Anda di halaman 1dari 40

PRESENTASI KASUS

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO

IDENTITAS MAHASISWA
Nama Lengkap

: Franscisca A. Langkerini

NIM

: 406111008

Periode

: 8 Oktober 2012 15 Desember 2012

Pembimbing
Topik

: dr. Dewi, Sp.A


: Tetanus

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. Sigit Pasyahril

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 6 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Bantar Gebang RT/RW 03/01, Bekasi

Pendidikan

: SD kelas 1

IDENTITAS ORANG TUA


Nama Ayah

: Tn. Masyhuri

Umur

: 32 tahun

Pekerjaan

: Kepala borongan

Pendidikan terakhir

: SMP

Alamat

: Bantar Gebang RT/RW 03/01, Bekasi

Agama

: Islam

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Bangsa/ Suku

: Jawa

Nama Ibu

: Ny. Suhidah

Umur

: 28 tahun

Pekerjaan

: Karyawati

Pendidikan terakhir

: SMP

Alamat

: Bantar Gebang RT/RW 03/01, Bekasi

Agama

: Islam

Bangsa/ Suku

: Jawa

Hubungan dengan orang tua : anak kandung.

ANAMNESA
Tanggal masuk rumah sakit

: 19 Oktober 2012, jam 20:34 WIB

Tanggal pemeriksaan

: 19 Oktober 2012

Diambil dari

: Alloanamnesis ( Ibu os)

Keluhan Utama

: Kaku seluruh tubuh

Keluhan Tambahan

: Mulut tidak bisa membuka lebar

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke IGD RSPI Sulianti Saroso dalam keadaan kaku seluruh tubuh, mulut
tidak bisa membuka lebar, lidah mengigit sejak 3 hari ini, pusing, panas selama 3 hari sebelum
masuk Rumah Sakit namun panas tidak terlalu tinggi, panas tidak disertai dengan mengigil,
kejang lebih dari 30 menit, batuk berdahak, dan terdapat gigi bolong.
Pasien tidak ada riwayat penyakit pilek. Nafsu makan yang berkurang sejak mulut tidak
bisa membuka lebar.
Berdasarkan pengakuan ibu pasien, pasien kejang saat sebelum dibawa ke IGD. Pasien
mengalami kejang lebih dari 30 menit, kejang seluruh tubuh, kejang hanya timbul sebanyak satu
kali.
Riwayat BAB yaitu sudah 3 hari pasien tidak BAB. BAK baik, lancar, warna kuning
jernih.
Ibu pasien menjelaskan bahwa pada hari Jumat satu minggu lalu, tanggal 12 Oktober
2012, pasien mengeluh gigi bolong lalu ibu os membawanya ke puskesmas, di puskesmas
diberikan obat sirup. Obat sirup yang diberikan tidak begitu memberikan perbaikan. Hari Rabu
tanggal 17 Oktober Januari 2012, pasien mengeluh sakit tenggorokan, pasien lalu dibawa ke
KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

klinik terdekat oleh tantenya dan di klinik diberi obat. Hari Jumat tanggal 19 Oktober 2012, jam
20:00, pasien mengalami kaku seluruh tubuh berulang, didapatkan posisi kaki ekstensi dengan
lengan kaku dan tangan mengepal. Mulut pasien juga tidak bisa membuka lalu pasien di bawa ke
IGD RSPI Sulianti Saroso.
Riwayat kejang sebelumnya tidak ada. Riwayat trauma tidak ada.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien belum pernah dirawat di rumah sakit dan belum pernah menderita penyakit seperti
ini sebelumnya. Pasien tidak mempunyai riwayat alergi makanan maupun obat-obatan.

PENYAKIT KELUARGA
Pasien merupakan anak pertama dan anak kandung dalam keluarga.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


Kehamilan
Ibu pasien memeriksakan kehamilannya ke bidan, tidak mengalami kelainan atau
gangguan selama kehamilan.
Kelahiran
Tempat kelahiran

: Tempat praktek bidan

Penolong persalinan

: Bidan

Cara persalinan

: Spontan

Masa gestasi

: Cukup bulan

Keadaan bayi
Berat badan lahir

: 3000 gram

Panjang badan lahir

: 50 cm

Lingkar kepala

: Tidak tahu

Langsung menangis

: Langsung menangis

Nilai APGAR

: Tidak tahu

Kelainan bawaan

: Tidak ada

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

RIWAYAT IMUNISASI DASAR


Pasien telah mendapatkan imunisasi :
BCG

: saat lahir

Hepatitis B

: saat lahir

DPT

: ibu os tidak memberikan karena takut anaknya panas seperti pengalaman


yang diceritakan oleh teman-temannya.

Polio

: saat usia 9 bulan

Campak

: saat usia 10 bulan

RIWAYAT PERTUMBUHAN

Ibu pasien tidak pernah menimbang berat badan dan mengukur panjang badan pasien
sendiri ataupun di Puskesmas.

RIWAYAT PERKEMBANGAN
Pertumbuhan gigi pertama : saat usia 8 bulan
Gangguan perkembangan mental dan emosi (-)
Perkembangan pubertas (-)
Psikomotor

Tengkurap

: saat usia 8 bulan

Duduk

: saat usia 10 bulan

Berjalan

: saat usia 1 tahun 1 bulan

Berbicara

: saat usia 1 tahun

RIWAYAT MAKANAN

Os mengkonsumsi ASI sejak lahir hingga usia 1 tahun 6 bulan, setelah usia 1 tahun 6
bulan os mengkonsumsi susu formula dan secara bertahap os mengkonsumsi buah/
biskuit, bubur susu, nasi tim, dan makanan untuk dewasa hingga kini.

