Anda di halaman 1dari 87

BAB III

PERHITUNGAN

3.1

Data Perencanaan

Direncanakan :
Panjang jembatan (L)

= 12 = 12 x 4 = 48 m

Jarak titik buhul ( )


Tinggi Jembatan (H)

=5m

Lebar jembatan (B)

= 5 m + 2 x 0,5 m = 6 m

Type jembatan

=B

Bahan lantai

= Beton bertulang + aspal

Sambungan

= Baut

Lebar trotoar

= 2 x 0,5 m

Tebal plat lantai

= 0.20 m

Tebal lapisan aspal

= 0.05

Mutu baja (Fy)

= 320 Mpa

Perhitungan Sandaran Jembatan

3.2

=4m

5m

1m
m

Gambar 3.1 Posisi pipa sandaran

21

Data-data profil sebagai berikut :


No. Pipa 2 in
D

= 60,5 mm

= 3,8 mm

= 5,31 kg/m

= 9,028 cm3

t = 3,8
mm
D = 60,5 mm

Sandaran direncanakan dari profil Circular Hollow (profil pipa) yang


disandarkan pada batang diagonal dan ditahan oleh profil persegi. Tegangan leleh
yang direncanakan adalah (Fy 320 Mpa). Posisi sandaran diperlihatkan pada
gambar 3.1 :
3.2.1 Pembebanan
Berat sendiri profil

(D)

Beban hidup sendiri (L)


qu

= 5,31 kg/m
= 100,00 kg/m
= 1,2 D + 1,6 L
= 1,2 (5,31) + 1,6 (100)
= 166,372 kg/m

22

4,00 m
H = 5,00 m

x
1.00 m

4,00 m
x

a. Momen yang bekerja pada sandaran


X
4,0
X=

4,00
5,00

4,00 x 4,00
5,00

X = 3,2 m
L = 2 x 3,2 = 6,40 m
M lapangan

1
.q. L
8

1
8

x 166,372 kg/m x 6,402 m

= 851,824 kg.m
= 8518,24 N.m
= 8,518 kN.m
b. Cek kelangsingan penampang
D 60,5

t
3,8

= 15,92 mm

23

0,07

E
fy

0,07

2 x 105
320

= 43,75 mm
Karena < p maka penampang kompak
c. Cek momen ( M design > Mu )
Di

= D 2t
= 60,5 2(3,8)
= 52,9 mm

64

1
64

( D4 Di4)

3,14 ( 60,54 52,94 )

= 273098,14 mm4
= 27,3098 cm4
I
0 .5 x D

27,309 cm 4
0,5 x 6,05 cm
=
= 9,0277 cm3
= 90,277 mm3

24

1
6

1
6

(D3 Di3)

(60,53 52,93)

= 12234,87 mm3
= 1223,48 cm3

My

= Fy x S
= 320 N/mm2 x 9027,76 mm3
= 2888883,2 N.mm
= 2,888 kN.m

Mp

= Fy x Z
= 320 N/mm3 x 12234,87 mm3
= 3915158,4 Nmm
= 3,91515 kNm

Maka momen desain (Mdesain)


Mdesain =

b x Mn

= 0.90 x 2,8889 kNm


= M design 2,60001 kNm > M lapangan 1,752 kNm

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, maka profil sandaran Circular


Hollow diameter 60,5 mm dan tebal 3,5 mm dapat digunakan serta ekonomis
dalam pemakaiannya.
3.3 Perhitungan Lantai Kendaraan
Beban yang bekerja pada perencanaan pelat lantai adalah beban mati dan
beban hidup. Lantai jembatan terdiri dari satu jalur dan dua lajur, lebar lantai
kendaraan 5 m, untuk trotoar diambil sebesar 2 x 0,5 m (untuk kiri dan kanan),

25

direncanakan ruang bebas masing-masing diambil 0,10 meter = 10 cm. Untuk


gelagar yang memanjang direncanakan 5 buah dengan jarak sebagai berikut :

Direncanakan jarak gelagar memanjang

Direncanakan jarak gelagar melintang

Tebal plat lantai

Tebal lapisan aspal : 5 cm

: 1,25 meter
: 3 meter

: 20 cm

45m

0.5 m

0.5 m

1.5 m
1,2
5

1.5 m
1,2
5

67 m
m

1.5
1,2m

1.5
1,2m

Gambar 3.2 Potongan melintang jembatan

26

5 cm (tebal aspal)
20 cm (tebal plat)

1,25

Gambar 3.3 Potongan I I


Dari gambar 3.2 pada konstruksi jembatan ini terletak dibawah dengan lebar
lantai kenderaan = 6 m dan lebar trotoar = 2 x 0,5 m. Untuk perhitungan lantai kendaraan,
harus di tinjau pembebanan terhadap lantai kenderaan dan trotoar, dari perhitungan
pembebanan tersebut pembebanan yang maksimum.

3.3.1

Pembebanan
Lantai kendaraan pada konstruksi jembatan ini terletak dibawah, terdiri

dari plat lantai beton bertulang.


a. Muatan mati :
Ditinjau terhadap sumbu ey (tegak lurus arah melintang)
Berat plat lantai

= 0,20 m x 2,5 t/m3 x 1,25 m

= 0,625 t/m

Berat lap. Aspal

= 0,05 m x 2,2 t/m3 x 1,25 m

= 0,137 t/m

Berat air hujan

= 0,05 m x 1,0 t/m3 x 1,25 m

= 0,062 t/m
q

b. Muatan hidup
27

= 0.825 t/m

Untuk perhitungan lantai kendaraan, digunakan beban T yang merupakan


kendaraan truk dengan beban roda ganda sebesar 10 ton dengan bidang sebaran
gaya antara ban dengan lantai berukuran 1,25 x 4,00 m, yaitu pada luas bidang
penempatan gelagar memanjang dan melintang.
Bidang kontak kendaran adalah 30 x 50 cm2 dan menyebar dengan sudut
450 (PPPJJR 1967 ). Besarnya T diambil sebesar 100% yaitu untuk jembatan
permanen.
T = 100% x 10 ton = 10ton

30 cm
50 cm

Penyebaran gaya untuk potongan memanjang lantai :


a. = U + 2 ( tebal plat beton + tebal aspal)
= 30 + 2 ( . 20 + 5)
= 60 cm
Penyebaran gaya untuk potongan melintang lantai :
b. = v + 2 ( tebal plat beton + tebal aspal)
= 50 + 2 ( . 20 + 5)
= 80 cm
Jadi luas bidang kontak setelah disebar ke lantai adalah 60 x 80 cm2.

T
ax b

28

10
0,6 x 0,8

= 20,833 t/m2
c. Beban Angin
Muatan angin merupakan muatan sekunder. Berdasarkan PPPJJR 1987,
tekanan angin diambil sebesar 150 kg/m2. Luas bidang beban hidup yang
bertekanan angin ditetapkan setinggi 2 m di atas lantai kendaraan, sedangkan
jarak as roda kendaraan adalah 1,75 m
Reaksi dapa roda akibat angin :
RA

1
( jarak gel .melintang ) x ( tinggi tek , angin ) x ( b . angin ) x ( x tinggi tek . angi)
2
jarak as roda

4,0 x 2 x 0,15 x 1
1,75

29

2m

1m

1.75 m
Aksi pada roda

Reaksi dari lant

= 0,686 ton

Baban angin ini akan menyebar dengan beban akibat muatan hidup,
sehingga beban menjadi beban hidup + beban angin :
P
= 10 + 0,686 ton
= 10,686 ton

30

3.3.2 Pembebanan Trotoar


Direncanakan:
Lebar Trotoar

= 0,5 m

Tebal plat trotoar

= 0,15 m

Berat jenis beton

= 2,4 t/m3

Berat jenis air

= 1 t/m3

a. Beban mati
Berat trotoar

= 0.15 m x 2.4 t/m3 = 0.36 t/m2

Berat air hujan

= 0.05 m x 1,0 t/m3 = 0.05 t/m2


qm

= 0.41 t/m2

b. Beban hidup
Menurut PPPJJR 1987, muatan hidup untuk konstruksi trotoar
diperhitungkan sebesar 500 kg/m2. Beban hidup ini disebarkan seluas : (lebar
trotoar x jarak gelagar melintang).
Beban hidup = 500 kg x 0,5 m x 4,0 m
= 1000 kg
= 1 ton
Dari pembebanan lantai kendaraan dan trotoar dapat ditabelkan sebagai berikut :
Kondisi
I
II

Pembebanan
Lantai Kendaraan
Lantai trotoar

Beban mati ( t/m3)


0.825
0.41

Beban hidup ( t)
10,686
1

Dengan memperhatikan kedua pembebanan pada tabel tersebut, dapat


disimpulkan bahwa pembebanan maksimum yang menentukan perencanaan plat
lantai kendaraan. Sehingga dapat ditulis :
31

