Anda di halaman 1dari 113

SKRIPSI

PENGARUH PENERAPAN METODE KANGURU TERHADAP


PENINGKATAN SUHU TUBUH PADA BBLR DI RSUD
PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG
TAHUN 2012

OLEH::
MARLINA P. PATTIPEILOHY

C 121 10 674

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

SKRIPSI

PENGARUH PENERAPAN METODE KANGURU TERHADAP


PENINGKATAN SUHU TUBUH PADA BBLR DI RSUD
PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG
TAHUN 2012
Diajukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi di Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

OLEH::
MARLINA P. PATTIPEILOHY

C 121 10 674

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

HALAMAN PERSETUJUAN

SKRIPSI
Pengaruh Penerapan Metode Kanguru Terhadap Peningkatan Suhu Tubuh Pada
BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang Tahun 2012

Telah disetujui untuk dipertahankan di depan dewan penguji

Pembimbing I

Pembimbing II

(Yuliana Syam, S,Kep., Ns, M.Kes.)

(Erfina, S.Kep.,Ns., M.Kep.)

Mengetahui:
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

Dr. Werna Nontji,S.Kp.,M.Kep


NIP: 19500114 197207 2 001

HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi dengan judul:
PENGARUH PENERAPAN METODE KANGURU TERHADAP
PENINGKATAN SUHU TUBUH PADA BBLR DI RSUD PROF. DR. W. Z.
JOHANNES KUPANG TAHUN 2012

Telah dipertahankan pada ujian Skripsi di depan Tim Penguji Akhir


Hari/ Tanggal : 6 Februari 2012
Pukul
: 10.00 12.00 Wita
Tempat
: Ruang Rapat Bersama
Oleh:
MARLINA P. PATTIPEILOHY
C121 10 674
Dan telah dinyatakan memenuhi syarat
Tim Penguji
Penguji I

: Kadek Ayu Erika,S.Kep,Ns.,M.Kes

..................................

Penguji II

: Suni Hariati,S.Kep,Ns.,M.Kep

..................................

Penguji III

: Yuliana Syam, S,Kep., Ns, M.Kes.

..................................

Penguji IV

: Erfina, S.Kep.,Ns., M.Kep.

..................................

Mengetahui,
A.n. Dekan
Wakil Dekan Bidang Akademik
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan


Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

dr. Budu, Ph.D,Sp.M.KVR


NIP. 19661231 199503 1 009

Dr. Werna Nontji,S.Kp.,M.Kep


NIP. 19500114 197207 2 001
4

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI


Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : MARLINA P. PATTIPEILOHY
NIM

: C 121 10 674

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar
merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau
pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa
sebagian atau keseluruhan skripsi ini merupakan hasil karya orang lain, maka saya
bersedia mempertanggungjawabkan sekaligus bersedia menerima sanksi yang seberatberatnya atas perbuatan tidak terpuji tersebut.
Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa ada paksaan sama
sekali.

Makassar, Pebruari 2012


Yang membuat pernyataan

Marlina P. Pattipeilohy

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah
memberikan rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian ini dengan judul Pengaruh Penerapan Metode Kanguru Terhadap
Peningkatan Suhu Tubuh Pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.
Dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis menyadari bahwa itu tak lepas dari
bantuan berbagai pihak, baik secara moril maupun secara materil. Olehnya itu, penulis
mengucapkan terimah kasih kepada:
1. Bapak. Prof. dr. Irawan Yusuf, Ph.D selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin.
2. Bapak dr. Budu, Ph.D,Sp.M.-KVR selaku pembantu dekan bidang akademik
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
3. Ibu.

Dr. Werna Nontji,S.Kp.,M.Kep. selaku Ketua Program Studi Ilmu

Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.


4. Ibu Yuliana Syam, S,Kep., Ns, M.Kes. selaku pembimbing I dan Ibu Erfina,
S.Kep.,Ns., M.Kep. selaku pembimbing II yang telah banyak membimbing peneliti
dalam menyelesaikan penelitian ini.
5. Ibu Kadek Ayu Erika,S.Kep,Ns.,M.Kes. selaku penguji I dan Ibu Suni
Hariati,S.Kep,Ns.,M.Kep. selaku penguji II yang telah memberikan arahan dan
masukan yang bersifat membangun untuk penyempurnaan penulisan.
6. Direktur RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang yang telah memberi izin untuk
meneliti di Ruang NICU/NHCU RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.

7. Para ibu yang post partum yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini.
8. Dosen dan Staf Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin yang
telah membantu penulis dalam menyelesaian pendidikan di Program Studi Ilmu
Keperawatan.
9. Rekan-rekan Ners B angkatan 2010 yang telah banyak memberi bantuan dan
dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
10. Seluruh keluarga yang telah memberikan dorongan baik materil maupun moril bagi
penulis selama mengikuti pendidikan.
11. Semua pihak yang telah membantu dalam rangka penyelesaian skripsi ini, baik
secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.
Penyusun menyadari bahwa penelitian ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik
dan saran yang sifatnya membangun sangat penyusun harapkan dari pembaca yang
budiman untuk penyempurnaan penulisan selanjutnya. Di samping itu penyusun juga
berharap semoga penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dan bagi ilmu pengetahuan.
Wassalam.
Makassar, Pebruari 2012

Peneliti

ABSTRAK
Marlina P. Pattipeilohy, Pengaruh Penerapan Metode Kanguru Terhadap Peningkatan Suhu
Tubuh Pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang dibimbing oleh Yuliana Syam dan
Erfina (xii + 74 halaman + 6 tabel + 5 lampiran)
Latar belakang: Perawatan BBLR di Indonesia masih memprioritaskan pada penggunaan incubator
tetapi keberadaannya masih sangat terbatas. Metode perawatan metode kanguru saat ini mulai dijadikan
sebagai alternatif pengganti incubator yang secara ekonomis cukup efisien dan efektif. Penelitian ini
bertujuan untuk megetahui pengaruh penerapan metode kanguru terhadap peningkatan suhu tubuh pada
BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.
Metode: Rancangan penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah quasi eksperimental design: one
group pre test and post test design, yaitu dengan memberikan intervensi berupa perawatan metode
kanguru yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut, dengan setiap harinya dilaksanakan penerapan
Perawatan Metode Kanguru (PMK) selama 2 jam. Pengambilan sampel dengan metode accidental
sampling sebanyak 25 orang, hasilnya diuji paired T-Test dengan tingkat kemaknaan = 0,05.
Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan suhu tubuh bayi BBLR sebelum dilakukan perawatan metode
kanguru rata-rata 36,6 0C, dan suhu tubuh bayi BBLR setelah dilakukan perawatan metode kanguru ratarata 37,1 0C, dan didapatkan ada pengaruh penerapan metode kanguru terhadap peningkatan suhu tubuh
pada BBLR (p=0,000).
Kesimpulan: Penelitian ini disimpulkan bahwa penerapan metode kanguru meningkatkan suhu tubuh
pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang dan diharapkan Perawatan Metode Kanguru
(PMK) terus diterapkan di ruang NICU/NHCU. Bagi petugas kesehatan diharapkan agar terus
memberikan informasi mengenai efektifitas perawatan bayi dengan metode kanguru/ bayi lekat terhadap
peningkatan suhu tubuh pada BBLR agar masyarakat dapat melaksanakannya secara mandiri.
Kata Kunci
Kepustakaan

: Penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK), suhu, BBLR.


: 33 (1995-2011)

DAFTAR ISI
Halaman Judul. .....................................................................................

Halaman Persetujuan .......................................................................................

iii

Lembar Pengesahan . .......................................................................

iv

Pernyataan Keaslian Penelitian.........................................................................

Kata Pengantar . ................................................................................

vi

Abstrak .... .......................................................................................

viii

Daftar Isi . .......................................................................................

ix

Daftar Tabel . ...................................................................................

xi

Daftar Lampiran ..............................................................................

xii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..........................................................

B. Rumusan Masalah ....................................................................

C. Tujuan Penelitian .

D. Manfaat Penelitian ...................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Umum Tentang Berat Badan Lahir Rendah ..............

B. Tinjauan Umum Tentang Perawatan Metode Kanguru. ...........

22

C. Tinjauan Tentang Suhu Tubuh..................................................

34

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS


A. Kerangka Konsep .....................................................................

47

B. Penyusunan Hipotesis ..............................................................

47

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB V

BAB VI

A. Desain Penelitian ....................................................................

48

B. Tempat dan Waktu Penelitian...................................................

49

C. Populasi dan Sampel.................................................................

49

D. Variabel Penelitian. ..................................................................

50

E. Alur Penelitian ..........................................................................

53

F. Instrumen Penelitian. ................................................................

54

G. Pengolahan Data & Analisa Data. ............................................

54

H. Etika Penelitian.........................................................................

55

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil......................

58

B. Pembahasan.. ............................................................

64

C. Keterbatasan Penelitian ..............................................................

71

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan. ..............................................................................

73

B. Saran. .......................................................................................

73

DAFTAR PUSTAKA
Lampiran

10

DAFTAR TABEL
Hal.
Tabel 5.1
Tabel 5.2
Tabel 5.3

Tabel 5.4

Distribusi
Frekuensi
Berdasarkan
Karakteristik
Responden di RSUD Prof. DR. W.Z.Johannes Kupang
Distribusi Frekuensi Suhu Tubuh pada BBLR di RSUD
Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
Pengaruh Penerapan Metode Kanguru Terhadap
Peningkatan Suhu Tubuh Pada BBLR di RSUD Prof.
DR. W. Z. Johannes Kupang

60

61

62

Distribusi Responden Berdasarkan Rata-Rata Suhu


Tubuh Sebelum Dilakukan PMK pada BBLR di RSUD
Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang

Tabel 5.5

Distribusi Responden Berdasarkan Rata-Rata Suhu


Tubuh Setelah 30 Menit Dilakukan PMK pada BBLR di
RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang

Tabel 5.6

Distribusi Responden Berdasarkan suhu tubuh sebelum


dilakukan PMK
dan 30 menit setelah dilakukan
penerapan metode kanguru pada BBLR di RSUD Prof.
DR. W. Z. Johannes Kupang

11

62

63

63

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

: Lembaran Surat Ijin Penelitian

Lampiran 2

: Lembaran Surat Keterangan Penelitian

Lampiran 3

: Lembar Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 4

: Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 5

: Lembar Penilaian

Lampiran 6

: Lembar Master Tabel Kuesioner

Lampiran 7

: Lembar Hasil Uji Statistik Dengan Program SPSS

12

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir kurang
dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi (Miyata& Proverawati,A. 2010).
Sampai saat ini BBLR masih merupakan masalah di seluruh dunia, karena
merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Prevalensi
BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3% 38% dan sering terjadi di Negara-Negara berkembang dengan sosio-ekonomi
rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di Negara
berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding dengan berat
lahir lebih dari 2500 gram (Pantiawati, 2010).
Angka kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di Indonesia masih relatif
tinggi yaitu 14%. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu
daerah dengan daerah yang lain, yaitu berkisar antara 9%-30%. Secara nasional
berdasarkan analisa lanjut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI),
angka BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang di
tetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia sehat 2010
yakni maksimal 7% (SDKI, 2007 dikutip dalam Pantiawati, 2010).
Presentasi bayi BBLR di Propinsi NTT pada tahun 2007 memberikan gambaran
bahwa bayi hidup dengan BBLR rata-rata (90,4%) di tangani oleh petugas
kesehatan (Dinkes Prop. NTT,2007). Sementara data rekam medis angka kejadian
BBLR, BBLSR, BBLASR di RSUD Prof. DR. W.Z.Johannes Kupang, pada tahun

2010 adalah 289 bayi dengan rincian BBLR 201 bayi diantaranya 151 bayi hidup
dan meninggal 50 bayi untuk BBLSR jumlah kejadian 29 bayi diantaranya 11
bayi hidup dan meninggal 18 bayi dan untuk BBLASR jumlah kejadian 59 bayi
diantaranya 35 bayi hidup dan 24 bayi meninggal. Pada tahun 2011 jumlah bayi
BBLR adalah 394 bayi dengan rincian 299 bayi hidup dan 70 bayi meninggal
dunia.
Tingginya angka kejadian BBLR dapat disebabkan oleh kelahiran premature. Ada
beberapa faktor penyebab premature yaitu faktor maternal adalah penyakit yang
dialami ibu selama mengandung,komplikasi persalinan dan infeksi maternal.
Faktor fetal adalah kehamilan ganda dan malformasi kongenital dan factor
medikal adalah proses kelahiran yang harus dilakukan sebelum waktunya oleh
karena ibu diabetes, penyakit jantung yang parah,hepertinsi,hipoksia fetus.

Jika

komplikasi yang terjadi tidak ditangani dengan segera dan tepat, hal ini dapat
mengakibatkan kematian (Miyata & Proverawati,A. 2010).
Perawatan BBLR di Indonesia masih memprioritaskan pada penggunaan
incubator tetapi keberadaannya masih sangat terbatas. Hal ini menyebabkan
morbiditas dan mortalitas BBLR menjadi sangat tinggi, bukan hanya akibat
kondisi prematuritasnya, tetapi juga diperberat oleh hipotermia dan infeksi
nasokomial. Di sisi lain penggunaan incubator memiliki banyak keterbatasan,
selain jumlahnya yang terbatas Incubator membutuhkan biaya perawatan yang
tinggi serta memiliki tenaga terampil yang mampu mengoperasikannya, dan juga
membutuhkan tenaga perawat terlatih untuk merawat bayi (Suradi,at all, 2009;
Sudarti & Khoirunnisa, 2010).

Akibat penggunaan incubator juga bayi dipisahkan dari ibunya, hal ini akan
menghalangi kontak kulit langsung antara ibu dan bayi yang sangat diperlukan
bagi tumbuh kembang bayi. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode praktis
sebagai alternative pengganti incubator yang secara ekonomis cukup efisien dan
efektif. Metode tersebut adalah perawatan metode kanguru (PMK) (Suradi,at all,
2009).
Kehangatan tubuh ibu merupakan sumber panas yang efektif untuk bayi yang lahir
cukup bulan maupun BBLR. Hal ini terjadi bila terdapat kontak langsung antara
kulit ibu dengan kulit bayi. Prinsip ini dikenal sebagai Skin To Skin Contac atau
metode kanguru (MK). Metode kanguru diperkenalkan pertama kali oleh Rey dan
Martinez dua orang noenatologi dari Bogota, Colombia Amerika Selatan pada
tahun 1979. Metode ini merupakan cara yang sederhana yang bermafaat untuk
meningkatkan kelangsungan

hidup bayi baik sesaat

maupun jangka lama,

terutama BBLR dengan berat 1200-2000 gram (Suradi,at all, 2009).


Metode kanguru (MK) menjadi revolusi perawatan BBLR/bayi kurang bulan
(BKB). Metode ini bermanfaat bagi bayi premature untuk membantu memulihkan
akibat dari prematuritasnya dan menolong orang tua agar lebih percaya diri serta
dapat berperan aktif dalam merawat bayinya. Metode kanguru berperan dalam
perawatan bayi baru lahir secara manusiawi dan meningkatkan ikatan antara ibu
dan bayi (Suradi,at all, 2009).
Penelitian Perawatan Metode Kanguru (PMK) oleh Usman dkk, (1996) dalam
Suradi,R.at.all (2010) menyatakan bahwa kemampuan mempertahankan suhu
serta kenaikan berat badan pada BBLR yang dilakukan PMK menunjukan hasil

yang lebih baik. Oleh karena itu PMK sangat berguna dalam pencegahan
hipotermia dalam perawatan BBLR di Rumah Sakit maupun di rumah.
Penerapan perawatan metode kanguru (PMK) sudah diterapkan di RSUD.
Prof.DR.W.Z.Johannes Kupang sejak tahun 2010, khususnya di ruangan intensif
(NICU dan NHCU) dan ruangan nifas. Di ruangan nifas sudah mempunyai satu
ruangan khusus untuk penerapan perawatan metode kanguru (PMK). PMK
intermiten dilakukan di unit perawatan khusus NICU dan NHCU sedangkan PMK
kontinyu dilakukan di unit rawat gabung (ibu dan bayi dirawat bersama di
ruangan nifas atau ruangan PMK).
Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan metode yang baru

dilaksanakan

dan diterapakan di RSUD. Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang sejak awal tahun
2010 sampai sekarang. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang pengaruh penerapan metode kanguru terhadap
peningkatan suhu tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.

B. Rumusan Masalah
Perawatan dengan metode kanguru merupakan cara yang efektif untuk memenuhi
kebutuhan bayi yang paling mendasar yaitu stabilisasi suhu (suhu tubuh bayi lebih
stabil), stimulasi, pola pernapasan jadi lebih teratur, denyut jantung bayi lebih
stabil, pengaturan perilaku bayi lebih baik misalnya frekuensi menangis bayi
berkurang dan sewaktu bangun bayi lebih waspada, lebih sering bangun minum
ASI dan lama menyusu lebih panjang, pemakaian kalori lebih kurang, kenaikan

berat badan lebih baik, hubungan lekat bayi-ibu lebih baik serta berkurangnya
kejadian infeksi.
Penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK) sudah diterapkan di RSUD.
Prof.DR.W.Z.Johannes Kupang sejak awal

tahun 2010 sampai sekarang,

khususnya di ruangan intensif (NICU dan NHCU) dan ruangan nifas. Berdasarkan
fokus permasalahan tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
apakah ada pengaruh penerapan metode kanguru terhadap peningkatan suhu tubuh
pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Diketahui pengaruh penerapan metode kanguru terhadap peningkatan
suhu tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.

