sebagainya


adalah contoh dari sebagian kecil perbuatan mereka yang
waktu itu telah merupakan parbuatan atau suatau hal yang
biasa. Oleh karena itu, kedatangan tiga orang haji ini, yang
kemudian bersekutu dengan Tuanku Nan Renceh dan
Tuanku Imam Bonjol, melakukan gerakan pemurnian ajaran
Islam.
Gerakan Padri merupakan pergerakan keagamaan
yang terinspirasi oleh gerakan Wahabi yang ada di Tanah
Suci. Dalam melaksanakan dakwahnya yang berupaya
mengikis khurafat dan bidah dalam praktek beragama
umat Minangkabau, gerakan ini mengambil pendekatan
keras dan radikal.2
Dengan membawa semangat pembaharuan gerakan
Wahabi, mereka berusaha untuk mengikis habis praktikpraktik adat dari unsur khurafat dan bidah. Upaya ini
dilakukan baik melalui pelaksanaan pendidikian salaf di
surau-surau, maupun langsung berdebat secara frontal
dengan kaum adat. Upaya dakwah yang demikian kurang
disenangi, bahkan mendapat tantangan keras dari kaum
adat. Pelaksanaan pemurnian yang dibawa para Ulama
2 Burhanuddin Daya. Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam.
(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1995) hlm 49

Minangkabau

tidak

berjalan

mulus.

Bahkan

dalam

melaksanakan dakwahnya, para Ulama Minangkabau selalu


berhadapan dengan kaum adat. Karena aktifitas kaum
Padri dianggap cukup membahayakan keberadaan kaum
tua atau kaum adat paderi, maka kaum tua meminta
bantuan Belanda, yang kemudian pada tahun 1821-1937 M
terjadilah perang paderi. Dalam pertempuran yang tidak
seimbang itu kaum Ulama mengalami kekalahan Ulama
dalam perang paderi dalam menghadapi Belanda.

Ketidaksenangan kaum adat terhadap kaum paderi


dilampiaskan dengan cara menyerang dan membakar
desa-desa

di

mana

kaum

paderi

menyebarkan

ide

pembaharuannya. Akibatnya banyak di antara kaum paderi


terpaksa menyelamatkan diri dari satu desa ke desa yang
lain, hingga ke Bukit Kemang. Di daerah ini, kaum paderi
mendapat perlindungan dari Tuanku Nan Renceh, seorang
murid kesayangan Tuanku Nan Tuo, yang mendukung
gerakan paderi dalam menyebarkan gerakan Wahabi. Di
sinilah

awal

terbentuknya

Gerakan

Padri,

dalam

melaksanakan ide pembaharuannya.


Karena sering mendapat tantangan dari kaum adat
dan masyarakat setempat, kaum paderi tidak segan-segan
melakukan penyerangan dan bahkan dengan membakar.
Pendekatan ini akhirnya membuat Tuanku Nan Tuo tidak
simpatik dan tidak mau menggunakan pengaruhnya untuk
membantu perjuangan kaum Padri. Untuk itu, kaum paderi
kemudian

melakukan

dukungan

dengan

para

Ulama

lainnya

yang

masyarakat

memiliki

pengaruh

Minangkabau,

di

dalam

komunitas

antaranya

Tuanku

Mansianang.3
Dalam proses ini, sesungguhnya eksistensi kaum
Padri dapat dilihat dari dua pendekatan:

Pertama, secara eksternal. Gerakan ini telah


berhasil membangkitkan semangat nasionalisme
umat Islam, terutama intervensi kolonial Belanda.
Bahkan keberadaan gerakan ini telah merepotkan
dan telah menyebabkan kolonial Belanda menelan
kerugian yang cukup besar, baik meteri maupun
non materi.

Kedua secara internal, sesungguhnya gerakan ini


gagal

dalam

membumikan

pembaharunya.

Hal

ini

dapat

pemikiran
terlihat

dari

suburnya praktik adat yang bersifat sinkretis


dalam praktik kehidupan umat beragama Islam
Minangkabau. Kegagalan ini karena pendekatan
keras

yang

dilakukan

menyampaikan

kaum

Padri

dalam

gerakan pembaharunya. Di sisi

lain, karena Islam yang masuk di Minagkabau


lebih

didominasi

melalui

pendekatan

tarekat.

Pendekatan penyiaran Islam dilakukan secara


lunak.
3 Suwendi.Sejarah & Pemikiran Pendidikan Islam.(Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004)hlm 74

Semenjak saat itu, sejak awal 1900-an gelombang


besar

kedua

pembaharuan

Islam

kembali

melanda

Minangkabau. Kali ini dibawa oleh murid-murid Syekh


Ahmad Khatib yang biasa disebut Kaum.4
Gelombang yang kedua dimulai dengan pulangnya
para murid Syeikh Ahmad Chatib dari Mekah, tegasnya
sesudah

tahun

1900.

Apabila

Gerakan

Padri

dalam

melaksanakan itu terutama menggerakkan senjata dan


kekerasan,

maka

pembaharuan

golongan

kedua

menekankan kepada bidang pendidikan.


Golongan

pembaharuan

sesudah

tahun

1900

berusaha mencari hakekat dari Islam itu pada umumnya,


bagi mereka terkandung kayakinan, bahwa ajaran Islam itu
selalu berlaku sepanjang zaman, kondisi serta situasi.
Dengan demikian mereka melihat bahwa ajaran Islam
mengandung ajaran tentang kepercayaan yang tidak
mungkin menghambat usaha-usaha pengembangan demi
kemajuan bidang pengetahuan dan teknologi. Golongan
pembaharuan juga melihat, bahwa ajaran Islam tidak
membeda-bedakan antara kaum pria dengan kaum wanita.

Islam merupakan agama universal, yang dasar-dasar


ajarannya telah disampaikan oleh para Nabi dan Rasul
kepada semua bangsa. Nabi dan Rasul terakhir ialah Nabi
besar Muhammad s.a.w. penyampai ajaran Ilahi untuk
segenap umat manusia. Timbulnya Gerakan Reformasi ini didasari
oleh suatu keyakinan, bahwa kelemahan dan kemunduran Islam
4 Ibid, hlm 84-85.

berpangkal pada kebiasaan umat Islam sendiri, yang sudah jauh dari dan
bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya.5
Tokoh dari Kaum Muda
Syekh Ahmad Khatib adalah turunan dari seorang
hakim golongan Padri yang benar-benar anti penjajahan
Belanda. Ia dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1855 oleh
ibu bernama Limbak Urai. Ayahnya adalah Abdullatief
Khatib Nagari, Ahmad Khatib adalah anak terpandang dari
kalangan keluarga yang mempunyai latar belakang agama
yang

kuat.