Beban mati

= 0.825 t/m3

Beban hidup = 10,686 t

3.3.3 Perhitungan momen


a. Akibat beban mati (berat sendiri)
q = 0.64 t/m2

Ix = 1,25

Iy = 4,0

Ukuran plat = 4,0 m x 1,25 m


Diasumsikan plat bertumpu pada keempat tepinya (jepit-jepit)

32

Dengan : Iy/Ix = 4,00 / 1,25 = 3,2


Menurut SK SNI - T - 15 - 1991 - 03, momen pada plat dapat dihitung dengan
peraturan tabel 4.2.b Vis Kusuma 1997 (skema II, jepit-jepit).
MIx

= + 0.001 . q . Ix2 . x

x = 52,60

= + 0.001 x 0.825 x (1,25)2 x 52,60


= + 0.068 tm
MIy

= + 0.001 . q . Ix2 . x

x = 15

= + 0.001 x 0.825 x (1,25)2 x 15


= + 0.02 tm
Mtx

= - 0.001 . q . Ix2 . x

x = 80,70

= - 0.001 x 0.825 x (1,25)2 x 80,70


= - 0.104 tm
Mty

= - 0.001 . q . Ix2 . x

x = 54

= - 0.001 x 0.825 x (1,25)2 x 54


= - 0.07 tm
b. Akibat beban angin dan beban hidup
Dihitung berdasarkan PBI 1971 pasal 13.4.3, momen negatif rencana
harus dianggap menangkap pada bidang muka tumpuan persegi, dimana tumpuantumpuan bulat atau bentuk lain harus dianggap sebagai tumpuan bujur sangkar
dengan luas yang sama.

33

Keadaan I
Plat menerima beban satu roda (ditengah plat)

sa

Ix = 1,25 m

Iy = 4 m

a = 60 cm
b = 80 cm

34

Berada ditengah ditengah diantara kedua tepi yang tidak ditumpu untuk:
Ly > 3 x r x Lx

r = (tumpuan jepit)

Ly > 3 x x 1,25
4,0 > 1,875

Sehingga :
Lebar kerja maksimum pelat dalam arah bentang Ix (Sa) dicari:
Sa

= 3/4 x a + 3/4 x r x Lx
= (3/4 x 0,60) + (3/4 x x 1,25)
= 0,19 m

Momen arah bentang Lx :


Mo
Sa

Mlx =

Dimana Mo dianggap sebagai momen maksimum balok diatas dua tumpuan.


Mo

x P x Lx

x 10,686 ton x 1,25 m

3,339 tm

Sehingga :

35

Mlx

Mo
Sa

3,339
0,19

= 17,57 tm/m

Momen di arah bentang Ly ( momen positif ) :


Ly

> 2 x Lx

4,0

> 2 x 1,25

4,0

> 2,5

Sehingga :

Mly

Mlx
4. a
1+
Ly

17,57
4 x 0,60
1+
4,0

= 2,5 tm/m
Keadaan II

36

sa

sb
Ix = 1,25 m

0,50

0,70

1,60

0,70

Iy = 4 m

Beban terpusat dua roda simetris terhadap sumbu plat.

Momen akibat roda A :


Untuk :
Ly

> r x Lx

r = ( tumpuan jepit )

37

0,50

4,0

> 1/2 x 1,25

4,0

> 0,625

Sehingga :
Sa

= 3/4 x a + 1/4 x r x Lx + v
= (3/4 x 0,60) + (1/4 x x 1,25) + 0,50
= 1,42 m

Momen arah bentang Lx :


Mlx =

Mo
Sa

3,339
1,42

= 2,35 tm/m

Momen arah bentang Ly :

Mly

Mlx
4. a
1+
Ly

2,35
4 x 0,60
1+
4,0

= 2,95 tm/m
Momen akibat roda B :
Untuk:
Ly

> r x Lx

4,0

> 1/2 x 1,25

r = ( tumpuan jepit )

38

4,0

> 0,625

Sehingga :
Sa

= 3/4 x a + 1/4 x r x Lx + v
= 3/4 x 0,60 + 1/4 x x 1,25 + 3,50
= 4,41 m

Momen arah bentang Lx :


Mlx =

Mo
Sa

3,339
4,41

= 0,75 tm/m

Momen arah bentang Ly :

Mly

Mlx
4. a
1+
Ly
0,75
4 x 0,60
1+
4,0

= 1,35 tm/m
Dari persamaan momen roda A dan B, dapat ditabelkan sebagai berikut :
Roda
A
B

Mlx ( tm/m )
2,35
0,75

Mly ( tm/m )
2,95
1,35

Dari tabel tersebut dipilih roda A ( diambil momen maksimum ), yaitu :


Mlx

= 2,35 tm/m

39

Mly

= 2,95 tm/m

Kesimpulan :
1. Dengan memperhatikan kedua keadaan tersebut di atas dapat ditabelkan
sebagai berikut :
Keadaan
I
II

Mlx ( tm/m )
17,57
2,35

Mly ( tm/m )
2,5
2,95

Jadi, dari tabel dapat disimpulkan bahwa keadaan I lebih menentukan ( karena
momennya besar ), dimana :
Mlx

= 17,57 tm/m

Mly

= 2,5 tm/m

1. Momen yang terjadi seluruhnya pada plat lantai


( akibat beban mati ) + ( beban hidup + beban angin ) adalah :
Mlx = 0,07 + 17,57 = 17,64 tm
= 176,40 kNm
Mly = 0,02 + 2,5
= 2,52 tm
= 25,20 kNm
Mtx = - 0,104 tm
= - 1,04 kNm
Mty = - 0,07 tm
= - 0,7 kNm

3.3.4 Perencanaan penulangan plat lantai kendaraan


Mutu baja ( fy )
= 320 Mpa
Mutu beton ( fc )
= 25 Mpa
Ukuran plat beton direncanakan :
Tebal plat beton ( h )

= 20

cm

= 200 mm

Lebar plat beton ( b )

= 500 cm

= 5000 mm

Diameter tulangan lapangan ( D )

= 14
40

mm

Diameter tulangan tumpuan ( D )

= 12

mm

Selimut beton

=5

cm

Tinggi efektif arah x (dx) D -14

= h d . = 200 50 14

= 50

mm

= 143 mm
Tinggi efektif arah x (dx) D -12

= h d . = 200 50 12
= 144 mm

Tinggi efektif arah y (dy) D - 14

= h d D - . = 200 50 - 16 14
= 129 mm

Tinggi efektif arah y (dy) D - 12

= h d D - . = 200 50 - 14 12
= 132 mm

Lebar ditinjau sejarak 1 m

= 1000 mm

a. Ditinjau Terhadap arah x (dx) :


1. Tulangan Untuk Lapangan

Mu
b d 2
k

50,60 x 10 6
0,8 1000 (143) 2
=
= 3,09 kNm2

0,85 xfc '


2 xk
x 1 1
fy
0,85 xfc'

0,85 x 25
2 x 3,09
x 1 1
320
0,85 x 25

41

= 0,0105

min

1,4
1,4
=
fy 320 MPa

600
( 0,85.fy fc )( 600+
fy )

= 0,0044

600
( 0,85.25
)(
320
600+320 )

0,0433
max = 0,75 x b = 0,75 x 0,0433 = 0,0325
kontrol rasio penulangan : min < < max
0,0044 < 0,0105 < 0,0325.. OK
Jadi di gunakan
As

= 0,0105
=x bxd
= 0,0105 1000 143
= 1500,81 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 14 mm:


Astul

= D2
= 3,14 142
= 153,86 mm2

Dengan :
Jumlah tulangan ( n )=

Jarak tu langan ( s )=

1500,81
=9,75 10 batang
153,86

1000 1000
=
=111,111 mm
n1
9

Jadi, digunakan tulangan D14 100 mm.