2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran suhu tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR.
W. Z. Johannes Kupang sebelum dilakukan penerapan perawatan
metode kanguru.
b. Diketahuinya gambaran suhu tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR.
W. Z. Johannes Kupang setelah dilakukan penerapan perawatan
metode kanguru.

c. Diketahuinya pengaruh penerapan perawatan metode kanguru


terhadap peningkatan suhu tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR. W.
Z. Johannes Kupang.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai pengaruh
perawatan bayi dengan metode kanguru/lekat terhadap peningkatan suhu tubuh
pada BBLR
2. Bagi Rumah Sakit Umum Prof. DR.W. Z. Johannes Kupang
a. Dapat memberikan informasi mengenai efektifitas perawatan bayi
dengan metode kanguru/ bayi lekat terhadap peningkatan suhu tubuh
pada BBLR
b. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan karena sebagai salah satu
alternative untuk perawatan BBLR

3. Bagi Ibu Bayi BBLR


Dapat menambah pengetahuan sehingga mampu melakukan perawatan bayi
dengan metode kanguru / bayi lekat secara terus menerus baik di rumah sakit
maupaun setelah di rumah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
1. Pengertian
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir kurang
dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi (Miyata & Proverawati,A. 2010).
Sedangkan menurut Saifuddin, et al (2001), bayi berat lahir rendah (BBLR)
adalah bayi baru lahir yang berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram.
WHO, (1961) telah mengganti istilah premature baby dengan low birth weight
baby (BBLR).Sedangkan pada tahun (1970), kongres European Perinatal
Medicine II yang diadakan di London juga di usulkan defenisi untuk mendapatkan
keseragaman tentang maturitas bayi lahir, yaitu sebagai berikut (Proverawati &
Sulistyorini,2010):
a. Bayi kurang bulan adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari
37 minggu (259 hari).
b. Bayi cukup bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 37
minggu sampai 42 minggu (259-293 hari )
c. Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 42
minggu atau lebih (294 hari atau lebih).

2. Klasifikasi BBLR.
Ada beberapa cara dalam mengelompokan bayi dengan berat badan lahir rendah
(BBLR) yaitu (Proverawati, Ismawati & Pantiawati, 2010):
a. Menurut harapan hidup atau berat badan :
1) Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500
2500 gr.
2) Bayi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) berat badan lahir
1000 1500 gr.
3) Bayi berat badan lahir amat sangat rendah (BBLASR) dengan
berat lahir kurang 1000 gr.
b. Menurut masa gestasi atau umur kehamilan :
1) Prematuritas murni adalah: bayi lahir dengan umur kehamilan
kurang dari 37 minggu dan mempunyai

berat badan sesuai

dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonates


Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan (NKB SMK).
2) Dismaturitas adalah : bayi lahir dengan berat badan kurang dari
berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. Dismatur dapat
terjadi dalam :
a) Preterm infant adalah bayi yang lahir pada umur kehamilan
tidak mencapai 37 minggu.
b) Pterm infant atau bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir
pada kehamilan 37-42 minggu.

c) Post term infant atau bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir
pada umur kehamilan sesudah 42 minggu.
Dismatur ini dapat juga :
a) Neonatus Kurang Bulan Kecil untuk Masa Kehamilan.
(NKB-KMK).
b) Neonatus

Cukup

Bulan

Kecil

Masa

Kehamilan

Bulan

Kecil

Masa

Kehamilan

(NCBKMK).
c) Neonatus

Lebih

(NLBKMK).
3. Faktor faktor yang mempengaruhi penyebab Kelahiran Bayi Berat
Badan

Lahir Rendah (BBLR). Menurut Pantiawati

& Proverawati,

Sulistyorini (2010) :
a. Faktor ibu.
1) Penyakit

yang

berhubungan

langsung

dengan

kehamilan.

(Toksemia gravidarum,perdarahan ante partum,trauma

fisik,

psikologis, atau penyakit lain seperti: nephritis akut, diabetes


mellitus, infeksi akut) atau tindakan operatif dapat merupakan
faktor etiologi prematuritas.
2) Usia
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia ibu dibawah 20 tahun atau
lebih dari 35 tahun dan pada multi gravidarum,yang jarak antar kelahirannya
terlalu dekat.

3) Plasenta antara lain: plasenta previa dan solusio plasenta, sindrom


transfuse bayi kembar (sindrom parabiotik), berat plasenta
berongga atau berkurang (hidramion).
b. Keadaan sosial ekonomi.
Keadaan ini sangat perperan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi
terdapat pada golongan social ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan oleh
keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan anternatal yang kurang.
c. Faktor janin.
Hidramion, kehamilan ganda, ketuban pecah dini, insufiensi plasenta umumnya
akan mengakibatkan lahir bayi BBLR.
d. Faktor lingkungan.
Bertempat tinggal di dataran tinggi, terkena radiasi, terpapar zat beracun.
Selain faktor faktor penyebab BBLR diatas, penyebab terjadinya BBLR
digolongkan berdasarkan tipe BBLR yaitu : (Proverawati, Ismawati, 2010).
a. BBLR tipe KMK, disebabkan oleh :
1) Ibu hamil yang kekurangan gizi.
2) Ibu memiliki hipertensi, preek lampsia, atau anemia.
3) Kehamilan kembar.
4) Malaria kronik, penyakit kronik.
5) Ibu hamil merokok.
b. BBLR tipe premature, disebabkan oleh :
1) Berat badan ibu yang rendah, ibu hamil yang masih remaja,
kehamilan kembar.

10

2) Pernah melahirkan bayi premature sebelumnya.


3) Cervical imcompetence

(mulut rahim yang lemah hingga tak

mampu menahan berat bayi dalam rahim).


4) Perdarahan

sebelum

atau

saat

persalinan

(anterpartum

hemorrhagie).
5) Ibu hamil yang sedang sakit.
6) Kebanyakan tidak diketahui penyebabnya.
4. Gambaran Bayi Berat Badan Lahir rendah (BBLR) Secara Klinis.
Gambaran fisik BBLR pada umumnya menunjukkan ukuran tubuh yang mungil
karena berat badan lahir yang rendah kurang dari 2500 gr, umur kehamilan
kurang dari 37 minggu, lingkar dada kurang dari 30 cm, panjang kurang dari 45
cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm. tubuh tampak kurus dan lemah. Ukuran
kepala pada BBLR lebih besar dari badan.

Gambaran klinis pada kulit dan

kelamin ; bahwa kulit tampak tipis dan transparan, terdapat

banyak rambut

lanugo, lemak kurang, genitalia belum sempurna dimana labia mayora belum
menutupi labia minora pada bayi wanita. Sedangkan pada bayi laki-laki testis
belum turun ke dalam skrotum dan skrotum belum banyak lipatan (Proverawati,
Ismawati, 2010).
Pada sistem fungsi syaraf

yang belum atau kurang matur mengakibatkan

reflex mengisap, menelan dan tangisnya masih lemah, koordinasi mengisap dan
menelan pada bayi

terbentuk sampai usia gestasi mencapai 32 sampai

34

minggu. Sedangakan pada system muskuloskletal bayi gambaran ubun-ubun


dan sutura lebar, tulang tenggorak dan tulang rusuk lunak, tulang rawan telinga

11

sangat lunak karena belum tumbuh dengan sempurna, rajah telapak kaki lebih
dari 1/3 bagian, rajah telapak tangan kurang dari 1/3 bagian atau belum terbentuk.
serta gerakan lemah dan tidak aktif atau latergik. Pada system pernapasan BBLR
belum teratur, dangkal, dan frekwensi

pernapasan bervariasi. Pernapasan

diafragmatik intermiten atau periodic (40 60 X/ menit). Suhu tubuh BBLR yang
tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan, ini disebabkan oleh
penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di bawah kulit,
permukaan tubuh yang relative lebih luas dibandingkan berat badan serta pusat
pengaturan suhu tubuh belum berfungsi sebagaimana mestinya. pada system
kardiovaskuler, denyut jantung rata-rata 120-160 X/ menit pada bagian apikal
dengan retme yang teratur pada saat kelahiran (Karyuni,Meiliya,2008 &
Pantiawati, 2010).
5. Faktor resiko yang sering terjadi pada BBLR.
Berdasarkan tingkat kematangan fungsi sistim organ neonates merupakan syarat
untuk dapat beradaptasi dengan kehidupan diluar rahim. Penyakit yang terjadi
pada bayi premature berhubungan dengan belum maturnya fungsi organ-organ
tubuhnya. Hal ini berhubungan dengan umur kehamilan saat bayi dilahirkan.
Makin muda umur kehamilan , makin tidak sempurna organ-organnya.
Konsekwensi dari anatomi dan fisiologi yang belum matur, bayi premature
cenderung mengalami masalah yang bervariasi. Hal ini harus diantisipasi dan
dikelolah pada masa neonatal. Adapun masalah-masalah yang terjadi adalah
sebagai berikut (Kosim, dkk, 2010):

12

a. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kemampuan untuk


mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas
sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum cukup
memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya system
saraf pengatur suhu tubuh, permukaan tubuh yang relatif lebih luas
dibandingkan dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas.
b. Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada
bayi premature. Hal ini di sebabkan oleh

belum sempurnanya

pembentukan membrane hialin surfaktan paru yang merupakan suatu


zat yang dapat menurunkan tegangan

dinding alviole paru.

pertumbuhan surfaktan paru mencapai maksimum pada minggu ke35 kehamilan. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita
bayi prematur adalah penyakit membran hialin dan aspirasi
pneumonia.Di samping itu

sering

timbul pernapasan periodik

(pheriodic breath) dan apnea yang disebabkan oleh pusat pernapasan


di medulla belum matur.
c. Kadar gula darah pada 12 jam pertama

menunjukkan bahwa

hipoglikemia dapat terjadi sebanyak 50% pada bayi matur. Glukosa


merupakan

sumber utama energy selama masa janin. Kecepatan

glukosa yang diambil janin tergantung dari kadar gula darah ibu
karena terputusnya

hubungan plasenta dan janin menyebabkan

terhintinya pemberian glokosa. Bayi aterm dapat mempertahankan


kadar gula darah 50 60 mg/dl selama 72 jam pertama, sedangkan

13

bayi barat badan lahir rendah (BBLR) dalam kadar 40% mg/dl. Hal
ini disebabkan

cadangan glikogen

yang belum mencukupi.

Hipoglikemia bila kadar gula darah sama dengan atau kurang dari
20mg/dl.
d. Perdarahan intracranial pada bayi prematur karena pembuluh darah
masih sangat rapuh sehingga mudah pecah. Perdarahan intracranial
dapat terjadi karena trauma lahir, disseminated intravascular
coagulopathy atau trombositopenia idiopatik.
e. Gangguan imunologik, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang
karena rendahnya kadar IgG gamma glubolin selain itu kulit dan
selaput lendir membrane tidak memiliki perlindungan seperti bayi
cukup bulan.
f. Belum

maturnya

fungsi

hepar

memudahkan

terjadinya

hiperbilirubinemia. Kurangnya enzim glukorinil transferase sehingga


konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum sempurna,
dan kadar albumin darah yang berperan dalam transportasi bilirubin
dari jaringan ke hepar kurang. Kadar bilirubin normal pada bayi
premature 10mg/dl.
g. Lemak subkutan kurang atau sedikit, struktur kulit yang belum
matang dan rapuh ,sensitivitas

yang kurang akan memudahkan

terjadinya kerusakan integritas kulit, terutama

pada daerah yang

sering tertekan dalam waktu lama. (Pantiawati, 2010)


6. Pola perawatan BBLR di rumah sakit.

14

Salah satu ciri dari BBLR adalah memiliki suhu yang tidak stabil dan
cenderung hipotermia (suhu< 360C). Stres dingin dapat mengakibatkan
angka kematian

dan menghambat pertumbuhan. Suhu yang cederung

hipotermia disebabkan oleh kemampuan untuk mempertahankan panas dan


kesanggupan untuk menambah produksi panas sangat terbatas karena
pertumbuhan otot-otot yang belum cukup memadai. Panas yang kurang
disebabkan juga karena sirkulasi belum sempurna, respirasi BBLR yang
masih lemah, konsumsi oksigen yang rendah, dan asupan makanan yang
kurang. Kehilangan panas pada BBLR juga terjadi akibat permukaan
tubuh yang relatif lebih luas dibanding dengan berat badan dan lemak sub
kutan yang kurang serta belum matangnya system saraf pengatur suhu
tubuh ( Karyuni, Meiliya,2008Pantiawati,2010).
Pada bayi

BBLR yang harus dilakukan tindakan penanganan di

rumah sakit, juga tergantung pada kondisi bayi masing-masing.


dengan BBLR akan segara diperiksa

Bayi

fungsi organ-organ tubuhnya

terutama paru-paru dan jantung. Sebelum mencapai berat badan yang


cukup, bayi BBLR biasanya memerlukan

perawatan intensif dalam

incubator. Bayi yang diletakan didalam incubator harus

diatur sesuai

suhu inkubator menurut umur dan berat badan bayi. Pengaturan suhu
incubator pada bayi BBLR adalah (Sudarti & Khoirunnisa,2010):
a. Berat badan < 1500 gr dengan umur 1-10 hari maka suhu incubator
350 C, umur 11 hari 3 minggu maka suhu incubator 340 C, umur 3-5

15

minggu maka suhu incubator 330C, dan umur >5 minggu maka suhu
incubator 320 C.
b. Berat badan 1500-2000 gr dengan umur 1-10

hari maka suhu

incubator 340C, umur 11 hari 4 minggu maka suhu incubator 330C,


dan umur > 4 minggu suhu incubator 320C.
c. Berat badan 2100-2500 gr dengan umur 12 hari maka suhu incubator
340 C, umur 3 hari 3 minggu maka suhu incubator 330C dan umur >
3 minggu maka suhu incubator 320C.
d. Berat badan > 2500 gr dengan umur 1-2 hari maka Suhu incubator
330C, umur >2 hari maka suhu incubator 320C. Bila jenis incubator
berdinding tunggal, naikkan suhu incubator 10C setiap perbedaan suhu
70C antara suhu ruang dan incubator (Sudarti & Khoirunnisa, 2010).
Periksa suhu incubator dengan menggunakan thermometer ruangan
dan ukur suhu axila tiap jam dalam 8 jam pertama, kemudian tiap 3 jam,
bila suhu axsila <36,50 C atau >37,50 C maka atur suhu incubator
secepatnya. Bila suhu incubator tidak sesuai dengan suhu yang sudah
diatur, maka incubator tidak berfungsi dengan baik. Atur suhu incubator
sampai tercapai suhu yang kita kehendaki atau gunakan cara lain untuk
menghangatkan bayi, dan jika diperlukan bayi dapat diberikan oksigen .
Cara lain dalam mengatasi kondisi hipotermia pada bayi baru lahir adalah
dengan metode kanguru (metode bayi lekat), dimana bayi dilekatkan ke
kulit ibu (dada ibu) sehingga ada transfer panas dari ibu ke bayi. Suhu ibu

16

akan meningkat bila bayi mulai dingin dan bila bayi telah hangat
maka suhu ibu akan menurun kembali. (Sudarti & Khoirunnisa,2010).
Bayi

yang mengalami

hipertermia

didinginkan

dengan

cara

menghilangkan sumber panas dari lingkungan dekat bayi (sinar matahari,


lampu penghangat, suhu incubator) dan semua perlengkapan bayi yang
dapat menghambat keluarnya panas tubuh bayi BBLR seperti : selimut,
topi, ataupun pembungkus (Djelantik at all,2003).
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) sangat rentang terhadap
infeksi karena

daya tahan tubuh

bayi BBLR

yang masih

rendah.

Kemampuan leukosit masih kurang, kadar immunoglobulin serum yang


rendah, dan pembentukan antibody yang belum sempurna membuat BBLR
sangat mudah terserang infeksi (Sudarti & Khoirunnisa, 2010). Infeksi
yang sering menyerang BBLR selama dalam perawatan di rumah sakit
adalah infeksi nosokomial.

