Anda di halaman 1dari 16

PEMBAHASAN SOAL IT AUDIT NOMER 1-2 MINGGU 1-2

NAMA : ARI SASTIA ASAMARANI


NIM

: 123150170

A. PENENTUAN RISIKO DETEKSI


1. Penentuan Risiko Deteksi untuk Pengujian Rincian Siklus Produksi
Spesifikasi auditor mengenai tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk
pengujian rincian atas asersi-asersi persediaan akan mencerminkan suatu hubungan
terbalik dengan penilaian risiko inheren, risiko pengendalian, dan risiko prosedur
analitis yang relevan yang berkaitan dengan asersi-asersi itu. Sebagai contoh dalam
menilai risiko pengendalian untuk asersi eksistensi keberadaan pada persediaan
barang dagang, auditor akan memperhitungkan penilaian risiko pengendaliaanya
untuk asersi tersebut bagi transaksi pembelian yang memperbesar saldo persediaan,
sedangkan asersi kelengkapan untuk transaksi penjualan yang memperkecil saldo
persediaan.
2. Penentuan Risiko Deteksi Siklus Personalia
Pengujian pengendalian atas efektivitas pengendalian untuk risiko ini
memungkinkan auditor untuk menetapkan tingkat risiko deteksi pada tingkat rendah,
sehingga tingkat risiko deteksi bisa diterima untuk kebanyakan asersi penggajian/
pengupahan adalah moderat atau tinggi. Akibatnya, pengujian tersebut seringkali
dibatasi hanya dengan menerapkan prosedur analitis atas rekening-rekening biaya dan
utang biaya yang bersangkutan, serta pengjuian detil terbatas. Apabila prosedur
analitis menunjukkan adanya fluktuasi yang tidak wajar, maka diperlukan pengujian
detil lebih banyak.
B. MERANCANG PENGUJIAN SUBSTANTIF
1. Merancang Uji Substantif Siklus Produksi
Pengujian substantif atas saldo persediaan
Bagian ini berhubungan dengan pengujian substantif atas persediaan
barang dagang yang dibeli dan disimpan oleh pedagang grosir serta eceran
dan juga persediaan bahan baku, barang dalam proses, serta barang jadi yang
dimiliki pabrikan. Dalam hal inl juga perlu dipastikan bahwa pemeriksaan
audit atas saldo persediaan harus cukup efisien dan efektif dalam
mendapatkan bukti kompeten yang mencukupi dan harus dipertimbangkan
secara cermat penentuan tingkat resiko deteksi yang dapat diterima dan
perancangan pengujian substantif yang sesuai untuk asersi-asersi persediaan.
1

Terdapat banyak pengujian yang dapat diterapkan pada tujuan audit spesifik
yang berkaitan dengan asersi eksistensi/keberadaan atau keterjadian,

kelengkapan serta penilaian atau alokasi.


Pengujian Substantif Saldo-Saldo Penggajian/ Pengupahan
Pengujian substantif saldo-saldo penggajian/ pengupahan biasanya

dilakukan pada tanggal neraca atau mendekati tanggal neraca.


2. Perancangan Pengujian Substantif Siklus Personalia
Program audit yang bisa dipertimbangkan untuk mengaudit saldo rekening
utang gaji/ upah sama dengan apa yang telah diidentifikasi. Namun dalam hal ini
auditor tidak perlu mengkonfirmasi utang gaji/ upah. Uraian tentang pengujian
substantif khusus untuk saldo-saldo penggajian/ pengupahan yang akan dijelaskan di
bawah ini dibatasi hanya prosedur-prosedur berikut :
Menghitung kembali kewajiban gaji dan upah akrual
Mengaudit tunjangan karyawan dan program pensiun
Mengaudit opsi saham dan hak apresiasi saham
Memverifikasi kompensasi pejabat perusahaan
Menghitung Kembali kewajiban Gaji dan Upah Akrual
Bagi banyak perusahaan perlu dibuat berbagai macam akun akrual
pada tanggal neraca sebesar jumlah yang terutang kepada pejabat dan
karyawan untuk gaji dan upah, komisi, bonus, uang cuti, dan sebagainya,
serta sebesar jumlah yang terutang kepada badan-badan pemerintah untuk
pajak-pajak gaji dan upah. Walaupun perhatian utama auditor mengenai
beban gaji dan upah untuk tahun berjalan tertuju pada lebih saji, namun untuk
akun-akun akrual akhir tahun perhatian utamanya adalah pada rendah saji.
Hal yang juga harus diperhatikan adalah konsistensi metode untuk
menghitung akrual dan periode ke periode.
Dalam memperoleh bukti mengenai kewajaran jumlah-jumlah akrual
manajemen, auditor harus mereview perhitungan manajemen atau melakukan
perhitungan sendiri. jumlah-jumlah akrual untuk pajak gaji dan upah harus
dibandingkan dengan jumlah yang diperlihatkan dalam laporan pajak gaji dan
upah. Selain itu, bukti tambahan juga dapat diperoleh dengan memeriksa
pembayaran sesudahnya atas jumlah akrualitu sebelum pekerjaan lapangan
berakhir. Bukti yang diperoleh dan pengujian ini terutama menyangkut tujuan
yang berhubungan dengan asersi penilaian atau alokasi.

