Anda di halaman 1dari 11

FISIKA DASAR 2

Pertemuan 1

Muatan Dan Medan Listrik

Tujuan Instruksional

Mendefinisikan muatan listrik


Mendefinisikan hukum coulomb
mendefinisikan kuat medan listrik
Menggambarkan konsep hukum Gauss

Pendahuluan
Sudah sejak lama manusia menemukan tentang gejala kelistrikan. Kirakira 600 tahun sebelum Masehi, orang Yunani telah mengetahui bahwa
batu ambar jika digosok dengan wol akan menarik benda-benda yang
ringan. Sifat ini menjelaskan bahwa batu ambar itu terelektrifikasi atau
memperoleh muatan elektrik atau muatan listrik. Istilah elektrik ini
diambil dari perkataan Yunani yakni elektron, yang berarti batu ambar.
Pada materi ini akan dibahas mengenai muatan listrik dan hubungannya
dengan materi, interaksi antar muatan dan hukum-hukum yang berlaku
dalam interaksi tersebut.

A.

Muatan Listrik
1. Muatan listrik,konduktor,dan isolator

Ada 2 jenis muatan listrik yaitu:

Muatan Positif

Muatan Negatif

Dari interaksi antara dua muatan berbeda ini disimpulkan bahwa:


*). muatan sejenis akan tolak menolak
*). muatan tak sejenis atau berbeda akan tarik menarik.
Dilihat dari dapat tidaknya menghantarkan listrik, materi dapat dibedakan atas tiga jenis
yaitu:
1. konduktor
2. Semikonduktor dan
3. Isolator

Konduktor adalah materi yang daya hantar listriknya lebih besar. Hal ini disebabkan bahan
konduktor memiliki elektron-elektron bebas sebagai pengangkut muatan. Isolator dan
dielektrik adalah materi yang tidak dapat menghantarkan listrik. Semikonduktor adalah
materi yang dapat bersifat konduktor atau isolator pada kondisi tertentu.

Pada tahun 1784, Charles Augustin Coulomb mengadakan penelitian


kuantitatif hukum gaya antara benda-benda bermuatan. Dari
percobaannya dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
Gaya interaksi antara dua muatan besarnya bergantung pada besar dan
jarak muatan.
Hukum ini hanya berlaku pada muatan yang ukurannya jauh lebih kecil
dari jarak antara muatan-muatan tersebut.

Coulomb menemukan bahwa:


F 1/r
F q1
F q2

(r = jarak antar muatan)


(q1 = muatan pertama)
(q2 = muatan kedua)

Dengan demikian gaya interaksi antara kedua muatan tersebut adalah:

q 1q 2
r

atau

Fk

q 1q 2
r2

Dalam sistem SI ;
F = gaya dalam Newton (N)
q = muatan dalam Coulomb (C)
Nm 2
k = konstanta pembanding=1/4o =9,0 x 109 C 2
o = permitivitas ruang hampa (vakum)
2
= 8,854 x 10-12 C
Nm 2

Gaya Coulomb dapat dituliskan dalam bentuk vektor


sebagai berikut:
Pada gambar di samping ini q1 dan q2
sejenis,

F12

F12 searah


r12 r1 r2

r2

F21

berlawanan arah dengan

r12

r1

r12, dan

F21

F12

r12

r12

1 q1 q 2

r12 F21
40 r122

r12
r1 r2

r12
r1 r2

Rumusan ini tetap berlaku meskipun ada muatan lain selain q1 dan q2 di
sekitarnya. tetap menyatakan gaya yang dialami q1 oleh q2. Jadi gaya ini
dapat dikatakan memenuhi Prinsip Superposisi.

q2

q1

r2

r1

Penerapannya:
Gaya pada q oleh q1 adalah

Fqq1

q
4 0

q 1 r r1

3
r r1

Gaya pada q oleh q2 adalah

Fqq 2

Gambar I.2

q 2 r r2
q

3
4 0
r r2

Jika ada N partikel bermuatan di sikitar q maka gaya resultan yang


dialami q adalah jumlah vektor dari semua gaya interaksi yang
dialaminya dari setiap muatan yang berbeda disekitar itu.