Hal ini di karenakan tidak

adekuatnya

system imun,aktivitas bakterisidal neutrofil dan efek sitotoksik limfosit


juga masih rendah, posisi bayi yang sering berpindah-pindah tangan, cara
mencuci tangan yang tidak aseptic,bayi dirawat bersama dalam satu
incubator suatu hal yang masih terjadi di negara berkembang, bayi
terlalu lama dirawat di rumah sakit, rasio perawat - pasien tidak seimbang
dan kondisi perawatan incubator yang belum sepenuhnya memenuhi
standar. (Suradi,at all, 2009 ; Desmawati, 2011).
Bagi bayi ASI

adalah sumber nutrisi yang utama, baik dan

terlengkap, kandungan nutrisinya yang unik menyebabkan ASI memiliki

17

keunggulan yang tidak dapat ditiru oleh susu formula apapun. Nilai nutrisi
ASI lebih besar di banding susu formula, karena mengandung lemak,
karbohidrat, protein, dan air dalam jumlah yang tepat untuk pencernaan,
perkembangan otak, dan pertumbuhan bayi. Jenis asam lemak yang
terdapat didalam ASI mempunyai pengaruh terhadap perkembangan otak
yang menyebabkan kemampuan melihat dan fungsi kognitif bayi
berkembang lebih awal.

selain itu ASI adalah nutrisi ideal untuk

menunjang kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan bayi secara


optimal,. Tidak ada hal yang lebih bernilai dalam kehidupan seorang anak
selain memperoleh nutrisi yang berkualitas sejak awal kehidupannya.
(Suradi,at all, 2010).
7. Peran ibu dalam perawatan bayi BBLR di rumah sakit.
Rawat gabung adalah membiarkan ibu dan bayinya bersama terus menerus.
Melakukan rawat gabung segera pada bayi baru lahir sangat penting dalam
memulai kegiatan menyusui. Pelayanan ini kelihatannya sederhana tapi sangat
membantu ibu dan bayi untuk sukses melewati masa-masa sulit di awal kelahiran.
Ibu mengenal tanda-tanda bayi ingin minum, dan segera memberi ASI pada bayi
hingga bayi bisa menyusui kapan saja. Pola perawatan bayi BBLR yang dapat
dilakukan

oleh

ibu

selama

di

rumah

sakit,

pada

prinsipnya

adalah

mempertahankan suhu bayi agar tetap normal, meningkatkan pemberian ASI dan
mengurangi resiko infeksi serta meningkatkan ikatan kasih saying antara ibu dan
bayi. (Sidi, at all, 2004 & Suradi, at all, 2010).
Pola perawatan yang dapat dilakukan oleh ibu diuraikan sebagai berikat :

18

a. Menjaga BBLR tetap hangat.


Menjaga kehangatan tubuh bayi agar tidak terserang hipotermia dapat dilakukan
dengan cara mengeringkan bayi berat lahir rendah (BBLR) segera setelah dilab
dengan menggunakan kain kering dan bersih. Untuk menjaga agar suhu BBLR
dapat tetap stabil maka bayi memerlukan kehangatan dan kedekatan sebagai
hubungan ikatan kasih sayang pada ibunya. Meletakkan dan mendekapkan bayi
di dada ibu merupakan salah satu cara mentransfer panas agar menjaga tubuh
bayi tetap hangat, karena bayi berat badan lahir rendah mudah sekali kedinginan,
dan serangan dingin dapat menyebabkan kematian pada BBLR. Ibu harus menjaga
bayi tetap hangat dengan kontak langsung ibu dan bayi. Kontak langsung kulit
bayi dan ibu menyebabkan panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi. Sering
mendekap bayi di dada ibu akan memperkuat ikatan batin ibu dan bayi secara dini
dan memudahkan bayi untuk menyusu ke payudara ibu (Djelantik, at all,2003 &
Proverawati , Sulistyorini,2010).
b. Mengurangi resiko infeksi pada BBLR.
Adanya kontak kulit dengan kulit antara bayi dan ibunya memungkinkan bayi
terpapar pada bakteri-bakteri normal pada kulit ibu, yang dapat melindungi bayi
terhadap kuman-kuman berbahaya. Kolostrum yang

mengandung banyak

antibody, yang segera di dapat bayi, juga melindungi bayi terhadap penyakit
infeksi. Selain itu mencegah infeksi pada bayi BBLR dapat dilakukan dengan
tindakan preventif melalui cuci tangan dengan sabun setiap kali akan memegang
bayi,merawat talipusat, serta

menggantikan

popok yang basah , hal ini

19

dikarenakan BBLR sangat rentang dengan penyakit karena pertahanan tubuh


yang tidak adekuat (Djelantik, at all,2003 & Proverawati , Sulistyorini,2010).
c. Meningkatkan pemberian ASI.
Perawatan bersama (rooming in) sangat penting kerena ibu dapat memberi ASI
sedini mungkin, semakin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI (sinus
laktiferus), semakin banyak produksi ASI. Dengan kata lain, makin sering bayi
menyusui makin banyak ASI diproduksikan. Sehingga memudahkan ibu untuk
menyusui bayi lebih lama. Ibu mengerti mengapa berada di suatu ruangan dengan
bayi, merupakan hal yang penting dan sangat diperlukan untuk sebuah proses
menyusui. Adanya kontak terus -menerus antara ibu dan bayinya memungkinkan
ibu segera mengenali tanda-tanda bayinya ingin minum dan lebih besar
kemungkinannya menyusui eksklusif dibandingkan ibu yang tidak melakukan
rawat gabung. Perbedaan ASI pada bayi premature menghasilkan perbedaan IQ
sebanyak 5,18 poin lebih tinggi dibanding dengan bayi yang mendapat susu
formula. ASI dapat member perlindungan

kepadabayi melalui berbagai

komponen zat kekebalan yang dikandungnya. Mendapatkan Air Susu Ibu (ASI)
merupakan salah satu hak asasi bayi yang harus dipenuhi. (Hegar, at all, 2008).
d. Meningkatkan ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi.
Dengan rawat gabung maka antara ibu dan bayi akan terjalin proses
lekat (early infant mother bonding) akibat sentuhan badaniah antara
ibu dan bayinya.

Hal ini sangat mempengaruhi psikologis bayi

selanjutnya. Karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental


yang mutlak

dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan

20

terlindung ,merupakan dasar terbentuknya rasa percaya pada diri


dikemudian hari. Ikatan batin yang lebih erat antara ibu dan bayi
selama menyusui juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi
kecerdasan anak. Dengan pemberian ASI eksklusif ibu merasakan
kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya,yang tidak
dapat digantikan oleh orang lain. Ibu akan merasa bangga karena
dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri (Venancio & de
Almeida, 2004; Suradi, at all, 2010).
B. Tinjauan Umum Tentang Perawatan Metode Kanguru (PMK)
1. Pengertian
Perawatan metode kanguru (PMK) adalah cara merawat bayi
dalam keadaan telanjang (hanya memakai popok dan topi) diletakkan
secara tegak/vertical di dada antara dua payudara ibunya (ibu telanjang
dada, kemudian diselimuti dengan baju).

Dengan demikain , terjadi

kontak kulit bayi dengan kulit ibu secara kontinyu dan bayi memperoleh
panas (sesuai suhu ibunya) melalui proses konduksi (Djelantik, at all,
2003).
Cataneo (1998) menegaskan pentingnya kontak kulit bayi ke ibu
yang terus menerus dan berkelanjutan (hanya dipisah ketika ibu ke kamar
mandi atau mengikuti pemeriksaan
menekankan bahwa kontak

medis lain). Levin (1998)

itu harus 24 jam untuk disebut sebagai

KMC. KMC adalah kontak kulit di antara ibu dan bayi secara dini,terus

21

menerus dan dikombinasi dengan pemberian ASI eksklusif. Tujuannya


agar bayi kecil tetap hangat. (Sudarti & Khoirunnisa, 2010)
Perawatan metode kanguru (PMK) pertama kali diperkenalkan oleh Rey dan
Martinez di Bogota, Columbia Amerika Latin pada tahun 1978, dan dari
penemuan tersebut akhirnya diketahui bahwa cara skin to skin contact (kontak
kulit bayi langsung kepada ibu/pengganti ibu) dapat meningkatkan kelangsungan
hidup bayi terutama yang mengalami BBLR/prematur. (Suradi, at all, 2009).
2. Komponen metode kanguru
Pada awalnya, PMK terdiri dari 3 komponen, yaitu; kontak kulit ke kulit (skin-toskin contact), pemberian ASI (breastfeeding),dan dukungan terhadap ibu
(support). Pada literature terbaru menambahkan satu komponen lagi sehingga
Perawatan metode kanguru (PMK) ini menjadi 4 komponen yaitu: kangaroo
position.

Kangaroo

nutrition,

kangaroo

support,

kangaroo

discharge

(pemulangan) (Suradi, at all, 2008, & Suradi, at all, 2010) .


a. Kangaroo position (posisi) menempatkan bayi pada posisi tegak di
dada ibunya, di antara kedua payudara ibu,tanpa busana. Bayi
dibiarkan telanjang hanya mengenakan popok, kaus kaki dan topi
sehingga terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin. Posisi
bayi diamankan dengan kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala
bayi dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit
tengadah (ekstensi). Ujung pengikat tepat berada di bawah kuping
bayi. Posisi kepala seperti ini bertujuan untuk menjaga agar saluran

22

napas tetap terbuka dan memberi peluang agar terjadi kontak mata
antara ibu dan bayi.
b. Kangaroo nutrition (nutrisi) merupakan salah satu manfaat PMK,
yaitu meningkatkan pemberian ASI secara langsung bila bayi sudah
siap mengisap maupun dengan

pemberian ASI perah, yang bisa

diberikan dengan pipet, gelas, sendok bilamana bayi belum siap


mengisap. Posisi ini sangat ideal bagi proses menyusui. Dengan Posisi
kangaroo nutrition ini dapat meningkatkan volume ASI, sehingga bayi
dapat menyusui sesuai dengan keinginan bayi dan prosesnya yang
lebih lama. Dengan melakukan metode ini proses menyusui menjadi
lebih berhasil dan sebagian besar bayi yang dipulangkan memperoleh
ASI eksklusif.
c. Kangaroo support merupakan bentuk dukungan secara fisik maupun
secara emosional. Dukungan dapat diperoleh dari tenaga kesehatan.
Seluruh anggota keluarga dan masyarakat sehingga ibu dapat
melakukan metode ini untuk bayinya dengan baik dan benar . Tanpa
adanya dukungan, akan sangat sulit bagi ibu untuk dapat melakukan
PMK ini dengan berhasil dan dengan metode ini diharapkan rasa
cemas ibu akan berkurang dan tumbuh rasa percaya diri ibu.
d. Kangaroo

discharge

(pemulangan)

adalah

membiasakan

ibu

melakukan PMK selama masih dalam perawatan sehingga saat ibu


pulang dengan bayi, diharapkan ibu paham dan tetap melakukan PMK
sarta melanjutkannya di rumah. Bayi yang di rawat dengan metode

23

kanguru akan pulang lebih awal dan biaya yang di keluarkan lebih
rendah serta beban tugas kesehatan menjadi lebih ringan. Adapun
bayi PMK yang dipulangkan dari rumah sakit telah memenuhi criteria
: kesehatan bayi secara keseluruhan dalam kondisi baik (tidak apnea
dan infeksi), bayi dapat minum dengan baik, berat badan bayi selalu
bertambah (sekurang-kurangnya 20-40 gr/kg/hari) untuk tiga hari
berturut-turut, ibu mampu merawat bayi dan dapat kembali secara
teratur melakukan follow-up (Djelantik, at all, 2003; Suradi, 2008).
3. Manfaat dan keuntungan PMK.
Adapun manfaat dan keuntungan PMK antara lain dapat

menstabilkan suhu

tubuh, pernapasan dan denyut jantung bayi, perlindungan bayi dari infeksi,
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi,berat badan bayi cepat naik,
meningkatkan keberhasilan

pemberian ASI, stimulasi dini, kasih sayang,

menurunkan angka kematian neonatal (AKN), mengurangi biaya rumah sakit


karena waktu perawatan yang pendek,tidak memerlukan incubator dan efisiensi
tenaga kesehatan. (Suradi;Proverawati & Ismawati, 2010).
Sedangkan manfaat lain pada penerapan PMK ini adalah:
a. Memberikan manfaat khususnya terhadap bayi-ibu dan bayi-ayah.
Manfaat yang dirasakan langsung oleh bayi-ibu adalah menjaga
kehangatan agar suhu tetap normal, mempercepat pengeluaran ASI,
menete lebih panjang, berat badan dan daya tahan tubuh bayi
meningkat, serta menjalin ikatan batin antara ibu dan bayi, sedangkan
bayi-ayah, ayah memberikan peran yang lebih besar dalam perawatan

24

bayinya dan meningkatkan hubungan kasih saying antara bayi dan


ayah, serta memberikan psikologis ketenangan bagi ibu, ayah dan
keluarga. (Suradi,at all, 2008).
b. Petugas kesehatan. Bagi petugas kesehatan paling sedikit akan
bermanfaat dari segi efisiensi tenaga karena ibu lebih banyak merawat
bayinya sendiri.Dengan demikian beban kerja petugas akan
berkurang. Bahkan petugas dapat melakukan pekerjaan lain yang
memerlukan perhatian petugas terutama pada kegawatan bayi dan
memberikan dukungan kepada ibu dalam menerapkan PMK.
(Catttaneo, Davanco, Begman, 1998 di kutip dalam Suradi, 2008).
c. Institusi kesehatan,klinik, rumah sakit. Manfaaf bagi fasilitas
pelayanan dengan penerapan PMK yaitu lama perawatan lebih pendek
sehingga ibu cepat pulang. Dengan demikian, tempat tersebut dapat
digunakan bagi klen lain yang memerlukan pelayanan terutama
fasilitas. (Cattaneo, Davanco, Bergman,1998 dikutip dalam Suradi,
2008).
d.

Bagi Negara. Kerena penggunaan ASI meningkat,dan bila hal ini


dapat dilakukan dalam skala makro maka dapat menghemat devisa
(import

susu

formula).

Demikian

pula

dengan

peningkatan

pemanfaatan ASI kemungkinan bayi sakit lebih kecil dan ini tentunya
menghemat biaya perawatan kesehatan yang dilakukan di fasilitas
kesehatan pemerintah maupun swasta. (Suradi, 2008).
4. Perawatan PMK

25

Perawatan dengan metode kanguru merupakan cara yang efektif


untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling mendasar yaitu stabilisasi
suhu (suhu tubuh bayi lebih stabil), pola pernapasan jadi lebih teratur,
denyut jantung bayi lebih stabil, pengaturan perilaku bayi lebih baik
misalnya frekuensi menangis bayi berkurang dan sewaktu bangun bayi
lebih waspada, lebih sering bangun minum ASI dan lama menete lebih
panjang, pemakaian kalori lebih kurang, kenaikan berat badan lebih baik,
hubungan lekat bayi-ibu lebih baik serta berkurangnya kejadian infeksi.
(Suradi, Yanuarso, 2000 di kutip dalam Djelantik, at all, 2003).
Perawatan metode kanguru dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
a. Perawatan metode kanguru (PMK) intermiten : Bayi dengan penyakit
atau kondisi berat yang membutuhkan perawatan intensif atau khusus
di ruang rawat neonatologi,bahkan mungkin memerlukan bantuan
alat. Bayi dengan kondisi ini, PMK tidak diberikan sepanjang waktu
tetapi hanya dilakukan jika ibu mengunjungi bayinya yang masih
berada dalam perawatan di incubator. PMK ini dilakukan dengan
durasi minimal 1 jam, secara terus menerus per hari. Setelah bayi
lebih stabil, bayi dengan PMK intermiten dapat dipindahkan ke ruang
rawat untuk menjalani PMK kontinyu.
b. Perawatan metode kanguru (PMK) kontinyu: Pada PMK kontinyu,
kondisi bayi harus dalam keadaan stabil, pola pernapasan baik atau
bernapas secara alami tanpa bantuan oksigen. Penerapan PMK ini
diberikan sepanjang waktu atau dilakukan berangsur-angsur sampai

26

24 jam,yang dapat dilakukan di unit rawat gabung atau ruangan


yang dapat dipergunakan untuk perawatan metode kanguru. Bayi
dikeluarkan dari gendongan bila akan mengganti popok, perawatan
tali pusat atau perlu pemeriksaan dokter,dan jika ibu akan mandi.
Selama perpisahan antara ibu dan bayi, bayi dibungkus rapat agar
tidak kedinginan atau bisa diserahkan kepada ayah, nenek. Namun
tetap yang terbaik adalah sentuhan kulit ibu. (Suradi,at all, 2008;
Suradi,at all, 2010).
5. Pelaksanaan metode kanguru.
Metode kanguru bisa di mulai apabila ibu dan bayi sudah merasa cukup sehat.
Pada bayi yang kondisi dalam keadaan stabil metode bisa dimulai segera setelah
pemotongan tali pusat dan perawatan tali pusat. Untuk bayi premature yang
sering terjadi komplikasi maka sebaiknya ditunda sampai kondisi bayi stabil. Jadi
saat yang tepat untuk memulai metode ini sangat individual tergantung umur
krhamilan, berat lahir, umur postnatal, berat penyakit yang diderita bayi dan
kondisi ibu. WHO (2002) membuat membuat pedoman berdasarkan berat badan
dan umur kehamilan yaitu : bayi dengan berat badan 1800 gr atau lebih, dengan
umur kehamilan > 30-31 minggu, perlu dilakukan perawatan khusus terlebih
dahulu setelah kondisi bayi membaik maka bisa dilakukan metode kanguru. Bayi
dengan berat badan

1200-1799 gr, dengan umur kehamilan 28-32 minggu,

berbagai permasalahan prematuritas sering terjadi. Oleh karena itu, pada kasus ini
diperlukan perawatan khusus sedini mungkin. Persalinan sebaiknya dilakukan di
fasilitas dengan penataan yang baik dan dapat menyediakan perawatan yang

27

intensif. Sebelum dilakukan PMK, pernapasan

dan sirkulasi bayi distabilkan

terlebih dahulu. Diperlukan waktu seminggu atau lebih untuk bisa memulai
metode ini. Bayi dengan berat badan , 1200 gr, umur kehamilan < 30 minggu
membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memulai metode ini. (Djelantik,
at all, 2003 dan Suradi, at all, 2008).
6. Persiapan yang diperlukan untuk melakukan Metode Kanguru.
Persiapan yang diperlukan untuk melakukan metode kanguru menyangkut 3 hal :
a. Ibu dan bayi : kondisi dan keberadaan ibu

setelah melahirkan

merupakan persyaratan utama. Harus ada pengganti ibu yang secara


fisik dan mental sehat, mampu dan mau melakukan

perawatan

metode kanguru. Bayi setelah melewata masa krisis

dan dalam

keadaan yang stabil sudah bisa dirawat oleh ibunya dengan metode
kanguru. Pakaian ibu dan bayi tidak memerlukan pakaian yang
khusus, ibu hanya mengenakan baju yang terbuka depan dan untuk
bayinya menggunakan popok, topi, kaus kaki. Agar posisi bayi tetap
melekat didada ibu maka dapat menggunakan kain lebar yang elastic,
atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi.
Dapat pula memakai baju dengan ukuran yang lebih besar dari badan
ibu, bayi diletakan diantara payudara ibu dan baju ditangkupkan.
Kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan diperut ibu dengan
tidak terlalu menekan perut ibu agar bayi bisa bergerak dan bernapas.
b. Tempat atau instansi.

