Anda di halaman 1dari 83

CASE BRONKOPNEUMONIA

Pembimbing :
dr. Desrinawati, Sp. A
Disusun Oleh :
Krisma Kristiana

Identitas Pasien

Nama
Umur

: An. Andri Fahrizal


: 8 bulan

Jenis Kelamin : Laki-laki


Alamat
: Jl. Budi Mulia RT 08 / RW 12,
Pademangan Baratt, Jakarta Utara
Agama
: Islam
Pendidikan
: Belum sekolah
Tanggal Masuk : 01 Maret 2014
Tanggal Keluar : 07 Maret 2014

Anamnesa

Diambil dari : Alloanamnesa (orang tua pasien)


Keluhan utama :
sesak nafas
Keluhan tambahan :
demam, kejang, batuk, pilek

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengalami sesak nafas dan demam sejak 5 hari
sebelum masuk rumah sakit.
Pasien juga mengalami batuk, namun dahak susah
keluar, pilek sejak 6 hari yang lalu.
Beberapa jam sebelum masuk rumah sakit, pasien
mengalami kejang 1 x, lamanya kejang kira kira 2
menit.
Tidak ada muntah
Pasien sehari-hari minum susu formula dan makan
makanan bayi, namun akhir-akhir ini orang tua pasien
mengatakan nafsu makan dan minum nya berkurang.
Tidak ada diare, BAB dan BAK normal.

Riwayat Penyakit Dahulu

Kejang
Asma

: disangkal

Alergi makanan
Alergi obat
Penyakit paru

: disangkal

: disangkal
: disangkal
: disangkal

Riwayat Keluarga

Pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayah


pasien berumur 28 tahun, bekerja sebagai karyawan.
Ibu pasien berumur 28 tahun, bekerja sebagai ibu
rumah tangga. Ayah dan ibu pasien sehat.
Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita asma,
tidak ada yang menderita darah tinggi, tidak ada yang
menderita kencing manis, tidak ada yang menderita TB
ataupun riwayat TB.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

Kehamilan ketiga. Selama hamil, ibu pasien rajin


memeriksakan dirinya ke rumah sakit, sudah 2x di USG
saat usia kehamilan yang ke 5 dan 8 bulan, tidak pernah
sakit berat dan tidak mengkonsumsi obat-obatan
tertentu. Pasien lahir cukup bulan (36 minggu), secara
spontan, ditolong oleh bidan di dekat rumah. Waktu lahir
langsung menangis dan kulit berwarna kemerahan.
Berat badan lahir : 3000 gr
Panjang badan lahir : 48 cm

Riwayat Imunisasi

BCG
DPT

: 1x umur 1 bulan
: 3x umur 2 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan

Hepatitis B : 3x umur 0 bulan, 1 bulan, dan 6 bulan


Polio
: 4x umur 0 , 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan
Campak
:-

Riwayat Tumbuh Kembang

Riwayat Pertumbuhan:
Menurut ibu pasien pertumbuhan anaknya cukup baik,
berat badan dan tinggi badan bertambah seiring
pertambahan usia.
Riwayat Perkembangan Pasien
Tumbuh gigi pertama

: tidak ingat

Tengkurap

: usia 4 bulan

Duduk

: usia 6 bulan

Merangkak

: belum bisa

Berdiri sendiri

: belum bisa

Riwayat Makanan

ASI
Susu Formula
Bubur susu

: tidak diberikan ASI


: 4 x 120 cc / hari.
: 1 sampai 2 takaran sajian / hari

Buah buahan : Nasi tim / kuah


:-

Pemeriksaan Fisik

Status Praesen
Keadaan Umum

: Tampak sakit

Kesadaran
Dispneu

: Compos Mentis

Pucat
Sianosis

:-

Ikterik

:-

:+
:-

Tanda-tanda vital
Frekuensi nadi : 132x / menit, teratur, isi cukup
Suhu
: 37,5 0C (aksila)
Pernafasan : 53 x/menit, torakoabdominal.

Data Antropometri
Berat badan
Tinggi badan
Status gizi

: 6,8 kg
:: Gizi cukup

Lingkar kepala : -

Status Regional
Kepala
Bentuk normal, ukuran normal, tidak teraba benjolan,
rambut hitam terdistribusi merata, tidak mudah dicabut,
kulit kepala tidak ada kelainan, ubun-ubun besar belum
menutup.
Mata
Palpebra superior et inferior dextra et sinistra tidak cekung,
tidak edema, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil
bulat, isokor, diameter 3 mm, reflex cahaya +/+.
Telinga
Bentuk normal, kedua liang telinga lapang, tidak ada sekret,
serumen-/-, membran timpani utuh, nyeri tekan tragus -/-,
nyeri tarik aurikel -/-

Hidung
Bentuk normal, septum deviasi -/-, sekret +/+, hiperemis
-/-, pernafasan cuping hidung +.
Tenggorok
Faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang
Mulut
Bibir kering -, lidah kotor
Leher
Trakea di tengah, kelenjar tiroid tidak teraba membesar,
kelenjar getah bening submandibula, supra-infra clavicula,
dan cervikal tidak teraba membesar.

Paru
Inspeksi
diam

: bentuk normal dan simetris dalam


pergerakan nafas cepat dan dangkal
retraksi subcostal (+)

Palpasi
Perkusi

: stem fremitus kanan dan kiri sama kuat


: sonor pada kedua lapang paru.

Auskultasi : vesikuler, ronkhi +/+, wheezing +/+

Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Tidak Tampak pulsasi iktus kordis.


: Teraba pulsasi iktus kordis.
: Redup

Auskultasi : BJ I II murni,reguler, murmur -, gallop -.