2. Tulangan Untuk Tumpuan

42

Mu
b d 2
k

2,6 10 6
0,8 1000 (144) 2
=
= 0,15 MPa

0,85 xfc '


2 xk
x 1 1
fy
0, 85 xfc '

0,85 x 25
2 x 0,15
x 1 1
320
0,85 x 25

= 0,0005

min =

1,4
1,4
=
fy 320 MPa = 0,0044

600
0,85.25
600
( 0,85.fy fc )( 600+
)
(
)(
fy =
320
600+320 )

0,0433
max = 0,75 x b = 0,75 x 0,0433 = 0,0325
kontrol rasio penulangan : min < < max
0,0044 < 0,0005 < 0,0325.. NOT OK
Dipakai = 0,0044
As

=x bxd
= 0,0044 1000 144
= 630 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 12 mm:


Astul

= D2
= 12 2
= 113,04 mm2
43

Dengan :
Jumlah tulangan ( n )=

Jarak tulangan ( s )=

630
=5,57 6 buah
113,04

1000 1000
=
=200 mm
n1
5

Jadi, digunakan tulangan D 12 - 200 mm.

b. Ditinjau Terhadap arah y (dy) :


1. Tulangan Untuk Lapangan

Mu
b d 2
k

31,10 x10 6
0,8 1000 (129 ) 2
=
= 2,34 kNm2

0,85 xfc '


2 xk
x 1 1
fy
0,85 xfc'

0,85 x 25
2 x 2,34
x 1 1
320
0,85 x 25

min

1,4
1,4
=
fy 320 MPa

= 0,0078

= 0,0044

600
0,85.25
600
( 0,85.fy fc )( 600+
)
(
)(
=
fy
320
600+320 )

0,0433
max = 0,75 x b = 0,75 x 0,0433 = 0,0325
kontrol rasio penulangan : min < < max

44

0,0044 < 0,0078 < 0,0325.. OK


Dipakai = 0,0078
As

=x bxd
= 0,0078 1000 129
= 1006,20 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 14 mm:


Astul

= D2
= 3,14 142
= 153,86 mm2
Dengan :

Jumlah tulangan ( n )=

Jarak tulangan ( s )=

1006,20
=6,54 7 batang
153,86

1000 1000
=
=166,67 mm
n1
6

Jadi, digunakan tulangan D14 150 mm.

2. Tulangan Untuk Tumpuan

Mu
b d 2
k

1,7 10 6
0,8 1000 (132) 2
=
= 0,12 MPa

45

0,85 xfc '


2 xk
x 1 1
fy
0, 85 xfc '

0,85 x 25
2 x 0,12
x 1 1
320
0,85 x 25

min =

= 0,0004

1,4
1,4
=
fy 320 MPa = 0,0044
600
( 0,85.fy fc )( 600+
fy )

600
( 0,85.25
)(
320
600+320 )

0,0433
max = 0,75 x b = 0,75 x 0,053 = 0,0325
kontrol rasio penulangan : min < < max
0,0044 < 0,0004 < 0,0325.. NOT OK
Dipakai min = 0,0044
As

= min x b x d
= 0,0044 1000 132
= 580,80 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 12 mm:


Astul

= D2
= 12 2
= 113,04 mm2
Dengan :

Jumlah tulangan ( n )=

Jarak tulangan ( s )=

580,80
=5,14 6 buah
113,04

1000 1000
=
=200 mm
n1
5

Jadi, digunakan tulangan D 12 - 200 mm.

46

Tabel Rekapitulasi Tulangan


Mome
n

Mu

(kNm)

(Mpa)

1
Mlx

2
176,40

Mly

AS

Tulangan

(mm2)

Dipakai

min

3
3,09

4
0,0105

5
0,0044

6
1500,81

25,20

0,15

0,0078

0,0044

1006,20

Mtx

1,04

2,34

0,0005

0,0044

630

Mty

0,7

0,12

0,0004

0,0044

580,80

3.4 Perhitungan Gelagar Jembatan


Direncanakan :
-

Jarak gelagar memanjang


Jarak gelagar melintang
Panjang jembatan
Lebar trotoar
Lebar lantai kenderaan

=
=
=
=
=

1,25
4,0
48
2 x 0,5
6

47

m
m
m
m
m

7
14 100

14 150
12 200
12 200

1,25

4.0

3.4.1 Perencanaan Gelagar Memanjang

q plat = 0,64 t/m2


qeq tipe b
qeq

Ix ( 3 Iy 2Ix 2 ) q
2
6 Iy

48

4,0

2
= 3 x(21,25 )0.64

1,25

= 0,387 t/m
qeq tipe a
qeq

1
3 Ix q

1
3

(1,25).(0.64)

= 0,26 t/m

Gelagar memanjang direncanakan menggunakan profil DIR - 10 dengan


data sebagai berikut:
q

= 34,6 kg/m = 0,0346 t/m

= 44 cm2

Wx = 152 cm3
Sx

= 93 cm3

Ix

= 852 cm4

= 1,04 cm

= 1,12 cm

= 1 cm

49

1. Pembebanan
a. Beban mati
- Berat sendiri profil = 0,0346 t/m
- Berat lantai

= 2 x qeq tipe b
= 2 x 0.644
= 1,288 t/m

= 0.0346 + 1,288 = 1,323 t/m

Momen yang timbul:


M maks = 1/8 . q . l2
= 1/8 x 1,323 x (4,0)2
= 2,646 tm

Gaya lintang yang timbul


D maks =1/2 . q . l
= x 1,323 x 4,0
= 2,646 t

b. Beban Hidup
Menurut PPPJJR 1987 beban hidup pada jembatan yang harus
ditinjau dinyatakan dalam dua macam, yaitu beban T yang merupakan beban
terpusat untuk lantai kenderaan dan beban D yang merupakan beban lajur untuk
gelagar. Kemudian dari pembebanan tersebut diambil beban yang maksimum.

50

Beban garis P = 12 t

Beban terbagi rata q t/m

Beban D atau beban jalur adalah susunan beban pada setiap jalur
lalulintas yang terdiri dari beban terbagi rata sebesar q t/m panjang perjalur.
Beban D adalah seperti tertera pada gambar di bawah ini

Gambar beban D

Muatan Terbagi rata (q)


q = 2.2 t/m {(1.1/60) x (L 30)} t/m

(untuk 30 < L < 60 m)

q = 2.2 t/m - {(1.1/60) x (48 30)} t/m


q = 1,87 t/m (PPPJJR 1997)

51

Menurut PPPJJR 1987, bila beban tersebut bekerja selebar jembatan,


maka beban q t/m per jalur harus dibagikan dengan lebar jalur minimum 2.75 m
sehingga didapatkan beban q per meter lebar jembatan yang terdistribusi merata
dalam arah melintang. Kemudian beban tersebut dilimpahkan ke gelagar
memanjang dengan mengalikan jarak gelagar memanjang.

1. Beban terbagi rata (q) =

1,87
2.75

x 1,25 = 0,85 t/m

2. Muatan garis (P)


Menurut PPPJJR 1987 beban garis diambil 12 ton, untuk jembatan kelas
B, P diambil 100 %.
P

= 100 % x 12 = 12 t

Beban garis (p)

12
2.75

x 1,25 = 5,45

3. Koefesien kejut (K)


Menurut PPPJJR 1987, koefesien kejut ditetapkan sebagai berikut :
K

=1+

20
50+ L

=1+

20
50+ 48

= 1.20

Momen yang timbul:


Mytb = K. (1/4 . P.ly + 1/8 . q . (ly)2)
= 1,20 x (1/4 x 5,45 x 4,0) + (1/8 x 0,85 x (4,0)2)
= 11,15 tm

52

Gaya lintang yang timbul:


Dytb = K (1/2 . P + . q . ly )
= 1.20 (1/2 x 5,45 + 1/2 x 0,85 x 4.0)
= 5,31 tm
c. Muatan angin
Besarnya tekanan angin w = 150 kg/m2, dan luas bidang yang
menerima tekanan angin (h) setinggi 2 m diatas lantai kendaraan (PPPJJR1987), jarak gelagar melintang 4,0 m, jarak as ke as roda 1,75 m.

W = 150 kg/m

2m

1m

1.75 m
Aksi pada roda
Reaksi dari lantai

53

Reaksi pada roda akibat angin :


A =
1
( jarak gel .melintang ) x ( tinggi tek . angin ) x ( b . angin ) x( x tinggi tek . angin)
2
jarak As roda
=

4,0 x 2 x 0,15 x 1
1,75

= 0,69 ton
Momen yang timbul
M =xRxL

= x 0,69 x 4,0

= 0,69 tm

Gaya lintang yang timbul


D=xR
= x 0,69
= 0,35 t
d. Muatan gempa
Pengaruh gempa bumi pada jembatan diperhitungkan senilai dengan suatu
pengaruh gaya horizontal yang bekerja pada titik berat konstruksi yang paling
berbahaya. Untuk wilayah Aceh memiliki daerah gempa VI dengan koefisien
gempa bumi 0,30. (Berdasarkan Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk
Jembatan / SNI 03 2833 200X). Berdasarkan PPPJJR-1987, Pengaruh gempa
bumi pada jembatan diperhitungkan senilai dengan suatu pengaruh gaya
horizontal yang bekerja pada titik berat konstruksi yang paling berbahaya.
Gaya horizontal tersebut ditentukan besarnya dengan rumus :
K=E.G
Dengan:

K = gaya horizontal
E = koefisien gempa bumi (0,30 untuk daerah gempa VI)
G = berat sendiri ; q = 1,323 t/m
54

K = 0,30 x (4,0 x 1,323) = 1,588 t


Maka:
-

Momen yang timbul:


M
= x K x I = x 1,588 x 4,0

= 1,588 tm

Gaya lintang yang timbul :