28

PMK terutama digunakan pada perawatan BBLR/premature dibeberapa rumah


sakit dengan kategori sebagai berikut:
1) RS yang tidak memiliki fasilitas untuk merawat bayi BBLR. Pada
keadaan ini PMK merupakan satu-satunya pilihan perawatan
karena jumlah incubator dan perawat tidak memadai.
2) RS yang memiliki tenaga dan fasilitas tetapi terbatas, dan tidak
mampu merawat semua bayi BBLR. PMK menjadi pilihan jika
dibandingkan

dengan

perawatan

konvensional

dengan

menggunakan incubator.
3. RS yang memiliki tenaga dan fasilitas yang memadai. Disini, PMK bermanfaat
untuk meningkatkan ikatan antara ibu dan bayi, mengurangi resiko infeksi,
meningkatkan ASI dan mempersingkat lama perawatan di rumah sakit. Suradi, R.
at all,( 2008).
Metode kanguru bisa dilakukan

pada tempat pelayanan persalinan ditingkat

paling bawah sampai rumah sakit rujukkan. Harus ada kebijakkan tertulis di
tingkat nasional , daerah dan institusi yang bersangkutan dari pimpinan yang
menyatakan

metode kanguru

sebagai

salah satu metode alternative bagi

perawatan bayi premature, dan perlu dilakukan evaluasi atas pelaksanaan metode
ini. (Suradi, R. at all, 2008).
c. Dukungan lingkungan : untuk keberhasilan metode ini diperlukan
dukungan dari petugas kesehatan selama masih berada di rumah sakit.
Di rumah dukungan pihak keluarga sangat diperlukan agar ibu diberi

29

kesempatan untuk banyak istirahat, tidur yang cukup dan aktifitasnya


hanya berkaitan dengan perawatan bayinya. (Suradi, R.at all, 2009).
7. Tahap-tahap dalam pelaksanaan PMK
Tahap-tahap dalam pelaksanaan PMK adalah (Proverawati &
Ismawati, 2010) :
a. Mencuci tangan ,keringkan dan gunakan gel hand rub
b. Mengukur suhu bayi dengan thermometer.
c. Memakaikan baju kanguru pada ibu.
d. Memasukkan bayi dalam posisi kanguru, menggunakan topi popok
dan kaus kaki yang telah dihangatkan terlebih dahulu.
e. Meletakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit
ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan
bayi dengan siku dan tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak
di dada ibu dengan kepala agak sedikit mendongak.
f. Dapat pula ibu memakai baju

dengan ukuran besar, dan bayi

diletakkan di antara payudara ibu, baju ditangkupkan , kemudian ibu


memakai selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak jatuh.
g. Setelah posisi bayi baik, baju kanguru diikat untuk menyangga bayi.
Selanjutnya ibu bayi dapat beraktifitas seperti biasa sambil membawa
bayinya dalam posisi tegak lurus di dada ibu (skin to skin contact)
seperti kanguru.
8.

Pemulangan dan perawatan di rumah

30

Pada bayi PMK dapat dipulangkan dari Rumah Sakit ketika telah memenuhi
criteria dibawah ini:
a. Bayi dapat minum dengan baik
b. Suhu badan stabil dalam posisi PMK, bila suhu normal selama 3 hari
berturut-turut, ukur suhu tubuh setiap 12 jam selama 2 hari kemudian
hentikan pengukuran.
c.

berat badannya bertambah (sekurang-kurangnya 15 gram/Kg/hari)


untuk sekurang-kurangnya tiga hari berturut-turut.

d. Kesehatan bayi secara keseluruhan dalam kondisi baik dan tidak ada
apneu atau infeksi.
e. Ibu mampu merawat bayi dan dapat datang secara teratur untuk
melakukan pemantauan, frekuensi kunjungan dapat bervariasi pada
mulanya setiap hari kemudian setiap minggu sampai dengan setiap
bulan dan harus dipastikan adanya follow up secara teratur oleh
petugas kesehatan terlatih yang tinggal berdekatan dengan tempat
tinggal ibu.
f. Terdapat batasan berat badan bayi minimum yakni 1,500 gram
g. Bayi yang dipulangkan dengan berat badan < 1.800 gram dipantau
setiap minggu dan dilakukan minimal di Rumah Sakit Daerah
sedangkan bayi dengan berat badan >1.800 gram dipantau setiap dua
minggu boleh dilakukan di Puskesmas (Suradi, at all, 2008).
Para ibu juga membutuhkan cara yang mudah untuk mencapai tempat
perawatan yang dilakukan oleh petugas terlatih dalam rangka konsultasi

31

dan dukungan yang berhubungan dengan bayinya yang kecil. Paling tidak
harus ada satu kali kunjungan ke rumah oleh perawat kesehatan umum
untuk memantau kondisi rumah, dukungan terhadap bayi di rumah, dan
kemampuan sang ibu untuk bepergian dalam rangka melakukan follow
up. (Djelantik. at all, 2003).
Jika memungkinkan ada kelompok di masyarakat yang mendukung
ibu dengan bayi prematur atau BBLR. Kelompok ini memberi dukungan
social, psikologis dan dukungan dengan ibu dalam melakukan pekerjaan
rumah. Ibu-ibu yang punya pengalaman melakukan PMK dapat menjadi
pelatih atau konsultan yang efektif dalam kelompok tersebut (Djelantik.
at all, 2003).

C. Tinjauan Tentang Suhu Tubuh


1. Definisi suhu tubuh
Adalah keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan
pelepasan panas dari tubuh (Tamsuri,2006).
2. Jenis suhu tubuh
a. Core temperatur (Suhu inti )
Suhu pada jaringan dalam dari tubuh, seperti kranium, thorax,
rongga abdomen dan rongga pelvis.
b. Surface temperatur
Suhu pada kulit, jaringan subcutan, dan lemak. suhu ini berbeda,
naik turunnya tergantung respon terhadap lingkungan.

32

3. Suhu tubuh normal


Pada

manusia, nilai normal tradisional untuk suhu tubuh oral

adalah 37C (98,6F), tetapi pada sebuah penelitian kasar terhadap orangorang muda normal, suhu oral pagi hari rerata adalah 36,7 C dengan
simpang baku 0,2 C. Dengan demikian, 95% orang dewasa muda
diperkirakan memiliki suhu oral pagi hari sebesar 36,30C 37,1C.
Berbagai bagian tubuh memiliki suhu yang berlainan, dan besar
perbedaan suhu antara bagian-bagian tubuh dengan suhu lingkungan
bervariasi. Ekstremitas umumnya lebih dingin daripada bagian tubuh
lainnya. Suhu rectum dipertahankan secara ketat pada 32C. Suhu rectum
dapat mencerminkan suhu pusat tubuh (Core temperature) dan paling
sedikit di pengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan. Suhu oral pada
keadaan normal 0,5C lebih rendah dari pada suhu rectum (Ganong,
2002). Suhu normal pada bayi baru lahir 36,50 C 37,50C(suhu aksila)
(Sudarti & Khoirunnisa,2010).
4. Mempertahankan Suhu Tubuh Normal Pada Bayi.
Bayi yang sakit atau kecil (berat badan kurang dari 2,5 kg pada saat
lahir atau lahir sebelum usia gestasi 37 minggu) membutuhkan
perlindungan termal tambahan dan kehangatan guna mempertahankan
suhu tubuh normal. Bayi ini dapat mengalami hipotermia sangat cepat
dan menghangatkan kembali bayi dapat membutuhkan waktu yang lama.
Resiko komplikasi dan kematian meningkat secara signifikan jika
lingkungan termal tidak optimal(Karyuni & Meiliya,2008).

33

Prinsip umum mempertahankan suhu tubuh (Sudarti

&

Khoirunnisa,2010):
a. Pertahankan bayi tetap berpakain atau diselimuti setiap saat,agat tetap
hangat walaupun dalam keadaan dilakukan tindakan.
b. Rawat bayi yang sakit atau kecil dalam ruangan hangat (tidak kurang
dari 25oC yang bebas dari aliran udara.
c. Jangan meletakan bayi dekat dengan benda dingin,seperti dinding atau
jendela meskipun bayi berada

dalam inkubator

atau di bawah

pemancar panas.
d. Jangan letakan bayi langsung pada permukaan yang dingin dan
pastikan bahwa tangan dalam keadaan hangat sebelum memegang
bayi.
e. Pada waktu bayi dipindahkan ke tempat lain,jaga bayi tetap hangat
dan gunakan pemancar panas atau kontak kulit dengan ibu atau orang
lain,jika memungkinkan.
f. Pastikan kehangatan selam prosedur ( misalnya: gunakan pamanas
radian).
g. Ganti popok setiap basah.
h. Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin.
i. Hindari memandikan bayi selama enam jam pertama kehidupan atau
sampai suhu tubuh bayi stabil; tundamemandikan bayi kecil sampai
minimal hari kedua kehidupan.
5. Metode menghangatkan bayi dan mempertahankan suhu tubuh

34

Terdapat

lima

metode

untuk menghangatkan

bayi dan

mempertahankan suhub tubuh bayi (Karyuni ; Meiliya,2008 & Sudarti ;


Khoirunnisa,2010):
a. Kontak kulit dengan kulit.
1) Bayi dengan kontak kulit,biasanya suhu tubuhnya dipertahankan
36,50C 37,50C (suhu aksiler).
2) Lekatkan kulit bayi pada kulit ibu/orang lain,usahakan bayi
dalam keadaan telanjang menempel pada kulit ibu.
3) Cara ini digunakan untuk menghangatkan bayi dalam waktu
singkat,menghangatkan bayi hipotermi (320C 36,40C) apabila
cara lain tidak mungkin dilakukan.
4) Dilakukan untuk semua bayi.
5) Suhu ruangan minimal 250C
6) Ukur suhu tubuh bayi 2 jam setelah dilakukan kontak kulit.Bila
suhu kurang dari 36,50C,periksa kembali bayi dan tentukan
langkah selanjutnya.
b. Kangaroo Mother Care (KMC).
1) Untuk menstabilkan bayi dengan berat badan1500 gr sampai
2500 gr,tetapi terutama direkomendasikan untuk perawatan
berkelanjutan pada bayi dengan berat badan 1500 gr sampai
1800 gr.
2) Tidak untuk bayi yang sedang sakit berat atau mengancam jiwa
(misalnya: sepsis,kesulitan bernapas berat).

35

3) Tidak untuk ibu yang menderita penyakit berat yang tidak dapat
merawat bayinya.
c. Pemancar Panas/Radian.
1) Digunakan untuk bayi sakit atau bayi dengan berat badan 1500
gr atau lebih.
2) Digunakan untuk mempertahankan bayi tetap hangat selama
pengkajian awal, terapi, dan prosedur ,serta menghangatkan
kembali bayi y6ang dingin.
d. Inkubator
1) Digunakan untuk perawatan berkelanjutan pada bayi dengan
berat badan 1500 gr yang tidak memenuhi syarat untuk
kangaroo mother care.
2) Digunakan

untuk bayi yang mengalami masalah yang

mengancam jiwa (misalnya: sepsis, kesulitan bernapas berat).


e. Ruangan Hangat
1) Untuk merawat bayi yang sembuh dari sakit dan bayi kecil yang
tidak

membutuhkan prosedur diagnostic atau prosedur

pengobatan.
2) Tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas berat).
6. Cara Kehilangan Panas Pada Bayi Baru Lahir (BBL).
Untuk mempelajari manfaat dan penerapan Perawatan Metode
Kanguru (PMK) ada beberapa proses kehilangan panas pada bayi baru
lahir. Tubuh mengunakan empat mekanisme perpindahan panas: Radiasi,

36

konduksi, konveksi, dan epavorasi (Sherwood, 2002 & Suradi,R at all,


2009).
a. Radiasi
Radiasi adalah emisi energi panas dari permukaan tubuh
yang hangat dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau
gelombang panas yang berjalan melalui ruang. Pengurangan atau
penambahan suhu melalui radiasi tergantung pada perbedaan suhu
antara permukaan kulit dan dan permukaan berbagai benda lain di
lingkungan. Secara rata-rata manusia kehilangan hampir separuh dari
energi panas mereka melalui radiasi.
b. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas antara benda-benda yang
berbeda suhunya berkontak lansung satu sama lain. Panas berpindah
mengikuti penurunan gradient normal dari benda yang lebih panas ke
yang lebih dingin karena dipindahkan dari molekul ke molekul.
Contoh bayi baru lahir telanjang di timbang pada timbangan logam
tanpa alas maka akan ada panas dari tubuh bayi yang pindah ke alas
logam timbangan tersebut.
c. Konveksi
Adalah perpindahan energi panas melalui aliran udara.
Biasanya jumlah sedikit dari udara panas yang berdekatan pada
tubuh. Udara panas ini meningkat dan diganti dengan udara dingin
dan orang selalu kehilangan panas dalam jumlah kecil melalui

37

konveksi.Contoh bayi baru lahir diletakkan di dekat jendela atau


pintu yang terbuka maka akan ada aliran udara luar yang mungkin
lebih dingin yang akan berpengaruh pada suhu bayi.
d. Evaporasi
Adalah penguapan terus menerus dari saluran pernafasan dan
dari mukosa mulut serta dari kulit. Kehilangan air yang terus
menerus dan tidak tampak ini disebut kehilangan air yang tidak
dapat dirasakan. Jumlah kehilangan panas yang tidak dirasakan kirakira 10% dari produksi panas basal. Pada saat suhu tubuh meningkat,
jumlah evaporasi untuk kehilangan lebih besar. Contoh bayi yang
mengompol dan tetap basah,atau tubuh bayi yang di seka dengan
alkohol dan alkoholnya menguap maka tubuh bayi teraba dingin
(Sherwood, 2002 & Suradi,R at all, 2009).
7. Pengaturan suhu tubuh
Dalam tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asilmilasi
makanan, dan oleh semua proses vital yang berasal

dalam tingkat

metabolisme (Ganong, 2002). Sistem yang mengatur suhu tubuh ada 3


bagian utama:
a. Sensor pada kulit
b. Inti integrator dalam hypothalamus
c. Sistem effektor yang mengatur produksi dan pembuangan panas
Sebagian besar sensori atau penangkap sensori ada dikulit. Kulit
lebih menangkap respon dingin dari pada panas. Adapun panca indra

38

kulit mendeteksi dingin lebih efesien daripada panas. Untuk merasakan


perubahan suhu tubuh dan suhu sekitarnya, thermoreseptor ditempatkan
sebagian besar dikulit dan otak, dimana neuron thermosensitif didalam
Preoptik Anterior Hyotalamus (PO-AH) merasakan suhu dalam darah
yang melewati daerah yang banyak terdapat pembuluh darahnya. Pokok
informasi ini dan yang dari bermacam-macam reseptor tepi, kedua syaraf
bertemu di hypothalamus anterior dan posterior mengkoordinasikan
aktifitas yang dibutuhkan untuk keseimbangan suhu tubuh dalam batas
yang tipis. Didalam respon untuk peningkatkan suhu tubuh, neuron di
hypothalamus melakukan rangkaian proses yang

menghasilkan

kehilangan panas, termasuk vasodilatasi perifer dan berkeringat. Sebuah


penurunan suhu sekitar, dibutuhkan

sebuah rangkaian kejadian

diantaranya vasokonstruksi perifer, piloereksi, peningkatan metabolisme


dan menggigil untuk mempertahankan panas.
Pada saat kulit menjadi sangat dingin diseluruh tubuh ada 3
proses fisiologis untuk meningkatkan suhu:
a. Menggigil, meningkatkan produksi panas
b. Berkeringat dicegah untuk menurunkan kehilangan panas
c. Vasokonstriksi mengurangi kehilangan panas
Integrator hypothalamus, pusat yang mengontrol suhu inti,
terletak

pada

area

preoptik

dihypotalamus.