Mengaudit Tunjangan Karyawan dan Program Pensiun


Banyak perusahaan menawarkan tunjangan pensiun dan pasca
pensiun yang signifikan kepada para karyawan. Sejumlah perusahaan pabrik
setelah

memiliki

program

pensiun

dengan

tunjangan

pasti

yang

menghadirkan masalah yang signifikan dalam hal pengukuran beban pensiun,


2

serta pengungkapan pensiun. Di sini risiko yang paling signifikan


berhubungan dengan salah saji dalam asersi penilaian atau alokasi
(menentukan beban pensiun), serta asersi penyajian dan pengungkapan
(menulis catatan kaki tentang pensiun). Program pensiun dengan tunjangan
pasti biasanya terkena persyaratan yang dikeluarkan Employee Retirement
Income Security Act (ERISA) tahun 1974, yang biasanya mensyaratkan audit
terpisah atas program pensiun. Auditor yang mengaudit laporan keuangan
biasanya dapat mengacu pada hasil audit ERISA ketika mengaudit beban dan
pengungkapan pensiun. Pada saat menyelesaikan audit ERISA, auditor
biasanya akan menggunakan pakar dari luar untuk mengaudit asumsi-asumsi
aktual yang penting yang diperlukan untuk menentukan beban pensiun dan
proyeksi kewajiban tunjangan. Auditor juga harus mengevaluasi kewajaran
estimasi akuntansi utama, yaitu tingkat pengembalian yang digunakan untuk
menentukan proyeksi kewajiban tunjangan, pada saat mengaudit beban
pensiun. Hal ini biasanya melibatkan audit atas tingkat pengembalian jangka
panjang perusahaan yang diperoleh oleh aktiva program (bukan hanya
pengembalian jangka pendek yang terakhir), serta mengevaluasi tingkat
pengembalian jangka panjang yang dilaporkan oleh perusahaan lainnya di

dalam industri tersebut.


Mengaudit Opsi Saham dan Hak Apresiasi Saham
Salah satu bentuk kompensasi karyawan yang umum bagi banyak
perusahaan menyangkut penggunaan opsi saham. Auditor harus menentukan
(1) jenis program kompensasi insentif yang digunakan untuk memberikan
kompensasi kepada karyawan dan pejabat, (2) bagaimana beban kompensasi
ditentukan, dan bagaimana beban kompensasi dialokasikan ke berbagai
periode akuntansi, serta (3) kecukupan pengungkapan yang berkaitan dengan
program kompensasi insentif.
Pertama, auditor harus menentukan metode kompensasi insentif yang
digunakan oleh klien dan membaca kontrak-kontrak yang mendasari untuk
mengidentifikasi istilah-istilah penting yang berhubungan dengan program
kompensasi insentif. Metode yang umum digunakan mencakup penggunaan
baik opsi saham insentif maupun, dalam beberapa kasus, hak apresiasi saham.
Hak apresiasi saham seringkali digunakan untuk memberikan karyawankaryawan kunci kas yang cukup untuk menggunakan opsi saham dan
menyimpan saham itu, bukan menjual saham guna mendapatkan kas yang
cukup untuk menggunakan opsi.

Dalam

hal

akuntansi

untuk

beban

kompensasi, sebagian besar perusahaan menyusun program opsi sahamnya


untuk memenuhi persyaratan APB No. 25, sehingga mereka dapat
3

menggunakan pendekatan nilai intrinsik dan tidak melaporkan beban


kompensasi yang berkaitan dengan penggunaan opsi saham. Namun, hak
apresiasi saham mengharuskan diakuinya