D

=xK

= x 1,588

= 0,794 t

e. Gaya rem dan traksi


Berdasarkan PPPJJR-1987, besarnya gaya ini diperhitungkan 5% dari muatan
D tanpa koefisien kejut dan dianggap bekerja horizontal dengan titik tangkap
setinggi h = 1,80 m di atas lantai kendaraan :
Jarak gaya yang bekerja adalah :
H

= h + tebal aspal + tebal plat lantai


= 1,80 m + 0,05 m + 0,2 m
= 2.05 m

Besarnya gaya rem dan traksi ini adalah :


R

= 5% x {(q x l + P}
= 5% x {(0,85 x 4,0) + 5,45}
= 0,44 t

Momen yang timbul :


M = R x H = 0,44 x 2.05 = 0,907 tm

Gaya lintang yang timbul :


D = x R = x 0,44 = 0,22 t

55

f. Kombinasi beban
1. Momen akibat beban mati (M)
= 2,646 tm
2. Momen akibat beban hidup (H)
= 11,15 tm
3. Momen akibat beban angin (A)
= 0,69 tm
4. Momen akibat beban gempa (G)
= 1,588 tm
5. Momen akibat rem dan traksi (R)
= 0,907 tm
I.
M + H = (2,646+ 11,15) : 100%
= 13,796 tm
II.
M + A = (2,646+ 0,69) : 125%
= 2,669 tm
III.
M + A + H + R = (2,646+ 0,69 +11,15 +0,907) : 140%
IV.
M + G = (2,646 + 1,588) : 150%

= 10,995 tm
= 2,822 tm

Dari kombinasi beban diatas, yang menentukan adalah kombinasi I dengan


momen sebesar 13,796 tm.
1.
2.
3.
4.
5.
I.
II.
III.
IV.

Gaya lintang akibat beban mati (M)


Gaya lintang akibat beban hidup (H)
Gaya lintang akibat beban angin (A)
Gaya lintang akibat beban gempa (G)
Gaya lintang akibat rem dan traksi (R)

= 2,646 t
= 5,31 t
= 0,35 t
= 0,794 t
= 0.22 t

M+H
= (2,646 + 5,31) : 100%
M+A
= (2,646 + 0,35) : 125%
M + A + H + R = (2,646 + 0,35 + 5,31 + 0,22) : 140%
M+G
= (2,646 + 0,794) : 150%

= 7,956 t
= 2,397 t
= 6,09 t
= 2,293 t

Dari kombinasi beban diatas, yamg menentukan adalah kombinasi I dengan gaya
lintang sebesar 7,956 t.
g. Pengecekan terhadap Kondisi Momen Dominan
Dari data kombinasi didapatkan:
Mumax = 13,796 KNm

56

Vumax = 7,956 KNm


Fy

= 320 MPa

= 200000 Mpa

h. Penampang yang digunakan


Direncanakan girder memanjang dari profil DIR - 10 dengan mutu baja Fe
360 yang mempunyai tegangan ijin 2400 kg/cm2.
Lentur Mn = 0,9 x Zx
Fy > Mu = 13,796 kNm
Zx > Mu / ( 0,9 x fy ) = 13,796 x 106 / ( 0,9 x 1,12 x 320)
Zx > 42770,34 mm3
Zx > 42,77 cm3

Nilai table pada buku teknik sipil diperoleh :


H

112

mm

Iy

= 315

cm4

tf

17

mm

ix

= 4,4

cm

44

cm2

iy

= 2,68

cm

Zx

152

mm

tw

= 10

mm

Zy

60,6

mm

Bf

= 0.5 x 104 = 52

mm

Ix

852

cm4

= 11

mm

= 104

mm

q
= 0.0346
t/m
bf
1. Cek kelangsingan pelat badan dan sayap
a. Sayap

f =

1
b
2
tf

1
104
2
17

= 2,08

57

170
fy

p =

170

= 320

= 9,50

Karena f < p, maka penampang sayap kompak


b. Badan
=

h
tw

Karena

<

112
10

1680
Fy

= 11,2

= 93,91

p , maka penampang badan kompak

2. Cek kapasitas penampang


Batas zona plastis

:
E
fy

Lp

= 1,76 x iy x

200000
320
= 1,76 x 26,8 mm x
= 1179,2 mm
Batas zona inelastik :
X1
FL

Lr

= ry {

1 1 X 2 FL
}
58

Dimana :
FL

= Fy fr
= 320 (0,3 x 320)
= 224 Mpa

E
2 (1 )

2 00000
2 (1 0,3)
=
= 76923,08 Mpa

1
3

( 23 104 17 + 13 ( 1122 17) 17 )


3

x b x t3 =

= 468372,667 mm4

E.G.J . A
x
Sx
2
X1

=
=

200000 76923,08 468372,667 44


x
3
2
152 10

= 8225,01 MPa

X2

=4

Sx

GxJ

Iw
Iy

59

hff

= H x 17 x 2
= 112 x 17 x 2
= 95 mm

Iw

= Iy .

hff 2
4

315 x 104 .

95 2
4

=
9

= 7,10 x 10

X2

=4

Sx

GxJ

Iw
Iy

= 4.

152 x10 3

76923,08 x 468372,667

7,10 x10 9
315 x10 4

= 1,605 x 10-7
X1
FL

Lr

= ry {

= 315{

1 1 X 2 FL

}
8225,01
224

1 1 1,605 x10 7 x 1 x 224 2

= 16373,81 mm
60

Dengan Lp = 1179,20 < Lb = 9300 < Lr = 16373,81 mm maka, balok


tersebut pada zona bentang menengah ( tekuk torsi lateral inelastik ) dan
Cb = 1.14.

Lb Lp

Mp ( Mp Mr )
Lr

Lp

Mn

= Cb

Mr

= Sx (fy-fr)

Mp

< Mp

= 152 x (320 0,3 x 320)


= 34,05 kNm
Mp

= 1,2 x Sx x Fy
= 1,2 x 152 x 320
= 58,37 kNm

Mn

=1,14

6,000 1,18

58,37 (35,357 34,05 )


16,37

1
,
18

Mp

= 65,99 kNm > Mp = 58,37 kNm (balok berada sedikit


diluar zona plastis.

3. Menentukan kuat lentur rencana balok

Mn :

Dalam setiap kondisi Nilai Mn harus lebih besar dari nilai Mp, maka Nilai
Mn di ambil sama dengan Mp = 58,37 kn.m

61

Mn = 0,9 58,37 kNm


= 52,533 kNm Mu = 17,468 kNm
4. Cek kelangsingan penampang terhadap geser
w

h
tw

5
a
h

=
2

()

kn = 5 +

112
10

= 11,20

=5+

5
6000
112

= 1,10

5,00 200000
320

, maka:

= 5,00
1,10

Karena
Vn

h
tw

k n E
Fy

< 1,10

k nE
fy

= 61,49

= 0,6 Fy Aw
= 0,6 320 (104 17) = 339,456 kN

5. Menentukan kuat geser rencana balok


V n= 0,9 339,456 kN
= 339,456 kN

Vu = 12,206 kN

6. Kombinasi momen lentur dan geser

62

V n

Mu
V
+ 0.625 u 1.375
Mn
Vn
17,468
12,206
+0.625
1.375
52,533
339,456
0,35<1.375 penampang kuat

Dari hasil-hasil pengecekan diatas semuanya telah memenuhi syarat-syarat,


maka profil DIR - 10 dengan berat profil 34,6 kg/m dapat digunakan untuk
girder memanjang

63

3.4.2

Perencanaan Gelagar Melintang

Direncanakan :
Jarak antara gelagar memanjang = 1,25 m
Jarak gelagar melintang
=4m
Lebar trotoar
= 2 x 0,5 m
Gelagar melintang direncanakan menggunakan profil DIR 100 dengan data
sebagai berikut :
q

= 349 kg/m = 0,349 t/m

1. Pembebanan
a. Beban mati
Berat sendiri profil
Berat lantai = 2 x qeq tipe a

= 0,349 t/m

= 2 x 0,48

= 0,96 t/m

= 0.349 + 0.96

= 1,31 t/m

b. Beban hidup
Menurut PPPJJR-1987, beban hidup berupa muatan D yang terdiri muatan
terbagi rata (q) dan muatan garis (P). untuk beban hidup harus ditinjau terhadap
gelagar tepi dan gelagar tengah. Kemudian dari pembebanan tersebut diambil
beban yang maksimum. Menurut PPPJJR-1987. beban D atau beban jalur
adalah susunan beban pada setiap jalur lalulintas yang terdiri dari beban q (t/m
beban jalur) dan P (ton perjalur). Karena lebar lantai kendaraan > 5,50 m, beban
D sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar lajur 5,50 m sedangkan lebar
selebihnya hanya dibebani 50% beban D.