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Umur
(bln)
0-2

ASI

Buah/Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim

2-4

4-6

6-8

8-10

10-12

Umur lebih dari setahun


Jenis makanan
Nasi
Sayur
Daging
Ikan
Telur
Tempe
Tahu
Susu

PEMERIKSAAN FISIK
Senin, 19 Oktober 2012
Pemeriksaan umum

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tinggi badan

: tidak tahu

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Frekuensi
2-3x/hari
Kadang-kadang
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Setiap hari

Berat badan

: 17 kg

Suhu

: 38 C

Nadi

: 108 x/mnt

Pernafasan

: 30 x/mnt

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Pemeriksaan Fisik

Kepala
bentuk normal, ukuran normal, tidak teraba benjolan, rambut hitam, distribusi merata,
tidak mudah dicabut, kulit kepala tidak ada kelainan, ubun-ubun besar sudah menutup.
Mata
Kelopak mata tidak ada kelainan, konjungtiva tidak anemis, tidak hiperemis, sklera tidak
ikterik, pupil bulat, isokor diameter 3 mm, Reflek cahaya +/+
Telinga
bentuk normal, liang telinga lapang, tidak terlihat sekret, tidak terlihat serumen ataupun
luka pasca trauma, tidak ada nyeri tekan tragus, tidak ada nyeri tarik aurikuler, kelenjar getah
bening pre dan retroauriculer tidak teraba membesar.
Hidung
bentuk normal, sekret (-), tidak ada septum deviasi , pernapasan cuping hidung (-).
Tenggorok
Faring tidak hiperemis, Tonsil T1-T1 tenang tidak hiperemis.
Mulut
Mukosa bibir kering (+), tampak perioral sianosis (-), lidah kotor (-), risus sardonicus (+),
trismus (+) 2cm, carries dentis M2 bawah dx (+)
Leher
Trachea di tengah, kelenjar thyroid tidak teraba membesar, kelenjar getah bening
submandibular, supra-infraclavicular tidak teraba membesar.
Dada
Bentuk normal, retraksi otot-otot intercostalis, supraclavicula, subcostal, opistotonus(-).
Paru - paru

Inspeksi

: simetris dalam diam dan pergerakan nafas

Palpasi

: stem fremitus kanan kiri, depan belakang sama kuat

Perkusi

Auskultasi

: Sonor, batas paru hepar ICS VI midclavicular line dextra


: Vesikuler, Ronkhi -/-, wheezing (-)

Jantung
o Inspeksi

: Tidak tampak pulsasi ictus cordis

o Palpasi

: Pulsasi ictus cordis teraba di ICS V midclavicular line sinistra

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

o Perkusi

: Redup, batas jantung atas ICS III midclavicula line sinistra

o Batas jantung kanan midsternum ICS IV


o Batas jantung kiri ICS IV midclavicula line sinistra
o Auskultasi

: bunyi jantung I dan II murni, tidak ada murmur, tidak ada gallop.

Perut
o Inspeksi

: Tampak rata, kaku

o Palpasi

Hati

: Tidak teraba

Limpa

: Tidak teraba

Ginjal

: ballotemen (-) susah dinilai

Nyeri tekan epigastrium (-) susah dinilai

o Perkusi

: Timpani, tanda tanda cairan bebas (-)

o Auskultasi

: Bising usus (+), normal

Ekstremitas

: Akral hangat

Tulang belakang

: bentuk normal, tidak skoliosis, tidak lordosis, tidak kifosis

Pemeriksaan Neurologis
Rangsang meningeal
Kaku kuduk (+)
Brudzinski I dan II (-)
Kerniq (-)
Laseque (-)
Reflek fisiologik
Biceps

: +/+ normal

Triceps

: +/+ normal

Lutut

: +/+ normal

Tumit

: +/+ normal

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Reflek patologis
Babinsky

: -/-

Chaddock

: -/-

Parese (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM dan ELEKTROLIT TANGGAL 19 Oktober 2012

Hematologi

Nilai

Nilai normal

Leukosit

11,3

4,8 10,8 ribu/uL

Eritrosit

4,61

4,7 6,1 juta/uL

Hb

12,4

14 18 g/dL

Ht

36

42 52 %

Trombosit

419

150 450 ribu/uL

MCV

71

79 99 fL

MCH

27

27 31 pq

MCHC

34

33 37 g/dL

LED

15

0 15 mm

Basofil

01

Eosinofil

24

Batang

35

Segmen

58

50 70

Limfosit

37

20 40

Monosit

28

HITUNG JENIS

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

ELEKTROLIT
Natrium

135

135 145 mmol/L

Kalium

4,15

3,5 5 mmol/L

Chlorida

99

94 111 mmol/L

URIN LENGKAP
Berat Jenis

1,025

1,003 1,035

pH

5,5

4,5 8,0

Lekosit esterase

Negatif

Nitrit

Negatif

Albumin

Negatif

Glukosa

Negatif

Keton

Negatif

Urobilinogen

<1

Bilirubin

Negatif

Darah ( Blood)

Negatif

Sedimen
Mikroskopis
Eritrosit

2 /uL

< 3 / uL

Lekosit

2 /uL

< 10 /uL

Silinder

0 1 / LPK

Epitel

Bakteri

Kristal

Amorf urat +
+

Lain-Lain

Makroskopis
Warna

Kuning

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Kejernihan

Keruh

GDS

93 mg/dl

CRP

(+) titer 6

Negatif

RESUME
ANAMNESA
Telah diperiksa anak laki-laki berumur 6 tahun secara alloanamnesis pada tanggal 19
Oktober 2012, dengan keluhan :

Pasien datang dengan kaku pada seluruh tubuh, mulut tidak dapat membuka lebar, lidah
menggigit sejak 3 hari ini, pusing, panas 3 hari SMRS, panas tidak terlalu tinggi, panas
tidak disertai mengigil, kejang selama > 30 menit, batuk berdahak, dan terdapat gigi
bolong.

Pasien tidak ada riwayat penyakit pilek. Nafsu makan kurang sejak mulut tidak bisa
membuka lebar.

Berdasarkan pengakuan ibu pasien, pasien tidak pernah kejang, pasien kejang sebelum
dibawa ke IGD, kejang > 30 menit, kejang seluruh tubuh dengan posisi kaki ekstensi,
lengan kaku dan tangan mengepal, kejang timbul sebanyak dua kali.

Riwayat BAB yaitu sudah 3 hari pasien tidak BAB. BAK baik, lancar, warna kuning
jernih.

Pasien sudah berobat ke puskesmas dan ke klinik sebelumnya. Ibu pasien menyangkal
adanya orang yang menderita penyakit yang serupa di lingkungan tempat tinggal.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien belum pernah dirawat di rumah sakit dan belum pernah menderita penyakit seperti
ini sebelumnya. Pasien tidak mempunyai riwayat alergi makanan maupun obat-obatan.