Pada

saat

sensor

dihipotalamus mendeteksi panas akan mengeluarkan sinyal, dimaksudkan


untuk mengurangi suhu. Hal itu untuk menurunkan produksi panas dan

39

meningkatkan pengeluaran panas. Pada saat sensor dingin dirangsang,


sinyal

mengeluarkan

untuk

menghasilkan

produksi

panas

dan

mengurangi pangeluaran panas. Sinyal dari reseptor peka suhu dingin di


hypotalamus mulai pengaruh, seperti vasokonstriksi. Menggigil, dan
melepaskan epinefrin, yang meningkatkan metabolisme sel dan
menyebabkan produksi panas. Ketika reseptor yang peka terhadap panas
di hypotalamus dirangsang, system effektor mengeluarkan sinyal yang
memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran
pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari
tangkai otak, dibawah pengaruh hypotalamik. Lalu, ketika system ini
dirangsang, orang dengan sadar akan membuat penyesuaian yang tepat
seperti memakai baju tambahan didalam merespon dingin atau memutar
kipas di dalam merangsang panas (Guyton, 2004).
Suhu

tubuh

diatur

hampir

seluruhnya

oleh

mekanisme

persyarafan umpan balik, dan hampir semua mekanisme ini terjadi


melalui pusat pengaturan suhu yang terletak dihypotalamus. Agar
mekanisme umpan balik ini dapat berlangsung, harus juga tersedia
pendetektor suhu untuk menentukan kapan suhu tubuh menjadi sangat
panas atau sangat dingin (Gayton, 2004). Reticulo Formation sebagai
tempat bertemunya inti dalam batang otak yang menerima bermacammacam input dari sumsum tulang belakang, diantaranya adalah informasi
tentang temperature kulit yang dilanjutkan kepada Hypotalamus.
Hypothalamus juga mempunyai beberapa reseptor intrinsik. Termasuk

40

thermoregulator

dan

osmoreseptor

untuk

memonitor

suhu

dan

keseimbangan ion secara berkesenambungan.


8. Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh
Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh, adalah
antara lain:
a. Umur
Pada bayi sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan harus
dihindari dari perubahan yang ekstrim.Suhu anak-anak berlangsung
lebih labil dari pada dewasa sampai masa puber. Beberapa orang tua,
terutama umur lebih 75 thn, beresiko mengalami hypotermi (kurang
36C). Ada beberapa alasan, seperti kemunduran pusat panas, diit
tidak adekuat, kehilangan lemak subkutan, penurunan aktivitas dan
efisiensi thermoregulasi yang menurun. Orangtua terutama yang
sensitif pada suhu lingkungan seharusnya menurunnya kontrol
thermoregulasi.
b. Diurnal Variation
Suhu tubuh biasanya berubah sepanjang hari, variasi sebesar
1C, antara pagi dan sore.
c. Latihan
Kerja keras atau latihan berat dapat meningkatkan suhu tubuh
setinggi 38,3o C sampai 40 C, diukur melalui rectal.
d. Hormon

41

Perempuan biasanya mengalami peningkatan hormon lebih


banyak daripada laki-laki. Pada perempuan,sekresi progesteron pada
pada saat ovulasi menaikkan suhu tubuh berkisar 0,3C sampai 0,6C
di atas suhu tubuh basal.
e. Stress
Rangsangan
meningkatkan

pada

produksi

system
epinefrin

syaraf
dan

sympatik

nonepinefrin.

dapat
Dengan

demikian akan meningkatkan aktifitas metasbolisme dan produksi


panas.
f. Lingkungan
Perbedaan suhu lingkungan dapat mempengaruhi sistem
pengaturan suhu seseorang. Jika suhu diukur didalam kamar yang
sangat panas dan suhu tubuh tidak dapat dirubah oleh konveksi,
konduksi atau radiasi, suhu akan tinggi. Demikian pula, jika klien
keluar ke cuaca dingin tanpa pakaian yang cocok, suhu tubuh akan
turun. Selain itu, suhu tubuh dipengaruhi oleh: Penyakit, suhu
eksternal/lingkungan, obat-obatan, usia, infeksi, lumlah waktu dalam
sehari, latihan, emosi, kehamilan, siklus menstruasi, aktivitas
menangis, hydrasi (Hegner, 2003).
9. Suhu tubuh pada BBLR
Pada bayi dengan masalah BBLR, suhu tubuh tidak stabil oleh
karena kemampuan untuk mempertahankan

panas dan kesanggupan

menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otot-

42

otot yang belum cukup memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum
matangnya system saraf pengatur suhu tubuh, permukaan tubuh yang
relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan sehingga mudah
kehilangan panas (Proverawati & Ismawati,2010).
10. Pengukuran Suhu Tubuh bayi.
Frekuensi

pengukuran suhu tubuh sesuai dengan keadaan bayi

(Sudarti & Khoirunnisa,2010).


Keadaan bayi

Bayi sakit

Bayi Kecil

Bayi sangat
kecil

Bayi keadaan
membaik

Frekuensi
pengukuran

Tiap jam

Tiap 12
jam

Tiap 6 jam

Sekali sehari

11. Metode Mengukur Suhu Tubuh


Ada empat metode mengukur suhu tubuh, yaitu :
a. Oral
Pengukuran

suhu

dengan

termometer

di

mulut

tak

direkomendasikan bila anak masih berusia di bawah 5 tahun, karena


risiko termometernya bisa tergigit dan pecah.
b.

Aural (telinga) paling akurat

c.

Rectal suhu rectal lebih tinggi satu derajat daripada suhu oral
Pastikan air raksa di termometer dalam keadaan di bawah
360C. Miringkan tubuh si kecil dan masukkan ujung termometer ke
dubur sedalam 2-3 cm dan jepit bokongnya agar termometer tetap
pada tempatnya. Usahakan agar gerakan bayi/anak tak mengganggu
pengukuran. Setelah 35menit atau bila air raksa sudah tak naik lagi,
cabut termometer. Catat angka yang menunjukkan suhu. Suhu dari
43

dubur merupakan standar dan lebih dipercaya karena lebih


mencerminkan suhu bagian dalam tubuh.
Khusus untuk pengukuran di dubur ini, perlu diperhatikan
secara khusus cara melakukannya, sebab bila tidak hati-hati malah
bisa membuat perlukaan pada dubur si kecil. Oleh karena itu,
pengukuran

di

dubur

biasanya

lebih

banyak

dilakukan

dokter/perawat yang sudah biasa melakukannya. Orang tua tentu


juga boleh melakukannya, tapi harus lebih berhati-hati.
d. Axilla atau groin (pangkal paha) kurang akurat.
Metode ini digunakan hanya jika kondisi pasien tidak
mengijinkan untuk digunakan thermometer oral, aural atau rectal.
Pengukuran suhu axilla atau pangkal paha lebih rendah 1F (atau
0,6C) dari suhu oral.
Sebelum dipakai, kibaskan dahulu termometer hingga air
raksanya turun hingga di bawah angka 360C. Pangku si bayi/anak
dan kepitkan termometer di ketiaknya. Rapatkan lengannya agar
termometer terjepit kuat dan tahan sampai minimal 3 menit. Ambil
termometer, lalu catatlah angkanya yang menunjukkan suhu
tubuhnya.

BAB III

44

KERANGKA KONSEP
A. Kerangka konsep
Suhu tubuh pada BBLR dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah
satu upaya yang diyakini dapat meningkatkan suhu tubuh pada bayi BBLR
adalah dengan menerapkan perawatan metode kanguru. Untuk melihat
hubungan antar variabel, maka disusun bagan kerangka konsep sebagai
berikut:
Variabel Independen

Variabel Dependen
Peningkatan Suhu
Tubuh Pada BBLR

Perawatan Metode
Kanguru

Variabel Moderat
-

Umur
Lingkungan
infeksi

Keterangan:
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti

B. Hipotesa Penelitian
Ada pengaruh penerapan metode kanguru terhadap peningkatan suhu tubuh
pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.
BAB IV

45

METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini, desain penelitian yang digunakan adalah
quasi eksperimental design: one group pre test and post test design, yaitu
rancangan eksperimen dengan cara sampel diberikan kuesioner (pengukuran)
sebelum dan setelah dilakukan treatment (perlakuan). Rancangan ini dapat
diilustrasikan sebagai berikut (Nursalam, 2008):
pretest
Kelompok Eksperimen

01

Perlakuan
X

Postest
02

Keterangan:
01 : Pengukuran suhu tubuh sebelum dilakukan penerapan perawatan metode
kanguru
X : Pemberian perlakuan berupa penerapan perawatan metode kanguru
02 : Pengukuran suhu tubuh setelah dilakukan penerapan perawatan metode
kanguru
Sebelum dilakukan intervensi peneliti melakukan pra test untuk
mengetahui suhu tubuh bayi, setelah itu dilakukan intervensi berupa
perawatan metode kanguru. Setelah dilakukan penerapan perawatan metode
kanguru dilakukan proses post test suhu tubuh dengan mengukur kembali
suhu tubuh responden dan dilakukan selama 3 hari berturut turut.

B. Tampat dan Waktu Penelitian

46

1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Prof. DR. W.Z.Johannes Kupang.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu bulan Januari 2012, terhitung
sejak dikumpulkannya bahan-bahan penelitian, pengumpulan data primer di
lapangan hingga tahap penulisan akhir penelitian.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi yang lahir dengan Berat badan
rendah (BBLR) yang dirawat ruang perawatan NICU/NHCU RSUD Prof. DR.
W.Z.Johannes Kupang selama periode Desember 2011 sampai dengan Januari
2012.
2. Sampel
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode sampling yaitu non
random dengan teknik accidental sampling yaitu pengambilan sampel secara
spontanitas (Ridwan,2010). artinya pengambilan sampel dengan cara mengambil
sampel dari bayi yang mengalami BBLR dan menggunakan penerapan perawatan
metode kanguru yang ditemui pada saat dilakukan penelitian dalam rentang waktu
tertentu yakni selama satu bulan.
a. Kriteria Inklusi
1) Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan
menggunakan penerapan perawatan metode kanguru (PMK).

47

2) Bayi yang dirawat di ruang Perawatan NICU/NHCU RSUD Prof.


DR. W.Z.Johannes Kupang.
b. Kriteria Ekslusi
1) Bayi BBLR yang masa perawatannya kurang dari 3 hari.
2) Bayi BBLR yang tidak menggunakan penerapan perawatan metode
kanguru (PMK).
3) Bayi BBLR yang mengalami komplikasi
D. Variabel Penelitian
1. Identifikasi Variabel
Variabel adalah karakteritik subjek penelitian yang berubah dari suatu
subjek ke subjek lainnya, sehingga variabel dapat pula disebut sebagai
karakteristik suatu benda atau subjek. Menurut fungsinya dalam konteks
penelitian secara keseluruhan, khususnya dalam hubungan antar variabel
terdapat beberapa jenis, yaitu:
a. Variabel bebas
Yang dimaksud dengan variabel bebas adalah variabel yang bila ia
berubah akan mengakibatkan perubahan variabel lain. Variabel bebas
sering kali disebut dengan nama lain seperti: variabel independen,
prediktor, risiko, atau kausa. Yang menjadi variabel bebas pada
penelitian ini adalah perawatan metode kanguru.
b. Variabel tergantung
Yang dimaksud dengan variabel tergantung adalah variabel yang
berubah diakibatkan adanya perubahan variabel bebas. Variabel

48

tergantung sering kali disebut variabel dependen, efek, hasil, out come,
atau event. Yang menjadi variabel tergantung pada penelitian ini
adalah peningkatan suhu tubuh pada BBLR.
c. Variabel moderat
Variabel moderat disini adalah variabel selain variabel bebas yang
dianggap mempengaruhi hasil penelitian. Yang menjadi variabel
moderat pada penelitian ini adalah umur, infeksi, dan lingkungan.
2. Definisi Operasional
a. Penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK)
Yang dimaksud dengan penerapan perawatan metode kanguru dalam penelitian
ini adalah penerapan PMK yang dilakukan pada PMK Intermiten selama 3 hari
berturut-turut, dengan setiap harinya dilaksanakan penerapan Perawatan Metode
Kanguru (PMK) selama 2 jam. Namun sebelum penerapan Perawatan Metode
Kanguru, dilakukan Pre Test pengukuran suhu tubuh pada bayi BBLR dan
setelah 2 jam penerapan Perawatan Metode Kanguru dilakukan Post Test
pengukuran suhu tubuh pada bayi BBLR.

b. Suhu Tubuh
Yang dimaksud dengan suhu tubuh dalam penelitian ini adalah
pengukuran suhu tubuh bayi BBLR sebelum melakukan penerapan
perawatan metode kanguru dan 2 jam setelah dilakukan penerapan
perawatan metode kanguru yang diukur dengan menggunakan digital

49

clinical thermometer (Thermo One)

pada daerah aksila selama tiga

hari berturut turut.

E. Alur Penelitian

Populasi klien dengan BBLR

Pengambilan sampel dengan teknik accidental sampling


sebanyak 25 responden
Mengobservasi Suhu Rectal Sebelum Perlakuan
50

Pemberian intervensi berupa penerapan PMK yang dilakukan selama 3 hari


berturut-turut, dengan setiap harinya dilaksanakan penerapan Perawatan
Metode Kanguru (PMK) selama 2 jam yang dilakukan sore hari jam 16.00-18.00
setelah tindakan medis dilakukan dan setelah bayi diberi minum dan bayi tidak
dalam keadaan tidur
Mengobservasi Suhu Rectal Sesudah Perlakuan

Mengobservasi Suhu Rectal Sesudah 30 menit Perlakuan

Pengolahan data (Editing, Coding, Tabulating) dan analisa


data dengan uji statistic paired t test

Penyajian Data

F. Instrumen Penelitian
Dalam

pengumpulan

data

dilakukan

dengan

menggunakan

thermometer digital untuk mengukur suhu tubuh rektal yang diukur selama 1
menit yang dilakukan sebelum dan setelah tindakan diberikan.

G. Pengolahan Data Dan Analisa Data


Pengolahan data dilakukan secara manual dan menggunakan uji
statistik, dengan

langkah sebagai berikut :

1. Editing

51

Memeriksa setiap halaman atau nomor dari kuisioner apakah diisi atau
dijawab dengan petunjuk pengisian yang diberikan
2. Koding
Variable yang tidak diteliti memberikan kode pada setiap data yang ada
dengan maksud memudahkan data.
3. Tabulasi
Data yang sudah diediting dan decoding lalu disusun secara sistematis
dalam bentuk tabel selanjutnya dianalisis dan diinterpretasikan untuk
mendapatkan kesimpulan.
4. Analisa data
Setelah memperoleh nilai dari masing-masing tabel, selanjutnya data
dianalisa dengan menggunakan program komputer.
a.

Analisis Univariat
Membuat tabel distribusi frekuensi dan persentase dari masingmasing variabel.

b.

Analisis Bivariat
Dilakukan melalui uji hipotesis dan pengolahan data dilakukan
dengan menggunakan program SPSS 19,0. Data yang terkumpul
selanjutnya diolah, yang meliputi identifikasi masalah penelitian
dengan uji paired t test dengan tingkat kemaknaan p 0,05.