Abdomen
Inspeksi

: Datar.

Palpasi
: Supel, nyeri tekan epigastrium -, hepar
dan lien tidak teraba membesar.
Perkusi
: Timpani
Auskultasi : Bising usus + normal.

Ekstremitas
: Superior et inferior dekstra et sinistra
udem -, deformitas -, akral hangat
Genitalia
: Tidak ada kelainan.
Kulit

: Turgor baik, sianosis -, ikterik -.

Status Neurologi
Rangsangan Meningeal : Refleks Fisiologis : +/+ normal
Refleks Patologis : -/-

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium 01/03/2014


Hematologi

Hasil

Satuan

Nilai normal

Hemoglobin

10.1

g/dL

11.5 15.5

Hematokrit

29

35 45

Trombosit

234

103/ L

150 450

Leukosit

10.8

103/ L

4.5 13.5

Eritrosit

3.78

106/L

4.2 5.4

LED

23

mm/jam

0 15

MCH

27

pg

27 31

MCHC

35

33 37

MCV

75

fL

77 95

Hitung Jenis

Basofil

01

Eosinofil

13

Netrofil staf

26

Netrofil segmen

58

50 70

Limfosit

32

20 40

Monosit

28

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 1 Maret 2014


PEMERIKSAAN

HASIL

SATUAN

NILAI NORMAL

112

mg/dL

60,00 100,00

PH

7.406

7 35 7 45

PCO2

36.3

mmHg

33 44

PO2

116.0

mmHg

71 104

HCO3a

22.2

mmol/L

22 29

Total CO2

23.4

mmol/L

21 27

BE (vt)

-1.9

mmol/L

(-2) (+3)

O2 Sat

98.3

94 98

Natrium

140

mmol/L

135 145

Kalium

4.15

mmol/L

3,5 5,0

Chlorida

96

mmol/L

94 111

Diabetes
Glukosa sewaktu
Kimia Lain

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 2 maret 2014

PEMERIKSAAN

HASIL

SATUAN

NILAI NORMAL

PH

7,373

7 35 7 45

PCO2

45,4

mmHg

33 44

PO2

47,1

mmHg

71 104

HCO3a

25,9

mmol/L

22 29

Total CO2

27,3

mmol/L

21 27

BE (vt)

0,2

mmol/L

(-2) (+3)

O2 Sat

81,8

94 98

Natrium

137

mmol/L

135 145

Kalium

2,92

mmol/L

3,5 5,0

Chlorida

105

mmol/L

94 111

Kimia Lain

Diagnosa : Bronkopneumonia + Kejang demam


Diagnosa diferential
: Bronkiolitis
Rencana diagnostik : periksa analisa gas darah

Penatalaksanaan
IVFD KaEn 3B 680cc/24jam
O2 NRM 5L/menit
Amoxicilin 4 x 100 mg IV
Chloramphenicol 4 x 125 mg IV
Luminal 2 x 15 mg PO
Paracetamol 70 mg
CTM 0,7 mg
Dexamethason tablet
GG 10 mg
Bicnat 1/3 tablet
B complek tablet

3x1 pulv

Riwayat Rawat Inap


Minggu, 2 Maret 2014 (Rawat Hari ke-2)
S: Pasien masih terlihat sesak nafas disertai batuk, dahak (-), pilek (+).
Demam (-), kejang (-)
Nafsu makan masih berkurang.
Belum BAB, BAK normal
O: Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
Nadi : 139x/menit.
RR : 50 x/menit.
Suhu : 370C
Kepala: ubun-ubun cekung (-)
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/Mulut : mukosa basah, faring tidak hiperemis, lidah tidak kotor
Hidung: sekret +/+, nafas cuping hidung (-)
Telinga: serumen -/Leher : tidak ditemukan pembesaran KGB
Thoraks : Cor : Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: vesikuler +/+, ronkhi +/+, wheezing +/+, retraksi (-)
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan (-), turgor baik, bising usus (+)
normal, timpani, Hepar/Lien tidak teraba membesar
Ektremitas : akral hangat, CRT < 2 dtk

A: Bronkopneumonia
Kejang demam
P : IVFD KaEn 3B 680cc/24jam
O2 NRM 5L/menit
NGT , puasa
Amoxicilin 4 x 100 mg IV
Chloramphenicol 4 x 125 mg IV
Luminal 2 x 15 mg PO
Paracetamol 70 mg
CTM 0,7 mg
Dexamethason tablet
GG 10 mg

3x1 pulv

Bicnat 1/3 tablet


B complek tablet
Aminophilin 10mg

Senin , 3 Maret 2014 (Rawat Hari ke-3)


S: Pasien masih terlihat sesak nafas disertai batuk, dahak (-), pilek (+).
Demam (-), kejang (-)
Belum BAB dan BAK normal
O: Keadaan Umum

: Tampak Sakit Sedang

Kesadaran : Compos Mentis


Nadi

: 108x/menit.

