Anda di halaman 1dari 23

Masalah relevansi pendidikan

Diposkan oleh 0900845.blogspot.com , Kamis, 05 April 2012


at 06.36, in
Masalah relevansi pendidikan
Masalah ini berkenaan dengan rasio antara tamatan yang dihasilkan satuan pendidikan
dengan yang diharapkan satuan pendidikan di atasnya atau indtitusi yang membutuhkan tenaga
kerja, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Masalah relevansi terlihat dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang
tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di
atasnya. Masalah relevansi juga dapat diketahui dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan
tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk
bekerja
Pentingnya pendidikan sebagai kegiatan yang menentukan kualitas hidup seseorang atau bangsa
sudah menjadi kebutuhan mutlak
Pentingnya pendidikan sebagai kegiatan yang menentukan kualitas hidup seseorang atau bangsa
sudah menjadi kebutuhan mutlak. Karena itu pendidikan harus dilakukan secara sadar melalui
sebuah kesengajaan yang terencana dan terorganisir dengan baik. Semua demi tercapainya tujuan
yang telah ditetapkan. Begitu juga dengan sasaran lain meliputi obyek peserta, sarana dan
prasarana penunjang pendidikan yang lain.
Kecerdasan intelektual tak akan berarti, tanpa adanya kecerdasan emosional yang dimiliki oleh
seseorang. Kecerdasan emosional atau lazim disebut EQ, diantaranya, Memiliki kemampuan
mengendalikan diri, sabar, ulet, tabah dan tahan uji dalam menghadapi berbagai tantangan,
toleransi dalam menghadapi berbagai perbedaan dan konsisten dalam kebaikan.
Pendidikan yang berhasil membuat pribadi yang utuh, bukan hanya mengutamakan kecerdasan
intelektual dan emosional saja, fondasi spiritual juga faktor kunci untuk keberhasilan.
Kecerdasan spiritual, antara lain, hatinya selalu terkait dengan Yang Maha Pencipta (Allah
SWT). Hati dan pikirannya selalu merasa dekat dan merasa diawasi oleh Allah SWT. Memiliki
kesadaran akan adanya akhir kehidupan dan kembali kepada-Nya. Ada perasaan gundah dan
gelisah

ketika

melakukan

satu

maksiat

dan

secepatnya

bertaubat

kepada

Allah.

Keutuhan pendidikan juga terlihat dari kecerdasan sosial yang dimiliki seseorang. Kecerdasan ini
menunjukkan pada kita seberapa besar, nilai-nilai sosial diajarkan dalam sebuah pendidikan. Dan
bagaimana prakteknya di lapangan saat seseorang terjun langsung dalam masyarakat. Untuk
melihat kecerdasan ini dimiliki seseorang biasanya ditandai dengan keikhlasannya untuk
berusaha memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat. Mampu berempati pada
kesulitan orang lain. Rela berkorban untuk kepentingan bersama, tidak mementingkan golongan,
tapi kepentingan bersama yang lebih besar. Jika orang itu menjadi leader atau pemimpin, maka
karyawan yang dipimpinnya merasa terayomi dan nyaman.
Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, pendidikan diarahkan untuk melahirkan manusia-manusia yang cerdas,
bertanggung jawab, bermoral, berkepribadian luhur, bertaqwa, dan memiliki keterampilan.
Dengan anggaran 20 % dari APBN. Maka tujuan ini bukanlah hal yang mustahil. Sudah banyak
bukti yang mendukung adanya peningkatan pendidikan ini. Prestasi anak-anak bangsa juga
banyak mengharumkan bangsa di berbagai kancah internasional.
Namun kita tidak boleh lengah, masih banyak pendidikan yang belum mencapai tujuannya. Ini
diindikasikan dengan banyaknya kerusakan moral di kalangan pelajar, seperti beredarnya videovideo porno yang bisa diakses melalui ponsel. Ini akibat dari bebasnya pengawasan dan akses
informasi yang masuk kepada masyarakat, tanpa ada kontrol dari pihak yang terkait.
Korupsi dan kolusi serta nepotisme masih banyak kita temui dalam birokrasi pendidikan,
sehingga menimbulkan konflik dikalangan internal dan berpotensi untuk menimbulkan konflik
perpecahan. Pendidikan juga masih banyak yang kita lihat belum berpihak pada rakyat umum. Di
kalangan masyarakat mahalnya pendidikan membuat mereka lebih memilih untuk memenuhi
kebutuhan dasar, seperti makan, sandang dan papan. Belum tercapainya tujuan pendidikan
diakibatkan

oleh:

a. Belum terintegrasinya pendidikan moral (agama) dengan pendidikan lainnya. Ada sebagian
anggapan bahwa pendidikan agama hanya dilakukan di pesantren, padahal di sekolah umum
pendidikan agama juga diajarkan hanya saja porsinya masih sedikit, sehingga belum maksimal.
b.
c.