Sejak

kecilnya

Ahmad

Khatib

mendapat

pendidikan pada sekolah rendah yang didirikan Belanda di


kota kelahirannya. Ia meninggalkan kampung halamannya
pergi ke Mekah pada tahun 1871 dibawa oleh ayahnya.
Sampai dia menamatkan pendidikan, dan menikah pada
1879 dengan seorang putri Mekah Siti Khadijah, anak dari
Syekh Shaleh al-Kurdi, maka Syekh Ahmad Khatib mulai
mengajar dikediamannya di Mekah tidak pernah kembali ke
daerah asalnya.
Syekh Ahmad Khatib, mencapai derajat kedudukan
yang tertinggi dalam mengajarkan agama sebagai imam
dari Mazhab Syafii di Masjidil Haram, di Mekah. Sebagai
imam dari Mazhab Syafii, ia tidak melarang muridmuridnya untuk mempelajari tulisan Muhammad Abduh,
seorang pembaru dalam pemikiran Islam di Mesir. Syekh
Ahmad Khatib sangat terkenal dalam menolak dua macam
kebiasaan di Minangkabau, yakni peraturan-peraturan adat
tentang

warisan

dan

tarekat

Naqsyahbandiyah

yang

dipraktekkan pada masa itu. Kedua masalah itu terus


5

menerus dibahasnya, diluruskan dan yang tidak sejalan


dengan syariat Islam ditentangnya.
Keunggulan
memberikan

dari

Syekh

pelajaran

Ahmad

kepada

Khatib

muridnya,

dalam
selalu

menghindari sikap taqlid. Salah seorang dari muridnya,


yakni H.Abdullah Ahmad, yang kemudian menjadi salah
seorang di antara para ulama dan zuama, pemimpin kaum
pembaru di Minangkabau, pendiri Sumatera Thawalib, yang
berawal dari pengajian di Masjid Zuama, Jembatan Besi,
Padang panjang, dan kemudian mendirikan pula Persatuan
Guru

Agama

Islam

(PGAI),

di

Jati,

Padang,

telah

mengembangkan ajaran gurunya melalui pendidikan dan


pencerahan

tradisi

ilmu

dan

mendorong

pula

para

muridnya untuk mempergunakan akal yang sesungguhnya


adalah karunia Allah.6

6 Burhanuddin Daya. Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam.


(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1995) hlm 65

B. Sejarah dan Pemikiran Al-Jamiah Al-Khairiyah


a) Sejarah Al-Jamiah Al-Khairiyah
Orang arab yang tinggal di Jakarta menempati
perkampungan tertentu yang dikenal dengan sebutan
kampung Arab. Emigran Arab ini dan keluarganya
hanya boeh tinggal di kampung Arab ini. Mereka ada
yang melakukan perdagangan dan ada yang melakukan
dakwah Islamiyah. Usaha dakwah ini tidaklah disenangi
oleh pemerintah Hindia-Belanda. Hal ini dapat dilihat
dari gerak-gerik mereka yang dibatasi dengan adanya
peraturan pas jalan (passen Stelsel), yaitu peraturan
yang mengharuskan setiap orang Arab yang keluar
kampung Arab dimintai pass jalan dan jika melanggar
akan dikenakan denda.
Sedangkan dalam kehidupan di pemukiman orang
Arab,

banyak

timbul

masalah

seperti

peristiwa

kematian anak yatim, janda, keluarga miskin, dan


masalah pendidikan anak mereka. Anak-anak orang ini
tidak boleh memasuki sekolah yang didirikan oleh
pemerintah Hindia-Belanda, sebab sekolah tersebut
diperuntukkan untuk orang Eropa, orang Kristen, dan
orang keturunan bangsawan. Kurangnya kesempatan
anak-anak

orang

Arab

untuk

memasuki

sekolah

pemerintah dan sangat kecilnya perhatian pemerintah


pada bidang pendidikan, menjadi agenda tersendiri
pada orang-orang Arab ini.
Latar

belakang

di

atas

telah

menyadarkan

beberapa orang keturunan Arab untuk membentuk


suatu

badan

yang

mampu

menampung

semua

permasalahan. Kemudian pada tanggal 17 Juli 1905 di


Jakarta, didirikanlah organisasi Al-Jamiah Al-khairiyah,
atau yang lebih dikenal dengan nama Jamiat Khair.7

b) Pendiri dan Ide Pembaruanya


Organisasi ini terbuka untuk setiap Muslim tanpa
diskriminasi asal-usul, tetapi mayoritas anggotanya
adalah

orang-orang

Arab.

Anggota-anggota

dan

pemimpin organisasi ini umumnya terdiri dari orangorang

yang

berada

dan

mampu

sehingga

memungkinkan penggunaan sebagai waktu mereka


kepada perkembangan organisasi tanpa mengganggu
ataupun merugikan dalam mencari nafkah.
Para pendiri perkumpulan Jamiat Khair antara lain:

Sayyid Ali bin Ahmad bin Syahab, sebagai ketua.


Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Syahab,

sebagai wakil ketua.


Sayyid Muhammad al-Fachir bin Abdurrahman al-

Masyhur, sebagai sekretaris.


Sayyid Idrus bin Ahmad bin Syahab, sebagai

bendahara.
Said bin Ahmad Basandied, sebagai anggota.
Orang Indonesia yang pernah menjadi anggota

perkumpulan Jamiat Khair antara lain:

Raden Oemar Said Tjokroaminoto.


R. Jayanegara.

7 Khoiriyah. Islam dan Logika Modern: Mengupas Pemahaman


Pembaharuan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013)hlm 105-106

R. M. Wiriadimaja.
R. Hasan Djajadiningrat.
K.H. Ahmad Dahlan.
Dua bidang kegiatan yang sangat diperhatikan

oleh organisasi ini adalah:

Petama, pendirian dan pembinaan satu sekolah

pada tingkat dasar.


Kedua, pengiriman anak-anak muda ke Turki
untuk melanjutkan pelajaran. Akan tetapi, bidang
yang

kedua

ini

terhambat

dikarenakan

kekurangan biaya dan juga kemunduran khilafah.