RR : 50 x/menit.
Suhu

: 36,20C

Kepala : ubun-ubun cekung (-)


Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Mulut

: mukosa basah, faring tidak hiperemis, lidah tidak kotor

Hidung : sekret +/+, nafas cuping hidung (-)


Telinga : serumen -/Leher

: tidak ditemukan pembesaran KGB

Thoraks

: Cor : Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Pulmo: vesikuler +/+, ronkhi +/+, wheezing +/+, retraksi (-)


Abdomen

: datar, supel, nyeri tekan (-), turgor baik, bising usus (+)

normal, timpani, Hepar/Lien tidak teraba membesar


Ektremitas : akral hangat, CRT < 2 dtk

A: Bronkopneumonia
Kejang demam
P : IVFD KaEn 3B 680cc/24jam
O2 NRM 6L/menit
NGT
Amoxicilin 4 x 100 mg IV
Chloramphenicol 4 x 125 mg IV
Luminal 2 x 15 mg PO
Paracetamol 70 mg
CTM 0,7 mg
Dexamethason tablet
GG 10 mg

3x1 pulv

Bicnat 1/3 tablet


B complek tablet
Aminophilin 10mg

Selasa, 4 Maret 2014 (Rawat Hari ke-4)


S: Sesak nafas dan batuk berkurang, dahak (-), pilek (+) berkurang.
Demam (-), kejang (-)
Nafsu minum sudah ada
Semalam dapat tidur nyenyak
Belum BAB, BAK normal
O: Keadaan Umum

: Tampak Sakit Sedang

Kesadaran : Compos Mentis


Nadi

: 100x/menit.

RR : 36 x/menit
Suhu

: 35,40C

Kepala : ubun-ubun cekung (-)


Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/Kelopak mata bengkak

Mulut

: mukosa basah, faring tidak hiperemis, lidah tidak kotor

Hidung : sekret +/+, nafas cuping hidung (-)


Telinga : serumen -/Leher

: tidak ditemukan pembesaran KGB

Thoraks: Cor : Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: vesikuler +/+, ronkhi +/+, wheezing +/+, retraksi (-)
Abdomen

: datar, supel, nyeri tekan (-), turgor baik, bising usus (+)

normal, timpani, Hepar/Lien tidak teraba membesar


Ektremitas : akral hangat, CRT < 2 dtk

A: Bronkopneumonia
Kejang demam
P : IVFD KaEn 3B 400cc/24jam
O2 5L/menit
Amoxicilin 4 x 100 mg IV
Chloramphenicol 4 x 125 mg IV
Luminal 2 x 15 mg PO
Paracetamol 70 mg
CTM 0,7 mg
Dexamethason tablet
GG 10 mg
Bicnat 1/3 tablet
B complek tablet
Aminophilin 10mg

3x1 pulv

Rabu, 5 Maret 2014 (Rawat Hari ke-5)


S: Sesak nafas dan batuk berkurang, dahak (-), pilek (+) berkurang.
Demam (-), kejang (-)
Minum susu setiap 3 jam sekali @ 30ml.
Semalam dapat tidur nyenyak
Belum BAB, BAK normal
O: Keadaan Umum

: Tampak Sakit Sedang

Kesadaran : Compos Mentis


Nadi

: 110x/menit.

RR : 36 x/menit.
Suhu

: 35,10C

Kepala : ubun-ubun cekung (-)


Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/Kelopak mata masih bengkak

Mulut

: mukosa basah, faring tidak hiperemis, lidah tidak kotor

Hidung : sekret +/+, nafas cuping hidung (-)


Telinga : serumen -/Leher

: tidak ditemukan pembesaran KGB

Thoraks: Cor : Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: vesikuler +/+, ronkhi +/+, wheezing +/+, retraksi (-)
Abdomen

: datar, supel, nyeri tekan (-), turgor baik, bising usus (+)

normal, timpani, Hepar/Lien tidak teraba membesar


Ektremitas : akral hangat, CRT < 2 dtk

A: Bronkopneumonia
Kejang demam
P : IVFD KaEn 3B 400cc/24jam
O2 5L/menit
Amoxicilin 4 x 100 mg IV
Chloramphenicol 4 x 125 mg IV
Luminal 2 x 15 mg PO
Paracetamol 70 mg
CTM 0,7 mg
Dexamethason tablet
GG 10 mg
Bicnat 1/3 tablet
B complek tablet
Aminophilin 10mg

3x1 pulv

Kamis, 6 Maret 2014 (Rawat Hari ke-6)


S: Batuk (+) berkurang, dahak (-), sesak (-), pilek (-)
Demam (-), kejang (-)
Minum susu baik
Belum BAB, BAK normal
O: Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran : Compos Mentis


Nadi

: 102x/menit.

RR : 45 x/menit.
Suhu

: 35,30C

Kepala : ubun-ubun cekung (-)


Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/Kelopak mata sudah tidak bengkak

Mulut

: mukosa basah, faring tidak hiperemis, lidah tidak kotor

Hidung : sekret -/-, nafas cuping hidung (-)


Telinga : serumen -/Leher

: tidak ditemukan pembesaran KGB

Thoraks

: Cor : Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Pulmo: vesikuler +/+, ronkhi +/+, wheezing -/-, retraksi (-)


Abdomen

: datar, supel, nyeri tekan (-), turgor baik, bising usus (+)

normal, timpani, Hepar/Lien tidak teraba membesar


Ektremitas : akral hangat, CRT < 2 dtk

A: Bronkopneumonia
Kejang demam
P : IVFD KaEn 3B 400cc/24jam
O2 2L/menit
Amoxicilin 4 x 100 mg IV
Chloramphenicol 4 x 125 mg IV
Luminal 2 x 15 mg PO
Paracetamol 70 mg
CTM 0,7 mg
Dexamethason tablet
GG 10 mg

3x1 pulv

Bicnat 1/3 tablet


B complek tablet
Aminophilin 10mg
Nebulizer ventolin + NaCl 3,5 cc diberikan 2x /hari.