beban kompensasi, tanpa

memperhatikan apakah hak itu digunakan selama periode berjalan atau tidak.
Auditor harus dengan cermat mengevaluasi ketepatan penerapan GAAP
dalam konteks syarat-syarat kontrak yang berhubungan dengan opsi saham
dan hak apresiasi saham.
Masalah paling signifikan menyangkut program kompensasi insentif
berhubungan dengan pengungkapan yang memadai dalam laporan keuangan.
FASB No. 123 mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan laba bersih
dan laba per saham pro forma seperti dalam menggunakan pendekatan nilai
wajar. Akibatnya, auditor harus mengaudit model penilaian yang digunakan
untuk menentukan riilai wajar opsi saham. Pada saat mengevaluasi kewajaran
penyajian dalam laporan keuangan, auditor mengevaluasi asumsi-asumsi
yang mencakup suku bunga bebas risiko, perkiraan umur opsi, perkiraan
volatilitas harga saham, dan perkiraan dividen.
Auditor juga harus mengevaluasi kewajaran penyajian pengungkapan
termasuk deskripsi program secara umum, serta jumlah dan rata-rata
tertimbang harga penggunaan opsi yang masih beredar pada awal dan akhir
tahun, serta opsi yang diberikan, digunakan, dibatalkan, atau kadaluwarsa

selama tahun berjalan.


Memverifikasi kompensasi Pejabat
Kompensasi pejabat sangat sensitif terhadap audit karena dua alasan:
(1) pengungkapan kompensasi pejabat secara terpisah disyaratkan dalam
laporan 10-K yang diserahkan perusahaan terbuka kepada SEC, dan (2) para
pejabat mungkin bisa menghindari pengendalian dan menerima gaji, bonus,
opsi saham, serta bentuk kompensasi lainnya yang melebihi jumlah yang
diotorisasi.

C. PROSEDUR AWAL
Salah satu prosedur awal yang penting adalah menyangkut usaha untuk mendapatkan
pemahaman tentang bisnis dan industri suatu entitas guna menetapkan konteks untuk
mengevaluasi prosedur analitis dan pengujian rincian. jika klien adalah pabrikan, maka
penting untuk memahami bauran biaya tetap dan biaya variabel yang terlibat dalam proses
pabrikasi. Dan jika klien itu merupakan pengecer, maka penting untuk memahami sumber
pasokan produk serta peran yang dimainkan klien dalam mata rantai distribusi ini.
D. PROSEDUR ANALISIS
4

Hal yang sangat penting dilakukan ketika mengembangkan ekspektasi yang akan
digunakan dalam mengevaluasi data analitis bagi klien adalah penelaahan atas pengalaman
dan kecenderungan industri klien. Sebagai contoh, dengan mengetahui penurunan yang tajam
dalam rasio perputaran persediaan klien yang mencerminkan keadaan perusahaan tersebut,
dapat membantu auditor untuk menyimpulkan bahwa penurunan itu tidak mengindikasikan
kesalahan yang berhubungan dengan keberadaan data klien yang digunakan dalam
menghitung rasio perputaran persediaan., melainkan mengindikasikan masalah penilaian yang
berkaitan dengan penurunan permintaan yang mungkin akan diikuti oleh menurunnya harga
pasar.
E. PENGUJIAN RINCIAN TRANSAKSI
Pengujian ini melibatkan prosedur pemeriksaan dokumen pendukung dan penelusuran uutuk
mendapatkan bukti tentang pemrosesan setiap transaksi yang mempengaruhi saldo
persediaan.

Pengujian Ayat Jurnal atas Akun Persediaan


Sebagian atau semua jenis pengujian ini dapat dilakukan sebagai bagian
dari pengujian bertujuan ganda selama melaksanakan pekerjaan interim.
Contoh vouching ayat jumal yang tercatat dalam akun persediaan mencakup
pemeriksaan dokumen pendukung.
a) Ayat jurnal debet dalam persediaan barang dagang atan bahan baku
ke faktur penjual, laporan penerimaan, dan pesanan pembelian.
b) Ayat jurnal debet dalam persediaan barang dalam proses atau barang
jadi ke catatan biaya pabrikasi dan laporan produksi.
c) Ayat jurnal kredit pada persediaan barang dagang dan barang jadi ke
dokumen dan catatan penjualan.
d) Ayat jurnal kredit pada persediaan bahan baku dan barang dalam
proses ke catatan biaya pabrikasi dan laporan produksi.

F. PENGUJIAN RINCIAN SALDO


Mengamati Perhitungan Persediaan Fisik Klien
Prosedur ini diwajibkan apabila persediaan merupakan ha1 yang
material bagi laporan keuangan sebuah perusahaan. SAS 1 (AU 331.09),
piutang dan persediaan, menyatakan bahwa dari pengujian substantive ini
auditor akan memperoleh pengetahuan langsung mengenai efektifitas
perhitungan persediaan klien serta tingkat keandalan yang dapat diberikan
atas asersi manajemen sehubungan dengan kuantitas dan kondisi fisik

persediaan.
Penetapan Waktu Dan Luas Pengujian
Penetapan waktu tergantung pada system persediaan yang dianut
klien dan efektifitas pengendalian internal. Dalam system persediaan
periodic,

kuantitas

ditentukan melalui

perhitungan

fisik,dan semua

perhitungan telah ditentukan pada tanggal tertentu yang mendekati tanggal


neraca. Dalam system persediaan perpektual dengan pengendalian internal
yang efekif, perhitungan fisik dapat dilakukan dan dibandingkan dengan
catatan persediaan pada tanggal interim. Dalam kasus ini prosedur ini dapat

dilakukan selama atau setelah akhir periode yang diaudit.