PENYAKIT KELUARGA
Pasien merupakan anak pertama dan anak kandung dalam keluarga.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Ibu pasien memeriksakan kehamilannya ke bidan, tidak mengalami kelainan atau


gangguan selama kehamilan
Persalinan dilakukan di rumah dengan bantuan bidan secara spontan dengan usia
kehamilan cukup bulan. Berat badan lahir 3000 gram dengan panjang badan lahir 50 cm. Lingkar
kepala dan nilai APGAR tidak diketahui.

RIWAYAT MAKANAN
Baik

STATUS GENERALIS
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang, Compos Mentis

Tinggi Badan

: Tidak tahu

Berat Badan

: 17 kg

Nadi

: 108 x/ menit

Suhu

: 38 0C

Pernapasan

: 30 x/menit

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala

: Normocephal.

Hidung

: Tidak ada pernapasan cuping hidung.

Mulut

: Trismus 2cm, carries dentis M2 bawah dx

Dada

: Tidak ada retraksi otot-otot intercostalis, supraclavicula,


subcostal, opistotonus.

Abdomen

: Perut tampak rata dan kaku seperti papan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM dan ELEKTROLIT TANGGAL 19 Oktober 2012

Hematologi

Nilai

Nilai normal

Leukosit

11,3

4,8 10,8 ribu/uL

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Eritrosit

4,61

4,7 6,1 juta/uL

Hb

12,4

14 18 g/dL

Ht

36

42 52 %

Trombosit

419

150 450 ribu/uL

MCV

71

79 99 fL

MCH

27

27 31 pq

MCHC

34

33 37 g/dL

LED

15

0 15 mm

Basofil

01

Eosinofil

24

Batang

35

Segmen

58

50 70

Limfosit

37

20 40

Monosit

28

Natrium

135

135 145 mmol/L

Kalium

4,15

3,5 5 mmol/L

Chlorida

99

94 111 mmol/L

HITUNG JENIS

ELEKTROLIT

URIN LENGKAP
Berat Jenis

1,025

1,003 1,035

pH

5,5

4,5 8,0

Lekosit esterase

Negatif

Nitrit

Negatif

Albumin

Negatif

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Glukosa

Negatif

Keton

Negatif

Urobilinogen

<1

Bilirubin

Negatif

Darah ( Blood)

Negatif

Sedimen
Mikroskopis
Eritrosit

2 /uL

< 3 / uL

Lekosit

2 /uL

< 10 /uL

Silinder

0 1 / LPK

Epitel

Bakteri

Kristal

Amorf urat +
+

Lain-Lain

Makroskopis
Warna

Kuning

Kejernihan

Keruh

GDS

93 mg/dl

CRP

(+) titer 6

DIAGNOSA DAN DIAGNOSA BANDING


Diagnosa :
Tetanus
Diagnosa banding :
Meningitis
Ensefalitis

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Negatif

PENGOBATAN
Non medikamentosa
Isolasi penderita
Tirah baring

Medikamentosa
- IVFD Ka EN 3B 1350cc/ 24 jam , 13 tpm (makro)
- Puasa + NGT (pemasangan NGT masih menunggu persetujuan keluarga pasien)
- Penicillin Prokain 2 x 850.000 IU (ST -)
- Cek DL + CRP + elektrolit + GDS + UL
- ATS 20.000 IU (IM)
- ATS 20.000 (IV) drip dalam NaCl 0,9% 20cc habis dlm 30 menit
- TT 0,5 cc IM di sisi berbeda
- Diazepam 2mg/3jam sampai dengan kejang spontan STOP (kemudian dosis diturunkan)
- O2 nasal kanula 1 l
PROGNOSA
Ad vitam

: dubia ad bonam

Ad function

: dubia ad bonam

Ad sanationam

: dubia ad bonam

RIWAYAT RAWAT INAP

Sabtu , 20 Oktober 2012


(rawat hari ke 1)

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

S : Kejang seluruh badan selama < 5 menit, kejang timbul bila panas, leher kaku, sulit membuka
mulut, batuk berdahak, panas namun tidak mengigil, ditemukan gigi bolong, tidak mau
makan, tidak ada muntah dan sesak. Kejang spontan - , Kejang rangsang + .
BAB : belum BAB sejak 3 hari yang lalu
BAK : belum BAK sejak 3 hari yang lalu
O:

KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital

Nadi

: 102 x/menit

RR

: 32 x/menit

Suhu : 38 oC
Pemeriksaan fisik
Kepala

: kaku kuduk (+)

Mata

: Pupil bulat isokor, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-

Mulut

: Trismus 2 cm, carries dentis M2 bawah dx.

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, Rh-/-, Wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku, timpani, bising usus normal

Ekstremitas

: Akral agak hangat.

: Tetanus ec. Carries dentis

- IVFD Ka EN 3B 1350cc/ 24 jam , 13 tpm (makro)


- NGT (pemasangan NGT masih menunggu persetujuan keluarga pasien)
- Penicillin Prokain 2 x 850.000 IU (ST -)
- ATS 20.000 IU (IM)
- ATS 20.000 (IV) drip dalam NaCl 0,9% 20cc habis dlm 30 menit
- Diazepam 2mg/3jam sampai dengan kejang spontan STOP (kemudian dosis diturunkan)
KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Minggu, 21 Oktober 2012


(rawat hari ke 2)
S : kejang timbul bila panas, leher kaku, sulit membuka mulut, batuk kering, panas namun tidak
mengigil, ditemukan gigi bolong, tidak mau makan, tidak ada muntah dan sesak. Kejang
spontan - , Kejang rangsang + .
BAB : belum BAB SMRS
BAK : belum BAK SMRS
O:

KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital

Nadi

: 110 x/menit

RR

: 32 x/menit

Suhu : 38 oC
Pemeriksaan fisik
Kepala

: kaku kuduk (+)

Mata

: Pupil bulat isokor, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-

Mulut

: Trismus 2 cm, carries dentis M2 bawah dx.

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, Rh-/-, Wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku, timpani, bising usus normal

Ekstremitas

: Akral agak hangat.