B. Medan Listrik
1. Garis-Garis Gaya
Medan listrik adalah suatu medan vektor, artinya di setiap titik medan
tersebut dinyatakan oleh kuat medan listrik berupa vektoryang tertentu
besarnya maupun arahnya. Tidak mudah membayangkan medan yang
demikian itu, sangat besar artinya cara yang diperkenalkan oleh Michael
Faraday (1791 1847) untuk memudahkan visual medan listrik. Ia
menggunakan lengkungan-lengkungan yang disebutnya garis gaya atau
garis medan listrik.

EA

Garis gaya

EA

Sifat-sifat garis medan listrik secara kualitatif adalah sebagai berikut:


1. Setiap garis medan dalam medan elektrostatik merupakan garis (lengkungan)
yang kontinyu yang berpangkal pada suatu muatan positif dan berakhir pada
suatu muatan negatif, meskipun kadang tidak digambarkan ujung atau
pangkalnya karena letaknya sangat jauh.

2. Garis medan yang memancar dari suatu muatan positif atau berakhir pada
suatu muatan negatif digambarkan secara simetri
3. Di setiap titik pada garis medan listrik arah garis medannya sama dengan
arah kuat medan

4. Jumlah garis gaya yang keluar dari suatu titik berbanding lurus

dengan

besarnya muatan tersebut. Tetapan pembandingnya sembarang asal dapat


.

memberi gambaran yang jelas mengenai medan tersebut.


5. Jumlah garis medan listrik yang menembus tegak lururs suatu permukaan
persatuan luas berbanding lurus dengan besarnya kuat medan listrik pada
permukaan tersebut disetiap bagian (titik). Tetapan pembandingnya sembarang
karena jumlah garis medan yang keluar dari muatan juga sembarang asal
memberi gambaran kualitatif yang baik. Sifat ini bila diterapkan pada
permukaan bola yang berpusat di sebuah muatan titik menghasilkan.

1
r2

sesuai dengan hukum Coulomb.

2. Medan Listrik dan Dipol Listrik


Bila di dalam ruangan terdapat muatan listrik maka akan menciptakan suatu

keadaan sedemikian sehingga sebuah muatan (uji) q yang ditempatkan dalam ruang
tersebut mengalami gaya (elektrostatik). Biasanya muatan uji yang dipakai bernilai
positif.
Keadaan tersebut dikatakan bahwa muatan tersebut menciptakan suatu medan

listrik. Medan listrik ini dapat dinyatakan dengan suatu besaran vektor yang
besarnya dan arahnya bergantung pada posisinya, jadi lebih tepat . Besarnya gaya
yang dialami oleh muatan (uji) q adalah dan bergantung secara linier pada besarnya
q. Besar dan arah digunakan untuk mendefenisikan kuat medan listrik (intensitas
listrik) sebagai berikut:



F( r , q )
E( r )
q

3. Muatan Titik dan Dipol Dalam Medan Listrik

Telah ketahui sebelumnya pada bagian di atas, sebuah medan listrik akan
mengarahkan sebuah gaya pada sebuah partikel bermuatan sebesar : F = q.E
Gaya ini akan menghasilkan suatu percepatan pada muatan sebesar :

a = F/m

dengan m adalah massa dari partikel bermuatan tersebut. Biasanya medan yang ditimbulkan
oleh partikel itu sendiri diabaikan. Artinya hanya medan yang diperhitungkan hanya yang
ditimbulkan oleh muatan-muatan luar saja. Sebuah momen dipol listrik dapat dianggap
sebagai suatu vektor yang besarnya sama dengan p = 2aq, 2a adalah jarak di antara muatan
dipol dan q adalah muatan dipol. Arah adalah dari muatan positif ke muatan negatif.
2a
-F

-q

+q

F
q

C. Hukum Gauss dan Penggunaannya


Medan listrik berpangkal dari muatan positif dan berakhir di muatan
negatif. Apabila satu atau sejumlah muatan positif dikurung/dilingkupi
oleh suatu permukaan tertutup tentulah garis-garis medan
menembus keluar dari permukaan tertutup tersebut dan secara
kuantitatif hasilnya bilangan positif. Sebaliknya bila yang dikurung
adalah muatan negatif, tentulah garis-garis medan akan masuk
menuju permukaan tertutup tersebut.
Jumlah garis medan hasilnya merupakan bilangan negatif. Adapun

banyaknya sebanding dengan besarnya (harga mutlak) muatan


tersebut.