Jumat, 7 Maret 2014 (Rawat Hari ke-7)


S: Batuk (+) berkurang, dahak (-), sesak (-), pilek (-)
Demam (-), kejang (-)
Makan dan minum susu baik
Belum BAB, BAK normal
O: Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran : Compos Mentis


Nadi

: 98x/menit

RR : 32 x/menit.
Suhu

: 35,20C

Kepala : ubun-ubun cekung (-)


Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Mulut

: mukosa basah, faring tidak hiperemis, lidah tidak kotor

Hidung : sekret -/-, nafas cuping hidung (-)


Telinga : serumen -/Leher

: tidak ditemukan pembesaran KGB

Thoraks: Cor : Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: vesikuler +/+, ronkhi +/+, wheezing -/-, retraksi (-)
Abdomen

: datar, supel, nyeri tekan (-), turgor baik, bising usus (+)

normal, timpani, Hepar/Lien tidak teraba membesar


Ektremitas : akral hangat, CRT < 2 dtk

A: Bronkopneumonia
Kejang demam
P : IVFD KaEn 3B 400cc/24jam
Amoxicilin 4 x 100 mg IV
Chloramphenicol 4 x 125 mg IV
Luminal 2 x 15 mg PO
Paracetamol 70 mg
CTM 0,7 mg
Dexamethason tablet
GG 10 mg

3x1 pulv

Bicnat 1/3 tablet


B complek tablet
Aminophilin 10mg
Nebulizer ventolin + NaCl 3,5 cc diberikan 2x /hari.

Rencana Terapi pada Saat Pulang

Amoxicilin 3 x 100 mg
Chloramphenicol 3 x 125
Habiskan puyer
Kontrol ke poliklinik anak 6 hari kemudian

Prognosa

Ad vitam
: dubia
Ad fungsional : dubia ad bonam
Ad sanational : dubia

Resume
Telah diperiksa seorang bayi berusia 8 bulan datang dengan keluhan sesak
nafas sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Sebelum nya pasien telah
mendapatkan terapi uap tetapi belum ada perbaikan.
Pasien mengalami batuk berdahak sejak 6 hari yang lalu. Dahak sulit keluar,
tetapi bila pasien batuk tidak berhenti henti pasien muntah dahak berwarna
putih, kental, tanpa darah. Pasien juga mengalami pilek sehingga membuat
pasien semakin sulit bernafas. Pasien mengalami demam sejak 5 hari
sebelum masuk rumah sakit, dan demam membaik apabila diberikan obat
penurun panas. Pasien sempat mengalami kejang sebelum dibawa rumah
sakit, lamanya kejang kira-kira 2 menit, dan selesai kejang pasien sadar.
Pasien sehari-hari minum susu formula dan diselingi makan makanan bayi,
namun orang tua pasien mengaku akhir-akhir ini pasien kurang suka minum
susu dan makan. Tetapi orang tua pasien juga tidak memperhatikan ada atau
tidaknya penurunan berat badan pasien.
Riwayat BAK : lancar, kurang lebih 4-5 kali sehari, warna kuning jernih, tidak
ada darah, tidak tampak nyeri saat buang air kecil.
Riwayat BAB : tidak mencret, normal.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan :


Keadaan Umum: Tampak Sakit Sedang
Kesadaran
Nadi

: Compos Mentis

Suhu
Pernapasan

: 37,50C

Berat Badan
Status Gizi

: 132x / menit, teratur, isi cukup


: 53 x/menit
: 6,8 kg
: Gizi cukup

Kepala :
ubun-ubun cekung (-)
Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor
Mulut: mukosa basah, lidah tidak kotor,faring tidak
hiperemis
Hidung: sekret +/+, nafas cuping hidung (+)
Telinga: serumen -/-

Leher : tidak ditemukan pembesaran kelenjar

Thorax :
Cor: Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: vesikuler +/+, ronkhi +/+, wheezing +/+, retraksi
subcostal (+), retraksi suprasternal, intercostal,
subepigastrium (-)

Abdomen : datar, supel, nyeri tekan (-), turgor baik,


bising usus (+) normal,timpani, Hepar/Lien tidak teraba
membesar
Ekstremitas : akral hangat, CRT <2

Hasil laboratorium :
Hemoglobin 10,1 g/dL
Hematokrit 29%
Eritrosit 3,78x106L
LED 23 mm/jam
MCV 75 fL
Gula Darah Sewaktu 112mg/dL
PO2 47,1 mmHg
PCO2 45,4 mmHg
O2 sat 81,8 %
Total CO2 27,3mmol/L
Kalium 2,92 mmol/L

Diagnosa Akhir : bronkopneumonia + kejang demam


Perkembangan pasien selama perawatan : Sesak (-),
Batuk (+) berkurang, Pilek (+) berkurang, Panas (-),
Diare (-), Nafas Cuping Hidung (-), Retraksi (-), Ronkhi
(+/+), Wheezing (-/-) berkurang, Berat Badan
berkurang.
Keadaan saat pulang : sembuh

Analisa Kasus
Bronkopneumonia
Dasar Diagnosa:
Sesak nafas sejak 5 hari SMRS.
Pasien juga mengeluh adanya batuk dan demam.
Pada Pemeriksaan Fisik ditemukan:
Frekuensi nadi
: 132x / menit
Suhu
: 37,5 C
Pernafasan : 53 x/menit, nafas cuping hidung
Paru-paru
Inspeksi : Bentuk normal dan simetris, pergerakan nafas cepat dan
dangkal, terdapat Retraksi Subcostal.
Palpasi

: Vokal Fremitus kanan dan kiri sama kuat.

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru.

Auskutasi : Vesikuler, ronkhi+/+, whezing +/+.