: Tetanus ec. Carries dentis

: IVFD Ka En 3 B 13 tetes/menit
ATS 20.000 IU (im)
ATS 20.000 (iv) drip dalam NaCl 0,9% 20 cc / 30 menit

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

PP 2 x 850.000 IU
Diazepam diturunkan menjadi 4x2 mg (iv)
NGT (masih menunggu persetujuan keluarga pasien)

Senin, 22 Oktober 2012


(rawat hari ke 3)
S : Leher kaku, sulit membuka mulut, batuk berdahak, panas namun tidak mengigil, ditemukan
gigi bolong, tidak mau makan, tidak ada muntah dan sesak. Kejang spontan - , Kejang
rangsang - .
BAB : belum BAB SMRS
BAK : belum BAK SMRS
O:

KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital

Nadi

: 102 x/menit

RR

: 32 x/menit

Suhu : 37 oC
Pemeriksaan fisik
Kepala

: kaku kuduk (+)

Mata

: Pupil bulat isokor, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-

Mulut

: Trismus 2 cm, carries dentis M2 bawah dx.

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, Rh-/-, Wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku, timpani, bising usus normal

Ekstremitas

: Akral agak hangat.

: Tetanus ec. Carries dentis

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

: IVFD Ka En 3 B 13 tetes/menit
ATS 20.000 IU (im)
ATS 20.000 (iv) drip dalam NaCl 0,9% 20 cc / 30 menit
PP 2 x 850.000 IU
Diazepam diturunkan menjadi 4x2 mg (iv)
NGT (masih menunggu persetujuan keluarga pasien)

Selasa, 23 Oktober 2012


(Rawat hari ke 4)
S : Kejang seluruh badan selama < 5 menit, kejang timbul bila panas, leher kaku, sulit membuka
mulut, batuk berdahak, panas namun tidak mengigil, ditemukan gigi bolong, tidak mau
makan,t idak ada muntah dan sesak. Kejang spontan - , Kejang rangsang + .
BAB : belum BAB sejak 3 hari yang lalu
BAK : normal
O:

KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital

Nadi

: 102 x/menit

RR

: 32 x/menit

Suhu : 38 oC
Pemeriksaan fisik
Kepala

: kaku kuduk (+)

Mata

: Pupil bulat isokor, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-

Mulut

: Trismus 2 cm, carries dentis M2 bawah dx.

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Pulmo

: Vesikuler, sonor, Rh-/-, Wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku, timpani, bising usus normal

Ekstremitas

: Akral agak hangat.

: Tetanus ec. Carries dentis

: IVFD Ka En 3 B 13 tetes/menit
ATS 20.000 iu (im)
ATS 20.000 (iv) drip dalam NaCl 0,9% 20 cc / 30 menit
PP 2 x 850.000 IU
Diazepam diturunkan menjadi 4x2 mg (iv)
Konsul Gigi
Dipertimbangkan pemasangan NGT untuk pemenuhan asupan nutrisi

Rabu, 24 Oktober 2012


(Rawat hari ke 5)
S : Kejang seluruh badan selama < 5 menit, panas berkurang, leher kaku, sulit membuka mulut,
ada darah yang keluar dari mulut berupa lendir sebanyak 1x, batuk berdahak, gigi bolong,
nafsu makan masih kurang. Os mengeluh dada sakit. Kejang spontan - , Kejang rangsang +
BAB : belum BAB pagi ini
BAK : normal
O : KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis


Tanda vital :
Nadi

: 104 x/menit

RR

: 30 x/menit

Suhu : 37,4 0C
Pemeriksaan fisik
Kepala

: kaku kuduk (+)

Mata

: Pupil bulat isokor, CA-/-, SI-/-

Telinga: Bentuk normal, secret -/KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-

Mulut

: Trismus 2 cm, carries dentis M2 dx

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, Rh-/-, wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku, timpani, bising usus normal

Ekstremitas

: Akral agak hangat.

A : Tetanus ec. Carries dentis


P : IVFD KaEn 3 B 1000cc / 24 jam
PP 2 x 850.000 IU
Ekstra Diazepam 2 mg (iv) , dosis diazepam dikembalikan ke awal 2mg/3jam
O2 nasal kanula 3 l
Menunggu jawaban dari konsul gigi
Menunggu persetujuan keluarga os untuk memasang NGT
Cek DR

Kamis , 25 Oktober 2012


(Rawat hari ke 6)
S : Telah terpasang NGT. Masih ada gigi bolong, mulut masih sulit membuka, tidak ada sesak
dan muntah, kaki sudah dapat digerakkan sedikit-sedikit. Belum bisa duduk. Kejang spontan
-, kejang rangsang BAB : belum BAB selama di RS
BAK : baik, normal
O: KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos Mentis


Tanda vital :
Nadi

: 96 x/menit

RR

: 34 x/menit

Suhu : 370C
KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Pemeriksaan fisik
Kepala

: kaku kuduk (+)

Mata

: Pupil bulat isokor, RC-/-, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/- , NGT +

Mulut

: Trismus sebesar 2 cm, carries dentis M2 dx

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, Rh-/-, wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku, timpani, bising usus normal

Ekstremitas

: Akral agak hangat.

Hasil pemeriksaan HEMATOLOGI (tanggal 24 Oktober 2012)


Lekosit

10.900 /uL

Eritrosit

438.000 /uL

Hemoglobin

12,0 g/dl

Hematokrit

34 %

Trombosit

428.000 /uL

M.C.V

78 fL

M.C.H

27 pg

M.C.H.C

35 g/dl

: Tetanus ec. Carries dentis

: IVFD KaEn 3B 13 tpm makro


PP 2 x 850.000 IU
Makanan Cair 6 x 100cc per NGT
Diazepam 2 mg/3jam (iv)
O2 nasal kanula 1 l
Menunggu jawaban dari konsul gigi

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Jumat, 26 Oktober 2012


(Rawat hari ke 7)
S

: Kejang sudah tidak ada, batuk berdahak, gigi sudah dibersihkan dan ditambal, ada suara
dengkuran saat tidur. Tidak ada mual dan muntah.
BAB : 1x saat malam
BAK : baik, normal

: KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital :
Nadi

: 100 x/menit

RR

: 36 x/menit

Suhu : 37,1 0C
Pemeriksaan fisik :
Kepala

: kaku kuduk (+)

Mata

: Pupil bulat isokor, RC-/-, CA-/-, SI-/-

Telinga: Bentuk normal, secret -/Hidung

: Bentuk normal, secret -/-, NGT +

Mulut

: Trismus sebesar 1,5 cm ; suara dengkuran (+)

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, lender +, Rh-/-, wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku berkurang, timpani, bising usus normal

Ekstremitas

: Akral agak hangat.