Sekolah Dasar Jamiat Khair didirikan pada tahun
1905. Sekolah ini bukan suatu sekolah semata-mata
bersifat agama, tetapi merupakan suatu sekolah dasar
yang

bisa

mengajarkan

bermacam-macam

mata

pelajaran. Pada tanggal 17 Oktober 1919, salah satu


perwujudan cita-cita perkumpulan ini adalah mendirikan
sebuah sekolah dengan nama Djamiat Geer School.
Di samping mendirikan sekolah, perkumpulan ini
juga membuka majelis taklim, kemudian mengadakan
balai pertemuan perpustakaan untuk para anggota.
Untuk

keperluan

bacaan,

pengurus

mengadakan

hubungan dengan luar negeri seperti Mesir, Turki,


Beirut, dan Singapura. Pada tahun 1913, didirikan pula
percetakan atau maktabah Jamiat Khair. Pada tanggal
31 Maret 1913, diterbitkan suatu harian dengan nama
Utusan Hindia dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto.
Salah satu guru dari Jamiat Khair adalah Syaikh
Muhammad Noor, yang pernah belajar langsung dengan

Muhammad

Abduh.

Hal

ini

dapat

terlihat

dari

pemikiran-pemikirannya yang sangat terpengaruh oleh


pemikiran Muhammad Abduh. Tekanan yang diberikan
pada murid-murid dan pengajaran di Jamiat Khair
menunjukkan hal tersebut, yaitu pelajaran mengenai
ilmu alat. Muhammad Abduh sangat menekankan
mempelajari
memahami

bahasa

Arab

sebagai

sumber-sumber

Islam.

alat

dalam

Dalam

usaha

pengembangan daya pikir murid-muridnya, ditekankan


pengertian dan daya kritis, bukan saja hafalan. Selain
ilmu agama, juga diadakan mata pelajaran lainnya
seperti ilmu bumi.
Mereka

memperjuangkan

persamaan

sesama

Muslim dan pemikiran kembali kepada Al-Quran dan


Hadits. Ide persamaan ini kemudian menjadi ancaman
terhadap golongan Sayyid yang merasa kedudukannya
lebih tinggi dibandingkan dengan golongan lain dalam
masyarakat Islam di Jawa.
Hal yang menjadi daya tarik tersendiri dari
organisasi

ini

adalah

dalam

penggunaan

bahasa.

Bahasa pengantar di antara mereka adalah bahasa


Indonesia atau Melayu. Hal ini disebabkan lingkungan
tempat tinggal Jamiat Khair ini berbahasa Melayu atau
bahasa

daerah

dikarenakan

tempat

murid-murid

mereka
di

tinggal,

sekolah

juga

tersebut

merupakan anak-anak pribumi Indonesia. Selain itu,


bahasa Belanda di sekolah ini tidak diajarkan, namun
sebagai

gantinya

adalah

merupakan bahasa wajib.

bahasa

Inggris

yang

Pada awalnya, Jamiat Khair merupakan sebuah


organisasi

yang

kecil.

Dimulai

kira-kira

70

orang

anggota. Dalam perkembangannya, pada tahun 1915


tercatat kira-kira 1000 anggota. Pada tahun ini pula,
terlihat

kemunduran

dari

organisasi

ini.

Hal

ini

dikarenakan tidak dapat menyaingi kegiatan Al-Irsyad


yang didirikan pada tahun 1914 oleh anggota Jamiat
Khair yang telah keluar dari organisasi ini.8

8 Ibid,hlm 106-109

C. Sejarah dan Pemikiran Al-Irsyad


a) Sejarah Al-Irsyad
Al-Irsyad berdiri pada tanggal 6 September 1914
atau

15

Syawal

1332

H.

Pengakuan

legal

dari

pemerintah diperoleh tanggal 11 Agustus 1915. Nama


lengkapnya adalah Jamiat Al-slah wa Al-Irsyad AlIslamiyah yang berarti perhimpunan bagi reformisme
dan

pimpinan.

Sedangkan

versi

lain

menyatakan

bernama Jamiat Al-Islah wa Al-Irsyad Al-Arabia, yang


berarti perhimpunan Islam dan pimpinan orang-orang
Arab.
Latar

belakang

berdirinya

Al-Irsyad

adalah

perpecahan yang dialami oleh Jamiat Al-Khair, terkait


persoalan konsep kafaah dalam pernikahan, yaitu
boleh tidaknya mereka yang memiliki gelar sayyid
boleh menikah dengan golongan lain. Bagi masyarakat
arab modernis, perkawinan semacam itu sah, akan
tetapi

menurut

kaum

tradisionalis,

pernikahan

itu

dianggap tidak sah, karena salah satu syarat sahnya


perkawinan

adalah

adanya

kafaah

antara

kedua

mempelai. Kalau syarat kafaah ini tidak terpenuhi


maka perkawinan dianggap batal atau tidak sah.9
Tentang sikap ini, golongan yang bukan sayyid
mendapatkan

dukungan

dari

sebuah

fatwa

yang

dikeluarkan Rasyid Ridha dari majalah Al-Manar Kairo


yang

mengemukakan

bahwa

perkawinan

antara

seorang Islam bukan sayyid dengan syarifah adalah


9 Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam
(Cet. 1: Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999)hlm 8

jaiz. Lambat laun golongan bukan sayyid merasa bahwa


mereka pun sederajat dengan golongan sayyid.

Fatwa

yang

sama

dikemukakan

oleh

Syaikh

Ahmad Surkati di Solo tahun 1913, ketika dia di dalam


suatu

pertemuan

menekankan

bahwa

Islam

memperjuangkan persamaan sesama Muslim dan tiada


mengakui

kedudukan

yang

mendiskriminasikan

berbagai kalangan, disebabkan oleh darah keturunan,


harta ataupun pangkat.
Perpecahan

Jamiat

Khair

juga

disebabkan

kekauan pendapat dari golongan sayyid. Disamping itu,


golongan bukan sayyid menyadari tentang kedudukan
dan kekuasaan mereka, apalagi di kalangan mereka
telah muncul orang-orang yang juga dihormati oleh
orang-orang Arab pada umumnya ataupun orang-orang
bukan Arab, seperti Syaikh Umar Manggus, Syaikh
Ahmad Surkati yang dianggap merupakan gudang ilmu.
Kemudian golongan bukan sayyid mendirikan sebuah
organisasi bernama Al-Irsyad. Untuk pertama kalinya,
terbentuk pengurus yang antara lain:

Salim bin Awad Balweel, sebagai ketua.


Muhammad bin Ubud Ubaid, sebagai sekretaris.
Said bin Salim Masyabi, sebagai bendahara.
Sholeh bin Ubaid Abdad, sebagai penasehat.10

10 Khoiriyah. Islam dan Logika Modern: Mengupas Pemahaman


Pembaharuan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013)hlm 110-111

b) Tokoh dan Ide Pembaharuannya


Ahmad Surkati, merupakan tokoh sentral AlIrsyad, beliau dilahirkan di Dongola Sudan, 1292 H
(1872 M). Ayahnya, Muhammad Surkati dikenal memiliki
karakter mulia. Ia mendapatkan namanya dari tokoh AlAnsari

yang

masyhur,

Jabir

bin

Abdullah.