Bronkopneumonia adalah peradangan parenkim paru


pada bagian distal bronkiolus terminalis dan meliputi
bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus
alveolaris dan alveoli, yang disebabkan oleh bermacammacam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda
asing. Anak dengan daya tahan tubuh terganggu akan
menderita pneumonia berulang atau tidak mampu
mengatasi penyakit ini dengan sempurna.

Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran


nafas bagian atas terlebih dahulu. Suhu dapat naik
mendadak.
Anak
tampak
sangat
gelisah,
dispneu,
pernapasan cepat dan dangkal disertai pernapasan cuping
hidung dan sianosis hidung dan mulut. Dapat ditemukan
juga gangguan GI Tract dan nafsu makan yang menurun.
Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada
auskultasi terdengar ronkhi basah nyaring halus atau
sedang. Pada pasien ini hal-hal yang disebutkan diatas ada,
yaitu suhu tubuh yang meningkat, dispneu, pernapasan
cuping hidung, napas cepat dan dangkal (RR : 53x/mnt),
tetapi tidak ditemukan sianosis pada pasien ini.
Pada
pemeriksaan fisik paru ditemukan ronkhi dan wheezing pada
kedua paru. Dan pasien ini juga terdapat penurunan nafsu
makan.

Pemeriksaan
rontgen
paru
pada
bronkopneumonia
menunjukkan bercak-bercak infiltrat yang didapatkan pada
satu atau beberapa lobus dan adanya konsolidasi pada satu
atau beberapa lobus. Akan tetapi pada pasien ini tidak
dilakukan pemeriksaan rontgen paru.
Untuk penatalaksanaan bronkopneumonia tergantung umur
penderita dan gejala klinis yang ada. Menurut kriteria WHO
(2009), pasien ini termasuk dalam pneumonia berat
dikarenakan terdapatnya batuk dan kesulitan bernafas disertai
adanya pernafasan cuping hidung, nafas cepat, dan kejang.
Sehingga harus dirawat di rumah sakit.
Anak yang sangat sesak nafasnya memerlukan pemberian
cairan intravena dan oksigen. Pada pasien ini diberikan IVFD
KaEn 3B 680cc/24jam (yang kemudian pada hari ke 4
diturunkan menjadi 400cc/24jam) + O2 5L/menit

Untuk pengobatan pneumonia rawat inap diberikan antibiotik yaitu:


Neonatus dan bayi kecil (< 2 bulan) terapi awal dengan antibiotik
intravena:
asam klavulanat/beta-laktam + aminoglikosid
sefalosporin generasi ke-3
Bila keadaan sudah stabil, antibiotik dapat diganti dengan antibiotik oral
selama 10 hari

Bayi dan anak lebih besar (> 2 bulan)


beta-laktam dengan atau tanpa klavulanat
beta-laktam/klavulanat + eritromisin iv kasus yang lebih berat
sefalosporin generasi ke-3

Pada pasien ini diberikan :


- Amoxicilin 4x100mg IV
- Chloramfenikol 4x125mg IV
Untuk mengencerkan dahak, pasien diberikan Inhalasi Ventolin +NaCl
0,9% 3,5cc 2x/hari.

Kejang demam
Dasar diagnosa :
Suhu tubuh tinggi (suhu rektal diatas 380C)
Tidak ada infeksi susunan saraf pusat
Tidak ada gangguan elektrolit atau metabolisme lain
Pasien berusia lebih dari 1 bulan
Untuk pasien ini mendapatkan terapi :
Paracetamol 70 mg (3 x 1)
Luminal 15 mg (2 x 1)

Kesimpulan
Pada kasus ini ditemukan permasalahan pada traktus
respiratorius
yaitu
bronkopneumonia.
Diagnosis
Bronkopneumonia ditegakkan berdasarkan penemuan klinis
yaitu sesak napas, napas cepat, batuk dan demam. Menurut
kriteria WHO (2009), pasien ini termasuk dalam pneumonia
berat dikarenakan terdapatnya batuk dan kesulitan bernafas
disertai adanya pernafasan cuping hidung, nafas cepat, dan
kejang. Sehingga harus dirawat di rumah sakit. Setelah
diberikan pengobatan yang adekuat yaitu diberikan
Amoxicilin dan Chloramphenicol menghilang, tepatnya saat
pasien menjalani hari rawat ke-5.
Diagnosa kejang demam berdasarkan anamnesa dimana
pasien memiliki suhu tubuh yang meningkat sebelum terjadi
kejang. Kejang yang terjadi tidak lama, kira-kira 2 menit.
Tidak terdapat penurunan kesadaran setelah kejang, dan
tidak ditemukan adanya gangguan elektrolit. Pada pasien ini
diberikan Paracetamol 70 mg (3x1) dan Luminal 15 mg
(2x1), sehingga kejang tidak berulang.
Keadaan pasien menunjukkan perbaikan, dan pasien
diperbolehkan pulang setelah dirawat 7 hari.

Tinjauan Pustaka
BRONKHOPNEUMONIA
Pendahuluan
Pneumonia merupakan infeksi saluran nafas bagian bawah
yang dapat disebabkan oleh berbagai etiologi dengan tanda
penyakit yang paling menonjol adalah akibat dari
peradangan parenkim paru. Pneumonia didefinisikan
sebagai peradangan yang mengenai parenkim paru, distal
dari bronkiolus terminalis yang mencangkup bronkiolus
respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi
jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
Istilah pneumonia lazim dipakai bila peradangan terjadi
oleh proses infeksi akut yang merupakan penyebab
tersering, sedangkan istilah pneumonitis sering dipakai
untuk proses non infeksi. Bronchopneumonia merupakan
inflamasi yang terpusat pada bronkiolus. Bronkopneumonia
merupakan suatu proses inflamasi yang melibatkan
multiple lobus dari paru.

Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan


oleh mikroorganisme, namun beberapa
diantaranya dapat pula disebabkan oleh non
infeksius, seperti teraspirasi makanan atau
asam lambung, benda asing, hidrokarbon;
atau karena reaksi hipersensitivitas.

Pada infant dan anak kurang dari 5 tahun,


penyebab infeksi traktus respiratorius bawah
yang dominan adalah virus. Puncak rata-rata
pneumonia virus menyerang anak umur 2-3
tahun, berbeda pada bronchiolitis puncak
rata-rata menyerang anak umur 1 tahun.

Klasifikasi
Pneumonia diklasifikasikan sebagai berikut :
Atas dasar letak anatomi dari pneumonia, dibagi menjadi :
Pneumonia lobaris (Pneumonia), Pneumonia lobularis
(Bronkopneumonia)
dan
Pneumonia
interstitialis
(Bronchiolitis).
Atas dasar etiologi : pneumonia virus, pneumonia bakteri,
pneumonia jamur dan aspirasi pneumonia
Atas dasar gejala klinis : pneumonia tipikal dan pneumonia
atipikal
Atas dasar cara mendapatkannya: pneumonia yang didapat di
masyarakat (Community Acquired Pneumonia / CAP) dan
pneumonia yang didapat di rumah sakit (Hospital Aquired
Pneumonia / HAP )

Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai etiologi dan
bersifat individual.
Penyebab paling umum dari
pneumonia merupakan kombinasi dari Streptococcus
pneumoniae dengan respiratory syncytial virus (RSV)
atau Mycoplasma pneumoniae.

Penyebab umum Pneumonia


berdasarkan umur :
Umur
Neonatus

Bakterial
Group B Streptococci, coliform

Viral
CMV, herpes virus

bacteria

4-16
minggu

S.aureus, H.influenzae, S.pneumoniae

< 5 tahun

S.pneumoniae, S.aureus

Lain-lain
Mycoplasma hominis,
Ureaplasma urealyticum

CMV, RSV

Chlamydia trachomatis,
Ureaplasma urealyticum

RSV, adenovirus, influenza virus


A,B

> 5 tahun

S.pneumoniae

influenza virus A,B

Mycoplasma pneumoniae

Patogenesis
Bronkopneumonia merupakan jenis pneumonia tersering pada bayi
dan anak kecil. Pneumonia lobaris lebih sering ditemukan dengan
meningkatnya umur.
Faktor predisposisi pneumonia adalah: aspirasi, gangguan imun,
septisemia, malnutrisi, campak, pertusis, penyakit jantung bawaan,
kontaminasi perinatal, dan gangguan klirens mukus / sekresi pada
cystic fibrosis, benda asing atau disfungsi silier.
Biasanya bakteri penyebab terhirup ke paru-paru melalui saluran
nafas. Mula-mula terjadi edema karena reaksi jaringan, ini
mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan
sekitarnya. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi yaitu
terjadinya serbukan sel polimorfonuklear, fibrin, eritrosit, cairan
edema dan ditemukannya kuman di alveoli. Stadium ini disebut
stadium Hepatisasi Merah. Selanjutnya terjadi deposisi fibrin ke
permukaan pleura, terdapat fibrin dan lekosit polimorfonuklear di
alveoli, terjadilah proses fagositosis yang cepat. Stadium ini disebut
Stadium Hepatisasi Kelabu. Akhirnya, jumlah sel makrofag
meningkat di alveoli, sel akan degenerasi dan fibrin menipis, kuman
dan debris menghilang. Stadium ini disebut Stadium Resolusi.

Manifestasi klinis
Bronkopneumonia merupakan bagian dari pneumonia,
biasanya didahului oleh peradangan saluran nafas bagian
atas seperti batuk, pilek selama beberapa hari disertai
kenaikan suhu tubuh yang tiba-tiba. Batuknya mula-mula
kering kemudian produktif.
Anak umumnya gelisah, dispneu, pernafasan cepat dan
dangkal disertai pernafasan cuping hidung. Bila keadaan
terus berlanjut akan terdapat sianosis di sekitar mulut dan
hidung. Peningkatan nafas dibarengi dengan retraksi dari
intercostal, subkostal, dan suprasternal, dan penggunaan
otot pernafasan aksesorius.
Batuk biasanya tidak ditemukan pada awal penyakit,
mungkin terdapat batuk setelah beberapa hari.
Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis dengan
pemeriksaan fisis, tetapi dengan adanya nafas cepat dan
dangkal, pernafasan cuping hidung dan sianosis sekitar
mulut dan hidung, harus dipikirkan kemungkinan
pneumonia

Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisis tergantung


daripada luas daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering
tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi mungkin hanya
terdengar ronki basah nyaring halus atau sedang.
Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin
pada perkusi terdengar keredupan dan suara pernafasan pada
auskultasi terdengar mengeras.
Pada stadium resolusi, ronki terdengar lagi.
Tanpa pengobatan biasanya penyembuhan dapat terjadi sesudah
2-3 minggu.
Gejala klinis antara pneumonia virus dan bakteri kadang dapat
dibedakan, meski perbedaan tersebut tidak selalu jelas pada
setiap pasien. Pada keduanya dapat ditemukan takipnea, batuk
dan retraksi. Pneumonia virus lebih banyak didapatkan batuk,
wheezing, atau stidor, dan demam lebih menonjol pada
pneumonia bakterial. Sedangkan pada pneumonia bakterial
biasanya batuk, demam tinggi, dyspnea, dan pada auskultasi
adanya konsolidasi paru ( penurunan suara napas, pada perkusi
terdengar redup).