: Tetanus ec. Carries dentis dengan perbaikan

: IVFD KaEN 3B 1000cc / 24 jam


PP 2 x 850.000 IU
Makanan Cair 6x100cc per NGT
Diazepam 8x2,5mg (iv)
O2 nasal kanula 1 l

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Sabtu, 27 Oktober 2012


(Rawat hari ke 8)
S

: Kejang sudah tidak ada, batuk berdahak masih ada, gigi sudah dibersihkan dan
ditambal, suara dengkuran sudah tidak ada, tidak ada sesak, tidak ada mual dan muntah.
Belum bisa duduk. Kaki sudah bisa diangkat sedikit-sedikit.
BAB : belum BAB pagi ini
BAK : baik, normal

: KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital :
Nadi

: 110 x/menit

RR

: 35 x/menit

Suhu : 37,2 0C
Pemeriksaan fisik :
Kepala

: kaku kuduk (+)

Mata

: Pupil bulat isokor, RC-/-, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-, NGT +

Mulut

: Trismus sebesar 1,8 cm ; suara dengkuran(-)

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, lender berkurang, Rh-/-, wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku berkurang, timpani, bising usus normal

Ekstremitas : Akral agak hangat.


A

: Tetanus dengan perbaikan

: IVFD KaEN 3B 1000 cc / 24jam


PP 2 x 850.000 IU
Diazepam 2mg / 3 jam (iv)
Aff O2 nasal kanula
Makanan cair 6x100 cc per NGT

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Minggu, 28 Oktober 2012


(Rawat hari ke 9)
S

: Batuk berdahak masih ada, gigi sudah dibersihkan dan ditambal, suara dengkuran sudah
tidak ada, kadang os merasa mual. Os ingin mencoba minum lewat mulut. Os dapat
mengangkat badan sedikit-sedikit.

: KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital :
Nadi

: 120 x/menit

RR

: 30 x/menit

Suhu : 37,1 0C
Pemeriksaan fisik :
Kepala

: kaku kuduk (+) namun sudah berkurang sedikit

Mata

: Pupil bulat isokor, RC-/-, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-, NGT +

Mulut

: Trismus sebesar 1,5 cm

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, lendir berkurang, Rh-/-, wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku berkurang, timpani, bising usus normal

Ekstremitas : Akral agak hangat.


A

: Tetanus dengan perbaikan

: IVFD KaEN 3B 1000 cc/ 24 jam


Diazepam 2mg / 3 jam (iv)
PP 2 x 850.000 IU
Vit Bexce 1 x 1 Cth
Lactolac syr 1 x 1 Cth
Ranitidin 3 x 1 Cth
Makanan cair 6x100 cc per NGT

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Senin, 29 Oktober 2012


(Rawat hari ke 10)
S

: Keluhan mual berkurang. Os sudah mencoba minum air putih lewat mulut dan tidak
tersedak. Os dapat mengangkat badan tetapi belum bisa duduk. Os mulai dapat membuka
mulut sedikit-sedikit. Tidak ada sesak.

: KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital :
Nadi

: 124 x/menit

RR

: 32 x/menit

Suhu : 37,3 0C
Pemeriksaan fisik :
Kepala

: kaku kuduk (+) namun sudah berkurang sedikit

Mata

: Pupil bulat isokor, RC-/-, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-, NGT +

Mulut

: Trismus sebesar 2,3 cm

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, lendir berkurang, Rh-/-, wh-/-

Abdomen

: Rata, lemas, timpani, bising usus normal

Ekstremitas : Akral agak hangat.


A

: Tetanus ec. Carries dentis dengan perbaikan

: IVFD KaEN 3B 1000cc / 24jam


PP 2 x 850.000 IU
Diazepam 2 mg / 3 jam diturunkan menjadi 8 x 1,75mg (iv)
Ranitidin 3 x 1 Cth STOP
Vit Bexce 1 x 1 Cth
Lactolac syr 1x1 Cth
Mucohexin tab 3 x tab ( K/P)
Panadol syr 3x1 Cth (K/P)

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Makanan Cair 6 x 250 cc per NGT

Selasa, 30 Oktober 2012


(Rawat hari ke 11)
S

: Kaki sudah dapat digerakkan. Sudah bisa duduk. Kepala bisa diangkat sedikit-sedikit.
BAB : Terakhir BAB kemarin
BAK : Baik, normal

: KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital :
Nadi

: 120 x/menit

RR

: 30 x/menit

Suhu : 37 0C
Pemeriksaan fisik :
Kepala

: kaku kuduk (+) namun sudah banyak berkurang

Mata

: Pupil bulat isokor, RC-/-, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/-, NGT +

Mulut

: Trismus sebesar 2,5cm ; lidah pecah-pecah

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, lendir berkurang, Rh-/-, wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku berkurang, timpani, bising usus normal

Ekstremitas : Akral agak hangat


A

: Tetanus ec. Carries dentis dengan perbaikan

: IVFD KaEN 3B 500cc / 24 jam


Diet Makanan Cair 6 x 250 cc per NGT
Diazepam 8 x 1,75mg (iv)

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Vit Bexce 1 x 1 Cth


Lactolac syr 1 x 1 Cth
PP 2 x 850.000 IU STOP diganti Erithromicin 3 x 1 Cth
Mucohexin tab 3 x tab (K/P)
Panadol syr 3x1Cth (K/P) STOP

Rabu, 31 Oktober 2012


(Rawat hari ke 12)
S

: Os sudah dapat duduk dengan bantuan ibunya. Kepala dan kaki bisa diangkat sedikit
lebih banyak daripada hari kemarin.
BAB : normal
BAK : normal

: KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital :
Nadi

: 120 x/menit

RR

: 26 x/menit

Suhu : 37 0C
Pemeriksaan fisik :
Kepala

: kaku kuduk (+) namun sudah banyak berkurang

Mata

: Pupil bulat isokor, RC-/-, CA-/-, SI-/-

Telinga

: Bentuk normal, secret -/-

Hidung

: Bentuk normal, secret -/- , NGT +

Mulut

: Trismus sebesar 3 cm ; lidah kotor berkurang ; gigi sudah ditambal

Jantung

: BJ I dan II murni, Gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, sonor, lendir berkurang, Rh-/-, wh-/-

Abdomen

: Rata, kaku berkurang, timpani, bising usus normal

Ekstremitas : Akral agak hangat.