Muatan terbagi rata (q)

64

= 1,87 t/m

Menurut PPPJJR-1987, bila beban tersebut bekerja selebar jembatan, maka


beban q t/m per jalur harus dibagikan dengan lebar jalur minimum 2,75 m
sehingga didapatkan beban q per m lebar jembatan yang terdistribusi merata
dalam arah melintang. Kemudian beban tersebut dilimpahkan ke gelagar
memanjang, dengan mengalikan jarak gelagar memanjang. Beban tersebut
merupakan salah satu beban yang diterima oleh gelagar melintang dan
dikelompokkan kedalam distribusi beban terpusat.
q=

1,87
2,75

x 100 % = 0,68 t/m

q=

1,87
2,75

x 50 % = 0,34 t/m

Muatan garis (P)


Menurut PPPJJR-1987, beban garis (P) diambil 12 ton. Untuk jembatan kelas
A, P diambil 100 %.
P
P

= 100% x 12 = 12 t
=

12
2,75

x 100 %

12
2,75

x 50 %

= 4,36 t/m

= 2,18 t/m

65

66

c.

67

Beban yang bekerja diatas gelagar melintang didistribusikan secara merata


searah gelagar melintang. Beban tersebut adalah berat gelagar melintang, berat
plat lantai dan beban hidup garis. Sedangkan beban yang lainnya didistribusikan
searah gelagar memanjang atau dijadikan beban terpusat.

Pelimpahan beban :
q1

= berat gelagar melintang


= 0,349 t/m

q2

= berat sendiri gelagar melintang + berat plat lantai


= 0,349 + 0,96 = 1,309 t/m

q3

= q2 + beban terbagi rata 50 %


= 1,309 + 2,18 = 3,489 t/m

q4

= q2 + beban terbagi rata 100 %


= 1,309 + 4,36 = 5,669 t/m

Reaksi tumpuan
RA = R B

= ((2 x q1 x L1) + (2 x q2 x L2) + (2 x q3 x L3) + (q4 x L4))


= ((2 x 0,349 x 0,15) + (2 x 1,309 x 1) + (2 x 3,489 x 0,75) +
(5,669 x 5,50))
= 19,568 t

Mmaks

= RA (4,65) q1 (0,15)(4,58) q2 (1)(4) q3 (0,75)(3,125)

68

0,5 q4(2,752)
= 55,902 tm
Dmaks

= RA

= 19,568 t

d. Distribusi beban terpusat (P)

9,00
1

P1

P3

P2
1,25

1.00

2,25

P2
2,25

P1
2,25

5,5

1
0,75

1
0,75

Untuk distribusi beban terpusat, beban yang bekerja diatas gelagar


melintang didistribusikan searah gelagar memanjang. Beban tersebut adalah berat
gelagar tepi dan gelagar memanjang, beban hidup trotoar dan beban hidup q
merata, dimana berat gelagar tepi, tengah dan beban hidup trotoar didapatkan dari
perhitungan beban mati dan beban gelagar memanjang.

69

Pelimpahan beban :
Beban terpusat
Beban trotoar :
Beban hidup trotoar = 60% x 0,5 x 1 x 4
Beban sendiri trotoar = 0,36 x 1 x 4
Beban lantai kendaraan :
Berat pelat lantai (b) = 0,64 x 4
Beban sendiri gelagar memanjang = 0.0346 x 4
Beban terpusat 100% :
x = 0,75 m
4,36 x 0,75 x 4
x = 2,25 m
4,36 x 2,25x 4
Beban terpusat 50% :
x = 1.00 m

2,18 x 1.00 x 4

= 1,20 t
= 1,44 t
= 2,64 t
= 2,56 t
= 0.14 t
= 13,08 t
= 39,24 t

= 8,68 t

Pelimpahan beban :
P1

= beban trotoar + berat gelagar memanjang + berat lantai + beban


terpusat 100% + beban terpusat 50%
= 2,64 + 0,14 + 2,56 + 13,08 + 8,68
= 27,1 t

70

P2

= berat gelagar memanjang + beban trotoar + beban lantai kendaraan +


beban terpusat 100% + beban terpusat 50%
= 0,14 + 2,64 + 2,56 + 39,24+ 8,68 = 50,7 t

P3

= berat gelagar memanjang + beban lantai kendaraan + beban terpusat


100%
= 0,14 + 2,56 + 39,24
= 41,94 t

Akibat beban terpusat


Reaksi tumpuan
RA = R B

= (2 x (P1 + P2 + P3))
= (2 x (27,1 + 50,7 + 41,94)) = 119,74 t

Momen yang timbul :


Mmaks

= RA x 4,5 P1 x 4,5 P2 x 2,25


= (119,74 x 4,5) (27,1 x 4,5) (50,7 x 2,25)
= 302,805 tm

Gaya lintang yang timbul :


Dmaks = RA

= 119,74 t

e. Beban angin
Besarnya tekanan angin w = 150 kg/m 2, dan luas bidang yang menerima
tekanan angin (h) setinggi 2 m diatas lantai kendaraan (PPPJJR-1987,
gelagar melintang 4 m, jarak as ke roda 1,75 m.
71

W = 150 kg/m

2m

1m

1.75 m
Aksi pada roda
Reaksi dari lantai

Reaksi pada roda akibat angin :


A =
1
( jarak gel .melintang ) x ( tinggi tek . angin ) x ( b . angin ) x( x tinggi tek . angin)
2
jarak As roda
=

4 x 2 x 0,15 x 1
1,75

= 0,69 ton
Momen yang timbul
M = x Ax L

= x 0,69 x 4 = 0.69 tm

72

Gaya lintang yang timbul


D=xA

= x 0,69

= 0,35 t

f. Gaya rem
Berdasarkan PPPJJR-1987, besarnya gaya ini diperhitungkan 5% dari
muatan D tanpa koefisien kejut dan dianggap bekerja horizontal dengan titik
tangkap setinggi h = 1,80 m diatas lantai kendaraan.
Jarak gaya yang bekerja adalah :
H

= h + tebal aspal + tebal plat lantai


= 1,8 + 0,05 + 0,2

= 2,05 m

Besarnya gaya rem dan traksi ini adalah :


R

= 5% . (q . l + P) x lebar jembatan
= 5% . (0,79 x 4 + 4,36) x 9

= 3,38 t

Momen yang timbul


M = R . H = 3,38 x 2,05 = 6,93 tm
Gaya lintang yang timbul :
D = R = x 3,38 = 1,69 t

g. Kombinasi beban

73

Dari kombinasi beban gelagar memanjang diketahui bahwa yang


menentukan adalah kombinasi I :
Momen total

= M + H +A+ R

= 55,902 + 302,805 + 0.69 + 6,93


= 366,327 tm

Gaya lintang total

= M + H +A+ R

= 19,568 + 119,74 + 0,35 + 1,69


= 141,348 t

h. Pengecekan terhadap kondisi momen dominan.


Dari data kombinasi didapat :
Mumax

= 366,327 tm = 3663,27 kNm

Vumax

= 141,348 ton = 1413,48 kN

Fy

= 320 Mpa

= 200000

i. Dari data tabel DIR 100 dengan properties sbb:


h = 1008 mm

Ix = 722330 cm4

tf = 40 mm

Iy = 18460 cm4

A = 444 cm2

ix = 40,3 cm

Sx = 8280 cm3

iy = 6,45 cm

Sy = 1220 cm3

r = 30 mm

tw = 21 mm

b = 302 mm

74

1.

Cek kelangsingan pelat badan dan sayap


a. Sayap

f =

1
b
2
tf

1
x 302
2
40

p =

170
fy

170
320

= 3,78

= 9,50

Karena f < p, maka penampang sayap kompak


a. Badan
w

h
tw

1008
21

= 48

h = 1008 ( 240 ) ( 230 ) =

868 mm
p

1680
Fy

1680
320

= 93,91

Karena w < p, maka penampang badan kompak

b. Cek pengaruh tekuk lateral


Lp = 1,76 iy

= 1,76 6,45

E
Fy

200000
320

75

= 2932 mm

X1
Lr = r y f L

] 1+1+( X f
2

2
L

Dimana:
fL = Fy fr
= 320 ( 0.3 320 )
= 224 MPa

G =

E
2 ( 1+ )
200000
2 ( 1+0.3 )

= 76923,08 MPa

3 bt3

( 23 302 21 + 13 (10082 21) 21 )


3

= 4846590 mm4

EGJA
X1 = S x
2

76

200000 76923,08 4846590 444


3
2
8280 10

= 1542,89 MPa
Iw = Iy

h2ff
4

2
1
(1008 ( x 21 x 2))
2
4

= 18460 104

= 4,50 1013 mm6


X2 = 4

=4

Sx
GJ

( )
(

Iw
Iy

8280 10 3
76923,08 4846590

13

4,50 10
4
18460 10

= 4,75 x 10-4

[ ]