H. Etika Penelitian

52

Peneliti dalam melaksanakan seluruh kegiatan penelitian memegang


teguh sikap ilmiah (scientific attitude) serta menggunakan prinsip-prinsip etika
penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mempertimbangkan aspek sosioetika
dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan (Yurisa, 2008).
Etika penelitian dalam penelitian ini memiliki empat prinsip utama,
yaitu (Yurisa, 2008):
1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity).
Peneliti mempertimbangkan hak-hak subyek untuk mendapatkan informasi yang
terbuka berkaitan dengan jalannya penelitian serta memiliki kebebasan
menentukan pilihan dan bebas dari paksaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan
penelitian (autonomy). Beberapa tindakan yang terkait dengan prinsip
menghormati harkat dan martabat manusia, adalah: peneliti

mempersiapkan formulir persetujuan subyek (informed consent) yang terdiri dari:


a. Penjelasan manfaat penelitian
b. Penjelasan manfaat yang akan didapatkan
c. Persetujuan peneliti dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan
subyek berkaitan dengan prosedur penelitian
d. Jaminan anonimitas dan kerahasiaan.
2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (respect for
privacy and confidentiality)

53

Pada dasarnya penelitian ini akan memberikan akibat terbukanya informasi


individu termasuk informasi yang bersifat pribadi. Sedangkan, tidak semua
responden menginginkan informasinya diketahui oleh orang lain, sehingga
peneliti memperhatikan hak-hak dasar individu tersebut. Oleh karena itu, peneliti
tidak boleh menampilkan informasi mengenai identitas baik nama maupun alamat
asal subyek dalam kuesioner dan alat ukur apapun untuk menjaga anonimitas dan
kerahasiaan identitas subyek. Peneliti dapat menggunakan koding (inisial atau
identification number) sebagai pengganti identitas responden.
3. Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness).
Prinsip keadilan memiliki konotasi keterbukaan dan adil. Untuk memenuhi prinsip
keterbukaan,

penelitian

dilakukan

secara

jujur,

hati-hati,

profesional,

berperikemanusiaan, dan memperhatikan faktor-faktor ketepatan, keseksamaan,


kecermatan, intimitas, psikologis serta perasaan religius subyek penelitian.
Lingkungan penelitian dikondisikan agar memenuhi prinsip keterbukaan yaitu
kejelasan prosedur penelitian. Keadilan memiliki bermacam-macam teori, namun
yang terpenting adalah bagaimanakah keuntungan dan beban harus di
distribusikan

diantara

anggota

kelompok

masyarakat.

Prinsip

keadilan

menekankan sejauh mana kebijakan penelitian membagikan keuntungan dan


beban secara merata atau menurut kebutuhan, kemampuan, kontribusi dan pilihan
bebas masyarakat. Dalam penelitian ini, peneliti mempertimbangkan aspek
keadilan gender dan hak subyek untuk mendapatkan perlakuan yang sama baik
sebelum, selama, maupun sesudah berpartisipasi dalam penelitian.

54

4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing


harms and benefits)
Peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur penelitian guna
mendapatkan hasil yang bermanfaat semaksimal mungkin bagi subyek penelitian
dan dapat digeneralisasikan di tingkat populasi (beneficence). Apabila intervensi
penelitian berpotensi mengakibatkan cedera atau stres tambahan maka subyek
dikeluarkan dari kegiatan penelitian untuk mencegah terjadinya cedera, kesakitan,
stres, maupun kematian subyek penelitian.

55

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Pada bab ini akan dikemukakan hasil dan pembahasan tentang
pengaruh penerapan metode kanguru terhadap peningkatan suhu tubuh pada
BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang. Penelitian ini
menggunakan rancangan penelitian dengan metode quasi eksperimental
design : one group pre test and post test design, dengan analisa data
menggunakan uji statistic Paired T-Tes dengan tingkat kemaknaan = 0,05.
Penelitian ini dilaksanakan dengan memberikan berupa penerapan
PMK yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut, dengan setiap harinya
dilaksanakan penerapan Perawatan Metode Kanguru (PMK) selama 2 jam
yang dilakukan sore hari jam 16.00-18.00 setelah tindakan medis dilakukan
dan setelah bayi diberi minum dan bayi tidak dalam keadaan tidur. Namun
sebelum penerapan Perawatan Metode Kanguru, dilakukan Pre Test
pengukuran suhu tubuh pada bayi BBLR dan setelah 2 jam penerapan
Perawatan Metode Kanguru dilakukan Post Test pengukuran suhu tubuh
pada bayi BBLR, dan juga dilakukan observasi pengukuran suhu tubuh 30
menit setelah Post Test. Pengambilan data dilakukan mulai tanggal 4 januari
sampai dengan 25 Januari 2012 di ruang Perawatan NICU/NHCU RSUD Prof.
DR. W.Z.Johannes Kupang. Pada saat dilakukan penelitian jumlah sampel
yang peneliti temukan sebanyak 25 orang.

56

Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Karakteristik demografi responden
Tabel 5.1. tentang distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik
responden meliputi: umur ibu, pendidikan ibu, Usia kehamilan, cara
persalinan, dan berat badan lahir. Berdasarkan data demografi responden
diperoleh gambaran bahwa responden terbanyak berumur 26-30 tahun
(40,0%). Dari segi pendidikan menunjukkan bahwa sebagian besar
responden pendidikannya SMU (40,0%), sedangkan dari segi usia
kehamilan menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden usia
kehamilannya < 37 minggu/prematur (64,0%). Sedangkan dari segi cara
persalinan menunjukkan bahwa sebagaian besar ibu melahirkan secara
spontan (76,0%). Adapun berat badal lahir bayi menunjukkan bahwa
sebagian besar mengalami BBLR (68,0%).

57

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden di RSUD Prof. DR.
W.Z.Johannes Kupang
Karakteristik
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Umur Ibu:
20-25 tahun
7
28,0
26-30 tahun
10
40,0
31-35 tahun
4
16,0
36 tahun
4
16,0
Pendidikan Ibu
SD
2
8,0
SMP
5
20,0
SMU
15
60,0
Perguruan Tinggi
3
12,0
Usia Kehamilan:
< 37 Minggu
16
64,0
37 Minggu
9
36,0
Cara Persalinan:
Spontan
19
76,0
Sectio Cesarea
6
24,0
Berat Badan Lahir
BBLR
17
68,0
BBLSR
6
24,0
BBLASR
2
8,0
36
100,0
Jumlah
Sumber : Data Primer, 2012

2. Gambaran suhu tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes


Kupang
Tabel 5.2. tentang suhu tubuh pada BBLR hari I sebelum
dilakukan Perawatan Metode Kanguru (PMK) sebagian besar suhu
tubuhnya berkisar 36,60C-37,00C (72,0%) dan setelah diberikan PMK
sebagian besar suhu tubuhnya meningkat 37,10C (72,0%). Sedangkan
suhu tubuh bayi pada hari II sebelum dilakukan Perawatan Metode
Kanguru (PMK) sebagian besar suhu tubuhnya berrkisar 36,60C-37,00C
(72,0%) dan setelah diberikan PMK sebagian besar suhu tubuhnya yang
36,60C-37,00C menurun (52,0%). Adapun suhu tubuh bayi pada hari III
sebelum dilakukan Perawatan Metode Kanguru (PMK) sebagian besar

58

suhu tubuhnya berrkisar 36,60C-37,00C (84,0%) dan setelah diberikan


PMK sebagian besar suhu tubuhnya meningkat 37,10C (56,0%).
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Suhu Tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes
Kupang
Suhu Tubuh
Pre Test
Post Test
N
%
N
%
Hari I:
37,10C
0
0,0
18
72,0
36,60C -37,00C
18
72,0
7
28,0
36,00C -36,50C
7
28,0
0
0,0
Hari II:
37,10C
1
4,0
13
48,0
36,60C -37,00C
18
72,0
12
52,0
36,00C -36,50C
6
24,0
0
0,0
Hari III:
37,10C
0
0,0
14
56,0
36,60C -37,00C
21
84,0
11
44,0
36,00C -36,50C
4
16,0
0
0,0
Jumlah
25
100,0
25
100,0
Sumber : Data Primer, 2012

3. Pengaruh penerapan metode kanguru Terhadap peningkatan suhu tubuh


pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.
Tabel 5.3. tentang suhu tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR. W.
Z. Johannes Kupang pada hari I sebelum dan setelah Perawatan Metode
Kanguru (PMK) didapatkan peningkatan suhu rata-rata 0,508 0C (0,225).
Sedangkan suhu tubuh bayi pada hari II sebelum dan setelah Perawatan
Metode Kanguru (PMK) didapatkan peningkatan suhu rata-rata 0,436 0C
( 0,209). Adapun suhu tubuh bayi pada hari III sebelum dan setelah
Perawatan Metode Kanguru (PMK) didapatkan peningkatan suhu rata-rata
0,4000C ( 0,208). Dengan menggunakan uji paired t-test didapatkan nilai
p=0,000 untuk hari I, hari II, dan hari III yang berarti ada pengaruh
penerapan metode kanguru dengan peningkatan suhu tubuh pada BBLR di
RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.

59

Tabel 5.3.
Pengaruh Penerapan Metode Kanguru Terhadap Peningkatan Suhu Tubuh Pada BBLR di
RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
Suhu
Tubuh
p
Pre test
Post test
Peningkatan
Bayi
Valuae
BBLR
Std.
Std.
Std.
Mean
Mean
Mean
Deviasi
Deviasi
Deviasi
Hari I
36,6
0,191
37,1
0,174
0,508
0,225
0,000
Hari II

36,6

0,167

37,1

0,185

0,436

0,209

0,000

Hari III

36,7

0,185

37,1

0,177

0,400

0,208

0,000

Data Primer, 2012

=0,05

CI=95%

4. Gambaran rata-rata suhu tubuh sebelum dilakukan PMK pada BBLR di


RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
Tabel 5.4. tentang suhu tubuh rata-rata sebelum dilakukan PMK
pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang pada hari I
didapatkan rata-rata 36,66 0C (0,191), dan hari III rata-rata 36,730C
(0,185) dengan perbedaan rata-rata 0,068 0C (0,043).
Tabel 5.4
Distribusi Responden Berdasarkan Rata-Rata Suhu Tubuh Sebelum Dilakukan PMK
pada BBLR di RSUD
Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
Suhu Tubuh Sebelum
Mean
Std. Deviasi
Dilakukan PMK
Hari I
36,66
0,191
Hari III

36,73

0,185

Perbedaan

0,068

0,043

Sumber : Data Primer, 2012

5. Gambaran rata-rata suhu tubuh setelah 30 menit dilakukan PMK pada


BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
Tabel 5.5. tentang suhu tubuh rata-rata setelah 30 menit
dilakukan PMK pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang

60

pada hari I didapatkan rata-rata 36,76 0C (0,0,030), hari II rata-rata


36,780C (0,024), dan hari III rata-rata 36,820C (0,030).
Tabel 5.5
Distribusi Responden Berdasarkan Rata-Rata Suhu Tubuh Setelah 30 Menit Dilakukan
PMK pada BBLR di RSUD
Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
Suhu Tubuh Setelah 30 Menit
Mean
Std. Deviasi
Dilakukan PMK
Hari I
36,76
0,030
Hari II

36,78

0,024

Hari III

36,82

0,030

Sumber : Data Primer, 2012

6. Gambaran suhu tubuh sebelum dilakukan PMK dan 30 menit setelah


dilakukan penerapan metode kanguru pada BBLR di RSUD Prof. DR. W.
Z. Johannes Kupang
Tabel 5.6. tentang suhu tubuh sebelum dilakukan PMK dan 30 menit
setelah dilakukan penerapan metode kanguru pada BBLR di RSUD Prof.
DR. W. Z. Johannes Kupang pada hari I didapatkan korelasi 0,265
(0,201), hari II 0,349 (0,087), dan hari III 0,196 (0,348).
Tabel 5.6
Distribusi Responden Berdasarkan suhu tubuh sebelum dilakukan PMK dan 30 menit
setelah dilakukan penerapan metode kanguru pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z.
Johannes Kupang
suhu tubuh sebelum dilakukan
Korelasi
p (value)
PMK dan 30 menit setelah
dilakukan PMK
Hari I
0,265
0,201
Hari II

0,349

0,087

Hari III

0,196

0,348

Sumber : Data Primer, 2012

61

B. Pembahasan
Data dari penelitian ini didapatkan gambaran suhu tubuh pada BBLR
di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang pada hari I sebelum dan setelah
Perawatan Metode Kanguru (PMK) didapatkan peningkatan suhu rata-rata
0,508 0C (0,225). Sedangkan suhu tubuh bayi pada hari II sebelum dan setelah
Perawatan Metode Kanguru (PMK) didapatkan peningkatan suhu rata-rata
0,436 0C ( 0,209).Adapun suhu tubuh bayi pada hari III sebelum dan setelah
Perawatan Metode Kanguru (PMK) didapatkan suhu rata-rata 0,4360C (
0,209). Hal ini menunjukkan bahwa secara umum telah terjadi peningkatan
suhu tubuh akibat penerapan perawatan metode kanguru (PMK) di RSUD Prof.
DR. W. Z. Johannes Kupang seperti yang selama ini diharapkan..
Karyuni & Meiliya (2008) mengemukakan bahwa bayi yang sakit
atau kecil (berat badan kurang dari 2,5kg pada saat lahir atau lahir sebelum usia
gestasi 37 minggu) membutuhkan perlindungan termal tambahan dan
kehangatan guna mempertahankan suhu tubuh normal. Bayi ini

dapat

mengalami hipotermia sangat cepat dan menghangatkan kembali bayi dapat


membutuhkan waktu yang lama. Resiko komplikasi dan kematian meningkat
secara signifikan jika lingkungan termal tidak optimal. Pada bayi dengan
masalah BBLR, suhu tubuh tidak stabil oleh karena kemampuan untuk
mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas sangat
terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum cukup memadai, lemak
subkutan yang sedikit, belum matangnya system saraf pengatur suhu tubuh,
permukaan tubuh yang relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan
sehingga mudah kehilangan panas.

62

Kosim (2010) mengemukakan bahwa pada BBLR suhu tubuhnya tidak


stabil oleh karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan
menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot
yang belum cukup memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya
system saraf pengatur suhu tubuh, permukaan tubuh yang relatif lebih luas
dibandingkan dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas.
Berdasarkan hasil uji statistic paired t-test didapatkan nilai p=0,000
yang berarti ada pengaruh penerapan metode kanguru terhadap peningkatan
suhu tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang. Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Usman, dkk
(2006) dalam Suradi,R.at.all (2010) yang menemukan bahwa kemampuan
mempertahankan suhu tubuh pada BBLR yang dilakukan PMK menunjukan
hasil yang lebih baik. Oleh karena itu PMK sangat berguna dalam pencegahan
hipotermia dalam perawatan BBLR di Rumah Sakit maupun di rumah.
Menurut Djelantik, dkk (2003) perawatan metode kanguru (PMK)
adalah cara merawat bayi dalam keadaan telanjang (hanya memakai popok
dan topi) diletakkan secara tegak/vertical di dada antara dua payudara ibunya
(ibu telanjang dada, kemudian diselimuti dengan baju). Dengan demikain ,
terjadi kontak kulit bayi dengan kulit ibu secara bertahap sampai kontinyu
dan bayi memperoleh panas (sesuai suhu ibunya) melalui proses konduksi.
Perawatan metode kanguru dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
pertama perawatan metode kanguru (PMK) intermiten Bayi dengan penyakit
atau kondisi berat yang membutuhkan perawatan intensif atau khusus di ruang
rawat neonatologi,bahkan mungkin memerlukan bantuan alat. Bayi dengan
kondisi ini, PMK tidak diberikan sepanjang waktu tetapi hanya dilakukan jika
63

ibu mengunjungi bayinya yang masih berada dalam perawatan di incubator.


PMK ini dilakukan dengan durasi minimal 1 jam, secara terus menerus per
hari. Setelah bayi lebih stabil, bayi dengan PMK intermiten dapat dipindahkan
ke ruang rawat untuk menjalani PMK kontinyu. Kedua perawatan metode
kanguru (PMK) kontinyu: Pada PMK kontinyu, kondisi bayi harus dalam
keadaan stabil, pola pernapasan baik atau bernapas secara alami tanpa bantuan
oksigen. Penerapan PMK ini diberikan sepanjang waktu atau dilakukan
berangsur-angsur sampai 24 jam,yang dapat dilakukan di unit rawat gabung
atau ruangan yang dapat dipergunakan untuk perawatan metode kanguru. Bayi
dikeluarkan dari gendongan bila akan mengganti popok, perawatan tali pusat
atau perlu pemeriksaan dokter,dan jika ibu akan mandi. Selama perpisahan
antara ibu dan bayi, bayi dibungkus rapat agar tidak kedinginan atau bisa
diserahkan kepada ayah, nenek. Namun tetap yang terbaik adalah sentuhan
kulit ibu. (Suradi,at all, 2008; Suradi,at all, 2010).
Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Cataneo
(1998 dikutip dalam Sudarti & Khoirunnisa, 2010) yang menegaskan
pentingnya kontak kulit bayi ke ibu yang terus menerus dan berkelanjutan
(hanya dipisah ketika ibu ke kamar mandi atau mengikuti pemeriksaan medis
lain). Menurut Sidi, dkk, (2004) dan Suradi,, dkk (2010) Pola perawatan bayi
BBLR yang dapat dilakukan oleh ibu selama di rumah sakit, pada prinsipnya
adalah mempertahankan suhu bayi agar tetap normal, meningkatkan pemberian
ASI dan mengurangi resiko infeksi serta meningkatkan ikatan kasih sayang
antara ibu dan bayi.
Untuk menjaga kehangatan tubuh bayi agar tidak terserang hipotermia
dapat dilakukan dengan cara mengeringkan bayi berat lahir rendah (BBLR)
64

segera setelah dilap dengan menggunakan kain kering dan bersih. Untuk
menjaga agar suhu BBLR dapat tetap stabil maka bayi memerlukan
kehangatan dan kedekatan sebagai hubungan ikatan kasih sayang pada ibunya.
Meletakkan dan mendekapkan bayi di dada ibu merupakan salah satu cara
mentransfer panas agar menjaga tubuh bayi tetap hangat, karena bayi berat
badan lahir rendah

mudah sekali kedinginan, dan serangan dingin dapat

menyebabkan kematian pada BBLR. Ibu harus menjaga bayi tetap hangat
dengan kontak langsung ibu dan bayi. Kontak langsung kulit bayi dan ibu
menyebabkan panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi. Sering mendekap
bayi di dada ibu akan memperkuat ikatan batin ibu dan bayi secara dini dan
memudahkan bayi untuk menyusu ke payudara ibu (Djelantik, dkk, 2003 &
Proverawati, Sulistyorini, 2010).
Suhu tubuh diatur hampir seluruhnya oleh mekanisme persyarafan
umpan balik, dan hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat
pengaturan suhu yang terletak dihypotalamus. Agar mekanisme umpan balik
ini dapat berlangsung, harus juga tersedia pendetektor suhu untuk menentukan
kapan suhu tubuh menjadi sangat panas atau sangat dingin. Reticulo Formation
sebagai tempat bertemunya inti dalam batang otak yang menerima bermacammacam input dari sumsum tulang belakang, diantaranya adalah informasi
tentang temperature kulit yang dilanjutkan kepada Hypotalamus. Di
Hipotalamus, yang terletak antara hemisfer serebral, mengontrol suhu tubuh
sebagaimana kerja termostat yaitu memonitor temperatur darah yang dipompa
ke otak; informasi lain berasal dari reseptor temperatur pada kulit (Gayton,
2004).