Diagnosis
Berdasarkan pedoman menurut WHO (2009) :
Pneumonia sangat berat : bila ada sianosis sentral & tidak
sanggup minum rawat RS & beri antibiotik
Pneumonia berat : ada retraksi, sianosis (-) , msh sanggup
minum rawat RS & beri antibiotik
Pneumonia : retraksi (-) , tapi nafas cepat yaitu
> 60x / menit pada bayi < 2 bln
50x / menit pada anak 2 bln-1 thn
>40x / menit pada anak 1-5 thn
tidak perlu dirawat, cukup antibiotik oral.
Bukan pneumonia : hanya batuk saja tanpa tanda &
Gangguan di atas tidak perlu dirawat & tidak perlu
antibiotik.

Secara umum, pemeriksaan leukosit dapat digunakan membedakan


antara pneumonia virus dan pneumonia bakteri. Pada pneumonia
virus, leukosit dapat normal atau meningkat (biasanya tidak lebih
dari 20.000/mm3) dengan predominan limfosit. Sedangkan pada
pneumonia bakterial, terjadi peningkatan leukosit antara 15.000
40.000/mm3 dan predominan granulosit.
Pada foto rontgen dada terlihat infiltrat alveolar yang dapat
ditemukan di seluruh lapangan paru. Luasnya kelainan pada
gambaran radiologis biasanya sebanding dengan derajat klinis
penyakitnya, kecuali pada infeksi mikoplasma yang gambaran
radiologisnya lebih berat daripada keadaan klinisnya. Gambaran
lain yang dapat dijumpai :
Konsolidasi pada satu atau lebih lobus pada pneumonia lobaris
Penebalan pleura pada pleuritis
Komplikasi pneumonia seperti atelektasis, pneumomediastinum
pneumo-thoraks, abses, pneumatokel atau perikarditis.
Juga dari biakan kuman yang berasal dari biopsi paru atau aspirasi
nasal.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah : leukositosis, dapat juga leukopenia
yang menandakan prognosa buruk. Dapat ditemukan
anemia ringan / sedang
Pemerikssaan radiologis :
- bercak konsolidasi merata pada BP
- bercak konsolidasi 1 lobus pd pneumonia Lobaris
- gambaran BP difus/infiltrat interstitialis pd pneumonia
stafilokok
Pemeriksaan cairan pleura
Pemeriksaan mikrobiologik, spesimen usap tenggorok,
sekresi nasofaring, bilasan bronkus atau sputum, darah,
aspirasi trakea, pungsi pleura, aspirasi paru

Penatalaksanaan
Management dari pneumonia tergantung umur penderita dan gejala klinis yang
ada. Pada kasus yang tidak berat, tidak perlu dirawat. Namun pada neonatal atau
pneumonia kongenital mengancam jiwa, karena itu harus dirawat di rumah sakit.
Pemberian antibiotik selama 14 hari, pada neonatus (<2 bulan) diberikan
ampisilin i.v 100 mg/kgbb/hari dibagi 4 dosis dan gentamisin i.v 5 mg/kgbb/hari
dibagi 2 dosis.
Pada bayi/anak (>2 bulan) diberikan ampicilin i.v 200mg/kgbb/hari dibagi 4 dosis
dan chloramphenicol i.v 75 mg/kbgg/hari dibagi 4 dosis sebagai lini pertama. Atau
ceftriaxone i.v 50 mg/kgbb/kali diberikan 1 dosis perhari dengan dosis tunggal
maksimal 2 gram.
Anak yang sangat sesak nafasnya memerlukan pemberian cairan intravena dan
oksigen. Jenis cairan yang digunakan ialah campuran glukose 5% dan NaCl 0,9%
dalam perbandingan 3:1 ditambah larutan KCl 10 meq/500 ml botol infus.
Pemilihan Antibiotik berdasarkan etiologi:

Streptokokus & Stafilokokus


Penisillin G 50000 unit/hari iv atau Penicillin Prokain 600.000 U/kali/hari im atau
Ampicillin 100 mg/kgBB/hari atau Seftriakson 75-200 mg/kgBB/hari

M. pneumonia
Eritromisin 15 mg/kgBB/hari atau derivatnya

H. influenzae, Klebsiella
Kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari atau Sefalosporin

Indikasi dirawat meliputi :


moderate sampai severe respiratory distress
gagal pada pengobatan antibiotik oral
tidak sanggup menelan antibiotik oral oleh karena muntah
konsolidasi lobaris yang lebih dari satu lobus
immunosupresi
empyema
abses atau pneumotocele
penyakit underlying kardiopulmoner ( seperti hipertensi pulmoner )

Komplikasi
Dengan menggunakan antibiotika dalam pengobatan, maka
komplikasi pneumonia bakterial telah jarang ditemukan.
Komplikasi yang mungkin terjadi seperti empiema,
pneumothoraks atau abses paru sering terjadi pada fase
akut pneumonia yang disebabkan oleh staphylococcus.
Sementara H.influenzae sering menyebabkan pleural effusi.
Komplikasi
lain
seperti
meningitis,
perikarditis,
osteomielitis, peritonitis lebih jarang ditemukan.
Prognosis
Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat,
mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1%.
Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang
datang terlambat menunjukkan mortalitas yang lebih
tinggi.

Kejang Demam
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38C) yang
disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang
demam merupakan kelainan neurologis yang paling
sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan
umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% daripada
anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah
menderitanya. Terjadinya bangkitan kejang demam
bergantung kepada umur, tinggi serta cepatnya suhu
meningkat. Faktor hereditas juga mempunyai peranan.

