Anda di halaman 1dari 8

2.

3 macam-macam perilaku kesehatan


Perilaku dapat diberi batasan sebagai suatu tanggapan individu terhadap rangsangan yang berasal
dari dalam maupun luar diri individu tersebut. Secara garis besar bentuk perilaku ada dua
macam, yaitu : (Notoatmodjo, 2003)
a. Perilaku Pasif (respons internal)
Perilaku yang sifatnya masih tertutup, terjadi dalam diri individu dan tidak dapat diamati
secara langsung. Perilaku ini sebatas sikap belum ada tindakan yang nyata.

b. Perilaku Aktif (respons eksternal)


Perilaku yang sifatnya terbuka, perilaku aktif adalah perilaku yang dapat diamati langsung,
berupa tindakan yang nyata.

Perilaku kesehatan pada garis besarnya dikelompokkan menjadi 2 yakni (Notoatmodjo, 2003):
a. Perilaku orang yang sehat agar tetap sehat dan meningkatkan perilaku ini disebut perilaku
sehat (healthy behavior), yang mencakup perilaku-perilaku (overt dan covert behavior) dalam
mencegah atau menghindar dari penyakit ini dan penyebab penyakit/masalah, atau penyebab
masalah kesehatan (perilaku preventif), dan perilaku dalam mengupayakan meningkatnya
kesehatan (perilaku promotif).
b. Perilaku orang yang sakit atau telah terkena masalah kesehatan, untuk memperoleh
penyembuhan atau pemecahan masalah kesehatannya. Perilaku ini disebut perilaku pencarian
pelayanan kesehatan (health seeking behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan
yang diambil seseorang atau anaknya bila sakit atau terkena masalah kesehatan untuk
memperoleh kesembuhan atau terlepas dari masalah kesehatan yang dideritanya. Tempat
pencarian kesembuhan ini adalah tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan, baik fasilitas
atau pelayanan kesehatan tradisional maupun pengobatan modern atau professional

Sedangkan menurut Becker (dalam Notoatmodjo, 2003), membuat klasifikasi lain tentang
perilaku kesehatan, dan membedakannya menjadi tiga yaitu:
a. Perilaku sehat (healthy behavior)
Perilaku sehat adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, antara lain: (Notoatmodjo, 2003)
1. Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang di sini adalah pola
makan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan nutria yang memenuhi kebutuhan nutrisi
yang memenuhi kebutuhan tubuh baik menurut jumlahnya (kuantitas), maupun jenisnya
(kualitas).

2. Kegiatan fisik secara teratur dan cukup. Kegiatan fisik di sini tidak harus olah raga. Bagi
seseorang yang pekerjaannya memang sudah memenuhi gerakan-gerakan fisik secara
rutin dan teratur, sebenernya sudah dapat dikategorikan berolah raga. Bagi seseorang
yang pekerjaannya tidak melakukan kegiatan fisik seperti manager, administrator,
sekretaris, dan sebagainya memerlukan olah raga secara teratur.

b. Perilaku sakit (illness behavior)


Perilaku sakit adalah berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang yang sakit dan/atau
terkena masalah kesehatan pada dirinya, atau keluarganya, untuk mencari penyembuhan, atau
untuk mengatasi masalah kesehatan yang lainnya. Pada saat orang sakit atau anaknya sakit,
ada beberapa tindakan atau perilaku yang muncul, antara lain: (Notoatmodjo, 2003)
1. Didiamkan saja (no action) artinya sakit tersebut diabaikan, dan tetap menjalankan
kegiatan sehari-hari.
2. Mengambil tindakan dengan melakukan pengobatan sendiri (self treatment atau self
medication). Pengobatan sendiri ini ada 2 cara, yakni: cara tradisional (kerokan, minum
jamu, obat gosok, dan sebagainya) dan cara modern, misalnya minum obat jadi.