Rencana Perhitungan Persediaan
Perhitungan persediaan fisik dilakukan sesuai dengan rencana atau daftar
intruksi, yang mencakup hal-hal seperti :
1) Nama karyawan yang bertanggung jawab untuk mengawasi
2)
3)
4)
5)

perhitungan persediaan
Tanggal perhitungan
Lokasi-lokasi yang dihitung
Intruksi terinci mengenai perhitungan akan dilakukan
Penggunaan dan pengendalian label persediaan bernomor urut serta

lembar ikhtisar
6) Ketentuan mengenai

penangangan

penerimaan,pengirman

dan

perpindahan barang
7) Pemisahan atau identitikasi barang yang bukan milik klien.
Melaksanakan Pengujian
1) Meneliti kecermatan para karyawan klien mengikuti rencana
perhitungan persediaan.
2) Memastikan bahwa semua barang dagang telah diberi label.
3) Menentukan label persediaan bernomor urut dan lembar kompilasi
4)
5)
6)
7)
8)

telah dikendalikan dengan semestinya.


Melakukan pengujian perhitungan dan menelusuri kuantitas.
Mewaspadai wadah-wadah yang kosong yang mungkin ada.
Mewaspadai persediaan barang yang rusak dan usang.
Menilai kondisi umum persediaan.
Mengidentifikasi dokumen penerimaan dan pengiriman terakhir yang

digunakan.
9) Mengajukan pertanyaan tentang eksistensi barang persediaan yang

lambat pergerakannya.
Persediaan Yang Ditentukan Dengan Sampel Statistik
Perhitungan ini harus diamati apabila dianggap perlu sesuai dengan
situasinya. Selain itu auditor harus memperoleh bukti mengenai kelayakan

metode yang digunakan untuk menentukan kuantitas yang diperlukan.


Pengamatan Persediaan Awal
Auditor mungkin akan ditunjuk sesudah persediaan awal dihitung
atau diminta untuk memberikan laporan mengenai laporan keuangan dari satu
atau lebih periode sebelumnya. Jika sebelumnya klien belum pernah diaudit,
maka auditor dapat memperoleh kepuasan audit dengan menelaah ikhtisar
perhitungan yang pernah dilakukan klien, menguji transaksi persediaan

sebelumnya, dan menerapkan pengujian laba kotor terhadap persediaan.


Dampak Terhadap Laporan Auditor
6

Apabila bukti yang mencukupi belum diperoleh sehubungan dengan


persediaan awal atau auditor tidak bisa mengamati perhitungan persediaan

akhir, maka auditor dilarang untuk mengeluarkan laporan audit satndar.


Aplikabilitas Pada Asersi
Seperti konfirmasi piutang usaha, pengamatan perhitungan
persediaan oleh klien juga berlaku pada banyak asersi. Pengujian ini
merupakan

sumber bukti yang utama tentang eksistensi persediaan. Di

samping itu, pengujian ini juga berhubungan dengan asersi asersi berikut :
Asersi

Kelengkapan

Penjelasan

Kuantitas yang melebihi catatan perpetual


menunjukkan bahwa catatan tidak lengkap.

Penilaian atau alokasi

Kuantitas yang diamati merupakan dasar


untuk mengkompilasi total nilai dolar dalam
ikhtisar persediaan.
Barang yang rusak dan usang yang diamati
dapat dinilai sebesar nilai realisasi bersih.

Namun pengamatan tidak dapat memberikan bukti mengenai asersi hak dan
kewajiban karena barang yang ada di tangan mungkin disimpan menurut
kontrak konsinyasi, atau untuk kemudahan salah satu pelanggan yang sudah
memegang hak milik.