A

: Tetanus dengan perbaikan

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

: IVFD KaEN 3B 500cc/24jam


Diet Makanan Cair 6 x 250cc per NGT
Diazepam 8 x 1,75mg (iv)
Erithromicin syr 3 x 1 Cth
Vit Bexce 1 x 1 Cth
Lactolac syr 1 x 1 Cth
Mucohexin tab 3 x tab (K/P)

Kamis , 1 November 2012


(Rawat hari ke 13)
S:

Ps bisa duduk jam tanpa dibantu, kepala bisa diangkat sendiri, kaki bisa diangkat
sendiri.
BAB BAK normal. Os ingin mencoba makan dan minum sendiri tanpa melalui selang.
Keluarga os ingin selang NGT dilepas.

O:

KU = Tampak sakit sedang , Kesadaran = Compos Mentis


N : 108 x / mnt RR : 22 x /mnt S = 37oC
Kepala : NGT + , Trismus 3cm
Leher : Kaku kuduk Thorax : cor BJ murni reguler
Pulmo vesikuler , ronkhi - , wheezing
Abdomen : datar. lemas. Bising usus normal. Timpani

A:

Tetanus ec. Carries dentis dg perbaikan

P:

IVFD KaEN 3B 500cc / 24 jam


Aff NGT
Diazepam 8 x 1,75 mg diturunkan menjadi 6 x 1,5 mg
Erithromicin syr 3 x 1 Cth
Vit Bexce syr 1 x 1 Cth
Lactolac syr 1x1 Cth
Mucohexin tab 3 x tab (K/P)

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Jumat, 2 November 2012


(Rawat hari ke 14)
S:

Ps bisa duduk 1 jam tanpa dibantu. Kepala bisa diangkat oleh os sendiri. Perut sudah
lemas. Kaki sudah bisa diangkat sendiri. Os dapat makan dan minum tanpa tersedak dan
tidak mual. Tidak ada muntah. BAB BAK normal. Ibu os ingin meminta rawat jalan saja
oleh karena keterbatasan biaya.

O:

KU = tampak sakit sedang


N : 100 x /mnt

Kesadaran = Compos Mentis

RR : 24x/mnt

S : 36 oC

Kepala : NGT + , Trismus 3 cm


Leher : Kuduk Kaku
Thorax : cor BJ murni reguler
Pulmo vesikuler, ronkhi -, wheezing
Abdomen : datar. Kaku berkurang. Bising usus normal. Timpani.
Ekstremitas : akral hangat
A:

Tetanus ec. Carries dentis dengan perbaikan

P:

IVFD KaEN 3B 500cc/24 jam


Erithromicin syr 3 x 1 Cth
Vit Bexce 1 x 1 Cth
Lactolac syr 1 x 1 Cth
Mucohexin tab 3 x tab (K/P) STOP
Konsul Fisioterapi
Coba makan bubur saring per oral pelan-pelan 2x / hari
Ps Pulang Paksa oleh karena keterbatasan biaya.

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

TINJAUAN PUSTAKA
TETANUS (LOCK JAW)
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme)
tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan kuman
secara langsung, tetapi sebagai dampak eksotoksin (tetanospasmin) yang
KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

dihasilkan oleh kuman pada sinaps ganglion sambungan sumsum tulang


belakang, sambungan neuro muskular (neuro muscular junction) dan saraf
autonom.
Manifestasi sistemik tetanus disebabkan oleh absorbsi eksotoksin
sangat

kuat

yang

dilepaskan

oleh

Clostridium

tetani

pada

masa

pertumbuhan aktif dalam tubuh manusia. Etiologi


Penyebab penyakit ini ialah Clostridium tetani yang hidup anaerob,
berbentuk spora selama di luar tubuh manusia, tersebar luas di tanah dan
mengeluarkan
menghancurkan

toksin
sel

bila

dalam

darah

merah,

kondisi
merusak

baik.

Toksin

leukosit

dan

ini

dapat

merupakan

tetanospasmin yaitu toksin yang neurotropik yang dapat menyebabkan


ketegangan dan spasme otot.
Kuman yang menghasilkan toksin adalah Clostridium tetani, kuman
berbentuk batang dengan sifat:
- basil Gram positif dengan spora pada ujungnya sehingga berbentuk seperti
pemukul genderang
- obligat anaerob (berbentuk vegetatif apabila berada dalam lingkungan
anaerob) dan dapat bergerak dengan menggunakan flagela
- menghasilkan eksotoksin yang kuat
- mampu membentuk spora (terminal spore) yang mampu bertahan dalam
suhu tinggi, kekeringan dan desinfektans
Kuman hidup di tanah dan di dalam usus binatang, terutama pada
tanah di daerah pertanian / peternakan. Spora dapat menyebar kemanamana, mencemari lingkungan secara fisik dan biologik. Spora mampu
bertahan dalam keadaan yang tidak menguntungkan selama bertahuntahun, dalam lingkungan yang anaerob dapat berubah menjadi bentuk
vegetatif yang akan menghasilkan eksotoksin.
Epidemiologi

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Tetanus tersebar di seluruh dunia dengan angka kejadian tergantung


pada jumlah populasi masyarakat yang tidak kebal, tingkat populasi yang
tidak kebal, tingkat pencemaran biologic lingkungan peternakan / pertanian
dan adanya luka pada kulit atau mukosa. Tetanus pada anak tersebar di
seluruh dunia terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi
DPT yang rendah. Angka kejadian pada anak laki-laki lebih tinggi

akibat

perbedaan aktivitas fisiknya.


Penyakit

tetanus

biasanya

timbul

di

daerah

yang

mudah

terkontaminasi dengan tanah dan dengan kebersihan dan perawatan luka


yang buruk.
Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran
ternak, kuda dan sebagainya, sehingga resiko penyakit ini di daerah
peternakan sangat besar. Spora kuman C. tetani yang tahan terhadap
kekeringan dapat bertebaran di mana-mana; misalnya dalam debu jalanan,
lampu operasi, bubuk antiseptic (dermatol), ataupun pada alat suntik dan
operasi.