Pendidikan

etika

hanya
Minimnya

d. Sikap hidup yang semakin materialis dan hedonis

terbatas

pada

pengetahuan
keteladanan

Untuk meminimalisasi hal ini, maka ada upaya yang bisa dilakukan, antara lain, perbaikan
kurikulum pendidikan secara menyeluruh, misalnya dengan melakukan pendidikan alternatif
tambahan diluar kurikulum. Perbaikan sistem pengajaran dan pendidikan, penguatan
keteladanan, penguatan nilai agama dalam kehidupan.

Masalah efisiensi pendidikan


Masalah efisiensi pendidikan berkenaan dengan proses pengubahan atau transformasi
masukan produk (raw input) menjadi produk (output). Salah satu cara menentukan mutu
transformasi pendidikan adalah mengitung besar kecilnya penghamburan pendidikian
(educational wastage), dalam arti mengitung jumlah murid/mahasiswa/peserta didik yang putus
sekolah, meng-ulang atau selesai tidak tepat waktu.
Jika peserta didik sebenarnya memiliki potensi yang memadai tetapi mereka tidak naik
kelas, putus sekolah, tidak lulus berarti ada masalah dalam efisiensi pendidikan. Masalah
efisiensi pendidikan juga terjadi di perguruan tinggi. Masalah tersebut dapat diketahui dari
adanya para mahasiswa yang sebenarnya potensial tetapi putus kuliah dan gagal menyelesaikan
pendidikannya pada waktu yang tepat.
c. Masalah efektivitas pendidikan
Masalah efektivitas pendidikan berkenaan dengan rasio antara tujuan pendidian dengan
dengan hasil pendidikan (output), artinya sejauh mana tingkat kesesuaian antara apa yang
diharapkan dengan apa yang dihasilkan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Pendidikan
merupakan proses yang bersifat teleologis, yaitu diarahkan pada tujuan tertentu, yaitu berupa
kualifikasi ideal. Jika peserta didik telah menyelesaikan pendidikannya namun belum
menunjukkan kemampuan dan karakteristik sesuai dengan kualifiksi yang diharapkan berarti
adalah masalah efektivitas pendidikan.
Peningkatan mutu
Pasca reformasi, pendidikan di Indonesia mengalami perubahan arah yang lebih menonjolkan
perspektif ekonomi. Pendidikan dalam perspektif ekonomi dianggap memiliki peran yang sangat
penting dan strategis untuk meningkatkan daya saing nasional dan membangun kemandirian
bangsa yang menjadi prasyarat mutlak dalam memasuki persaingan antar bangsa di era global.

Melalui ketersediaan manusia yang menguasai iptek akan menentukan kemampuan bangsa
dalam memasuki kompetensi global dan ekonomi pasar bebas yang menuntut daya saing tinggi.
Kemandirian bangsa yang dimaksudkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
adalah konsep yang dinamis karena mengenali bahwa kondisi yang saling ketergantungan, baik
konstelasinya, perimbangannya, maupun nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhinya. Saat
ini konstelasi didunia didominasi oleh negaranegara maju (AS dan Uni Eropa), sehingga kondisi
perimbangan dan nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhi konstelasi(hubungan -hubungan)
tersebut secara otomatis akan didominasi oleh negara-negara maju. Bila demikian, kemandirian
Bangsa Indonesia akan bermakna senantiasa memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap
negara-negara maju dan tidak akan pernah mampu bersaing apalagi sejajar dengan mereka.
Pendidikan dalam konteks kemanfaatan, mutu pendidikan harus dikaitkan dengan isu relevansi
pendidikan. Sehingga system pendidikan dianggap relevan jika memiliki keseimbangan dengan
system ekonomi dan ketenagakerjaan. Artinya bahwa lulusan pendidikan memiliki kesesuaian
dengan kebutuhan ekonomi akan pekerja sebagai pelaku pembangunan diberbagai sector.
Realitas keunggulan dan daya saing pendidikan Indonesia yang dikaitkan dengan produktivitas
tenaga kerja lulusan, berada dalam posisi 12 dari 12 negara di Asia (Poltical and Economic Risk
Consultancy/ PERC,2001) . Pemeringkatan Internasional tersebut telah menilai system
pendidikan di Indonesia yang kurang relevan dengan kebutuhan pembanguna. Isu PERC
mengkaitkan kualitas pendidikan dengan mutu tenaga kerja sebagai salah satu factor ekonomi
telah menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan kualitas dan produktivitas
pekerja.
Untuk selanjutnya pemerintah melakukan perluasan dan pemerataan pendidikan yang bermutu
dan relevan dengan kebutuhan masyarakat ditempatkan pada prioritas tertinggi dalam
pembangunan pendidikan. Mutu dan relevansi pendidikan tercermin dari kemampuan
membentuk kecakapan(competenc ies) lulusan agar dapat menjadi pekerja produktif dengan
upah yang lebih tinggi. Kesempatan pendidikan keahlian,ketrampila n dan profesi harus besar
dan merata dikaitkan dengan sentra-sentra pengembangan ekonomi industri,pendayagun aan
iptek, dan peningkatan kecakapan hidup yang sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hayat.
Pendidikan dengan perspektif ekonomi secara nyata beralih fungsi menjadi mesin pencetak
tenaga kerja baik pada skala local,nasional, dan Internasional. Pendidikan perspektif ekonomi