Dari

orangtuanya bisa ditelusuri bahwa Ahmad Surkati


berasal dari suku Jawabra atau Jawabirah yang punya
hubungan keturunan dengan Jabir bin Abdullah yang
terdesak ke Dongola selama pemerintahan Salim I dari
Turki. Diketahui pula ayah Ahmad Surkati adalah lulusan
Universitas Al-Azhar yang memiliki banyak koleksi kitab.
Ahmad Surkati menguasai Al-Quran semasih kanakkanak. Setelah menguasai Al-Quran, bersama ayahnya
ia mempelajari Mubadi al-fikih wa al-tawhid (dasardasar hukum Islam dan teologi).
Sebagaimana diketahui, di Jakarta Ahmad Surkati
bekerja

untuk

Jamiat

Khair

dan

terlibat

dalam

perselisihan antara kelompok sayyid dan non-sayyid.


Keterlibatannya dalam konflik itu mulai terjadi saat
Ahmad Surkati mengeluarkan fatwa di Solo yang
memperbolehkan perkawinan antara orang non-sayyid
dan

anak

perempuan

keturunan

sayyid.

Ia

juga

menekankan bahwa Islam memperjuangkan kesetaraan


Muslim dan tidak mengakui pengistimewaan kelompok
berdasarkan keturunan, kekayaan, atau status.
Ahmad
menentang

Surkati

memang

pengistimewaan

sungguh-sungguh

kelompok

tertentu

berdasarkan keturunan, kekayaan, dan status. Ketika

beberapa

orang

menganjurkan

sayyid

siswa

mengusulkan

non-sayyid

agar

mencium

dia

tangan

sayyid, Surkati menjawab ia lebih suka turun dari


jabatannya di Jamiat Khair daripada menganjurkan hal
tersebut.11
Adapun

pemikiran-pemikiran

Ahmad

Sukarti

sebagai berikut:

Sebagai seorang Muslim yang baik, seharusnya


menjauhkan diri dari para pejabat pemerintah

kolonial.
Tentang urusan agama, dia tidak menginginkan
campur

tangan

dala

bentuk

apapun

dari

pemerintah kolonial, tetapi kalau diminta nasihat


tentang agama kepada mereka, Ahmad Surkati

bersedia.
Segala persoalan

dalam Al-Quran dan Hadits.


Ahmad Surkati menolak pendapat

dicarikan

penyelesaiannya
ahli

fiqih

mutaakhirun yang disebut al-khalaf, tetapi ahli


fiqih dari tiga abad pertama hijriyah yang disebut

al-salaf.
Ahmad Surkati menolak cerita-cerita

tentang

akhir

sebagai

dunia

dan

dia

menyebutnya

khurafat.
Dia sangat

peraturan agama seperti minum-minuman keras.


Dia membasmi segala kebiasaan agama yang

membenci

pelanggaran

terhadap

disebut bidah, seperti pemujaan terhadap orang


yang dianggap suci atau pemujaan yang sering
11 Bisri Affandi.Pembaharu & Pemurni Islam di Indonesia.(Jakarta: AlKautsar, 1999)hlm 209-211

dijumpai dalam masyarakat Islam di Indonesia,


yaitu talqin dan tahlil.
Ahmad Surkati sangat mengutamakan akhlak
baik,

berdirinya

Al-Irsyad

bukan

didorong

oleh

keinginannya untuk mengadakan sesuatu yang baru,


melainkan didasari atas ketaatannya kepada akidah
agama yang diturunkan oleh Allah SWT, lewat Al-Quran
dan Hadits. Dari sinilah Ahmad Surkati digolongkan
sebagai salah satu pembaru Islam di Indonesia.12

12 Khoiriyah. Islam dan Logika Modern: Mengupas Pemahaman


Pembaharuan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013)hlm 114-115

D. Sejarah dan Pemikiran PERSIS (Persatuan Islam)


a) Sejarah PERSIS (Persatuan Islam)
Persatuan Islam atau persis merupakan salah satu
organisasi

Islam

di

Indonesia

yang

secara

formal

didirikan di bandung pada tanggal 12 september 1923


M (bertepatan dengan satu syafar 1342 H), para ulama'
pendiri persis KH. Zamzam dan Muhammad Yunus.
Organisasi ini bertujuan mengamalkan segala ajaran
Islam dalam setiap segi kehidupan anggotanya dalam
masyarakat organisasi ini juga bertujuan mengarahkan
kaum muslim pada ajaran aqidah syari'ah berdasarkan
Al-Quran dan As-sunnah.
Ide

pendirian

organisasi

ini

berasal

dari

pertemuan yang disebut kenduri yang diadakan di


rumah

salah

seorang

anggota

yang

berasal

dari

Sumatra namun sudah menetap di Bandung sejak lama.


Mereka adalah keturunan dari tiga keluarga yang pindah
dari Palembang. Hubungan mereka sangat erat antara
yang satu dengan yang lainnya karena diantara putraputri mereka diikat dengan tali perkawinan. Dengan
adanya

hubungan

yang

erat

itu

mereka

bisa

mengadakan studi agama Islam secara bersama-sama.


Karena mereka sudah lama tinggal di Bandung, mereka
tidak merasa menjadi orang Sumatra namun mereka
merasa menjadi sebagai orang Sunda.
Persis didirikan dengan tujuan untuk memberikan
pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang
dibawa

oleh

Rasulullah

Saw

dan

memberikan

pandangan berbeda dari pemahaman Islam tradisional

yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur


dengan budaya local, sikap taklid buta, sikap tidak kritis,
dan tidak mau menggali Islam lebih dalam dengan
membuka kitab-kitab Hadits yang shahih.

Oleh karena itu, lewat para ulamanya seperti


Ahmad Hassan yang juga dikenal dengan Hassan
Bandung atau Hassan Bangil, Persis mengenalkan Islam
yang hanya bersumber dari al-Quran dan Hadits (sabda
Nabi). Organisasi persatuan Islam telah tersebar di
banyak provinsi antara lain Jawa Barat, Jawa Timur, DKI
Jakarta,

Banten,

Lampung,

Bengkulu,

Riau,

Jambi,

Gorontalo dan masih banyak provinsi lain yang sedang


dalam

proses

perintisan.