X1
r
y
Lr =
fL

= 64,5

1+ 1+ ( X 2 f 2L )

1542,89
224

1+ 1+( 4,75 x 10

224 2 )

= 1086,72 mm
Dengan Lp = 2932 mm < Lb = 9300 mm < Lr = 1086,72 mm, maka balok
tersebut berada pada zona bentang menengah (tekuk torsi-lateral inelastik) dan
Cb = 1,14
77

Sehingga:

M n = Cb

M p ( M pM r )

Lb L p
LrL p

)]

Mp

Mr = Sx ( Fy fr ) = 8280 103 x (320 0,3 x 320 ) = 1855 kNm

Mp = 1,2 Sx Fy
= 1,2 8280 320
= 3179 kNm

Mn = 1,14

3179( 31791855 )

9,3 2,93
( 1,08
2,93 ) ]

3179 kNm

= 8821,15 kNm > 3179 kNm (balok berada sedikit


diluar zona plastis.
c. Menentukan kaut lentur rencana balok Mn:
Dalam setiap kondisi Nilai Mn harus lebih besar dari nilai Mp, maka Nilai
Mn di ambil sama dengan Mn = 8821,15 KN.m
Mn = 0,9 3179 KNm
= 8821,15 KNm Mu = 3663,27 KNm

78

d. Cek kelangsingan penampang terhadap geser

h
tw

1008
21

5
a
h

= 48

()

kn = 5 +

=5+

5
9300
1008

= 5,06

1,10

Karena

k n E
Fy
h
tw

= 1,10

< 1,10

k nE
fy

5,06 200000
320

= 61,86

, maka:

Vn = 0,6 Fy Aw
= 0,6 320 (302 21)
= 1217664 KN

e. Menentukan kuat geser rencana balok

79

V n

V n= 0,9 1217664 kN
= 10958,98 kN

Vu = 1413,48 kN

f. Kombinasi momen lentur dan geser


Mu
V
+0.625 u 1.375
Mn
Vn
3663,27
1413,48
+0.625
1.375
8821,15
10958,98
0,496<1,375 penampang kuat

g. Cek lendutan
M u=3663,27 kNm

5 M u L2
5 3663,27 106 93002
=
=22,845 mm
48 E I x 48 200000 722330 10 4

ijin=

L
9300
=
=25,83mm
360 360

=22,845< ijin=25,83 mm Syarat lendutan terpenuhi

80

Dari hasil-hasil pengecekan diatas semuanya tidak memenuhi syaratsyarat, maka profil DIR - 100 dengan berat profil 349 kg/m dapat digunakan
untuk girder melintang.

3.5 Perhitungan Vakwerk


Pembebanan yang diperhitungkan :
1. Muatan mati
2. Muatan hidup
3. Muatan angin
3.5.1 Muatan Mati
a. Berat Vekwerk
Berat sendiri 2 (dua) buah vakwerk (L = 48 m), menurut Prof. Ir. Loa.Wan
Kiong 1976 (Konstruksi Baja V, halaman 63) adalah:
G

= (20 + 3 . L) kg/m2

L = Panjang bentang = 48 m

= (20 + 3 (48))
= 164 kg/m2
Semua beban yang bekerja pada jembatan dilimpahkan ke vakwerk
sepanjang 48 m dengan lebar jembatan 9 m. Panjang gelagar melintang yang
direncanakan adalah 9,3 m (dianggap ada pelebaran jalan suatu saat).
Berat sendiri vakwerk berdasarkan rumus diatas adalah:
Berat Vakwerk

9,3 m x 48 m x 164 kg/m2

73209,06 kg

b. Berat Sandaran
Beban-beban yang bekerja adalah

81

Sandaran digunakan pipa baja berdiameter 42,7 mm


Berat profil
-

= 2 x (48 x 2) x 2,29 kg/m = 439,68 kg

Type pengaku sandaran yaitu CNP-12 dengan berat 13,4 kg


Berat baut dan pengikat diasumsikan 10% dari berat sandaran
= 10% x 439,68 kg

= 43,968 kg

Jadi berat total pipa sandaran :


= 439,68 + 43,968
= 483,648 kg
Maka berat total gelagar utama yaitu :
= B. Gelagar utama + B. Pipa sandaran
= 73209,06 kg + 483,648 kg
= 73692,708 kg
= 73,69 ton
Berat untu satu gelagar adalah
P

= x Berat total gelagar


= x 73,69 ton
= 36,845 ton

Untuk tiap-tiap titik buhul menerima beban sebesar :

- Titik buhul tengah (P1)

- Titik buhul tepi (

1
2

P1)

1
12
1
2

. 36,845 ton

. 3,07 ton

Reaksi tumpuan untuk satu gelagar utama sebesar :

82

= 3,07 ton

= 1,535 ton

RA = RB

1
2

. 36,845 ton

= 18,423 ton

Gaya batang akibat berat sendiri dihitung dengan menggunakan metode cremona.
Nomor
Batang
A
1
A
2
A
3
A
4
A
5
A
6
B
1
B
2
B
3
B
4
B
5
B
6

Gaya Pada Batang


(Ton)
Tarik (+) Tekan (-)

= A12

19,893

= A11

36,134

= A10

48,752

A9

57,501

A8

63,211

A7

65,023

= B12

9,947

= B11

27,998

= B10

42,427

B9

53,264

B8

60,509

B7

64,102

Nomor
Batang
D2
D1 = 4
D2
D2 = 3
D2
D3 = 2
D2
D4 = 1
D2
D5 = 0
D1
D6 = 9
D1
D7 = 8
D1
D8 = 7
D1
D9 = 6
D1
D1
0
= 5
D1
D1
1
= 4
D1
D1
2
= 3

Gaya Pada Batang


(Ton)
Tarik (+) Tekan (-)
19,587
19,587
16,025
16,025
12,464
12,464
8,903
8,903
5,342
5,342
1,781
1,781

Berat lantai kendaraan diperhitungkan selebar 9 meter dan lebar 0,15


meter disebelah kanan dan kiri jembatan.
Berat lantai kendaraan dan lainnya adalah :
( 10 kg/m2 )

a. Berat ikatan angin atas dan bawah


Aatas = PxLx10 kg/m2: 4 x 9.3 x 10 kg/m2

83

= 372

kg

Abawah= PxLx10 kg/m2: 4 x 9.3 x 10 kg/m2


b. Berat gelagar:
G. memanjang (DIR 10) = 34,6 kg/m x 4 m x 5 bh
G. melintang (DIR 100) = 349 kg/m x 9.3 m

= 372

kg

= 692
kg
= 3245,70 kg

c. Lantai kenderaan:
Plat lantai

= 0.20 m x 9 m x 4 m x 2400 kg/m2

= 17280

kg

Lap. Aspal = 0.05 m x 7 m x 4 m x 2200 kg/m2

= 3080

kg

= 0.05 m x 7 m x 4 m x 1000 kg/m2

= 1400

kg

Air hujan

d. Lantai trotoar:
Lantai trotoar = 2 x (0.15 m x 1 m x 4 m x 2400 kg/m2) = 2880kg
Air hujan
= 2 x (0.15 m x 1 m x 4 m x 1000 kg/m2) = 1200
P = 30552,10
P = 30,552

kg
kg
Ton

Keterangan :
G = 10 a (kg/m2), merupakan bobot dari konstruksi lantai dan lainnya.
Untuk tiap-tiap titik buhul menerima gaya P sebesar:
- Titik buhul tengah (Pt)

= . 30,552 t

= 15,276 t

- Titik buhul tepi (Pt)

= . 8,251 t

= 7,638 t

Reaksi tumpuan pada gelagar utama akibat berat lantai kendaraan adalah :
V

=0

RA

= RB

= V/2
= 12P/2
= 6P
= 6 x (15,267)
= 91,602 t

84

Berat gaya batang akibat lantai kendaraan dihitung dengan mengalikan


faktor perbandingan (f) antara reaksi tumpuan berat sendiri lantai dengan gelagar
utama dikalikan dengan gaya batang yang diperoleh dari hasil cremona :

91,602
18,423
f

=
= 4,972
Gaya batang akibat berat lantai kendaraan dihitungdengan rumus : Sx = f.s

sehingga:
Sx

= Gaya batang akibat berat lantai kendaraan dan lainnya

= Faktor perbandingan reaksi tumpuan akibat berat lantai kendaraan


dengan reaksi tumpuan akibat berat sendiri gelagar utama

= Berat batang akibat gelagar sendiri

Gaya Batang Akibat Berat Lantai Dan Lainnya


Nomor
Batang
A
1
A
2
A
3
A
4
A
5
A
6
B
1
B
2
B
3
B
4

Gaya Pada Batang


(Ton)
Tarik (+)

Tekan (-)