akan melahirkan SDM-SDM yang berorientasi individualis (untuk eksistensi diri dalam
kehidupan),material is(kepuasan menikmati materi) dan liberalis (menganut kebebasan dalam
berperilaku, berpendapat, kepemilikan dan berkeyakinan) . Pada akhirnya akan membentuk
generasi yang tidak memberi kontribusi positif bagi pembangunan skala bangsa yang
menghantarkan kemandirian bangsa di dunia Internsional. Dengan kata lain pendidikan
perspektif ekonomi akan membentuk generasi-generasi yang senantiasa mempertahankan
ketergantungan bangsa ini terhadap negara-negara maju selama kepentingan individu dan
komunitasnya tidak terganggu. Bagaimana mungkin bangsa ini akan mampu bersaing secara
berimbang apalagi menduduki posisi yang unggul dengan negara-negara maju.
Pemerataan pendidikan
SAAT ini paradigma pendidikan di Indonesia harus dicermati, khususnya mengenai kesempatan
belajar, kesetaraan pendidikan, layanan komprehensif, memaksimalkan fungsi sekolah, serta
orientasi layanan sesuai kebutuhan. Hal ini dilakukan agar pemerataan pendidikan bisa
menyeluruh.
1 Menteri Pendidikan Nasiohal Muhammad Nuh menyatakan, salah satu paradigma yang harus
digeser adalah wajib belajar sembilan tahun agar menjadi hak belajar sembilan tahun.
"Masyarakat punya hak untuk menuntaskan sembilan tahun pendidikan. Kalau itu menjadi hak.
maka negara, harus menyiapkan seluruh sarana dan prasarana. Semua bisa menuntaskan
pendidikan sembilan tahun." katanya saat membuka Rembuk Nasional Pendidikan 2010 di
Pusdiklat Pegawai Ke-mcntenan Pendidikan Nasional, Depok, Rabu (3/3).
Dalam rapat kerja tahunan yang bertema "Meningkatkan Jaminan Layanan Pendidikan
Berkualitas yang Terjangkau oleh Semua", Nuh juga menyatakan Depdiknas saat ini
menggalakan program kesetaraan dalam pendidikan.
Hal itu dikarenakan saat ini banyak masyarakat yang memerlukan layanan yang khusus di bidang
pendidikan. Kelompok khusus tersebut dapat dibentuk karena faktor kewilayahan seperti tinggal
di daerah perbatasan dan terpencil atau karena faktor kecacatan fisik. "Untuk masyarakat
berstatus khusus, maka layanannya pun harus dilayani khusus. Jangan statusnya khusus, tarir
layanannykumurh. Kita tekankan betul siapapun yang akan membangun sekolah, fasilitas
kampus dan seterusnya. Tolong tambahi akses untuk saudara kita yang membutuhkan layanan
khusus," urai Nuh.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Kementerian


Pendidikan Nasional (Dirjen PMPTK Kemendik-nas) Baedhowi menyatakan, peran kepala dan
pengawas sekolah tuga sangat penting guna meningkatkan kualitas dan pelayanan pendidikan
saat ini. Apabila kompetensi kepala sekolah baik, maka ada hubungan yang signifikan terhadap
peningkatan mutu pendidikan di sekolah. "Apabila kepala sekolahnya baik dan memiliki
kompetensi bagus, maka kepala sekolah itu diyakini bisa melakukan pengelolaan sekolah dengan
baik pula," tuturnya.
http://bataviase.co.id/node/123924
http://klubhausbuku.wordpress.com/2008/08/16/dibalik-kebijakan-peningkatan-mutupendidikan-di-indonesia/
http://www.lintasberita.com/go/731931
http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/14/masalah-efisiensi-efektivitas-danrelevansi-pendidikan-dalam-perspektif-manajemen-pendidikan/
http://0900845.blogspot.co.id/2012/04/masalah-relevansi-pendidikan.html 05/11/15
22:00

Rendahnya Relevansi Pendidikan

Riskamayanti
105380191210
Jurusan Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
2012

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Puji syukur Saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT, atas berkat Rahmat dan HidayahNya, sehingga Saya dapat menyelesaikan tugas makalah Belajar Pembelajaran Sosiologi ini yang
membahas

mengenai

Rendahnya

Relevansi

Pendidikan

Di

Indonesia.