Persis

bukan

organisasi

keagamaan yang berorientasi politik namun lebih fokus


terhadap Pendirian Islam dan Dakwah dan berusaha
menegakkan ajaran Islam secara utuh tanpa dicampuri
khurafat, syirik, bidah yang telah banyak menyebar
dikalangan awwam orang Islam.13
b) Tokoh dan Ide Pembaharuannya
Diantara tokoh Persis yang berperan besar dalam
mengajaran dan dakwah adalah Ahmad Hassan. Ia
dilahirkan di Singapura pada tahun 1887 dan berasal
dari keluarga campuran Indonesia dan India. Ayahnya
bernama Sinna Vapru Maricar yang berasal dari India,
sedangkan ibunya berasal dari Surabaya yang taat
13 https://id.wikipedia.org/wiki/Persatuan_Islam (akses 5 Mei 2016)

beragama.

Beliau

dipandang

sebagai

guru

besar

persatuan Islam. Pada tahun 1924, Ahmad Hasan


pindah ke Bandung.
Ahmad Hassan adalah ilmuwan Persis, seorang
mujtahid dan sosok ulama yang mandiri dan serba bisa.
Persis kemudian semakin berkembang sejak Ahmad
Hassan

masuk

dalam

Persis

pada

tahun

1926.

Perkembangan di Persis tidak hanya terjadi pada


pendidikan tetapi di bidang literasi dan publikasi seperti
pencetakan buku-buku dan majalah juga berkembang
pesat.

Ahmad Hassan merupakan seorang pemikir Islam


yang sangat menyukai diskusi. Bahkan sejarah telah
mencatat bahwa Ahmad Hassan sering melakukan
diskusi

kritis

bersama

Presiden

Soekarno

tentang

berbagai hal yang salah satunya adalah diskusi tentang


konsep Negara bangsa.14
Pemikiran

Persis

merupakan

pemikiran

Islam

modern. Hal ini ditunjukkan dari hampir dipastikannya


anggota-anggota Persis yang menjadi pendukung aliran
pemikiran Islam modern dan pada umumnya mengikuti
pemikiran
Muhammad

keagamaan
Abduh

Muhammad

menyerukan

Abduh.

pembaruan

Ajaran
Islam

dengan cara menekankan Al-Quran dan Hadits sebagai


14 A. Latief Muchtar.Gerakan Kembali ke Islam.(Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya, 1998)hlm 171

sumber utama hukum Islam. Taqlid atau ketaatan buta


kepada penafsiran dan ajaran hukum Islam yang
dikembangkan

oleh

empat

imam

madzab

dengan

sistem-sistemnya, dianggap sebagai faktor utama yang


menyebabkan stagnasi atau kemandegan kehidupan
umat Islam.
Persis merupakan salah satu gerakan pembaruan
Islam yang meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dalam
mengajar yang dilakukan oleh golongan tradisional.
Mereka mengecam ushalli, talqin, haul, dan kenduri
untuk kematian serta barzanji dan menganngapnya
sebagai sesuatu yang bidah. Mereka tidak mengakui
sayyid sebagai gelar ataupun sebagai tanda kedudukan
yang harus dihormati serta mempunyai bermacammacam keuntungan. Mereka tidak menyetujui tarekat
dan menolak segala macam sihir, ramalan, jimat dan
praktik-praktik mistik.15

15 Khoiriyah. Islam dan Logika Modern: Mengupas Pemahaman


Pembaharuan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013)hlm 117-118

E. Sejarah Muhammadiyah dan Pemikirannya


a) Sejarah Muhammadiyah
Muhammadiyah di dirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 18
November 1912 di Yogyakarta. Asal mula muhammadiyah sebagai
bagian dari gerakan pembaruan Islam modern dapat di telusuri dari
perjalanan ibadah haji beliau ke Mekkah. Dalam perjalanan ibadah haji
tersebut di duga beliau telah berkenalan dengan gagasan pembaruan
Islam, baik yang pra-modern (Ibnu Taimiyah dan Muhammad ibn
Abdul Wahhab) maupun yang modern (Sayyid Jamaluddin Al-afghani,
Syeikh Muhammad Abduh, dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha).
Di dirikannya Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan
mewakili sebuah kesadaran teosentrik, yakni kesadaran baru terhadap
nilai-nilai keagamaan (Islam). Kesadaran ini terbentuk setelah
mengalami

pergulatan

pemikiran

dengan

gagasan

pembaruan

Islam.selain itu, juga di topang oleh keprihatinan beliau terhadap


kondisi objektif umat Muslim Indonesia yang di tandai oleh
pengamalan ritual keagamaan yang tercampur dengan praktik-praktik
TBKh (Takhayul sebagai produk Islam sinkretis dengan budaya Jawa,
serta Bidah dan Khurafat sebagai produk Islam-tradisionalis).16
Sebab utama Muhammadiyah didirikan pada dasarnya tidak
terlepas

dari

Pendalamannya

pendiri

utamanya

terhadap

yaitu

Al-Quran

KH.
dan

Ahmad
As-Sunnah

dahlan.
telah

mengantarkannya untuk segera mendirikan Muhammadiyah, terutama


surat Al-Imran ayat 104:

16 Suwarbo. Relasi Muhammadiyah Islam dan Negara .(Yogyakarta:Pustaka


pelajar,2010)hlm 13



Artinya:

Dan

hendaklah

ada

di

antara

kamu

segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,


menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari
yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Maruf adalah segala perbuatan yang medekatkan kita kepada
Allah, sedankan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita
dari pada-nya. Atas dasar pendalaman terhadap ajaran Islam yang
murni, yang bersumberdan berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi
Muhammad SAW, beliau sampaipadapendirian bahwa umat Islam
hanyaisa maju dengan kedua dasar tersebut.
Selain sebab utama tersebut, terapat sebab lain yang
mendorong KH. Ahmad Dahlan mendirikan dan menggerakkan
Muhammadiyah yaitu:
1. Tidak tegaknya akidah Islamiyah umat Islam karena sikap
sebagai umat Islam yang semakin menjauhkan diri dari ajaran
Al-Quran dan Hadits. Hal ini daitandai dengan munculnya
ketidakmurnian Isam akibat pengaruh tradisi-tradisi yang
bukan Islam. Banyak sekali bidah dan khurafat yang merusak
emurian akidah dan ibadah dalam Islam yang dipraktikkan
serta menjadi kebiasaan kaum muslimin, seolah-olah semua itu
merupakan perintah agama.
2. Timbulnya kebekuan dan kejumudan berfikir, sikap taklid buta
dan sikap fatalistik (menyerah kepada takdir). Dengan
didirikannya Muhammadiyah, yang menyampaikan keagamaan
secara lebihmudah dan dapat diterima baik oleh kaum pelajar
maupun khalaya awam, maka sedikit banyak Muhammadiyah