= A12

98,908

= A11

179,658

= A10

242,395

A9

285,895

A8

314,285

A7

323,294

= B12

49,456

= B11

139,206

= B10

210,947

264,829

B9

Nomor
Batang
D2
D1 = 4
D2
D2 = 3
D2
D3 = 2
D2
D4 = 1
D2
D5 = 0
D1
D6 = 9
D1
D7 = 8
D1
D8 = 7
D1
D9 = 6
D1
D1
0
= 5

85

Gaya Pada Batang


(Ton)
Tarik (+)

Tekan (-)
97,386

97,386
79,676
79,676
61,971
61,971
44,266
44,266
26,560
26,560

B
5
B
6

3.5.2

B8

300,850

B7

318,715

D1
1
D1
2

D1
4
D1
= 3
=

8,855
8,855

Muatan Hidup

1/2 p

1/2 q

Menurut PPPJJR SKBI 1.3.28. 1987 untuk jembatan lebar lantai 5,5 m,
bebas D diambil 100% dan selebihnya 50% seperti diperlihatkan pada gambar
dibawah ini :

Ketentuan Beban D (PPPJJR SKBI 1987)


a. Beban Terbagi Rata
Panjang bentang jembatan yang direncanakan adalah 48 m, menurut PPJJR
1987 besarnya beban terbagi rata untuk jembatan dengan panjang bentang 48
adalah :

86

q = 1,87 t/m
Beban terbagi rata dalam jalur (diambil 100%)
q1 =

1,87
2,75

x 5,5 x 100 % = 3,74 t/m

Beban terbagi rata diluar jalur (50 %)


q2 =

1,87
2,75

x 1,5 x 50 %

= 1,02 t/m

Beban terbagi rata untuk trotoar diperhitungkan terhadap beban hidup 500 kg/m2
dan beban diambil 60 % dari beban hidup trotoar.
q3 = 0,5 t/m2 x x 60 %
= 0,5 t/m2 x 4 x 60 %
= 1,2 t/m
Beban terbagi rata (Pt) pada satu gelagar utama adalah
qt = (q1 + q2 + q3)
= (3,74 + 1,02 + 1,2)
= 2,98 tm

b. Beban Garis
Berdasarkan PPPJJR SKBI 1. 3. 28. 1987 beban garis P = 12 ton,
untuk jembatan kelas B. Beban garis diambil 70%.

87

= 12 ton x 100%

= 12 ton

Untuk menghitung beban garis maka P harus dikali dengan koefisien kejut:

Beban garis didalam jalur (100%)


P1

12 ton
2,75

x 5,5 x 1,24 x 100%

= 29,76 ton

Beban garis diluar jalur (50%)


P2

12 ton
2,75 x 1,5 x 1,24 x 50%

= 4,06 ton
Jumlah beban garis (Pt) akibat beban hidup pada gelagar melintang adalah:
Pt

= (P1 + P2)
= ( 29,76 + 4,06)
= 16,91 ton

Gaya-gaya batang akibat beban hidup D (beban terbagi rata dan beban
terpusat) dihitung dengan menggunakan metode garis pengaruh dengan ketentuan
P = 1 ton yang bergerak sepanjang jembatan. Beban P tersebut ditentukan pada
momen masing-masingordinat.
Y=

X (LX )
LxH

1. Perhitungan Garis Pengaruh Batang Atas (A)

88

a.

Garis pengaruh batang A1 = A11 Beban P


= 1 ton diletakkan pada titik I
4( 48 4)
Ya1 = Ya11 = 48 x 3,4

= 1,078

(-)

b. Garis pengaruh batang A2 = A10 Beban P = 1 ton diletakkan pada titik II


Ya2 = Ya10 =
c.

8(488)
48 x 3,4

= 1,961

(-)

Garis pengaruh batang A3 = A9 Beban P = 1 ton diletakkan pada titik


III
Ya3 = Ya9 =

d.

12(48 12)
48 x 3,4

= 2,647

(-)

Garis pengaruh batang A4 = A8 Beban P = 1 ton diletakkan pada titik


III
Ya4 = Ya8 =

e.

16 (48 16)
48 x 3,4

= 3,137

(-)

Garis pengaruh batang A5 = A7 Beban P = 1 ton diletakkan pada titik


III
Ya5 = Ya7 =

f.

20 (48 20)
48 x 3,4

= 3,431

(-)

Garis pengaruh batang A6 = A6 Beban P = 1 ton diletakkan pada titik


III
Ya6 = Ya6 =

24 (48 24)
48 x 3,4

= 3,529

(-)

89

2. Perhitungan Garis Pengaruh Batang Bawah (B)


3. Garis pengaruh batang B1 = B11, Beban P = 1 ton diletakkan pada titik I
4( 48 4)
Yb1 = Yb11 = 48 x 3,4

Yb1.1 =

48
44

= 1,078

(+)

x 1,078 = 1,176

(+)

4. Garis pengaruh batang B2 = B10, Beban P = 1 ton diletakkan pada titik II


Yb2 = Yb10 =

8(488)
48 x 3,4

= 1,961

Yb2.1 =

44
40

x 1,961 = 2,157

Yb2.2 =

4
8

x 2,157 = 1,078 (+)

(+)

(+)

5. Garis pengaruh batang B3 = B9, Beban P = 1 ton diletakkan pada titik III
Yb3 = Yb9 =

Yb3.1 =

40
36

12( 48 12)
48 x 3,4

= 2,647 (+)

x 2,647 = 2,941

(+)

90

Yb3.2 =

8
12

x 2,941 = 1,961

(+)

6. Garis pengaruh batang B4 = B8 Beban P = 1 ton diletakkan pada titik IV


Yb4 = Yb8 =

16 (48 16)
48 x 3,4

= 3,137 (+)

Yb4.1 =

36
32

x 3,137 = 3,529

(+)

Yb4.2 =

12
16

x 3,529 = 2,647

(+)

7. Garis pengaruh batang B5 = B7 Beban P = 1 ton diletakkan pada titik V


Yb5 = Yb7 =

20 (48 20)
48 x 3,4

= 3,431 (+)

Yb5.1 =

32
28

x 3,431 = 3,922

Yb5.2 =

16
20

x 3,922 = 3,137

(+)

(+)

8. Garis pengaruh batang B6 = B6 Beban P = 1 ton diletakkan pada titik VI


Yb6 = Yb6 =

24 (48 24)
48 x 3,4

= 3,529 (+)

Yb6.1 =

28
24

x 3,529 = 4,118

(+)

Yb6.2 =

20
24

x 4,118 = 3,432

(+)

91

9. Perhitungan Garis Pengaruh Batang Diagonal (D)


Untuk perhitungan garis pengaruh pada batang diagonal (D) dapat digunakan
persamaan :
YD1.1

RA1
sin

YD1.2

Sudut yang terbentuk oleh batang diagonal adalah


Tg

4
2

=2

= 63,43o
a. Garis Pengaruh Pada Batang D1 = D12
P = 1 ton diletakan pada titik
RA =

YD1

48
48

=1
11
sin63,43

(+)

=0

P = 1 ton diletakan pada titik


RA

44
48

YD2

0,92
sin63,43

= 0,92

= 1,03 (+)

b. Garis Pengaruh Pada Batang D3 = -D22 = D4 = D21


P = 1 ton diletakan pada titik I
RA

44
48

= 0.92

92

RA
sin

YD3

0.921
sin63,43

(-)

= 0,09

P = 1 ton diletakan pada titik II


RA

40
48

YD4

0,83
sin63,43

= 0,83

(+)

= 0,93

c. Garis Pengaruh Pada Batang D5 = -D20 = D6 = D19


P = 1 ton diletakan pada titik I
RA

40
48

YD5

0.831
sin63,43

= 0.83

(-)

= 0.19

P = 1 ton diletakan pada titik II


RA

36
48

YD6

0,75
sin63,43

= 0,75

(+)

= 0,84

d. Garis Pengaruh Pada Batang D7 = -D18 = D8 = D17


P = 1 ton diletakan pada titik I
RA

36
48

= 0.75

93

YD7

0.751
sin63,43

(-)

= 0,28

P = 1 ton diletakan pada titik II


RA

32
48

YD8

0,67
sin63,43

= 0,67

(+)

= 0,75

e. Garis Pengaruh Pada Batang D9 = -D16 = D10 = D15


P = 1 ton diletakan pada titik I
RA

32
48

YD9

0.671
sin63,43

= 0,67

(-)

= 0.37

P = 1 ton diletakan pada titik II


RA

28
48

YD10

0.58
sin63,43

= 0,58

= 0,65

(+)

f. Garis Pengaruh Pada Batang D11 = -D14 = D12 = D13


P = 1 ton diletakan pada titik I
RA

28
48

= 0,58

94

YD11 =

0.581
sin63,43

= 0.47

(-)

P = 1 ton diletakan pada titik II


RA

24
48

YD12

0.50
sin63,43

= 0,50

(+)