Sebelumnya, Saya juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami
menyelesaikan makalah ini, tak terkecuali kepada guru pembimbing, teman- teman, dan juga
semua

orang

yang

terlibat

dalam

proses

pembuatan

makalah

ini.

Harapan Saya, semoga makalah dari kami ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam
memperdalam wawasan mengenai Belajar Pembelajaran Sosiologi khususnya Evaluasi Belajar
dan Pembelajaran. Saya juga meminta maaf apabila ada kesalahan,dan kekuranga dalam isi
makalah Saya ini, karena seperti pepatah Tak Ada Gading, yang Tak Retak maka tak ada
seorangpun yang luput dari kesalahan. Maka dari itu, Saya sangat mengharapkan saran ataupun
kritik

yang

berguna

untuk

membangun

dan

memperbanyak

pengetahuan

Saya.

Sekian dan Terima Kasih,


Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pengarang

Riskamayanti

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar

Belakang

Bulan Mei selalu identik dengan Pendidikan. Hal ini dikarenakan setiap tanggal 2 Mei, kita
memperingati Hari Pendidikan Indonesia. Meski diperingati setiap tahunnya, tidak semua pihak
menyadari kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Terkait dengan kondisi pendidikan di
Indonesia, Abdul Malik Fadjar (Mendiknas tahun 2001) mengakui kebenaran penilaian bahwa
sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terburuk di kawasan Asia. Hasil survei Political and

Economic Risk Consultancy (PERC) menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia


terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei oleh lembaga yang berkantor pusat
di Hongkong itu, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura,
Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Sedangkan Indonesia menduduki urutan ke-12,
setingkat di bawah Vietnam.
Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan juga disebabkan oleh rendahnya kualitas
tenaga pengajar. Penilaian dapat dilihat dari kualifikasi belajar yang dapat dicapai oleh guru dan
dosen tersebut. Dibanding negara berkembang lainnya, maka kualitas tenaga pengajar
pendidikan tinggi di Indonesia memiliki masalah yang sangat mendasar. Melihat permasalahan
tersebut, maka dibutuhkanlah kerja sama antara lembaga pendidikan dengan berbagai organisasi
masyarakat. Pelaksanaan kerja sama ini dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dapat dilihat jika
suatu lembaga tinggi melakukan kerja sama dengan lembaga penelitian atau industri, maka
kualitas dan mutu dari peserta didik dapat ditingkatkan, khususnya dalam bidang akademik
seperti tekonologi industri.
Masalah relevansi lebih terlihat saat banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu
yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan
di atasnya. Selain itu juga dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah
kejuruan ( SMK) dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja.
Masalah relevansi terlihat dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang tidak siap
secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya.
Masalah relevansi juga dapat diketahui dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu,
yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja.

Umumnya luaran yang diproduksi oleh sistem pendidikan (lembaga-lembaga yang


menyiapkan tenaga kerja) jumlahnya secara kumulatif lebih besar daripada yang dibutuhkan di
lapangan. Sebaliknya ada jenis-jenis tenaga kerja yang dibutuhkan di lapangan kurang
diproduksi atau bahkan tidak diproduksi.
Beberapa hal di atas mnyebabkan saya, tertarik untuk mekaji masalah Kondisi
Pendidikan Di Indonesia, khususnya Masalah Rendahnya Relevansi Pendidikan Di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Dalam pemaparan makalah ini, Saya menarik beberapa Rumusan Masalah untuk dikaji
diantaranya:
1.
2.
3.
4.

Apa yang di maksud dengan relevansi pendidikan ?


Bagaimana tingkat relevansi pendidikan yang ada di Indonesia ?
Jalaskan dampak dari tidak relevannya pendidikan yang ada di Indonesia ?
Bagaimana upaya untuk meningkatkan relevansi pendidikan ?
C. Tujuan
Adapun tujuan saya dalam membahas Masalah Rendahnya Relevansi Pendidikan Di
Indonesia, yaitu:

1.
2.
3.
4.
5.

Untuk menjelaskan apa sebenarnya itu relevansi pendidikan.


Untuk memperlihatkan rendahnya tingkat relevansi peendidikan di Indonesia.
Untuk memberikan penjelasan akan dampak yang ditimbulkan oleh relevansi pendidikan.
Untuk menunjukkan cara meningkatkan relevansi pendidikan.
Untuk sebagai tugas mid.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Relevansi Pendidikan