Pengujian Klien atas Akurasi Daftar Persediaan


Setelah perhitungan fisik dilakukan, klien menggunakan label atau
lembar perhitungan persediaan untuk menyusun atau mengkompilasi daftar
semua barang yang dihitung. Harga barang barang persediaan itu kemudian
dicantumkan untuk mendapatkan total nilai dolar persediaan yang ada
ditangan. Karena daftar ini menjadi dasar bagi klien untuk membuat setiap
ayat jurnal yang diperlukan dalam menyesuaikan persediaan yang tercatat
agar sesuai dengan yang ada di tangan, auditor harus melakukan penujian
klerikal tertentu untuk memastikan bahwa daftar itu akurat dan menyajikan
secara akurat hasil perhitungan fisik. Pengujian klerikal atas akurasi meliputi
perhitungan kembali total yang tampak dalam daftar persediaan dan
memverifikasi akurasi perkalian antara kuantias dengan harga per unit atas

dasar pengujian.
Pengujian Penetapan Harga Persediaan
7

Pengujian ini mencakup pemeriksaan atas dokumentasi pendukung


baik untuk harga pokok maupun nilai pasar persediaan. Jadi, pengujian ini
terutama berhubungan dengan asersi penilaian atau alokasi. Pengujian ini
juga menyangkut penentuan bahwa prosedur

penetapan harga yang

digunakan konsisten dengan yang digunakan dalam tahun tahun


sebelumnya. Review atas catatan persediaan perpetual dan pengajuan
pertanyaan kepada klien harus memungkinkan auditor untuk menentukan
baik dasar maupun metode penetapan harga yang digunakan dalam
menetapkan harga kuantitas persediaan. Sebaliknya, konsistensi penetapan
harga ini, dapat ditetapkan dengan melihat kembali kertas kerja tahun
sebelumnya dalam audit yang berulang dan / atau laporan keungan
sebelumnya.

Pengujian Harga Pokok Persediaan Yang Diproduksi


Sifat dan luas pengujian penetapan harga barang dalam proses dan
barang jadi yang dilakukan auditor tergantung pada realibilitas catatan
akuntansi biaya klien dan metode yang digunakan oleh klien dalam
mengakumulasikan biaya biaya tersebut. Apabila asersi klien mengenai
sifat persediaan berhubungan dengan hal hal yang sangat bersifat teknis,
auditor mungkin memerlukan bantuan para pakar dari luar. Sebagai contoh,
hal ini mungkin saja terjadi, dalam perusahaan minyak yang memiliki mutu
minyak dan pelumas yang berbeda, atau pada took perhiasan yang memiliki
permata dengan karat yang berbeda dan jam tangan hiasan permatanya

berlainan.
Mengkonfirmasi Persedian Pada Lokasi Lokasi Di Luar Entitas
Apabila persediaan klien disimpan di gudang atau pada jasa penyimpan
(custodian) luar, maka auditor harus memperoleh bukti mengenai eksistensi
persediaan itu melalui komunikasi langsung dengan si penyimpan. Jenis bukti
ini akan dianggap memadai kecuali bila jumlah yang terlibat merupakan
proposi yang signifikan dari aktiva lancer atau total aktiva. Dalam kasus ini,
AU 331.14 menyatakan bahwa auditor harus menerapkan satu atau lebih dari
prisedur prosedur berikut ini :
1) Pengujian prosedur pemilik untuk menyelidiki penjaga gudang dan
mengevaluasi kinerja penjaga gudang.
2) Mendapatkan laporan akuntan independent mengenai prosedur
pengendalian yang diterapkan penjaga gudang berhubungan dengan
penyimpanan barang dan, jika ada, penjaminan tanda terima, atau
menerapkan prosedur alternatif atas gudang untuk mendapatkan

keyakinan yang layak bahwa informasi yang diterima dari penjaga


gudang dapat diandalkan.
3) Mengamati perhitungan fisik barang, jika praktis dan layak.
4) Jika tanda terima gudang sudah dijaminkan sebagai agunan, maka
konfirmasikam kepada pemberi pinjaman mengenai rincian yang
berkaitan dengan tanda terima yang dijaminkan itu (atas dasar

pengujian jika tepat).


Memeriksa Perjanjian Dan Kontrak Konsinyasi
Auditor juga harus mengajukan pertanyaan kepada manajemen
tentang semua barang yang disimpan atas dasar konsinyasi. Jika barang
disimpan atas dasar konsinyasi, maka syarat syarat dalam perjanjian itu