= 0,56

10. Luas Diagram Garis Pengaruh


Luas garis pengaruh untuk setiap batang adalah sebagai berikut :
a. Luas garis pengaruh batang atas (A)
FA1 = FA11

= x ( 48 x 1,078 )

= 25,872

FA2 = FA10

= x ( 48 x 1,961 )

= 47,064

FA3 = FA9

= x ( 48 x 2,647 )

= 63,528

FA4 = FA8

= x ( 48 x 3,137 )

= 75,288

FA5 = FA7

= x ( 48 x 3,431 )

= 82,344

FA6 = FA6

= x ( 48 x 3,529 )

= 84,696

b. Luas garis pengaruh batang bawah (B)


FB1 = FB11

= x ( 48 x 1,176 )

= 28,224

FB2 = FB10

= x ( 44 x 2,157 )

= 47,454

FB3 = FB9

= x ( 40 x 2,941 )

= 58,820

FB4 = FB8

= x ( 36 x 3,529 )

= 63,522

FB5 = FB7

= x ( 32 x 3,922 )

= 62,572

FB6 = FB6

= x ( 28.2 x 4,118 ) = 58,064

95

c. Luas garis pengaruh batang diagonal (D)


FD1 = FD24

= x ( 48 x 0.00 )

= 0.00

FD2 = FD23

= x (48 x 1,03 )

= 24,72

FD3 = FD22

= x (48 x 0.09 )

= 2,16

FD4 = FD21

= x (48 x 0.93)

= 22,32

FD5 = FD20

= x (48 x 0.19 )

= 4,56

FD6 = FD19

= x (48 x 0.84)

= 20,16

FD7 = FD18

= x (48 x 0.28 )

= 6,72

FD8 = FD17

= x (48 x 0.75 )

= 18

FD9 = FD16

= x (48 x 0.37 )

= 8,88

FD10 = FD15

= x (48 x 0.65 )

= 15,6

FD11 = FD14

= x (48 x 0.47 )

= 11,28

FD12 = FD13

= x (48 x 0.56 )

= 13,44

11. Perhitungan Gaya Batang


Gaya setiap batang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
Gb = (P x Y) + (q x F)
Ket :
Gb

= Gaya batang

= Beban Garis 16,91 t

= Kordinat garis pengaruh

= Beban terbagi rata 2,98 tm

= Luas diagram garis pengaruh

96

Untuk perhitungan gaya batang yang lain dapat dilihat pada table dibawah ini :
Gaya Batang Atas (A)

A1

A12

16,91

1,078

2,98

25,872

Gaya Batang
(-)
(P x Y ) + ( q x F )
95,327

A2

A11

16,91

1,961

2,98

47,064

173,411

A3

A10

16,91

2,647

2,98

63,528

234,074

A4

A9

16,91

3,137

2,98

75,288

277,405

A5

A8

16,91

3.431

2,98

82,344

303,403

A6

A7

16,91

3,529

2,98

84,696

312,069

Batang

Gaya
Batang
Bawah
(B)

B1 =

B12

16,91

1,176

2,98

28,224

Gaya Batang
(+)
(P x Y ) + ( q x F )
103,994

B2 =

B11

16,91

2,157

2,98

47,454

177,888

B3 =

B10

16,91

2,941

2,98

58,820

225,016

B4 =

B9

16,91

3,529

2,98

63,522

248,971

B5 =

B8

16,91

3,922

2,98

62,572

252,785

B6 =

B7

16,91

4,118

2,98

58,064

242,667

Batang

97

Gaya Batang Diagonal ( D )


Gaya Batang
Batang

F
(P x Y ) + ( q x F )

D1

D24

16,91

2,98

D2

D23

16,91

1,03

2,98

24,72

91,08

D3

D22

16,91

0.09

2,98

2,16

7,96

D4

D21

16,91

0.93

2,98

22,32

82,24

D5

D20

16,91

0.19

2,98

4,56

16,80

D6

D19

16,91

0.84

2,98

20,16

74,28

D7

D18

16,91

0.28

2,98

6,72

24,76

D8

D17

16,91

0.75

2,98

18

66,32

D9

D16

16,91

0.37

2,98

8,88

32,72

D10

D15

16,91

0.65

2,98

15,6

57,48

D11

D14

16,91

0.47

2,98

11,28

41,56

D12

D13

16,91

0.56

2,98

13,44

49,52

98

Maka gaya batang akibat beban hidup dapat ditabelkan sebagai berikut :

Nomor
Batang

Gaya Pada Batang


(Ton)
Tarik (+) Tekan (-)

Nomor
Batang

A1 = A11

95,327

D1

= D24

A2 = A10

173,411

D2

= D23

A3 =

A9

234,074

D3

= D22

A4 =

A8

277,405

D4

= D21

A5 =

A7

303,403

D5

= D20

A6 =

A6

312,069

D6

= D19

B1 = B12

103,994

D7

= D18

B2 =

B11

177,888

D8

= D17

B3 = B10

225,016

D9

= D16

B4 =

B9

248,971

D10 = D15

B5 =

B8

252,785

D11 = D14

B6 =

B7

242,667

D12 = D13

99

Gaya Pada Batang


(Ton)
Tarik (+) Tekan (-)
0.00
91,08
7,96
82,24
16,80
74,28
24,76
66,32
32,72
57,48
41,56
49,52

3.5.3 Beban angin


Besarnya beban angin yang bekerja pada jembatan berdasarkan PPPJJR
SKBI1.3.28.1987 adalah sebesar 150 kg/m2. Tekanan-tekanan angin yang bekerja
pada jembatan adalah:

Tekanan angin pada lantai kendaraan (wr)


Tekanan angin pada kendaraan (wm)
Tekanan angin pada rangka jembatan (wbr)

Tekanan-tekanan angin pada jembatan diperlihatkan gambar dibawah ini:

H
hm

wr

hbr

Luas bidang yang menahan angin adalah:


- Pada Lantai Kendaraan

= Fr

- Pada Kendaraan

= Fm = 2,00 m x 48 m

100

= 0,35 m x 48 m

= 16,8 m2
= 96 m2

- Pada Rangka Jembatan


Rangka Jembatan
Fbr1

= (48 + 44) m x 3,4 m x 30%


= 46,92 m2

Pelengkap
Fbr2

= (48 + 44) m x 3,4 m x 15%


= 23,46 m2

Fbrt

= Fbr1 + Fbr2
= 46,92 + 23,46
= 70,38 m2

Jarak Titik Tangkap Gaya Angin terhadap tumpuan adalah:


hr

= ( x 0,35)

= 0,17 m

hm = ( x 2,0) + 0,2

= 1,2 m

hbr = ( x 3,4)

= 1,7 m

Besarnya tekanan angin yang bekerja pada jembatan adalah:


- Lantai Kendaraan (wr)
- Kendaraan (wm)
- Rangka Jembatan (wbr)

= 16,8 m2 x 150 kg/m2


= 96 m2 x 150 kg/m2
= 70,38 m2 x 150 kg/m2

= 2520 kg
= 14400 kg
= 10557 kg

Reaksi tumpuan yang timbul akibat tekanan angin pada gelagar utama adalah:
K

( wbr x hbr )+ ( wm x hm ) +( wr x hr )
b

101

( 10557 x 1,7 ) + ( 14400 x 1,2 ) +(2520 x 0,17)


9.3

= 3833,90 kg
= 3,833 ton

Akibat gaya K menimbulkan reaksi pada tumpuan gelagar utama sebesar:


RA = . K
= x 3,833 ton
= 1,916 ton

Gaya batang akibat muatan angin dihitung dengan mengalikan faktor


perbandingan antara reaksi tumpuan akibat beban angin dengan reaksi tumpuan
akibat berat sendiri gelagar utama.
Faktor perbandingan tersebut adalah :
f

reaksitumpuan akibat beban angin


reaksitumpuan akibat beban sendiri

1,916
18,423
f

= 0,104

102

Gaya batang Akibat Beban Angin


Gaya Pada Batang
Nomor
(Ton)
Batang

Tarik (+)

Nomor

Tekan (-)

Batang

A1 =

A12

2,069

D1

D24

A2 =

A11

3,758

D2

D23

A3 =

A10

5,070

D3

D22

A4 =

A9

5,980

D4

D21

A5 =

A8

6,574

D5

D20

A6 =

A7

6,762

D6

D19

B1 =

B12

1,034

D7

D18

B2 =

B11

2,912

D8

D17

B3 =

B10

4,412

D9

D16

B4 =

B9

5,539

D10 =

D15

B5 =

B8

6,293

D11 =

D14

B6 =

B7

6,667

D12 =

D13

103

Gaya Pada Batang


(Ton)
Tarik (+)

Tekan (-)
2,037

2,037
1,667
1,667
1,296
1,296
0,926
0,926
0,555
0,555
0,185
0,185

104

105

106