Relevansi berkenaan dengan rasio antara tamatan yang dihasilkan satuan pendidikan
dengan yang diharapkan satuan pendidikan di atasnya atau indtitusi yang membutuhkan tenaga
kerja, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Masalah relevansi terlihat dari banyaknya
lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal
untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya. Masalah relevansi juga dapat diketahui dari
banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi
yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja. Yaitu masalah yang berhubungan dengan
relevansi (kesesuaian) pemilikan pengetahuan, keterampilan dan sikap lulusan suatu sekolah
dengan kebutuhan masyarakat (kebutuhan tenaga kerja). Contoh: adanya kasus perusahaanperusahaan yang masih harus mengeluarkan dana untuk pendidikan atau pelatihan bagi calon
karyawannya, karena mereka dinilai belum memiliki ketrampilan kerja seperti yang diharapkan.
Relevan berarti bersangkut paut, kait mangait, dan berguna secara langsung.
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan.
Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntunan zaman. Perkembangan
zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru yang sebagainya sering tidak diramalkan
sebelumnya.
Relevansi pendidikan adalah sejauh mana system pendidikan dapat menghasilkan iuran
yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan
dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua
sector pembangunan yang beraneka ragam seperti sector produksi maka relevansi pendidikan
dianggap tinggi. Relevansi pendidikan dapat dilihat dengan mengikuti alur input-proses-output.
Masukan (input) dalam komposisi tertentu yang diproses dengan metode tertentu akan

membuahkan dua macam hasil, yaitu hasil jangka pendek (output) dan hasil jangka panjang
(outcome).

Input pendidikan terdiri atas kurikulum, siswa/peserta didik, guru/tenaga pendidik, saranaprasarana, dana, dan masukan lain.

Proses pendidikan meliputi seluruh proses pembelajaran yang terjadi sebagai bentuk interaksi
dari berbagai input pendidikan.

Hasil pendidikan (output) mencakup antara lain kemampuan peserta didik, yang dapat diukur
melalui prestasi belajar siswa.
Outcome pendidikan antara lain peningkatan mutu lulusan, yang dapat dilihat antara lain melalui
jumlah lulusan yang melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya dan jumlah lulusan yang
dapat bekerja. Dengan demikian, mutu input dan mutu proses merupakan faktor penentu mutu
hasil, baik yang berupa hasil jangka pendek maupun hasil jangka panjang.
Beberapa faktor yang berkenaan dengan input pendidikan dapat dikelompokkan kedalam
faktor rumah atau keluarga, faktor sekolah, dan faktor siswa. Diantara ketiganya, sekolah
merupakan komponen input yang paling erat hubungannya dengan kebijakan pendidikan.
Kriteria Relevansi
Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan dapat
menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah
seperti yang di gambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi ssemua sektor pembangunan yang
beranekaragam seperti sektor produksi, sektor jasa, dan lain-lain. Baik dari segi jumlah maupun
dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengisi semua sektor

pembangunan baik yang saktual (yang tersedia) maupun yang potensial dengan memenuhi
kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi.
Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang dinyatakan tersebut cukup ideal jika dikaitkan
dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang kerjaan yang ada antara
lain sebagai berikut:
Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang.
Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang dapat dugunakan sebagai pedoman oleh
lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.
B. Masalah Relevansi Pendidikan
Masalah ini berkenaan dengan rasio antara tamatan yang dihasilkan satuan pendidikan
dengan yang diharapkan satuan pendidikan di atasnya atau indtitusi yang membutuhkan tenaga
kerja, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Masalah relevansi terlihat dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang
tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di
atasnya. Masalah relevansi juga dapat diketahui dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan
tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk
bekerja
Pentingnya pendidikan sebagai kegiatan yang menentukan kualitas hidup seseorang atau
bangsa sudah menjadi kebutuhan mutlak
Pentingnya pendidikan sebagai kegiatan yang menentukan kualitas hidup seseorang atau
bangsa sudah menjadi kebutuhan mutlak. Karena itu pendidikan harus dilakukan secara sadar
melalui sebuah kesengajaan yang terencana dan terorganisir dengan baik. Semua demi

tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Begitu juga dengan sasaran lain meliputi obyek peserta,
sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang lain.
Kecerdasan intelektual tak akan berarti, tanpa adanya kecerdasan emosional yang
dimiliki oleh seseorang. Kecerdasan emosional atau lazim disebut EQ, diantaranya, Memiliki
kemampuan mengendalikan diri, sabar, ulet, tabah dan tahan uji dalam menghadapi berbagai
tantangan, toleransi dalam menghadapi berbagai perbedaan dan konsisten dalam kebaikan.
Pendidikan yang berhasil membuat pribadi yang utuh, bukan hanya mengutamakan kecerdasan
intelektual dan emosional saja, fondasi spiritual juga faktor kunci untuk keberhasilan.
Kecerdasan spiritual, antara lain, hatinya selalu terkait dengan Yang Maha Pencipta (Allah
SWT). Hati dan pikirannya selalu merasa dekat dan merasa diawasi oleh Allah SWT. Memiliki
kesadaran akan adanya akhir kehidupan dan kembali kepada-Nya. Ada perasaan gundah dan
gelisah

ketika

melakukan

satu

maksiat

dan

secepatnya

bertaubat

kepada

Allah.