harus diperiksa.
Pengujian Rincian Saldo: Estimasi Akuntansi
Tanggung jawab auditor atas kualitas terbatas hanya sebagai pengamat
yang telah cukup memperoleh informasi mengenai hal itu. Ini berarti bahwa
auditor hanya diharapkan menentukan apakah persediaan sudah berada dalam
kondisi siap dijual, digunakan atau dikonsumsi, dan apakah ada barang yang
usang, lambat bergerak, atau rusak. Auditor memperoleh bukti mengenai
kondisi umum atau keusangan dengan :
1) Mengamati perhitungan persediaan yang dilakukan klien
2) Melakukan scanning atas catatan persediaan perpetual untuk
mengetahui barang barang yang lambat bergerak
3) Menelaah laporan produksi pengendalian mutu
Selain itu, auditor juga dapat menggunakan pengalamannya sebatas
yang memungkinkan dan menelaah penjualan persediaan setelah akhir tahun
untuk menentukan kewajaran harga pokok bila dibandingkan dengan harga
jual sesudahnya. Misalnya, auditor biasanya akan :
1) Membandingkan harga pokok barang barang persediaan dengan
catalog penjualan tahun berjalan.
2) Menelaah perputaran persediaan setelah akhir tahun
3) Mempertimbangkan apakah perubahan dalam biaya pengganti
merupakan indicator berubahnya kondisi pasar
4) Mengajukan pertanyaan kepada klien mengenai persediaan yang
lambat bergerak dan usang serta nilai persediaan yang dapat
direalisasi melalui penjualan

G. MEMBANDINGKAN PENYAJIAN LAPORAN DENGAN GAAP


Dalam pelaporan persediaan di laporan keuangan, persediaan harus dilaporkan di
neraca dengan pengelompokan tertentu berdasarkan kelompok utama persediaan pada
perusahaan yang bersangkutan, demikian pula untuk harga pokok penjualan yang akan

dilaporkan dalam laporan laba rugi. Selain itu, dalam laporan perlu diungkapkan metode
harga pokok yang digunakan, penjaminan persediaan dalam rangka penarikan utang, dan
adanya komitmen pembelian.
Bukti tentang penyajian dan pengungkapan diperoleh melalui pengujian substantif.
Bukti selanjutnya bisa diperoleh melalui review atas notulen rapat dewan komisaris dan hasil
pengajuan pertanyaan kepada manajemen. Berdasarkan bukti dan pembandingan antara
laporan keuangan klien dengan prinsip akuntansi berlaku umum, auditor menentukan
ketepatan penyajian dan pengungkapan.
Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh melalui berbagai pengujian substantif,
auditor akan dapat menarik kesimpulan untuk setiap tujuan audit saldo rekening persediaan.
H. AUDIT OBECTIVE DALAM SIKLUS PRODUKSI DAN JASA PERSONALIA
1. Audit Obective Dalam Siklus Produksi
Manajemen persediaan merupakan proses inti yang harus dikelola dengan
baik oleh setiap perusahaan pabrikasi, pedagang grosir, serta pengecer agar dapat
mencapai tujuan profitabilitas dan arus kas.
Lebih jauh lagi, prosedur analitis yang ditempuh auditor akan membahas
efektivitas proses manajemen persediaan. Biasanya auditor akan mengevaluasi
perputaran persediaan suatu usaha entitas. Jika peringkat klien mendekati tingkat
paling bawah dalam industrinya, maka akuntan publik biasanya akan coba membahas
masalah bagaiman klien dapat memperbaiki proses manajemen persediaannya.
2. Audit Obective Dalam Siklus Jasa Personalia
Manajemen personalia merupakan proses inti bagi banyak perusahaan .
Disini masalah utamanya adalah bagaimana auditor menggunkan pengetahuan yang
diperoleh selama melakukan audit untuk memberikan jasa bernilai tambah bagi para
kliennya.
Pada saat mengaudit beban dan profitabilitas seorang akuntan publik akan
sering mengevaluasi statistik produktivitas karyawan. Apabila karyawan bisa lebih
produktif , maka perusahaan kerap kali mencapai profitabilitas yang lebih baik dalam
industri. Bagi organisasi jasa , merupakan hal yang penting untuk memiliki cara
mengevaluasi produktivitas karyawan (seringkali produktivitas karyawan dalam tim
atau departemen). Para akuntan publik, biasanya memiliki keterampilan dalam
mengembangkan cara agar pusat-pusat pertanggungjawaban bertanggungjawab atas
penggunaan sumber daya mereka dalam hal ini sumber daya gaji dan upah. Akuntan
publik dapat membantu klien dengan :
Menyarankan ukuran produktivitas karyawan yang tepat atau
Mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat diambil

klien

untuk

meningkatkan produktivitas karyawan.