Patogenesis
Biasanya penyakit ini terjadi setelah luka tusuk yang dalam misalnya
luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka
tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal.
Selain itu luka laserasi yang kotor, luka bakar dan patah tulang terbuka juga
akan mengakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan C.
tetani ini. Walaupun demikian luka-luka ringan seperti luka gores, lesi pada
mata, telinga atau tonsil dan traktus digestivus serta gigitan serangga dapat
pula merupakan port dentre (tempat masuk) dari C. tetani. Di bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta, sering ditemukan telinga denga otitis
media perforata merupakan tempat masuknya C. tetani bila anamnestik
tidak ada luka.
KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Hipotesis mengenai cara absorbsi dan bekerjanya toksin:


1. toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik
dibawa ke cornu anterior susunan saraf pusat.
2. toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah
arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat.
Toksin tersebut bersifat seperti antigen, sangat mudah diikat oleh jaringan
saraf dan bila dalam keadaan terikat tidak dapat lagi dinetralkan oleh
antitoksin spesifik. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat
mudah dinetralkan oleh antitoksin. Hal ini penting artinya untuk pencegahan
dan pengobatan penyakit ini.
Spora yang masuk ke dalam tubuh dan berada dalam lingkungan
anaerobik, berubah menjadi bentuk vegetatif dan berbiak cepat sambil
menghasilkan toksin. Dalam jaringan yang anaerobik ini terdapat penurunan
potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oksigen jaringan
akibat adanya nanah, nekrosis jaringan. Atau akibat adanya benda asing
seperti bambu, pecahan kaca, dan sebagainya.
Hipotesis bahwa toksin pada awalnya merambat dari tempat luka
lewat motor endplate dan aksis silinder saraf tepi ke kornu anterior sumsum
belakang dan menyebar ke seluruh susunan saraf pusat, lebih banyak dianut
daripada lewat pembuluh limfe dan darah. Pengangkutan toksin ini melewati
saraf motorik, terutama serabut motor. Reseptor khusus pada ganglion
menyebabkan fragmen C toksin tetanus

menempel erat dan kemudian

melalui proses perlekatan dan internalisasi, toksin diangkut ke arah sel


secara aksional dan menimbulkan perubahan potensial membran dan
gangguan enzim yang menyebabkan kolin-esterase tidak aktif, sehingga
kadar asetilkolin menjadi sangat tinggi pada sinaps yang terkena. Toksin
menyebabkan blokade pada simpul yang menyalurkan impuls pada tonus
otot, sehingga tonus otot meningkat dan menimbulkan kekakuan. Bila tonus
makin meningkat akan timbul kejang terutama pada otot yang besar.
Dampak toksin

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

1. dampak pada ganglion pra sumsum tulang belakang disebabkan oleh


karena

eksotoksin

memblok

sinaps

jalur

antagonis,

mengubah

keseimbangan dan koordinasi impuls sehingga tonus otot meningkat


dan otot menjadi kaku.
2. dampak pada otak, diakibatkan oleh toksin yang menempel pada
cerebral gangliosides diduga menyebabkan kekakuan dan kejang yang
khas pada tetanus.
3. dampak pada saraf autonom, terutama mengenai saraf simpatis dan
menimbulkan gejala keringat yang berlebihan, hipertermia, hipotensi,
hipertensi, aritmia, heart block atau takikardia.
Gejala klinis
Masa

tunas

biasanya

5-14

hari,

tetapi

kadang-kadang

sampai

beberapa minggu pada infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit
oleh antiserum.
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin
bertambah terutama pada rahang dan leher.
Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan:
1. trismus

(kesukaran

membuka

mulut)

karena

spasme

otot-otot

mastikatoris.
2. kaku kuduk sampai opistotonus (karena ketegangan otot-otot erektor
trunki)
3. ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dari abdomen akut)
4. kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin yang terdapat di
kornu anterior.
5. risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas), sudut
mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi.
6. kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri kepala, nyeri
anggota badan sering merupakan gejala dini.
7. spasme yang khas. Yaitu badan kaku dengan opistotonus, ekstremitas
inferior dalam keadaan ekstensi, lengan kaku dan tanga mengepal
kuat. Anak tetap sadar. Spasme mula-mula intermitten diselingi
KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

periode relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut


disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramuskulus
karena kontraksi yang kuat.
8. asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernafasan dan
laring. Retensi urin dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktur
kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang
sangat kuat.
9. panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
10.

biasanya

terdapat

leukositosis

ringan

dan

kadang-kadang

peninggian tekanan cairan otak.

Gb. Kejang pada tetanus & opistotonus


Menurut beratnya gejala dapat dibedakan 3 stadium:
1. trismus (3cm) tanpa kejang tonik umum meskipun dirangsang
2. trismus (3cm atau lebih kecil) dengan kejang tonik umum bila
dirangsang
3. trismus (1cm) dengan kejang tonik umum spontan
Diagnosis
Biasanya tidak sukar. Anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot
yang khas terutama pada rahang sangat membantu.
Pada tetanus anak, diperlukan tambahan anamnesis:

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

- apakah dijumpai luka tusuk, luka kecelakaan / patah tulang terbuka, luka
dengan nanah
atau gigitan binatang
- apakah pernah keluar nanah dari telinga
- apakah menderita gigi berlubang
- apakah sudah pernah mendapat imunisasi DT atau TT, kapan imunisasi
yang terakhir
- selang waktu antara timbulnya gejala klinis pertama (trismus atau spasme
lokal) dengan
kejang yang pertama (period of onset).
Pemeriksaan laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorik tidak khas, likuor serebrospinal normal,
jumlah leukosit normal atau sedikit meningkat. Biakan kuman memerlukan
prosedur khusus untuk kuman anaerobik. Selain mahal, hasil biakan yang
positif tanpa gejala klinik tidak mempunyai arti. Diagnosis banding
Spasme yang disebabkan oleh striknin jarang menyebabkan spasme
otot rahang. Tetani didiagnosis dengan pemeriksaan darah (kalsium dan
fosfat). Kejang pada meningitis dapat dibedakan dengan kelainan cairan
serebrospinalis. Pada rabies terdapat anamnesis gigitan anjing atau kucing
disertai gejala spasme laring dan faring yang terus menerus dengan
pleiositosis tetapi tanpa trismus. Trismus dapat pula terjadi pada angina
yang berat, abses retrofaringeal, abses gigi yang hebat, pembesaran
kelenjar getah bening leher. Kaku kuduk juga dapat terjadi pada meningitis
(pada tetanus kesadaran tidak menurun), mastoiditis, pneumonia lobaris
atas, miositis leher, spondilitis leher.
Komplikasi