Keutuhan pendidikan juga terlihat dari kecerdasan sosial yang dimiliki seseorang.
Kecerdasan ini menunjukkan pada kita seberapa besar, nilai-nilai sosial diajarkan dalam sebuah
pendidikan. Dan bagaimana prakteknya di lapangan saat seseorang terjun langsung dalam
masyarakat. Untuk melihat kecerdasan ini dimiliki seseorang biasanya ditandai dengan
keikhlasannya untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat. Mampu
berempati pada kesulitan orang lain. Rela berkorban untuk kepentingan bersama, tidak
mementingkan golongan, tapi kepentingan bersama yang lebih besar. Jika orang itu menjadi
leader atau pemimpin, maka karyawan yang dipimpinnya merasa terayomi dan nyaman.
Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, pendidikan diarahkan untuk melahirkan manusia-manusia yang cerdas,
bertanggung jawab, bermoral, berkepribadian luhur, bertaqwa, dan memiliki keterampilan.

Dengan anggaran 20 % dari APBN. Maka tujuan ini bukanlah hal yang mustahil. Sudah banyak
bukti yang mendukung adanya peningkatan pendidikan ini. Prestasi anak-anak bangsa juga
banyak mengharumkan bangsa di berbagai kancah internasional.
Namun kita tidak boleh lengah, masih banyak pendidikan yang belum mencapai
tujuannya. Ini diindikasikan dengan banyaknya kerusakan moral di kalangan pelajar, seperti
beredarnya video-video porno yang bisa diakses melalui ponsel. Ini akibat dari bebasnya
pengawasan dan akses informasi yang masuk kepada masyarakat, tanpa ada kontrol dari pihak
yang terkait. Korupsi dan kolusi serta nepotisme masih banyak kita temui dalam birokrasi
pendidikan, sehingga menimbulkan konflik dikalangan internal dan berpotensi untuk
menimbulkan konflik perpecahan. Pendidikan juga masih banyak yang kita lihat belum berpihak
pada rakyat umum. Di kalangan masyarakat mahalnya pendidikan membuat mereka lebih
memilih untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan, sandang dan papan. Belum
tercapainya tujuan pendidikan diakibatkan oleh:
1. Belum terintegrasinya pendidikan moral (agama) dengan pendidikan lainnya. Ada sebagian
anggapan bahwa pendidikan agama hanya dilakukan di pesantren, padahal di sekolah umum
pendidikan agama juga diajarkan hanya saja porsinya masih sedikit, sehingga belum maksimal.
2. Pendidikan etika hanya terbatas pada pengetahuan.
3. Minimnya keteladanan.
4. Sikap hidup yang semakin materialis dan hedonis
Untuk meminimalisasi hal ini, maka ada upaya yang bisa dilakukan, antara lain,
perbaikan kurikulum pendidikan secara menyeluruh, misalnya dengan melakukan pendidikan
alternatif tambahan diluar kurikulum. Perbaikan sistem pengajaran dan pendidikan, penguatan
keteladanan, penguatan nilai agama dalam kehidupan.
C. Faktor Penyebab Tidak Relevannya Pendidikan

Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan
Kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika
peserta didik memasuki dunia kerja. Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya:
1. Proses pembelajaran yang belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas
proses pelaksanaan pendidikan baik serta nyaman untuk pelajar.
2. Sarana dan prasarana dalam pendidikan.
3. Anggaran - anggaran yang digunakan untuk menjalankan pendidikan tersebut.
4. Belum didukungnya Hasil-hasil pendidikan oleh sistem pengujian dan penilaian yang
melembaga dan independen sehingga mutu pendidikan tidak dapat dimonitor secara ojektif dan
teratur.
5. Kurikulum sekolah yang terstruktur dan sarat dengan beban menjadikan proses belajar menjadi
kaku dan tidak menarik.
6. Sistem yang berlaku pada saat sekarang ini juga tidak mampu membawa guru dan dosen untuk
7.
8.
9.
10.
11.

melakukan pembelajaran serta pengelolaan belajar menjadi lebih inovatif.


Tenaga pengajar yang kurang handal, bila dibandingkan dengan tenaga pengajar negara lain.
Tenaga Kependidikan sebagai figur utama proses pendidikan.
Tenaga kependidikan sebagai manajer pendidikan.
Masalah pendidikan dan kualitas manajemen pendidikan.
Manajemen kinerja guru.
D. Tingkat Relevansi Pendidikan Di Indonesia
Rendahnya Relevansi Pendidikan Di Indonesia dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang
menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukkan angka
pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 24,75 %, Diploma/S1 27.5%,
dan PT sebesar 36.6 %, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja
cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%.
Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan
tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri.
Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan

kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika
peserta didik memasuki dunia kerja.
Masalah pendidikan di Indonesia merupakan masalah yang serius. Bukti untuk hal itu
dapat disimak dari peringkat Human Development Index (HDI) yang dipantau oleh UNDP yang
menunjukkan kualitas pendidikan di Indonesia dari tahun 1996 bearada pada eringkat 102 dari
174 negara, tahun 1999 peringkat 105 dari 174 negara, dan tahun 2000 peringkat 109 dari 174
negara dan dalam prestasi belajar yang dipantau oleh IAEA (International Association for the
Evaluation of Educational Achievement) di bidang kemampuan membaca siswa SD, Indonesia
berada pada urutan ke-26 dari 27 negara; kemampuan matematika siswa SLTP berada di urutan
34 dari 38 negara; kemampuan bidang IPA siswa SLTP berada pada urutan ke 32 dari 38 negara
(T. Raka Joni, 2005).
E. Dampak dari Tidak Relevannya Pendidikan Di Indonesia
Relevansi Pendidikan yaitu masalah yang berhubungan dengan relevansi (kesesuaian)
pemilikan pengetahuan, keterampilan dan sikap lulusan suatu sekolah dengan kebutuhan
masyarakat (kebutuhan tenaga kerja). Jika hal ini tidak terjadi maka hal inilah yang
menimbulkan dampak yang di sebut dampak tidak relevannya pendidikan, yaitu:
1. Bagi perusahaan-perusahaan yang masih harus mengeluarkan dana untuk pendidikan atau
pelatihan bagi calon karyawannya, karena mereka dinilai belum memiliki keterampilan kerja
seperti yang diharapkan.
2. Banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang tidak siap secara kemampuan kognitif
dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya.
3. Banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi
yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja.
4. Jumlah angka pengangguran yang semakin meningkat di Indonesia.
D. Upaya Meningkatkan/Memperkuat Relevansi Pendidikan

Pembangunan pendidikan telah membuahkan hasil yang relatif baik yang terlihat dari
meningkatnya rata-rata lama sekolah dan angka melek aksara penduduk usia lima belas tahun ke
atas, serta meningkatnya akses dan pemerataan pelayanan pendidikan, yang ditandai oleh
meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) pada semua jenjang pendidikan dan angka
partisipasi sekolah (APS) pada semua kelompok umur anak-anak usia sekolah. Dalam rangka
memperkuat akses pendidikan, beberapa tahun terakhir ini telah dilakukan berbagai upaya untuk
terus meningkatkan partisipasi pendidikan sekaligus menurunkan kesenjangan taraf pendidikan
antarkelompok masyarakat melalui, antara lain, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan
dengan memberikan perhatian lebih besar pada daerah tertinggal.

Terkait dengan perencanaan pendidikan, ada satu hal yang perlu ditekankan, peran Bappenas
ada pada tingkat makro di program sampai ke kegiatan. Jadi Bappenas mendesain berapa pagu
tiap program dan berapa pula detailnya pada kegiatan, jelas Kepala Sub Direktorat Pendidikan
Tinggi, Kementerian PPN/Bappenas, Tatang Muttaqien saat menerima kunjungan kerja DPRD
Kabupaten Kutai Kertanegara, di Ruang Serba Guna, Gedung Bappenas, Kamis (13/10).
Lebih lanjut Pak Tatang mengatakan, program-program tersebut adanya di level eselon 1
(dirjen) dan kegiatan adanya di level eselon dua. Berbeda dengan di masa lalu, Bappenas saat ini
fokus pada kerangka, dan kerangka tersebut ditujukan untuk memperkuat capaian sasaransasaran pendidikan yang sudah disepakati dalam trilateral meeting rencana kerja pemerintah
(RKP)

antara

kementerian

PPN/Bappenas

dengan

Kementerian

Keuangan.

Sasaran-sasaran ini dicapai melalui program-program dan melalui ditjen- ditjen yang ada. Terkait
dengan pemerintah daerah, Ditjen yang sangat berkaitan erat adalah Ditjen Pendidikan Dasar,
Ditjen Pendidikan Menengah dan Ditjen Pendidikan Formal dan Informal.

Pendidikan formal dan informal termasuk di dalamnya Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD). Kalau kita lihat sasaran yang ingin di capai dalam pendidikan intinya adalah
bagaimana memperkuat akses, kemudian kualitas dan relevansi pendidikan. Tentu saja akses
tersebut nanti akan tekait dengan penyediaan sarana dan prasarana, ujar Pak Tatang.
Menciptakan lapangan kerja baik untuk para pengangguran maupun lulusan-lulusan baru
yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Membuka pelatihan-pelatihan baik pelatihan