10

A. KESIMPULAN
Spesifikasi auditor mengenai tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk
pengujian rincian atas asersi-asersi persediaan akan mencerminkan suatu hubungan terbalik
dengan penilaian risiko inheren, risiko pengendalian, dan risiko prosedur analitis yang relevan
yang berkaitan dengan asersi-asersi itu.
Pengujian pengendalian atas efektivitas pengendalian untuk risiko deteksi siklus
personalia memungkinkan auditor untuk menetapkan tingkat risiko deteksi pada tingkat
rendah, sehingga tingkat risiko deteksi bisa diterima untuk kebanyakan asersi penggajian/
pengupahan adalah moderat atau tinggi. Akibatnya, pengujian tersebut seringkali dibatasi
hanya dengan menerapkan prosedur analitis atas rekening-rekening biaya dan utang biaya
yang bersangkutan,serta pengjuian detil terbatas. Apabila prosedur analitis menunjukkan
adanya fluktuasi yang tidak wajar, maka diperlukan pengujian detil lebih banyak.

PEMBAHASAN SOAL NOMER 2 MINGGU PERTAMA


Pengendalian Aplikasi (Application Control)
Menurut Gondodiyoto (2007: 372), pengendalian aplikasi adalah sistem
pengendalian intern pada sistem informasi berbasis teknologi informasi yang berkaitan
dengan pekerjaan atau aplikasi tertentu (setiap aplikasi memiliki karakteristik dan
kebutuhan pengendalian yang berbeda). Pengendalian aplikasi diperlukan untuk
mengurangi terjadinya risiko, atau jika risiko ternyata terjadi juga, hendaknya tingkat
kerugiannya seminimal mungkin.
Pengendalian aplikasi menurut Gondodiyoto (2007: 374) terdiri dari:
1.

Boundary Controls (pengendalian batasan)

2.

Input Controls (Pengendalian Masukan)

3.
4.
5.
6.

Process Controls (Pengendalian Proses)


Database Controls (Pengendalian Database)
Communication Controls (Pengendalian Komunikasi)
Output Controls (Pengendalian Keluaran)

Sesuai dengan ruang lingkup evaluasi yang akan dilakukan, maka pengendalian aplikasi
yang akan dibahas lebih lanjut adalah:
11

1. Boundary Controls (pengendalian batasan)


Boundary adalah interface antara pengguna (user) dengan sistem berbasis TI.
Tujuan utama boundary controls ialah:
a.

Untuk mengenal identitas dan otentik atau tindakan user/pemakai sistem

b.

Untuk menjaga agar sumber daya informasi digunakan oleh user tersebut
dengan cara yang ditetapkan.

Beberapa pengendalian yang diimplementasikan dalam boundary controls :


a)

Chryptographic Control
Adalah sistem pengendalian internal yang didesain untuk menjaga privacy,
serta menjaga agar orang/pihak yang tidak berwenang tidak dapat melakukan
kegiatan yang berkaitan dengan merubah atau menambah dan menghapus

b)

data.
Access Control
Access Control bertujuan agar sumber daya sistem digunakan hanya oleh
orang-orang yang berhak, menjamin agar kegiatan pengguna dilakukan sesuai
dengan ketentuan, dan menjamin bahwa peralatan yang digunakan sesuai
dengan semestinya. Ada beberapa cara yang diterapkan dalam kontrol ini,
antara lain dengan password. Kelemahan password antara lain: password
dicatat, sehingga kemungkinan diketahui orang lain, orang cenderung
membuat password dengan kata kunci yang mudah ditebak, password tidak
diperbaharui, password sering dianggap tidak penting dan dibuat menjadi

c)

rahasia umum dengan membuat orang mengetik password kita.


Audit Trail
Adalah catatan-catatan atau data tertentu yang disimpan di dalam sistem
komputer dengan tujuan apabila di kemudian hari ada masalah, maka
catatan/data tersebut dapat digunakan untuk melakukan pelacakan. Cakupan
audit trail: identitas user, informasi otentiknya, identitas sumber daya yang
digunakan, jenis kegiatan yang dilakukan, apakah yang bersangkutan harus
mencoba akses beberapa kali karena akses gagal, dan kapan mulai serta

d)

berakhirnya kegiatan.
Existance Control
12

Didesain untuk menjaga agar jika aktivitas user terhenti karena suatu sebab
kegagalan tertentu, akses tersebut tidak diproses lebih lanjut untuk menjaga
integritas data maupun pengamanan aset.
2. Input Controls (Pengendalian Masukan)
Input merupakan salah satu tahap dalam sistem komputerisasi yang paling penting
dan mengandung risiko. Input controls dirancang dengan tujuan untuk mendapat
keyakinan bahwa data transaksi input adalah valid, lengkap, serta bebas dari
kesalahan dan penyalahgunaan.
a. Metode Input Data
- Direct Entry (personal computer)
- Direct Reading ( ATM, point of sale device)
b. Desain Dokumen Sumber
c. Rancangan Tampilan Data Entry
d. Kontrol Kode Data
e. Validasi Data Input
- Adanya error message.
f. Instruksi Input
3. Output Controls (Pengendalian Keluaran)
Output controls merupakan pengendalian yang dilakukan untuk menjaga output
sistem agar akurat, lengkap dan digunakan sebagaimana mestinya. Output controls
ini didesain untuk menjamin agar output atau informasi dapat disajikan secara
akurat, lengkap, mutakhir dan didistribusikan kepada orang-orang yang berhak
secara cepat dan tepat waktu. Kemungkinan risiko yang terkait dengan keluaran dan
harus dideteksi ialah: laporan tidak akurat, tidak lengkap, terlambat atau data tidak
up-to-date, banyak item data yang tidak relevan, bisa dibaca oleh pihak yang tidak
berhak.
a. Distribution Controls
b. Storage Controls
c. Retention Controls (berapa lama laporan disimpan)
d. Destruction Controls (penghancuran laporan)
e. Report Design Controls