3. Mencari penyembuhan atau pengobatan keluar yakni ke fasilitas pelayanan kesehatan,


yang dibedakan menjadi dua, yakni: fasilitas pelayanan kesehatan tradisional (dukun,
sinshe, dan paranormal), dan fasilitas atau pelayanan kesehatan modern atau professional
(puskesmas, poliklinik, dokter atau bidan praktik swasta, rumah sakit, dan sebagainya).

c. Perilaku peran orang sakit (the sick role behavior).


Dari segi sosiologi orang yang sedang sakit mempunyai peran (roles) yang mencakup
hak-haknya (rights), dan kewajiban sebagai orang sakit (obligation). Menurut becker, hak
dan kewajiban orang yang sedang sakit adalah merupakan perilaku orang sakit (the sick role
behavior). Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit sesuai dengan tingkatan-tingkatan
pemberian pelayanan kesehatan yang menyeluruh atau sesuai dengan tingkatan pencegahan
penyakit, yaitu (Notoatmodjo, 2003):
a) Perilaku peningkatan dan pemeliharan kesehatan (health promotion behavior)
b) Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior)
c) Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior)
d) Perilaku pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior)
d. Perilaku Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan
Perilaku ini adalah respons individu terhadap sistem pelayanan kesehatan modern maupun
tradisional, meliputi (Notoatmodjo, 2003):
a) Respons terhadap fasilitas pelayanan kesehatan
b) Respons terhadap cara pelayanan kesehatan
c) Respons terhadap petugas kesehatan
d) Respons terhadap pemberian obat-obatan
Respons tersebut terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan fasilitas,
petugas maupun penggunaan obat-obatan (Notoatmodjo, 2003).

e. Perilaku Terhadap Lingkungan Kesehatan (Environmental behaviour)


Perilaku ini adalah respons individu terhadap lingkungan sebagai determinant (faktor
penentu) kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini sesuai lingkungan kesehatan lingkungan,
yaitu (Notoatmodjo, 2003):
a) Perilaku terhadap air bersih, meliputi manfaat dan penggunaan air bersih untuk
kepentingan kesehatan.
b) Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor atau kotoran. Disini menyangkut
pula hygiene, pemeliharaan, teknik dan penggunaannya.
c) Perilaku sehubungan dengan pembuangan limbah, baik limbah cair maupun padat.
Dalam hal ini termasuk sistem pembuangan sampah dan air limbah yang sehat dan
dampak pembuangan limbah yang tidak baik.
d) Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat Rumah sehat menyangkut ventilasi,
pencahayaan, lantai, dan sebagainya.
e) Perilaku terhadap pembersihan sarang-sarang vektor.
f. Perilaku Orang Sakit dan Perilaku Orang Sehat
Menurut Sarwono (2004) yang dimaksud dengan perilaku sakit dan perilaku sehat
sebagai berikut:
Perilaku sakit adalah segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang
sedang sakit agar memperoleh kesembuhan. Perilaku sakit menurut Suchman adalah tindakan
untuk menghilangkan rasa tidak enak atau rasa sakit sebagai akibat dari timbulnya gejala
tertentu (Sarwono, 2004).
Perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri dan
penjagaan kebugaran melalui olahraga dan makanan bergizi.Penyebab perilaku Sakit
Menurut Mechanic sebagaimana diuraikan oleh Sarwono (2004) bahwa penyebab perilaku
sakit itu sebagai berikut:

a) Dikenal dan dirasakannya tanda dan gejala yang menyimpang dari keadaan
normal.
b) Anggapan adanya gejalan serius yang dapat menimbulkan bahaya.
c) Gejala penyakit dirasakan akan menimbulkan dampak terhadap hubungan dengan
keluarga, hubungan kerja, dan kegiatan kemasyarakatan.
d) Frekuensi dan persisten (terus-menerus, menetap) tanda dan gejala yang dapat
dilihat.
e) Kemungkinan individu untuk terserang penyakit.
f) Adanya informasi, pengetahuan dan anggapan budaya tentang penyakit.
g) Adanya perbedaan interpretasi tentang gejala penyakit.
h) Adanya kebutuhan untuk mengatasi gejala penyakit.
i) Tersedianya berbagai sarana pelayanan kesehatan, seperti : fasilitas, tenaga, obatobatan, biaya dan transportasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan antara lain: (Notoatmodjo, 2003)
a. Faktor demografik
Perilaku kesehatan berbeda berdasarkan pada faktor demografik. Individu yang masih muda,
lebih makmur, memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik dan berada dalam kondisi stress yang
rendah dengan dukungan sosial yang tinggi memiliki perilaku sehat yang lebih baik dari pada
orang yang memiliki resources yang lebih sedikit.
b. Usia
Perilaku kesehatan bervariasi berdasarkan usia. Secara tipikal perilaku kesehatan pada anak-anak
dapat dikatakan baik, memburuk pada remaja dan orang dewasa, namun meningkat kembali pada
orang yang lebih tua.

c.

Nilai

Nilai-nilai sangat mempengaruhi kebiasaan perilaku sehat individu. Misalnya latihan bagi wanita
sangat diinginkan bagi budaya tertentu tetapi tidak bagi budaya.
d. Personal Control
Persepsi bahwa kesehatan individu dibawah personal control juga menentukan perilaku sehat
seseorang. Misalnya penelitian yang dilakukan pada Universitas Sumatera Utara 26 Health locus
of control scale (Wallstone, Wallstone & DeVellis, 1978) yang mengukur derajat sejauh mana
persepsi individu dapat mengontrol kesehatan mereka.
e. Pengaruh Sosial
Pengaruh sosial juga dapat mempengaruhi perilaku sehat individu. Keluarga, teman, dan
lingkungan kerja dapat mempengaruhi perilaku sehat.
f. Personal Goal
Kebiasan perilaku sehat juga memiliki hubungan dengan tujuan personal (Eiser & Gentle, 1988).
Jika tujuan menjadi atlet berprestasi merupakan tujuan yang penting, individu akan cenderung
olah raga secara teratur dibandingkan jika hal itu bukan tujuan personal.
g. Perceived Symptoms
Kebiasaan sehat dikontrol oleh perceived symptoms. Misalnya perokok mungkin mengontrol
perilaku merokok mereka berdasarkan sensasi pada paruparu mereka.
h. Akses ke Health Care Delivery system
Akses ke Health care juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Menggunakan program screen
tuberkolosis, pap smear yang teratur, mamogram, imunisasi, merupakan contoh perilaku
kesehatan yang secara langsung berhubungan dengan health care system.
i. Faktor kognisi
Perilaku kesehatan memiliki hubungan dengan faktor kognisi, seperti keyakinan bahwa perilaku
tertentu dapat mempengaruhi kesehatan.

Menurut Green yang dikutip Notoadmodjo (2003), perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama,
yakni:
1. Faktor-faktor Predisposing (predisposing factor)
Faktor-faktor

predisposing

adalah

faktor-faktor

yang

mempermudah

atau

mempredisposisikan terjadinya perilaku seseorang. Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan


dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap halhal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat
pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya.

2. Faktor-faktor Pemungkin (enabling factor)


Faktor-faktor pemungkin adalah faktor-faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi
perilaku atau tindakan. Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas
kesehatan bagi masyarakat. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan
terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut juga faktor pendukung.
Misalnya Puskesmas, Posyandu, Rumah Sakit, tempat pembuangan air, tempat pembuangan
sampah, dan sebagainya.

3. Faktor-faktor penguat (reinforcing factor)


Faktor-faktor penguat adalah faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya
perilaku. Kadang-kadang meskipun orang mengetahui untuk berperilaku sehat, tetapi tidak
melakukannya. Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma),
tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk
juga disini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun dari pemerintah
daerah terkait dengan kesehatan.

Notoatmodjo, S (2003). Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Penerbit Rineka Cipta Cetakan
Pertama: Jakarta.