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

1. spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di


dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi
sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi.
2. asfiksia
3. ateletaksis karena obstruksi oleh sekret
4. fraktur kompresi.
Prognosis
Dipengaruhi oleh beberapa faktor dan akan buruk pada masa tunas
yang pendek (kurang dari 7 hari), usia yang sangat muda (neonatus) dan
usia lanjut, bila disertai frekuensi kejang yang tinggi, kenaikan suhu tubuh
yang tinggi, pengobatan yang terlambat, period of onset yang pendek (jarak
antara trismus dan timbulnya kejang) dan adanya komplikasi terutama
spasme otot pernafasan dan obstruksi saluran pernafasan.
Pencegahan
1. mencegah terjadinya luka
2. perawatan luka yang adekuat
3. pemberian anti tetanus serum (ATS) dalam beberapa jam setelah luka
yaitu untuk memberikan kekebalan pasif, sehingga dapat dicegah
terjadinya tetanus atau masa inkubasi diperpanjang atau bila terjadi
tetanus gejalanya ringan. Umumnya diberikan 1500 U intramuskulus
dengan didahului uji kulit dan mata.
4. pemberian toksoid tetanus pada anak yang belum pernah mendapat
imunisasi aktif pada minggu-minggu berikutnya setelah pemberian
ATS, kemudian diulangi lagi dengan jarak waktu 1 bulan 2 kali berturutturut.
5. pemberian penisilin prokain selama 2-3 hari setelah mendapat luka
berat (dosis 50.000 U/kgbb/hari)
6. imunisasi aktif. Toksoid tetanus diberikan agar anak membentuk
kekebalan secara aktif. Sebagai vaksinasi dasar diberikan bersama
vaksinasi terhadap pertusis dan difteria, dimulai pada umur 3 bulan.
Vaksinasi ulangan (booster) diberikan 1 tahun kemudian dan pada usia
KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

5 tahun serta selanjutnya setiap 5 tahun diberikan hanya bersama


toksoid difteria (tanpa vaksin pertusis).
Bila terjadi luka berat pada seorang anak yang telah mendapat imunisasi
atau toksoid tetanus 4 tahun yang lalu, maka kepadanya wajib diberikan
pencegahan dengan suntikan sekaligus antitoksin dan toksoid pada kedua
ekstremitas (berlainan tempat suntikan).
Pengobatan
1. pengobatan spesifik dengan ATS 20.000 U/hari selama 2 hari berturutturut secara intramuskulus dengan didahului oleh uji kulit dan mata.
Bila hasilnya positif, maka pemberian ATS harus dilakukan dengan
desensitisasi cara Besredka.
2. antikonvulsan dan penenang
Bila kejang hebat dapat diberikan fenobarbital dengan dosis awal yaitu
untuk umur kurang dari 1 tahun 50 mg dan untuk anak umur 1 tahun
atau lebih diberikan 75 mg. Dilanjutkan dengan dosis 5 mg/kgbb/hari
dibagi 6 dosis.
Diazepam dengan dosis 4 mg/kgbb/hari dibagi 6 dosis. Bila kejang
sukar

diatasi

dapat

diberikan

kloralhidrat

5%

dengan

dosis

50mg/kgbb/hari dibagi dalam 3-4 dosis diberikan perrektal.


3. penisilin prokain 50.000 U/kgbb/hari intramuskulus, diberikan sampai 3
hari panas turun
4. diet harus cukup kalori dan protein. Konsistensi makanan tergantung
kepada kemampuan membuka mulut dan menelan. Bila terdapat
trismus, diberikan makanan cair melalui lambung. Bila perlu diberikan
pemberian nutrisi secara parenteral.
5. isolasi untuk menghindari rangsangan (suara, tindakan terhadap
penderita). Ruangan perawatan harus tenang.
6. bila perlu diberikan oksigen dan kadang-kadang diperlukan tindakan
trakeostomi untuk menghindari akibat obstruksi jalan nafas.
7. anak

dianjurkan untuk

dirawat di

didapatkan keadaan:
KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012

Unit Perawatan

Khusus

bila

a. kejang-kejang

yang

sukar

diatasi

dengan

obat-obatan

antikonvulsan yang biasa


b. spasme laring
c. komplikasi yang memerlukan perawatan yang intensif seperti
sumbatan jalan nafas, kegagalan pernafasan, hipertermi, dan
sebagainya.
Terapi dasar tetanus anak menurut Panduan Pelayanan Medis Departemen
Ilmu Kesehatan Anak RSCM tahun 2005:
1. antibiotik
-

penisilin prokain 50.000 IU/kg/kali i.m., tiap 12 jam atau

ampisillin 150mg/kg/hari i.v. dibagi 4 dosis atau

metronidazol loading dose 15mg/kg/jam, selanjutnya 7,5 mg/kg


tiap 6 jam atau

eritromisin 40-50mg/kg/hari p.o dibagi 4 dosis atau

sefotaksim 50-100mg/kg dibagi 3 dosis

bila ada sepsis / pneumonia dapat ditambahkan sefalosporin

2. netralisasi toksin
-

anti tetanus serum (ATS) 50.000-100.000 IU, setengah dosis


diberikan IM dan setengahnya IV, dilakukan uji kulit lebih dulu

bila tersedia dapat diberikan human tetanus immunoglobulin


(HTIG) 3000-6000 IU IM

3. anti konvulsan
-

diazepam 0,1-0,3mg/kg/kali IV tiap 2-4 jam

dalam keadaan berat: diazepam drip 20 mg/kg/hari, di ICU

dosis pemeliharaan 8mg/kg/hari oral, dibagi 6-8 dosis

4. perawatan luka atau port dentree


-

dilakukan setelah diberi antitoksin dan anti konvulsan.

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO
JAKARTA 2012