65

Suhu yang nyaman pada kulit adalah pada set poin dimana sistem
panas beroperasi. Bila set saraf di hipotalamus anterior menjadi panas melebihi
set poin, impuls akan dikirim untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme
pengeluaran panas termasuk berkeringat, vasodilatasi (pelebaran) pembuluh
darah, dan hambatan produksi panas. Darah didistribusi kembali ke pembuluh
darah permukaan untuk meningkatkan pengeluaran panas. Jika hipotalamus
posterior merasakan suhu tubuh lebih rendah dari set poin, mekanisme
konservasi panas bekerja. Vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah
mengurangi aliran darah ke kulit dan ekstermitas. Kompensasi produksi panas
distimulasi melalui kontraksi otot volunter dan menggigil pada otot. Bila
vasokonstriksi tidak efektif dalam pencegahan tambahan pengeluaran panas,
tubuh mulai menggigil. Lesi atau trauma pada hipotalamus atau cordaspinalis
yang membawa pesan ke hipotalamus dapat menyebabkan perubahan yang
serius pada kontrol suhu (Ganong,2002).
Peran kulit pada regulasi suhu meliputi insulasi (isolasi) tubuh,
vasokonstriksi (yang mempengaruhi jumlah aliran darah dan kehilangan panas
pada kulit), dan sensasi tubuh. Kulit, jaringan subkutan dan lemak menyimpan
panas di dalam tubuh, ketika aliran darah antara lapisan kulit berkurang. Kulit
itu sendiri adalah reseptor yang paling baik. Individu dengan lemak tubuh lebih
banyak mempunyai insulasi alamia lebih banyak daripada individu yang kurus.
Pada tubuh manusia organ internal menghasilkan panas, dan selama latihan
atau peningkatan stimulasi simpatis, jumlah panas yang dihasilkan lebih tinggi
dari suhu inti normal. Aliran darah dari organ internal yang membawa panas ke
permukaan tubuh. Kulit juga disuplai oleh pembuluh darah pada area tubuh
yang paling terpajan, darah dapat mengalir secara langsung dari arteri ke vena.
66

Aliran darah melalui area kulit yang lebih banyak pembuluh darah dapat
bervariasi aliran minimal sampai sebanyak-banyaknya 30% darah yang
diinjeksikan dari jantung. Panas berpindah dari darah melalui dinding
pembuluh darah ke permukaan kulit dan hilang ke lingkungan melalui
mekanisme kehilangan panas.
Derajat vasokonstriksi menentukan jumlah aliran darah dan kehilangan
panas ke kulit. Bila suhu inti terlalu tinggi, hipotalamus menghambat
vasokonstriksi. Sebagai akibat pembuluh darah berdilatasi dan lebih banyak
pembuluh darah mencapai permukaan kulit. Pada hari panas dan lembab
pembuluh darah di tangan berdilatasi dan mudah di lihat. Sebaliknya, bila suhu
inti menjadi terlalu rendah, hipotalamus menimbulkan vasokonstriksi dan
aliran darah ke kulit berkurang. Kulit disuplai baik oleh reseptor panas dan
dingin karena reseptor dingin lebih banyak. Fungsi kulit terutama untuk
mendeteksi suhu permukaan dingin. Bila kulit kedinginan sensornya mengirim
informasi ke hipotalamus yang menimbulkan menggigil untuk meningkatkan
produksi panas tubuh, menghambat berkeringat dan vasokonstriksi (Ganong,
2002 ; James.J, Baker.C, Swain.H, 2002)
Di tempat yang terbuka dan lingkungan yang dingin bayi memerlukan
penembahan panas. Bayi mempunyai fisiologi untuk meningkatkan panas salah
satunya dipengaruhi oleh aliran darah ke kulit. Sewaktu kulit bayi menjadi
dingin, saraf afferent menyampaikan pada sentral pengaturun panas di
hypothalamus. Saraf dari hypothalamus sewaktu mencapai brown fat memacu
pelepasan noradrenalin local sehingga trigliserida dioksidasi menjadi gliserol
dan asam lemak. Blood gliserol level meningkat, tetapi asam lemak sesara local
dikonsumsi

untuk

menghasilkan

panas.

Daerah

brown

fat

menjadi
67

panas,kemudian didistribusikan ke beberapa bagian tubuh melalui aliran darah


(Sachann, M Rossa, 1996 ; Guyton C.A, Hall E.J. 1997)
Kecepatan aliran darah yang tinggi msenyebabkan konduksi panas
yang disalurkan dari inti tubuh ke kulit sangat efisien. Efek aliran darah kulit
pada konduksi panas dari inti tubuh ke permukaan kulit menggambarkan
peningkatan konduksi panas hampir 8 kali lipat, oleh karena itu kulit
merupakan system pengatur radiator panas yang efektif. Aliran darah ke kulit
adalah mekanisme penyebaran panas yang paling efektif dari inti tubuh ke
kulit. Dengan meletakan bayi telungkup ke dada ibu, maka akan terjadi kontak
kulit langsung ibu dan bayi sehingga bayi akan memperoleh kehangatan karena
ibu merupakan sumber panas yang baik bagi bayi (Gay, W.R, 1995 ; Cree, L.
2003 ).
Adapun manfaat dan keuntungan PMK antara lain dapat menstabilkan
suhu tubuh, pernapasan dan denyut jantung bayi, perlindungan bayi dari
infeksi, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi, berat badan bayi
cepat naik, meningkatkan keberhasilan pemberian ASI, stimulasi dini, kasih
sayang/bounding (bayi merasa dicintai dan diperhatikan) menurunkan angka
kematian neonatal (AKN), mengurangi biaya rumah sakit karena waktu
perawatan yang pendek,tidak memerlukan inkubator dan efisiensi tenaga
kesehatan (Proverawati & Ismawati, 2010).
Pada PMK, metode peningkatan suhu tubuh bayi BBLR dilakukan
secara konduksi yakni perpindahan panas antara benda-benda yang berbeda
suhunya berkontak lansung satu sama lain. Panas berpindah mengikuti
penurunan gradient normal dari benda yang lebih panas ke yang lebih dingin
karena dipindahkan dari molekul ke molekul. Dalam hal ini, bayi BBLR
68

mengambil suhu tubuh ibunya secara langsung melalui kontak dari kulit ke
kulit mengingat suhu tubuh ibunya lebih tinggi dari suhu tubuh bayi
(Sherwood, 2002).
Suradi (2009) mengemukakan bahwa proses kehilangan panas bayi
dapat pula terjadi dengan cara konveksi yakni perpindahan energi panas
melalui aliran udara. Biasanya jumlah sedikit dari udara panas yang berdekatan
pada tubuh. Udara panas ini meningkat dan diganti dengan udara dingin dan
orang selalu kehilangan panas dalam jumlah kecil melalui konveksi. Contoh
bayi baru lahir diletakkan di dekat jendela atau pintu yang terbuka maka akan
ada aliran udara luar yang mungkin lebih dingin yang akan berpengaruh pada
suhu bayi. Dengan penerapan PMK, proses kehilangan suhu tubuh dengan cara
konveksi tidak terjadi karena kulit bayi tidak bersentuhan langsung dengan
udara yang lebih dingin, tapi bersentuhan dengan kulit ibu yang suhunya lebih
panas sehingga memungkinkan terjadinya proses perpindahan panas dari tubuh
ibu ke bayi.
Menurut (Suradi, dkk, 2009) untuk keberhasilan penerapan metode
PMK ini diperlukan dukungan dari petugas kesehatan selama masih berada di
rumah sakit. Di rumah dukungan pihak keluarga sangat diperlukan agar ibu
diberi kesempatan untuk banyak istirahat, tidur yang cukup dan aktifitasnya
hanya berkaitan dengan perawatan bayinya.

C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini jauh dari kesempurnaan, karena tidak terlepas dari
berbagai keterbatasan yang tidak dapat dihindari. Dalam penelitian ini, peneliti

69

tidak dapat mengontrol faktor lain yang dapat mempengaruhi suhu tubuh bayi
seperti lingkungan dan juga aktivitas bayi.

70

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Suhu tubuh bayi BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
sebelum dilakukan penerapan perawatan metode kanguru rata-rata 36,6 0C.
2. Suhu tubuh bayi BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
setelah dilakukan penerapan perawatan metode kanguru rata-rata 37,1 0C.
3. Ada pengaruh penerapan metode kanguru terhadap peningkatan suhu
tubuh pada BBLR di RSUD Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang.
4.

Metode ini membuktikan bahwa PMK sangat efektif untuk mengontrol


suhu

dan terjalin hubungan batin yang kuat antara ibu dan bayi

(bounding), tanpa memperhatikan tempat,berat badan dan usia kehamilan.


5. PMK minimal setara dengan perawatan konvensional (perawatan dengan
incubator ), dalam hal keamanan dan perlindungan terhadap suhu tubuh
bayi.

B. Saran
1. Bagi pihak rumah sakit untuk terus menerapkan Perawatan Metode
Kanguru (PMK) di ruang NICU/NHCU mengingat manfaat dari PMK
cukup banyak dan dapat mencegah terjadinya hipotermi pada bayi.
2. Bagi petugas kesehatan diharapkan agar terus memberikan informasi
mengenai efektifitas perawatan bayi dengan metode kanguru/ bayi lekat
terhadap peningkatan suhu tubuh pada BBLR agar masyarakat dapat
melaksanakannya secara mandiri.
71

3. Bagi masyarakat atau ibu agar dapat menerapkan PMK secara mandiri
agar suhu tubuh bayi dapat terjaga dan kontak antara ibu dan bayi dapat
berlangsung dari awal.
4. Bagi peneliti selanjutnya perlu melakukan penelitian lanjutan dengan
melihat dampak lain dari penerapan PMK terhadap ibu dan bayi.

72

DAFTAR PUSTAKA
Boediman, D. (2009). Sehat Bersama Gizi. Sagung Seto: Jakarta
Cree, L. (2003). Sains dalam Keperawatan, edisi 4, EGC: Jakarta
Djelantik, I.G.G. at all. (2003). Perawatan Metode Kanguru. Perinasia: Jakarta.
Desmawati. (2011). Intervensi Keperawatan Maternitas
Keperawatan maternal: Trans Info Medika: Jakarta

Pada

Asuhan

Gay, W.R, (1995). Atlas Berwarna dan Teks Fisiologi,edisi 4, Hipokrates: Jakarta
Guyton C.A., Hall E.J. 1997. Pengaturan Suhu. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran.Jakarta. EGC.
Gelfand, Dinarello, Wolff (2004) Perubahan Suhu Tubuh; Horrisons Principles
of Internal Medicine, Jakarta: EGC
Guyton A.C (2004) Fisiologi Kedokteran, Jakarta:EGC
Ganong W.F (2002) Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
James.J, Baker.C, Swain.H. (2002). Prinsip-Prinsip Sains Untuk Keperawatan :
Erlangga; Jakarta
Sherwood, L. (2002) Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, Jakarta: EGC
Hegner, B.R (2003), Asisten Keperawatan
Keperawatan, Edisi 6, Jakarta,EGC

Suatu

Pendekatan

Proses

Hegar,B. at all. (2008). Bedah ASI. Ikatan Dokter Anak Indonesia: Jakarta
Kosim, M. S, dkk (2010) Buku ajar Neonatologi, Edisi Pertama, Badan Penerbit
Ikatan Dokter anak indonesia: Jakarta
Miyata,S.M.I dan Proverawati,A. (2010). Nutrisi Janin dan ibu Hamil. Nuha
Medika: Yogyakarta
Nursalam, Susilaningrum,R, Utami,S. (2008). Asuhan Keperawatan Bayi dan
Anak. Salemba Medika: Jakarta
Nursalam. (2008) Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan, Jakarta; Salemba Medika

Pantiawati, I. (2010). Bayi dengan BBLR. Nuha Medika: Yogyakarta


Proverawati, A dan Sulistyorini,C.I. (2010). Berat Badan Lahir Rendah. Nuha
Medika: Yogyakarta
Pusponegoro, H.D.at all. (2004). Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak ed 1.
Ikatan Dokter Anak Indonesia: Jakarta.
Rahayu, D.S. (2009). Asuhan Keperawatan Anak dan Neonatus. Salemba Medika:
Jakarta
Shelov, S.P. (1995). Panduan Lengkap Perawatan untuk Bayi dan Balita. Arcan:
Jakarta
Sachann, M Rossa. (1996) Prinsip Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC
Soekidjo Notoatmodjo.( 2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. PT. Rineka
Cipta: Jakarta.
Sidi, L.P.S, at all. (2004). Bahan Bacaan Manajemen Laktasi cetakan ke 2.
Perkumpulan Perinatalogi Indonesia: Jakarta
Suradi, R.at all. (2008). Perawatan BBLR dengan Metode Kanguru. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
----------. (2009). Perawatan BBLR dengan Metode Kanguru. Perinasia: Jakarta
-----------. (2010). Indonesia Menyusui. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak
Indonesia: Jakarta
Sunardi (2009) Kontrol Persyarafan Terhadap Suhu Tubuh, Jakarta: Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Sudarti dan Khoirunnisa,E. (2010). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak
Balita. Nuha Medika: Yogyakarta
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuntitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta:
Bandung
Tamsuri, A (2006) Tanda Tanda Vital: Suhu Tubuh, Jakarta: EGC
Yurisa, W. (2008) Etika penelitian kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas:
Riau, Pekanbaru

Lampiran 3
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth:
Bapak/Ibu
Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar:
Nama

: Marlina P. Pattipeilohy

NIM

: C12110674

Hendak melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Penerapan Metode Kanguru Terhadap
Peningkatan Suhu Tubuh Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah di RSUD Prof. DR. W. Z.
Johannes Kupang Tahun 2012

Bahwa penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi responden.
Kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya akan digunakan untuk
kepentingan penelitian. Jika Bapak/Ibu tidak bersedia menjadi responden, maka tidak ada
ancaman maupun sanksi bagi Bapak/Ibu. Jika Bapak/Ibu telah menjadi responden dan terjadi hal
yang merugikan, maka Bapak/Ibu diperbolehkan mengundurkan diri untuk tidak berpartisipasi
dalam penelitian ini.
Apabila Bapak/Ibu menyetujui, maka saya mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk
mendatangani Lembar Persetujuan Responden.
Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu sebagai responden, saya ucapkan terima kasih.
Peneliti

Marlina P. Pattipeilohy
NIM: C12110674

Lampiran 4
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama

Alamat

Bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Program
Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar atas nama
Marlina P. Pattipeilohy/C12110674 dengan judul Pengaruh Penerapan Metode

Kanguru

Terhadap Peningkatan Suhu Tubuh Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah di RSUD Prof. DR. W.
Z. Johannes Kupang Tahun 2012.

Saya memahami penelitian ini dimaksudkan untuk kepentingan ilmiah dalam rangka
penyusunan skripsi bagi peneliti dan juga bermanfaat bagi saya serta tidak merugikan saya.
Demikian lembar persetujuan ini saya tanda tangani dan kiranya dipergunakan
sebagaimana mestinya.

Kupang,

2012

Responden

(.)