Patofisiologi
Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah
oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan
elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+
dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rehdah, sedangkan di luar
sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan
konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan
potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk
menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan
bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya:
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datangriya mendadak misalnya mekanis, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya.
3.
Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau
keturunan.

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan


mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10% - 15%
dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Jadi pada
kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam
waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun
ion Natrium melalui membran tadi, dengan akibat
terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini
demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel
maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan
bahan yang disebut ncurotransmiter dan terjadilah
kejang.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung


dari tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita
kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang
kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu38C sedangkan
pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi
pada suhu 40C atau lebih.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang
yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai
terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk
kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia,
asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi
arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh
makin meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan
selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian
kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan
neuron otak selama berlangsungnya kejang lama.

Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah


yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan
permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
Kejang
demam
yang
berlangsung
lama
dapat
menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi
epilepsi.

Manifestasi Klinis
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak
kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan
yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di
luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media
akuta, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain.
Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama
sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat
bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik,
fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri.
Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi
apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik
atau menit anak akan terbangun dan sadar kerribali
tanpa adariya kelainan saraf.

Pedoman untuk membuat diagnosa kejang demam


sederhana
Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari
15 menit.
Kejang bersifat umum.
Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya
demam.
Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.
Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu
sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.
Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak
melebihi 4 kali.

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau


lebih dari ketujuh kriteria modifikasi Livingston di atas
digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam.
Kejang kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar
kelainan
yang
menyebabkan
timbulnya
kejang,
sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus
saja.

Diagnosa Banding
Menghadapi seorang anak yang menderita demam
dengan kejang, harus dipikirkan apakah penyebab dari
kejang itu di dalam atau di luar susunan saraf pusat
(otak).
Kelainan di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya
meningitis, ensefalitis, abses otak dan Iain-lain. Oleh
sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu
apakah ada kelainan organis di otak.
Baru sesudah itu dipikirkan apakah kejang demam ini
tergolong dalam kejang demam sederhana atau epilepsi
yang diprovokasi oleh demam.

Prognosa
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak
perlu menyebabkan kematian. Apabila melihat kepada umur, jenis kelamin
dan riwayat keluarga:
Pada anak berumur kurang dari 13 tahun, terulangnya kejang pada wanita
50% dan pria 33%.
Pada anak berumur antara 14 bulan dan 3 tahun dengan riwayat keluarga
adanya kejang, terulangnya kejang adalah 50%, sedang pada tanpa riwayat
kejang 25%.
Risiko yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita kejang
demam tergantung dari faktor:
Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.
Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang
demam.
Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal.
Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut di atas, maka dikemudian hari
akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13%, dibanding bila hanya
terdapat 1 atau tidak sama sekali faktor tersebut di atas, serangan kejang tanpa
demam hanya 2% - 3% saja.

Hemiparesis biasanya terjadi pada penderita yang


mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari setengah
jam) baik bersifat umum atau fokal. Kelumpuhannya
sesuai dengan kejang fokal yang terjadi. Mula-mula
kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu
timbul spastisitas.
Penderita dengan kejang demam sederhana, tidak
terdapat kelainan pada IQ, tetapi pada penderita kejang
demam yang sebelumnya telah terdapat gangguan
perkembangan atau kelainan neurologis akan didapat IQ
yang lebih rendah dibanding dengan saudaranya. Apabila
kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa
demam, retardasi mental akan terjadi 5 kali lebih besar.

Penanggulangan

4 faktor yang perlu dilakukan :


Memberantas kejang secepat mungkin
Pengobatan penunjang
Memberikan obat rumatan
Mencari dan mengobati penyebab

Pengobatan rumatan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:


Profilaksis Intermiten
Untuk mencegah terulangnya kejang kembali dikemudian hari,
penderita yang menderita kejang demam sederhana, diberikan obat
campuran antikonvulsan dan antipiretika, yang harus diberikan
kepada anak bila menderita demam lagi.
Profilaksis jangka panjang
Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya
dosis terapeutik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita
untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari.
Diberikan pada keadaan:
Epilepsi yang diprovokasi oleh demam
Keadaan yang telah disepakati pada konsensus bersama (1980), yaitu
pada semua kejang demam yang mempunyai ciri:

a. Terdapatnya gangguan perkembangan saraf seperti


serebral palsi, retardasi perkembangan dan mikrosefali.
b. Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal
atau diikuti kelainan saraf yang sementara atau menetap
c. Bila terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat
genetik pada orangtua atau saudara kandung.
d. Pada kasus tertentu yang dianggap perlu, yaitu bila
kadang-kadang terdapat kejang berulang atau kejang demam pada
bayi berumur di bawah 12 bulan.

Obat untuk profilaksis jangka panjang :


Fenobartbital
Sodium valproat/asam valproal (Epilin, Depakene).
Fenitoin (Dilantin)

Pada anak dengan kejang demam yang datang untuk


pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi
lumbal. Hal ini perlu untuk menyingkirkan faktor infeksi di
dalam otak misalnya meningitis.
Apabila menghadapi penderita dengan kejang lama,
pemeriksaan yang intensif perlu dilakukan, yaitu
pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap misalnya gula
darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen dan
faal hati.
Selanjutnya bila belum memberikan hasil yang diinginkan
dan untuk melengkapi data, dapat dilakukan pemeriksaan
khusus, yaitu X-foto tengkorak, elektroensefalogram,
ekoensefalografi, 'brain scan', pneumoensefalografi dan
arteriografi.

Bagan Memberantas Kejang

TERIMA KASIH