keterampilan maupun kursus bagi pengangguran agar mereka dapat melakukan kegiatan. Bagi
pemerintah sebaiknya menentukan kembali kurikulum berdasarkan kebutuhan manusia ketika
akan memasuli dunia kerja. Memperluas dunia kerja dari berbagai aspek kehidupan yang
menjadi kebutuhan manusia. Dapat di rinci penanggulangan relevansi pendidikan ini antara lain:
1. Dapat menyediakan kesempatan pemerataan belajar artinya semua warga negara yang butuh
pendidikan dapat ditampung dalam suatu satuan pendidikan.
2. Dapat mencapai hasil yang bermutu artinya: perencanaan, pemrosesan pendidikan dapat
mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
3. Pendidikan efektif perlu ditingkatkan secara terprogram.
4. Pelaksanaan kegaitan kurikuler dan ekstrakurikuler dilakukan dengan penuh kesungguhan dan
diperhitungkan dalam penentuan nilai akhir ataupun kelulusa.
5. Melakukan penyusunan yang mantap terhadap potensi siswa melalui keragaman jenis program
studi
6. Memberi perhatian terhadap tenaga kependidikan (prajabatan dan jabatan).

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah pembuatan makalah ini saya menarik beberapa kesimpulan tentang makalah ini,
diantaranya:
Relavansi Pendidikan adalah masalah pendidikan mencangkup sejauh mana sistem
pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu
masalah-masalah seperti yang di gambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
Relevansi pendidikan dapat dilihat dengan mengikuti alur input-proses-output. Masukan (input)
dalam komposisi tertentu yang diproses dengan metode tertentu akan membuahkan dua macam
hasil, yaitu hasil jangka pendek (output) dan hasil jangka panjang (outcome).
Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan
Kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika
peserta didik memasuki dunia kerja. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun
1990 menunjukkan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar
24,75 %, Diploma/S1 27.5%, dan PT sebesar 36.6 %, sedangkan pada periode yang sama
pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu
13,4%, 14,21%, dan 15,07%.
Dampak yang di sebut dampak tidak relevannya pendidikan, yaitu:
1. Bagi perusahaan-perusahaan yang masih harus mengeluarkan dana untuk pendidikan atau
pelatihan bagi calon karyawannya, karena mereka dinilai belum memiliki keterampilan kerja
seperti yang diharapkan.
2. Banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang tidak siap secara kemampuan kognitif
dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya.

3. Banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi
yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja.
4. Jumlah angka pengangguran yang semakin meningkat di Indonesia.
Penanggulangan relevansi pendidikan ini antara lain:
1. Dapat menyediakan kesempatan pemerataan belajar artinya semua warga negara yang butuh
pendidikan dapat ditampung dalam suatu satuan pendidikan.
2. Dapat mencapai hasil yang bermutu artinya: perencanaan, pemrosesan pendidikan dapat
mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
3. Pendidikan efektif perlu ditingkatkan secara terprogram.
B. Saran
Setelah mengkaji makalah ini saya memberikan saran, yaitu:
1. Perbanyaklah membaca.
2. Tentukan terlebuh dahulu arah pendidikan yang akan dipilih.
3. Pemerintah hendaknya membuka lapangan pekerjaan yang sesuai dengan lulusan yang banyak
menganggur.
4. Perbanyaklah membuka sekolah-sekolah yang di butuhkan lulusannya.
5. Sebaiknya kurikulum tidak terlalu sering di rubah.
6. Tingkatkan peran serta guru dalam memantau peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA
Tirtarahardja, Umar. Dan Sulo La. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Fityan. 2012. Masalah Pendidikan Di Indonesia. Blogrol (Online). (http://blog.uinmalang.ac.id/fityanku/masalah-pendidikan-di-indonesia/, Diakses 07 Januari 2013).

Idza

azamta.

2010.

C.

Masalah

Relevansi

Pendidikan.

Blogspot

(http://eeeemboh.blogspot.com/2010/12/c-masalah-relevansi-pendidikan.html,

(Online).

Diakses

07

Januari 2013)
Kuntjojo. 2009. Masalah Efisiensi, Efektivitas, Dan Relevansi Pendidikan Dalam Perspektif
Manajemen

Pendidikan.

Blog

at

Wordpress

(Online).

(http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/14/masalah-efisiensi-efektivitas-dan-relevansipendidikan-dalam-perspektif-manajemen-pendidikan/, Diakses 07 januari 2013).

Web

Blog.

2012.

Masalah

Relevansi

Pendidikan.

Blogspot

(Online).

(http://0900845.blogspot.com/2012/04/masalah-relevansi-pendidikan.html, Diakses 07 Januari


2013).

nhaz

active.

2012.

Relevansi

Pendidikan.

Blogspot

(Online).

(http://nha-

active.blogspot.com/2012/01/relevansi-pendidikan.html, Diakses 07 Januari 2013.


Diposkan oleh Riskamayanti Ikha di 01.55
http://riskamayantiikha.blogspot.co.id/2013/12/rendahnya-relevansi-pendidikan.html
....................

Anda mungkin juga menyukai