Lampiran 5

LEMBAR PENILAIAN
A. Data Demografi Responden
No responden

Nama orang tua

Nama responden :

Umur orang tua

Umur responden

Pendidikan orang tua :

Tanggal lahir

pekerjaan orang tua

Tanggal MRS

Jumlah anak

Persalinan keUsia kehamilan

Tempat persalinan

RS

Di tolong oleh

Dokter

Bidan

Cara lahir

Spontan

SC

Jumlah bayi

Tunggal

Kembar

BB lahir

Kg

Lingkaran kepala

Cm

Lingkar Dada

Cm

Panjang Badan
Kelainan bawaan

minggu

:
:

RS lain

Cm
Ada

Tidak

RB

lain-lain

Dukun terlatih
lain-lain

Tgl pelaksanaan metoda PMK :

tgl

Rata-rata lama kontak kulit langsung(perhari):

bln

thn

2 jam

B. Pengukuran Suhu Tubuh

Suhu tubuh
PMK hari I
Pre PMK

PMK hari II

Post PMK

Pre PMK

Post PMK

PMK hari III


Pre PMK

C. Evaluasi pengukuran suhu 30 menit setelah Post PMK.


Hari I Post PMK

Hari II Post PMK

Hari III Post PMK

Post PMK

Lampiran 7
Frequencies
Statistics
Berat
Umur Pendidikan
Ibu
N

Valid
Missing

Ibu

Usia

Jumlah

Kehamilan

anak

Paritas

Suhu

Post

Post

Post

Suhu Pre PMK

PMK

PMK

II

III

Badan

Cara

Pre

Pre

Lahir

Persalinan

PMK I

PMK II

PMK III

25

25

25

25

25

25

25

25

25

25

25

25

25

Frequency Table
Umur Ibu

Valid

Suhu

20-25 Tahun
26-30 Tahun
31-35 Tahun
> 35 Tahun
Total

Frequency
7
10
4
4
25

Percent Valid Percent


28,0
28,0
40,0
40,0
16,0
16,0
16,0
16,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
28,0
68,0
84,0
100,0

Penddikan Ibu

Valid

SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
Total

Frequency
2
5
15
3
25

Percent Valid Percent


8,0
8,0
20,0
20,0
60,0
60,0
12,0
12,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
8,0
28,0
88,0
100,0

Usia Kehamilan

Valid

< 37 Minggu (Prematur)


> = 37 Minggu (Normal)
Total

Frequency
16
9
25

Percent Valid Percent


64,0
64,0
36,0
36,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
64,0
100,0

Jumlah anak

Valid

1 Orang
2 Orang
3 Orang
4 Orang
Total

Frequency
10
8
3
4
25

Percent Valid Percent


40,0
40,0
32,0
32,0
12,0
12,0
16,0
16,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
40,0
72,0
84,0
100,0

Paritas

Valid

1
2
3
4
6
8
Total

Frequency
10
7
3
3
1
1
25

Percent Valid Percent


40,0
40,0
28,0
28,0
12,0
12,0
12,0
12,0
4,0
4,0
4,0
4,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
40,0
68,0
80,0
92,0
96,0
100,0

Berat Badan Lahir

Valid

BBLR
BBLSR
BBLASR
Total

Frequency
17
6
2
25

Percent Valid Percent


68,0
68,0
24,0
24,0
8,0
8,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
68,0
92,0
100,0

Cara Persalinan

Valid

Sectio
Spontan
Total

Frequency
6
19
25

Percent Valid Percent


24,0
24,0
76,0
76,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
24,0
100,0

Suhu Pre PMK I

Valid

36,6-37,0
36,0-36,5
Total

Frequency
18
7
25

Percent Valid Percent


72,0
72,0
28,0
28,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
72,0
100,0

Suhu Pre PMK II

Valid

37,1-37,5
36,6-37,0
36,0-36,5
Total

Frequency
1
18
6
25

Percent Valid Percent


4,0
4,0
72,0
72,0
24,0
24,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
4,0
76,0
100,0

Suhu Pre PMK III

Valid

36,6-37,0
36,0-36,5
Total

Frequency
21
4
25

Percent Valid Percent


84,0
84,0
16,0
16,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
84,0
100,0

Post PMK I

Valid

37,1-37,5
36,6-37,0
Total

Frequency
18
7
25

Percent Valid Percent


72,0
72,0
28,0
28,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
72,0
100,0

Post PMK II

Valid

37,1-37,5
36,6-37,0
Total

Frequency
13
12
25

Percent Valid Percent


52,0
52,0
48,0
48,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
52,0
100,0

Post PMK III

Valid

37,1-37,5
36,6-37,0
Total

Frequency
14
11
25

Percent Valid Percent


56,0
56,0
44,0
44,0
100,0
100,0

Cumulative
Percent
56,0
100,0

General Linear Model


Within-Subjects
Factors
Measure:MEASURE_1
Dependent
suhu
Variable
1
preI
2
preII
3
preIII

Effect
suhu Pillai's Trace
Wilks' Lambda
Hotelling's Trace
Roy's Largest Root
a. Exact statistic
b. Design: Intercept
Within Subjects Design: suhu

Multivariate Testsb
Value
F
Hypothesis df
,116
1,507a
2,000
a
,884
1,507
2,000
,131
1,507a
2,000
a
,131
1,507
2,000

Error df
23,000
23,000
23,000
23,000

Sig.
,243
,243
,243
,243

Mauchly's Test of Sphericityb


Measure:MEASURE_1
Within Subjects
Effect
Mauchly's W

Approx. ChiSquare

df

Sig.

Epsilona

GreenhouseLowerGeisser
Huynh-Feldt
bound
suhu
,986
,324
2
,851
,986
1,000
,500
Tests the null hypothesis that the error covariance matrix of the orthonormalized transformed dependent variables is proportional to
an identity matrix.
a. May be used to adjust the degrees of freedom for the averaged tests of significance. Corrected tests are displayed in the Tests of
Within-Subjects Effects table.
b. Design: Intercept
Within Subjects Design: suhu

Tests of Within-Subjects Effects


Measure:MEASURE_1
Source
suhu

Error(suhu)

Sphericity Assumed
Greenhouse-Geisser
Huynh-Feldt
Lower-bound
Sphericity Assumed

Type III Sum


of Squares
,073
,073
,073
,073
1,254

Greenhouse-Geisser
Huynh-Feldt
Lower-bound

1,254
1,254
1,254

df
2
1,972
2,000
1,000
48

Mean Square
,036
,037
,036
,073
,026

47,338
48,000
24,000

,026
,026
,052

F
1,393
1,393
1,393
1,393

Tests of Within-Subjects Contrasts


Measure:MEASURE_1
Source
suhu
Error(suhu)

suhu
Linear
Quadratic
Linear

Type III Sum


of Squares
,058
,015
,567

df

Mean Square
1
,058
1
,015
24
,024

F
2,446
,524

Sig.
,131
,476

Sig.
,258
,258
,258
,249

Quadratic

,687

24

,029

Tests of Between-Subjects Effects


Measure:MEASURE_1
Transformed Variable:Average
Type III Sum
Source
of Squares
df
Mean Square
Intercept
100972,715
1
100972,715
Error
1,109
24
,046

F
2186082,351

Estimated Marginal Means


suhu
Estimates
Measure:MEASURE_1
suhu
Mean
Std. Error
1
2
3

36,668
36,672
36,736

95% Confidence Interval


Lower Bound Upper Bound
,038
36,589
36,747
,033
36,603
36,741
,037
36,660
36,812

Sig.
,000

Pairwise Comparisons
Measure:MEASURE_1
(I) suhu
1

(J) suhu

Mean
Difference (I-J)

Std. Error

Sig.a

95% Confidence Interval for


Differencea
Lower Bound Upper Bound
-,103
,095
-,158
,022
-,095
,103
-,158
,030
-,022
,158
-,030
,158

2
-,004
,048
,934
3
-,068
,043
,131
2
1
,004
,048
,934
3
-,064
,045
,172
3
1
,068
,043
,131
2
,064
,045
,172
Based on estimated marginal means
a. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).

Multivariate Tests
Value
F
Hypothesis df
Error df
Sig.
a
Pillai's trace
,116
1,507
2,000
23,000
,243
a
Wilks' lambda
,884
1,507
2,000
23,000
,243
a
Hotelling's trace
,131
1,507
2,000
23,000
,243
a
Roy's largest root
,131
1,507
2,000
23,000
,243
Each F tests the multivariate effect of suhu. These tests are based on the linearly independent pairwise
comparisons among the estimated marginal means.
a. Exact statistic

T-Test
Paired Samples Statistics

Pair 1
Pair 2
Pair 3

Pre PMK I
Post PMK I
Pre PMK III
Post PMK II
Pre PMK III
Post PMK III

Mean
36,6680
37,1760
36,7360
37,1080
36,7360
37,1360

N
25
25
25
25
25
25

Std. Deviation
,19088
,17388
,18457
,18466
,18457
,17767

Paired Samples Correlations

Std. Error
Mean
,03818
,03478
,03691
,03693
,03691
,03553

N
Pair 1
Pair 2
Pair 3

Pre PMK I & Post PMK I


Pre PMK II & Post PMK
II
Pre PMK III & Post PMK
III

Pair 1

Pre PMK I - Post


PMK I
Pair 2 Pre PMK II - Post
PMK II
Pair 3 Pre PMK III Post PMK III
General Linear Model

Within-Subjects
Factors

Correlation
25
,240
25
,211
25

,340

Sig.
,249
,311
,096

Paired Samples Test


Paired Differences
t
Std.
Std. Error 95% Confidence Interval
Mean
Deviation
Mean
of the Difference
Lower
Upper
-,50800
,22531
,04506
-,60101
-,41499 -11,273

df

Sig. (2-tailed)

24

,000

-,37200

,23188

,04638

-,46771

-,27629

-8,022

24

,000

-,40000

,20817

,04163

-,48593

-,31407

-9,608

24

,000

Measure:MEASURE_1
Dependent
suhu
Variable
1
hari1post30
2
hari2post30
3
hari3post30

Effect
suhu Pillai's Trace
Wilks' Lambda
Hotelling's Trace
Roy's Largest Root
a. Exact statistic
b. Design: Intercept
Within Subjects Design: suhu

Value
,084
,916
,091
,091

Multivariate Testsb
F
Hypothesis df
1,050a
2,000
a
1,050
2,000
1,050a
2,000
a
1,050
2,000

Error df
23,000
23,000
23,000
23,000

Mauchly's Test of Sphericityb

Sig.
,366
,366
,366
,366

Measure:MEASURE_1
Within Subjects Effect

Mauchly's W

Approx. Chi-Square

df

Epsilona
Greenhouse-Geisser
Huynh-Feldt Lower-bound
suhu
,951
1,153
2
,562
,953
1,000
,500
Tests the null hypothesis that the error covariance matrix of the orthonormalized transformed dependent variables is proportional to an identity matrix.
a. May be used to adjust the degrees of freedom for the averaged tests of significance. Corrected tests are displayed in the Tests of Within-Subjects
Effects table.
b. Design: Intercept
Within Subjects Design: suhu

Tests of Within-Subjects Effects


Measure:MEASURE_1

Sig.

Source
suhu

Error(suhu)

Sphericity Assumed
Greenhouse-Geisser
Huynh-Feldt
Lower-bound
Sphericity Assumed
Greenhouse-Geisser
Huynh-Feldt
Lower-bound

Type III Sum of


Squares
df
,040
2
,040
1,907
,040
2,000
,040
1,000
,920
48
,920
45,762
,920
48,000
,920
24,000
Tests of Within-Subjects Contrasts

Mean Square

F
,020
,021
,020
,040
,019
,020
,019
,038

Sig.
1,051
1,051
1,051
1,051

Measure:MEASURE_1
Source
suhu
Error(suhu)

Type III Sum of


Squares
,039
,001
,431
,489

Suhu
Linear
Quadratic
Linear
Quadratic

Df

Tests of Between-Subjects Effects


Measure:MEASURE_1
Transformed Variable:Average

Mean Square
1
1
24
24

F
,039
,001
,018
,020

2,184
,052

Sig.
,152
,821

,358
,355
,358
,316

Source
Intercept
Error

Type III Sum


of Squares
101531,203
,507

df

Mean Square
1
101531,203
24
,021

F
4809372,789

Sig.
,000

Estimated Marginal Means


suhu
Estimates
Measure:MEASURE_1
suhu
Mean
Std. Error
1
2
3

36,768
36,788
36,824

95% Confidence Interval


Lower Bound Upper Bound
,030
36,705
36,831
,024
36,738
36,838
,030
36,763
36,885

Pairwise Comparisons
Measure:MEASURE_1
(I) suhu

(J) suhu

Mean
Difference (I-J)

Std. Error

Sig.a

95% Confidence Interval for


Differencea

Lower Bound
-,094
-,134
-,054
-,125
-,022
-,053

Upper Bound
,054
,022
,094
,053
,134
,125

2
-,020
,036
,584
3
-,056
,038
,152
2
1
,020
,036
,584
3
-,036
,043
,412
3
1
,056
,038
,152
2
,036
,043
,412
Based on estimated marginal means
a. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).

Multivariate Tests
Value
F
Hypothesis df
Error df
Sig.
Pillai's trace
,084
1,050a
2,000
23,000
,366
a
Wilks' lambda
,916
1,050
2,000
23,000
,366
a
Hotelling's trace
,091
1,050
2,000
23,000
,366
a
Roy's largest root
,091
1,050
2,000
23,000
,366
Each F tests the multivariate effect of suhu. These tests are based on the linearly independent pairwise
comparisons among the estimated marginal means.
a. Exact statistic

Statistics
Suhu Tubuh
Suhu Tubuh
Suhu Tubuh Setelah 30 Menit Setelah 30 Menit
Setelah 30 Menit Post PMK Hari Post PMK Hari
Post PMK Hari I
II
III
N

Valid
Missing

Mean

25

25

25

0
36.7680

0
36.7880

0
36.8240

Suhu Tubuh Setelah 30 Menit Post PMK Hari I


Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

36.5

12.0

12.0

12.0

36.6

12.0

12.0

24.0

36.7

16.0

16.0

40.0

36.8

24.0

24.0

64.0

36.9

28.0

28.0

92.0

37

8.0

8.0

100.0

25

100.0

100.0

Total

Suhu Tubuh Setelah 30 Menit Post PMK Hari II


Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

36.4

4.0

4.0

4.0

36.6

4.0

4.0

8.0

36.7

20.0

20.0

28.0

36.8

11

44.0

44.0

72.0

36.9

24.0

24.0

96.0

37

4.0

4.0

100.0

25

100.0

100.0

Total

Suhu Tubuh Setelah 30 Menit Post PMK Hari III


Frequency
Valid

Percent

Cumulative
Percent

Valid Percent

36.5

8.0

8.0

8.0

36.6

4.0

4.0

12.0

36.7

8.0

8.0

20.0

36.8

36.0

36.0

56.0

36.9

32.0

32.0

88.0

37

4.0

4.0

92.0

37.1

8.0

8.0

100.0

Total

25

100.0

100.0

Statistics
Suhu Tubuh
Suhu Tubuh
Suhu Tubuh Setelah 30 Menit Setelah 30 Menit
Setelah 30 Menit Post PMK Hari Post PMK Hari
Post PMK Hari I
II
III
N

Valid
Missing

Mean
Std. Error of Mean
Std. Deviation
Sum

25

25

25

0
36.7680
.03040
.15199
919.20

0
36.7880
.02403
.12014
919.70

0
36.8240
.02960
.14799
920.60

T-Test
Paired Samples Statistics
Mean
Pair 1

Pair 2

Pair 3

Pre PMK I
Suhu Tubuh Setelah 30
Menit Post PMK Hari I
Pre PMK II
Suhu Tubuh Setelah 30
Menit Post PMK Hari II
Pre PMK III
Suhu Tubuh Setelah 30
Menit Post PMK Hari III

Std. Deviation

Std. Error Mean

36.6680

25

.19088

.03818

36.7680

25

.15199

.03040

36.6720

25

.16713

.03343

36.7880

25

.12014

.02403

36.7360

25

.18457

.03691

36.8240

25

.14799

.02960

Paired Samples Correlations


N

Correlation

Sig.

Pair 1

Pair 2

Pair 3

Pre PMK I & Suhu Tubuh


Setelah 30 Menit Post PMK
Hari I
Pre PMK II & Suhu Tubuh
Setelah 30 Menit Post PMK
Hari II
Pre PMK III & Suhu Tubuh
Setelah 30 Menit Post PMK
Hari III

25

.265

.201

25

-.349

.087

25

.196

.348

Paired Samples Test


Paired Differences
Mean

Std. Deviation

Pair 2
Pair 3

Pre PMK I - Suhu Tubuh Setelah


30 Menit Post PMK Hari I
Pre PMK II - Suhu Tubuh Setelah
30 Menit Post PMK Hari II
Pre PMK III - Suhu Tubuh Setelah
30 Menit Post PMK Hari III

Sig. (2-tailed)

Std. Error 95% Confidence Interval


Mean
of the Difference
Lower

Pair 1

df

Upper

-.10000

.21016

.04203

-.18675

-.01325

-2.379

24

.026

-.11600

.23749

.04750

-.21403

-.01797

-2.442

24

.022

-.08800

.21276

.04255

-.17582

-.00018

-2.068

24

.050