telah berhasil mempertemukan syariat agama dengan alam


pikir modern.
3. Keterbelakangan umat Islam dalam ilmu pengetahuan, sains,
dan tekhnologi.
4. Belum berhasilnya pendidikan yang menjamin kebahagiaan
dunia dan akhirat. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada
perlu penyempurnaan bentuk dan isi sehingga lebih sesuai
dengan tujuan yang hendak dicapai.
5. Tidak berkembangnya dakwah Islamiyah. Sementara itu,
giatnya kaum kristen dengan usaha misi keagamaan dan
penjajahan Belanda yang mengakibatkan penderitaan bangsa
Indonesia yang mayoritas beragama Islam yang tak kunjung
habis,

telah

menyadarkan

KH. Ahmad

Dahlan

untuk

membangun organisasi yang kuat dan tertib. Maka banyak


perjuangan yang didarmabaktikan oleh Muhammadiyah kepada
bangsa dan tanah air, terutama saat perjuangan kemerdekaan
dan untuk menghargai-nya, pemerintah Indonesia menetapkan
KH. Ahmad Dahlan dan beberapa tokoh Muhammadiyah
sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.
6. Pengaruh dan dorongan gerakan pembaharuan dalam dunia
Islam. KH. Ahmad Dahlan sangat terpengaruh oleh pemikiran
Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, karena ia banyak
membaca karya mereka termasuk tafsir Al-Manar. Sedangkan
ilmu berorganisasi didapatkannya dari gerakan Budi Utomo.17

17 Khoiriyah. Islam dan Logika Modern: Mengupas Pemahaman


Pembaharuan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013)hlm 118-121

b) Tokoh dan Ide Pembaharuannya


K.H. Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah. Ia
mempunyai nama kecil yaitu Muhammad Darwis, ia lahir pada pada
tahun 1868 M (1285 H). Latar belakang keluarganya adalah
bangsawan keagamaan, hal ini karena ayahnya adalah seorang Khatib
Masjid Agung di Kasultanan Yogyakarta. Sementara itu ibunya adalah
putri dari K.H. Ibrahim yang menduduki jabatan Penghulu Kasultanan
Yogyakarta.
Muhammad Darwis adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara
yang semuanya perempuan kecuali ia dan adiknya yang bungsu.
Silsilah KH. Ahmad Dahlan dapat di runut hingga Maulana Malik
Ibrahim, seorang ulama pionir penyebaran agama Islam di Tanah Jawa
pada abad ke-15 M.
Muhammad Darwis dididik dalam lingkungan semacam
pesantren sejak kecil baik dari berbagai pengetahuan agama Islam
maupun Bahasa Arab. Ia tidak pernah masuk ke Sekolah Gubernuran
yang di anggap oleh sebagian masyarakat Kauman di kampungnya
sebagai sekolah kafir atau Kristen. Ia menunaikan ibadah haji
pertamanya ketika berusia 15 tahun (1883) yang di lanjutkan dengan
memperdalam ilmu agama Islam dan Bahasa Arab selama 5 tahun di
Mekkah. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran dari
para pembaru Islam baik dari yang pra-modern maupun yang modern.
Bahkan, di Makkah ini pula Muhammad Darwis berganti nama
menjadi Ahmad Dahlan.18

18 Suwarbo. Relasi Muhammadiyah Islam dan Negara .(Yogyakarta:Pustaka


pelajar,2010)hlm 46

Adapun isi dari pokok-pokok pemikiran dan perspektif KH.


Ahmad Dahlan antara lain sebagai berikut :
1. Dalam bidang akidah, pandangan KH. Ahmad Dahlan
sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama salaf.
2. Menurut perspektif KH. Ahmad Dahlan, beragama adalah
beramal, artinya beragama itu berkarya dan berbuat
sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman AlQuran dan As-Sunnah.
3. Dasar pokok hukum Islam adalah Al-Quran dan As-Sunna.
Jika dari keduanya tidak ditemukan kaidah hukum yang
eksplisit, maka ditentukan berdasarkan kepada penalaran
dengan mempergunakan kemampuan berpikir logis (akal
pikiran) serta ijma dan qiyas.
4. Dalam pandangan KH. Ahmad Dahlan terdapat lima jalan
untuk memahami Al-Quran yaitu: mengerti artinya,
memahami maksudnya (tafsir), selalu bertanya pada diri
sendiri, apakah

larangan agama yang diketahui telah

ditinggalkan dan apakah perintah agama telah dipelajari


dan sudah dikerjakan atau belum, tidak mencari ayat lain
sebelum isi ayat sebelumnya dikerjakan.
5. KH. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa tindakan nyata
adalah wujud konkret dari penerjemahan Al-Quran dan
organisasi adalah wadah dan tindakan nyata tersebut.19
Muhammadiyah didirikan dengan membawa visi dan tujuan
tertentu. Adapun tujuan organisasi Muhammadiyah adalah :
Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud
masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhai Allah SWT.
Maksud dari Menegakkan dan menjunjung tinggi agama
Islam adalah berusaha menyucikan dan memurnikan pemahaman
19 Khoiriyah. Islam dan Logika Modern: Mengupas Pemahaman
Pembaharuan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013)hlm 122

agama Islam, sesuai dengan Sunnah Rasul, serta berusaha agar orangorang Islam mengerti ajaran Islam dan melaksanakan dengan sebaikbaiknya. Dan lebih dari semua itu, bagi Muhammadiyah ajaran Islam
diletakkan di atas segala-galanya. Adapun Masyarakat utama ialah
masyarakat yang dengan tulus ikhlas mewujudkan kemaslahatan umat
manusia yang adil dan makmur, sehingga kebahagiaan dan
kesehjahteraan luas merata. Dengan demikian, maksud dan tujuan
organisasi

Muhammadiyah

hanyalah

semata-mata

untuk

melaksanakan kewajiban Allah yang diberikan kepada seluruh umat


Islam, agar mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang baik,
sejahtera, aman dan damai baik lahir maupun batin di bawah
lindungan dan ampunan Allah SWT.
Adapun amal usaha dan hasil Muhammadiyah antara lain:
Bidang Keagamaan
Terbentuknya Majelis Tarjih, seperti memberi
pedoman dalam penentuan ibadah puasa dan hari
raya dengan jalan perhitungan hisab atau astronomi
sesuai

dengan

jalan

perkembangan

ilmu

pengetahuan modern.
Tersusunnya rumusan matan keyakinan dan cita-

cita hidup Muhammadiyah.


Penanaman kesadaran dan kenikmatan beragama,
beramal, dan berorganisasi.

Bidang Pendidikan
Mendirikan

sekolah-sekolah

umum

dengan

memasukkan ke dalamnya ilmu-ilmu pendidikan


keagamaan.