Aplikasi Berbasis Web


a) Pengertian Aplikasi
13

Menurut Dhanta (2009: 32), aplikasi (application) adalah software yang dibuat
oleh suatu perusahaan komputer untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa aplikasi merupakan software
yang berfungsi untuk melakukan berbagai bentuk pekerjaan atau tugas-tugas seperti
pengolahan data.
Menurut OBrien (2010: 124), software komputer terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Application Software
Mengarahkan kinerja penggunaan tertentu atau aplikasi komputer untuk
memenuhi kebutuhan pengolahan informasi dari pengguna. Contohnya: word
processing.
2. System Software
Mengendalikan dan mendukung operasi dari sistem komputer karena
melakukan berbagai tugas pengolahan informasi. Contohnya: operating
system, network management, database management.

b) Pengertian Aplikasi Berbasis Web


Menurut OBrien (2010: 157), Web service merupakan komponen software yang
berbasis framework web dan standar object-oriented dan teknologi untuk penggunaan
web yang secara elektronik menghubungkan aplikasi user yang berbeda dan platform
yang berbeda. Web service dapat menghubungkan fungsi bisnis untuk pertukaran data
secara real time dalam aplikasi berbasis web.
Menurut artikel yang didapat dari website Webarq (2010) menjelaskan bahwa
Aplikasi Berbasis Web adalah sebuah aplikasi yang dapat diakses melalui internet atau
intranet.

14

Banyak dari perusahaan-perusahaan berkembang yang menggunakan Aplikasi


Berbasis Web dalam merencanakan sumber daya mereka dan untuk mengelola
perusahaan mereka. Aplikasi berbasis Web ini menggunakan protokol HTTP, Aplikasi di
sisi server berkomunikasi dengan client melalui Web server. Aplikasi di sisi client
umumnya berupa Web browser jadi, Aplikasi berbasis Web (client/server-side script)
berjalan di atas Aplikasi berbasis Internet.
Menurut Simarmata (2010: 185), aplikasi berbasis web adalah sistem perangkat
lunak yang berdasarkan pada teknologi dan standar World Wide Web Consortium (W3C).
Mereka menyediakan sumber daya web spesifik, seperti konten dan layanan melalui
sebuah antarmuka pengguna dan browser web.
c) Tujuan Aplikasi Berbasis Web
Tujuan Aplikasi Berbasis Web, yaitu:
1. Aplikasi Berbasis Web dapat digunakan untuk membantu operasional
perusahaan seperti membuat invoice, sistem informasi persediaan.
2. Memudahkan dalam penyimpanan data di database.
3. Aplikasi Berbasis Web juga dapat bekerja memonitoring sistem dalam hal
tampilan, dapat didesain dan disesuaikan untuk berbagai jenis industri.

d) Kelebihan dan Kelemahan Aplikasi Berbasis Web


Kelebihan kompetitif dari Aplikasi Berbasis Web:
1. Aplikasi tersebut ringan dan dapat diakses selama ada koneksi
internet atau intranet ke server.
2. Dapat diakses dengan menggunakan browser tanpa harus menginstall
aplikasi tersebut.
15

Kekurangan menggunakan Aplikasi Berbasis Web:


1.

Antarmuka yang dapat dibuat terbatas sesuai spesifikasi standar untuk


membuat dokumen Web dan keterbatasan kemampuan Web browser

2.

untuk menampilkannya
Terbatasnya kecepatan internet mungkin membuat respon aplikasi

menjadi lambat.
3. Tingkat keamanan yang lebih rentan untuk diakses oleh orang lain atau
pihak yang tidak berhak.
Oleh karena itu dapat disimpulkan, user dapat mengakses data atau informasi
perusahaan mereka melalui laptop, smartphone, atau bahkan komputer PC dengan
mudah tanpa harus menginstal terlebih dahulu aplikasi tersebut.

16