Bila tidak ada muatan yang dikurung tentulah setiap garis

medan yang masuk dan keluar pula dari permukaan tertutup


ini dan menghasilkan jumlah garis medan yang nol, yang
masuk (-) sama dengan yang keluar (+).
Jadi, jumlah garis medan yang keluar dari suatu permuakaan

tertutup sebanding dengan jumlah muatan listrik yang


dilingkupi oleh permukaan tersebut. Pernyataan inilah yang
dikenal sebagai Hukum Gauss.

1. Pedoman penggunaan Hukum Gauss

Jika Hukum Gauss digunakan dalam menentukan kuat medan listrik di sekitar muatan
yang terdistribusi maka harus diperhatikan:
1. Simetri apa yang dipunyai sistem tersebut, dari sini diperoleh gambaran kuantitatif
tentang medan tersebut.
2. Pilih suatu permukaan (khayal), yang akan digunakan sebagai permukaan Gauss dan
sesuai dengan bentuk simetri yang di atas, melalui titik yang akan ditentukan kuat
medannya.
3. Pemilihan permukaan Gauss yang tepat akan menghasilkan E yang sama besar dan
tegak lurus pada sebagian atau seluruh permukaan tertutup tersebut dan nol di
permukaan

2. Penggunaan Hukum Gauss


a.Distribusi muatan dalam konduktor
Logam
Permukaan Gauss

Dalam konduktor dapat dialirkan arus listrik sebab elektron pada konduktor tidak
terikat. Bila konduktor ini diberi muatan maka akan terjadi perubahan distribusi
elektron bebas. Setelah semua elektron menempati posisinya, medan listrik dalam
logam harus sama dengan nol sebab tidak ada elektron bebas yang akan bergerak
dalam logam. Bila muatan terus diberikan (telah melewati keadaan setimbang) maka
muatan ada pada permukaan logam.
b. Pelat tipis bermuatan

r
S

Suatu pelat tipis dengan luas A yang cukup luas dan diberi muatan (+Q) yang
tersebar secara homogen. Untuk menghitung kuat medan listrik pada jarak r
maka harus dibuatkan permukaan Gaussnya.

Pada gambar di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan:


Karena pelat luas dan muatan tersebar merata maka medan listrik harus serba
sama dan tegak lurus pelat.
Karena garis gaya sejajar dan sama kerapatannya maka kuat medan yang
dihasilkan di setiap tempat sama, baik besar maupun arahnya

c. Bola Bermuatan
R
Q
r

Sebuah bola isolator dengan jari-jari R. Bagaimana


kuat medan listrik di dalam bola? Bila muatan tersebar
merata dalam bola maka rapat muatan dalam bola:

Q
Q
3Q 3

R
4 3
A
4
R
3

Contoh Soal
1.

Dua keping mata uang masing-masing diberi muatan yang sama. Berapakah
muatan di setiap keping kalau diketahui gaya pada masing-masing keping
adalah 2,0 N? Jarak pisah 1,5 m.
Penyelesaian:
Karena diameter mata uang lebih kecil dibanding dengan jarak pisah 1,5
m maka muatan tersebut dapat dianggap muatan titik.
Dari hukum Coulomb diperoleh:
F k

q1 q 2 q 2

q 1q 2
r2

( 2,0 N )(1,5 m) 2
Fr 2

5 10 10 C 2
k
9 10 9 N m 2 / C 2

Maka,

q = 2,2 10 -5 C 22 C

Perhatikan gambar di samping. Tentukanlah Fq2 !

2.

Penyelesaian:
q1= -3 C

x
q2= 6 C

Fq 2

q3= -6 C

q2
q1r21 q3 r23
3
3
4 o
r23
r21

r1 3 j
; r3 6i


r21 r2 r1 0 3 j 3 j


r23 r2 r3 0 6i 6i

(3)( 3 j ) (6)( 6i )
10 9 (9i 18 j ) N
(6) x 9 x 10 9

27
216

;
;

r21 3 ; r21 j

r23 6 ; r23 i