Mendirikan
diberikan

madrasah-madrasah
pendidikan

pengajaran

yang

juga

ilmu-ilmu

pengetahuan.
Bidang Kemasyarakat
Mendirikan rumah sakit modern.
Mendirikan panti asuhan anak yatim.
Mendirikan perusahaan percetakan.
Pengusahaan dana bantuan hari tua.
Memberi bmbingan dan penyuluhan keluarga
mengenai hidup sesuai tuntunan ilahi.
Bidang Politik Kenegaraan
Muhammadiyah bukan merupakan partai politik dan
tidak akan menjadi partai politik. Meskipun demikian,
dengan keyakinan bahwa agama Islam adalah agama yang
mengatur segenap kehidupan manusia di dunia ini, maka
dengan sendirinya segala hal yang berhubungan dengan
dunia juga menjadi bidangnya, tak terkecuali masalah
kenegaraan. Akan tetapi, jika Muhammadiyah ikut
bergerak dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan,
tetap dalam batasnya sebagai gerakan dakwah Islam.20

20 Ibid, hlm 123-125

F. Sejarah dan Pemikiran Nahdlatul Ulama


a) Sejarah Nahdlatul Ulama
Nahdlatul

Ulama

(NU)

merupakan

organisasi

keagamaan terbesar di Indonesia yang didirikan pada


tanggal 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926 M) di
Surabaya

oleh

beberapa

ulama

terkemuka

yang

kebanyakan adalah pemimpin/pengasuh pesantren. Ada


tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat
penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul
Ulama (NU) yaitu Kyai Wahab Chasbullah (Surabaya asal
Jombang), Kiai Hasyim Asyari (Jombang) dan Kyai Cholil
(Bangkalan), dengan pelopor utamanya adalah KH.
Hasyim Asyari, pendiri sekaligus pengasuh Pon Pes.
Tebuireng Jombang pada tahun itu. Tujuan didirikannya
adalah

berlakunya

ajaran

Islam

Ahlussunnah

Wal

Jamaah (Aswaja) dan menganut salah satu mazhab


empat. Ini berarti NU adalah organisasi keagamaan
yang

secara

konstitusional

membela

dan

mempertahankan Aswaja.21
Latar belakang yang mendasari gerakan para
ulama membentuk NU yang pertama adalah motif
keagamaan sebagai Jihad fi sabilillah. Kedua adalah
tanggung

jawab

mengembangkan

pemikiran

keagamaan yang ditandai dengan pelestarian ajaran


mazhab

Syafii.

Ini

berarti

tidak

statis,

tidak

berkembang, sebab pengembangan yang dilakukan


berfokus pada kesejahteraan sehingga pemikiran yang
21 Mohamad Sobary, NU dan keindonesiaan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010)hlm
226

dikembangkan itu memiliki konteks sejarah. Ketiga,


dorongan untuk mengembangkan masyarakat melalui
kegiatan pendidikan sosial dan ekonomi.
Selain latar belakang diatas kelahiran NU juga
merupakan reaksi atas pembaharuan pemikiran Islam di
Jawa, dengan sebab ini berdirlah NU pada tahun 1926.
Adapun sebab-sebab berdirinya organisasi ini sekurangkurangnya ada dua, yaitu:

Pertama, seruan terhadap penguasa Arab Saudi,


Ibnu

Saud,

untuk

meninggalkan

kebiasaan

beragama menurut tradisi. Golongan tradisi ini


tidak

menyukai

berkembang

di

Wahabisme
Hijaz,

yang

sedang

itu

mereka

karena

membentuk komite Hijaz yang kemudian berubah


menjadi Nahdlatul Ulama dalam sebuah rapat di
Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926. Komite
hijaz adalah nama sebuah kepanitiaan kecil yang
diketuai oleh KH Abdul Wahab Chasbullah.

Kedua, Inisiatif para kiyai membentuk Nahdhatul


Ulama sebenarnya lebih sebagai respon terhadap
perkembangan

politik

eksternal,

sementara

kondisi sosial-keagamaan dan politik negeri ini


hanyalah sebagian dari alasan didirikannya NU.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan
pendirian NU adalah masalah representasi akan
melindungi
tradisionalis

kepentingan-kepentingan
yang

merasa

muslim

terancam

atas

munculnya gerakan wahabi, dan hasratnya dalam


memecahkan

masalah

yang

terus

menerus

dihadapi kaum muslim. Ketika itu pembaharuan


Islam di Jawa sedang giat-giatnya yang dipelopori
oleh Muhammadiyah dan persis dengan pimpinan
tiga tokoh yaitu, K.H.Mas Mansur, Fakih Hasyim
dan K.H.Ahmad Dahlan.22

22 http://dhezun.markazinspirasi.com/2013/02/nahdlatul-ulama-nusejarah-pemikiran.html (akses 5 Mei 2016)

b) Tokoh dan Ide Pembaharuannya


KH. Hasyim Asyari merupakan tokoh utama dalam
berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama, beliau lahir pada
tanggal 24 Dzulhijah 1287 H bertepatan pada tanggal
14 Februari 1871 M di desa Gedeng, Jombang Jawa
Timur. Ayahnya bernama KH. Asyari dari Demak yang
masih keturunan Majapahit, sedangkan ibunya bernama
Halimah bin K Utsman dari desa tersebut. Beliau pernah
belajar di beberapa pondok pesantren antara lain
Pondok Wonoboyo, Probolinggo, kemudian ke Pondok
Trenggalis dan Bangkalan Madura. Beliau juga pernah
menjadi santri di Siwalan Sidoarjo yang diasuh oleh Kyai
Yakub. Setelah menunaikan ibadah haji, Hasyim Asyari
menetap

di

Makkah

untuk

memperdalam

ilmu

pengetahuan. Ia memperdalam fiqih madzab Syafii dan


kumpulan hadist Bukhari-Muslim. Pada tahun 1900,
Hasyim pulang ke Indonesia dan kembali lagi ke tanah
suci untuk mendalami ajaran agama selama 7 tahun. Ia
berguru pada Syaikh Mahfudz Al-Tarmasi (berasal dari
Termas yang mengajar di Makkah), Syaikh Khatib AlMinangkabaui. Selain beliau ada ulama lain yang juga
berguru pada Syaikh Khatib yakni KH. Wahab Hasbullah,
KH. Bisri Samsuri dan KH. Ahmad Dahlan.
Hasyim mendirikan pondok pesantren Tebuireng
dengan jumlah santri 28 orang pada tahun 1906. Berkat
ketekunannya pondok pesantren Tebuireng ini pun
berkembang pesat, yang kemudian mendapat bantuan
dari anak angkatnya, Muhammad Ilyas. Di antara putraputra dan keturunan beliau, banyak yang menjadi tokoh
nasional, antara lain Abdul Wahid Hasyim yang pernah

menjabat sebagai Menteri Agama, dan Abdurrahman


Wahid (cucu beliau yang juga pernah menjadi presiden
Republik Indonesia).23
Sebagai seorang intelektual KH Hasyim Asyari
telah menyumbangkan banyak hal, hal itu dapat dilihat
dari beberapa pemikirannya tentang banyak hal yaitu:
Teologi, dalam hal ini dia mengatakan ada tiga
tingkatan

dalam

mengartikan

tuhan,

tingkatan

pertama pujian terhadap keesaan tuhan hal ini


dimiliki oleh orang awam, tingkatan kedua meliputi
pengetahuan dan pengertian mengenai keesaan
tuhan hal ini dimiliki oleh Ulama, tingkatan ketiga
tumbuh dari perasaan terdalam mengenai hakim
agung dan hal ini dimiliki oleh para Sufi.
Ahlussunnah wal Jamaah, Hasyim Asyari menerima
doktrin

ini

khususnya
membangun

karena
yang

sesuai

dengan

berkaitan

hubungan

tujuan

dengan

ulama

NU

dengan

Indonesia

yaitu

mengikuti salah satu madzhab sunni dan menjaga


kurikulum pesantren agar sesuai dengan prinsipprinsip

Ahlussunnah

wal

Jamaah yang

berarti

mengikuti ajaran nabi Muhammad dan perkataan


ulama.
Tasawwuf, secara garis besar pemikiran tasawwuf KH
Hasyim Asyari bertujuan memperbaiki perilaku umat
Islam secara umum serta sesuai dengan prinsip
prinsip

ajaran

Islam,

dan

dalam

banyak

23 Khoiriyah. Islam dan Logika Modern: Mengupas Pemahaman


Pembaharuan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013)hlm 132-133

hal

pemikirannya banyak dipengarui oleh pemikiran AlGhazali.


Fiqh, dalam hal ini ini beliau cenderung mengikuti
madzab Syafii dan mengakui tiga madzab lainnya
yaitu Hanafi, Maliki, dan Hambali.
Pemikiran Politik, pada dasarnya pemikiran politik
Hasyim Asyari mengajak kepada semua umat Islam
untuk

membangun

dan

menjaga

persatuan,

menurutnya pondasi politik pemerintahan Islam itu


mempunyai tiga tujuan yaitu: memberi persamaan
bagi setiap muslim, melayani kepentingan rakyat
dengan cara perundingan, dan menjaga keadilan.

Tentang pendidikan
Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya
untuk

mengeluarkan

rakyat

Indonesia

dari

cengkraman penjajah.
Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya
penyadaran bahwa betapa pentingnya pendidikan
sebagai

sarana

untuk

memperluas

khazanah

keilmuan rakyat Indonesia dan umat Islam.


Mendefinisikan
pendidikan
Islam
upaya
menyelamatkan

umat

Islam

dari

jurang

kebodohan, yang mampu berfikir dinamis untuk


kemudian mengetahui jatidiri dirinya sebagai
makhluk

yang

dankemudian

diciptakan

tuntutan

untuk

oleh

Tuhan

menghambakan

dirinya kepada pencipta-Nya.24


24 Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama, ( Yogyakarta : LKIS Pelangi
Aksara, 2001)hlm 43-54

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada
masyarakat
perubahan

yang
dan

Statis,

semua

perkembangan.

pasti
Salah

mengalami
satu

faktor

penting yang mendorong perubahan dan perkembangan


itu adalah adanya kontak pergaulan dengan masyarakat
yang lebih maju sehingga terangsang untuk mengejar
ketertigalannya

atau

bisa

sejajar

dengan

mitra

pergaulannya. Pada permulaan abad ke-20 banyak


orang Islam di Indonesia mulai menyadari bahwa
mereka

tidak

kolonialisme

akan

dapat

penjajahan

menyaingi

Belanda

dan

kekuatan
mengejar

ketertinggalan dari Barat, apabila mereka melanjutkan


cara-cara yang bersifat trdisional dalam menegakkan
ajaran Islam golongan ini merintis cara-cara baru dalam
memahami dan mengembangkan ajaran-ajaran Islam
ditengah-tengah masyarakat oleh sebab itu, mereka
disebut kaum pembaharu.
Para pembaharu did Indonesia mengikuti jejak
kaum pembaharu di Timur Tengah, terutama yang
berpusat di Mesir. Mereka berkenalam dengan gagasan
tajdid melalui bacaan dan pertemuan langsung dengan
tokoh-tokohnya sewaktu mereka menuntut ilmu di Timur
Tengah.

Menurut

kami

dapat

disimpulkan

bahwa

pembaharuan yang dilakukan Kaum Padri dan Kaum


Muda,

Jamiatul

Khoir,

Al-Irsyad,

Persatuan

Islam,

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama secara garis besar


dapat dirumuskan sebagai berikut:

Menyegarkan pemahaman ajaran Islam dengan

membuka kembali pintu Ijtihad.


Mengembangkan pemikiran rasional.
Memurnikan Aqidah umat Islam.
DAFTAR PUSTAKA

Affandi,

Bisri.

1999.

Pembaharu

&

Pemurni

Islam

di

Indonesia.Jakarta: Al-Kautsar.
Azra,

Azyumardi.1999.

Esei-Esei

Intelektual

Muslim

dan

Pendidikan Islam .Cet. 1: Jakarta, Logos Wacana Ilmu.


Daya,

Burhanuddin.1995.

Gerakan

Pembaharuan

Pemikiran

Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.


Djoened,

Marwati

&

Nugroho

Notosusanto.1993.

Sejarah

Nasional Indonesia IV. Jakarta : Balai Pustaka.


http://dhezun.markazinspirasi.com/2013/02/nahdlatul-ulama-nusejarah-pemikiran.html (akses 5 Mei 2016)
https://id.wikipedia.org/wiki/Persatuan_Islam (akses 5 Mei 2016)
http://witawati34.blogspot.com/2013/03/pembaharuan-islam-diminangkabau.html (akses 16 Mei 2016)
Khoiriyah.2013.

Islam

dan

Logika

Modern:

Mengupas

Pemahaman Pembaharuan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.


Khuluq, Lathiful.2001. Fajar Kebangunan Ulama. Yogyakarta :
LKIS Pelangi Aksara.
Muchtar,

A.

Latief

Muchtar.1998.

Islam.Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Gerakan

Kembali

ke

Sobary,

Mohamad.2010.

NU

dan

keindonesiaan.Jakarta:

PT

Gramedia Pustaka Utama.


Suwarbo.2010..

Relasi

Muhammadiyah

Islam

dan

Negara

.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Suwendi.2004. Sejarah & Pemikiran Pendidikan Islam.Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.